KUDA

KUDA

Kuda disebut dalam Alquran secara spesifik sebanyak lima kali, namun secara tersurat hewan ini disebut lebih banyak dari jumlah itu. Ayat-ayat yang berbicara secara spesifik mengenai  kuda di antaranya mengaitkan hewan ini dengan kejantanan, kecepatan, dan keberanian.

وَأَعِدُّوا لَهُم مَّا اسْتَطَعْتُم مِّن قُوَّةٍ وَمِن رِّبَاطِ الْخَيْلِ تُرْهِبُونَ بِهِ عَدُوَّ اللَّهِ وَعَدُوَّكُمْ وَآخَرِينَ مِن دُونِهِمْ لَا تَعْلَمُونَهُمُ اللَّهُ يَعْلَمُهُمْ ۚ وَمَا تُنفِقُوا مِن شَيْءٍ فِي سَبِيلِ اللَّهِ يُوَفَّ إِلَيْكُمْ وَأَنتُمْ لَا تُظْلَمُونَ۝

Dan persiapkanlah dengan segala kemampuan untuk menghadapi mereka dengan kekuatan yang kamu miliki dan dari pasukan berkuda yang dapat menggentarkan musuh Allah, musuhmu dan orang-orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya; tetapi Allah mengetahuinya. Apa saja yang kamu infakkan di jalan Allah niscaya akan dibatas dengan cukup kepadamu dan kamu tidak akan dizalimi (dirugikan). (Alquran, Surah al-Anfāl/8: 60)

إِذْ عُرِضَ عَلَيْهِ بِالْعَشِيِّ الصَّافِنَاتُ الْجِيَادُ ۝

(Ingatlah) ketika pada suatu sore dipertunjukkan kepadanya (kuda-kuda) yang jinak, (tetapi) sangat cepat tarinya. (Alquran, Surah Ṣād/38: 31)

Surah an-Naḥl/16: 8 berikut berbicara tentang pemanfaatan kuda, bagal, keledai, dan hewan lain sebagai pengangkut beban. Selain untuk keperluan itu, ketiganya juga dipelihara karena keindahannya dan hal-hal lain yang bermanfaat bagi kehidupan manusia. Dalam suatu prosesi atau arak-arakan dengan tujuan tertentu, misalnya perayaan, keanggunan dan keagungan barisan berkuda menjadi tontonan utamanya.

وَالْخَيْلَ وَالْبِغَالَ وَالْحَمِيرَ لِتَرْكَبُوهَا وَزِينَةً ۚ وَيَخْلُقُ مَا لَا تَعْلَمُونَ

Dan (Dia telah menciptakan) kuda, bagal, dan keledai, untuk kamu tunggangi dan (menjadi) perhiasan. Allah menciptakan apa yang tidak kamu ketahui. (Alquran, Surah an-Naḥl‎/16: 8)

Kuda dalam ayat berikut disebut bersamaan dengan penyebutan fai’ yang Allah berikan kepada rasul-Nya.

وَمَا أَفَاءَ اللَّهُ عَلَىٰ رَسُولِهِ مِنْهُمْ فَمَا أَوْجَفْتُمْ عَلَيْهِ مِنْ خَيْلٍ وَلَا رِكَابٍ وَلَٰكِنَّ اللَّهَ يُسَلِّطُ رُسُلَهُ عَلَىٰ مَن يَشَاءُ ۚ وَاللَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ ۝

Dan harta rampasan fai’ dari mereka yang diberikan Allah kepada Rasul-Nya, kamu tidak memerlukan kuda atau unta untuk mendapatkannya, tetapi Allah memberikan kekuasaan kepada rasul-rasulNya terhadap siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Mahakuasa atas segala sesuatu (Alquran, Surah al-Ḥasyr/59: 6)

Fai’ ialah harta rampasan yang diperoleh dari musuh tanpa perlawanan. Pembagiannya berlainan dengan pembagian ganimah, rampasan yang diperoleh dari musuh setelah terjadi pertempuran. Pembagian fai’ diatur dalam Surah al-Ḥasyr/59: 7, sedangkan ganimah dalam Surah al-Anfāl/8: 41.

