KOSMOLOGI KAUM TRADISIONALIS

KOSMOLOGI KAUM TRADISIONALIS

Seyyed Hossein Nasr dan para pengikutnya bersikeras bahwa kosmologi tidak boleh dianggap sebagai suatu disiplin ilmu murni yang berkaitan dengan aspek-aspek fisik alam semesta semata. Nasr menegaskan bahwa sebagian besar -jika bukan semua-peradaban terdahulu memandang disiplin sains murni sebagai bidang terpadu yang mengkaji benda-benda dan realitas fisik maupun non-fisik yang hidup berdampingan dalam sebuah struktur holistik. Ia menulis: “Kosmologi-kosmologi kuno merupakan sains-sains yang tujuan utamanya adalah menunjukkan kesatuan dari semua yang ada. Kesatuan ini sangatlah penting dalam Islam karena gagasan keesaan Tuhan (tauhid) memengaruhi gagasan-gagasan lain, melekat pada setiap tingkat Peradaban Islam, dan menjadi prinsip paling fundamental yang mendasari segala fenomena”. Dalam kesempatan lain, ia menekankan bahwa

arti kosmologi dalam Islam atau dalam pandangan tradisional lain sangat berbeda konteksnya dengan arti kosmologi dalam sains modern. Kosmologi-kosmologi tradisional (termasuk visi-visi Islam) berhadapan dengan realitas kosmik dalam totalitasnya, termasuk hal-hal yang hanya dapat dipahami atau bersifat ke-malaikat-an dan prinsip-prinsip metafisika (yang berkaitan) dengan alam kosmik.

 

Nasr yang membahas kosmologi Islam klasik (Abad Pertengahan) secara detail (lihat buku awalnya yang berpengaruh, Introduction to Islamic Cosmological Doctrines (“Pengantar Doktrin Kosmologis Islam”, yang ditulis pada 1963) sampai pada kesimpulan yang menarik bahkan mengejutkan bahwa terlepas dari perbedaan-perbedaan dalam hal perspektif dan penekanan, konsepsi alam semesta yang dikemukakan oleh sebagian besar penulis Muslim “lebih tampak sebagai penafsiran atas teks-teks kosmik”. Pembaca akan segera mengenali analogi ini, sebab Alquran memang berulang-ulang memandang alam semesta sebagai sebuah buku yang mengandung bukan hanya ayat-ayat sebagaimana dijumpai di dalam Alquran itu sendiri, tetapi juga sebagai counterpart (pasangan) makrokosmiknya.

Kosmos, sebagaimana yang ditegaskan Nasr, bukanlah (dalam konsepsi Islam) entitas yang mengandung segala sesuatu (seperti yang didefinisikan ilmu fisika modern), melainkan lebih merupakan bagian kecil dalam kumpulan kosmik yangjauh lebih besar, dan mencakup kosmos. Dengan demikian, studi tentang kosmos atau alam semesta bukanlah tujuan akhir, melainkan alat untuk mencapai tujuan akhir yang sebenarnya, yakni “memeroleh pengetahuan mengenai Sang Pencipta yang kebijaksanaannya tercermin dalam ciptaan-Nya, sehingga studi atas kebijaksanaan tersebut dapat mengarahkan si penafsir kepada tercapainya pengetahuan mengenai diri Sang Pencipta itu sendiri.”

William Chittick, yang sepenuhnya menganut filsafat (Islam) perennial Nasr, menyajikan beberapa karakteristik utama dari kosmologi tradisionalis Islam sebagai berikut:

  • “Kosmos merupakan hierarki besar yang menghadirkan berbagai level realitas secara bersamaan tanpa memerhatikan urutan/suksesi yang bersifat temporal”;
  • “Kosmos hirarkis ini dibagi menjadi dua bagian dasar, pertama, yang-terlihat (visible), sedangkan kedua, yang-takterlihat (invisible). Alam tak-terlihat lebih dekat dengan Tuhan dan lebih nyata dibandingkan yang-terlihat”;
  • “Manusia adalah makhluk yang unik dalam kosmos. Karena itu, segala sesuatu di alam semesta eksternal dianggap ditemukan-secara esensial dan pada realitasnya-dalam kedirian primordial yang dikenal sebagai fitrah.”

 

Tinggalkan Balasan

Close Menu