KISAH NABI DALAM ALQURAN

KISAH NABI DALAM ALQURAN

Serial Quran dan Sains

Banyak ulama menyebutkan bahwa salah satu bentuk kemukjizatan Alquran adalah informasi-informasi gaib yang terkandung di dalamnya. Gaib yang dimaksud adalah peristiwa yang tidak disaksikan kejadiannya oleh Nabi dan para pengikutnya. Peristiwa gaib itu ada yang terjadi di masa silam (gaib al-māḍī), ada yang terjadi di masa hidup beliau yang diinformasikan melalui wahyu, seperti rencana makar orang Yahudi dan munafik (gaib al-ḥāḍir), dan ada pula yang terkait dengan kejadian atau peristiwa yang akan terjadi kemudian (gaib al-mustaqbal).

Peristiwa di masa silam disebut gaib dan menjadi bukti akan kebenaran Nabi Muhammad sebagai seorang Nabi, dan bahwa Alquran yang disampaikannya adalah wahyu dari Allah. Di banyak tempat dalam Alquran, setelah menyebut kisah para nabi dan pengikut mereka di masa Ialu, Allah menyatakannya sebagai informasi gaib yang tidak pernah diketahui sebelumnya oleh Nabi dan kaumnya. Misalnya, setelah menceritakan kisah Nabi Nuh dan banjir besar yang terjadi, Allah menyatakan,

قِيلَ يَا نُوحُ اهْبِطْ بِسَلَامٍ مِّنَّا وَبَرَكَاتٍ عَلَيْكَ وَعَلَىٰ أُمَمٍ مِّمَّن مَّعَكَ ۚ وَأُمَمٌ سَنُمَتِّعُهُمْ ثُمَّ يَمَسُّهُم مِّنَّا عَذَابٌ أَلِيمٌ ۝ تِلْكَ مِنْ أَنبَاءِ الْغَيْبِ نُوحِيهَا إِلَيْكَ ۖ مَا كُنتَ تَعْلَمُهَا أَنتَ وَلَا قَوْمُكَ مِن قَبْلِ هَٰذَا ۖ فَاصْبِرْ ۖ إِنَّ الْعَاقِبَةَ لِلْمُتَّقِينَ ۝

Difirmankan, Wahai Nuh! Turunlah dengan selamat sejahtera dan penuh keberkahan dari Kami, bagimu dan bagi semua umat (mukmin) yang bersamamu. Dan ada umat-umat yang Kami beri kesenangan (dałam kehidupan dunia), kemudian mereka akan ditimpa azab Kami yang pedih.” Itulah sebagian dari berita-berita gaib yang Kami wahyukan kepadamu (Muhammad). Tidak pernah engkau mengetahuinya dan tidak (pula) kaummu sebelum ini. Maka bersabarlah, sungguh kesudahan (yang baik) adalah bagi orang yang bertakwa. (Alquran, Surah Hūd/11: 4849)

Demikian pula setelah Allah mengisahkan Maryam yang diasuh oleh Zakaria (Alquran, Surah Āli ‘Imrān/3: 44), dan Nabi Yūsuf beserta saudara-saudaranya (Yūsuf/12: 102). Kisah-kisah tersebut tidak diketahui sebelumnya oleh Nabi Muhammad yang ummi, tidak bisa membaca dan tidak bisa menulis, juga tidak diketahui oleh bangsa Arab pada umumnya. Bahkan, sebagian informasi itu tidak diketahui oleh Ahlul Kitab karena adanya perubahan dan penyimpangan dalam kitab suci mereka. Penyebutan informasi masa lalu secara detail dan rinci di dalam Alquran menjadi bukti ia merupakan wahyu Allah, bukan buatan manusia, apalagi buatan Nabi Muhammad yang dikenal tidak bisa membaca dan menulis, bahkan tidak pernah mempelajarinya dari orang lain.

