KOSMOLOGI, FILSAFAT, DAN TEOLOGI ‎

KOSMOLOGI, FILSAFAT, DAN TEOLOGI ‎

Pada bagian sebelumnya, saya menekankan bahwa kosmologi merupakan sebuah sains yang teoretis, observasional, dan empiris. Artinya, secara tidak langsung saya mengatakan bahwa alam semesta dapat dan harus diketahui oleh sains modern. Ini memang benar adanya, tetapi belum cukup pantas untuk ditekankan. Kita tidak bisa lagi membiarkan munculnya wacana-wacana yang tak terarah mengenai kosmos, penciptaan, struktur alam semesta, posisi fisik kita di dalamnya, dan tentu saja mengenai proses fisik yang mengatur kosmos dan sejarahnya (termasuk kita manusia) sejak kelahiran masing-masing.

Di sisi lain, kita juga harus berhati-hati dengan tidak membiarkan kosmologi terperangkap dalam format materialistis. Berbeda dengan cabang sains yang lain, kosmologi berkaitan dengan cara pandang kita, baik secara pribadi maupun secara kolektif. Filsafat barangkali memang berkontribusi penting untuk menampilkan kosmologi sebagai sebuah usaha manusia dalam perspektif yang agak lebih luas dibandingkan cakupan sains modern. Teologi juga dapat berinteraksi dengan kosmologi dan mendapat manfaat darinya dengan membangun sebuah sistem kepercayaan yang wajar dan konsisten secara ilmiah.

Kosmologi Kim Coble menyajikan diagram berikut ini untuk menunjukkan hubungan-hubungan antara ‘kosmologi ilmiah’ dan pandangan pribadi seseorang: Satu-satunya kotak yang hilang dari diagram tersebut dan telah saya tambahkan dalam bentuk kotak bergaris putus-putus adalah keyakinan-keyakinan (utamanya agama) yang cukup sering menjadi paket tak terpisahkan dalam perspektif pribadi seseorang.

Selain itu, kosmolog Joel Primack dan istrinya, Nancy Ellen Abrams (seorang seniman dan filsuf), baru-baru ini menulis sebuah buku, The View from the Center of Universe (2006), yang secara khusus dimaksudkan untuk membangun kosmologi modern. Kosmologi modern tersebut, selain didasarkan pada pengetahuan ilmiah terbaru, juga memperhitungkan perspektif sosial dan budaya (yang oleh penulisnya disebut dengan ‘mitos’). Keduanya memulai paparan dengan mengeluhkan ‘begitu banyak orang mulai tak peduli terhadap alam semesta’ pada masa kita saat ini yang dianggap berbeda dengan masa-masa sebelumnya. Fenomena ini dianggap sebagai akibat dari skizofrenia sosial (social schizophrenia) yang pertama kalinya digunakan untuk memisahkan dunia fisik dan dunia nilai dan makna. Primack dan Abrams berpandangan bahwa gambaran-gambaran tradisional, kultural, bahkan agama justru sangat berguna dalam menyajikan kosmologi dewasa ini tanpa mengimplikasikan adanya kompromi dalam kesimpulan ilmiah atau metodologi yang digunakan untuk menemukan sebuah pengetahuan. Kedua pemikir itu menyatakan: “Beberapa agama memiliki konsep yang beresonansi harmonis dengan aspek-aspek ilmiah yang baru”; Kita tidak perlu berpura-pura hidup dalam gambaran-gambaran tradisional atas alam semesta hanya untuk menuai manfaat dari bahasa mitis yang secara populer terkait dengan gambaran tradisional.”

William Chittick (filsuf perennial Muslim) tidak menyetujui pandangan yang demikian. Ia menegaskan bahwa salah satu tujuan tradisi Muslim dan tradisi intelektual lain adalah “mengenali peran mitos dalam pemahaman manusia dan, jika perlu, merevitalisasi wacana mistis”. Ia mengutip Sufi Ibn ‘Arabi, yang menggambarkan mitos dan nalar sebagai ‘dua mata’ dalam persepsi manusia mengenai Realitas.

Tesis Primack dan Abrams menjelaskan bahwa jika dalam kosmologi-kosmologi kuno manusia (dan bumi) secara fisik dianggap berada di pusat alam semesta, maka dewasa ini, dengan cara metaforis, kita dapat menyusun sebuah ‘gambaran besar’ kosmologi modern yang menempatkan kemanusiaan sebagai bagian sentral dalam alam semesta. Dengan mengutuk fakta bahwa “kosmologi ilmiah modern tidak mendiskusikan kita (manusia)”, keduanya berargumen bahwa “ada sebuah fakta sederhana, yakni jika sains tidak ‘berpendapat apa-apa mengenai manusia, ia juga hanya memiliki sedikit hal untuk disampaikan kepada manusia” (penekanan sebagaimana dalam teks asli). Keduanya kemudian berupaya menemukan tempat yang sesuai bagi manusia dalam sejarah alam semesta. Mereka menjelaskan bahwa kita (manusia) berada di ‘pusat’ karena halhal berikut:

·         Kita terbuat dari unsur-unsur paling langka yang pernah diciptakan kosmos: debu bintang.

·         Kita hidup di titik tengah masa hidup planet kita dan masa hidup matahari.

·         Kita memiliki ukuran-ukuran yang (dalam skala logaritmis) berada di tengah seluruh skala benda-benda.

 

Primack dan Abrams bersikeras bahwa mereka berdua tidak akan membahas masalah sentralitasi ini hanya untuk memastikan bahwa manusia dipaksa berada dalam posisi pusat tersebut; struktur alam semestalah yang menempatkan kita semua berada di titik pusat. Inilah sebenarnya tanggung jawab para kosmolog untuk membuat pandangan ini masuk akal dan dapat diterima, baik suka ataupun tidak.

