KEMUNGKINAN YANG TIDAK MUNGKIN: SEBAB-SEBAB ‎ILAHI DI ALAM

KEMUNGKINAN YANG TIDAK MUNGKIN: SEBAB-SEBAB ‎ILAHI DI ALAM

Wacana: Philip Clayton

Tampaknya, ilmu-ilmu alam sama sekali tidak memberikan tempat bagi tindakan ilahi. Ilmu pengetahuan modern mengandaikan bahwa alam semesta adalah sebuah sistem fisik yang tertutup, interaksinya bersifat teratur dan tampak mengikuti suatu hukum tertentu, serta semua sejarah kausal bisa dirunut ke belakang. Diandaikan pula bahwa pada akhirnya, semua anomali akan mendapatkan penjelasan ilmiah. Namun, semua pernyataan tradisional tentang Tuhan yang bertindak di alam bertentangan dengan kondisi-kondisi tersebut. Pertanyaan-pertanyaan itu mengandaikan bahwa alam semesta bersifat terbuka, bahwa tuhan bertindak dari waktu ke waktu sesuai dengan  tujuan-Nya, bahwa sumber dan penjelasan ultimat dari semua tindakan ini adalah kehendak illahi, dan bahwa tidak ada satu pun pemikiran makhluk fana yang bisa mamadai untuk menjelaskan kehendak Tuhan ini.

Selain itu, kita harus waspada terhadap pengertian ganda: makna kata “sebab” yang berupa katalisator reaksi kimia dan yang berupa Tuhan yang menjaga alam semesta sangatlah berbeda sehingga mungkin istilah yang sama sebaiknya tidak dipakai untuk mengungkapkan kedua klaim ini. Hanya jika kita bisa memberikan penjelasan yang lebih panjang lebar mengenai sifat-sifat kausal yang sama-sama dimiliki reaksi kimia dak keilahian, barulah kita bisa memahami klaim-klaim orang Islam, Kristen, atau Yahudi mengenai tindakan llahi di dunia ini.

Oleh karena itu, di masa kini, masalah tindakan llahi menjadi pusat perhatian kaum teis. Secara lebih khusus, orang-orang Islam  dan Kristen secara tradisional memgang teguh pandangan yang dengan tegas menyatakan bahwa Tuhan atau Allah bertindak di dalam tatanan alam. Akan tetapi, bagaimana kita bisa menyatakan bahwa peristiwa-peristiwa kausal itu datang dari Tuhan kita, jika ilmu pengetahuan tampak-nya sudah bisa sepenuhnya menjelaskan setiap peristiwa di dalam dunia alam? Sumber konseptual apakah yang memungkinkan orang beriman untuk mangakui kemampuan ilmu pengetahuan tanpa mereduksikan llahi menjadi “tuhan pengisi celah [celah yang hanya  sedikit tersisah]? ” saya andaikan di sini, yang hampir tidak bisa ditolak oleh siapa pun, bahwa ilmu pengetahuan sudah sangat berhasil menjelaskan semua peristiwa yang berlangsung di dunia alam. Kita tidak bisa sembarangan menjelaskan penyebab semua peristiwa fisika dan kimia; penjelasan-penejalasan ilmiah yang terbukti dengan baik bukanlah sekadar “salah satu dari banyak penjelasan “. Ini tidak berarti kita menyangkal bahwa teori-teori itu mengalami perubahan dan ada yang akan terbukti salah. Akan tetapi, bisa dipastikan bahwa walaupun sebuah teori mungkin akan mangalami revisi di masa depan, tidak berarti teori ini berada pada tataran yang sama dengan kajian-kajian lain mengenai gejala-gejala di masa kini.

 

Tantangan Kaum Determinis

Masalahnya bukan hanya bahwa ilmu pengetahuan lebih mendukung sebab-sebab non-llahi. Masalah yang lebih serius lagi, ilmu-ilmu fisika mensyaratkan adanya ketertutupan kausal. Sebuah sistem fisik haruslah bersifat tertutup agar perhitungan dan prediksi fisik bisa dimungkinkan. Salah satu prinsip pokok dalam fisika adalah prinsip kekekalan energi. Jika kita tidak bisa mengandaikan bahwa energi total dari sebuah sistem tetap konstan atau paling tidak mengetahui secara pasti kuantitas energi yang dimasukkan ke dalamnya dalam waktu tertentu, maka hanya sedikit, atau bahkan tidak ada sama sekali, yang kita ketahui tentang sistem itu.

Apabila persyaratan-persyaratan ini disatukan, kita akan mendapatkan prinsip determinisme kausal atau determinisme fisik. Seperti yang dikatakan William James, determinisme ‘menyatakan bahwa bagian-bagian alam semesta yang sudah ada akan menentukan secara pasti keadaan bagian-bagian berikutnya. Masa depan tidak mengandung kemungkinan-kemungkinan yang tidak pasti: bagian yang kita sebut sebagai masa kini itu hanya sesuai dengan satu totalitas”. Determinisme sebab-sebab fisik ini melibatkan klaim bahwa keadaan fisik dunia pada satu waktu tertentu menentukan seluruh masa depan dari keadaan fisik dunia itu. Maka, determinisme ini adalah sebuah modal notion karea menyangkal bahwa secara fisik dimungkinkan bahwa situasi dunia masa kini akan menimbulkan lebih dari satu keadaan di masa depan.

Pada dasarnya, determinisme fisik merupakan klaim tentang kausalitas, yaitu klaim yang terutama mengatakan bahwa segala sesuatu yang terjadi merupakan efek yang niscaya dari semua sebab yang anteseden (mendahului). Hal ini mensyaratkan adanya rankai rantai kausal yang utuh; tidak ada sebab yang berdiri sendiri dan lebih fundamental dibandingkan dengan sebab-sebab lainnya. Sebagai contoh, baik gen dalam lingkungan bioologi maupun kehendak dalam lingkungan psikologi, tidak satu pun yang bisa dianggap sebagai faktor penentu “rill” tanpa merujuk ke sebab yang mendahuluinya secara kausal. Pada saat yang sama, paham ini mengklaim bahwa semua kejadian fisik mengikuti hukum tertentu: alam semesta bersifat sedemikian rupa sehingga satu kumpulan peristiwa fisik tertentu akan menimbulkan satu kumpulan peristiwa fisik saja.

Segala versi determinisme menerima tesis ontologis bahwa keadaan alam semesta sampai saat ini, dan termasuk saat sekarang yaitu t, menentukan keadaan alam semesta pada saat berikutna. Akan tetapi, tantangan terhadap kaum teis dirumitkan dengan fakta bahwa tesis ontologis biasanya melahirkan tesis epistemologis: bahwa keadaan masa depan bisa diramalka jika kita memiliki cukup pengetahuan tentang masa lalu dan masa kini. Versinya yang paling terkenal diungkapkan oleh tesis Laplace bahwa semua peristiwa masa depan dan masa lalu bisa diramalkan jika kita mengentahui secara lengkap keadaan masa kini:

Suatu entitas cerdas yang pada satu saat tertentu mengetahui semua gaya yang bekerja di alam, serta poisi semua benda yang ada di alam semesta pada saat itu, akan mampu memahami pergerakan benda terbesar maupun atom terkecil di alam semesta ini dengan satu rumus saja, asalkan rumus itu memadai untuk menganalisis semua data itu. Baginya tidak ada yang tidak pasti; baik massa depan maupun masa lalu tampak jelas didepan matanya.