Pada Surah Āli ‘Imrān/3: 14 berikut kuda disebut sebagai salah satu harta paling diinginkan oleh manusia saat berada di dunia.

زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوَاتِ مِنَ النِّسَاءِ وَالْبَنِينَ وَالْقَنَاطِيرِ الْمُقَنطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَالْخَيْلِ الْمُسَوَّمَةِ وَالْأَنْعَامِ وَالْحَرْثِ ۗ ذَٰلِكَ مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا ۖ وَاللَّهُ عِندَهُ حُسْنُ الْمَآبِ ۝

Dijadikan terasa indah dalam pandangan manusia cinta terhadap apa yang diinginkan, berupa perempuan-perempuan, anak-anak, harta benda yang bertumpuk dalam bentuk emas dan perak, kuda pilihan, hewan ternak, dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik. (Alquran, Surah Āli ‘Imrān/3: 14)

Dalam ayat-ayat ini kuda selalu dibedakan dari hewan ternak. Hewan ternak pada masyarakat Arab adalah unta, lembu, kambing, dan biri-biri, sedangkan kuda oleh mereka tidak disebut sebagai hewan ternak.

Hal-hal yang berkaitan dengan kuda juga disebut dalam beberapa ayat berikut. Penyebutannya tidak dilakukan secara spesifik, namun berkaitan dengan metafora atau peribahasa yang dikenal dalam budaya masyarakat Arab.

أَلَا إِنَّهُمْ يَثْنُونَ صُدُورَهُمْ لِيَسْتَخْفُوا مِنْهُ ۚ أَلَا حِينَ يَسْتَغْشُونَ ثِيَابَهُمْ يَعْلَمُ مَا يُسِرُّونَ وَمَا يُعْلِنُونَ ۚ إِنَّهُ عَلِيمٌ بِذَاتِ الصُّدُورِ۝

Sesungguhnya aku bertawakal kepada Allah Tuhanku dan Tuhanmu. Tidak satu pun makhluk bergerak yang bernyawa melainkan Dialah yang memegang ubun-ubunnya (menguasainya). Sungguh, Tuhanku di jalan yang lurus (adil). (Alquran, Surah Hūd/11: 56)

Dalam ayat ini terdapat frasa yang artinya, ” … Dia-lah yang memegang ubun-ubunnya… “. Ini adalah idiom Arab yang maksudnya “ubun-ubun kuda”. Seseorang dapat mengendalikan seekor kuda dengan mengusap-usap ubun-ubunnya. Dalam pandangan masyarakat Arab ubun-ubun adalah mahkota kuda. Begitu mahkota itu “dikuasai” maka kuda akan menuruti apa pun perintah orang yang menguasainya. Dengan demikian, memegang ubun-ubun pada ayat di atas menunjukkan betapa kekuasaan Allah terhadap semua ciptaannya bersifat tak terbatas. Tidak seorang pun dapat menolak apa yang telah ditetapkan-Nya.

وَمِنَ الْأَنْعَامِ حَمُولَةً وَفَرْشًا ۚ كُلُوا مِمَّا رَزَقَكُمُ اللَّهُ وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ ۚ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُّبِينٌ ۝

Dan di antara hewan-hewan ternak itu ada yang dijadikan pengangkut beban dan ada (pula) yang untuk disembelih. Makanlah rezeki yang diberikan Allah kepadamu, dan janganlah kamu mengikuti langkah-Iangkah setan. Sesungguhnya setan itu musuh yang nyata bagimu (Alquran, Surah al-An‘ām/6: 142)

