KHAMAR

KHAMAR

Islam menyerahkan kebijakan penggunaan teknologi kepada manusia. Sebagai contoh, Alquran memperlihatkan bahwa teknologi fermentasi dari buah anggur dan kurma dapat digunakan untuk kebaikan maupun keburukan bagi manusia. Allah berfirman,

وَمِن ثَمَرَاتِ النَّخِيلِ وَالْأَعْنَابِ تَتَّخِذُونَ مِنْهُ سَكَرًا وَرِزْقًا حَسَنًا ۗ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَةً لِّقَوْمٍ يَعْقِلُونَ۝

Dan dari buah kurma dan anggur, kamu membuat minuman yang memabukkan dan rezeki yang baik. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang mengerti. (Alquran, Surah an-Naḥl/16: 67)

 

Dalam rangkaian ayat-ayat yang secara bertahap menerangkan keharaman konsumsi khamar, dilihat dari waktu turunnya, ayat ini adalah yang pertama kali turun. Penjelasan mengenai sejarah dan dampak buruk khamar menurut terhadap kesehatan dapat disimak dalam penjelasan di bawah ini.

 

Khamar dalam Bahasan Alquran dan Hadis

Pada masa pra-lslam, masyarakat Arab seolah memerlukan alkohol untuk dapat menjalani kehidupan sehari-hari. Kata alkohol yang berakar dari kata berbahasa Arab al-kuḥūl, yang berarti hasil fermentasi gandum, buah, atau gula, yang berubah menjadi minuman yang memabukkan apabila difermentasikan, menjadi kata yang sangat populer saat itu. Khamr atau khamrah adalah dua kata yang Alquran gunakan untuk menunjuk minuman macam ini. Kata ini pada umumnya diterjemahkan menjadi anggur.

Masyarakat Arab pra-lslam penuh dengan begitu banyak persoalan sosial yang rumit, dari perang antarsuku, kompetisi dan fanatisme berlebih antarsuku dan antarklan, pelacuran, rasa tidak aman, disharmoni rumah tangga, hingga perlakuan tidak adil terhadap perempuan dan anak-anak ‎. Wanita hampir dianggap dan diperlakukan sebagai budak, sedangkan anak-anak tidak pernah memperoleh kasih sayang. Dikenal dengan budaya patriarkinya, masyarakat Arab menempatkan laki-laki sebagai kelompok yang dominan, dalam posisi kuat, dan dituntut untuk menang dalam berbagai kompetisi. Faktor-faktor inilah yang mendorong mereka mengkonsumsi alkohol. Di masa itu penjualan alkohol adalah hal yang lumrah dan dilakukan secara terbuka. Bahkan kata tājir yang mulanya berarti pedagang dalam artian yang luas, mereka sempitkan maknanya menjadi penjual khamar. Saking larisnya khamar di kalangan masyarakat Arab sampai-sampai toko yang menjualnya pun buka selama 24 jam.

Tidak dapat dipungkiri bahwa ini adalah fenomena yang miris. Karenanya, Alquran secara gradual berupaya untuk menghilangkan budaya tersebut. Ayat Alquran yang pertama-tama membicarakan khamar turun di Mekah pra-hijrah, yakni firman Allah,

وَمِن ثَمَرَاتِ النَّخِيلِ وَالْأَعْنَابِ تَتَّخِذُونَ مِنْهُ سَكَرًا وَرِزْقًا حَسَنًا ۗ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَةً لِّقَوْمٍ يَعْقِلُونَ۝

Dan dari buah kurma dan anggur, kamu membuat minuman yang memabukkan dan rezeki yang baik. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang mengerti. (Alquran, Surah an-Naḥl/16: 67)

 

Ayat ini mengindikasikan beberapa hal sekaligus, di antaranya petunjuk bahwa masyarakat Arab pada saat itu telah menguasai teknologi fermentasi buah-buahan dengan menggunakan mikroba. Hal lain adalah penyebutan keuntungan dan kerugian penggunaan alkohol, baik untuk diminum yang itu merugikan kesehatan, maupun untuk keperluan lain yang menguntungkan, misalnya dalam ranah pengobatan dan sejenisnya. Beberapa lama kemudian para sahabat mulai bertanya-tanya mengapa ayat tersebut turun, sedangkan khamar adalah minuman yang sehari-hari dikonsumsi masyarakat Arab kala itu. Pertanyaan mereka terjawab dengan turunnya ayat berikut di Medinah pascahijrah,

يَسْأَلُونَكَ عَنِ الْخَمْرِ وَالْمَيْسِرِ ۖ قُلْ فِيهِمَا إِثْمٌ كَبِيرٌ وَمَنَافِعُ لِلنَّاسِ وَإِثْمُهُمَا أَكْبَرُ مِن نَّفْعِهِمَا ۗ وَيَسْأَلُونَكَ مَاذَا يُنفِقُونَ قُلِ الْعَفْوَ ۗ كَذَٰلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمُ الْآيَاتِ لَعَلَّكُمْ تَتَفَكَّرُونَ۝

Mereka menanyakan kepadamu (Muḥammad) tentang khamar dan judi. Katakanlah, “Pada keduanya terdapat dosa besar dan beberapa manfaat bagi manusia. Tetapi dosanya lebih besar daripada manfaatnya.” Dan mereka menanyakan kepadamu (tentang) apa yang (harus) mereka infakkan. Katakanlah, “Kelebihan (dari apa yang diperlukan).” Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu agar kamu memikirkan. (Alquran, Surah al-Baqarah/2 : 219)

 

