KRISIS AIR

KRISIS AIR

Serial Quran dan Sains

Krisis air yang terjadi di berbagai belahan dunia, baik karena kekeringan, pencemaran, atau sebab lainnya, telah membawa bencana yang menyengsarakan umat manusia dan makhluk hidup lainnya. Apabila kita perhatikan ayat-ayat di bawah ini dan berbuat sesuai dengan apa yang diamanatkan oleh Allah maka krisis air merupakan peristiwa yang tidak perlu terjadi.

وَلَقَدْ مَكَّنَّاكُمْ فِي الْأَرْضِ وَجَعَلْنَا لَكُمْ فِيهَا مَعَايِشَ ۗ قَلِيلًا مَّا تَشْكُرُونَ۝

Dan sungguh, Kami telah menempatkan kamu di bumi dan di sana Kami sediakan (sumber) penghidupan untukmu. (Tetapi) sedikit sekali kamu bersyukur (Alquran, Surah al-A‘rāf/7: 10) 

وَلَا تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ بَعْدَ إِصْلَاحِهَا وَادْعُوهُ خَوْفًا وَطَمَعًا ۚ إِنَّ رَحْمَتَ اللَّهِ قَرِيبٌ مِّنَ الْمُحْسِنِينَ۝

Dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi setelah (diciptakan) dengan baik. Berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut dan penuh harap. Sesungguhnya rahmat Allah sangat dekat kepada orang yang berbuat kebaikan. (Alquran, Surah al-A‘rāf/7: 56) 

Krisis dan Konflik Air

Krisis air adalah kata lain dari kekurangan air, istilah yang diterapkan untuk mendeskripsikan keadaan ketika jumlah air yang tersedia tidak lagi mencukupi kebutuhan manusia. Ketika krisis air terjadi, tidak hanya manusia yang ditimpa penderitaan, tetapi semua makhluk hidup, utamanya hewan dan juga tumbuh-tumbuhan. Krisis air telah banyak terjadi di masa lampau dan masih sering dijumpai pada masa kini. Salah satu kisah terkenal tentang krisis air di masa lalu yang diceritakan kitab-kitab  suci, terjadi pada zaman Nabi Yusuf yang melanda daerah-daerah Mesir, Palestina, dan sekitarnya, yang terjadi karena adanya variabilitas iklim, sedangkan pada masa kini krisis air banyak dijumpai di daerah-daerah yang memang beriklim kering.

Di samping itu, sering pula kelangkaan air terjadi dalam tataran kualitas. Artinya, masyarakat kesulitan mendapatkan air berkualitas baik, meski secara kuantitas air berlimpah di wilayah tersebut. Ambillah contoh lahan gambut di Kalimantan. Lahan gambut hampir selalu digenangi air, tetapi air genangannya itu bersifat asam akibat tingginya kandungan asam organik. Contoh lainnya adalah kawasan muara dan pesisir beriklim kering. Air permukaan dan air tanah dangkal di wilayah ini seringkali asin atau payau karena intrusi atau Iimpahan air laut. Pada saat ini, krisis air dalam tataran  kualitas banyak pula dijumpai di daerah urban atau di kawasan padat penduduk. Perpaduan antara padatnya penduduk dan intensifnya aktivitas menghasilkan limbah yang pekat. Dengan terbatasnya lahan, air yang tercemar limbah ini tidak mendapatkan ruang untuk mengalir dan membersihkan dirinya sendiri sehingga pada akhirnya limbah ini mencemari pula air tanah yang biasa dimanfaatkan sebagai sumber air.

Tanda-tanda krisis air di suatu wilayah di antaranya: (1) sulitnya mendapatkan air minum dengan kualitas yang memadai, (2) sulitnya mendapatkan air bagi sanitasi dan pengelolaan atau pembuangan limbah, (3) pengambilan air tanah berlebihan yang menyebabkan penurunan muka air tanah atau mengeringnya sumur-sumur, (4) pencemaran air yang menghambat pertumbuhan tanaman dan mengancam keanekaragaman hayati dan lebih jauh lagi menimbulkan konflik pada masyarakat, (5) mewabahnya penyakit-penyakit yang disebarkan melalui medium air, seperti penyakit kulit.

Untuk daerah-daerah bercurah hujan tinggi, seringnya terjadi banjir dan longsor pada musim hujan dapat pula dikatakan sebagai  tanda-tanda krisis air karena pada kondisi daerah seperti ini kesulitan untuk mendapatkan air akan dialami pada musim kemarau yang panjang. Terjadinya banjir musiman dan bencana tanah longsor pada umumnya disebabkan oleh kesalahan manusia dalam mengelola sumber daya lahan. Apabila lahan dimanfaatkan secara intensif tanpa memperhatikan batas-batas daya dukungnya, misalnya pada daerah berlereng terjal maka hal itu akan meningkatkan risiko erosi dan longsor. Di samping itu, ketersediaan air di suatu tempat dipengaruhi pula oleh pola tutupan vegetasi atau pola penggunaan lahan. Pada lahan yang tertutup vegetasi yang rapat, misalnya hutan, evapotranspirasi dan imbuhan air ke dalam tanah terbilang sangat tinggi. Pada lahan yang lebih terbuka, evapotranspirasi dan imbuhan air ke dalam tanah akan berkurang, digantikan oleh meningkatnya air limpasan ketika hujan sehingga daya rusak aliran permukaan pada musim hujan meningkat. Derasnya aliran air limpasan pada musim hujan akan menyebabkan tingginya erosi sehingga badan air menjadi keruh karena lumpur terangkut yang dapat menyebabkan pendangkalan dan penyumbatan sungai serta saluran-saluran air lainnya. Gerusan aliran air yang kuat dapat pula memicu longsor pada tebing-tebing yang terjal. Di samping itu, berkurangnya imbuhan air menyebabkan turunnya persediaan air pada musim kemarau yang biasa terdapat sebagai aliran rendah di sungai-sungai atau sebagai air tanah dangkal yang biasa diambil melalui sumur gali.