Dengan menggunakan (sering secara sembunyi-sembunyi) apa yang saya sebut sebagai tesis epistemologis, perdebatan tentang determinisme sering berubah menjadi perdebatan tentang apa yang mungkin secara fisik. Dalam pengertian luas, secara fisik dimungkinkan bahwa ada satu pelaku llahi seuatu pelaku yang tak memiliki tubuh dan sama sekali terpisah dari dunia kita ini. Akan tetapi, tampaknya, tindakan pelaku ini tidak bisa ditinjau secara ilmiah, karena yang bisa diamati oleh para pengamat hanyala anomali-anomali dalam urutan kausal yang berlangsung di dunia. Meskipun demikian, dalam penafsiran yang lebih ketat, eksistensi suatu pelaku llahi akan dipandang tidak mungkin secara fisik, karena entitas ini bukan suatu benda fisik. Jika penafsiran ini benar, teisme dna determinisme fisik tidak akan cocok satu sama lain. Secara jujur harus diakui bahwa ilmu pengetahuan modern mengandaikan salah satu dari kedua penafsiran ini; dan secara keseluruhan, yang lebih dominan adalah pandangan yang lebih ketat ini.

Didasarkan atas hal-hal inilah, sebagai contoh “sintesis baru” dalam biologi evolusioner, menjadi tantangan serius bagi teisme. Evolusi mensyaratkan bahwa kekuatan kausal dari luar tidak bisa dianggap bertangung jawab atas perkembangan sistem yang lebih kompleks dan bentuk-bentuk kehidupan; variasi genetis yang berlangsung acak dan retensi (penyimpanan) selektif pada lingkungan merupakan satu-satunya determinan (penentu) kausal dari proses evolusi ini. Teisme mensyaratkan bahwa perkembangan itu adalah kehendak Tuhan, sehingga dalam makna tertentu Tuhan bertangung jawab atas hasil evolusi ini. beberapa biolog kristen, salah satunya adalah Arthur Peacocke, berpendapat bahwa Tuhan bisa saja memulai proses evolusi kosmik dengan mengetahui bahwa evolusi itu akan menghasilkan suatu kehidupan yang berkesadaran, tanpa ia melakukan campur tangan lebih jauh. Akan tetapi, pandangan ini berhadapan dengan sebuah dilema: bisa jadi perkembangan kehidupan itu merupakan konsekuensi niscaya dari Dentuman Besar (yang tampaknya kurang mungkin bila kita lihat ketidakpastian kauntum yang menyertainya); atau Tuhan sedah siap melakukan intervensi, dan mungkin sudah melakukannya, agar kehidupan berkesadaran bisa muncul (dan hal ini bertentangan dengan sikap “lepas tangan”). Paling tidak, sekilas sikap ini tampak seperti gencatan senjata: evolusi tidak cocok dengan teisme dan penyelenggaraan ilahi, atau iden tentang tindakan llahi di dunia ini tidak akan cocok dengan evolusi.

 

Diperlukan: Teori Baru tentang Penyebaban

Tantangan yang telah kita bahas di atas menuntut agar para teolog memikirkan ulang topik tindakan llahi, karena sarana dan konsep yang mereka warisi tidak lagi mencukupi untuk membuat ide tentang kehendak llahi bisa masuk akal dalam zaman ilmu pengetahuan. Dalam kata-kata yang lebih lugas, para teolog harus memilih antara menerima bahwa Tuhan hanya betindak seperti perancang Awal saja: ia menciptakan mesin yang ditala dengan saksama dan kemudian membiarkannya berjalan sendiri sesuai dengan rancangan-Nya, atau Tuhan sebagai “tukang Reparasi”: mesin yang tidak sempurna membuat Tuhan dari waktu ke waktu harus memperbaiki kesalahan yang dibuat-Nya saat menciptakan alam semesta seperti tukang reparasi almari es. Meskipun bukan tidak mungkin, tampaknya agak sulit untuk mengembangkan sebuah perspektif alternatif yang memungkinkan kita, beriringan dengan jejaring penjelasan ilmiah, membicarakan sebuah sistem kausal yang “berbeda tetapi setara”, yang juga merupakan pembentuk dari semua peristiwa fisik yang berlangsung di dunia.

Telah banyak dilakukan upaya untuk menanggapi tantangan ini. Ada yang melihat peluang untuk menemukan jawaban dalam ketidatentuan kuantum. Mereka berpendapat bahwa mungkin dunia fisik sepenuhnya mengikuti aturan hukum tertentu, dan bahkan tertutup secarar fisik (yaitu energi totalnya tetap konstan). Akan tetapi, fisika kuantum, paling tidak menurut interprestasi Copenhagen, menyingkapkan sebuah dunia yang pada dasarnya bersifat tak tentu dan sekaligus patuh pada satu hukum tertentu: peristiwa-peristiwa sub-atom yang tak teramati tidak memiliki lokasi dan momentum yang pasti, dan hukum-hukum probabilistik memberikan kesempatan munculnya peristiwa kebetulan. Jadi, tampaknya signifikasi bahwa dari kondisi awal yang sama, mekanika kuantum memberikan kesempatan munculnya keluaran yang tidak tunggal, karena ini memberikan kesempatan pengaruh top-down atau dari atas ke bawah (hal ini akan dibahas lebih lanjut di bawah). Meskipun demikian, hukum-hukum “stokkastik” (berhubungan dengan variabel yang acak) atau probabilistik masih sah sebagai hukum. Hukum-hukum itu mungkin tidak menentukan kasus individu per individu, tetapi mencerminkan determinisme fisik dari pola keseluruhan. Demikian juga, hukum ini sama sekali tidak membahas pelaku (agen) dan kebebabasan si pelaku. Dengan demikian, hukum seperti itu tidak bisa memaknai secara lebih memuaskan perbuatan-bebas (free action) yang konter-faktual yang tampaknya diperlukan kaum teis untuk mempertahankan pandangan mereka.

Kekurangan ini mengakibatkan sebagian orang mengajukan pandangan yang sangat dualis tentang penyebaban mental dari dunia sebab-fisik (the word of physical cause). Beberapa dari jenis penyebaban non fisik adalah “ penyebaban pelaku” (agent causation) menurut Richard taylor dan penyebaban –llahi-yang-menyeluruh (“pelaku ganda”) menururt Austin Farrel. Pendekatan semacam ini mengajukan sebab-sebab mental atau lllahi yang memengaruhi hasil tanpa memasukkan energi kedalam dunia fisik. Tentu saja pandangans semacam ini memberikan kesempatan akan kepelakuan (agensi) yang penuh dari manusia dan llahi. Sayangnya, pandangan ini tidak mudah diintergrasikan dengan ilmu-ilmu fisik sebagaimana kita pahami sekarang, dan beberapa dari versinya bahkan bertentangan dengan pengambaran fisik tentng dunia.

Akan tetapi, bagaimana dengan kepelakuan manusia? Apakah manusia tidak memiliki kehendak bebas: “sebatang tongkat menggerakkan sebuah batu, dan digerakkan oleh tangan, yang digerakkan oleh seorang manusia”. kaum teis sering berpendapat bahwa karena manusia bebas, maka Tuhan bisa bertindak di dunia. Jika manusia bisa memutus rantai penyebaban fisik, tidaklah tuhan lebih sanggup melakukannya? Akan tetapi, kehendak bebas bukanlah sebuah kartu truf sebagaimana yang diduga. Pandangan dominan dalam filsafat adalah kompatibilisisme, yaitu pandangan yang mengatakan bahwa determinisme fisik itu sesuai dengan kepelakuan manusia dan tanggung jawab moral. Sebagai contoh, sistem hukum Amerika Serikat menggangap para individu bertanggung jawab jika mereka memiliki kehendak dan kemudian melaksanakan tindakan melawan hukum (misalnya membunuh), walaupun kehendak itu ditentukan oleh sebab-sebab yang muncul sebelumnya. Menurut kompatibilisisme, tindakan pelaku mencerminkan wataknya; maka, di sini tidak relevan apakah watak ini, yang berarti tindakan itu sendiri, ditentukan oleh sebab-sebab yang mendahuluinya. Mungkin “perasaan” bahwa diri kita bebas adalah keliru, karena bahkan suatu kehendak yang sepenuhnya ditentukan dari luar, masih mungkin membayangkan (secara keliru) bahwa dirinya sepenuhnya bebas. Akhirnya, banyak ilmuwan yang berpendapat bahwa neurosains mengandaikan (atau lebih radikal: telah membuktikan) bahwa satu-satunya pelaku kausal bersifat fisik; selain keadaan otak dan tanggapan tubuh, tidak ada “pelaku”.