Setelah itu turunlah ayat berikut yang secara substansial sudah lebih mengarah ke pengharaman khamar bagi kaum muslim, meski larangan itu masih bersifat temporer, yakni ketika seorang muslim hendak melakukan salat.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَقْرَبُوا الصَّلَاةَ وَأَنتُمْ سُكَارَىٰ حَتَّىٰ تَعْلَمُوا مَا تَقُولُونَ وَلَا جُنُبًا إِلَّا عَابِرِي سَبِيلٍ حَتَّىٰ تَغْتَسِلُوا ۚ وَإِن كُنتُم مَّرْضَىٰ أَوْ عَلَىٰ سَفَرٍ أَوْ جَاءَ أَحَدٌ مِّنكُم مِّنَ الْغَائِطِ أَوْ لَامَسْتُمُ النِّسَاءَ فَلَمْ تَجِدُوا مَاءً فَتَيَمَّمُوا صَعِيدًا طَيِّبًا فَامْسَحُوا بِوُجُوهِكُمْ وَأَيْدِيكُمْ ۗ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَفُوًّا غَفُورًا۝

Wahai orang yang beriman! Janganlah kamu mendekati salat ketika kamu dalam keadaan mabuk, sampai kamu sadar apa yang kamu ucapkan, dan jangan pula (kamu hampiri masjid ketika kamu) dalam keadaan junub kecuali sekedar melewati jalan saja, sebelum kamu mandi (mandi junub). Adapun jika kamu sakit atau sedang dalam perjalanan atau sehabis buang air atau kamu telah menyentuh perempuan, sedangkan kamu tidak mendapat air, maka bertayamumlah kamu dengan debu yang baik (suci); usaplah wajahmu dan tanganmu dengan (debu) itu. Sungguh, Allah Maha Pemaaf, Maha Pengampun. (Alquran, Surah an-Nisā’/4: 43)

 

Pasca-turunnya ayat ini, kebanyakan dari mereka yang memeluk Islam berhenti mengkonsumsi alkohol, atau paling tidak menguranginya. Beberapa di antara mereka memang tidak pernah minum khamar sebelum masuk Islam, seperti Uṡmān bin ‘Affān, yang di kemudian hari menjadi khalifah ketiga. la pernah mengatakan, “Khamr merampok pikiran, dan tidak pernah kulihat mereka yang telah dirampok pikirannya oleh khamar kembali seperti semula;” suatu ucapan yang terbukti benar secara ilmiah. Penelitian dewasa ini menunjukkan bahwa peminum alkohol berat berisiko tinggi mengalami penurunan daya ingat dan konsentrasi belajar secara permanen.

Di satu sisi, sebetulnya ayat di atas melarang umat Islam untuk minum khamar menjelang salat saja, tidak pada saat-saat lainnya. Itu karena dalam keadaan mabuk, seseorang tidak lagi punya kesadaran penuh, suatu hal yang dituntut harus terpenuhi dalam salat. Namun di sisi lain, meninggalkan salat berjamaah di masjid adalah hal yang dirasa berat oleh para sahabat kala itu. Satu saja sahabat tidak hadir di masjid pada waktu salat maka sahabat-sahabat lain pasti mengira ia sedang sakit. Pada saat yang demikian, seseorang akan merasa sangat malu jika ketidakhadirannya di masjid bukannya karena sakit, tetapi karena mabuk. Persaudaraan Islam saat itu sangat kuat, dan itu secara tidak langsung memotivasi setiap orang untuk meninggalkan khamar. Seseorang akan merasa terkucil bila karena satu dan lain hal tidak dapat mengikuti seluruh ritual yang diwajibkan agama.

Ulama salaf menyatakan bahwa peminum khamar akan melewati suatu masa di mana ia tidak lagi ingat siapa tuhannya, sedangkan Allah menciptakan manusia untuk mengenal-Nya, mengingat-Nya, beribadah, dan taat kepada-Nya. Di samping mengurangi kesadaran, khamar juga mengurangi dengan signifikan kinerja akal, sedangkan akal adalah bagian dari manusia yang membedakannya dari binatang. Akal adalah agen untuk memahami.  Dengannya seseorang akan dapat membedakan antara kebaikan dan keburukan, antara hak dan batil. Karenanya Islam sangat menjaga kedudukan akal sebagai cantelan taklīf (beban untuk menjalankan hukum-hukum syariat). Artinya, orang yang kehilangan akal tidak pantas mendapat taklīf.

Cara yang umat Islam terapkan untuk menghilangkan kebiasaan minum khamar saat itu adalah dengan mengurangi konsumsinya dari waktu ke waktu, secara gradual, sehingga lama-kelamaan dapat berhenti sama sekali. Dalam pada itu mereka menjadikan madu sebagai alternatif perolehan energi, menggantikan khamar. Seiring turunnya ayat di atas, jumlah pedagang khamar di Medinah makin berkurang dan mulai beralih ke komoditi Iain. Kemudian turunlah ayat berikut yang merupakan deklarasifinal atas haramnya minum khamar bagi kaum muslim.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّمَا الْخَمْرُ وَالْمَيْسِرُ وَالْأَنصَابُ وَالْأَزْلَامُ رِجْسٌ مِّنْ عَمَلِ الشَّيْطَانِ فَاجْتَنِبُوهُ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ۝ إِنَّمَا يُرِيدُ الشَّيْطَانُ أَن يُوقِعَ بَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةَ وَالْبَغْضَاءَ فِي الْخَمْرِ وَالْمَيْسِرِ وَيَصُدَّكُمْ عَن ذِكْرِ اللَّهِ وَعَنِ الصَّلَاةِ ۖ فَهَلْ أَنتُم مُّنتَهُونَ۝

Wahai orang-orang yang beriman! Sesungguhnya minuman keras, berjudi, (berkurban untuk) berhala, dan mengundi nasib dengan anak panah, adalah perbuatan keji dan termasuk perbuatan setan. Maka jauhilah (perbuatan-perbuatan) itu agar kamu beruntung. Dengan minuman keras dan judi itu, setan hanyalah bermaksud menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara karnu, dan menghalang-halangi kamu dari mengingat Allah dan melaksanakan salat, maka tidakkah karnu mau berhenti? (Alquran, Surah al-Mā’idah/5: 90-91)

 

Para ulama menjadikan ayat di atas sebagai dalil qa‘i (tak terbantahkan) yang mengharamkan khamar. Allah menghukumi khamar dan perjudian sebagai najis (rijs), suatu label yang sangat buruk. Label yang sama ditujukan kepada berhala (al-Ḥajj/22: 30), ketiadaan iman (al-An‘ām‎/6: 125), penyakit hati (at-Taubah/9: 125), binatang yang haram dimakan (al-An‘ām‎/6: 145)’ dan orang munafik (at-Taubah/9: 95). Dengan demikian dapat dikatakan bahwa minum khamar sama buruk dan najisnya dengan kemusyrikan, kekufuran, dan bangkai.