Krisis air dapat pula menimbulkan akibat sosial sampingan berupa konflik antarkelompok masyarakat, antardaerah, atau bahkan antarnegara. Konflik air bisa terjadi akibat adanya pertentangan kepentingan antara masyarakat pengguna air. Sampai saat ini memang belum pernah terjadi perang yang disebabkan (hanya) oleh masalah air, tetapi konflik yang disulut oleh permasalahan air sering terjadi dan bisa meluas ke masalah-masalah lainnya. Kelangkaan air dapat menyulut naiknya suhu politik, atau dikenal dengan istilah water stress. Konflik air paling sering terjadi di daerah perbatasan antarnegara yang memanfaatkan sumber air yang sama, misalnya pada sungai yang melewati beberapa negara atau pada suatu DAS yang dilintasi  batas negara. Polusi di Sungai Rhine di Eropa sering menyebabkan konflik antara negara-negara yang dilaluinya, yaitu Swiss, Perancis, Jerman, Belgia, dan Belanda. Konflik air sering juga terjadi di daerah gurun yang beririgasi, seperti banyak terdapat di India, Pakistan, dan Cina. Potensi konflik air yang besar juga terdapat di daerah hilir sungai besar, seperti halnya Thailand yang terletak di hilir Sungai Mekong. Di Indonesia, konflik air sering terjadi antarpetani pemakai air atau antara petani dan industri. Konflik air terbesar yang pernah terjadi dan menimbulkan kerusuhan sosial serta bentrokan antara masyarakat sipil dan militer serta pemerintah terjadi di Bolivia pada tahun 2000, disebabkan oleh privatisasi sumber air.

Untuk menyelesaikan konflik air secara global, PBB pada tahun 2008 meluncurkan suatu program Potensi Konflik menjadi Kerjasama Potensial (From Potential Conflict to Co-operation Potential) berupa mediasi, pelatihan-pelatihan, dan penyebaran ilmu pengetahuan yang dapat meredam konflik air. Di samping itu, program ini juga berupaya melindungi masyarakat miskin dari penguasaan air oleh perusahaan atau pribadi yang memiliki modal kuat. PBB pada September 2010 melalui Dewan Air Dunia (World Water Council) mendeklarasikan hak dasar atas air (right to water) sebagai bagian dari hak asasi manusia (human rights), yaitu setiap orang berhak mendapatkan akses atas air bersih untuk memenuhi kebutuhan dasar hidupnya, sebanyak 50 Iiter/kapita/ hari. Melalui konvensi ini, setiap negara diminta komitmennya untuk berupaya mengurangi jumlah penduduk yang tidak memiliki akses kepada sumber air pada tahun 2010 menjadi tinggal setengahnya pada tahun 2015.

 

Penyebab Krisis Air Global

Kekhawatiran akan terjadinya krisis air secara global di masa mendatang didasari oleh keterbatasan sumber daya air (tawar) yang tersedia di permukaan bumi, sementara kebutuhan manusia akan air terus meningkat sejalan dengan pertambahan jumlah penduduk beserta peningkatan aktivitas (industri)nya. Di samping itu, krisis air bisa terjadi sebagai akibat perubahan iklim yang diakibatkan oleh pemanasan global.

Ketersediaan air di bumi relatif tetap. Meskipun ada kehilangan air yang menguap ke ruang angkasa atau penambahan uap air dari sisa ekor komet, jumlah tersebut dapat diabaikan. Seperti telah diulas sebelumnya, sebagian besar air di bumi berada dalam bentuk air laut yang salinitasnya tinggi sehingga manfaatnya untuk kehidupan manusia dan makhluk hidup lainnya amat terbatas. Air tawar di permukaan bumi hanya berjumlah kira-kira 1% saja, sebagian besar (0,9%) tersedia dalam bentuk air tanah yang tidak atau sangat sulit terbarukan (unrenewable). Jadi, hanya sebagian kecil saja (0,1 %) air yang mudah dipergunakan dalam bentuk aliran-aliran sungai atau genangan-genangan pada danau, kolam, dan rawa.

Kebutuhan air untuk setiap orang berbeda-beda dan ditentukan oleh tingkat sosial serta latar belakang budayanya. Untuk memenuhi kebutuhan dasar hidup manusia yang menyangkut air minum, memasak, dan mandi, cuci, serta kesehatan (MCK) di daerah pedesaan di Indonesia, konsumsi harian setiap orangnya (kapita/hari) diperkirakan sebanyak 50 liter. Sedangkan di daerah perkotaan kebutuhan ini meningkat menjadi 100 liter. Di negara yang lebih maju dengan tingkat penghasilan yang lebih tinggi, kebutuhan harian akan air ini rata-rata 200 liter per kapita, bahkan di Amerika serikat di mana air berlimpah dan penghasilan  masyarakatnya termasuk salah satu yang tertinggi di dunia, konsumsi air harian per kapita mencapai 500 Iiter. Di samping untuk kebutuhan dasar, air diperlukan pula untuk memproduksi makanan, pakaian, dan bahan serta alat-alat penunjang kehidupan lainnya. Kandungan air dalam suatu produk biasa dihitung dan ditetapkan sebagai air maya (virtual water) atau jejak air (water footprint).