Jelas, ada tugas mendesak bagi para teolog untuk memberikan kajian yang terang tentang maksud pernyataan mereka bahwa Tuhan teus aktif di dalam dunia. Agar bisa menyelesaikan tugas ini, kita membutuhkan sebuah teori-penyebaban yang baru. Bab ini menawarkan gambaran awal mengenai teori semacam itu. Argumen untuk mendukungnya terbagi menjadi 3 bagian utama:

  1. Pertama-tama, saya akui bahwa kita tidak bisa menghilangkan kemungkinan bahwa argumen yang dikemukakan akan menjadi kabur, selama teori penyebaban hanya mencakup sebab-sebab fisik dan llahi; inin karena kesenjangannya terlalu jauh. Sebaliknya, jika di dalam alam kita mendapatkan bukti adanya sebab-sebab yang sangat beragam jenis, kita bisa memperluas cakupan pengaruh kausal dengan memasukkan pula sumber-sumber supranatural. Bahkan, sebenarnya studi tentang alam memang mengungkapkan jenis-jenis tindakan kausal yang berbeda, mulai dari kausalitas Newtonian Klasik, gravitasi, pengaruh medan kuantum, “kendala holistik” pada sistem yang terintergrasi, dan seterusnya sampai ke peranan menyeluruh sebab-sebab mental dalam hidup manusia, seperti pemahaman Anda pada kalimat, “Hentikan membaca kalimat ini!”
  2. Muncul satu keberatan: Apakah pad akhirnya semua sebab kausal bisa dijelaskan dalam kerangka hukum dari realitas fisik yang secara mendasar berbeda dengan sebab-sebab llahi yang dikatakan datang dari sebuah sumber yang bebas dan transenden? Dalam bagian berikut, saya akan mencoba mengajukan berbagai bukti dan argumen yang sangat beragam yang melangkah lebih jauh daripada pengertian klasik tentang kausalitas fisik. Pada saat sekarang, semua ini mendorong kita untuk menerima (seperti yang juga disarankan oleh para filosof Islam Abad Pertengahan) bahwa genus “sebab” juga mencakup pengaruh-pengaruh selain yang bersifat mekanistik.
  3. Selanjutnya, bagian terakhir mernagkum semua hasil dari bagian sebelumnya, demi menuju sebuah teori yang sistematis tentang tindakan llahi. Tingkat-tingkat kausal yang muncul (emergent), yang mencerminkan struktur hierarkis di alam, bisa membantu memperjelas sifat-sifat tindakan llahi, meskipun tidak indentik dengannya. Perbedaan yang masih ada di antara penyebaban-natural dan penyebaban-supranatural memang merupakan beban yang terus-menerus menggelayuti pemikir Islam dan kristen pada zaman ilmu pengetahuan ini. meskipun demikian, dengan menggunakan teori penyebaban yang bercakupan cukup luas, beban ini bisa menjadi agak ringan.

Ini mrupakan pertanyaan yang sangat menantang bagi Islam dan Kristen. Rumuskan tradisional masih tetap menarik, tetapi rumusan ini berhadapan dengan masalah-masalah konseptual yang oleh sebagian pihak dikhawtirkan tidak bisa diatasi. Bisakah kita mengembangkan sebuah konsep yang bisa diterima secar ilmiah tentang emergence, yang kemudian bisa mengembalikan persona dunia ini dan membuat kita membicarakannya sebagai karya Tuhan yang terus berlanjut? Jika demikian halnya, seperti apakah “teologi gaya baru’ ini? Apakah kit juga akan menemukan yang llahi dalam “cahaya matahari terbenam, / Dan lautan yang luas serta udara yang hidup, / dan langit yang biru, serta dalam pikiran manusia “ (wordsworth)?

 

Kerangka Kerja Kemunculan (Emergence)

Untuk menyederhanakan masalah, kita bisa membicarakan empat transisi utama di dalam dunia alam yang membuktikan adanya fenomena kemunculan (emergence):

  1. Dari fisika fundamental ke sistem-sistem fisik dan kimiawi;
  2. Dari biokimia ke organisme dan ekosistem biologi yang rumit, termasuk evolusi kehidupan;
  3. Dari otak dan sistem saraf pusat ke gejala kesadaran atau “pikiran”;
  4. Munculnya ruh di dalam tatanan alam, termasuk pertanyaan tentang hakikat dan asl-usul puncaknya.

 

Kita hanya bisa memahami munculnya kehidupan, pikiran, dan ruh hanya jika kita sudah bisa mengembangkan pengertian yang lebih luas tentang pengaruh kausal yang didasarkan atas tingkat-tingkat kemunculan di dalam alam. Jika kita berhasil, maka pengertian ini akan menjadi cukup luas dan paling tidak bisa digunakan untuk memahami gagasan tentang aktivitas-penyebaban Tuhan di dalam dunia Ini.

Sebelum kita melangkah lebih jauh ke teori tentang kausalitas yang konstruktif, pertama kali kita harus meninjau sejarah konsep kemunculan kehidupan, dalam bidang-bidang ilmu yang pertama kali memunculkannya. Dalam sejarah filsafat Barat, konsep ini sudah ada sejak zaman Aristoteles. Penelitian biologi yang dilakukan Aristoteles membuatnya berpandangan bahwa prinsip pertumbuhan di dalam organisme bertangung jawab atas kualitas-kualitas atau bentuk yang muncul kemudian. Aristoteles menyebut prinsip ini sebagai entelchy, sebuah prinsip pertumbuhan dan kesempurnaan internal yang mengarahkan organisme tersebut untuk mengaktualisasikan kualitas-kualitas yang ada dalam dirinya, yang masih bersifat pontesial. Dalam pengertian ini, bentuk dewasa dari manusia atau binatang muncul dari bentuk awalnya. Pendapat Aristoteles yang cukup terkenal adalah bahwa ada empat jenis penyebaban yang diperlukan demi mejelaskan seluruh kompleksitas alam, beranjak dari fisika ke biologi dan kemudian ke psikologi. Kita tidak hanya memerlukan sebab “efisien” yang bekerja dari luar untuk menggerkan sesuatu atau mengakibatkan perubahan, tetapi juga sebab “materiil”, yang menunjukkan bagaimana materi suatu benda memberikan pengaruh padanya: sebab “formal” yang bekerja melalui bentuk internal yang ada dalam organisme tersebut; dan sebab “final” yang menarik (bisa dikatakan begitu) organisme itu ke arah telos (tujuan) akhir atau kesmpurnaannya.

Tidak berlebihan bila dikatakan bahwa Aristoteles berpengaruh sangat besar pada filsafat Hellenistik, Islam, dan Barat pada zaman pertengahan. Melalui Thomas Aquinas, yang oada abad ke-12 secara langsung menggunakan teori empat sebab dari Aristoteles ini, Pemikiran Aristoteles diusung ke dalam pusat teologi katolik Roma dan sampai sekarang menguasai pemikiran kaum Thomis, baik yang menyadarinya maupun yang tidak. Dalam hal ini, Aquinas besikeras bahwa setiap peristiwa tidak hanya melibatkan sebab efisien (yang menurut fisikawan masa kini merupakan satu-satunya sebab dari suatu peristiwa), tetapi juga sebab formal dan materiilnya, yaitu pengaruh dari materi dan forma terhadap hasil yang muncul. Dengan memasukkan teori “sebab final” Aristoteles ke dalam konteks teistik, Aquinas memeperkenalkan gagasan  bahwa tujuan Tuhan secara keseluruhan adalah satu dari daya-daya kausal pada setiap peistiwa. Dengan demikian, konsep penjelasan ini membuat tindakan penyebaban kausal llahi menjadi bagian dari setiap peristiwa yang berlangsung di bumi. Pengaruh Aristoteles, atau secara lebih umum filsafat alam Yunani, juga masih sangat dominan dalam kedoteran, biologi, dan geologi modern pada era awal. Bahkan, ketika Darwin memulai karyanya, sebenarnya hingga derajat tertentu, biologi masih dibawah pengaruh paradigma Aristoteles ini.