Jauh dari khamar berarti keberuntungan (kemenangan), yang berarti terhindar dari kerugian dan mendapat kebaikan duniawi dan ukhrawi. Dalam penggalan ayat di atas (setan hanyalah bermaksud menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu) Allah menegaskan bahwa khamar berpotensi merusak harmoni masyarakat. Lebih dari itu, Allah juga menggarisbawahi bahwa khamar itu berpotensi mengganggu hubungan manusia dengan Tuhannya (melalui firman-Nya yang berarti, dan menghalang-halangi kamu dari mengingat Allah dan melaksanakan salat). Ayat ini kemudian Allah akhiri dengan ancaman keras, “maka tidakkah kamu mau berhenti?” Tidak cukup sampai di situ, Allah kemudian menyambungnya dengan firman-Nya berikut.

وَأَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَاحْذَرُوا ۚ فَإِن تَوَلَّيْتُمْ فَاعْلَمُوا أَنَّمَا عَلَىٰ رَسُولِنَا الْبَلَاغُ الْمُبِينُ۝

Dan taatlah kamu kepada Allah dan taatlah kamu kepada Rasul serta berhati-hatilah. Jika kamu berpaling, maka ketahuilah bahwa kewajiban Rasul Kami hanyalah menyampaikan (amanat) dengan jelas. (Alquran, Surah al-Mā’idah/5: 92)

 

Segera setelah Rasulullah menyampaikan ayat ini kepada para sahabatnya di Medinah, mereka menumpahkan semua persediaan khamar yang mereka miliki ke jalanan. Jalanan Medinah pun banjir dengan khamar, seperti termaktub dalam hadis berikut.

 

Dari Anas bin Malik ia berkata, “Suatu hari aku menjadi penuang khamar bagi para tetamu di rumah Abū alah. Pada waktu itu khamar mereka adalah apa yang disebut dengan al-faḍīh. Di saat yang sama Rasulullah meminta seorang sahabatnya untuk mengumumkan bahwa khamar telah diharamkan (oleh Allah). Lalu Abū alah berkata kepadaku, ‘Keluarlah, dan tumpahkan khamar itu!’ Maka aku pun keluar dan menumpahkan khamar itu, (begitupun sahabat-sahabat yang lain) sampai-sampai jalanan Medinah penuh dengan tumpahan khamar.” (Riwayat al-Bukhāri dan Muslim dari ‘Abdullāh bin Ja‘far)

 

Keharaman khamar ditegaskan pula oleh Rasulullah dalam banyak hadisnya, di antaranya:

 

Apa saja yang memabukan adalah khamar, dan semua khamar adalah haram. (Riwayat Muslim dari ibnu ‘Umar)

 

Rasulullah mengutus aku dan Mu‘āż ke Yaman. Ketika itu aku bertanya, “Wahai Rasulullah, di wilayah kami dikenal suatu minuman (keras) bernama al-mirz yang berasal dari jelai, dan minuman (keras) lainnya bernama al-bit‘ yang berasal dari madu; (bagaimanakah hukumnya?) Lalu beliau bersabda, “Apa saja yang memabukkan adalah haram.” (Riwayat al-Bukhāri dan Muslim dari Abū Mūsā al-Asy‘ari)

 

Aku mendengar Rasul bersabda, “Sesungguhnya khamar bisa terbuat dari perasan (anggur), kismis, kurma, jelai, maupun jagung. Dan sungguh aku melarang kalian dari apa saja yang memabukkan.” (Riwayat Abū Dāwūd dari an-Nu‘mān bin Basyīr)

 

Khamar dalam terminologi syariat berarti apa saja yang berpotensi memabukkan, tidak peduli bentuk (padat atau cair), asal (biji, anggur, kurma, gandum, susu, jagung, dan lainnya), tidak pula cara mengonsumsinya (diminum, dimakan, dihirup, disuntikan, dan sejenisnya). Dalam hadis-hadis di atas tidak tampak adanya distingsi terhadap barang-barang yang memabukkan. Itu berarti setiap barang yang berpotensi memabukkan adalah haram. Dari apa khamar dalam masyarakat Arab kala itu dibuat, dapat kita temukan jawabannya dalam hadis berikut.

 

An-Nu‘mān bin Basyīr berkhotbah di hadapan orang-orang di Kufah. la berkata, “Aku mendengar Rasulullah bersabda, ‘Sesungguhnya khamar bisa berasal dari perasan (anggur), kismis, kurma, gandum, jelai, maupun jagung. Dan sungguh aku melarang kalian dari apa saja yang memabukkan. (Riwayat Abū Dāwūd dan lbnu Hibbān)

 

Dalam hadis lain terlihat bahwa bukan hanya peminum khamar yang dilaknat, namun juga pembuatnya dan semua jaringannya. Dalam hadis yang diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbās disebutkan,

 

Jibril telah datang kepada Rasulullah seraya berkata, ”Wahai Muḥammad, sesungguhnya Allah melaknat khamar, pemerasnya, orang yang meminta (orang lain) untuk memerasnya, pembawanya, orang yang minta dibawakan khamar, peminumnya, penjualnya, pembelinya, penuangnya, dan orang yang meminta (orang Iain) agar menuangkan khamar untuknya.” (Riwayat Aḥmad, lbnu Hibbān, dan al-Ḥākim dari Ibnu ‘Abbās )

 