Untuk memproduksi roti diperlukan gandum yang tiap kilogramnya mengandung 1,35 m3 air maya. Untuk seseorang yang hidup hanya dari roti dengan nilai nutrisi sebesar 2000 kalori per hari berarti secara tidak langsung mengkonsumsi air sebanyak 270 m3 air per tahun. Pada kenyataannya orang memerlukan pula protein dan vitamin yang dalam menu sehari-hari diperoleh melalui daging, telur, ikan, atau sayuran. Setelah ditambah dengan kelengkapan gizi tersebut, kebutuhan rata-rata konsumsi air tahunan yang lebih realistik adalah sekitar 400 m3 per tahun atau sedikit lebih dari 1000 liter per kapita per hari. Untuk bertahan hidup, seseorang diperkirakan membutuhkan 500 sampai 1000 liter air maya dalam bentuk makanan. Pada tahun 1990, diperkirakan masih ada penduduk bumi yang hanya mengkonsumsi makanan dengan jumlah air maya kurang dari 1000 liter (Kandel, 2003), sedangkan para penduduk di negara-negara kaya, seperti Amerika dan negara-negara Eropa, umumnya mengkonsumsi lebih dari 2000 liter air maya.

Perlu dicatat bahwa meskipun pertanian merupakan sektor yang paling banyak mengkonsumsi air, tapi jumlah air maya yang diperlukan untuk mendapatkan satu satuan produk industri nonpertanian umumnya jauh lebih besar. Untuk memproduksi dan proses pencelupan kain, misalnya, memerlukan air kira-kira 1 m3 untuk setiap warna pada setiap meter kain yang dihasilkan. Proses tersebut memerlukan air yang berkualitas baik. Setelah proses pencelupan selesai, hampir seluruh air yang terpakai masih tetap utuh dan harus dialirkan kembali (dibuang) ke alam, tetapi dalam kualitas yang sedemikian buruk sehingga tak dapat dipakai lagi untuk apa pun. Proses-proses penambangan, pencetakan logam, penyamakan kulit, dan industri nonpertanian lainnya juga menghasilkan air Iimbah yang pekat yang ketika dibuang ke alam menyebabkan perairan di sekitarnya kehilangan manfaat.

Berdasarkan perkiraan tersebut, jumlah air per kapita untuk sekadar bertahan hidup sekitar 3500 m3 per tahun. Kebutuhan per kapita minimal absolut diperkirakan sebanyak 500 m3 per kapita per tahun, sedangkan untuk hidup cukup nyaman diperlukan sekitar 2000 m3 per tahun. Dengan peningkatan taraf hidup masyarakat, pemakaian air per kapita per orang juga akan terus meningkat sesuai pola hidup (makan, berpakaian, berkendaraan, dan lain-lain) yang disertai dengan peningkatan konsumsi barang-barang. Peningkatan kesejahteraan hidup masyarakat secara langsung maupun tidak langsung juga meningkatkan jumlah pemakaian air per kapita per orang per tahun  akan terus meningkat dari 500 m3 menjadi 1000 m3, 2000 m3, 5000 m3, sampai batas akhir yang belum diketahui.

Distribusi ketersediaan air tidak merata dengan perbedaan yang mencolok antara satu bagian dunia dengan lainnya dipengaruhi oleh faktor iklim, utamanya presipitasi (curah hujan atau salju). Dari total presipitasi yang jatuh ke atas tanah, dua per tiga di antaranya kembali lagi ke udara sebagai air evapotranspirasi, sedangkan sepertiga lainnya mengalir di atas permukaan tanah, menggenangi danau-danau, rawa, dan lahan pertanian serta mengimbuh ke dalam tanah dan akhirnya mengalir ke laut. Ketersediaan air di suatu daerah atau negara biasa diperhitungkan berdasarkan jumlah air yang bersirkulasi di daratan sampai ke laut atau dikenal sebagai run off yang jumlahnya diperkirakan sama dengan sepertiga dari jumlah presipitasi.

Ketersediaan air pada suatu negara sangat berbeda dari negara lainnya, terutama bila dikaitkan dengan iklim dan jumlah penduduk serta pola pemakaiannya. Sebagai contoh di Afrika, negara beriklim basah Gabon memiliki ketersediaan air setiap tahunnya melebihi 100.000 m3 bagi setiap penduduknya, sedangkan di Sahara hampir benar-benar kering, meski penduduknya memang sangat sedikit. Wilayah Amerika Serikat menyediakan hampir 10000 m3 air untuk rata-rata per orang per tahun, tetapi apabila dilihat lebih rinci penyebarannya sangat tidak merata. Di daerah sekitar gurun Arizona misalnya, ketersediaan  air sangat rendah, sedangkan di Alaska sangat tinggi. Demikian pula di Indonesia yang meskipun secara umum tergolong daerah kepulauan dengan iklim tropis basah, tetapi ternyata memiliki keragaman yang besar sehingga ketersediaan air per kapita berlainan untuk setiap pulau.

