KONTROVERSI SEPUTAR EVOLUSI

KONTROVERSI SEPUTAR EVOLUSI

Serial Pembelajaran Sains: John R. Staver

Kontroversi seputar evolusi merupakan debat tentang asal-usul, yaitu asal-usul manusia dan kehidupan, namun dari mana debat itu sendiri berasal? Bukan dari dokumen seperti The Fundamentals yang ditulis umat Kristiani evangelis pada 1900-an awal, bukan publikasi The Origins of Species Charles Darwin pada 1859, juga bukan Amendemen Pertama Konstitusi Amerika Serikat, walaupun dokumen-dokumen tersebut memang memiliki arti penting bagi kontroversi tersebut. Kontroversi itu bermula dari konsep-konsep dasar iman dan nalar serta interaksinya.

IMAN, NALAR, DAN INTERAKSINYA

Iman (faith) didefinisian pada Ibrani 11:1 sebagai berikut, “Now faith is being sure of what we hope for and certain of what we do not see (iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat)” (Holy Bible, 1984). Nalar (reason) adalah kapasitas yang digunakan manusia untuk beralih dari premis ke kesimpulan dengan cara berpikir. Bayangkanlah sebuah kontinum — atau barangkali papan jungkat-jungkit gaya lama — otoritas atau dominansi, dengan iman dari nalar pada ujung-ujungnya yang berlawanan. Interaksi iman dan nalar telah berlangsung sepanjang sejarah umat manusia. Kontroversi pertama yang meletup hampir seabad lampau di Dayton, Tennessee, berawal dari dokumen-dokumen yang ditulis lebih dari dua milenium yang lampau, Perjanjian Lama serta tulisan-tulisan Plato dan Aristoteles.

Mengenai iman, Tuhan dalam Kejadian 1:24 memerintahkan bumi agar mengeluarkan makhluk-makhluk hidup sesuai jenisnya lalu menyediakan contoh-contoh jenis seperti hewan ternak, binatang liar, dan makhluk-makhluk melata. Barangkali karena disusun dan ditulis selama pengasingan Yehuda di Babilon (587-538), tidak hanya pengenalan jenis dalam kisah penciptaan pertama itu terjadi sebelum masa bangsa Yunani, tetapi Kitab Perjanjian Lama juga baru diterjemahkan dari bahasa Ibrani dan Aramaic ke dalam bahasa Yunani sekitar 250 tahun sebelum kelahiran Yesus.

Mengenai nalar, Plato (428-427 sampai 348-347) menjelaskan Forma tetap, Forma murni pada dunia akhir di luar pemahaman manusia, dan Plato menggunakan alegori bayangan pada dinding gua untuk menjelaskan bagaimana manusia menghadapi dunia ideal. Cahaya yang menghasilkan bayang-bayang menggambarkan dunia akhir atau Forma Kebaikan, tetapi bayang-bayang itu sendiri menggambarkan pengetahuan tidak langsung atau pengetahuan melalui perantara (second hand knowledge) yang dimiliki kebanyakan manusia. Sedikit saja manusia yang mampu keluar, melihat hal-hal di dalam gua atau dunia sebagaimana adanya, lalu dari gua ke terangnya sinar matahari secara langsung untuk menyaksikan sumber akhir segala nalar dan kebenarannya, yaitu Forma Kebaikan. Aristoteles (384-322) juga meyakini gagasan Forma tetap, Forma murni Plato dan menerapkannya untuk memahami tujuan alam dengan menyatakan bahwa untuk memahami alam harus memahami dahulu alasan keberadaan segala sesuatu di samping forma-formanya.