Dari keempat sebab ini, sebab final cukup penting bagi teologi dan hilangnya sebab ini sangat merugikan. Salah satu pembela paling canggih dari kalangan teolog kontemporer adalah Wolfhart Pannenberg. Dalam Bab 4 dari karyannya yang berjudul Theology and the jingdom of God, ia menggunakan pengertian penyebaban final yang cukup mendekati pengertian Aristotelin, dengan menyebutkan kekuatan masa depan sebagai pembentuk kausal atas setiap peristiwa. Adaptasi atau versi yang agak mirip dengan kausalitas final bisa dilihat dalam gagasan “godaan masa depan” dari Lewis Ford, yang mengambilnya dari Whitehead. Kita juga mengenali semangat Thomistik dalam teori-teori tentang karya llahi yang membedakan penyebaban primer dan sekunder secara tidak langsung dalam karya Austin Farrer, dan lebih langsung lagi dalam karya David Burrell. Pembelaan terhadap “penyebaban masa depan” semacam itu, dalam bentuk apa pun, tidak bisa begitu saja ditolak sebagai kegagalan dalam bidang metafisik. Meskipun demikian, gagasan-gagasan ini tidak terlalu banyak diterima, mungkin karena sebab final atau sebab masa depan bukanlah merupakan sebab kausal yang diterima oleh pandangan-dunia ilmiah yang berkuasa.

Perhatikan bahwa di samping strategi Aristotelin-Thomis, ada cara-cara lain yang diapakai untuk memasukkan gagasan pengaruh kausal llahi, misalnya teologi proses dan teologi emanasi. Doktrin emanasi paling tidak dalam bentuknya yang paling terkenal, yaitu bentuk Neoplatonis menyatakan bahwa seluruh hierarki ciptaan muncul dari yang satu. Selanjutnya, ciptaan mendaki lagi tangga derivasi untuk kembali kepada sumber ultimatnya. Model Neoplatonis ini, yang selalu ditanggapi dengan skeptis oleh teolog tradisional, memberi kesempatan munculnya gerakan diferensiasi dan kausalitas yang mengarah ke bawah dan gerakan peningkatan kesempurnaan yang megarah ke atas. Pada akhirnya, semakin sempit jarak dari sumber (secara prinsip) akan menghasilkan penyatuan mistik (kembali) dengan yang satu. Tidak seperti dunia yang bersifat statis, model emanasi memungkinkan munculnya gerakan mengalir ke atas dan ke bawah melalui berbagai spesies, yang juga berlangsung di antara dunia fisik, psikologis, dan intelektual. Dalam kasus-kasus ketika emanasi dipahami dalam pengertian temporal, doktrin emanasi menjadi anteseden yang penting bagi munculnya doktrin evolusi biologis atau universal.

Ketika ilmu pengetahuan masih berupa filsafat alam, kemunculan (emergence) memainkan peranan heuristik yang bersifat produktif. Meskipun demikian, setelah sekitar tahun 1850-an, teori-teori tentang kemunculan beberapa kali diterapkan secara tidak ilmiah, sebagai kerangka metafisis yang menghalangi kerja empiris. Contoh-contoh yang penting misalnya adalah teori neovitalis (misalnya teori entelechi dari H. Driesch) dan teori neo-idealis tentang saling keterhubungan semua makhluk (misalnya teori hubungan internal dari Bradley) yang muncul pada saat pengantian abad, serta spekulasi kaum Emergentisme Inggris pada 1920-an mengenai asal-usul pikiran. Dari kesalahan-kesalahan ini, kita bisa menderivasi kesimpulan dan kriteria yang cermat dalam pemakaian pengertian kemunculan. Selain itu, spekulasi tidak pernah boleh menggantikan ilmu-ilmu empiris; sebaliknya, spekulasi akan melengkapi ilmu pengetahuan jika muncul pertanyaan yang bersifat lebih luas. Konsep kemunculan itu berguna bukan sebagai sebuah metafisika yang, dari arah luar, diterapkan pada ilmu pengetahuan, melainkan sebagai hasil-hasil induktif yang muncul dari telaah yang cermat atas ilmu pengetahuan itu sendiri.

 

Mekanika Kuantum dan Masalah Penyebaban

Sering dikatakan bahwa perkembangan mekanika kuantum telah mengubah pemahaman kita mengenai hubungan-hubungan kausal di dunia. Pada satu sisi, hal ini benar: ungkapan fisika kuantum mengenai berbagai jenis pengaruh kausal sangat asing bagi fisika Newtonian. Dalam pengertian lain, seperti yang akan kita lihat, fisika kuantum sendiri tidak sepenuhnya berhasil melampaui kerangka sebab-sebab fisik sehingga bisa membantu kita memecahkan teka-teki tindakan kausal Tuhan paling tidak sebelum digantikan oleh teori kemunculan yang lebih luas.

Sebagai contoh, tinjauan sikap Werner Heisenberg yang menjelaskan interpretasi Copenhagen dengan menggunakan pandangan yang secara mendasar bersifat Aristotelin atas mekanika kuantum. Heisenberg yakin bahwa ketidakpastian kuantum adalah seperti dunia yang diuraikan Aristoteles. Di dalam dunia ini, salah satu dari banyak keadaan-pontesial yang dipresentasikan oleh fungsi gelombang, menjadi aktual pada saat pengukuran dilakukan. Berdasarkan penafsiran mekanika kuantum seperti ubu, subjek berposisi sebagai semacam sebab final. Ia menarik satu keadaan potensial tertentu menjadi eksistensi yang bersifat aktual melalui pengamatan yang dilakukannya. Perhatikan bahwa pandangan ini membalikkan posis fisika klasik (Newtonian), yang mensyaratkan bahwa pada akhirnya subjek ini bisa dijelaskan dalam kerangka hukum-hukum fisik.

Bagi para teoretikus Copenhagen secara lebih umum, bilamana pada sebuah peristiwa kuantum dilakukan pengukuran yang tertentu, maka keadaan makrofisika yang muncul diapahami demi membentuk sebuah distribusi probabilitas fisika kuantum serta keputusan peneliti tentang apa, kapan, dan bagaimana pengukuran dilakukan. Bahkan, dalam pandangan ini, pada satu sisi, subjek memegang peran utama: “dunia” hanya bersifat potensial sampai saat dilakukannya pengamatan, saat pengamat yang sadar mengubahnya menjadi sebuah keadaan aktual. Bentuk paling ekstrem dari sikap ini diusulkan misalnya oleh John Wheeler yang mengatakan bahwa seluruh alam semesta mungkin berada dalam keadaan potensialitas kuantum samapai saat munculnya pengamat pertama. Pada saat itu, alam semesta secara rektroaktif berubah menjadi struktur-struktur makrofisika seperti bintang, planet, dan sejenisnya. Bahkan, pada satu saat, Wheeler menerapkan logikanya ini secara regresif sampai pada saat penciptaan alam semesta:

Apakah mekanisme terciptanya alam  semesta tidak akan bermakna atau tidak akan dapat berjalan atau kedua-duanya, kecuali jika alam semesta dijamin akan menghasilkan kehidupan, kesadaran, dan makhluk yang melakukan pengamatan atas alam semesta itu, di suatu segmen masa di satu tempat dalam perjalanan sejarahnya nanti? Prinsip kuantum menunjukkan adanya kemungkinan bahwa apa yang akan dilakukan oleh seorang pengamat di masa depan, menentukan apa yang terjadi di masa lalu, bahkan masa lalu yang sedemikian jauh sehingga pada saat  itu kehidupan belum muncul, dan menunjukkan lebih jauh lagi bahwa “kepengamatan” (observership) merupakan prasyarat munculnya berbagai versi yang berguna dari “realitas”.