Rasulullah melaknat sepuluh orang terkait khamar: pemerasnya, orang yang meminta orang Iain untuk memerasnya, peminumnya, pembawanya, orang yang meminta orang Iain untuk membawanya, penuangnya, penjualnya, orang yang memakan uang (dari hasil menjual) khamar, pernbelinya, dan orang yang meminta orang Iain untuk membelikannya khamar. (Riwayat at-Tirmiżi dan Ibnu Mājah dari Anas bin Mālik)

 

Banyak ulama menyatakan bahwa haramnya khamar bukan karena alkohol yang ada di dalamnya, melainkan karena potensinya untuk membuat mabuk. Jadi, makanan dan minuman apa pun yang berpotensi memabukkan, meski tanpa kandungan alkohol di dalamnya, bila dikonsumsi manusia normal (dalam artian bukan orang yang terbiasa mengkonsumsinya), ia adalah khamar. Rasulullah bersabda,

 

Apa saja yang memabukkan adalah khamar, dan apa saja yang memabukkan adalah haram. Barang siapa meminum khamar di dunia, lalu ia mati dalam kondisi masih saja menjadi pecandu khamar serta belum bertaubat, maka ia tidak akan meminumnya di akhirat nanti. (Riwayat Muslim dari Ibnu ‘Umar)

 

Hadis ini menjelaskan ketersediaan khamar di akhirat nanti bagi mereka yang tidak mengkonsumsi khamar di dunia. Pesan ini pula yang dapat kita temukan dalam firman Allah berikut.

مَّثَلُ الْجَنَّةِ الَّتِي وُعِدَ الْمُتَّقُونَ ۖ فِيهَا أَنْهَارٌ مِّن مَّاءٍ غَيْرِ آسِنٍ وَأَنْهَارٌ مِّن لَّبَنٍ لَّمْ يَتَغَيَّرْ طَعْمُهُ وَأَنْهَارٌ مِّنْ خَمْرٍ لَّذَّةٍ لِّلشَّارِبِينَ وَأَنْهَارٌ مِّنْ عَسَلٍ مُّصَفًّى ۖ وَلَهُمْ فِيهَا مِن كُلِّ الثَّمَرَاتِ وَمَغْفِرَةٌ مِّن رَّبِّهِمْ ۖ كَمَنْ هُوَ خَالِدٌ فِي النَّارِ وَسُقُوا مَاءً حَمِيمًا فَقَطَّعَ أَمْعَاءَهُمْ۝

Perumpamaan taman surga yang dijanjikan kepada orang-orang yang bertakwa; di sana ada sungai-sungai yang airnya tidak payau, dan sungai-sungai air susu yang tidak berubah rasanya, dan sungai-sungai khamar (anggur yang tidak memabukkan) yang lezat rasanya bagi peminumnya dan sungai-sungai madu yang murni. Di dalamnya mereka memperoleh segala macam buah-buahan dan ampunan dari Tuhan mereka. Samakah mereka dengan orang yang kekal dalam neraka, dan diberi  minuman dengan air yang mendidih sehingga ususnya terpotong-potong? (Alquran, Surah Muḥammad/47: 15)

 

Allah akan membalas para hamba-Nya yang meninggalkan khamar di dunia karena taat kepada-Nya dengan menghidangkan kepada mereka di akhirat nanti khamar lezat yang diminum bukan hanya untuk menghilangkan rasa dahaga, namun juga untuk kenikmatan.

 

Sejarah Minuman Beralkohol

Dalam dunia binatang, kera besar seperti simpanse diketahui sangat suka makan buah yang telah terfermentasi (busuk) dan mengandung alkohol. Dengan kenyataan ini tampaknya cukup pantas untuk berasumsi bahwa manusia purba juga telah melakukan hal yang sama. Sebenarnya bahan beralkohol itu dapat tercipta secara alami. Suatu kondisi di mana bahan gula akan terfermentasi menjadi alkohol secara alami sangat mudah terjadi dengan adanya khamir (semacam ragi) yang ada di udara. Keadaan ini kemudian ditiru manusia dengan melakukan fermentasi secara buatan, meski itu baru mereka lakukan saat memasuki era pertanian. Urutan ini tampaknya masuk akal karena bahan gula secara alami tidak ditemukan dalam jumlah banyak. Dengan demikian bahan gula tersebut perlu dihasilkan terlebih dahulu, misalnya dengan menanam beberapa jenis tumbuhan penghasil gula, dan berikutnya barulah dilakukan proses distilasi untuk mendapatkan alkohol.

Minuman beralkohol pertama kemungkinan diperoleh dari buah kurma di Mesopotamia. Hanya saja hal ini baru sebatas dugaan dan tidak ada bukti yang menguatkannya. Analisis kimia atas pecahan guci kuno di suatu desa di China membuktikan bahwa penduduk China sudah memproduksi minuman beralkohol pada 7.000 tahun SM. Angka ini mengalahkan angka 5.400 tahun SM yang diduga menjadi awal pembuatan alkohol di kawasan yang sekarang termasuk wilayah Iran. Bukti kuat didapat dari pengujian radiokarbon atas pecahan guci yang diduga dijadikan tempat menyimpan air beralkohol yang berasal dari Jiahu, suatu desa masa Neolitik di Provinsi Henan, China. Masa Neolitik di kawasan ini ditandai dengan dimulainya pertanian primitif dan penggunaan peralatan sederhana. Penelitian ini menemukan adanya unsur beras, buah (antara lain unsur yang datang dari biji buah anggur), dan madu dalam proses pembuatan minuman alkohol saat itu.

Mengapa pembuatan minuman beralkohol berjalan hampir bersamaan antara Asia Timur dan Timur Tengah, adalah pertanyaan yang belum terjawab hingga kini. Belum dapat dipastikan apakah hal itu akibat adanya relasi sosial antara keduanya ataukah karena adanya satu sumber yang sama. Untuk menjawabnya perlu diadakan penelitian lebih mendalam. Berikut adalah sedikit data yang diperoleh dari berbagai belahan dunia mengenai perkembangan industri minuman beralkohol pada masa-masa awal dikenalnya minuman jenis ini.