Melihat ketersediaan dan pola pemakaian air maka tampak Pulau Jawa sudah memasuki tahap krisis air. Bersamaan dengan itu pola hidup penduduk Pulau Jawa amat beragam, dari yang sederhana di pedesaan hingga yang kompleks di kota-kota metropolitan. Seringnya terjadi kasus-kasus kesulitan air bersih dan bencana-bencana yang berkaitan dengan air memperkuat sinyalemen bahwa tahap krisis air di Pulau Jawa sedang dijalani.

Buangan Gas Industri

Kekhawatiran akan terjadinya krisis air global di masa mendatang ditambah dengan fenomena perubahan iklim yang disebabkan oleh pemanasan global sangatlah beralasan. Perubahan iklim dapat menimbulkan dampak yang signifikan bagi sumber daya air karena terdapat hubungan yang erat antara iklim dan siklus hidrologi (Ludwig, et. aI., 2009). Pemanasan global akan meningkatkan jumlah penguapan dan pada tahap berikutnya akan mengakibatkan  peningkatan presipitasi: hujan dan salju. Peningkatan penguapan dari hujan dan salju diperkirakan akan terjadi secara regional. Secara umum, perubahan ini akan berbeda di setiap tempat dan daerah iklim. Secara keseluruhan, pasokan air tawar global akan meningkat, tetapi baik kekeringan maupun banjir akan lebih sering pula terjadi di berbagai tempat dengan intensitas yang lebih besar. Di samping itu, meningkatnya jumlah luah aliran permukaan belum tentu disertai dengan peningkatan ketersediaan air bersih, karena erosi diperkirakan akan meningkat pula sehingga menyebabkan aliran menjadi keruh dan pendangkalan pada sungai, saluran air, dan danau serta waduk. Tingginya temperatur akan meningkatkan daya larut air dan menyebabkan eutrofikasi atau peningkatan kesuburan air sehingga menimbulkan ledakan pertumbuhan ganggang atau biota air lainnya.

Fenomena pemanasan global ini terjadi karena besarnya emisi gas-gas rumah kaca (GRK) sebagai akibat pemakaian bahan bakar fosil secara massal semenjak Revolusi Industri. Jadi, perubahan iklim pada dasarnya adalah tanda-tanda kerusakan alam yang diakibatkan oleh perilaku manusia dalam memakai sumber daya alam, seperti yang telah diperingatkan oleh Allah dalam Alquran,

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُم بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ۝

Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia; Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar) (Alquran, Surah ar-Rūm/30: 41).

Semua permasalahan Iingkungan yang harus dihadapi umat manusia terjadi karena umat manusia tidak bijak dan terlalu berlebihan dalam memanfaatkan sumber daya. Sesungguhnya Allah telah dan akan mencukupkan keperluan umat manusia, tetapi manusia sendirilah yang merusaknya.

وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآخِرَةَ ۖ وَلَا تَنسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا ۖ وَأَحْسِن كَمَا أَحْسَنَ اللَّهُ إِلَيْكَ ۖ وَلَا تَبْغِ الْفَسَادَ فِي الْأَرْضِ ۖ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْمُفْسِدِينَ۝

Dan carilah (pahala) negeri akhirat dengan apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu, tetapi janganlah kamu lupakan bagianmu di dunia dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi. Sungguh, Allah tidak menyukai orang yang berbuat kerusakan (Alquran, Surah al-Qaaṣ/28: 77). 

 

Upaya Pencegahan Krisis Air

Pada mulanya penyebab kekhawatiran terhadap terjadinya krisis air secara global adalah pertambahan jumlah penduduk. Penduduk dunia bertambah dengan pesat terutama pada abad terakhir, dari 1,6 miliar pada tahun 1900 menjadi sekitar 6 miliar pada tahun 2000 (Kandel, 2003). Rata-rata pertambahan penduduk berjaIan secara eksponensial dengan tingkat pertumbuhan rata-rata 0,7% per tahun pada periode 1750-1950, tetapi antara 1950-1975 tingkat pertumbuhan naik menjadi 1,9% per tahun. Tetapi kini kekhawatiran atas dasar pertambahan jumlah penduduk ini agak berkurang karena tampaknya pada abad-XXI ini akan terjadi stabilisasi jumlah penduduk. Tanda-tanda ke arah ini sudah tampak di Eropa dan Amerika Serikat dengan tingkat pertumbuhan yang melambat semenjak 1975. Untuk pertama kali sepanjang sejarah manusia, perlambatan pertumbuhan jumlah penduduk ini tidak disebabkan oleh meningkatnya jumlah kematian, tetapi oleh menurunnya tingkat kelahiran. Penyebabnya tidak begitu jelas, tapi ditengarai berhubungan dengan tingkat kesejahteraan hidup dan “kebebasan” serta persamaan hak kaum wanita.