Perdebatan antara berbagai penafsiran mekanika kuantum belum lagi selesai. Ada alasan kuat bagi kita untuk bertanya-tanya, apakah perdebatan ini bisa diselesaikan hanya dengan menggunakan kerangka fisika saja. Perdebatan ini mencakup komponen-komponen yang jelas-jelas filosofis, termasuk, seperti yang akan saya tunjukkan di bawah, anggapan-anggapan mmetafisis yang krusial mengenai penyebaban. Orang-orang bersikukuh menjelaskan segala peristiwa di dunia dalam kerangka Aristoteles, menjustifikasi sikap mereka dengan menerima hampir semua penjelasan yang murni fisik, daripada penjelasan yang tampaknya mengarah ke sebab-sebab jenis lainnya. Karenannya, Dewitt memostulatkan berlangsungnya percabangan aktual alam semesta, sehingga alam semesta itu belipat ganda setiap kali ketidakpastian kuantum berubah menjadi keadaan makrofisika yang tertentu. Bagaimanapun, menurutnya kebergandaan alam semesta fisik yang tak terhitung banyaknya ini lebih baik dibandingkan jika memberikan kesempatan orang-orang untuk memperkenalkan satu jenis kausalitas baru (yaitu pilihan menusia) dalam ilmu pengetahuan. Sebaliknya, bagi orang-orang yang komitmen metafisis mereka memungkinkan dipostulatkannya sebab-sebab berbasis subjek atau berbasis kehendak (yaitu sebab final), akan menganggap strategi “banyak-dunia” dari DeWitt ini sebagai hinaan paling kasar terhadap prinsip kehati-hatian dalam memberikan penjelasan.

Selain itu, terdapat pula keberatan serius terhadap penafsiran mekanika kuantum yang berbasis-subjek. Keberatan-keberatan ini menunjukkan bahwa penafsiran seperti itu berlawanan dengan intuisi (yang paling terkenal mungkin adalah eksperimen kucing Schrodinger). Akan tetapi, faktanya selama 75 tahun terakhir, para tokoh ilmu fisika merasakan kebutuhan untuk bereksperimen dengan jenis-jenis pengaruh kausal lainnya, supaya bisa menjelaskan anomali-anomali yang ada di dalam dunia kuantum. Bahkan, melalui sebuah cara yang lain lagi, fisika kuantum belum lama ini menantang pengertian klasik tentang penyebaban. “partikel-terikat” (entangled particles) adalah partikel-partikel yang dipancarkan dari satu sumber yang sama dan mereka mempertahankan simetri tertentu walaupun terpisah jauh dalam ruang. Sebagai contoh, upaya mengukur spin (momentum angular dari sebuah partikel nuklir elementer) dari satu partikel terikat tertentu secara serentak akan membuat partikel lainnya menunjukkan nilai spin yang berkorespondensi meskipun pada saat pengukuran kedua partikel ini terpisah sejauh 10 kilometer. Karena penyebaban-efisien standar tidak bisa berjalan lebih cepat dari pada kecepatan cahaya, maka hasil-hasil ini secara radikal menyarankan satu jenis pengaruh atau hubungan yang sama sekali baru.

Perahatikan persyaratkan konseptual penting yang muncul pada titik ini. Teori tentang penyebaban dan ontologi saling berhubungan erat: data yang menantang penyebaban-efisien standar bisa ditafsirkan entah sebagai penyingkap satu jenis pengaruh-kausal yang lebih luas, atau sebagai penyingkap pandangan yang lebih holistik mengenai sistem yang dibahas (atau kedua-duanya). Secara empiris, fenomena keterikatan yang terdapat dalam fisika kuantum bisa dijelaskan baik sebagai terungkapnya satu jenis baru penyebaban-kausal atau menyarankan bahwa partikel-partikel terikat itu sebenarnya sebuah “objek”; setiap belahan objek tersebut terpisah sejauh 10 km. Maka, fenomena keterikatan juga disebut-sebut sebagai bukti dari kesimpulan-kesimpulan holistik. Bahkan, para fisikawan arus-utama seperti Henry Stapp mendapatkan tanda-tanda adanya saling keterhubungan semua benda. Stapp menulis:

Prinsip sebab-lokal menyatakan bahwa kejadian di wilayah ruang-waktu tertentu, relatif independen dari variabel-variabel yang dikendalikan oleh pelaku eksperimen yang berada di wilayah ruang yang terpisah jauh……..teorema Ball menunjukkan bahwa dari semua teori tentang realitas yang cocok dengan teori kuantum, tidak ada yang memungkinkan bagian-bagian realitas yang terpisah jauh dalam ruang untuk terbebas satu sama lain.

Dalam semangat yang lebih ekstrem, komentar Stapp mendorong Ken Wilber untuk mengklaim bahwa eksperimen-eksperimen keterikatan menyediakan justifikasi yang semakin kuat lagi holisme tradisi Timur serta bagi sebuah ontologi kesadaran spiritual:

Sudah umum di kalangan pemikir ‘paradigma baru’ untuk mengklaim bahwa masalah yang mendasar dalam sains adalah: di bawah pandangan-dunia Newtonian-Cartesian’, alam semesta dipandang bersifat atomistik mekanistik, terbagi-bagi, dan terfragmentasi. Sedangkan sains baru (teori kuantum /relativistik dan teori sistemn/ kompleksitas) menunjukkan bahwa dunia bukanlah kumpulan bagian yang bersifat atomistik, melainkan merupakan jaringan keterhubungan yang tidak terpisahkan satu sama lain. Mereka mengklaim bahwa pandangan “jaringan kehidupan” ini cocok dengan pandangan-dunia spritual tradisional. Dengan demikian, ‘paradigma baru’ ini akan mendorong munculnya diri kuantum (quantum self) dan masyarakat kuantum (quantum society) yang baru. Pandangan dunia yang bersifat holistik dan menawarkan solusi ini diungkapkan oleh ilmu pengetahuan sendiri….Dengan kata lain, masalahnya bukan karena pandangan dunia ilmiah itu bersifat atomistik, melainkan holistik. Karena, secara umum dan mendasar, sejak semula ia bersifat holistik. Sebaliknya, masalahnya adalah bahwa ia sepenuhnya holisme mendatar (flatland holism). Holisme jenis ini bukanlah holisme yang benar-benar memasukan semuah ranah luar dari SAYA dan KITA (termasuk mata yang melakukan kontemplasi).

Hubungan konseptual yang mirip dengan ini juga ditemukan dalam bidang penelitian otak. Sebagai contoh adalah pakar neurosains John Sperry yang secara implisit berbicara secara dualistik mengenai sumber penyebaban mental. Ia menyebutkan bahwa apa yang dimaksud oleh kaum dualis sebagai subjektivitas adalah sebuah tanda adanya keterhubungan holistik (pengaruh otak sebagai suatu keseluruhan) membantu mengurangi kesan semu bahwa gejala-gejala mental itu satu adanya. Meskipun demikian, dalam semua kasus ini, pengaruh holistik yang dimaksud tidak bisa benar-benar dirangkum dalam kerangka sebab-sebab efisien Newtonian.

