KREASIONISME MUSLIM

KREASIONISME MUSLIM

Kreasionisme (creationism) adalah sebuah keyakinan bahwa manusia dan binatang tercipta dalam wujud yang sekarang ini dengan sedikit atau tanpa mengalami evolusi. Dalam bentuknya yang paling ekstrem, kreasionisme menyatakan bahwa segala sesuatu di alam semesta -dari tetumbuhan hingga planet dan alam semesta sendiri- diciptakan sekaligus di suatu waktu tertentu (beberapa ratus tahun) di masa lalu. Kreasionisme menjadi sebuah gerakan yang kuat di Amerika Serikat dan Dunia Muslim, tetapi hampir tidak dijumpai di tempat lainnya. Hal yang paling menganggu di Amerika Serikat adalah fakta bahwa kreasionisme justru dianut luas di kalangan (keagamaan) awam, dan hanya ada segelintir kalangan kaum terdidik yang menganut paham ini. Akan tetapi, di Dunia Muslim, kreasionisme sama-sama tumbuh, baik di kalangan elite terdidik maupun kaum awam yang kurang terdidik.

Pandangan keras anti-evolusi bisa dijumpai dalam tulisan-tulisan para pemikir Muslim terkemuka (misalnya, Seyyed Hossein Nasr) seperti yang akan dijelaskan. Meski demikian, perlu diketahui bahwa gerakan kreasionis Muslim terbesar adalah kelompok Turki yang bernama Biliam Arastirma Vakfi (BAY), sebuah Yayasan Riset dan Sains yang dibentuk pada 1991 oleh Harūn Yaḥyā, nama pena dari Adnan Oktar. Yaḥyā (dan kelompoknya) membidik audiens yang sangat luas melalui lebih dari 150 buku yang terbit atas namanya dalam lebih dari puluhan bahasa, majalah-majalah yang dikemas dengan baik tapi dijual murah, bahan-bahan audio-visual yang kerap dibagikan secara cuma-cuma, dan sebuah laman yang memuat banyak sekali materi-materi gratis. Pesan-pesan dalam berbagai media tersebut-meskipun terang-terangan mengacu pada Allah, Sang Pencipta, dan kebijaksanannya -seringkali kerap lunak dan ditujukan untuk menarik pembaca yang terdidik dan modern. Bahkan, popularitas dan kesuksesannya sama-sama menjulang baik di kalangan Muslim maupun Barat, seperti halnya juga di kalangan Muslim di negara-negara Islam.

Gaya bahasa dalam buku-buku dan artikel-artikelnya terbilang lugas. Dari beberapa judulnya saja, kita sudah bisa menangkap isinya: The Evolution Deceit; The Scientific Collapse of Darwinism and Its Ideological Background; The Disasters Darwinism Brought to Humanity; New Fossil Discovery Sinks Evolutionary Theories; Thermodynamics Falsifies Evolution, dan seterusnya. Padahal, yang harus selalu diingat, Yaḥyā tidak memiliki latar belakang sains sama sekali. Catatan biografis di akhir artikel-artikelnya selalu menyebutkan bahwa ia “pernah belajar seni di Mimar Sinan University di Instanbul, dan filsafat di Istanbul University.”

Berikut adalah beberapa contoh tulisan Yaḥyā yang bernada anti-evolusi, nukilan dari salah satu karyanya yang paling populer, Allah is Known through Reason:

  • Gagasan-gagasan aneh Darwin dibangun dan didengungkan oleh kelompok ideologis dan politik tertentu, dan karena itulah teorinya sangat tersohor. Sewaktu Darwin menyuarakan asumsi-asumsinya, belum ada disiplin-disiplin seperti genetika, mikrobiologi, dan biokimia. Andaikata disiplin-disiplin tersebut sudah ada kala itu, bisa jadi Darwin segera menyadari ketidakilmiahan teorinya sehingga ia tidak lagi mencoba menyuarakan klaim-klaim yang tanpa makna itu. Informasi yang menentukan spesies-spesies sudah terkandung dalam gengen dan sangat mustahil seleksi alam melahirkan spesies baru dengan cara mengubah gen-gen. Ketika dilakukan pengujian terhadap strata bum; dan rekam fosil, terbukti bahwa organisme muncul secara serentak. Mosaik organisme yang berlimpah-limpah, dan terdiri dari banyak sekali makhluk yang kompleks muncul secara tiba-tiba, dan karena itulah literatur ilmiah menjulukinya “Ledakan Cambrian”. Seperti yang telah diketahui, rekam fosil mengisyaratkan bahwa makhluk hidup tidak berevolusi dari bentuknya yang primitif ke yang bentuk yang lebih maju, tetapi muncul seketika dalam keadaan yang sempurna. Tidak ada bentuk peralihan apa pun yang membuktikan dugaan ‘gerak maju’ evolusi vertebrata -dari ikan ke amfibi, reptil, burung, dan mamalia. Berdasarkan rekam fosil, diketahui bahwa setiap spesies muncul tiba-tiba dan dalam bentuknya seperti saat ini yang sempurna dan utuh. Dengan kata lain, makhluk hidup tidak mewujud melalui evolusi. Mereka diciptakan.