Meskipun demikian, kehawatiran lain datang dari pola dan perilaku umat manusia dalam mengkonsumsi sumber daya, khususnya air. Seperti telah diuraikan di atas perbaikan taraf hidup selalu disertai dengan peningkatan konsumsi air baik secara langsung dan tidak langsung. Sedangkan perbandingan kebutuhan air minimum dengan rata-rata konsumsi air pada masyarakat yang paling maju umumnya kirakira 1 : 4 atau bisa mencapai 1 : 10. Berdasarkan kenyataan diatas maka kemungkinan akan terjadinya krisis air tetap besar. Agar terhindar dari krisis air secara global di masa depan, para ahli berharap pada perubahan sikap dan tindakan-tindakan yang dapat digolongkan menjadi tiga upaya yaitu: (1) pengelolaan atau manajemen sumber daya air, (2) perubahan perilaku konsumsi air, dan (3) teknologi baru penyediaan air bersih. Upaya-upaya ini perlu dilaksanakan secara bersama-sama oleh seluruh lapisan masyarakat, mulai tingkat individual, lokal, negara sampai dengan tingkat global yang melibatkan lembaga-Iembaga internasional (misalnya PBB) dan antarpemerintah (misalnya untuk sungai yang melintasi beberapa negara seperti Sungai Nil, Rhine, Mekong, dan semisalnya). Sebagai  salah satu upaya antisipasi tingkat global, PBB selaku lembaga tertinggi antarbangsa mendeklarasikan hak dasar atas air (right to water) dan sanitasi sebagai bagian dari hak asasi manusia (human rights), yaitu setiap orang berhak mendapatkan akses atas air yang aman (bersih) dan cukup untuk memenuhi kebutuhan dasar (pribadi dan domestik) hidupnya (atau kira-kira sebanyak 50 liter/kapita/hari). Deklarasi ini diakui oleh 122 negara pada bulan September 2010. Melalui konvensi ini, setiap negara diminta komitmennya untuk berupaya mengurangi jumlah penduduk yang tidak memiliki akses terhadap sumber air pada tahun 2010 menjadi tinggal setengahnya pada tahun 2015.

Meskipun didapati adanya proses pembaruan sumber daya air di bumi melalui mekanisme daur air atau siklus hidrologi, tetapi kini semakin disadari bahwa air merupakan sumber daya yang terbatas. Kenyataan memperlihatkan bahwa krisis air telah terjadi di beberapa tempat di seluruh dunia. Tidak hanya di daerah beriklim kering, bahkan pada lokasi-lokasi di mana air seharusnya (dan memang) berlimpah, banyak dijumpai betapa air bersih sudah sulit didapatkan. Tidak sedikit pedesaan dan kota  nyaman yang beberapa dekade lalu memiliki sumber air berlimpah, kini bekembang menjadi kawasan kumuh dan dipenuhi genangan-genangan air kotor berwarna gelap yang menebar aroma tidak sedap. Keadaan seperti di atas umumnya terjadi sebagai akibat dari adanya pemanfaatan air dan lahan yang tidak sesuai atau bahkan melampaui kemampuan serta kesesuaiannya.

أَنزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَسَالَتْ أَوْدِيَةٌ بِقَدَرِهَا فَاحْتَمَلَ السَّيْلُ زَبَدًا رَّابِيًا ۚ وَمِمَّا يُوقِدُونَ عَلَيْهِ فِي النَّارِ ابْتِغَاءَ حِلْيَةٍ أَوْ مَتَاعٍ زَبَدٌ مِّثْلُهُ ۚ كَذَٰلِكَ يَضْرِبُ اللَّهُ الْحَقَّ وَالْبَاطِلَ ۚ فَأَمَّا الزَّبَدُ فَيَذْهَبُ جُفَاءً ۖ وَأَمَّا مَا يَنفَعُ النَّاسَ فَيَمْكُثُ فِي الْأَرْضِ ۚ كَذَٰلِكَ يَضْرِبُ اللَّهُ الْأَمْثَالَ۝

Allah telah menurunkan air (hujan) dari langit, maka mengalirlah ia (air) di lembah-lembah menurut ukurannya, maka arus itu membawa buih yang mengambang. Dan dari apa (logam) yang mereka lebur dalam api untuk membuat perhiasan atau alat-alat, ada (pula) buihnya seperti (buih arus) itu. Demikianlah Allah membuat perumpamaan tentang yang benar dan yang batil. Adapun buih, akan hilang sebagai sesuatu yang tidak ada gunanya, tetapi yang bermanfaat bagi manusia akan tetap ada di bumi. Demikianlah Allah membuat perumpamaan (Alquran, Surah ar-Ra‘d/13: 17) 

وَلَا تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ بَعْدَ إِصْلَاحِهَا وَادْعُوهُ خَوْفًا وَطَمَعًا ۚ إِنَّ رَحْمَتَ اللَّهِ قَرِيبٌ مِّنَ الْمُحْسِنِينَ۝

Dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi setelah (diciptakan) dengan baik. Berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut dan penuh harap. Sesungguhnya rahmat Allah sangat dekat kepada orang yang berbuat kebaikan (Alquran, Surah al-A‘rāf/7: 56)

 