Meskipun di sini kita tidak bisa melakukan studi kasus secara lengkap, saya tetap mengambil teori kuantum sebagai bukti akan kebutuhan untuk mengembangkan pemahaman kita tentang penyebaban. Gambaran Newtonian tentang dunia mewakili zaman keemasan penyebaban-efisien: semua dinamika pada akhirnya bisa direduksi menjadi tumbukan antarobjek sebagaimana yang terjadi pada bola biliar. (tentu saja, dalam model ini, gaya kausal gravitasi tetap misterius dan Newton terpaksa mengakui kemungkinan adanya koreksi llahi atas sistem alam semesta ini. Akan tetapi, jelas bahwa para pengikut Newton yang paling terkenal adalah Laplace, yang menggunakan fisikanya untuk menyatakan kemenangan mutlak penyebaban-efisien). Sebaliknya, dunia fisika sub-atom telah menyingkapkan berbagai gejala yang tidak bisa dipahami berdasarkan hukum-hukum Newton saja. Mungkin suatu saat nanti, gejala-gejala seperti runtuhnya paket gelombang, dekoherensi, dan keterikatan kuantum bisa dijelaskan dalam kerangka penyebaban efisien Newtonian (standar). Akan tetapi, bukti-bukti yang sekarang kita miliki lebih condong ke arah yang berbeda yaitu bahwa sifat pengaruh kausal di dalam dunia alam jauh lebih rumit dan berlapis-lapis dibandingkan dengan yang bisa dijelaskan oleh kerangka penyebaban-efisien atau “bola biliar”.

Walaupun begitu, para penemu fisika kuantum adalah orang-orang yang paling awal mengetahui bahwa ontologi mana pun yang pada akhirnya bisa dijelaskan temuan-temuan dari fisika kuantum, pastilah berbeda secara radikal dengan sebab-sebab dan ontologi makrofisika tradisional. Seperti yang telah saya sarankan, mungkin mekanika kuantum bisa memberikan bukti adanya peran kausal dari kehendak. Ini adalah pendangan ahli fisika kuantum Eugene Wigner, yang menyimpulkan bahwa “pikiran makhluk-makhluk yang bisa mengindra menduduki peranan inti dalam hukum-hukum alam dan dalam organisasi alam semesta, karena persis ketika informasi tentang sebuah pengamatan memasuki kesadaran seorang pengamat, maka supraposisi gelombang benar-benar menjadi suatu kenyataan”. Akan tetapi, fisika kuantum sekurang-kurangnya membuka jalan bagi penelitian untuk mencapai sebuah pemahaman yang lebih luas tentang penyebaban. Pemahaman ini jelas akan membawa kita ke sebuah wilayah baru.

 

Sebab-sebab Psikologis

Fisika klasik (dan penafsiran atas mekanika kuantum yang tidak bisa mengikuti aliran Copenhagen) berpendapat bahwa semua gaya kausal-pada akhirnya bisa dijelaskan dalam kerangka hukum-hukum yang mendasari realitas fisik. Apabila pandangan ini benar, maka akan timbul masalah yang tidak terpecahkan dalam upaya untuk merujuk pada sebab-sebab llahi, karena sebab-sebab ini datang dari sebuah sumber yang bebas dan transenden. Akan tetapi, selain yang sudah dibicarakan di atas, terdapat wilayah ilmu pengetahuan lain yang menunjukkan ketidakadekuatan pandangan Newtonian. Jika memang ada sebab-sebab psikologis yang sejati, maka paling tidak terdapat satu jenis penyebaban selain penyebaban fisik. Jika demikian, tampaknya dalam genus “sebab” ini kita bisa mengikutsertakan berbagai pengaruh selain pengaruh mekanistik.

Saya sudah menunjukkan empat transisi utama di dunia alam yang membuktikan adanya fenomena kemunculan. Mungkin kasus munculnya kesadaran melalui otak manusia dan sistem saraf pusat merupakan bukti yang paling jelas akan adanya penyebaban jenis lain. Bertentangan dengan sikap yang umum berlaku sekitar sepuluh tahun yang lalu, sekarang ini ilmu pengetahuan alam yang membahas pribadi manusia neurobiologi, primatologi, ilmu kognitif, psikologi evolisoner mengakui ranah mental sebagai suatu gejala kemunculan. Kita tidak lagi kesulitan untuk menunjukkan bahwa pikiran tidak dapat direduksi lagi, tetapi kita masih mendapatkan kesulitan untuk menunjukkan bahwa pikiran kita bisa memiliki pengaruh kausal “ke bawah” terhadap tubuh dan dunia (yang merupakan hal yang niscaya jika kita ingin membicarakan pengaruh Tuhan pada dunia).

Apa sesungguhnya yang muncul itu? Dalam kasus manusia, yang muncul adalah kesatuan psiko-somatis (jiwa-raga); manusia adalah organisme yang bisa berbuat, baiks secara fisik maupun mental. Meskipun secara fisiologis fungsi-fungsi mental timbul lebih belakangan, kedua himpunan sifat ini (jiwa dan raga) saling berhubungan dan menunjukkan pegaruh kausal satu sama lain. Bila kita mengatakan bahwa manusia merupakan suatu kesatuan psiko-somatis, berarti kita adalah maujud-maujud yang terpolakan secara kompleks di dalam dunia ini; kita menjadi bukti adanya aneka ragam himpunan sifat (properties) dan penyebab (causes) yang berkerja dalam berbagai tingkat kompleksitas. Tubuh yang hidup dan otak yang berfungsi merupakan syarat niscaya (necessary condition) bagi suatu kepribadian (personhood), tetapi beragamnya kesenjangan yang ada dalam kosakata neurosains dan psikologi menyarankan bahwa tubuh dan otak seperti itu bukanlah syarat memadai (sufficient condition). Kepribadian tidak bisa sepenuhnya diterjemahkan dalam istilah-istilah “level-rendah”: pribadi-pribadi membuktikan adanya sifat-sifat kausal dan fenomenologis (qualia) yang bersifat khas personal.

Berbagai telah tentang pribadi manusia haruslah bersifat multidimensi, karena prinadi-pribadi merupakan hasil dari berbagai pengaruh kausal yang bekerja pada tingkat-tingkat fisik, biologis, psikologis, dan (saya juga yakin) spritual; juga karena tingkat-tingkat ini meskipun saling bergantung tidak bisa direduksi ke tingkat lainnya. Psikologi, khususnya, tidak bisa lagi meragukan bahwa manusia merupakan pelaku penyebaban-mental. Berbagai keadaan mental berharap, berkehendak, berniat, menyadari, dan hal-hal lain sejenisnya menimbulkan pengaruh kausal pada tindakan para pelaku dan selanjutnya pada perbuatan yang dilakukan tubuh mereka di dunia ini. Dengan demikian, sejarh kausal tentang mental tidak bisa diungkapkan dalam kerangka fisik, dan hasil dari peristiwa mental tidak bisa ditentukan dari gejala yang berlangsung pada level fisik saja. Percakapan manusia tentang pengalaman subjektif saat sedang jatuh cinta ataupun rasa kesadaran diri pastilah bersifat mental; pengalaman mental seperti ini memberikan sejenis pengaruh kausal yang memiliki ciri khas tersendiri.