Pada ayat di atas, meski kata kuda tidak disebutkan, namun terselip suatu pengertian Arab kuno  tentang ternak untuk dimakan dan ternak untuk pembawa beban. Kuda tidak termasuk hewan yang biasa mereka makan dagingnya. Mereka hanya biasa makan daging kambing, domba, sapi, dan unta. Kambing dan domba bukanlah hewan pembawa beban, sedangkan unta (baik jantan maupun betina) dimanfaatkan sebagai pembawa beban. Sapi jantan dimanfaatkan untuk membajak, dan sapi betina sebagai sumber susu dan daging. Frasa “…ada yang dijadikan pengangkut beban dan ada (pula) yang untuk disembelih…” tidak mengacu pada semua hewan ternak, namun pada penjelasan terakhir ini.

Ada pula ayat yang sama sekali tidak menyebut kuda, hanya menyebut kekang, suatu benda yang lazim diasosiasikan dengan kuda. Ayat tersebut adalah firman Allah,

قَالَ أَرَأَيْتَكَ هَٰذَا الَّذِي كَرَّمْتَ عَلَيَّ لَئِنْ أَخَّرْتَنِ إِلَىٰ يَوْمِ الْقِيَامَةِ لَأَحْتَنِكَنَّ ذُرِّيَّتَهُ إِلَّا قَلِيلًا۝

Ia (Iblis) berkata, “Terangkanlah kepadaku, inikah yang lebih Engkau muliakan daripada aku? Sekiranya Engkau memberi waktu kepadaku sampai hari Kiamat, pasti akan aku sesatkan keturunannya, kecuali sebagian kecil.” (Alquran, Surah al-Isrā’/17: 62)

Ayat ini tidak menyebut kata kuda sama sekali, namun ia menyebut sesuatu yang ada kaitannya dengan kuda. Di sana ada kata “iḥtanaka” yang berasal dari kata dasar “ḥanaka“. Kata dasar ini secara literal berarti menaruh tali di seputar rahang bawah seekor kuda. Kata ini kemudian berkembang artinya hingga mencakup makna pengendalian manusia menuju kebaikan. Tidak seperti kata dasarnya, kata “iḥtanaka” memiliki pengertian yang sangat berbeda. Kata ini berarti membuat orang lain mengekor pengendalinya secara membabi buta.

Banyak hadis yang memasukkan kuda sebagai subjek di dalamnya. Beberapa di antaranya berbicara mengenai kemampuan hewan ini melihat apa yang tidak dapat dilihat manusia.

Ketika dia (Usaid bin Khuair) membaca Surah al-Baqarah di suatu malam, dan kudanya diikat di dekatnya, tiba-tiba kuda itu meronta-ronta. Usaid pun berhenti membaca, dan kuda itu pun berhenti meronta. Ketika Usaid melanjutkan bacaannya, kuda itu kembali meronta. Usaid lalu berhenti membaca, dan kuda itu pun berhenti meronta. Usaid kemudian melanjutkan membaca, dan lagi-lagi kuda itu meronta. Ia lalu bergeser. Saat itu anak Usaid, Yaḥyā, sedang berada di dekat kuda, sehingga ia khawatir anak itu akan tersepak kuda. Sembari menarik anaknya, ia menengok ke arah langit. Ia mendapati langit itu (begitu gelap) sehingga hampir tak terlihat. Esok harinya ia menceritakan kejadian itu kepada Rasulullah. Mendengarnya, Rasulullah bersabda, “Bacalah saja, wahai putra Khuḍair! Bacalah saja, wahai putra Khuḍair!” Usaid melanjutkan, “Aku khawatir kuda itu akan menyepak Yaḥyā, karena saat itu keduanya berdekatan. Lalu aku beranjak mendekati anakku. Sesaat setelahnya aku mendongak ke arah langit. Di sana aku melihat seonggok awan yang di dalamnya ada beberapa bentukan mirip lentera. Lalu aku keluar, dan tidak lagi melihatnya.” Beliau bersabda, “Lalu, tahukah engkau apa yang kau lihat itu?” Ia menjawab, “Tidak.” Rasulullah menjelaskan, “Itu adalah para malaikat. Mereka mendekat karena mendengar suaramu. Andai saja engkau membaca terus, niscaya pada keesokan harinya orang-orang akan melihat apa yang kau lihat itu. Mereka (para malaikat itu) tidak akan lenyap dari pandangan manusia.” (Hadis Riwayat al-Bukhāri dari Usaid bin Khuḍair)