وَمَا كُنتَ تَتْلُو مِن قَبْلِهِ مِن كِتَابٍ وَلَا تَخُطُّهُ بِيَمِينِكَ ۖ إِذًا لَّارْتَابَ الْمُبْطِلُونَ۝

Dan engkau (Muhammad) tidak pernah membaca sesuatu kitab sebelum (Alquran) dan engkau tidak (pernah) menulis suatu kitab dengan tangan kananmu, sekiranya (engkau pernah membaca dan menulis), niscaya ragu orang-orang yang mengingkarinya. (Alquran, Surah al-‘Ankabūt/29: 48)

Alquran memuat cukup banyak kisah tentang bangsa-bangsa maupun tokoh-tokoh terdahulu. Kisah mengenai tokoh atau bangsa terdahulu mengandung banyak pelajaran (‘ibrah), bisa berupa pelajaran yang baik untuk diteladani, bisa juga pelajaran yang buruk untuk dijauhi atau dihindari (Alquran, Surah Yūsuf/12: 111). Pengalaman adalah guru yang terbaik dalam kehidupan. Kisah Alquran merupakan gambaran pergumulan yang abadi antara nilai-nilai kebajikan yang digambarkan melalui para nabi dan tokoh-tokoh kebaikan lainnya, dan nilai-nilai kejahatan dalam perilaku buruk beberapa tokoh yang disajikan.

Kurang lebih seperempat bagian dari Alquran berisi kisah-kisah. Alquran menyebutnya sebagai aḥsanal qaṣa (Yūsuf/12: 3), kisah yang terbaik, bukan kisah biasa. Allah berfirman,

نَحْنُ نَقُصُّ عَلَيْكَ أَحْسَنَ الْقَصَصِ بِمَا أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ هَٰذَا الْقُرْآنَ وَإِن كُنتَ مِن قَبْلِهِ لَمِنَ الْغَافِلِينَ۝

Kami menceritakan kepadamu (Muhammad) kisah yang paling baik dengan mewahyukan Alquran ini kepadamu dan sesungguhnya engkau sebelum itu termasuk orang yang tidak mengetahui. (Alquran, Surah Yūsuf/12: 3)

Dibanding kisah-kisah lainnya, kisah Alquran adalah yang paling baik jika dilihat dari retorika dan gaya penyampaiannya serta pelajaran dan hikmah yang terkandung di dalamnya sehingga dapat memuaskan akal, jiwa, dan perasaan setiap pendengarnya. Kisah Alquran bukanlah karya sastra bebas, yang bertujuan cerita untuk cerita atau seni untuk seni, yang kadang-kadang kehilangan fungsi dan idealisme serta tujuan sehingga berimplikasi negatif bagi pembaca dan pendengarnya. Kisah Alquran berfungsi menggambarkan suatu peristiwa yang pada akhirnya membawa implikasi makna positif bagi pembaca atau pendengarnya, baik makna itu menyentuh rohani-imannya, akalnya, perasaannya, ataupun perilaku, perkataan, perbuatan, dan sikap hidupnya.

Kata kisah berasal dari bahasa Arab, qiṣṣah dan qaṣaṣ, yang berarti penelusuran jejak (tatabbu‘ul-aar) untuk mengetahui arah perjalanan. Di dalam Alquran, ketika Musa kecil ditaruh di dalam peti lalu dihanyutkan di sungai, sang ibu memerintahkan anak perempuannya agar mengikuti dan menelusuri jejak peti tersebut dengan mengatakan, “quṣṣīh!” ikutilah (jejak)-nya (Alquran, Surah al-Qaṣaṣ/28: 7). Menceritakan kisah orang-orang dimasa lalu sama dengan mengikuti dan menelusuri jejak mereka.