Ketika membaca sejumlah tulisan Harūn Yaḥyā, siapa saja yang akrab dengan perdebatan mengenai evolusi akan segera mengetahui bahwa sebagian besar argumennya merupakan daur ulang dari literatur kreasionis Amerika tentang isu yang sama. Bahkan, seperti yang telah diurai oleh sejumlah pengarang, ada kolaborasi kuat antara BAV Yaḥyā dan organisasi kreasionis Amerika terbesar, Institute for Creation Research (ICR). Selain kontak langsung dan permohonan bantuan, buku-buku terbitan ICR ternyata diterjemahkan ke dalam bahasa Turki dan diedarkan ke kalangan guru sekolah negeri. Sejatinya, Yaḥyā sendiri memuji gerakan-gerakan kreasionisme di Amerika Serikat dan konsep ID, sebagaimana yang terlihat dalam ucapannya berikut: “Berkembangnya tren-tren seperti ‘Kreasionisme’ atau ‘Rancangan Cerdas’ di Amerika Serikat menjadi bukti ilmiah bahwa makhluk hidup diciptakan oleh Allah.”

Sebelum memaparkan sejumlah ‘kritik’ utama Yaḥyā terhadap evolusi, saya ingin menggarisbawahi satu kesalahan metodologis fatal yang saya lihat dalam tulisan-tulisannya, yakni pengutipan tanpa mempertimbangkan konteks dan pemakaian pernyataan-pernyataan ahli biologi dan paleontologi secara parsial, sehingga maknanya kerapkali jauh menyimpang dari maksud awal para pengarang yang ia kutip. Berikut adalah beberapa contoh pendekatan yang tak berterima tersebut:

  • Pada 2002, ditemukan tengkorak yang nyaris utuh dan bagian-bagian rahang hominid yang usianya 6-7 juta tahun (belakangan dinamai Toumai). Temuan ini menarik perhatian bukan hanya karena “menggoyahkan fondasi teori evolusi”, tetapi, tulis Yaḥyā, karena tantangannya terhadap paradigma umum bahwa manusia berasal dari garis keturunan hominid yang sebelumnya muncul di Etiopia (bukan Chad) dan mulai berevolusi menjadi bentuk manusia sekitar 5 juta tahun silam. Yaḥyā melakukan kesalahan telak ketika mengutip Henry Gee, editor senior Nature yang dalam artikel pendeknya di The Guardian dengan tepat mengatakan bahwa tengkorak baru tersebut “akhirnya membuktikan bahwa gagasan lama tentang ‘mata rantai yang terputus’ hanyalah omong kosong belaka”. Henry juga menambahkan: “Seharusnya sudah jelas bahwa gagasan mata rantai yang terputus tidak bisa lagi dipertahankan”. Akan tetapi, Yaḥyā, yang salah menafsirkan kalimat ini bagi pembacanya, justru menambahkan: “Singkatnya, gambar ‘tangga evolusi yang merentang dari kera hingga manusia’ yang sering kita temui dalam surat kabar dan majalah sama sekali tidak punya nilai ilmiah”. Benarkah Yaḥyā (atau para penulisnya) sudah membaca artikel Gee? Bila ya, seharusnya ia/mereka paham bahwa pandangan Gee tentang tangga tersebut sudah sangat jelas sekali.
  • Dalam bagian yang membincangkan topik kegemarannya, yakni “Ledakan Cambrian”, Yaḥyā merujuk satu artikel pendek tulisan Richard Fortey dalam jurnal Science yang bergengsi edisi tahun 2001. Ia mengutip Fortey dalam kalimat berikut: ‘Awal periode Cambrian, sekitar 545 juta tahun silam, memperlihatkan bahwa dalam rekam fosil terlihat kemunculan hampir semua jenis utama binatang (filum) yang masih mendominasi keseluruhan flora dan fauna dewasa ini dengan serta-merta dan tiba-tiba”. Yaḥyā kemudian memaparkan pada pembacanya bahwa “artikel tersebut juga menyatakan bahwa agar makhluk hidup yang kompleks dan khas bisa dijelaskan seirama dengan teori evolusi, perlu ada banyak sekali bukti fosil yang memperlihatkan proses perkembangan yang berangsur-angsur, dan sampai saat ini hal itu masih mustahil”.Pembaca diajak untuk sampai pada kesimpulan bahwa Fortey melihat Ledakan Cambrian sebagai ancaman serius bagi teori evolusi. Padahal, jika kita membaca artikel yang dimaksud, kita akan mengetahui bahwa Fortey hanya menitikberatkan dua kemungkinan penjelasan bagi Ledakan Cambrian: aktivitas evolusi yang sangat cepat (lebih dari 10 juta tahun sebagaimana usulan Gould) atau “peleburan filogenetika -perpanjangan periode dari awal mula evolusi yang meninggalkan sangat sedikit atau, bahkan tidak sama sekali-rekam fosil”. Bagaimana semua pernyataan tersebut dianggap mendukung “Keruntuhan Darwinisme” Uudul artikel Yaḥyā) memperlihatkan banyak hal tentang metode yang lazim dipakai para kreasionis.