Karena air merupakan suatu sumber daya yang dinamis, selalu bergerak (atau berpindah) dari suatu tempat ke tempat lainnya dan selalu berubah dari suatu bentuk (fasa) ke bentuk lainnya maka keberadaan air yang menyangkut jumlah dan mutu selalu dipengaruhi oleh karakteristik wilayah setempat dan waktu. Salah satu faktor yang sangat menentukan jumlah ketersediaan air di suatu tempat adalah iklim. Dengan variabilitas iklim, keterbatasan jumlah dan mutu air di suatu tempat pada dasarnya selalu berubah dari waktu ke waktu. Sebaliknya, setiap posisi lokasi di muka bumi ini memiliki fungsi tertentu dalam daur hidrologi. Misalnya, daerah-daerah gunung dan hutan berfungsi sebagai penangkap awan dan pemancing hujan, daerah rendahan sebagai tempat genangan dan aliran, daerah kaki bukit dan patahan sebagai tempat keluarnya mata air, dan sebagainya. Apabila pemanfaatan air dan lahan di tempat-tempat tersebut tidak sesuai dengan kemampuan dan kesesuaian karakternya maka air yang tadinya merupakan sumber berkah akan berubah menjadi sumber bencana. Air juga memiliki kemampuan untuk membersihkan dirinya sendiri melalui proses oksidasi zat-zat pengotornya apabila dibiarkan mengalir. Untuk itu diperlukan ruang untuk pengaliran air agar air kotor dapat menjadi bersih dengan sendirinya dan dapat kembali dimanfaatkan. Semakin pekat pengotor di dalam  air, akan semakin besar jarak atau ruang yang diperlukan untuk membersihkannya, kecuali apabila dilakukan upaya pembersihan air buatan seperti pada instalasi pengolah Iimbah.

Berdasarkan perilaku sumber daya air seperti ini maka diperlukan suatu pengelolaan sumber daya air yang sesuai dengan kemampuan dan kesesuaiannya. Misalnya, daerah puncak, punggungan, atau lereng yang curam hendaknya dialokasikan untuk daerah konservasi agar di samping tersedia ruang bagi imbuhan air tanah, dapat pula meminimalkan kerugian dari tanah longsor dan banjir. Di samping itu, penyediaan ruang-ruang bagi aliran air untuk pemulihan kualitasnya dan untuk menampung genangan berlebih pada saat luah aliran memuncak di musim hujan mutlak diperlukan. Tindakan-tindakan ini menyangkut pengaturan ruang dan pemanfaatan lahan. Pada dasarnya pengelolaan sumber daya air tidak dapat dipisahkan dari pengelolaan sumber daya lahan. Di daerah perkotaan atau daerah industri, di samping alokasi pemakaian sumber-sumber air, pengelolaan air menyangkut pula pengelolaan air kotor atau Iimbah, misalnya menjamin agar air kotor atau air limbah tersebut tidak  masuk dan mencemari sumber-sumber air bersih. Dengan luasnya ruang Iingkup serta kompleksitas masalahnya, maka pelaksanaan pengelolaan sumber daya air harus dilakukan secara bersama-sama oleh seluruh lapisan masyarakat. Pihak yang seyogianya paling bertanggung jawab melaksanakan pegelolaan air dan lahan adalah pemerintah pusat atau pemerintah daerah melalui seperangkat aturan dan sanksinya yang harus diterapkan dengan bijak, adil, dan tanpa pandang bulu.

يَا دَاوُودُ إِنَّا جَعَلْنَاكَ خَلِيفَةً فِي الْأَرْضِ فَاحْكُم بَيْنَ النَّاسِ بِالْحَقِّ وَلَا تَتَّبِعِ الْهَوَىٰ فَيُضِلَّكَ عَن سَبِيلِ اللَّهِ ۚ إِنَّ الَّذِينَ يَضِلُّونَ عَن سَبِيلِ اللَّهِ لَهُمْ عَذَابٌ شَدِيدٌ بِمَا نَسُوا يَوْمَ الْحِسَابِ۝

(Allah berfirman), “Wahai Daud! Sesungguhnya engkau Kami jadikan khalifah (penguasa) di bumi maka berilah keputusan (perkara) di antara manusia dengan adil dan janganlah engkau mengikuti hawa nafsu, karena akan menyesatkan engkau dari jalan Allah. Sungguh orang-orang yang sesat dari jalan Allah akan mendapat azab yang berat, karena mereka melupakan hari perhitungan” (Alquran, Surah Ṣāḍ/38: 26)

 

Dalam menyikapi masalah distribusi ketersediaan air yang tidak merata di permukaan bumi, para  ahli sepakat bahwa persoalan sumber daya air harus diselesaikan secara terintegrasi pada satu satuan wilayah hidrologis yang dibatasi oleh Daerah Tangkapan Air (DTA) atau dikenal pula sebagai Daerah atau Wilayah (peng)Aliran Sungai (DAS, DPS, atau WPS), yang dalam bahasa Inggris populer dengan istilah watershed. DTA atau DAS merupakan satu kesatuan kawasan di darat yang dibatasi oleh puncak-puncak gunung atau bukit beserta punggungan-punggungan tertinggi, di mana semua air yang jatuh di dalam kawasan tersebut akan mengalir ke sungai utama yang sama dan pada akhirnya akan bermuara ke laut. Di dalam suatu Daerah Tangkapan Air, eksploitasi air atau lahan di suatu tempat akan membawa pengaruh terhadap tempat lainnya, terutama ke arah hilirnya. Pada umumnya suatu DTA tidak mempengaruhi DTA lainnya. Namun demikian, apabila dilakukan pengaliran air (ekspor/impor) air dari suatu DTA ke DTA lainnya (kecuali dalam bentuk air maya), permasalahan justru akan semakin kompleks, tidak saja dari tatanan hidrologi dan ekologi, tetapi juga dari sisi tatanan sosio-ekonomi.