Kisah-kisah Alquran ada yang terkait dengan kehidupan para Nabi, termasuk yang berkaitan dengan tokoh atau sesuatu yang berhubungan dengan Nabi seperti lblis, QabiI-Habil, Khidir, Qarun, Fir‘aun, dan lainnya. Ada pula yang tidak terkait dengan kisah para nabi, seperti penghuni gua (Aṣḥābul-kahf), Zulqarnain, Luqman, Aṣḥābul-Ukhdūd, dan lainnya. Sebagian kisah diceritakan berdasarkan pertanyaan atau permintaan para sahabat seperti dan Zulqarnain (Alquran, Surah al-Kahf/18: 9-20, dan 83), tetapi sebagian besar difirmankan tanpa sebab atau permintaan.

MAKSUD DAN TUJUAN KISAH ALQURAN

Penyampaian pesan agama melalui kisah mempunyai maksud dan tujuan tersendiri. Banyak hal diutarakan ulama dan pakar tentang itu, di antaranya:

Pertama, membuktikan bahwa Nabi Muhammad benar-benar seorang nabi yang diutus oleh Allah dan bahwa Alquran yang disampaikannya itu benar-benar firman Allah yang diwahyukan kepadanya. Sebagian informasi masa lalu banyak diketahui oleh tokoh ahli kitab yang tergolong terpelajar dan berbudaya. Nabi Muhammad seorang yang tidak tahu baca-tulis dan tidak pernah belajar dari mereka. Ketika semua informasi itu disampaikan oleh Rasululllah yang ummi dan tidak pernah mempelajarinya dari mereka,  atau dari siapa pun, itu menunjukkan apa yang disampaikan itu merupakan wahyu. Dengan demikian, para pengikut Nabi Muhammad yang berpegang pada Alquran berhak untuk menyandang predikat sebagai kalangan terpelajar dan berbudaya, seperti halnya mereka (Ahlul Kitab) yang selama ini mendominasi predikat itu. Tuduhan para Ahlul Kitab terhadap komunitas muslim saat itu sebagai umat jahiliah tidak lagi benar setelah mereka mampu menceritakan kisah-kisah masa lalu secara lebih tepat dan akurat dibanding informasi Ahlul Kitab.

Kedua, menanamkan ajaran-ajaran agama melalui dialog yang terdapat dalam kisah. Cara ini belum dikenal oleh kalangan masyarakat Arab saat Alquran diturunkan. Pemaparan kisah Alquran yang sedemikian rupa merupakan terobosan baru dalam tradisi kesusasteraan Arab yang memberi pengaruh besar dalam jiwa pembaca dan pendengar. Perhatikan misalnya dialog yang terjadi dalam kisah mereka yang ada di surga dan neraka dalam Surah al-A‘rāf/7: 44—51.

Ketiga, menjelaskan bahwa prinsip-prinsip ajaran agama yang disampaikan oleh para nabi dan rasul itu sama, yaitu mengajarkan tauhid, beriman kepada hari akhir, mengajak kepada kebaikan dan meninggalkan keburukan. Allah berfirman,

وَمَا أَرْسَلْنَا مِن قَبْلِكَ مِن رَّسُولٍ إِلَّا نُوحِي إِلَيْهِ أَنَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدُونِ۝

Dan Kami tidak mengutus seorang rasul pun sebelum engkau (Muhammad), melainkan Kami wahyukan kepadanya, bahwa tidak ada tuhan (yang berhak disembah) selain Aku, maka sembahlah Aku. (Alquran, Surah al-Anbiyā’/21: 25)

Keempat, mengabadikan ingatan tentang peristiwa yang dialami oleh para nabi dan tokoh-tokoh Iain di masa silam agar tetap menjadi pelajaran. Kisah-kisah itu menjelaskan bahwa Allah pasti akan menolong para nabi dan membinasakan orang-orang yang ingkar. Mereka yang mengingkari kebenaran risalah para nabi akan bernasib seperti yang dialami kaum Nabi Nuh, kaum ‘Ad, kaum Samud, dan Iainnya. Dengan demikian, Nabi dan para pengikutnya, demikian juga para dai yang melanjutkan tugas dakwah Nabi, diharapkan dapat bersabar dan tidak bersedih hati menghadapi pembangkangan dan penolakan masyarakat terhadap dakwah yang disampaikan. Kisah-kisah itu berfungsi sebagai pelipur lara sekaligus sebagai berita gembira.