Saat ini, berkenaan dengan argumen-argumen Yaḥyā yang ‘menyangkal’ evolusi, saya mengutip beberapa argumen utama di bawah ini karena berulang-ulang disinggung dalam beragam buku dan artikelnya:

  1. “Rekam fosil menyangkal evolusi”; “belum pernah ditemukan bentuk-bentuk peralihan. Semua fosil yang berhasil diungkap melalui ekskavasi menunjukkan bukti yang bertolak belakang dengan keyakinan kaum evolusionis bahwa kehidupan di muka bumi terbentuk serta-merta dalam keadaan yang sudah sempurna”. Sidebar sebelumnya tentang ‘mata rantai yang terputus’, atau bentuk-bentuk peralihan, memperlihatkan (secara kasat mata) beberapa contoh yang meruntuhkan klaim ini.
  2. “Termodinamika menjungkirbalikkan evolusi”. Ia menulis: “Teori evolusi mengabaikan hukum fisika paling dasar ini. Mekanisme yang ditawarkan evolusi bertentangan total dengan hukum kedua [termodinamika]”. Argumen yang sebenarnya sudah lama digemari kaum kreasionis di Amerika Serikat menekankan bahwa hukum kedua, yang kadang disederhanakan sebagai hukum kekacauan (law of disorder), menegaskan bahwa entropi pastinya selalu meningkat, sehingga mustahil sesuatu yang kompleks bisa lahir secara alamiah dari materi yang sederhana dan kacau balau. Setiap murid fisika mempelajari bahwa entropi meningkat secara serentak, tetapi keteraturan pastilah bisa muncul dalam beberapa bagian sistem tersebut. Kita sendiri pun selalu melihat kompleksitas yang muncul secara alamiah di sekeliling kita, semisal kristal-kristal (seperti serpihan salju) yang terbentuk dari molekul-molekul air yang tak beraturan, inti atom yang lebih berat terbentuk melalui peleburan inti atom yang kecil dan ringan, dan begitu seterusnya. Bila kondisinya memungkinkan dengan adanya gaya tarik gravitasi, gaya termal atau terowongan kuantum, kompleksitas bisa berkembang; tidak ada hal baru atau mengejutkan soal ini. Semakin banyak kebutuhan akan kompleksitas, semakin khusus kondisi yang diperlukan dan semakin lama orang harus menunggu, tetapi fisika tentu saja menolak kemustahilan terjadinya proses ini
  3. “Peluang bagi protein untuk terbentuk secara alamiah terlalu kecil”. Ia menulis: “Molekul protein ukuran sedang terdiri dari 288 asam amino yang mengandung dua belas jenis yang berbeda. Semua jenis bisa disusun dengan 10300 cara yang berbeda. Dari sekian peluang urutan ini, hanya satu saja yang membentuk molekul proten yang dikehendaki. Selebihnya adalah mata rantai asam amino yang tidak berguna atau bahkan membahayakan makhluk hidup. Singkatnya, peluang terbentuknya satu molekul protein adalah ‘1:10300‘. Peluang ‘1’ ini dalam praktiknya mustahil terwujud. (Dalam matematika, peluang-peluang di bawah 1: 1050 dianggap sebagai ‘peluang yang nyaris mustahil’). Selain itu, molekul protein yang terdiri dari 288 asam amino ukurannya masih sedang-sedang saja jika dibandingkan dengan sejumlah molekul protein besar yang tersusun dari ribuan asam amino”. Yaḥyā melakukan kesalahan konseptual dan matematis saat melakukan penghitungan ini: Ia mengira seluruh asam amino berkumpul sekaligus ketika membentuk protein-protein, padahal proses tersebut terjadi berangsur- Argumen ini sama kelirunya dengan klaim bahwa inti uranium (yang memiliki 238 nukleon dalam bentuknya yang paling umum) tidak akan pernah terbentuk sebab sangat kecil sekali peluang bagi 92 proton dan 146 neutron untuk berfusi sekaligus. Kita pun mengetahui bahwa peleburan proton-proton terjadi dalam tiga langkah sebelum akhirnya membentuk helium-4, lalu melalui fusi itu terbentuklah inti-inti atom yang semakin berat.