IMAN DAN-NALAR DALAM PEMIKIRAN ABAD PERTENGAHAN DAN MODERN

Walaupun nalar menguasai di dalam filsafat Yunani, otoritas dominan filsafat Eropa abad pertengahan sebelum Pencerahan adalah perspektif yang menjadi pangkal nalar para filsuf. Sebagai pribadi, mereka adalah klerikus yang memiliki kedudukan di universitas atau komunitas biarawan, otoritas dan konteks tempat mereka bernalar adalah doktrin Kristiani. Para pemikir Kristiani awal menautkan Forma tetap, Forma murni Plato dengan penciptaan Tuhan dalam Kejadian, termasuk rencana Tuhan dan forma-forma ideal Tuhan, yang semuanya terletak di luar pemahaman manusia. Mereka menghubungkan penggambaran Aristoteles tentang tujuan alam dalam hubunganya dengan Formanya dengan, tujuanTuhan, yaitu menciptakan manusia dengan maksud untuk memuja-Nya. Gagasan Forma-Forma konstan milik Plato dan Aristoteles ditautkan dengan penggambaran jenis-jenis organisme dalam Kejadian sebagai segala jenis makhluk hidup dan benda mati ciptaan Tuhan, meskipun Aristoteles memandang kelas-kelas biologi bukan sebagai Forma yang tidak berubah, melainkan luwes dan mungkin mengandung perantara.

Kebalikannya, filsafat Eropa Pencerahan awal didominasi oleh penolakan doktrin Kristiani sebagai otoritas dan perspektif tempat bernalar. Kebanyakan masih percaya kepada Tuhan, kecuali David Hume, yang merupakan seorang ateis. Konsep Tuhan masih menjadi tempat mendasar bagi filsuf-filsuf utama dari masa itu, seperti Rene Descartes, Benedict de Spinoza, dan George Berkeley yang merupakan seorang uskup. Descartes, John Locke, Immanuel Kant, dan lain-lain melakukan studi tentang alam, yang dinamakan filsafat alam, di dalam perspektif filsafat mereka. Penemuan mesin cetak juga memungkinkan para filsuf modem awal menyampaikan kabar secara tertulis kepada sidang pembaca yang lebih luas. Terakhir, hampir semua filsuf modern awal adalah orang awam, kecuali Berkeley, dan hampir tidak ada yang memiliki kedudukan di universitas, selain Kant.

 

PERMULAAN SAINS MODERN

Dengan tegaknya dominansi nalar atas iman sepanjang Pencerahan, kontinum nalar sendiri ikut berkembang seiring dengan mulai diterimanya rasionalisme pikiran dalam filsafat dan sebuah konsep baru, empirisisme-yang mendasarkan pengetahuan pada pengalaman sensoris-tatkala sains modern lahir pada akhir 1500-an dan awal 1600-an.

 

TEORI DARWIN: MENYISIHKAN IMAN DALAM BIOLOGI

The Origin of Species

Dalam abad kesembilan belas, tokoh utama dalam proses ini ialah Charles Darwin. Darwin, anak seorang dokter, mulai belajar kedokteran di Universitas Edinburgh. Lalu, ia mengundurkan diri dan mendaftar di Cambridge untuk menuntut ilmu keagamaan, tetapi benaknya mulai tertarik kepada studi alam. Setelah menamatkan pelajarannya di Cambridge pada 1831, tidak lama setelah Natal pada tahun itu Darwin memulai pelayaran survei ke Amerika Selatan yang disponsori oleh Pemerintah Britania. Darwin bekerja sebagai naturalis kapal. Tatkala HMS Beagle menyelesaikan pelayarannya pada Oktober 1836, Darwin turun dari kapal dengan membawa tidak hanya data ilmiah yang berlimpah, tetapi juga pertanyaan-pertanyaan ilmiah membingungkan, di antaranya, pertanyaan-pertanyaan tentang asal-usul tumbuh-tumbuhan dan hewan di Kepulauan Galapagos. Selama 23 tahun berikutnya, Darwin membuat rumus, menguji, dan mendiskusikan hasil kerjanya. Hipotesis Darwin tentang seleksi alam berasal dari pemahamannya bahwa, walaupun memiliki potensi reproduksi yang besar, jumlah tumbuh-tumbuhan dan hewan di populasi selama periode-periode waktu hanya sedikit saja berubah-itupun kalau ada perubahan. Darwin bernalar, jika ada pun, kecilnya perubahan kendati dengan potensi reproduksi yang begitu besar itu karena hanya sebagian kecil dari anggota-anggota populasi yang mampu bertahan hidup, bereproduksi, dan menghasilkan keturunan. Selanjutnya, Darwin bernalar bahwa para penyitas (survivors) adalah individu-individu yang lebih tangguh dan kuat pada suatu populasi. Artinya, sebuah lingkungan memilih-menyeleksi-secara alami para penyitas berdasarkan ketangguhan dan kekuatan untuk berfungsi di lingkungan itu. Karena tidak bisa menguji hipotesis seleksi alamnya secara langsung, Darwin mengujinya secara tidak langsung dengan lebih dahulu mengasumsikan bahwa seleksi alam memang benar-benar ada, baru memprediksikan kejadian pola-pola, lalu memeriksa apakah pola-pola tersebut benar-benar terjadi. Melalui komunikasi yang luas bersama pakar-pakar lain, membaca, mengamati, dan melakukan percobaan, Darwin meluaskan visinya terhadap masalah tersebut dan mengusulkan sebuah teori evolusi dengan seleksi alam sebagai penjelasannya. Bukti, penalaran, hasil-hasil, dan penjelasan teoretisnya diterbitkan secara resmi dalam The Origin of Species pada 1859.