Kelima, kebodohan yang mendera bangsa Arab dan lemahnya tradisi baca-tulis saat Alquran diturunkan membuat akal mereka hanya mampu menalar sesuatu yang bersifat fisik/materiil: bisa dilihat, dirasa, dan diraba. Mereka tidak memiliki daya nalar untuk menjadikan kisah di masa lalu sebagai pelajaran yang akan menggerakkan mereka untuk melakukan perubahan dan perbaikan ke arah yang lebih baik dalam hidup. Pemaparan kisah umat-umat terdahulu membuka wawasan berpikir mereka tentang peradaban manusia dimasa lalu dengan segala kelebihan dan kekurangannya.

 

KISAH ALQURAN SEBAGAI FAKTA SEJARAH, BUKAN FIKSI ATAU KHAYALAN

Beberapa sarjana muslim ada yang meragukan apakah kisah-kisah itu benar-benar terjadi. Thaha Husein, sastrawan Mesir kenamaan misalnya, dalam bukunya Fi asy-Syi‘r al-Jāhili berpendapat bisa saja kitab Taurat dan Alquran berkisah tentang Ibrahim dan Ismail, tetapi adanya dua nama itu dalam Taurat dan Alquran tidak cukup kuat untuk menyatakan kedua orang itu benar-benar ada dalam sejarah. Muhammad Khalafallah dalam bukunya Al-Fann al-Qaṣaṣi mengatakan kisah merupakan seni bercerita yang lebih menitikberatkan keindahan gaya, keterpautan ide dengan tujuan cerita. Ini berlaku pada kisah nyata maupun fiksi. Kisah-kisah dalam Alquran tidak mesti harus kisah nyata. Banyak di antaranya yang tidak ada bukti sejarahnya. Menurutnya, tidak mengapa kalau kita mengatakan bahwa kisah-kisah Alquran merupakan dongeng-dongeng belaka. Pandangan tersebut tidak tepat. Alquran sudah menepis keraguan tersebut dengan menyatakan,

لَقَدْ كَانَ فِي قَصَصِهِمْ عِبْرَةٌ لِّأُولِي الْأَلْبَابِ ۗ مَا كَانَ حَدِيثًا يُفْتَرَىٰ وَلَٰكِن تَصْدِيقَ الَّذِي بَيْنَ يَدَيْهِ وَتَفْصِيلَ كُلِّ شَيْءٍ وَهُدًى وَرَحْمَةً لِّقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ۝

Sungguh pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang yang mempunyai akal. (Alquran) itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya, menjelaskan segala sesuatu, dan (sebagai) petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman. (Alquran, Surah Yūsuf/12: 111)

Pada ayat Iain Allah berfirman,

إِنَّ هَٰذَا لَهُوَ الْقَصَصُ الْحَقُّ ۚ وَمَا مِنْ إِلَٰهٍ إِلَّا اللَّهُ ۚ وَإِنَّ اللَّهَ لَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ۝

Sungguh ini adalah kisah yang benar. Tidak ada tuhan selain Allah dan sungguh Allah Mahaperkasa, Mahabijaksana. (Alquran, Surah Āli ‘Imrān/3: 62)