 

Rasulullah juga mengemukakan kekagumannya atas tenaga kuda -yang begitu luar biasa dalam sabdanya,

Suatu ketika penduduk Medinah diliputi kekhawatiran (akan datangnya serangan dari musuh). Karenanya, Rasulullah meminjam seekor kuda kepada Abu Ṭalḥah, kuda yang dinamainya al-Mandūb. Rasulullah lantas menungganginya. Ketika pulang, beliau bersabda, “Aku tidak melihat apa pun (yang perlu membuat kalian takut). Yang aku tahu adalah bahwa kuda ini berlari amat kencang. (Hadis Riwayat al-Bukhāri dari Anas)

 

Berbicara mengenai ciri-ciri kuda yang baik, Rasulullah bersabda,

Kuda terbaik adalah yang berwarna hitam, dengan titik putih sebesar dirham di antara dua matanya, warna putih pada bibir atasnya, noktah putih pada tiga kakinya, dan hitam legam pada salah satu kaki kanannya. Kalau tidak ada yang berwarna hitam, maka kandidat berikutnya adalah yang berwarna hitam kemerahan, dengan kekhasan yang telah kusebut tadi. (Hadis Riwayat Aḥmad, at-Turmużi, dan Ibnu Majah dari Abū Qatādah)

 

Orang yang memelihara kuda dan memenuhi hak-haknya dengan baik, oleh Rasulullah dijanjikan akan mendapat balasan yang setimpal pada hari kiamat kelak.

Barangsiapa mempersiapkan seekor kuda di jalan Allah atas dasar keimanan dan pembenaran atas janji Allah, maka rasa kenyang hewan tersebut, rasa segarnya, kotorannya, dan air kencingnya akan termasuk dalam timbangan amal kebajikan orang tersebut pada hari kiamat. (Riwayat al-Bukhāri dari Abū Hurairah)

 

Kuda ada tiga macam; ia bisa mendatangkan dosa bagi seseorang, bisa menjadi tameng bagi seseorang, dan bisa juga mendatangkan pahala bagi seseorang. Kuda yang mendatangkan dosa bagi seseorang adalah ketika orang tersebut mengikat kudanya itu dalam rangka pamer, menyombongkan diri, dan angkuh kepada umat Islam. Itulah kuda yang mendatangkan dosa. Adapun kuda yang menjadi tameng bagi seseorang adalah ketika orang tersebut menyiapkan kudanya untuk berjihad di jalan Allah, dan ia tidak lupa hak Allah yang berkaitan dengan punggung dan badan hewan tersebut-tidak lupa memberikan hak makan dan istirahat kepadanya. Itulah kuda yang menjadi tameng baginya. Adapun kuda yang mendatangkan pahala bagi pemiliknya adalah ketika orang itu menyiapkannya untuk berjihad di jalan Allah demi membela umat Islam, lalu ia menaruhnya di padang rumput dan savana. Makanan apa saja yang dimakan oleh kuda itu dari padang rumput dan savana tersebut akan dicatat sebagai kebajikan bagi pemiliknya, sebanyak yang kuda itu makan. Begitu juga, seberapapun kotoran dan air kencing yang dikeluarkan kuda itu akan dicatatkan sebagai amal baik bagi pemiliknya. Lebih lagi, jika pemilik kuda itu melepaskan tali kekang kudanya, hingga kuda itu berjalan ke arah satu atau dua perbukitan, maka Allah akan mencatat kebajikan bagi pemilik kuda itu sebanyak jumlah bekas langkah dan kotoran hewan itu. Begitupun,   ketika pemiliknya menungganginya melewati sebuah sungai, lalu hewan itu minum air sungai tersebut, maka Allah akan mencatat kebajikan bagi orang itu sebanyak jumlah air yang diminum kudanya. (Hadis Riwayat al-Bukhāri dan Muslim’ dari Abū Hurairah)

 

Dalam hadis berikut Rasulullah menegaskan keharaman mengkonsumsi daging keledai piaraan, dan kehalalan mengkonsumsi daging kuda.