Karya Darwin menyumbang tiga unsur penting bagi kemajuan pengetahuan bioIogi. Pertama, teori evolusi tidak hanya menjelaskan asal-usul spesies, tetapi juga membawakan koherensi bagi fakta-fakta di dalam ilmu-ilmu biologi yang sudah dikenal pada zaman Darwin. Kedua, teoti Darwin menimbulkan/pertanyaan-pertanyaan baru bagi penelitian di masa datang dan menjadi kerangka pedoman bagi studi-studi ilmiah yang kini telah meningkatkan pemahaman kita tentang asal-usul vatiasi genetik, hukum hereditas, dan tingkat perubahan evolusi. Ketiga, teori Darwin pada dasamya mengubah filsafat ilmu pengetahuan yang berhubungan dengan asal-usul yang berlaku di zamannya. Sampai masa Darwin, para naturalis ternama, seperti Louis Agassiz, menjelaskan pola-pola yang teramati di antara organisme-organisme dan asal-usul spesies sebagai bagian dari perancangan dan tindakan Tuhan, dengan menegaskan bahwa Tuhan-lah yang telah menciptakan segala spesies yang sesuai dengan lingkungan-lingkungan tertentu di waktu-waktu tertentu. Darwin menjelaskan konsep-konsep itu melalui bukti empiris dan penalaran dari bukti tersebut, tanpa sama sekali menyebut-nyebut rencana atau tindakan Tuhan.

Dalam separuh kedua abad kesembilan belas dan memasuki abad keduapuluh, para biolog secara empiris menguji penjelasan teori Darwin dan kebermanfaatan prediksinya, baru mulai menyetujui teori evolusi dengan seleksi alam serta perspektifnya dalam menjelaskan fenomena biologi tanpa mengacu kepada perancangan atau tindakan Tuhan. Meskipun demikian, karya tersebut tidak lepas dari kupasan ilmiah. Skeptisisme ilmiah tentang pentingnya seleksi alam mendorong para ilmuwan melakukan upaya-upaya untuk mengecilkan pentingnya peranan seleksi alam. Persoalan itu diakhiri dengan lahimya sintesis evolusi modern pada 1930-an, yang sebagai gantinya mendokumentasikan pentingnya-dan menyebutkan kembali peranan penting-seleksi alam dalam menirnbulkan variasi genetik.

