KOSMOLOGI ALAM SEMESTA

KOSMOLOGI ALAM SEMESTA

Berbagai model dan teori kosmologi mengenai sejarah alam semesta dan segala isinya selalu menyulut perdebatan-perdebatan filosofis yang besar dan seringkali tidak bisa lepas dari referensi keyakinan dan ajaran agama. Misalnya saja, pertanyaan apakah teori Big Bang mendukung gagasan adanya Sang Pencipta atau tidak, sudah sering dibahas oleh beberapa ilmuwan dan pemikir. Pada saat yang sama, masyarakat luas dari semua latar belakang agama dan budaya juga selalu tertarik pada diskusi-diskusi metafisis, utamanya diskusi tentang perkembangan-perkembangan ilmiah. Kemudian, pada beberapa waktu belakangan inilah para filsuf baru tampaknya terpanggil untuk membantu mengatasi beberapa masalah konseptual dalam studi-studi kosmologis.

Selama era keemasan peradaban Islam, Alquran menjadi sumber primordial dan referensi untuk berbagai informasi dan doktrin mengenai kosmik. Akan tetapi, para pemikir Muslim menyadari bahwa Alquran terlalu ambigu dan ambivalen untuk membangun teori kosmologi yang rigid. Apalagi, ketika itu filsafat Helenistik sangat memengaruhi para pemikir Muslim dan telah diserap sedini mungkin (abad ke-9). Akan tetapi, alih-alih mengulang teori-teori Yunani kuno, bangunan ‘kosmologi Islam’ justru merupakan lukisan yang kaya perspektif karena menggabungkan pandangan-pandangan budaya lain dengan prinsip-prinsip Islam.

Pada abad ke-20, muncul gerakan pembaruan ketika kosmologi mulai melekat luas dengan semua agama (dengan berbagai cara), khususnya dengan Dunia Islam. Dalam budaya yang menempatkan Alquran sebagai sumber referensi terpenting tersebut, hasil-hasil temuan ilmiah hampir selalu dibandingkan dengan teks-teks sakral, sehingga mulai muncul kosmologi yang cenderung masih amatir -karena secara bebas menggabungkan sains dan teks keagamaan-dalam lanskap kebudayaan.

Selanjutnya, pada awal milenium ketiga dan setelah revolusi ilmiah modern terjadi, masih bisakah digelar diskusi seputar kosmologi -yang terbukti berutang banyak (bahkan, sebagian orang akan mengatakan seluruhnya berutang) pada ilmu fisika dengan perspektif agama dan menyajikan sejenis ‘kosmologi Islami’? Bisakah ada sebuah kosmologi Islam, kosmologi Yahudi, atau kosmologi Hindu? Bukankah sains modern telah menutup pintu dari kekacauan semacam ini?

Sebagaimana yang dipertahankan Primack dan Abrams: “Kosmologi-kosmologi ‘budaya tradisional’ memang tidak benar secara faktual, tetapi kosmologi-kosmologi ini menawarkan petunjuk tentang bagaimana hidup dengan rasa kepemilikan terhadap dunia”. Demikian pula, pembahasan mengenai kosmologi Islam mungkin berguna dan bahkan diperlukan saat ini mengingat krisis identitas yang tampaknya akan dialami oleh Dunia Timur, khususnya setelah metodologi Barat mendominasi bidang penelitian dan globalisasi budaya. Para penentang kecenderungan ini kemudian mendukung rumusan dari berbagai tokoh tentang adanya budaya mereka sendiri dan bahkan sains mereka sendiri.

Meski demikian, ini bukanlah alasan saya membela sudut pandang kosmologis yang sepenuhnya konsisten dengan teori-teori modern dan prinsip-prinsip agama. Bagaimanapun, kosmologi semacam ini dapat berlaku untuk setiap dan semua tradisi agama meski di sini saya hanya membahas tradisi Islam karena merupakan agama saya sendiri dan saya merasa harus memusatkan perhatian terhadap cakupannya yang kaya, termasuk juga pada beberapa usaha penyesatan yang dilakukan atas nama agama saya tersebut.

Bagi saya, alasan utama mengapa para ilmuwan dan filsuf berkolaborasi pada proyek ambisius namun kontroversial semacam itu adalah karena sains modern tidak mampu menemukan makna di balik temuan-temuan yang dihasilkannya. Bisakah seseorang membahas singularitas Big Bang (frasa teknis ini digunakan untuk mengganti istilah ‘penciptaan’ yang penuh dengan muatan agama) tanpa membahas makna filosofis dan implikasi-implikasi teologisnya? Bisakah seseorang membahas sifat hukum-hukum fisika alam semesta tanpa menghubungkannya dengan keberadaan akal, kehidupan, dan kemanusiaan? Bisakah seseorang membahas keberadaan semesta-semesta lain yang terputus secara kausal dan tidak menggali maknanya? Jelas ada banyak isu yang tidak bisa dipecahkan oleh sains namun justru menjadi ‘bidang’ tersendiri yang bisa digeluti oleh manusia.