Kampanye kreasionis Harūn Yaḥyā dan kelompoknya tampak semakin kencang belakangan ini. Pada 2007, kelompok ini menerbitkan Atlas of Creation, sebuah buku kreasionis dua jilid yang masing-masing berisi sekitar 800 halaman, dan normalnya seharga lebih dari $100. Ribuan salinan buku ini dikirim secara cuma-cuma ke semua SMA di Prancis dan Swiss. Di tengah-tengah menulis buku ini, saya mengecek di lamannya dan menjumpai iklan yang menawarkan 450 buku, 120 VCD, dan 100 DVD gratis-termasuk pengiriman DHL!

Pada 17 Februari 2007, Gulf News (koran terkemuka Inggris di wilayah Teluk) menerbitkan sebuah kisah panjang dan lengkap disertai gambar dan sidebar berjudul “Debating the Origin of Life”. Subjudul artikel berita tersebut membuat saya terkaget-kaget, yakni “Darwin’s Theory Will Be Removed from Public School Curriculums Next Year!” Kisah ini terang-terangan mengacu pada upaya-upaya Harūn Yaḥyā dan kelompoknya di Uni Emirat Arab yang menyelenggarakan pameran-pameran dan memberikan dokumentasi kepada para murid dan guru secara cuma-cuma. Artikel tersebut melaporkan keberhasilan terkini yang dicapai kelompok Yaḥyā dan mengutip pengawas senior ilmu biologi di pusat pengembangan kurikulum Departemen Pendidikan yang mengumumkan dihapusnya materi evolusi dari kurikulum Kelas 12 (satu-satunya kelas yang mengajarkan pengantar teori Darwin hingga saat ini). Lucunya lagi, sang pengawas ilmu biologi ternyata menjustifikasi keputusan tersebut dengan desakan untuk mengajarkan topik-topik baru seperti “perkembangan mutakhir teknologi DNA.”

Saya menulis surat kepada dewan editor buku tersebut dengan poin-poin sebagai berikut:

  • Teori evolusi adalah sebuah teori ilmiah; ia berupaya menjelaskan keanekaragaman organisme berikut ciri-ciri khasnya berdasarkan sebuah prinsip (evolusi) dan mekanisme khusus (seleksi alam, dan seterusnya). Pada hakikatnya, teori ini tidaklah ateistik. Banyak Muslim merasa tidak ada pertentangan antara iman mereka dan peneriman terhadap evolusi yang didukung kuat oleh bukti ilmiah. Sungguh keliru bila yang disajikan hanyalah satu sudut pandang konservatif (dari Muslim, Kristiani, atau lainnya) saja, apalagi dihadirkan dalam bungkus “pandangan keagamaan.”
  • Mereka yang mengakui adanya pertentangan antara Alquran dan skenario evolusi lebih disebabkan oleh pembacaan simplistis dan literal terhadap Kitab Suci. Ini mirip dengan klaim bahwa Alquran menolak teori Copernicus karena ayat yang menyebutkan “Matahari naik” dan “Matahari tenggelam”. Dewasa ini, kita mengetahui bahwa pembacaan yang lebih cerdas terhadap ayat-ayat semacam itu adalah sebuah keniscayaan. Demikian pula, kita harus belajar memahami konsep penciptaan tanpa harus terjebak dengan penafsiran harfiah.
  • Orang-orang mungkin akan terkejut ketika mengetahui bahwa banyak cendekiawan Muslim terkenal di masa keemasan Peradaban Islam, semisal AI-Farabi, AI-Jāhizh, Ikhwan As-Safa’, dan Ibn Khaldun, yang setuju dengan konsep ‘tingkat perubahan’ (gradation) atau bahkan ‘evolusi’ organisme di alam. Kita malah jauh melangkah mundur!
  • Klaim bahwa evolusi “hanyalah sebuah teori” memperlihatkan ketidaktahuan mengenai evolusi dan sifat dasar teori-teori ilmiah.
  • Justifikasi penghapusan mata kuliah evolusi dari kurikulum hanya demi memberi ruang bagi diskusi mengenai perkembangan ilmiah mutakhir seperti teknologi DNA sama saja membenarkan penghapusan teori Copernicus (tentang sistem tata surya berpusat pada matahari) dari silabus hanya untuk memberi ruang terlaksananya diskusi mengenai kemajuan teknologi satelit. Argumen ini penuh kontradiksi dan tidak jujur. Dewan editor menerbitkan sebagian dari surat saya tersebut.