Mereka juga menemukan hubungan-hubungan lain antara kosmologi ilmiah dan perspektif pribadi. Dengan menggunakan konsep-konsep ilmiah dan sosial sebagai metafora, mereka menemukan resonansi antara, misalnya, inflasi kosmik dan pertumbuhan eksponensial populasi manusia, gravitasi dalam ruang angkasa dan meningkatnya pemusatan kekayaan di beberapa negara dibandingkan negara-negara lain, benturan peradaban dan apa yang disebut ‘skala chauvinisme’ (mengharapkan beberapa objek bertindak dengan cara-cara tertentu sehingga bisa mencapai ‘skala yang membingungkan/scale-confused’). Primack dan Abrams terkadang menggunakan kosmologi untuk mencerahkan konsep-konsep tradisional lama tertentu (pengantar awal untuk menjelaskan ‘air purba’ yang dapat ditemukan dalam ajaran Islam, Kristen, dan kisah penciptaan di Babilonia) atau juga dalam kepercayaan Kabbalah untuk menggambarkan gagasan ‘inflasi kosmik abadi.’

Sejalan dengan diskusi semacam ini, yang belum pernah terjadi sebelumnya sampai beberapa tahun terakhir, minat untuk membahas ‘filosofi kosmologi’ perlahan-Iahan mulai menguat, misalnya dalam konferensi pada Sepetember 2009 mengenai Filsafat Kosmologi di Oxford. Banyak pemikir, termasuk beberapa kosmolog terkemuka (misalnya, George FR Ellis) dan beberapa filsuf fisika (misalnya, Simon Saunders), mulai berpandangan bahwa karena kosmologi dewasa ini telah berkembang menjadi sebuah cabang ilmu pengetahuan yang solid, landasan-Iandasan dan metodologi yang digunakan haruslah sangat kuat dan setiap kelemahannya harus dinyatakan dengan jelas untuk menghindari munculnya kesimpulan tanpa alasan yang jelas. Beberapa isu utama yang diangkat dalam konferensi tersebut dan memerlukan eksplorasi filosofis dan interdisipliner yang serius antara lain: asumsi-asumsi kosmologi (misalnya, prinsip kosmologi), perangkat-perangkat (misalnya, waktu linier, real, dan imajiner), model-model (chaos dan/atau inflasi berkelanjutan), konsepkonsep (awal-mula vs penciptaan, probabilitas vs ekstrapolasi terhadap himpunan-himpunan tak terhingga, keniscayaan vs kemungkinan, dan lain-lain), dan serangkaian informasi lainnya.

Beberapa pemikir telah mendiskusikan isu-isu yang berkaitan dengan sifat kosmologi dan berusaha menafsirkan temuan-temuan dan makna-makna di baliknya. Michael Heller, misalnya, mengingatkan kita betapa pentingnya menemukan jawaban atas pertanyaan mengenai ‘sebab pertama’ yang telah menyulut perdebatan di antara para ilmuwan dan filsuf sejak Aristoteles. Heller juga menyatakan bahwa menganggap hukumhukum fisika sebagai sebab tertentu sama sekali bukanlah sebuah premis yang sepele. Demikian pula, kosmolog terkenal George Ellis mempertanyakan sifat dan ruang lingkup teori-teori kosmologi dalam dua pertanyaannya berikut: (1) Apakah ini semua hanya berkaitan dengan masalah fisik atau apakah juga bisa mempertanyakan mengapa hal-hal tersebut bisa terjadi seperti itu? (2) Apakah teori-teori kosmologi, sebagaimana teori-teori ilmiah lainnya, harus diukur dengan kriteria falsifiabilitas dan penafsiran terhadap sesuatu?

Ellis menyatakan bahwa teori-teori kosmologis seringkali tidak didukung oleh bukti-bukti observasional dan eksperimental langsung (atau bahkan tidak langsung). Tidak hanya itu, falsifiabilitas dan penafsiran tersebut seringkali berjalan ke arah yang berlawanan: ketika salah satu meningkat, yang lain malah menurun, lalu yang manakah yang harus kita utamakan? Demikian pula, pendekatan-pendekatan ilmiah lain yang umumnya digunakan, seperti eksperimen, induksi, dan generalisasi, seringkali tidak bisa diterapkan para kosmolog (hanya ada satu alam semesta untuk dipelajari). Para pemikir tersebut kemudian menyimpulkan bahwa hal pertama yang harus dilakukan adalah menyadari kendala-kendala dan sifat-sifat khusus kosmologi, kemudian mengakui bahwa ada aspek filosofis, bahkan mungkin metafisis dalam kosmologi, lalu menghubungkan hal-hal tersebut secara jujur dalam praktik kosmologis.

Filsuf Ernan McMullin menjawab pertanyaan epistemologis ini dengan sangat tepat. Dalam buku Is Philosophy Relevant to Cosmology?. Ia memulai gagasannya dengan mengemukakan sifat khusus kosmologi, utamanya mengenai ketergantungannya terhadap asumsi-asumsi yang tersembunyi dan munculnya ‘level-level kebebasan’ (ia mencontohkan perdebatan antara teori Big Bang dan teori Steady State sebagai kasus klasik). Ia juga menguatkan asumsinya seputar kebergantungan kosmologi pada konsep-konsep seperti waktu, awal mula, penciptaan, dan lain-lain. Dari situlah McMullin bertanya pada dirinya sendiri, mungkinkah filsafat dilibatkan dalam urusan ini. Ia sangat menyadari bahwa para filsuf mungkin keluar dari elemen-elemennya di sini, karena kosmologi adalah ilmu yang mengharuskan pendidikan/pelatihan lebih lanjut dan penguasaan alat-alat atau metode-metode tertentu (secara teoretis). Selain itu, ia juga mengutip Paul Davies yang mengatakan bahwa “sepuluh tahun mempelajari radio astronomi akan memberi informasi tentang penciptaan dan pengaturan alam semesta dibandingkan ribuan tahun mempelajari agama dan filsafat”. Yang ia maksud adalah filsafat dalam pengertian umum, bukan para filsuf. Ia bahkan mengakui bahwa “banyak tulisan filosofis yang sangat berbobot mengenai topik-topik ilmiah pada abad ke-20 ini yang telah dihasilkan para ilmuwan” dan bahwa “sains dasar yang paling inovatif adalah sains yang menggabungkan diri dengan filsafat”. Ia kemudian memberi sedikitnya satu contoh (Prinsip Mach) yang menegaskan bahwa “klarifikasi filosofis” benar-benar diperlukan bagi sebuah teori ilmiah (Relativitas Umum). Selanjutnya, ia membidik beberapa masalah serius dalam kosmologi (baik yang berada dalam kosmologi atau bersumber darinya) yang membutuhkan intervensi filsafat, semisal prinsip-prinsip yang diasumsikan, metode-metode yang digunakan, penerimaan paradigma-paradigma yang dominan (atau apa yang ia sebut cosmythology) , dan sebagainya.