Pandangan bahwa kisah Alquran hanyalah fiksi dan khayalan akan berhadapan dengan salah satu dari dua hal. Pertama, tuduhan bahwa Alquran adalah buatan/karya Nabi Muhammad, bukan sebagai wahyu Allah. Kedua, menyatakan bahwa informasi yang disampaikan Allah melalui kisah itu bohong. Firman Allah tentang keadaan sejumlah pemuda yang “ditidurkan” di dalam gua (Aṣḥābul-kahf), “Dan engkau mengira mereka itu tidak tidur, padahal mereka tidur. dan Kami bolak-balikkan mereka ke kanan dan ke kiri, sedang anjing mereka membentangkan kedua lengannya di depan pintu gua” kalau itu hanya sebuah khayalan yang jauh dari kenyataan, tidak ada gerakan bolak-balik ke kanan dan ke kiri, dan tidak ada anjing yang membentangkan kedua lengannya, kalau itu semua tidak ada dalam kenyataan maka berita tersebut tidak sesuai fakta. Setiap informasi yang tidak sesuai dengan fakta adalah kebohongan. Oleh karena itu, sangat tidak patut bila pandangan ini dikemukakan oleh seorang yang mengaku dirinya muslim.

Pandangan tersebut dipengaruhi oleh beberapa orientalis seperti Ignaz Goldziher. Pada bagian awal bukunya tentang akidah dan syariah dalam Islam, ia sempat mempertanyakan seputar Nabi Musa dan hubungan Firaun dengan kaum Nabi Musa. Disebutkan bahwa Fir‘aun hanyalah seorang kafir tetapi tidak sampai mengaku sebagai Tuhan, lebih-lebih meminta kaum Musa untuk menyembah kepadanya. Dalam buku itu, disebutkan bahwa ada sejumlah kalangan yang meragukan apakah sosok yang bernama Ibrahim yang kemudian menjadi bapak para nabi dan berpengaruh besar dalam peradaban umat manusia itu benarbenar pernah ada.

Sikap beberapa sarjana Barat, dalam hal ini dapat dimaklumi mengingat keterbatasan informasi mereka yang sebelumnya dipengaruhi oleh fakta kontradiksi dan distorsi yang ada dalam kitab suci mereka. Membandingkan antara kebenaran Alqurandan Bibel adalah perbandingan yang tidak relevan, sebab otentisitas Alquran sebagai wahyu tidak diragukan sedikit pun oleh setiap muslim, berbeda halnya dengan pandangan kaum Kristiani tentang Bibel. Pandangan itu semakin tidak relevan dan tidak menemukan tempatnya dengan ditemukannya bukti-bukti arkeologis seperti ditunjukkan dalam pembahasan buku ini yang semakin menunjukkan kebenaran kisah-kisah Alquran yang diragukan oleh mereka.

GAYA PENYAMPAIAN KISAH ALQURAN

Dalam menyampaikan kisah-kisah, Alquran mempunyai gaya tersendiri yang berbeda dari lainnya. Kisah-kisah tersebut ada yang disampaikan secara tuntas di satu tempat dalam surah Alquran, seperti kisah Zulqarnain dalam Surah al-Kahf/18, kisah para penunggang gajah dalam Surah al-Fīl/105 dan kisah Nabi Yūsuf dalam Surah Yūsuf/12. Di sisi yang lain, sebagian besar kisah Alquran tidak disampaikan sekaligus secara utuh di satu tempat, tetapi hanya bagian tertentu yang sesuai dengan pesan yang ingin disampaikan, dan tersebar di beberapa surah. Kisah Nabi Adam misalnya, tersebar di beberapa surah, antara lain: al-Baqarah/2: 30-38, Āli ‘Imrān/3: 59, an-Nisā’/4: 1, al-A‘rāf/7: 11-25, al-Ḥijr/15: 26-48, al-lsrā’/17: 61-65, al-Kahf/18: 50, Tāhā/20: 115-123, Ṣād/38: 72-85, az-Zumar/39: 6, dan ar-Raḥmān/55: 14-15. Begitu juga kisah Nabi Nuh, Nabi Hud, dan Nabi Ibrahim. Kendati di dalam Alquran terdapat beberapa surah yang dinamakan Ibrāhīm (surah ke-14), Nūh (surah ke-71), dan Hūd (surah ke-11), tetapi kisah-kisah mereka bertiga tersebar di banyak surah dalam Alquran.