Pada saat Perang Khaibar Rasulullah melarang kami mengkonsumsi daging keledai piaraan, dan memperbolehkan konsumsi daging kuda. (Hadis Riwayat al-Bukhāri dan Muslim dari Jābir bin ‎‘Abdullāh)

 

Melaui hadisnya berikut Nabi membolehkan menamai hewan.

Rasulullah mempunyai seekor kuda yang merumput di perkebunan kurma milik kami yang dikelilingi tembok. Kuda itu bernama al-Luḥaif (yang berekor panjang) -menurut Abū ‘Abdullāh, sebagian perawi mengatakan “al-Lukhaif). (Riwayat al-Bukhāri dari Sahl bin Sa’d)

 

Sesungguhnya Rasulullah menyebut kuda betina dengan kata “al-faras”. (Riwayat Abū Dāwūd, al-Baihaqi, dan al-Hakim dari Abū Hurairah)

 

Perikehidupan Kuda

Kuda (Equus ferus caballus) adalah hewan berkuku tunggal. Kuda telah berevolusi sejak 45-55 juta tahun yang lalu. Manusia mulai melakukan domestikasi kuda sejak 4.000 tahun SM, dan sejak 3.000 tahun SM kuda mulai menyebar ke seluruh dunia.  Walaupun hampir semua keturunan kuda yang ada saat ini adalah hasil domestikasi, namun masih ada satu populasi kuda liar yang terancam punah dan harus dilindungi, yaitu kuda Przewalski (Equus ferus przewalskii). Di Amerika, Eropa, dan Asia Tengah juga ada kelompok kuda yang meliar (disebut feral horses), yang semula merupakan kuda jinak.

Hubungan manusia dan kuda telah berjalan berabad-abad. Saat ini kuda dipelihara karena keindahannya, perannya dalam berbagai olahraga, kemampuannya membantu kerja kepolisian, jasanya dalam bidang pertanian, perannya dalam dunia pertunjukan, dan sebagainya. Pada masa lalu maupun masa kini, kuda juga berperan dalam peperangan.

Kuda memiliki umur hidup antara 25-30 tahun. Tinggi kuda, diukur dari permukaan tanah hingga bahu, bervariasi berdasarkan keturunannya, juga dipengaruhi sangat oleh nutrisi yang diterimanya. Kuda tunggang biasanya memiliki tinggi antara 140 -160 cm, dan memiliki berat antara 300-550 kg. Kuda tunggang yang besar umumnya mempunyai tinggi mulai dari 160-173 cm, dengan berat 500 -600 kg. Kuda berukuran besar yang biasa disebut draft horse dan banyak digunakan untuk kerja berat di pertanian memiliki tinggi 163-183 em dan berat 700-1.000 kg. Kuda terbesar yang pernah tercatat adalah  keturunan shire horse kelahiran 1848 dengan tinggi 220 cm dan berat 1.500 kg. Sementara itu, pemegang rekor kuda terkecil hanya memiliki tinggi badan 43 cm dan berat 26 kg.

Kuda termasuk kelompok hewan yang diburu. Untuk menghindar dari pemangsa mereka mempunyai keunggulan pada sisi kecepatan lari. Begitu berhadapan dengan pemangsa, hal pertama yang dilakukannya adalah lari. Bila itu tidak cukup membantunya selamat dari pemangsa maka barulah ia melakukan perlawanan. Di alam liar mereka hidup berkelompok dengan hierarki sosial yang jelas. Pada dasarnya kuda mudah dilatih dan merupakan teman baik bagi manusia.