Salah satu contoh penting yang dikemukakan McMullin adalah pertanyaan mengenai awal-mula dan penciptaan. Pertamatama ia menyatakan bahwa kata ‘penciptaan’ bersifat menjelaskan (explanatory); kata tersebut menunjuk kepada sebuah sebab (Pencipta) atas munculnya alam semesta. Jelas, pernyataan ini bukanlah penjelasan ilmiah, karena sains tidak dapat berpijak pada ‘satu prinsip kausalitas yang kuat’. McMullin kemudian mempertanyakan: bisakah filsafat berpijak pada prinsip yang demikian? Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa penciptaan ex nihilo bukanlah satu-satunya jalan untuk mengukuhkan sifat ilahiah asal-mula alam semesta; ia hanya merupakan pandangan yang paling intuitif, sehingga siapa pun bisa mengajukan alasan yang sama mengenai sifat ilahiah asal-mula alam semesta yang kekal. Dengan pernyataan ini, McMullin sebenarnya hendak mengatakan bahwa masalah awal-mula alam semesta dan penciptaan jauh lebih bersifat filosofis dibandingkan bersifat ilmiah. (Di sini, saya perlu menyebutkan bahwa pandangan McMullin tersebut sangat mirip dengan argumen yang dikemukakan Rusyd saat mempertahankan pendapatnya mengenai keabadian dunia untuk melawan pernyataan Al-Ghazālī  bahwa konsep tersebut diimpor dari filsafat Yunani yang berseberangan dengan keyakinan Islam. Ibn Rusyd menjelaskan bahwa pertanyaan tersebut sangatlah filosofis dan jika ada sebuah argumen kuat, yakni pendapat Aristoteles yang mendukung keabadian dan bisa menunjukkan konsistensinya dengan prinsip-prinsip Islam, maka argumen tersebut harus diterima karena merupakan hasil intisari pengetahuan tertinggi manusia.)

Isu inilah yang pada akhirnya menggiring kita kepada hubungan antara kosmologi dan teologi. Dengan mengesampingkan sejumlah besar literatur mengenai berbagai konsep dan teori yang saling berhubungan, seperti teori Big Bang dan perluasan alam semesta hingga pandangan-pandangan agama dan teologis, saya harus menegaskan bahwa hubungan semacam itu sangatlah riskan. Telah diketahui secara luas bahwa teori Big Bang memunculkan perdebatan sengit dan deklarasi yang berapiapi dalam hubungannya dengan Tuhan, Alkitab, Alquran, dan lain-lain. Misalnya, Paus Pius XII pada 1951 memproklamasikan dukungan Gereja terhadap teori Big Bang yang pertama kali diperkenalkan sebagai gagasan ‘atom primordial’ Lemaitre. Ia menemukan kemiripan dengan Fiat lux pada Kitab Kejadian dan menyatakan: “Karena itulah, penciptaan terjadi dalam suatu kurun waktu dan hanya ada seorang pencipta, dan karena itulah Tuhan ada!” Umat Muslim baru-baru ini juga menegaskan bahwa Alquran sepenuhnya mendukung teori Big Bang, sebab teori tersebut ‘mengonfirmasi’ apa yang disampaikan ayat-ayat suci. Lebih jauh lagi, ‘argumen kosmologis’ keberadaan Allah (argumen kalam) sebenarnya berasal dari para filsuf Muslim (Al-Kindī dan filsuf-filsuf lain belakangan). Di sisi lain, beberapa pemikir dan ilmuwan menyatakan keberatannya terhadap kesimpulan-kesimpulan semacam itu. David Bohm, misalnya, menuduh para pendukung pandangan di atas sebagai “ilmuwan yang secara efektif telah menjadi pengkhianat ilmu” karena “mengesampingkan fakta-fakta ilmiah hanya demi kesimpulan yang selaras dengan Gereja Katolik”. Begitu juga, Stephen Hawking, dalam bukunya yang terkenal (A Brief History of Time) dan karyanya bersama Hartle (Wave Function of The Universe) berusaha keras menunjukkan bahwa permulaan Big Bang tidak harus berupa sebuah batas atau tepi tertentu. Karena itu juga ia terkenal dengan pertanyaan: “Lalu di manakah tempat bagi Sang Pencipta?”