Produksi minuman beralkohol banyak dilakukan di berbagai budaya, umumnya dengan maksud yang hampir sama, yaitu berkaitan dengan perilaku budaya dan agama, di samping kondisi sosial tertentu. Dari penemuan tempat minum bir pada zaman batu diperkirakan bir telah ditemukan jauh sebelum ditemukannya roti.

Seperti dijelaskan sebelumnya, minuman beralkohol telah dikenal pada 7.000 tahun SM di China. Minuman yang berbahan dasar beras, buah, dan madu ini dikenal dengan nama jiu. Minuman ini lebih dikaitkan dengan minuman spiritual ketimbang dengan minuman material. Dalam berbagai upacara, baik itu bersifat keagamaan, kekeluargaan, kematian, pemerintahan, dan peristiwa penting lainnya, meminum alkohol adalah ritual yang tidak dapat ditinggalkan. Minuman beralkohol dinyatakan sebagai hal yang dianjurkan oleh surga; dipercaya dapat memunculkan inspirasi, mengekspresikan penghormatan, menghilangkan penat, dan semisalnya yang umumnya disimpangkan. Bagi negara, konsumsi minuman beralkohol oleh sebanyak mungkin penduduk China adalah penting karena pemasukan negara dari pajak minuman alkohol adalah yang terbesar.

Minuman anggur telah dikenal dan muncul dalam huruf Mesir Kuno sekitar 4.000 tahun SM. Bir dan minuman anggur sangat penting dalam kehidupan sehari-hari ‎ masyarakat Mesir saat itu. Dari analisis bahasa atas tulisan itu diperoleh informasi bahwa tampaknya bangsa ini mengenal minuman anggur lebih dahulu ketimbang buah anggur itu sendiri. Bangsa Mesir mengimpor minuman anggur sebelum mengimpor tanaman anggur untuk ditanam di lembah sungai Nil. Apresiasi atas minuman anggur ini diekspresikan dengan “mengadakan” dewa anggur yang diberi nama Shesmu.

Bagi masyarakat Mesir kuno, bir adalah minuman yang penting. Minuman ini dikonsumsi baik oleh orang dewasa maupun anak-anak, miskin atau kaya, bahkan ia menjadi minuman yang dipersembahkan kepada para dewa. Menurut laporan, para pekerja pembangun piramida memperoleh jatah bir tiga kali sehari. Demikian pentingnya minuman ini sampai-sampai masyarakat Mesir kala itu mengenal lima jenis bir dan empat jenis minuman anggur. Pada masa itu pula mereka menjadikan minuman anggur sebagai benda yang wajib dipersembahkan bagi mereka yang meninggal sebagai bekal ke alam baka.

Produksi minuman beralkohol berbahan dasar anggur tercatat telah dimulai pada Masa Perunggu. Penelitian para arkeolog menunjukkan bahwa produksi minuman anggur dimulai dari kawasan Georgia (dahulu Uni Soviet) dan Iran sekitar 6.000 sampai 5.000 tahun SM. Bukti lain yang berupa sisa-sisa bekas perasan buah anggur juga ditemukan di Macedonia dan beberapa wilayah di Eropa Timur.  Di Mesir, minuman anggur masuk dalam sejarah dan sangat berperan dalam ritual-ritual keagamaan masyarakatnya, demikian pula di Yunani dan Romawi. Pada masa Romawi dikembangkan teknik perkebunan anggurdan pembuatan serta penyimpanan minuman anggur. Pada masa itu pengapalan minuman anggur ke Eropa Barat dan beberapa negara Iainnya sudah dilakukan.

Kembali ke Mesir; muncul dugaan bahwa bir yang diproduksi pada masa Mesir Kuno tidaklah memabukkan. Menurut catatan, kandungan nutrisi bir Mesir cukup tinggi, mempunyai rasa yang manis, tanpa buih, dan sedikit kental (akibat banyaknya sisa bahan baku yang terlarut di dalamnya). Untuk meminumnya diperlukan semacam sedotan untuk menghindari kotoran ikut terminum. Penggunaan sedotan ini tampaknya merupakan invensi pertama penggunaan sedotan (straw) di dunia. Namun menurut catatan pengembara Yunani yang mengunjungi Mesir saat itu, bir Mesir ternyata cukup memabukkan. la juga mencatat tingginya apresiasi masyarakat Mesir terhadap minuman ini, terbukti dengan munculnya Dewa Bir, yaitu Bast, Sekhmet, Hathor, dan Tenemit.

Dalam banyak catatan dilaporkan bahwa Mesir pada masa itu mengalami banyak masalah sosial akibat kebiasaan masyarakatnya minum alkohol. Di Babilonia tampaknya juga terjadi masalah yang sama.

Akhirnya, dibuatlah suatu produk hukum yang mengatur operasional rumah minum, semacam bar pada masa sekarang. Ini adalah produk hukum pertama yang berkaitan dengan pengaturan rumah minum.

Seperti di Mesir, dalam rangka mengapresiasi minuman anggur bangsa Romawi mempunyai seorang dewa anggur, tepatnya dewa minuman anggur alias wine, yaitu Dionysus atau Bachus. Banyak literatur Yunani memperingatkan bahaya mengkonsumsi minuman anggur dalam jumlah banyak terhadap kesehatan dan penyimpangan perilaku sosial dalam masyarakat.

Industri serupa juga ditemui di India. Produk minuman beralkohol di wilayah ini banyak dikonsumsi pada 3.000-2.000 SM. Sura adalah nama yang disematkan kepada minuman beralkohol hasil fermentasi campuran beras, gandum, gula palem, anggur, dan buah-buahan Iainnya. Dalam perjalanan sejarah bangsa ini telah ditulis pula beberapa tulisan mengenai untung-rugi mengkonsumsi minuman beralkohol.

Minuman beralkohol juga sangat disukai di kawasan Babylonia pada permulaan 2.700 tahun SM. Mereka pun mempunyai dewa wanita yang dikaitkan dengan produksi minuman beralkohol ini. Pada 1.750 SM terbitlah Kode Hammurabi, semacam undang-undang yang memuat aturan mengenai minuman beralkohol. Kode ini hanya memuat aturan mengenai perdagangan yang adil dalam pasar minuman beralkohol, dan tidak sama sekali bermaksud mengatur hukuman bagi mereka yang mabuk.