Kuda dapat tidur sambil berdiri maupun berbaring. Dalam posisi berdiri kuda tidur secara terputus-putus dengan interval sekitar 10-15 menit. Kuda baru bisa tidur dengan lelap pada posisi berbaring. Tidur dalam posisi ini hanya dilakukan kuda untuk satu atau dua jam setiap beberapa hari saja. Keadaan demikian ini merupakan bentuk adaptasi kuda agar dapat selamat hidup di alam liar. Kuda dapat beristirahat dengan tenang saat dalam kelompok, di mana sebagian dari mereka sebagian tidur sambil berdiri dan sebagian lainnya berbaring.

Kuda dapat bertahan hidup di lingkungan terbuka dengan semak dan pohon yang berkelompok secara acak. Famili tertua dari Equidae adalah Hyracoterium yang hidup pada 45-55 juta tahun yang lalu, pada masa Eocene. Mereka memiliki empat kuku di kaki depan, dan tiga kuku di kaki belakang. Pada turunannya, Mesophippus (3234 juta tahun lalu), salah satu kuku kaki depannya hilang sehingga hanya tersisa tiga kuku. Secara perlahan kuku kuda makin berkurang sampai dengan kuda modern, Equus, yang muncul pada 5 juta tahun lalu. Selain kuku, gigi kuda juga berevolusi dari bentuk yang mampu memakan ranting menjadi yang hanya memungkinkannya memakan bagian tumbuhan yang lunak (daun). Itulah mengapa mereka berpindah Iingkungan hidup dari kawasan hutan ke kawasan padang rumput yang kering.

1.500 tahun lalu Equus ferus ditemukan menyebar di kawasan Eropa, Eurasia, Beringia (yang saat ini menjadi Selat Bering-antara Alaska dan daratan Eropa), dan Amerika Utara. Pada sekitar 10.000-7.600 tahun lalu, kuda mulai punah di Amerika Utara, dan menjadi cukup jarang di kawasan dunia lainnya. Sebab yang sebenarnya perihal penurunan populasi ini belum sepenuhnya diketahui. Beberapa teori mengaitkannya dengan kehadiran manusia, sedangkan sebab lainnya tampaknya berkaitan dengan perubahan iklim. Sebab yang terakhir ini lebih dapat diterima karena pada 12.500 tahun lalu ekosistem padang rumput banyak berubah menjadi padang tundra yang ditumbuhi semak yang tidak dapat dimakan kuda.

Jenis liar yang masih ada saat ini adalah kuda Przewalski (Equus ferus przewalskii). Anak jenis ini berbeda dari kuda liar yang disebut feral horse yang meliar saat terlepas dari tempat peliharaannya. Kuda Przewalski, yang dinamai sesuai nama seorang petualang dari Rusia, Nikolai Przhalski, adalah hewan langka yang hidup di Asia. Kuda ini dikenal juga sebagai kuda liar Mongolia, yang mempunyai nama lokal Taki di Mongolia atau Kirtag dalam bahasa masyarakat Kyrgyz. Diperkirakan jenis ini punah di alam liar antara tahun 1969 dan 1992. Kuda dari jenis ini yang tersisa hidup di beberapa kebun binatang. Pada tahun 1992 mulai ada usaha untuk meliarkan kembali kuda ini di alam liar Mongolia.