Primack dan Abrams berupaya memaparkan relevansi kosmologi modern dengan konsep Tuhan. Dengan berpandangan bahwa seseorang hanya bisa percaya pada Tuhan ketika orang tersebut telah memahami-‘Nya’, keduanya mempertimbangkan berbagai aspek dalam konsep tersebut dan menekankan pentingnya skala yang terkait dengan Tuhan. Mereka kemudian menyimpulkan bahwa Tuhan harus relevan dengan dan meliputi semua skala. Mereka bersikeras berpandangan bahwa Tuhan harus dilihat tidak hanya dari perspektif manusia dan dinyatakan sebagai sesuatu yang ‘Maha Mencintai’ dan ‘Maha Mengetahui segala hal yang hanya sedikit diketahui secara baik oleh manusia’, tetapi juga dari perspektif galaksi dan atom. Keduanya lalu sampai pada kesimpulan bahwa Tuhan adalah sesuatu yang “terputus dari alam semesta yang menakjubkan ini sehingga sains menggambarkan Tuhan sepenuhnya sebagai imajinasi” dan bahwa “Tuhan yang muncul dari pemahaman ilmiah tidaklah sepenuhnya dibentuk oleh (pikiran) kita. Tuhan yang demikian melampaui imajinasi manusia dan berbicara dalam berbagai cara tertentu terhadap alam semesta.”

Isu lain yang berkaitan dengan keterhubungan antara kosmologi dan teologi adalah ‘pertanyaan mengenai cosmogenesis’, yang baru-baru ini dibahas oleh filsuf Muslim terkenal Seyyed Hossein Nasr. Harus diingat di sini bahwa Nasr adalah seorang filsuf perennial yang memercayai adanya kesatuan segala sesuatu: pengetahuan, tradisi, kosmos (bersama dengan bagian fisik dan metafisisnya), dan Ilahi. Selama hampir 50 tahun hingga kini, ia telah menyerukan penyatuan tersebut, dan bidang keilmuan yang ia anggap cocok untuk mengaplikasikan prinsip-prinsipnya, tentu saja, adalah kosmologi.

Dalam artikelnya yang beredar tahun 2006 berjudul “The Questions of Cosmogenesis”, Nasr memulai ulasannya dengan menyatakan bahwa kosmos adalah bidang studi yang sah dalam Islam, bahkan ia menunjukkan ayat-ayat Alquran yang menekankan aspek penciptaan kosmos ilahiah. Ia juga menyatakan beberapa poin penting, seperti hubungan etimologis antara istilah Arab untuk menggambarkan pengetahuan (‘ilm) dengan kata lain yang digunakan untuk menunjukkan dunia/alam semesta (‘alam). Secara tegas ia melanjutkan bahwa cosmogenesis merupakan pertanyaan yang bersifat religius dan sekaligus metafisik, dan ‘jawabannya berasal dari kebenaran wahyu, bukan hanya dari ekspansi dan ekstrapolasi ilmu-ilmu alam dan tatanan fisik”. Menurut Nasr, “sikap Islam atas cosmogenesis sangat bertentangan langsung dengan perspektif ilmiah Barat modern”.

Ia bahkan lebih jauh melangkah dan membeberkan kesalahan dalam ‘ekstrapolasi’ kosmologi mengenai waktu yang ‘melintasi periode-periode besar masa lalu dan masa depan’ serta perubahan sifat-sifat kosmologi dan hasilnya, dengan menyatakan: “Banyak ilmuwan saat ini yang berbicara mengenai teori big bang, padahal kemarin mereka membincangkan hal-hal lain, dan besok mereka juga akan mendiskusikan teori-teori lain.”

Saya tidak terlalu mendukung analisis ini. Saya bahkan berpendapat bahwa sikap Islam yang sebenarnya (seperti yang disampaikan Sardar dalam anekdot yang saya hubungkan pada tulisan lain) adalah mengadopsi fakta-fakta keras tentang sains (yang telah mapan), bukan memilah-milih apa yang disukai dan apa yang tidak, apalagi menolak pengetahuan ilmiah dan menyatakan bahwa sebuah topik tertentu menjadi kajian eksklusif agama, metafisika, dan wahyu.

Pendekatan yang jauh lebih modern dan ilmiah dipraktikkan oleh Arthur Peacocke yang mencoba memadukan pengetahuan kosmologi modern dengan hasil pembacaan Alkitab bagian pembukaan, yakni Kitab Kejadian. Dalam pengantarnya untuk buku Pathway from Science Towards God yang berjudul cukup menarik “Genesis for the Third Millenium”, Peacocke menulis:

 

Ada Tuhan. Dan Tuhan memang benar-benar ada. Semua Itu Ada. Kasih Tuhan melimpah dan la berkata, “Biarlah Yang Lain terjadi. Biarkan Ia memiliki kemampuan untuk menjadi apa yang mungkin bisa terjadi, membuatnya seperti dirinya dan biarkan ia mengeksplorasi potensi-potensinya.”

Ada Yang Lain dalam Allah, yakni sebuah bidang energi, energi yang bergetar-tak bermateri, tak beruang, tak berwaktu, dan tak berbentuk. Seraya mematuhi hukum-hukum yang ditetapkan dengan suatu energi gelombang panas yang intens –Big Bang yang panas- Yang Lain tersebut meledak menjadi alam semesta pada masa 12 miliar tahun atau lebih dari zaman kita, sehingga terbentuklah ruang angkasa.

 

Peacocke lebih jauh menjabarkan: “Partikel dasar yang bergetar pun muncul, semesta terus memperluas dirinya dan bercampur menjadi pusaran-pusaran materi dan cahaya. Lima miliar tahun yang lalu, sebuah bintang dalam suatu galaksi Matahari kita -dikelilingi oleh materi yang merupakan planetplanet. Satu di antaranya adalah Bumi kita. Beberapa molekul membesar dan cukup kompleks untuk membuat salinan diri mereka sendiri dan menjadi bintik pertama kehidupan.”

Jelas, Peacocke memadukan semua elemen utama sains modern, dari kosmologi hingga evolusi biologi, ke dalam sejarah penciptaan yang ia rumuskan. Pendekatannya sangat mirip dengan -meski tidak semistis- Primack dan Abrams yang meringkas pandangannya dalam kalimat berikut: “Kosmologi ilmiah bukanlah kata terakhir: Ia adalah kata pertama. Akurasi ilmiah yang harus menjadi standar minimum kita.”