Beberapa pemikir dan ilmuwan semakin meyakini bahwa pendekatan ilmiah murni terhadap kosmos tidaklah memuaskan. Dalam kosmologi modern, alam semesta (yang didefinisikan sepenuhnya berisi materi) dianggap harus konsisten secara mandiri dan tidak memerlukan Pencipta. Sains modern juga tidak membuka ruang terhadap transendensi atau pemaknaan, kecuali ilmu teistik yang bisa dikembangkan lebih lanjut.

Di luar itu, banyak ilmuwan masih meyakini bahwa sains saja sudah dapat menjawab pertanyaan-pernyataan yang berkaitan dengan alam semesta, kehidupan, dan segala sesuatu yang lain. Akan tetapi, survei yang dilakukan pada 1997 menunjukkan bahwa sekitar 40 persen ilmuwan Amerika percaya pada Tuhan, dan 45 persen tidak, sementara 15 persen sisanya adalah kaum agnostik. Angka 40 persen secara mengejutkan tetap stabil sepanjang abad ke-20, sejak jajak pendapat yang serupa juga telah dilakukan pada 1916. Dewasa ini, beberapa ilmuwan secara terbuka berpandangan bahwa pendekatan garis keras terhadap alam dan kehidupan harus melunak agar bisa mencakup pendekatan non-formal, termasuk agama, metafisika, dan filsafat, yang dapat memperkaya pemahaman manusia mengenai berbagai isu.

Tantangannya kemudian adalah bagaimana membangun sebuah teologi yang dapat ‘mengawinkan’ konsepsi-konsepi agama Allah (sebagai tuhan personal) dengan sebuah ‘teologi alamiah’ (natural theology) yang memposisikan Tuhan dan asal-mula ketertiban kosmos sebagai dasar dibangunnya alam semesta. Yang pasti, kita tidak bisa menerima teologi-teologi yang secara jelas berbenturan atau bertentangan dengan metode-metode rasional dan hasil-hasil ilmiah. Kita tidak bisa mempertaruhkan akal kita sendiri.

Meskipun saya jauh dari mampu untuk sekadar merumuskan sebuah kosmologi teistik yang utuh dan konsisten, saya percaya bahwa beberapa sintesis yang kurang lebih setara dengan pandangan beberapa filsuf Muslim Abad Pertengahan (khususnya Ibn Rusyd) bisa melakukan hal semacam itu.

Untuk membuat sintesis demikian -atau setidak-tidaknya perpaduan- antara prinsip-prinsip teistik dan berbagai metodel temuan sains modern, saya kira ada sebuah program ganda yang harus dilakukan: (1) merumuskan beberapa teologi baru yang konsisten dengan sains modern meskipun sains modern tidak senada dengan keyakinan-keyakinan dan teks-teks suci secara literal; (2) membangun sebuah kosmologi yang tak terlalu materialistis untuk memungkinkan ditemukannya beberapa makna dan spirit dalam alam semesta dan keberadaannya.

Menurut saya, kebesaran dan kekuatan penciptaan terletak pada keanggunan dan kesempurnaannya yang mutlak. Tuhan adalah abstraksi sempurna dari semua makhluk dan Realitas. Ia adalah prinsip yang mendasari segala sesuatu dan menjadi tempat segalanya bersandar. Prinsip inilah yang ‘menopang’ alam semesta layaknya ruh yang melingkupi semua wujud, sesuatu yang dibutuhkan namun tidak terdeteksi keberadaannya. Alternatif dari pandangan ini adalah konsep neo-Sufi yang menganggap Allah dan alam semesta adalah satu (atau setidak-tidaknya terkait) dan bahwa penciptaan berlangsung secara terus-menerus karena Allah tidak pernah berhenti tajalli (mengungkapkan diri) kepada-Nya tanpa terlihat secara langsung.

Sebagai kesimpulan, saya akan kembali mengulangi gagasan yang kini mulai semakin jelas: ‘Kosmologi Islami’ tidak bisa membatasi diri pada penafsiran ilmiah -semu terhadap teks-teks suci. Kosmologi tersebut harus sedikit menyediakan ruang bagi kreativitas dan kebebasan berpikir dalam kebudayaan Islam. Saya yakin, kebudayaan Islam mampu -sebagaima pernah terjadi ribuan tahun yang lalu- dan semestinya masih mampu menyerap pengetahuan manusia, sains, dan kemajuan sehingga ia dapat menghasilkan sebuah sintesis menarik yang bernilai.

Sebuah kosmologi modern Islam/teistik yang sepenuhnya kompatibel dengan sains-menurut pendapat saya -sangat mungkin dibangun selama para aktor intelektualnya tetap terbuka, kreatif, dan tidak kaku, baik dalam pengetahuan religius maupun saintifiknya

 

Tinggalkan Balasan

Close Menu