Kuda lain yang punah adalah yang diberi nama Tarpan (Equus ferus ferus), suatu anak jenis yang hidup liar di Eropa dan sebagian besar Asia. Kuda ini diperkirakan punah pada 1909, saat kuda Tarpan terakhir mati di kebun binatang Rusia. Manusia mencoba “menciptakan” keturunan kuda yang mirip Tarpan, dan berhasil. Walaupun tidak langsung berasal dari kuda liar aslinya namun kuda hasil rekayasa ini mirip dengan aslinya. Dengan kemajuan ilmu pengetahuan, seperti penelitian genetika dari berbagai keturunan hasil proses domestikasi atau liar, dapat diciri beberapa kuda yang sangat dekat hubungannya dengan Tarpan. Rekayasa ini menghasilkan kuda yang   diberi nama Riwoche dari Tibet, seekor kuda yang telah dianggap keturunan liar. Demikian pula kuda Sorraia dari Spanyol yang dianggap turunan langsung dari Tarpan.

Proses domestikasi kuda kemungkinan besar berlangsung di kawasan Asia Tengah sekitar 3.500 SM. Dugaan ini didukung oleh temuan-temuan paleologi dan arkeologi, serta perbandingan DNA dari kuda modern sampai sisa-sisa fosil kuda yang berhasil ditemukan. Data tertua dari temuan arkeologi menunjukkan domestikasi kuda dilakukan di Ukraina dan Kazakhstan sekitar 4.000-3.500 SM. Pada 3.000 SM proses domestikasi diperkirakan sudah selesai, dan pada 2.000 SM populasi kuda domestikasi sudah mulai berkembang. Perkiraan perkembangan populasi kuda ini didapat dari banyaknya tulang kuda yang ditemukan di banyak permukiman manusia yang digali di Eropa Barat. Domestikasi diduga menyebabkan warna kuda menjadi lebih variatif.

Secara tidak langsung penggunaan kuda dalam kehidupan manusia telah diuraikan di atas. Kuda berjasa membantu manusia dalam menunaikan tugas sehari-hari, seperti menjadi kuda tunggang, kuda beban, hingga kuda untuk berbagai .kepentingan pertanian. Kuda keturunan Percheron yang berbadan besar, misalnya, digunakan untuk menarik bajak. Kuda juga tercatat sejak lama- digunakan  sebagai tunggangan dalam banyak peperangan. Salah satu bukti arkeologi penggunaan kuda untuk perang tereatat pada 4.000-3.000 SM.

Meski peran kuda dalam perang semakin terpinggirkan seiring majunya proses mekanisasi dalam ranah ini, namun dalam beberapa hal kuda masih dipertahankan. Kuda masih digunakan, misalnya, dalam perang di lanskap yang bergunung atau sulit dicapai kendaraan bermotor karena nihilnya jalur transportasi, seperti dilakukan tentara Afghanistan saat melawan pasukan Rusia. Kuda juga digunakan di kawasan terpencil dan bergunung-gunung sebagai kuda pengangkut beban. Kuda hingga kini juga masih digunakan dalam berbagai upacara kemiliteran.

Pembentukan keturunan (breeds) kuda dilakukan manusia atas dasar keperluan. Keturunan dalam dunia kuda adalah karakter kuda yang menonjol yang diturunkan kepada anaknya secara konsisten, misalnya warna, penampilan, atau bentuk badan. Pembentukan keturunan ini dilakukan dengan eara kawin silang secara selektif. Dari sinilah muncul bermacam keturunan kuda seperti yang dapat disaksikan saat ini.

Sampai saat ini sekitar 300 turunan kuda telah berhasil diproduksi, masing-masing untuk keperluan yang berbeda. Secara umum ada tiga macam kuda, yakni hot bloods, cold bloods, dan warm bloods. Hot bloods adalah kuda yang memiliki temperamen dan daya tahan tinggi. Termasuk dalam macam ini adalah kuda pacu, demikian juga kuda tunggang lain dan tipe kuda ramping secara umum. Cold bloods adalah kuda-kuda yang cocok untuk membantu pekerjaan-pekerjaan yang tidak memerlukan keeepatan dan kekuatan ekstra. Termasuk dalam macam ini adalah kuda yang disebut draft horses atau ponies yang biasa digunakan dalam bidang pertanian. Adapun macam yang terakhir, warm bloods, adalah campuran antara dua macam sebelumnya. Kuda warm bloods memiliki· sifat dan postur tubuh yang ideal untuk dijadikan kuda tunggang. Kuda kelompok ini pada dasarnya memiliki postur hot bloods namun memiliki perilaku cold blood.