Sebagian kisah-kisah itu diulang di beberapa tempat dengan memusatkan pada satu dimensi kisah, seperti kisah Nabi Adam dan Nabi Nuh, atau kisah tersebut memiliki beberapa dimensi yang diulang-ulang seperti pada kisah Nabi Ibrahim. Pengulangan itu dimaksudkan untuk menekankan bahwa pesan yang ingin disampaikan pada satu tempat berbeda dengan yang di tempat lain, sesuai konteks umum pesan yang ingin disampaikan di dalam kelompok ayat atau surah itu. Pesan yang disampaikan berulang-ulang ini akan membuatnya mempunyai pengaruh yang makin mendalam.

Pengulangan itu biasanya disertai perubahan gaya bahasa di setiap tempat yang itu makin menegaskan kemukjizatan Alquran. Perubahan gaya itu terjadi dengan adanya penambahan atau pengurangan/penghilangan kata (al-ażf), dimajukan atau diundurkan (at-taqdīm wa at-takhīr), semuanya dengan kualitas sastra yang tinggi. Penutur bahasa yang baik terkadang mengalami kesulitan ketika harus mengungkapkan satu peristiwa dengan gaya bahasa yang berbeda-beda, tetapi tidak demikian dengan Alquran. Perubahan gaya bahasa di setiap penuturan/pengulangan akan membangkitkan gairah orang untuk mendengar dan membacanya.

Kisah Alquran pada umumnya juga disampaikan secara singkat, bahkan tidak jarang sangat singkat, tetapi padat makna. Ini karena tujuan pemaparan kisah bukanlah kisah itu sendiri sebagai sebuah bacaan hiburan misalnya, tetapi lebih sebagai penyampaian pelajaran atau ‘ibrah yang terkandung di dalamnya. Allah berfirman,

لَقَدْ كَانَ فِي قَصَصِهِمْ عِبْرَةٌ لِّأُولِي الْأَلْبَابِ ۗ مَا كَانَ حَدِيثًا يُفْتَرَىٰ وَلَٰكِن تَصْدِيقَ الَّذِي بَيْنَ يَدَيْهِ وَتَفْصِيلَ كُلِّ شَيْءٍ وَهُدًى وَرَحْمَةً لِّقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ۝

Sungguh pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang yang mempunyai akal. (Alquran) itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya, menjelaskan segala sesuatu, dan (sebagai) petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman. (Alquran, Surah Yūsuf/12: 111)

Perpaduan antara gaya bahasa yang singkat dan padat dengan pesan mulia yang dikandungnya menjadikan kisah Alquran semakin memikat. Karena penekanannya pada ‘ibrah maka hal-hal yang tidak mendukung tujuan itu tidak perlu dirinci atau dijabarkan secara panjang lebar. Sebagai contoh, dalam kisah Nabi Nuh kita tidak menemukan rincian mengenai besar kapal yang dibuat dan kemudian ditumpangi oleh Nabi Nuh dan para pengikutnya, karena tujuan dari pemaparan kisah itu adalah untuk menjelaskan bahwa orang-orang kafir yang menentang Nabi Nuh, termasuknya anaknya, akan tenggelam, bukan pembuatan kapal itu sendiri, meskipun pembuatan kapal sebesar itu pada masa awal sejarah kemanusiaan adalah satu hal yang sangat luar biasa.

Ini agak berbeda dengan Taurat yang memberikan keterangan panjang lebar tentang, misalnya, ukuran besar kapal Nabi Nuh. Dalam kitab kejadian disebutkan, “Buatlah bagimu sebuah bahtera dari kayu gofir, bahtera itu harus kau buat berpetak-petak dan harus kau tutup dengan pangkal dari luar dan dari dalam. Beginilah engkau harus membuat bahtera itu: tiga ratus hasta panjangnya, lima puluh hasta lebarnya, dan tiga puluh hasta tingginya. Buatlah atap pada bahtera itu dan selesaikanlah bahtera itu sampai sehasta dari atas dan pasanglah pintunya pada lambungnya. Buatlah bahtera itu bertingkat bawah, tengah, dan atas.” Menurut Alquran, hal-hal teknis dan rinci itu tidak lebih penting dibandingkan pelajaran yang terkandung di dalamnya.