FUNDAMENTALISME KRISTIANI DI AMERIKA: REAKSI TERHADAP EVOLUSI

Sementara para biolog memercayai evolusi, sebagian komunitas agama memandang evolusi sebagai satu Iagi langkah dalam pencarian modernisme untuk melemahkan agama. Asal-usul fundamentalisme Kristiani di Amerika Serikat pada 1800-an akhir dan pertumbuhannya sepanjang 1900-an awal mencerminkan sentimen antievolusi yang semakin berkembang. Fundamentalisme Kristiani Amerika dapat ditelusuri kembali asal-usulnya dari jaringan luas lintas-denominasi yang terbentuk dan tumbuh di sekitar upaya terpadu revivalis Dwight L. Moody, pendiri MoodX Bible Institute di Chicago, dan barangkali merupakan evangelis terbesar di era tersebut. Dengan bekerja terutarna di dalam tradisi Kalvinis, Moody dan tokoh-tokoh pertama lain mengusung evangelisme sebagai prioritas utama gereja, sebuah perspektif yang dilahirkan kembali, kembalinya Kristus yang sebentar lagi terjadi, serta Alkitab yang tidak mungkin salah. Meskipun gerakan itu tumbuh di akhir abad kesembilan belas dan awal abad keduapuluh, para tokohnya. mengkhawatirkan psyche sekular yang semakin berkembang, doktrin gereja liberal di Amerika, dan melemahnya komitmen kepada evangelisme di dalam gerakan mereka sendiri. Tanggapan mereka adalah seri The Fundamentals, terdiri dari dua belas buklet yang ditulis dan diterbitkan di antara tahun 1910 dan 1915. Charles Feinberg kemudian menyuntingnya dan menjudulinya kembali sebagai The Fundamentals for Today, yang terbit dalam kumpulan dua volume pada 1958. The Fundamentals mengecam tren-tren tadi dan menegaskan kembali keyakinan mereka sendiri bahwa: (1) Naskah Alkitab tidak pernah salah, (2) Yesus adalah Putra Tuhan, (3) Yesus wafat di atas salib menggantikan kita dan untuk menebus dosa-dosa kita, (4) Yesus dibangkitkan kembali jasad dan rohnya, dan (5) Yesus pasti akan kembali. Hampir seperlima dari esai yang terdapat dalam The Fundamentals mengecam evolusi sebagai sebuah konsep, dan seri buklet tersebut dianggap sebagai asal-usul istilah fundamentalis. Penggunaan istilah fundamentalis untuk pertama kalinya diketahui pada 1920 dalam The Moody Handbook of Theology oleh Curtis Laws, yang merupakan penyunting salah satu newsletter Baptis.

Ketidaksenangan dan penolakan terhadap evolusi sebagai salah satu segmen pemikiran modernis bergeser menjadi upaya terpadu antievolusi yang giat oleh Kaum Fundamentalis Kristiani pada awal abad keduapuluh, sebagiari besar karena pertumbuhan SMA negeri di seantero negeri dan persetujuan atas tampilnya evolusi dalam buku-buku teks biologi. Banyak siswa Amerika mulai belajar evolusi untuk pertama kalinya. Banyak dari mereka merupakan putra-putri dari orang tua yang berkeyakinan fundamentalis. Salah satu dorongan upaya terpadu antievolusi itu berupa diskusi luas bersama para legislator negara bagian di lebih dari duapuluh negara bagian mengenai larangan evolusi di sekolah-sekolah. Tennessee, Mississippi, dan Arkansas melarang evolusi, sedangkan Oklahoma melarang buku-buku teks yang memuat teori tentang evolusi.

KONTROVERSI SEPUTAR EVOLUSI MENJADI GUGATAN HUKUM

Sidang pengadilan John Scopes, seorang guru biologi di Dayton, Tennessee, pada 1925, menjadikan upaya terpadu antievolusi mendapat perhatian dari khalayak nasional dan internasional. Secara bersamaan, sidang pengadilan Scopes mengalihkan konfrontasi-konfrontasi publik di antara para pendukung dan pengecam evolusi, ke pengadilan negeri, tempat yang masih ada sampai sekarang. Hasilnya, banyak sejarah dan pemahaman akan kontroversi tersebut dari tahun 1925 hingga kini, bisa dikumpulkan dari keputusan-keputusan pengadilan yang pernah memeriksa argumen-argumen tersebut dan menjatuhkan putusan atasnya.

Dimulai dengan Scopes, semua kasus diajukan dengan berdasarkan Amendemen Pertarna. Amendemen Pertarna menyatakan, “Congress shall make no law respecting an establishment of religion, or prohibiting the free exercise thereof; or abridging the freedom of speech, or of the press; or the right of the people peaceably to assemble, and to petition the government for a redress of grievances.” Klausula pertama, kedua, dan ketiga tersebut masing-masing dikenal sebagai the Establishment, Free Exercise, Free Speech Clauses, dan semua keputusan berdasarkan interpretasi pengadilan atas sebagian atau semua klausula itu. Makna gabungan klausula-klausula tersebut ialah konsep netralitas beragama. Urut-urutan kasus pengadilan sepanjang abad keduapuluh jelas menunjukkan adanya perbedaan makna terkait netralitas di dalam benak orang yang berbeda-beda.