Para krtikus bisa menolak pembahasan tentang sebab-sebab mental seperti ini, dengan anggapan bahwa itu seperti halnya membahas sebab-sebab  perklenikan dalam dunia fisik atau sebab-sebab “vitalis” dalam dunia biologi. Sains sudah tidak lagi membahas sebab-sebab semacam itu, karena sudah diakui bahwa ranah fisik dan biologi sepenuhnya bekerja melalui cara yang taat-hukum (law-like), berdasarkan atas keberhasilan masing-masing sains tersebut dalam memberikan penjelasan. Benarkah manusia bisa dianalogikan dengan bantuan  dan sel, dalam arti bahwa perilaku manusia bisa diramalkan dan dijelaskan sampai sekecil-kecilnya melalui cara “ dari bawah ke atas” (bottom-up)? Saya berpendapat bahwa kita memiliki bukti yang cukup untuk mengatakan bahwa sesungguhnya tidak demikian terjadi. Bahkan, sebenarnya hierarki sains itu sendiri menawarkan bukti adanya prinsip-prinsip yang semakin divergen dari penyebaban fisik yang bersifat “ dari bawah ke atas”. Penjelasan kausal fungsionalis yang memainkan peranan dalam ilmu-ilmu biologi (dari stukrul sel, kemudian ke sistem saraf, sampai ke telaah ekosistem), berbeda dari penjelasan kausal dalam ilmu fisika fundamental. Demikian pula, penjelasan yang mengatakan bahwa kehendak manusia sebagai sebab memainkan peran dalam upaya menjelaskan perilaku manusia yang tidak bisa dianalogikan dengan level-level yang lebih rendah. Dalam hierarki kemunculan, saat kita bergerak ke atas, akan kita dapati semakin besarnya penyebaban tindakan dan bersifat bottom-up. Oleh karena itu, sebagai contoh, DNA memasukan ke dalam strukturnya pengaruh (dari atas ke bawah [top-down]) lingkungan terhadap biologi molekuler tubuh manusia. Dalam penjelasan intesional, menjadi lebih jelas lagi bahwa tujuan tindakan sesorang dan konteks-konteks lebih luas yang dipakainya untuk memahami tindakannya tersebut, secara kausal memengaruhi pikiran dan perilakunya.

Perhatikan implikasi teologis dari pandangan ini. Lebih mudah bagi kita untuk berpendapat bahwa tuhan memengaruhi para pelaku konversi untuk meganut agama baru mereka daripada berpendapat bahwa Tuhan memperbaiki sistem pipa air minum di rumah sesorang (kecuali bila dalam kasus ini seorang tukang ledeng juga dipanggil untuk memoperbaikinya!. penyebab perbedaan ini akan pernah kita tidak memiliki hukum tentang perilaku manusia. Bertolak belakang dengan para ahli ilmu alam, maksimal para ahli ilmu sosial hanya bisa menetapkan pola-pola umum respons manusia; bahkan pola-pola ini pun membuktikan adanya perkecualian pribadi dan kultural yang nyaris tak terhingga jumlahnya. Tampaknya, dalam konteks manusia, yang menjadi aturan adalah keunikan dan ciri khas pribadi. Tidak ada hukum yang dilanggar saat kita membicarakan keunikan tindakan pribadi. Bahkan, senarnya inilah kira-kira yang kita maksudkan sebagai suatu tindakan pribadi. Maka “ mukjizat psikologi” pengaruh kausal Tuhan pada pikiran, kehendak, dan emosi seorang individu bisa terjadi tanpa melanggar hukum alam. Berdasarkan prinsip ini, Tuhan bisa memunculkan perubahan dalam watak manusia tanpa perlu menimbulkan penyimpangan terhadap pengetahuan ilmiah kita tentang dunia.

 

Pelaku-Ganda dan Persuasi llahi

Akan tetapi, pengaruh kausal macam apakah yang dimaksud di sini? Teolog dan filosof besar Inggris bernama Austin Farrer mengembangkan sebuah kajian terperinci mengenai tindalam llahi yang disebutnya sebagai pandangan “pelaku-ganda”. Dalam pandangan ini, pada setiap tindakan yang terjadi di dunia, terdapat peranan kausal pada satu atau lebih pelaku atau objek di dunia (sebab “sekunder”) dan peranan Tuhan sebagai sebab “primer” pada kejadian itu. Kathryn Tanner merangkum dan mempertahankan pandangan yang mirip dengan pandangan Farrer:

Para teolog berbicara tentang adanya sebuah nexus (koneksiz0 yang tertata dari sebab-akibat yang tercipta, dalam sebuah relasi ketergantungan yang total dan langsung terhadap suatu pelaku llahi. Dengan demkian, menjadi jelas bahwa ada dua jenis tatanan efisiensi: di sepanjang bidang “horizontal” terdapat tatanan sebab dan akibat yang tercipta; di sepanjang bidang ‘’vertikal” terdapat tatanan yang diatasnya Tuhan membentuk tatanan yang pertama tadi. Berbagai predikat yang disematkan pada makhluk-makluk ciptaan bisa dipahami hanya berlaku pada bidang horizontal berbagai hubungan antarmakhluk.

Pandangan tentang tindakan semcam ini mengisyaratkan bahwa tindakan Tuhan di dunia haruslah dipahami sebagai sesuatu yang lebih mirip dengan pesuasi llahi (divine persuation). Saat ia memberikan tanggapan pada Tanner, Thomas Tracy menyimpulkan:

Oleh karena itu, ada beberapa hubungan yang didalamnya tindakan bebas yang dilakukan makhluk bisa dianggap sebagai tindakan Tuhan. Jika kita menyangkal bahwa tuhan merupakan sebab memadai dari tindakan bebas makhluk tersebut, kita akan bisa menyatakan bahwa dengan sumber daya kemahakuasaan-Nya yang tak terbatas, Tuhan memandu pilihan-pilihan tersebut dengan jalan menyusun kondisi-kondisi pengarah yang membentuk pilihan-pilihan itu. Dalam banyak cara tak terlacak, beraneka ragam, dan halus, Tuhan terus-menerus menetapkan kehendak llahi atas kita, tanpa begitu saja menyingkirkan kehendak kita sendiri. Tindakan Tuhan berlangsung sebelum tindakan kita, mempersiapkan kita (meskipun kita tidak pantas) untuk menerima kebaikan yang tiada tara yang telah dijanjikan Tuhan bagi kita.

Dengan demikian, teori ini benar-benar menimbulkan perubahan pandangan bahwa tindakan kausal Tuhan berkontribusi pada tindakan manusia di dunia, paling tidak jika dibandingkan dengan pandangan klasik tentang tindakan llahi. Pada kebanyakan pandangan klasik, keputusan Tuhan untuk memunculkan suatu akibat sudah dianggap mencukupi demi terjadinya akibat itu; tidak diisyaratkan adanya penyerahan diri dari pribadi atau objek. Sebaliknya, menurut pandangan ini, Tuhan harus memersuasi pelaku yang bersangkutan untuk bertindak dengan cara tertentu agar peristiwa itu bisa terjadi. Di sini terdapat pula peranan penting psike manusia: suatu pikiran bisa diyakinkan atau dibujuk, sedangkan (sepengentahuan kita) sebongkah batu tidak bisa dipersuasi untuk betindak sendiri, betapapun bagusnya argumen yang diberikan. Meskipun pendapat ini membatasi kemutlakan kehendak llahi di dunia, saya yakin bawa pandangan Tracy ini sudah mencukupi bagi kebutuhan teologis para teis Islam, Kristen, dan Yahudi di masa kini.

Dilihat dari perspektif ini, dalam interaksi-Nya dengan para makhluk yang bersadaran, peran Tuhan adalah pihak yang mempersiapkan dan melakukan persuasi, bukan hanya sekedar”memunculkan” tindakan-tindakan manusia melalui kehendak llahi saja. Secara konseptual, pandangan ini juga jauh lebih tertata daripada pendangan-pandangan dasar lainnya, karena ia juga mengakui adanya tindakan-tindakan dasar manusia. Meskipun demikian, seperti pada tradisi teistik, ia masih mengangap bahwa peranan kausal penting untuk “ mengarahkan” manusia, juga bahwa jenis-jenis tindakan tertentu berasal dari Tuhan. Lebih jauh lagi, menurut model ini, dalam sejarah haruslah ada keterbukaan sejati. Teolog Wolfhart Pannenberg termasuk di antara orang-0rang yang berpendapat bahwa dengan demikian, manusia tidak bisa mengetahui di awal bahwa Tuhan akan memunculkan hasil-hasil yang diinginkan-Nya untuk terjadi. Meskipun demikian, kita bisa tahu bahwa, jika Tuhan adalah Tuhan, pada akhirnya tujuan-tujuan ini akan tercapai dengan cara sedemikian rupa sehingga hasil akhirnya akan konsisten dengan sifat Tuhan.