Minuman ini dikenal luas di Yunani pada 1.700 SM. Seperti di tempat lainnya minuman ini dikaitkan oleh masyarakat Yunani dengan ritual keagamaan. Di sana minuman ini adalah ekspresi keramahan, dikaitkan dengan pengobatan dan kesehatan, serta dijadikan bagian dari ritual makan sehari-hari. Para filosof terkenal tidak satu kata dalam mengomentari minuman ini. Plato di satu sisi menyatakan bahwa meminum anggur dalam jumlah yang sesuai memiliki efek yang sangat positif bagi kesehatan dan kebahagian, namun di sisi yang lain ia mengkritik keras para pemabuk. Hippocrates mencatat banyak poin mengenai manfaat positif minuman anggur bagi kesehatan. Sementara Aristoteles, sebagaimana gurunya, melontarkan kritik keras terhadap para pemabuk.

Penduduk asli benua Amerika juga jauh-jauh hari sudah mengetahui metode pembuatan minuman beralkohol. Beberapa jenis minuman beralkohol di sana mulai diproduksi sejak tahun 200 M. Nama dan bahan dasarnya  beragam, dari buah (nanas), serangga, kulit pohon, madu, jagung, singkong, hingga tuak dari buah palem. Tidak saja di Amerika, beberapa suku kuno yang hidup di gurun Sahara, Afrika, juga terkenal dengan produksi minuman beralkoholnya. Bahan yang mereka gunakan umumnya berupa biji-bijian, seperti jawawut, sorgum, atau milet. Pada masa yang lebih kini, biji-bijian tersebut diganti dengan bahan jagung atau singkong.

Konsumsi anggur mulai populer di Barat pada abad 15. Banyak sekte-sekte keagamaan saat itu, seperti Gereja Kristen dan penganut Islam, menolak produksi dan konsumsi minuman beralkohol ini. Akan tetapi para ilmuwan muslim, seperti Geber alias Jābir bin Ḥayyān, berhasil mengembangkan cara distilasi minuman anggur yang selanjutnya digunakan untuk memproduksi minyak wangi dan produk-produk kesehatan.

 

Teknologi Pembuatan Minuman Beralkohol

Dalam beberapa dinding makam di Mesir tergambar jelas bagaimana masyarakat Mesir Kuno membuat bir. Metode yang ada dalam gambaran itu mirip dengan apa yang masih dilakukan masyarakat Sudan saat ini. Kegiatan produksi ini pada dasarnya dikategorikan sebagai pekerjaan wanita, karena kegiatan ini berkaitan dengan pembuatan roti—bahan dasar bir adalah roti yang dibuat secara khusus untuk itu.

Minuman anggur beralkohol sudah menjadi produk penting pada berbagai upacara di Mesir Kuno. Sebuah industri penyulingan anggur didirikan di delta sungai Nil pasca-pengenalan tanaman anggur dari Levant ke Mesir pada 3.000 tahun SM. Industri ini kemungkinan sebagai akibat adanya hubungan dagang antara Mesir dan Kan’aan pada permulaan Masa Perunggu.

Distilasi untuk memperoleh alkohol sudah dikenal para ahli kimia Islam pada abad ke—8. Larangan meminum cairan beralkohol tidak menghentikan mereka untuk mempelajari dan menyempurnakan cara melakukan distilasi. Jābir bin Ḥayyān (721—815) dalam bukunya, Kitāb Ikhrāj Mā fil Quwwah ilal Fi‘l, merupakan referensi pertama terkait cairan yang dapat dibakar. Di sana ia menulis, dan api yang menyala di atas mulut botol yang disebabkan oleh anggur dan garam yang dididihkan. Dalam perkembangan selanjutnya ia juga menguraikan teknik pendinginan yang dapat diaplikasikan dalam proses distilasi alkohol. Di antara para kimiawan terkenal, nama al-Kindi adalah salah satu yang tidak dapat dilupakan. Dialah yang menulis buku Kitāb at-Taraffuq fil-‘Ir, yang di kemudian hari dikenal dengan nama The Book of the Chemistry of Perfume and Distillation.

Dalam pustaka kuno Arab, alkohol dikenal dengan sebagai “anggur yang didistilasi” (distilled wine, مصعّد خمر). Istilah ini kini mulai ditinggalkan, tergeser oleh penggunaan istilah baru ‘araq yang awalnya berarti “keringat”. Kata yang disebut terakhir ini kemungkinan dipilih karena saat terjadi pengembunan pada proses distilasi, butiran air yang menempel pada bejana distiler mirip dengan butiran keringat. Istilah lainnya yang juga menunjuk pada alkohol adalah mā‘ul-ḥayāt (ماء الحياة), air kehidupan. Nama yang bermakna sama, yakni aqua vitae, juga digunakan di Eropa saat teknik distilasi ini ditransfer ke Eropa pada abad 13 dan 14. Bahkan istilah ini banyak muncul dalam puisi-puisi saat itu.

Suriah, Irak, dan Mesir dikenal dengan produksi minuman anggurnya saat itu, yang kebanyakan diproduksi oleh masyarakat Kristen di banyak biara Kristen di wilayah ini. Toko minuman anggur yang dikelola masyarakat nonmuslim banyak bermunculan di kota-kota seperti Bagdad dan Kairo. Pada abad 14 minuman ini diekspor ke Eropa. Catatan menunjukan bahwa alkohol dan air mawar banyak di ekspor dari wilayah-wilayah Mediterania menuju Eropa dan negara-negara lainnya. Bersamaan dengan itu nama ‎‘araq mulai digunakan di banyak kawasan yang berpenduduk mayoritas muslim dan di sebagian Asia, meski dengan tambahan atau pengurangan sesuai dialek setempat—arak, araka, araki, rak, dan sebagainya.