Salah satu unsur yang membangun pemahaman tematik yang kuat berpusat pada perubahan pikiran dan aksi antievolusi seiring waktu sebagai respons terhadap keputusan-keputusan pengadilan. Ada tiga strategi yang teridentifikasi: (1) melarang pengajaran evolusi; (2) menganjurkan agar diberikan waktu yang sama untuk sains penciptaan (creation science) di samping evolusi dalam sains; dan (3) menghindari segala perujukan kepada agama, dengan menegaskan bahwa kontroversi ilmiah seputar evolusi memang ada, dan meminta semua bukti yang mendukung dan membantah evolusi sama-sama diajarkan.

Pengadilan Scopes menggambarkan strategi pertama dan konfrontasi hukum pertama di antara perwakilan fundamentalisme Kristiani dan perwakilan evolusi. Hasil pengadilan membuahkan kemenangan bagi Kaum Fundamentalis, walaupun faktanya Mahkamah Agung Tennessee membatalkan vonis bersalah dan denda $100 atas Scopes, sebab hakimlah yang menjatuhkan denda itu, bukan juri. Para sarjana hukum menganggap kasus Scopes tidak penting sebab kurang memiliki putusan definitif dan secara konstitusional tidak berdasar pada hukum Tennessee yang melarang pengajaran evolusi, tetapi efeknya penting terhadap perlakuan kepada evolusi dalam buku-buku teks biologi, sebab selama lebih dari duapuluh lima tahun kemudian evolusi menjadi dikecilkan artinya. Dalam tahun 1950-an, persaingan dan hubungan yang semakin bertentangan di antara Amerika Serikat dan Uni Soviet dikenal sebagai Perang Dingin. Ketakutan Amerika akan sebuah dunia yang didominasi Soviet menghasilkan penekanan baru, yaitu mempersiapkan siswa-siswa AS untuk kuliah dan berkarier di bidang sains, matematika, dan teknik. Hasilnya, dengan dipimpin oleh organisasi pengembangan kurikulum yang waktu itu masih baru, Biological Sciences-Curriculum Study, evolusi kembali diutamakan dalam biologi SMU.

Upaya-upaya pelarangan evolusi terus berlanjut memasuki tahun 1960-an. Dengan mengadaptasi hukum Tennessee yang melarang guru-guru di sekolah dan universitas negeri mengajarkan teori evolusi Darwin, sebuah undang-undang di Arkansas menjadi ujian signifikan berikutnya di pengadilan. Dalam Epperson v. Arkansas pada 1968, Susan Epperson, seorang guru biologi, menuntut Negara Bagian Arkansas agar membatalkan undang-undang tersebut. Setelah melalui proses naik banding, Mahkamah Agung membatalkan undang-undang Arkansas tersebut karena tidak bertujuan sekular sehingga tidak memenuhi the Establishment Clause. Mahkamah juga memutuskan bahwa undang-undang tersebut telah mencampuri kebebasan akademis guru untuk mendiskusikan evolusi dalam jam pelajaran biologi sehingga tidak memenuhi the Free Exercise Clause dan the Free Speech Clause.

Tahun 1971 Mahkamah Agung AS membuat preseden hukum dengan mengembangkan dan menggunakan argumen tiga-bagian untuk menginterpretasikan the Establishment Clause dalam Lemon v. Kurtzman. Preseden hukum tersebut telah diterapkan oleh pengadilan-pengadilan sesudahnya dalam menerjemahkan keputusan-keputusan menyangkut kontroversi itu. Ketiga bagian yang disebut sebagai uji Lemon itu berhubungan dengan salah satu hukum atau praktik sebagai berikut: (1) apakah hukum atau praktik memiliki maksud atau tujuan sekular, bukan religius; (2) apakah efek hukum atau praktik tersebut netral karena tidak mendukung atau tidak melarang agama; dan (3) apakah hukum atau praktik tersebut menimbulkan kekacauan yang tidak perlu di antara pemerintahan dan agama?