 

ISRAILLIYAT DAN KISAH ALQURAN

Gaya penyampaian kisah Alquran yang tidak merinci peristiwanya mendorong masyarakat dari kalangan bangsa Arab untuk mencari tahu informasinya. Begitu pula informasi tentang awal penciptaan alam semesta dan rahasia wujud. Keingintahuan itu tersalurkan dengan menanyakan informasi tersebut kepada Ahlul Kitab: Yahudi dan Nasrani, yang hidup bersama mereka. Interaksi antara bangsa Arab dengan mereka, terutama orang-orang Yahudi, di Jazirah Arab sudah lama terjalin, sejak mereka hijrah ke sana pada tahun 70 M, setelah lari dari kejaran dan penyiksaan penguasa Romawi, Titus. Selain itu, dalam perdagangan musim panas (rilatuaif) ke Syam dan musim dingin (rilatusysyitā’) ke Yaman, mereka selalu berjumpa dan berkomunikasi dengan Ahlul Kitab yang tinggal di daerah tersebut. Dari situlah budaya dan pemikiran Ahlul Kitab diserap oleh bangsa Arab.

Sebagian dari Ahlul Kitab itu ada yang memeluk agama Islam, seperti ‘Abdullāh bin Salām, Ka‘b al-Aḥbār, dan lainnya, dan telah memiliki informasi tersebut sebelumnya. Informasi itu dengan mudah diterima bangsa Arab karena dianggap hanya sekadar cerita masa lalu dan tidak terkait dengan persoalan hukum yang harus diverifikasi lebih jauh kesahihannya. Mulanya hanya sekadar memenuhi rasa ingin tahu. Berdasarkan riwayat mereka itulah cerita-cerita tersebut berkembang dan masuk ke dalam buku-buku tafsir. Hampir kebanyakan buku-buku tafsir klasik memuat kisah-kisah yang dikenal dengan istilah Israiliyat.

Istilah tersebut meski dinisbatkan kepada Israil, julukan bagi Nabi Ya‘qub dan merujuk kepada kisah yang bersumber dari orang-orang Yahudi, tetapi dalam perkembangannya Israiliyat lebih populer dikenal untuk setiap kisah atau dongeng masa lalu yang masuk ke dalam tafsir dan hadis, baik yang bersumber dari orang-orang Yahudi-Nasrani maupun lainnya. Cerita-cerita itu semakin berkembang dengan banyaknya orang yang berprofesi sebagai al-qaṣṣāṣūn (pandai cerita) yang selalu menonjolkan keanehan-keanehan dalam penyampaiannya agar menarik perhatian pendengar.

Memang tidak semua Israiliyat itu lemah atau palsu riwayatnya. Ada di antaranya yang sahih, seperti penjelasan ‘Abdullāh bin Salām tentang sifat-sifat Rasulullah yang termaktub dalam Taurat dan dikutip dalam kitab-kitab tafsir. Demikian pula, tidak semua kisah Israiliyat itu bertentangan dengan syariat Islam. Ada yang sejalan dengan syariat yang dibawa oleh Nabi Muhammad dan ada pula yang tidak ditemukan penolakan dan pembenarannya dalam ajaran Islam (al-maskūt ‘anhu). Kisah-kisah tersebut ada yang terkait dengan akidah dan masalah hukum, ada pula yang tidak berhubungan sama sekali dengan keduanya, melainkan hanya berupa nasihat dan informasi peristiwa masa lalu.