 

 

Pada bagian sebelumnya, saya menekankan bahwa kosmologi merupakan sebuah sains yang teoretis, observasional, dan empiris. Artinya, secara tidak langsung saya mengatakan bahwa alam semesta dapat dan harus diketahui oleh sains modern. Ini memang benar adanya, tetapi belum cukup pantas untuk ditekankan. Kita tidak bisa lagi membiarkan munculnya wacana-wacana yang tak terarah mengenai kosmos, penciptaan, struktur alam semesta, posisi fisik kita di dalamnya, dan tentu saja mengenai proses fisik yang mengatur kosmos dan sejarahnya (termasuk kita manusia) sejak kelahiran masing-masing.

Di sisi lain, kita juga harus berhati-hati dengan tidak membiarkan kosmologi terperangkap dalam format materialistis. Berbeda dengan cabang sains yang lain, kosmologi berkaitan dengan cara pandang kita, baik secara pribadi maupun secara kolektif. Filsafat barangkali memang berkontribusi penting untuk menampilkan kosmologi sebagai sebuah usaha manusia dalam perspektif yang agak lebih luas dibandingkan cakupan sains modern. Teologi juga dapat berinteraksi dengan kosmologi dan mendapat manfaat darinya dengan membangun sebuah sistem kepercayaan yang wajar dan konsisten secara ilmiah.

Kosmologi Kim Coble menyajikan diagram berikut ini untuk menunjukkan hubungan-hubungan antara ‘kosmologi ilmiah’ dan pandangan pribadi seseorang: Satu-satunya kotak yang hilang dari diagram tersebut dan telah saya tambahkan dalam bentuk kotak bergaris putus-putus adalah keyakinan-keyakinan (utamanya agama) yang cukup sering menjadi paket tak terpisahkan dalam perspektif pribadi seseorang.

Selain itu, kosmolog Joel Primack dan istrinya, Nancy Ellen Abrams (seorang seniman dan filsuf), baru-baru ini menulis sebuah buku, The View from the Center of Universe (2006), yang secara khusus dimaksudkan untuk membangun kosmologi modern. Kosmologi modern tersebut, selain didasarkan pada pengetahuan ilmiah terbaru, juga memperhitungkan perspektif sosial dan budaya (yang oleh penulisnya disebut dengan ‘mitos’). Keduanya memulai paparan dengan mengeluhkan ‘begitu banyak orang mulai tak peduli terhadap alam semesta’ pada masa kita saat ini yang dianggap berbeda dengan masa-masa sebelumnya. Fenomena ini dianggap sebagai akibat dari skizofrenia sosial (social schizophrenia) yang pertama kalinya digunakan untuk memisahkan dunia fisik dan dunia nilai dan makna. Primack dan Abrams berpandangan bahwa gambaran-gambaran tradisional, kultural, bahkan agama justru sangat berguna dalam menyajikan kosmologi dewasa ini tanpa mengimplikasikan adanya kompromi dalam kesimpulan ilmiah atau metodologi yang digunakan untuk menemukan sebuah pengetahuan. Kedua pemikir itu menyatakan: “Beberapa agama memiliki konsep yang beresonansi harmonis dengan aspek-aspek ilmiah yang baru”; Kita tidak perlu berpura-pura hidup dalam gambaran-gambaran tradisional atas alam semesta hanya untuk menuai manfaat dari bahasa mitis yang secara populer terkait dengan gambaran tradisional.”

William Chittick (filsuf perennial Muslim) tidak menyetujui pandangan yang demikian. Ia menegaskan bahwa salah satu tujuan tradisi Muslim dan tradisi intelektual lain adalah “mengenali peran mitos dalam pemahaman manusia dan, jika perlu, merevitalisasi wacana mistis”. Ia mengutip Sufi Ibn ‘Arabi, yang menggambarkan mitos dan nalar sebagai ‘dua mata’ dalam persepsi manusia mengenai Realitas.

Tesis Primack dan Abrams menjelaskan bahwa jika dalam kosmologi-kosmologi kuno manusia (dan bumi) secara fisik dianggap berada di pusat alam semesta, maka dewasa ini, dengan cara metaforis, kita dapat menyusun sebuah ‘gambaran besar’ kosmologi modern yang menempatkan kemanusiaan sebagai bagian sentral dalam alam semesta. Dengan mengutuk fakta bahwa “kosmologi ilmiah modern tidak mendiskusikan kita (manusia)”, keduanya berargumen bahwa “ada sebuah fakta sederhana, yakni jika sains tidak ‘berpendapat apa-apa mengenai manusia, ia juga hanya memiliki sedikit hal untuk disampaikan kepada manusia” (penekanan sebagaimana dalam teks asli). Keduanya kemudian berupaya menemukan tempat yang sesuai bagi manusia dalam sejarah alam semesta. Mereka menjelaskan bahwa kita (manusia) berada di ‘pusat’ karena halhal berikut:

·         Kita terbuat dari unsur-unsur paling langka yang pernah diciptakan kosmos: debu bintang.

·         Kita hidup di titik tengah masa hidup planet kita dan masa hidup matahari.

·         Kita memiliki ukuran-ukuran yang (dalam skala logaritmis) berada di tengah seluruh skala benda-benda.

 

Primack dan Abrams bersikeras bahwa mereka berdua tidak akan membahas masalah sentralitasi ini hanya untuk memastikan bahwa manusia dipaksa berada dalam posisi pusat tersebut; struktur alam semestalah yang menempatkan kita semua berada di titik pusat. Inilah sebenarnya tanggung jawab para kosmolog untuk membuat pandangan ini masuk akal dan dapat diterima, baik suka ataupun tidak.