Dengan terbatasnya ketersediaan air di muka bumi maka tampaknya pengelolaan sumber daya  air saja tidak akan cukup untuk mencegah terjadinya globalisasi krisis air. Di daerah-daerah padat penduduk penghematan dan efisiensi pemanfaatan sumber daya air merupakan langkah yang mendesak untuk dilakukan. Berhemat dalam memanfaatkan sumber daya air, seperti halnya dalam memanfaatkan sumber daya lainnya, dapat dilakukan dengan mengurangi (reduce), memanfaatkan kembali (reuse) dan mendaur ulang (recycle) sumber daya air.

Dalam mengurangi pemakaian sumber daya air, hal pertama yang mesti dilakukan adalah menghentikan pemakaian air untuk hal-hal yang tidak perlu. Misalnya, kalau mandi cukup bersih dengan satu ember, kita tidak perlu menghabiskan dua atau tiga ember. Upaya lainnya adalah membuat dan memakai peralatan dan barang-barang yang dapat dicuci atau dijalankan serta dipelihara dengan sedikit air. Akhirnya kita dituntut untuk mengembangkan teknologi hemat air, misalnya mengembangkan cara bertani yang hemat air, salah satunya dengan menciptakan varietas-varietas tanaman yang tahan kering.

Berhemat dari sisi kualitas air bisa dilakukan dengan memanfaatkan  kembali air, artinya memanfaatkan air yang telah dipakai untuk penggunaan lain. Misalnya, untuk menyiram tanaman kita tidak perlu menggunakan air yang sangat bersih, tetapi bisa memanfaatkan air Iimbah domestik, seperti air bekas mencuci peralatan dapur. Melalui tindakan ini kita bisa memanfaatkan air limbah domestik yang umumnya mengandung bahan terlarut yang berguna sebagai pupuk. Contoh penghematan lainnya adalah penggunakan air laut sebagai pembilas toilet, yang bisa dilakukan oleh hotel-hotel di kawasan pesisir.

Sedangkan daur ulang diperlukan untuk membersihkan kembali air yang sangat kotor, misalnya melalui pengolahan limbah industri. Dalam mendaur ulang air, zat pencemar perlu dipisahkan dulu dari air sampai batas-batas aman yang ditentukan peraturan sebelum air tersebut dibuang ke perairan bebas atau untuk dimanfaatkan kembali. Penghematan sumber daya air, seperti halnya sumber daya alam lainnya, diharapkan menjadi perilaku umum dan menjadi budaya umat manusia dimasa mendatang. Oleh karena itu, upaya ke arah ini perlu dilakukan melalui sosialisasi permasalahan untuk mendapatkan kepedulian semua pihak, yang harus pula disertai dengan studi-studi untuk penerapan cara pelaksanaannya.

يَا بَنِي آدَمَ خُذُوا زِينَتَكُمْ عِندَ كُلِّ مَسْجِدٍ وَكُلُوا وَاشْرَبُوا وَلَا تُسْرِفُوا ۚ إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ۝

Wahai anak cucu Adam! Pakailah pakaianmu yang bagus pada setiap (memasuki) masjid, makan dan minumlah, tetapi jangan berlebihan. Sungguh, Allah tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan (Alquran, Surah al-A‘rāf/7: 31).

وَإِذَا أَرَدْنَا أَن نُّهْلِكَ قَرْيَةً أَمَرْنَا مُتْرَفِيهَا فَفَسَقُوا فِيهَا فَحَقَّ عَلَيْهَا الْقَوْلُ فَدَمَّرْنَاهَا تَدْمِيرًا۝

Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan kepada orang yang hidup mewah di negeri itu (agar menaati Allah), tetapi bila mereka melakukan kedurhakaan di dalam (negeri) itu maka sepantasnya berlakulah terhadapnya perkataan (hukuman Kami), kemudian Kami binasakan sama sekali (negeri itu) (Alquran, Surah al- Isrā’/17: 16).

إِنَّ الْمُبَذِّرِينَ كَانُوا إِخْوَانَ الشَّيَاطِينِ ۖ وَكَانَ الشَّيْطَانُ لِرَبِّهِ كَفُورًا۝

Sesungguhnya orang-orang yang pemboros itu adalah saudara setan dan setan itu sangat ingkar kepada Tuhannya (Alquran, Surah al-Isrā’/17: 27)

 

Harapan terbesar umat manusia agar terhindar dari krisis air global terletak pada teknologi baru dalam penyediaan air bersih secara mudah dan murah. Harapan tersebut didasarkan pada kenyataan bahwa sesungguhnya (molekul) air berlimpah di muka bumi ini, tetapi hanya sebagian kecil air yang dapat dipergunakan manusia, yaitu dalam bentuk cair dan bersih. Teknologi baru yang diharapkan adalah merubah bentuk air yang kurang bermanfaat, seperti air laut, es atau kelembapan udara menjadi bentuk yang lebih bermanfaat. Upaya manusia menjadikan es yang berada di daerah kutub sebagai sumber air tawar sudah dipikirkan dan sering diusulkan. Bongkah-bongkah pulau es banyak terdapat mengapung di laut utara. Bongkah iceberg sebenarnya bisa ditarik dengan kapal laut ke tempat-tempat yang membutuhkannya, misalnya daerah Timur Tengah. Namun, energi yang dibutuhkan untuk mengangkutnya demikian besar, belum lagi potensi penyusutan volume yang sangat besar selama dalam perjalanan dan sebelum dimanfaatkan. Dengan teknologi dan moda transportasi yang ada saat ini, harga air yang dihasilkan dari proses penarikan iceberg ini di tempat tujuan masih terlalu mahal.