Sebagai reaksi terhadap opini Mahkamah Agung dalam Epperson v. Arkansas, terutama terhadap diskusi kebebasan berbicara (free speech), perwakilan antievolusi beralih ke strategi kedua, pemberian waktu yang sama (equal time). Mahkamah Agung AS mematikan konsep pemberian waktu yang sama saai itu. pada 1987 dalam Edwards v. Aguillard. Dengan menerapkan uji Lemon, Mahkamah Agung menetapkan bahwa sebuah undang-undang di Louisiana mengenai pemberian waktu yang sama tidak mengandung tujuan sekular.

Setelah keputusan Mahkamah dalam Edwards v. Aguillard, kekuatan antievolusi bergeser ke strategi ketiga, yang mereka terapkan hingga hari ini. Sesuai strategi tersebut, mereka menghindari segala bentuk perujukan kepada agama, menegaskan bahwa kontroversi ilmiah seputar evolusi memang ada, meminta semua bukti yang mendukung dan membantah evolusi sama-sama diajarkan, serta meminta agar teori-teoti ilmiah altematif seperti perancangan cerdas (intelligent design) diajarkan bersama-sama evolusi. Tema saat itu memang masih mempertimbangkan konsep pemberian waktu yang sama tetapi menyingkirkan semua perincian sains penciptaan (creation science)sebelumnya.

Perancangan cerdas (intelligent design) menjadi konsep umum dan aman yang mencakup aneka ragam luas pandangan antievolusi yang ada. Sejarah perancangan cerdas setidaknya bermula pada awal 1800-an dan William Paley, teolog alam asal Britania. Paley mengajukan argumen dengan analogi yang mendukung keberadaan Tuhan dari pengamatan perancangan tersebut. Singkatnya, argumen itu sebagai berikut: orang yang berjalan-jalan di tengah padang rumput menemukan arloji di tanah. Arloji itu tampak menonjol dari lingkungan sekitarnya karena kerumitannya. Arloji itu terlalu rumit untuk terjadi karena proses-proses alamiah; oleh karena itu, arloji itu pasti ada pembuatnya. Secara analogi, dunia ini terlalu rumit untuk terjadi melalui proses-proses alam, jadi, sudah pasti ada yang membuatnya, yaitu Tuhan. Dalam tampilannya saat itu, perancangan cerdas selalu diusulkan sebagai teori alternatif ilmiah bagi evolusi. Pendeknya, sumber konsep perancangan cerdas sangat dekat dengan agama dan sejauh itu belum pernah diperiksa secara empiris dan diajukan kepada komunitas ilmiah oleh para pendukungnya dengan cara-cara yang memungkinkan komunitas ilmiah mengevaluasi kemampuannya untuk menjelaskan dan memprediksikan fenomena alam.

 

MENUJU MASA DATANG

Undang-undang pendidikan federal yang baru, No Child Left Behind (NCLB), serta negara bagian Ohio dan Penssylvania mengalami upaya-upaya modifikasi kurikulum sains sebagai akibat strategi saat itu. Setelah NCLB versi House dan versi Senat AS dipertemukan pada sebuah komite konferensi, laporan komite konferensi tersebut mencakup bahasa yang menyatakan bahwa pengajaran konsep-konsep kontroversial seperti evolusi biologis harus memasukkan seluruh kisaran pandangan ilmiah yang ada serta alasan-alasan di balik suatu kontroversi. Laporan komite konferensi tersebut memang bukan bagian dari undang-undang. NCLB itu sendiri sehingga tidak mengandung kekuatan hukum apa pun, tetapi para pendukung antievolusi di Ohio, Pennsylvania, dan Kansas secara tidak langsung telah menyatakan bahwa laporan itu adalah hukum.