Yaḥyā adalah seorang pegiat Muslim paling berani yang menentang evolusi dan mendukung kreasionisme. Akan tetapi, ada juga para anti-evolusionis yang kurang menonjol tapi mungkin lebih kuat dalam ranah Islam-sains dewasa ini. Salah satunya adalah Seyyed Hossen Nasr, yang tiada henti melawan teori evolusi dengan argumen filosofis dan teologis, sekalipun kadang ia juga berupaya melihatnya dari sisi ilmiah. Dalam sebuah artikel pada 2006 tentang persoalan ini, ia mengawali paparannya dengan ungkapan: “Aku tidak hanya belajar fisika, tetapi juga geologi dan paleontologi di Harvard. Karena itulah, dengan latar belakang ini, aku menolak teori evolusi Darwin yang telah mengglobal -atas dasar-dasar ilmiah”. (Harus ditegaskan di sini bahwa Nasr pernah belajar fisika ketika masih menjadi mahasiswa Sl di Harvard sekitar 50 tahun silam). Ia kemudian menulis: “Segitiga tetaplah segitiga, dan tidak ada hal lain yang bisa berubah menjadi segitiga. Segitiga tidak dinamakan segitiga hingga ia benar-benar menjadi segitiga. Karena itu, bila kita memiliki tiga garis lepas yang berangsur-angsur bertemu, sekalipun terpisah hanya satu mikron, bangun tersebut tetap tidak bisa disebut segitiga. Hanya segitiga yang bisa menjadi dan dianggap segitiga. Bentuk kehidupan, seperti halnya segitiga, juga memiliki ketegasannya sendiri”. Ia juga mengemukakan argumen lain yang ia sebut ‘kritik logis’ berikut: “Bagaimana bisa sesuatu yang lebih besar muncul dari sesuatu yang lebih kecil?” Lalu ia menambahkan: “Banyak potret dan lukisan bohong yang digunakan untuk membuktikan evolusi. Memang, 95 persen dari sel-sel saraf kita mirip dengan sel-sel saraf kera, tetapi ini tidak membuktikan apa-apa.”

Selain pernyataan-pernyataan yang tak jelas ini, adakah kritik substansial yang diajukan Nasr? Paling banter, ia hanya bisa merujuk sejumlah kritikus teori evolusi Eropa dan ahli biologi non-Darwinian (tidak termasuk mereka yang pernah kita singgung di atas) yang pernah mengungkapkan berbagai sudut pandang yang berbeda, sekalipun Nasr tidak menegaskan apakah mereka masuk kelompok evolusionis non-Darwinian (sebagai lawan dari kreasionis atau pendukung Perancang Cerdas semisal Behe yang berulang-ulang ia sebut dengan bangga) seperti yang saya duga.

Berkenaan dengan sikapnya sendiri terhadap evolusi, Nasr awalnya menegaskan bahwa hanya Tuhan, Pemberi Hidup (Al-Muhyī, salah satu dari 99 nama agung Tuhan) yang bisa menghidupkan benda mati. Kedua, ia menerima mikroevolusi tapi menentang keras makroevolusi. Terakhir, ia menganggap evolusi teistik “lebih buruk dari pada gagasan Darwinian” karena “tidak lagi ilmiah”. Menurutnya, “Evolusi ini tidak akan bisa meyakinkan ahli biologi yang agnostik maupun ateistik” dan “telah memborgol Tangan Tuhan melalui proses yang kita yakin begitu memahaminya, padahal sebenarnya tidak.”