Mereka juga menemukan hubungan-hubungan lain antara kosmologi ilmiah dan perspektif pribadi. Dengan menggunakan konsep-konsep ilmiah dan sosial sebagai metafora, mereka menemukan resonansi antara, misalnya, inflasi kosmik dan pertumbuhan eksponensial populasi manusia, gravitasi dalam ruang angkasa dan meningkatnya pemusatan kekayaan di beberapa negara dibandingkan negara-negara lain, benturan peradaban dan apa yang disebut ‘skala chauvinisme’ (mengharapkan beberapa objek bertindak dengan cara-cara tertentu sehingga bisa mencapai ‘skala yang membingungkan/scale-confused’). Primack dan Abrams terkadang menggunakan kosmologi untuk mencerahkan konsep-konsep tradisional lama tertentu (pengantar awal untuk menjelaskan ‘air purba’ yang dapat ditemukan dalam ajaran Islam, Kristen, dan kisah penciptaan di Babilonia) atau juga dalam kepercayaan Kabbalah untuk menggambarkan gagasan ‘inflasi kosmik abadi.’

Sejalan dengan diskusi semacam ini, yang belum pernah terjadi sebelumnya sampai beberapa tahun terakhir, minat untuk membahas ‘filosofi kosmologi’ perlahan-Iahan mulai menguat, misalnya dalam konferensi pada Sepetember 2009 mengenai Filsafat Kosmologi di Oxford. Banyak pemikir, termasuk beberapa kosmolog terkemuka (misalnya, George FR Ellis) dan beberapa filsuf fisika (misalnya, Simon Saunders), mulai berpandangan bahwa karena kosmologi dewasa ini telah berkembang menjadi sebuah cabang ilmu pengetahuan yang solid, landasan-Iandasan dan metodologi yang digunakan haruslah sangat kuat dan setiap kelemahannya harus dinyatakan dengan jelas untuk menghindari munculnya kesimpulan tanpa alasan yang jelas. Beberapa isu utama yang diangkat dalam konferensi tersebut dan memerlukan eksplorasi filosofis dan interdisipliner yang serius antara lain: asumsi-asumsi kosmologi (misalnya, prinsip kosmologi), perangkat-perangkat (misalnya, waktu linier, real, dan imajiner), model-model (chaos dan/atau inflasi berkelanjutan), konsepkonsep (awal-mula vs penciptaan, probabilitas vs ekstrapolasi terhadap himpunan-himpunan tak terhingga, keniscayaan vs kemungkinan, dan lain-lain), dan serangkaian informasi lainnya.

Beberapa pemikir telah mendiskusikan isu-isu yang berkaitan dengan sifat kosmologi dan berusaha menafsirkan temuan-temuan dan makna-makna di baliknya. Michael Heller, misalnya, mengingatkan kita betapa pentingnya menemukan jawaban atas pertanyaan mengenai ‘sebab pertama’ yang telah menyulut perdebatan di antara para ilmuwan dan filsuf sejak Aristoteles. Heller juga menyatakan bahwa menganggap hukumhukum fisika sebagai sebab tertentu sama sekali bukanlah sebuah premis yang sepele. Demikian pula, kosmolog terkenal George Ellis mempertanyakan sifat dan ruang lingkup teori-teori kosmologi dalam dua pertanyaannya berikut: (1) Apakah ini semua hanya berkaitan dengan masalah fisik atau apakah juga bisa mempertanyakan mengapa hal-hal tersebut bisa terjadi seperti itu? (2) Apakah teori-teori kosmologi, sebagaimana teori-teori ilmiah lainnya, harus diukur dengan kriteria falsifiabilitas dan penafsiran terhadap sesuatu?

Ellis menyatakan bahwa teori-teori kosmologis seringkali tidak didukung oleh bukti-bukti observasional dan eksperimental langsung (atau bahkan tidak langsung). Tidak hanya itu, falsifiabilitas dan penafsiran tersebut seringkali berjalan ke arah yang berlawanan: ketika salah satu meningkat, yang lain malah menurun, lalu yang manakah yang harus kita utamakan? Demikian pula, pendekatan-pendekatan ilmiah lain yang umumnya digunakan, seperti eksperimen, induksi, dan generalisasi, seringkali tidak bisa diterapkan para kosmolog (hanya ada satu alam semesta untuk dipelajari). Para pemikir tersebut kemudian menyimpulkan bahwa hal pertama yang harus dilakukan adalah menyadari kendala-kendala dan sifat-sifat khusus kosmologi, kemudian mengakui bahwa ada aspek filosofis, bahkan mungkin metafisis dalam kosmologi, lalu menghubungkan hal-hal tersebut secara jujur dalam praktik kosmologis.

Filsuf Ernan McMullin menjawab pertanyaan epistemologis ini dengan sangat tepat. Dalam buku Is Philosophy Relevant to Cosmology?. Ia memulai gagasannya dengan mengemukakan sifat khusus kosmologi, utamanya mengenai ketergantungannya terhadap asumsi-asumsi yang tersembunyi dan munculnya ‘level-level kebebasan’ (ia mencontohkan perdebatan antara teori Big Bang dan teori Steady State sebagai kasus klasik). Ia juga menguatkan asumsinya seputar kebergantungan kosmologi pada konsep-konsep seperti waktu, awal mula, penciptaan, dan lain-lain. Dari situlah McMullin bertanya pada dirinya sendiri, mungkinkah filsafat dilibatkan dalam urusan ini. Ia sangat menyadari bahwa para filsuf mungkin keluar dari elemen-elemennya di sini, karena kosmologi adalah ilmu yang mengharuskan pendidikan/pelatihan lebih lanjut dan penguasaan alat-alat atau metode-metode tertentu (secara teoretis). Selain itu, ia juga mengutip Paul Davies yang mengatakan bahwa “sepuluh tahun mempelajari radio astronomi akan memberi informasi tentang penciptaan dan pengaturan alam semesta dibandingkan ribuan tahun mempelajari agama dan filsafat”. Yang ia maksud adalah filsafat dalam pengertian umum, bukan para filsuf. Ia bahkan mengakui bahwa “banyak tulisan filosofis yang sangat berbobot mengenai topik-topik ilmiah pada abad ke-20 ini yang telah dihasilkan para ilmuwan” dan bahwa “sains dasar yang paling inovatif adalah sains yang menggabungkan diri dengan filsafat”. Ia kemudian memberi sedikitnya satu contoh (Prinsip Mach) yang menegaskan bahwa “klarifikasi filosofis” benar-benar diperlukan bagi sebuah teori ilmiah (Relativitas Umum). Selanjutnya, ia membidik beberapa masalah serius dalam kosmologi (baik yang berada dalam kosmologi atau bersumber darinya) yang membutuhkan intervensi filsafat, semisal prinsip-prinsip yang diasumsikan, metode-metode yang digunakan, penerimaan paradigma-paradigma yang dominan (atau apa yang ia sebut cosmythology) , dan sebagainya.