Belakangan, perhatian masyarakat hukum dan umum terpusat ke Dover, Pennsylvania, sebab sebuah gugatan hukum yang diajukan terhadap Distrik Sekolah Area Dover menjadi ujian pertama kali pengadilan bagi konstitusionalitas perancangan cerdas. Dewan Direktur Distrik Sekolah Area Dover pada 14 Oktober 2004 menyetujui resolusi yang menyatakan sebagai berikut, Students will be made aware of gaps/problems in Darwin’s theory and of other theories of evolution, including, but not limited to, intelligent design. Note: Origins of Life is not taught” (Kitzmiller et. al. V. Dover Area School District et. al., 2005). Dewan sekolah Dover kemudian memasukkan beberapa salinan Of Pandas and People, sebuah buku teks perancangan cerdas, ke perpustakaan SMU dan memberlakukan kebijakan empat paragraf untuk memberi tahu murid-murid pelajaran sains kelas sembilan tentang perancangan cerdas dan ketersediaan Of Pandas and People di perpustakaan. Guru-guru sains di distrik tersebut menolak membacakan kebijakan tersebut kepada siswa; akibatnya, pengelola sekolah yang membacakannya bagi semua murid kelas sembilan. Beberapa orang tua menyatakan keberatan atas tindakan-tindakan dewan sekolah, dan American Civil Liberties Union mengajukan gugatan terhadap distrik sekolah atas nama orang tua siswa. Sebuah bench trial dilaksanakan di Pengadilan Distrik AS pada musim gugur 2005 dan Hakim John E. Jones III mengeluarkan keputusan sepanjang 139 halaman pada 20 Desember 2005 (Kitzmiller et. al. V. Dover Area School District et. al.). Secara ringkas, Hakim Jones memutuskan sebagai berikut: (1) Kebijakan distrik terkait perancangan cerdas tidak konstitusional menurut the Establishment Clause Amendemen Pertama Konstitusi AS dan Pasal 1 Section 3 Konstitusi Pennsylvania; (2) perancangan cerdas bukan sains; dan (3) perancangan cerdas merupakan endorsement dukungan kuat kepada agama.

Kekuatan hukum putusan itu hanya berlaku untuk Distrik Federal Tengah Pennsylvania. Meski demikian, penggunaan ujian-ujian hukum khusus oleh Hakim Jones pada keputusan beliau membawa implikasi bagi semua negara bagian dan distrik sekolah lokal. Penggunaan uji Lemon dan uji the Endorsement oleh Hakim Jones menyangsikan tujuan dewan sekolah yang membedakan evolusi untuk ditelaah dan dikupas secara khusus tetapi tidak menerapkan hal yang sama untuk semua teori ilmiah lainnya. Uji-uji hukum tersebut juga diterapkan untuk memeriksa tujuan dewan sekolah yang mendefinisikan ulang sains agar memberi kesempatan masuknya penjelasan-penjelasan adialami untuk menjelaskan fenomena alam. Menurut uji Lemon dan uji the Endorsement, tujuan itu tidak boleh bersifat religius, tetapi Hakim Jones III memutuskan motivasi dan karakter tujuan dewan sekolah di Dover itu sangat religius. Implikasi-implikasi itulah yang harus disadari dewan sekolah di seluruh penjuru negeri.

Dewan-dewan pendidikan pun memahami, keputusan-keputusan sebelumnya merupakan preseden yang harus dipertimbangkan ketika pengadilan memutuskan perkara di dalam sidang pengadilan. Sesuai prediksi para sarjana hukum, keputusan-keputusan dalam Epperson v. Arkansas, McLean v. Arkansas, dan Edwards v. Aguillard sebelumnya, sangat berpengaruh dalam Kitzmiller v. Dover. Dalam memutuskan kasus-kasus the Establishment Clause di masa datang, pengadilan-pengadilan federal harus mempertimbangkan keputusan-keputusan sebelumnya yang menunjuk bahwa karakter konsep-konsep tentang Tuhan yang pada dasamya religius itu sendiri tidak akan hilang ketika konsep-konsep tentang Tuhan disajikan sebagai filsafat atau ilmu pengetahuan. Keyakinan intinya, bahwa ada satu pencipta adialami yang bertanggung jawab atas penciptaan manusia, merupakan keyakinan religius. Memang, banyak diskusi masyarakat umum yang menanggapi upaya-upaya memasukkan perancangan cerdas ke sains sekolah berfokus kepada apakah perancangan cerdas merupakan sains atau bukan, tetapi, pengadilan pasti akan bertanya, perancangan cerdas itu agama atau bukan.

Leave a Reply

Close Menu