Para ulama berbeda dalam menyikapi kisah-kisah Israiliyat. Apakah diperbolehkan meriwayatkannya atau tidak? Di dalam Alquran sendiri kita menemukan sebuah ayat yang ditujukan kepada Nabi Muhammad, dan tentu juga kepada kita sebagai umatnya, yang membolehkan untuk menanyakan informasi terkait kitab suci kepada Ahlul Kitab. Allah berfirman,

فَإِن كُنتَ فِي شَكٍّ مِّمَّا أَنزَلْنَا إِلَيْكَ فَاسْأَلِ الَّذِينَ يَقْرَءُونَ الْكِتَابَ مِن قَبْلِكَ ۚ لَقَدْ جَاءَكَ الْحَقُّ مِن رَّبِّكَ فَلَا تَكُونَنَّ مِنَ الْمُمْتَرِينَ۝

Maka jika engkau (Muhammad) berada dalam keragu-raguan tentang apa yang Kami turunkan kepadamu maka tanyakanlah kepada orang yang membaca kitab sebelummu. Sungguh telah datang kebenaran kepadamu dari Tuhanmu maka janganlah sekali-kali engkau termasuk orang yang ragu. (Alquran, Surah Yūnus/10: 94)

Selain itu, dalam salah satu sabdanya Rasulullah menyatakan,

Sampaikan dariku walau satu ayat dan ceritakan (apa yang kalian peroleh) dari Bani Israil, tidak ada dosa. Barang siapa sengaja berdusta mengatasnamakanku maka bersiaplah untuk masuk ke neraka. (Riwayat al-Bukhāri dari ‘Abdullāh  bin ‘Amr)

Ayat dan hadis di atas dipahami oleh para ulama sebagai dasar membolehkan mengutip riwayat Israiliyat yang tidak bertentangan dengan ajaran Islam, sebab yang diperintahkan oleh Alquran dan hadis tersebut tentu yang tidak mengandung kebohongan. Sesuatu yang bertentangan dengan ajaran agama dan juga akal sehat sudah pasti mereka tolak. Sementara itu, yang tidak ditemukan pembenaran dan penolakannya mereka memilih sikap tawaqquf, tidak membenarkan dan tidak pula mendustakan. Hal ini sejalan dengan sabda Nabi yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah,

Dahulu Ahlul Kitab biasa membaca Taurat dalam bahasa Ibrani dan menjelaskan kepada orang Islam dalam bahasa Arab. Rasulullah bersabda, “Jangan kalian benarkan Ahlul Kitab dan jangan pula kalian dustakan. Katakanlah saja, “Kami beriman kepada Allah dan apa yang diturunkan kepada kami dan apa yang diturunkan kepada kalian…” (Riwayat al-Bukhāri dari Abū Hurairah)

Meski tawaqquf dengan tidak membenarkan dan tidak menolaknya, para ulama membolehkan untuk meriwayatkannya sekadar sebagai bentuk pemaparan atas kisah yang ada di kalangan mereka, dan itu termasuk dalam kebolehan yang dibenarkan oleh ayat dan hadis di atas. Kebolehan tersebut tentu dalam batas-batas tertentu, yaitu tidak terkait dengan masalah akidah dan hukum, serta tidak ditemukan pembenaran dan  penolakannya dalam ajaran Islam.

Atas dasar itulah, dalam buku ini para pembaca akan menemukan beberapa informasi yang bersumber dari Israiliyat. Hal itu dikarenakan fokus yang menjadi perhatian buku ini adalah kisah-kisah masalah lalu, terutama nabi-nabi yang hidup sebelum masa Nabi Ibrahim, suatu objek kajian yang jarang sekali diungkap informasi kesejarahannya. Riwayat tersebut tidak dimaksudkan sebagai kebenaran informasi agama, melainkan hanya sekadar memaparkan informasi kesejarahan yang terdapat dalam literatur klasik selain pelajaran (‘ibrah) yang dapat diambil darinya-satu hal yang diharapkan dapat membuka wawasan kita tentang keterkaitan agama-agama dalam sejarah kemanusiaan. Wallāhu a‘lam.

Dikutip dari Tafsir al-‘Ilmi

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp

Leave a Reply

Close Menu