Salah satu contoh penting yang dikemukakan McMullin adalah pertanyaan mengenai awal-mula dan penciptaan. Pertamatama ia menyatakan bahwa kata ‘penciptaan’ bersifat menjelaskan (explanatory); kata tersebut menunjuk kepada sebuah sebab (Pencipta) atas munculnya alam semesta. Jelas, pernyataan ini bukanlah penjelasan ilmiah, karena sains tidak dapat berpijak pada ‘satu prinsip kausalitas yang kuat’. McMullin kemudian mempertanyakan: bisakah filsafat berpijak pada prinsip yang demikian? Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa penciptaan ex nihilo bukanlah satu-satunya jalan untuk mengukuhkan sifat ilahiah asal-mula alam semesta; ia hanya merupakan pandangan yang paling intuitif, sehingga siapa pun bisa mengajukan alasan yang sama mengenai sifat ilahiah asal-mula alam semesta yang kekal. Dengan pernyataan ini, McMullin sebenarnya hendak mengatakan bahwa masalah awal-mula alam semesta dan penciptaan jauh lebih bersifat filosofis dibandingkan bersifat ilmiah. (Di sini, saya perlu menyebutkan bahwa pandangan McMullin tersebut sangat mirip dengan argumen yang dikemukakan Rusyd saat mempertahankan pendapatnya mengenai keabadian dunia untuk melawan pernyataan Al-Ghazālī  bahwa konsep tersebut diimpor dari filsafat Yunani yang berseberangan dengan keyakinan Islam. Ibn Rusyd menjelaskan bahwa pertanyaan tersebut sangatlah filosofis dan jika ada sebuah argumen kuat, yakni pendapat Aristoteles yang mendukung keabadian dan bisa menunjukkan konsistensinya dengan prinsip-prinsip Islam, maka argumen tersebut harus diterima karena merupakan hasil intisari pengetahuan tertinggi manusia.)

Isu inilah yang pada akhirnya menggiring kita kepada hubungan antara kosmologi dan teologi. Dengan mengesampingkan sejumlah besar literatur mengenai berbagai konsep dan teori yang saling berhubungan, seperti teori Big Bang dan perluasan alam semesta hingga pandangan-pandangan agama dan teologis, saya harus menegaskan bahwa hubungan semacam itu sangatlah riskan. Telah diketahui secara luas bahwa teori Big Bang memunculkan perdebatan sengit dan deklarasi yang berapiapi dalam hubungannya dengan Tuhan, Alkitab, Alquran, dan lain-lain. Misalnya, Paus Pius XII pada 1951 memproklamasikan dukungan Gereja terhadap teori Big Bang yang pertama kali diperkenalkan sebagai gagasan ‘atom primordial’ Lemaitre. Ia menemukan kemiripan dengan Fiat lux pada Kitab Kejadian dan menyatakan: “Karena itulah, penciptaan terjadi dalam suatu kurun waktu dan hanya ada seorang pencipta, dan karena itulah Tuhan ada!” Umat Muslim baru-baru ini juga menegaskan bahwa Alquran sepenuhnya mendukung teori Big Bang, sebab teori tersebut ‘mengonfirmasi’ apa yang disampaikan ayat-ayat suci. Lebih jauh lagi, ‘argumen kosmologis’ keberadaan Allah (argumen kalam) sebenarnya berasal dari para filsuf Muslim (Al-Kindī dan filsuf-filsuf lain belakangan). Di sisi lain, beberapa pemikir dan ilmuwan menyatakan keberatannya terhadap kesimpulan-kesimpulan semacam itu. David Bohm, misalnya, menuduh para pendukung pandangan di atas sebagai “ilmuwan yang secara efektif telah menjadi pengkhianat ilmu” karena “mengesampingkan fakta-fakta ilmiah hanya demi kesimpulan yang selaras dengan Gereja Katolik”. Begitu juga, Stephen Hawking, dalam bukunya yang terkenal (A Brief History of Time) dan karyanya bersama Hartle (Wave Function of The Universe) berusaha keras menunjukkan bahwa permulaan Big Bang tidak harus berupa sebuah batas atau tepi tertentu. Karena itu juga ia terkenal dengan pertanyaan: “Lalu di manakah tempat bagi Sang Pencipta?”