Telah disebutkan bahwa teknik distilasi juga dilakukan untuk memproduksi cairan non-alkohol, misalnya air mawar. Salah satu buku menunjukkan gambaran teknis mengenai alat distilasi yang dibuat di Damaskus pada abad 13. Menurut banyak sejarawan, dalam beberapa abad Bangsa Arab dikenal sebagai pembuat minyak wangi yang hebat. Bunga favorit mereka, mawar, telah mereka ekstrak dan proses menjadi air mawar yang digemari dunia sampai saat ini. Air mawar sampai ke Eropa bersamaan dengan Perang salib. Kala itu Damaskus adalah kota penghasil air mawar terbesar, yang diekspor ke Eropa. Menurut catatan, air mawar berkualitas terbaik berasal dari kota Jur, dan diekspor ke Byzantium, Romawi, Perancis dan Eropa Barat, serta India dan China.

 

Khamar: Antara Najis dan Tidak

Apakah khamar yang berupa zat alkohol termasuk najis, merupakan tema yang masih diperdebatkan para ulama. Sebagian ulama menyatakan bahwa sebagai zat, alkohol tidaklah najis. Yang najis, lanjut mereka, adalah apa yang terkandung di dalamnya (ma‘nawi). Perdebatan ini dipicu nihilnya dalil yang menajiskan khamar. Bila tidak ada dalil yang menyatakan demikian maka khamar adalah suci. Lagipula, tidak semua barang yang haram adalah najis. Dengan demikian, banyak ulama menyatakan bahwa selain untuk diminum, penggunaan alkohol untuk hal Iain adalah boleh. Pendapat ini diperkuat oleh apa yang dilakukan penduduk Medinah pasca-turunnya ayat yang mengharamkan khamar. Saat itu mereka menumpahkan khamar di jalan-jalan kota Medinah. Jika khamar adalah najis maka sudah barang tentu mereka tidak akan menumpahkannya di jalanan yang dilewati orang banyak. Lebih-lebih Rasulullah juga tidak memerintahkan sahabatnya untuk mencuci bejana bekas tempat khamar. Apabila khamar najis maka beliau pasti akan meminta mereka mencuci bejana-bejana itu seperti halnya beliau meminta mereka untuk mencuci wadah-wadah penyimpanan daging keledai jinak.

Keharaman khamar melekat dengan penyebabnya. Apabila penyebabnya itu hilang dengan sendirinya atau dihilangkan sehingga tidak lagi memiliki efek memabukkan, maka ia tidak lagi dihukumi haram dan tidak pula najis. Dengan demikian, alkohol, salah satu produk turunan khamar, adalah suci. Zat ini lazim digunakan dalam produksi obat-obatan modern dan industri lainnya. Mari kita resapi sabda Rasulullah berikut,

 

Sesungguhnya air itu (suci dan) tidak akan mampu dibuat najis oleh apa pun, kecuali jika berubah bau, rasa, dan warnanya. (Riwayat lbnu Mājah dari Abū Umāmah al-BāhiIi dengan sanad daif)

 

Adalah benar jika dikatakan bahwa penggalan kalimat “kecuali jika berubah bau, rasa, dan warnanya” diriwayatkan oleh sanad yang daif, demikian menurut al-AIbāni. Namun demikian para ulama sepakat mengamalkan bagian yang ini. Hadis ini menjelaskan bahwa bila sesuatu yang najis jatuh dalam air, dan najis itu tidak merubah kondisi air, maka air tersebut tetap suci. Demikian pula khamar; jika ia dicampurkan ke dalam cairan lain yang halal dan mempunyai volume yang banyak, dan khamar itu tidak mempengaruhi kondisi cairan tersebut, maka cairan tersebut tetap pada hukum asalnya, suci.

Lalu, berapakah kadar khamar yang dianggap haram, adalah pertanyaan yang Rasulullah jawab dalam sabdanya berikut,

 

Apa saja yang memabukkan adalah haram. Dan apa saja yang memabukkan jika diminum seukuran farq maka meminumnya seukuran telapak tangan tetap saja haram. (Riwayat Aḥmad, Abū Dāwūd , dan at-Tirmiżi dari ‘Ā’isyah)

 

Hadis ini menegaskan bahwa minuman yang berpotensi memabukkan bila diminum seukuran farq, maka minuman itu tetap dihukumi haram meski diminum seukuran telapak tangan. Maksud yang sama dapat pula kita temukan dalam hadis lainnya yang berbunyi,

 

Apapun yang jika dikonsumsi dalam jumlah banyak memabukkan, maka mengonsumsinya dalam jumlah sedikit tetap haram. (Riwayat Abū Dāwūd , at-Tirmiżi , dan Ibnu Mājah  dari Jābir bin ‘Abdullāh)

 

Hadis ini seringkali salah dipahami. Yang benar adalah bahwa apabila seseorang mengkonsumsi khamar sebanyak 10 botol, misalnya, dan ia mabuk, maka adalah haram pula apabila ia meminum satu botol saja dan tidak menjadi mabuk karenanya. Akan tetapi, hukum haram ini tidak berlaku bila zat yang memabukkan tadi, dalam kadar yang sangat sedikit, dicampur dengan zat lain yang jumlahnya sangat banyak. Jadi, dalam kasus seperti ini campuran khamar tersebut tidak membuat benda yang dicampurinya menjadi haram. Demikian pula yang terjadi dalam industri obat-obatan, makanan, dan parfum. Selama campuran itu tidak memabukkan dan tidak pula membuat apa yang dicampurinya berubah rasa, warna, maupun baunya, maka campuran alkohol tetap diperkenankan.