Pemikir Muslim lain yang turut serta dalam perdebatan seputar Islam dan sains adalah Osman Bakar, murid Nasr yang juga kuat menentang evolusi. Menurutnya, landasan dan pandangan teori ini pada hakikatnya sangatlah meterialistis. Ia juga menganggap bahwa Darwinisme berupaya mengingkari ketergantungan alam kepada Allah, Pencipta-nya.

Terakhir, seorang ulama Mesir kontemporer, Abdes-Sabour Chahine, yang sangat masyhur dalam lanskap budaya Islam, juga menyajikan pandangannya tentang evolusi manusia. Dalam sebuah buku berjudul Abī Adam (My Father; Adam) yang pertama kali terbit di Kairo pada 1998, Chahine mengumumkan bahwa dirinya mengembangkan tesisnya sedikitnya selama tiga dekade. Tesis yang demikian lama tersebut ternyata berisi dua hal: (1) manusia pernah mengalami suatu perkembangan panjang selama lebih dari jutaan tahun, tetapi mereka tidak berevolusi dari jenis spesies binatang mana pun; (2) tidak ada yang namanya makroevolusi; artinya, tidak ada satu pun spesies yang berevolusi dari, atau menghasilkan, spesies lain. Ia menegaskan penolakannya terhadap Darwin dalam segala hal. Niatnya, seperti yang ia katakan, adalah membersihkan budaya Islam dari dua virus: (1) segala kisah Isra’iliyat (lama dan baru) yang telah dimasukkan secara paksa ke dalam pemahaman Muslim mengenai berbagai wacana historis; dan (2) pendekatan harfiah pada teks-teks keagamaan.

Banyak sekali kekeliruan dalam buku Chahine, khususnya mengenai perkara-perkara ilmiah. Misalnya saja, ia menulis bahwa bumi berusia puluhan miliar tahun (padahal, periode pra-Cambrian saja tercatat 71,125 miliar tahun). Ia sangat keliru memahami teori evolusi dan juga gemar mengutip berbagai bagian tulisan yang berbeda-beda; salah satu yang terpenting adalah tulisan tahun 1956 yang mengaku bisa membuktikan kekeliruan teori Darwin. Ia menulis: “Faktanya sudah sangat jelas bahwa ada banyak sekali upaya ilmiah untuk menolak Darwin dan klaim-klaimnya. Karena itu, kita hanya bisa mengatakan bahwa semua kritik tersebut telah semakin melemahkan teori Darwin. Teori ini tidak memiliki bukti apa-apa tentang asa-usul manusia, terlepas dari kemungkinan sumbangannya yang besar terhadap biologi dan antropologi.”

Ia kemudian menambahkan: “Gagasan ‘evolusi kreatif’ -yang kita sebut ‘gagasan’ dan bukan ‘teori’- dengan demikian telah runtuh dan digantikan oleh kebenaran ‘penciptaan yang terpisah-pisah’ (separate creation), seperti yang didengungkan oleh agama (Islam) bahwa sejak dahulu, manusia tetaplah manusia, dan kera tetaplah kera”. Akan tetapi, tetap saja buku ini mengundang banyak kritik dan diserukan untuk dilarang beredar. Ia akhirnya dibawa ke empat pengadilan, termasuk banding di pengadilan tinggi. Salah seorang peninjau menulis: “Chahine mengaku bersalah dan berdosa terhadap agamanya, dan andai saja orang lain melakukan itu, Chahine sendiri akan meminta orang itu dihukum rajam”.

Dalam bukunya tersebut, Chahine mencoba membuktikan bahwa manusia muncul pertama kali jutaan tahun silam, bukannya ribuan atau puluhan ratus tahun sebagaimana yang lazim diklaim para kreasionis. Seperti halnya Syahrūr, Chahine juga membedakan antara insan dan basyar. Ia menerima keberadaan banyak Adam (manusia) sebelum munculnya Adam yang terkenal dalam kisah keagamaan; fakta bahwa surga tempat Adam kemudian diusir adalah surga yang fana di dunia (barangkali di Afrika Utara), dan bahwa banyak bagian dalam kisah penciptaan yang harus dipahami dalam pengertian metaforis dan pendekatan hermeneutik.

Leave a Reply

Close Menu