KOSMOLOGI ISLAMI DEWASA INI ‎

KOSMOLOGI ISLAMI DEWASA INI ‎

Kemunduran peradaban Islam menyebabkan redupnya kegiatan-kegiatan intelektual, termasuk kajian saintifik, kecuali di beberapa tempat tertentu yang tetap berlanjut meski kemudian timbul tenggelam dan akhirnya menghilang dalam waktu yang singkat. Selain beberapa pengecualian (misalnya Mulla Sadra, 1571-1640), era abad ke-12 pada masa Ibn Rusyd, Ibn ‘Arabī, dan Suhrawardi benar-benar merupakan masa terbenamnya cahaya kosmologi Islami.

Dewasa ini barangkali hanya ditemukan sedikit sekali ulasan mengenai perkembangan ilmiah. Terkadang kita menemukan beberapa terjemahan karya-karya kosmologis Barat meskipun terjemahan-terjemahan itu tidak cukup akurat dalam mencerna pengetahuan kosmologi termutakhir, apalagi memuat produk pemikiran dan inovasi kosmologi tingkat tinggi. Salah satu alasan kemunduran adalah keyakinan Muslim bahwa obat yang tepat untuk menyembuhkan penurunan peradaban dan mencapai kemajuan baru adalah reformasi kehidupan beragama dan pengembangan sistem politik yang benar-benar progresif (demokratis) dalam lingkup budaya Islam. Sains dan filsafat mendapat perhatian yang sangat rendah dalam analisis tersebut dan tidak dipandang sebagai faktor penentu dalam keseluruhan skema pembangunan masyarakat Muslim.

Namun, jika gagasan-gagasan yang dikemukakan dan dipopulerkan dalam setengah abad terakhir tersebut diamati lebih mendalam, terdapat dua mazhab pemikiran yang sangat berbeda dan barangkali bertolak belakang secara diametris: pertama adalah mazhab I’jaz yang terkenal, sedangkan yang kedua adalah mazhab neo-Sufi.

Tulisan ini sepenuhnya dikhususkan untuk membahas ‘mazhab’ yang pertama, tetapi saya akan mengulangi kembali ulasan singkatnya di bawah ini untuk menekankan jenis kosmologi yang kini sedang dominan dianut tersebut. Sementara itu, mazhab kedua (neo-Sufi), yang dianut kaum elitis masyarakat Muslim, memandang semua perkembangan kosmologis dan temuan-temuan baru sebagai sesuatu yang mengarah kepada teori kesatuan kosmos lama yang mendunia, sebagaimana yang dikemukakan Ibn ‘Arabī dan para pengikutnya. Para pendukung utama mazhab neo-Sufi ini adalah S.H. Nasr, Osman Bakar, Muzaffar Iqbal, dan Abdul Haq Bruno Guiderdoni dengan masing-masing derajat (dukungan dan kesepahaman) yang berbeda.

Di sini, saya menampilkan salah satu contoh kosmologi versi mazhab I’jaz. Dalam sebuah buku berjudul Man in the Universe: in the Quran, and in Science (Manusia dalam Alam Semesta: dalam Tinjauan Alquran dan Sains), Abdurrahman Khudr menulis:

Adakah kesatuan yang lebih global dan lebih sempurna dibandingkan kesamaan antara atom, sel, tata surya, dan galaksi? Masing-masing memiliki inti di titik pusat, yang menyimpan rahasia-rahasia kehidupan dan mengendalikan berbagai fungsi yang berbeda, sedangkan, berbagai partikel/ benda/cairan yang berkeliling di sekitarnya dalam sebuah gerak konstan yang tak henti?

Dalam sebuah catatan kaki di buku tersebut, ia menambahkan: “elektron-elektron di sekitar inti ditemukan pada kulit-kulit atom yang disebut tingkat-tingkat. Yang mengejutkan adalah para ilmuwan menyebut kulit-kulit atom itu sebagai ‘tingkatan langit’ karena jumlahnya bisa mencapai tujuh elemen berat”

Lebih jauh, ia mengemukakan:

Pada awalnya memang seperti yang disampaikan dalam Alquran. Ada ‘butiran debu di antara bintang-bintang’. Terkumpulnya partikel-partikel ini hanyalah awal untuk kemudian ‘memisahkan’ unsur-unsur kimia dalam materi-materi alam semesta. Karena itulah, para ilmuwan menemukan bahwa atom-atom berasal dari gas atau asap ini, sebagaimana yang dikemukakan dalam Alquran sekitar 1.400 tahun yang lalu, merupakan satu-satunya ‘bahan’ untuk membentuk benda-benda padat terbesar di alam semesta, termasuk bintang. Maka Mahasuci Allah yang paling benar perkataan-Nya.

Khudr kemudian menyimpulkan: “Saya percaya bahwa Alquran tidak melewatkan fenomena kosmik apa pun tanpa menyinggung hal-hal tersebut dalam ayat-ayatnya!”

Pandangan mazhab neo-Sufi bisa diwakili oleh gagasan-gagasan Abdul Haq Bruno Guiderdoni yang menulis banyak artikel dan aktif di beberapa konferensi dengan topik kosmologi Islam. Sikap Geiderdoni yang berkecenderungan neo-Sufi ini terlihat jelas dalam tulisan-tulisannya berikut ini:

  • Penyingkapan diri Tuhan tak ada habisnya. Munculnya ‘sifat-sifat Tuhan’ pada semua level kompleksitas, terutama kemunculan kehidupan dan kecerdasan, merupakan aspek lain dari penyingkapan yang berlangsung terus menerus tersebut.
  • Tradisi Islam selalu mengajarkan bahwa Tuhan dekat dengan makhluk-Nya dan terus menerus melakukan penciptaan. Setiap waktu Dia dalam kesibukan (Alquran, Surah Ar-Raḥman, 55: 29). Tuhan memang tersembunyi, tetapi sebenarnya Dia juga tampak, sesuai dengan Nama-Nama-Nya yang indah, Aż-ẓāhir wa AI-Bāṭin.
  • Untuk menghindari jalan buntu (perlawanan terhadap sains di satu sisi dan i’jaz di sisi lain), harus disadari bahwa manusia diseru untuk memahami pengetahuan yang jauh melampaui pengetahuan rasional.

Tinggalkan Balasan

Close Menu