Sumber air tawar nonkonvensional lainnya adalah kelembapan udara. Kelembapan udara terdapat di mana-mana, meski kuantitasnya sangat bervariasi di setiap tempat. Kelembapan udara dapat diubah menjadi air embun (dew water) dan ditangkap sebagai air tawar yang hampir murni. Pada saat ini teknologi penangkapan kelembapan udara telah banyak dikembangkan dan hasilnya mulai dijual di pasaran umum, baik dalam bentuk air embun kemasan maupun dalam bentuk perangkat pengembun air. Seperti kita ketahui, kandungan uap yang terdapat dalam bentuk kelembapan udara secara total sangat kecil (0,002%), jauh lebih kecil daripada proporsi total air tawar yang ada di muka bumi (1%) sehingga jumlah yang diharap dapat dihasilkan dengan teknologi ini terbatas sekali. Pada daerah-daerah kering, kelembapan udara sangat rendah sehingga untuk mendapatkan 1 liter air embun saja diperlukan energi yang sangat besar. Di daerah beriklim basah, terutama di musim hujan, kelembapan udara bisa mendekati 100% dan embun dapat dengan lebih mudah dihasilkan. Meski demikian, harga per liter air embun pada saat ini masih tetap mahal. Kini pengembun air sudah mulai dipakai untuk mendapatkan air minum secara pribadi di tempat-tempat di mana air sulit didapat, misalnya di tengah laut atau di gurun, hanya saja memproduksi air embun pada skala besar untuk keperluan masal masih belum dilakukan.

Teknologi nonkonvensional yang paling lazim digunakan hingga saat ini adalah desalinisasi. Desalinisasi adalah proses buatan manusia untuk merubah air asin (umumnya air laut) menjadi air tawar. Desalinisasi memiliki prospek yang paling baik untuk dikembangkan mengingat lebih dari 97% air di bumi berupa air laut. Metode yang paling umum dipergunakan pada proses desalinisasi adalah distilasi dan reverse osmosis. Distilasi adalah proses yang meliputi penguapan air laut dengan pemanasan, yang dilanjutkan dengan mengkondensasikan kembali uap tersebut dalam bentuk air tawar, sedangkan reverse osmosis menyangkut proses ekstraksi air dari larutan garam (air laut) melalui membran semipermeabel dengan bantuan pompa bertekanan tinggi. Meski masih mahal, desalinisasi sudah menjadi proses yang praktis dilakukan untuk memenuhi keperluan domestik di daerah beriklim arid (sangat kering) atau di negara-negara di mana air merupakan sumber daya yang langka. Sebagai hasil upaya inovasi, biaya  desalinisasi kini dapat diupayakan lebih murah lagi sehingga bisa dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan air bersih/air minum masyarakat. Negara yang paling banyak melakukan desalinisasi untuk keperluan umum adalah negara-negara di Teluk Persia. Meski demikian, di negara-negara dengan sumber baku air tawar yang melimpah seperti Indonesia, konservasi untuk memelihara keberlanjutan sumber air tawar yang ada serta memakainya secara bijak akan selalu lebih murah biayanya ketimbang melakukan desalinisasi. Mengurangi pemakaian air desalinisasi berarti menghemat energi karena proses-proses desalinisasi seperti revese osmosis ataupun distilasi memerlukan masukan energi yang tidak sedikit.

Allah meminta kita untuk turut aktif memecahkan permasalahan yang dihadapi umat manusia. Dalam mencari upaya (teknologi) untuk penyelesaiannya, seharusnya  orang-orang beriman lebih percaya akan pertolongan Allah karena Allah akan membantu memudahkannya, sesuai dengan firmannya:

 

قُلِ انظُرُوا مَاذَا فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۚ وَمَا تُغْنِي الْآيَاتُ وَالنُّذُرُ عَن قَوْمٍ لَّا يُؤْمِنُونَ۝

Katakanlah, “Perhatikanlah apa yang ada di langit dan di bumi!” Tidaklah bermanfaat tanda-tanda (kebesaran Allah) dan rasul-rasuJ yang memberi peringatan bagi orang yang tidak beriman (Alquran, Surah Yūnus/10: 101).

أَلَمْ تَرَوْا أَنَّ اللَّهَ سَخَّرَ لَكُم مَّا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ وَأَسْبَغَ عَلَيْكُمْ نِعَمَهُ ظَاهِرَةً وَبَاطِنَةً ۗ وَمِنَ النَّاسِ مَن يُجَادِلُ فِي اللَّهِ بِغَيْرِ عِلْمٍ وَلَا هُدًى وَلَا كِتَابٍ مُّنِيرٍ۝

Tidakkah kamu memperhatikan bahwa Allah telah menundukkan apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi untuk (kepentingan)mu dan menyempurnakan nikmat-Nya untukmu lahir dan batin. Namun di antara manusia ada yang membantah tentang (keesaan) Allah tanpa ilmu atau petunjuk dan tanpa Kitab yang memberi penerangan (Alquran, Surah Luqmān/31: 20)

 

Dikutip dari Tafsir al-‘Ilmi

Leave a Reply

Close Menu