Dalam kelompok hot bloods terdapat keturunan oriental, seperti Akhal-Teke, Barb, kuda Arabia, dan kuda Turkoman yang telah punah. Kuda yang dikembangkan pertama kali di Inggris, Throughbred, adalah salah satu keturunan kelompok oriental ini. Kelompok ini terkenal Iincah, bersemangat, dan eepat belajar. Mereka diternakkan untuk diperoleh keeepatan dan kegesitannya. Secara fisik mereka berbulu tipis, langsing, dan berkaki panjang. Kelompok oriental ini pertama kali dimasukkan ke Eropa dari Timur Tengah dan Afrika Utara untuk keperluan pacuan dan penarik artileri ringan dalam dunia kemiliteran.

 

Kelompok cold bloods dikembangkan untuk dimanfaatkan kekuatan, ketenangan, dan kesabarannya dalam menarik bajak atau menarik kereta pengangkut barang berat. Termasuk dalam kelompok ini adalah kuda keturunan Belgian, Clydesdale, Shire, dan Pereheron. Kuda Pereheron relatif lebih kecil dan sedikit lebih lincah dibanding yang lain. Keturunan pony juga masuk dalam kelompok ini. Kelompok warm bloods dikembangkan dari mengawinkan kuda penarik kereta, war horses (cold bloods), dengan kuda Arabia atau Throughbred (hot bloods). Pengawinan ini menghasilkan kuda tunggang yang tenang namun bertubuh langsing. Beberapa   jenis yang masuk dalam kelompok ini adalah keturunan Trakehner atau Hanoverian. Beberapa keturunan pony yang dikawinkan dengan warm bloods menghasilkan kuda tunggang yang baik, namun berukuran kecil.

Saat ini kelompok warm bloods terkenal sebagai penghasil kuda untuk berbagai kompetisi berkuda, seperti Irish Draught dan Cleveland Bay atau Morgan Horse. Beberapa jenis olahraga berkuda, baik yang memperlombakan kuda sendiri maupun yang mempertandingkan skil penunggangnya telah ada sejak lama. Lomba pacuan kuda sangat digemari oleh masyarakat di hampir seluruh belahan dunia. Pertandingannya berjaIan mulai dari yang sederhana (tradisional) sampai yang sangat kompleks (modern).

Perlombaan berkuda tidak melulu mempertandingkan skil kuda, namun juga skil penunggang (joki) dalam keterampilannya maupun kemampuannya mengendalikan kuda tunggangannya. Lomba ini mempertandingkan skil joki sebagai perorangan maupun sebagai tim. Buzkhasi di Afghanistan, yang memperebutkan kulit anak sapi, adalah salah satu contohnya. Contoh lainnya adalah lomba adu keterampilan mengambil secarik kain dari tanah dengan mengendarai kuda pada kecepatan tinggi di Tibet. Dalam era modern, permainan polo mewakili lomba mengadu keterampilan tim antara manusia dan kuda.

Ada pula olahraga berkuda yang mengedepankan keahlian joki dalam melatih dan mengendalikan·keindahan yang dapat dikerjakan oleh kudanya. Equistarian, loncat rintangan, dan skil kuda dalam menarik kereta adalah beberapa di antaranya yang banyak digemari di Eropa dan Amerika.

Uraian di atas menggambarkan betapa besar arti kehadiran kuda dalam kehidupan manusia di masa lalu maupun masa kini. Hal itu juga digambarkan oleh banyaknya ayat Alquran dan hadis yang menggunakan kuda, baik langsung maupun tidak,  sebagai subjek dalam memberi pelajaran dan petunjuk bagi manusia yang mau mempelajarinya.

Dikutip dari: Tafsir Ilmi

Leave a Reply

Close Menu