 

Penyebab Khamar Diharamkan

Haramnya khamar, seperti disinggung sebelumnya, bukanlah akibat kandungan alkohol di dalamnya, melainkan karena potensinya untuk membuat mabuk. Jadi, makanan dan minuman apa pun yang itu berpotensi memabukkan bila dikonsumsi oleh orang normal, dalam artian bukan mereka yang terbiasa mengkonsumsinya, maka ia termasuk kategori khamar. Menyikapi keharaman khamar, seorang muslim harus menafsirkan ayat-ayat Alquran yang mengharamkan konsumsi khamar sebagai motivator baginya untuk menjauhi segala hal yang memabukkan: anggur, bir, wiski, bahkan bahan beralkohol yang biasa digunakan untuk campuran masakan. Dengan alasan itu pula kita bisa mengkategorikan narkoba sebagai zat yang mutlak haram. Betapa tidak, narkoba malah dapat menghasilkan efek memabukkan yang jauh lebih hebat ketimbang khamar. Narkoba mengakibatkan hilangnya kesadaran, menurunkan tingkat kesehatan, bahkan lebih dari itu ia tidak jarang mendorong pecandunya untuk berbuat kriminal, misalnya mencuri, merampok, dan semisalnya, karena ketagihan.

Khamar,lebih tegasnya minuman keras, telah banyak diteliti efeknya bagi manusia. Alkohol timbul secara alamiah dari karbohidrat ketika sekelompok jasad renik tertentu melakukan metabolisme terhadap bahan tersebut tanpa kehadiran unsur oksigen. Proses demikian ini dinamakan fermentasi. Kadar alkohol hasil fermentasi berbeda-beda sesuai proses dan banyaknya bahan yang digunakan. Anggur, misalnya, memiliki kandungan alkohol antara 8—14%, sedangkan bir hanya sebanyak 4—6%.

Memang, penelitian belakangan ini menunjukkan bahwa meminum alkohol dalam kadar sedikit dapat memberi efek positif pada sistem urat darah di jantung. Secara umum, bagi orang sehat, segelas minuman beralkohol per hari bagi wanita dan dua gelas bagi laki-laki, akan membuat urat darah jantung bekerja lebih efektif. Alkohol yang kita minum akan cepat diserap oleh tubuh. Tidak seperti makanan, alkohol tidak melewati proses pencernaan karena begitu saja diserap tubuh. la memperoleh perlakuan eksklusif oleh tubuh. Sekitar 20% alkohol diserap langsung oleh dinding usus dari lambung yang kosong, dan mencapai otak dalam waktu satu menit saja.

Begitu mencapai lambung, alkohol akan dipecah oleh enzim pemecah alkohol (alcohol dehydrogenase enzyme). Proses ini mengurangi kadar alkohol yang akan diserap darah sampai dengan 20%. Tubuh wanita hanya sedikit memproduksi enzim ini. Itulah mengapa wanita lebih cepat mabuk daripada pria. Sebagai tambahan, 10% kadar alkohol menguap melalui proses pernapasan dan dikeluarkan melalui air kencing.

Alkohol diserap dengan cepat di bagian atas usus kecil. Darah yang dipenuhi alkohol kemudian mengalir ke hati dan mempengaruhi setiap sel yang ada hati. Sel hati adalah satu-satunya sel di tubuh manusia yang dapat menghasilkan sel pemecah alkohol. Apabila dikonsumsi dalam jumlah besar, alkohol akan mengakibatkan kerusakan pada hampir semua sel yang ada di organ tubuh manusia. Yang paling parah menerima akibatnya adalah sel hati. Sel hati umumnya memperoleh energi dari asam lemak. Sisa asam lemak yang telah digunakan, dalam bentuk trigliserida, disalurkan ke organ lain untuk dimanfaatkan. Dengan kehadiran alkohol di dalam sel hati, hati akan bekerja keras memecah alkohol. Asam lemak akan dibiarkan mengendap, dan lama-kelamaan endapan asam lemak itu makin banyak. Dalam kondisi demikian, kemampuan sel hati akan turun secara permanen, dan pada akhirnya tidak lagi mampu memecah lemak. Proses yang demikian ini menjelaskan mengapa organ hati peminum alkohol terselimuti oleh lemak.

Dalam satu jam hati mampu memetabolisasi setengah ons alkohol. Bila alkohol dikonsumsi dalam jumlah yang melebihi itu maka alkohol akan tetap berada di dalam darah hingga hati mempunyai kesempatan untuk memecahnya kemudian.

Seperti disinggung sebelumnya, dampak yang pertama kali bakal dirasakan para peminum alkohol adalah kerusakan hati. Sel hati yang terselimuti lemak akan sulit bekerja secara normal. Hal ini mengakibatkan penurunan kesehatan secara keseluruhan akibat menurunnya pasokan oksigen dan nutrisi ke sel hati. Akibatnya, banyak sel hati akan mati. Kondisi ini bila berlangsung cukup lama akan membuat sel-sel hati yang mati tadi membentuk semacam untaian benang yang banyak (disebut fibrosis, stadium kedua kerusakan sel hati). Pada stadium ini, apabila konsumsi alkohol dihentikan maka regenerasi beberapa sel hati masih mungkin terjadi. Namun apabila kerusakan sel hati sudah sampai pada stadium selanjutnya, disebut cirrhosis, maka sel hati tidak Iagi dapat beregenerasi.

Pada para peminum kelas menengah, kebiasaan minum alkohol tidak akan mempengaruhi asupan makanan. Bahkan pada beberapa kasus kansumsi alkohol justru meningkatkan nafsu makan.  Sebaliknya, pada para peminum kelas berat, kebiasaan minum alkohol akan menekan nafsu makan bahkan menghilangkannya sama sekali. Itulah mengapa mereka jarang sekali makan, yang itu berpotensi mengakibatkan malnutrisi. Adalah tidak salah jika dikatakan alkohol kaya akan energi. Kandungannya mencapai 7 kalori per gram. Akan tetapi, seperti pada gula dan lemak, kalori dalam alkohol tidak memiliki kandungan nutrisi. Itulah sebabnya para peminum kelas berat tetap merasa berenergi meski tidak memperoleh asupan nutrisi. Hal inilah yang pada akhirnya mengakibatkan malnutrisi. Selain berujung malnutrisi, konsumsi alkohol juga dapat mendatangkan dampak-dampak buruk bagi kesehatan.

Leave a Reply

Close Menu