Primack dan Abrams berupaya memaparkan relevansi kosmologi modern dengan konsep Tuhan. Dengan berpandangan bahwa seseorang hanya bisa percaya pada Tuhan ketika orang tersebut telah memahami-‘Nya’, keduanya mempertimbangkan berbagai aspek dalam konsep tersebut dan menekankan pentingnya skala yang terkait dengan Tuhan. Mereka kemudian menyimpulkan bahwa Tuhan harus relevan dengan dan meliputi semua skala. Mereka bersikeras berpandangan bahwa Tuhan harus dilihat tidak hanya dari perspektif manusia dan dinyatakan sebagai sesuatu yang ‘Maha Mencintai’ dan ‘Maha Mengetahui segala hal yang hanya sedikit diketahui secara baik oleh manusia’, tetapi juga dari perspektif galaksi dan atom. Keduanya lalu sampai pada kesimpulan bahwa Tuhan adalah sesuatu yang “terputus dari alam semesta yang menakjubkan ini sehingga sains menggambarkan Tuhan sepenuhnya sebagai imajinasi” dan bahwa “Tuhan yang muncul dari pemahaman ilmiah tidaklah sepenuhnya dibentuk oleh (pikiran) kita. Tuhan yang demikian melampaui imajinasi manusia dan berbicara dalam berbagai cara tertentu terhadap alam semesta.”

Isu lain yang berkaitan dengan keterhubungan antara kosmologi dan teologi adalah ‘pertanyaan mengenai cosmogenesis’, yang baru-baru ini dibahas oleh filsuf Muslim terkenal Seyyed Hossein Nasr. Harus diingat di sini bahwa Nasr adalah seorang filsuf perennial yang memercayai adanya kesatuan segala sesuatu: pengetahuan, tradisi, kosmos (bersama dengan bagian fisik dan metafisisnya), dan Ilahi. Selama hampir 50 tahun hingga kini, ia telah menyerukan penyatuan tersebut, dan bidang keilmuan yang ia anggap cocok untuk mengaplikasikan prinsip-prinsipnya, tentu saja, adalah kosmologi.

Dalam artikelnya yang beredar tahun 2006 berjudul “The Questions of Cosmogenesis”, Nasr memulai ulasannya dengan menyatakan bahwa kosmos adalah bidang studi yang sah dalam Islam, bahkan ia menunjukkan ayat-ayat Alquran yang menekankan aspek penciptaan kosmos ilahiah. Ia juga menyatakan beberapa poin penting, seperti hubungan etimologis antara istilah Arab untuk menggambarkan pengetahuan (‘ilm) dengan kata lain yang digunakan untuk menunjukkan dunia/alam semesta (‘alam). Secara tegas ia melanjutkan bahwa cosmogenesis merupakan pertanyaan yang bersifat religius dan sekaligus metafisik, dan ‘jawabannya berasal dari kebenaran wahyu, bukan hanya dari ekspansi dan ekstrapolasi ilmu-ilmu alam dan tatanan fisik”. Menurut Nasr, “sikap Islam atas cosmogenesis sangat bertentangan langsung dengan perspektif ilmiah Barat modern”.

Ia bahkan lebih jauh melangkah dan membeberkan kesalahan dalam ‘ekstrapolasi’ kosmologi mengenai waktu yang ‘melintasi periode-periode besar masa lalu dan masa depan’ serta perubahan sifat-sifat kosmologi dan hasilnya, dengan menyatakan: “Banyak ilmuwan saat ini yang berbicara mengenai teori big bang, padahal kemarin mereka membincangkan hal-hal lain, dan besok mereka juga akan mendiskusikan teori-teori lain.”

Saya tidak terlalu mendukung analisis ini. Saya bahkan berpendapat bahwa sikap Islam yang sebenarnya (seperti yang disampaikan Sardar dalam anekdot yang saya hubungkan pada tulisan lain) adalah mengadopsi fakta-fakta keras tentang sains (yang telah mapan), bukan memilah-milih apa yang disukai dan apa yang tidak, apalagi menolak pengetahuan ilmiah dan menyatakan bahwa sebuah topik tertentu menjadi kajian eksklusif agama, metafisika, dan wahyu.

Pendekatan yang jauh lebih modern dan ilmiah dipraktikkan oleh Arthur Peacocke yang mencoba memadukan pengetahuan kosmologi modern dengan hasil pembacaan Alkitab bagian pembukaan, yakni Kitab Kejadian. Dalam pengantarnya untuk buku Pathway from Science Towards God yang berjudul cukup menarik “Genesis for the Third Millenium”, Peacocke menulis:

 

Ada Tuhan. Dan Tuhan memang benar-benar ada. Semua Itu Ada. Kasih Tuhan melimpah dan la berkata, “Biarlah Yang Lain terjadi. Biarkan Ia memiliki kemampuan untuk menjadi apa yang mungkin bisa terjadi, membuatnya seperti dirinya dan biarkan ia mengeksplorasi potensi-potensinya.”

Ada Yang Lain dalam Allah, yakni sebuah bidang energi, energi yang bergetar-tak bermateri, tak beruang, tak berwaktu, dan tak berbentuk. Seraya mematuhi hukum-hukum yang ditetapkan dengan suatu energi gelombang panas yang intens –Big Bang yang panas- Yang Lain tersebut meledak menjadi alam semesta pada masa 12 miliar tahun atau lebih dari zaman kita, sehingga terbentuklah ruang angkasa.

 

Peacocke lebih jauh menjabarkan: “Partikel dasar yang bergetar pun muncul, semesta terus memperluas dirinya dan bercampur menjadi pusaran-pusaran materi dan cahaya. Lima miliar tahun yang lalu, sebuah bintang dalam suatu galaksi Matahari kita -dikelilingi oleh materi yang merupakan planetplanet. Satu di antaranya adalah Bumi kita. Beberapa molekul membesar dan cukup kompleks untuk membuat salinan diri mereka sendiri dan menjadi bintik pertama kehidupan.”

Jelas, Peacocke memadukan semua elemen utama sains modern, dari kosmologi hingga evolusi biologi, ke dalam sejarah penciptaan yang ia rumuskan. Pendekatannya sangat mirip dengan -meski tidak semistis- Primack dan Abrams yang meringkas pandangannya dalam kalimat berikut: “Kosmologi ilmiah bukanlah kata terakhir: Ia adalah kata pertama. Akurasi ilmiah yang harus menjadi standar minimum kita.”

 

 

Tinggalkan Balasan

Close Menu