 

Evolusi sebagai Sebuah Uji Kasus

Akhirnya, kita beralih ke evolusi sebagai uji kasus yang sangat berat bagi teori tentang pengaruh kausal llahi ini. Berikut ini saya akan meninjau teoir evolusi kontemporer sebagai sebuah titik awal. Sama sekali tidak ada tujuan untuk “memberi kemudahn” kepada kaum teis. Di satu sisi, model standar mensyaratkan bahwa evolusi kehidupan haruslah merupakan produk dari sebuah proses mutasi genetik yang bersifat acak. Dalam model ini, dilingkungan akan memilih individu-individu yang mampu bertahan. Sorang teis yang ingin menghindari deisme harus mengakui bahwa dengan cara tertentu Tuhan mengarahkan proses evolusi untuk mendapatkan hasil yang diinginkan-Nya (kehidupan yang berkesadaran, pribadi, sejarah keselamaatan).

Pada sebagian besar sejarah evolusi biologis, tidak ada makhluk berkesadaran yan bisa dipengaruhi Tuhan, senigga jenis penyebaban yang diuraikan di bagian sebelumnya tida bisa diaksanakan stidaknya, tidak secar lansung. Akan tetapi, perpaduan teoretis terkini antara biologi dan teori informasi membuka jalan bagi setidaknya jenis pengaruh kausal yang bersifat analog. Dimensi informasi menempati titik sentral dalam ilmu biologi stelah ditemukannya kode genetik yang bertanggung jawab untuk memberikan informasi kepada sel dan organisme secara keseluruhan. Karya-karya terkini menafsirkan struktur biologis (morfologi) dan interaksi organisme dengan lingkungannya sebagai proses yang mencakup penyimpanan, penggunaan, dan pertukaran informasi. Kita bisa melihat proses ini sebagai semacam versi sibernetika dan samantik dari sebab formal menurut Aristoteles. Bahkan, gizi ditafsirkan sebagai asupan materi yang sangat terstruktur (kaya informasi), yang memiliki hasil sampingan berupa energi yang memiliki kandungan informasi rendah.

Pendekatan informasional jelas-jelas menyarankan bahwa hal ini memiliki kesejajaran dengan pemrosesan informasi dalam ranah aktivitas mental. Seperti yang telah kita lihat di atas, jika berlangsung pengalihan informasi antara sebuah sumber llahi dengan pelaku manusia yang berkesadaran, maka tidak ada hukum fisika yang dilanggar. Kunci untuk mendamaikan evolusi dengan teisme adalah pengakuan bahwa proses pengalihan informasi pada level kesadaran telah diantisifasi sebelumnya dalam evolusi lingkungan biosfer. Khususnya, mungkin saja setuju dan lebih khusus lagi tujuan dengan kompleksitas yang semakin tinggi diperkenalkan kepada bentuk-bentuk kehidupan yang berevolusi sebagai sebuah kemungkinan perkembangan mereka, tanpa harus bertentangan dengan mekanisme evolusi. Kemungkinan morfologis (sebab-sebab formal) bisa diajukan sebagai sejenis informasi yang membantu proses evolusi menuju hasil-hasil berupa kerumitan yang semakin tinggi (sebab final).

Perspektif biologi informasi memiliki beberapa keunggulan. Sebagai contoh, perspektif ini membantu memecahkan masalah bagaimana organ-organ kompleks yang memiliki kemampuan bertahan hidup hanya jika ia berkembang dan berfungsi sepenuhnya bisa muncul secara bertahap selama beberapa generasi, melalui gabungan pengaruh genetik (dari bawah ke atas) dan lingkungan (dari atas ke bawah). In juga selaras dengan pembahasan  mutakhir tentang pengaruh epigenetis pengaruh kausal “dari atas ke bawah” dalam sitologi (telaah tentang sel). Data yang ada cenderung mengarah pada adanya interaksi dua-arah antara DNA satu sel dengan sel secara keseluruhan. Oleh larena protein-protein tertentu di dalam sel berfungsi secara selektif dalam mengungkapkan segmen-segmen genom (yaitu satuan informasi genetik) tertentu, maka pengaruh yang menetukan tidak hanya datang “ dari bawah”, melainkan juga dari konteks yang lebih luas berupa lingkungan sel yang  bersangkutan. Dengan cara yang sama, dalam primatologi, telaah perilaku sosial menunjukkan bagaimana lingkungan sangat memengaruhi perkembangan organisme, tanpa harus mengganti mekanisme genetik yang ada. Oleh karena itu, penggaruh dari sistem yang lebih luas atau keseluruhan sudah menjadi bagian standar dari kajian menyeluruh dalam biologi. Berangkat dari sini, Steven J. Gould menulis: “penyesuaian minor dalam populasi bisa saja berlangsung secara sekuensial dan adaptif….Kecenderungan evolusioner mungkin mewakili semacam seleksi tingkat tinggi atas spesies yang pada hakikatnya bersifat statis, bukan dalam bentuk perubahan yang lambat dan kosntan dari satu populasi besar yang berlangsung selama berabad-abad”.

Saran saya adalah bahwa kerangka teori informasi dalam biologi membantu kita menetapkan cukup banyak kesejajaran dengan sebab-sebab psikologis sehingga kita bisa menalar klaim adanya pengaruh kausal llahi pada proses  evolusi. Bagi para ahli teori emergence (kemunculan), ini adalah persoalan memperluas lingkup pengaruh kausal “ke atas”: melalui sel, organ, organisme, dan lingkungan, sampai ke pengaruh keadaan mental, dan bahkan mungkin sampai pengaruh llahi. Berbeda dengan itu, model informasi memungkinkan dengan cara tertentu adanya pembatasan sebab llahi sehingga tetap konsisten dengan struktur hierarki sebagaimana yang kita pahami. Jika saya benar, maka ini memberi kesempatan bagi para teis untuk membicarakan semcam pengaruh llahi yang disyaratkan oleh doktrin kemahakuassan Tuhan, tetapi dengan berupaya memahami pengaruh ini dengan cara yang tidak memerlukan penambahan sebab atau energi baru ke dalam sistem yang ada. Sebuah intervensi llahi yang bersifat langsung untuk mengubah struktur kimiawi sebuah sel akan menjadi suatu mukjizat (dan juga menjadi sesuatu yang probelmatis), sedemikian hingga reaksi kimia yang bisa diciptakan seseorang dengan menggeser pusat perhatiannya, tidak akan terjadi. Argumen saya adalah bahwa ide tentang “persuasi” yang berbasis-informasi atas proses evolusi, menjelaskan pengaruh llahi secara jauh lebih mirip dengan pemikiran yang kedua daripada yang pertama.

 

Menuju Sebuah Teori Penyebaban-kemunculan (Emergent Causality)

Marilah kita coba menggabungkan berbagai sumber ini menjadi sebuah teori tentang penyebaban kemunculan (Emergent Causality). Kita sepakat bahwa kita menerima ilmu pengetahuan alam modern sebagai sumber penjelas yang absah tentang dunia alam (natural world), dan kita akui bahwa semua penjelasan ini banyak bergantung pada penyebaban efisien. Tentu saja bukan lantaran para filosof promodern menggunakan tiga jenis penyebaban  lainnya sehingga kita bisa begitu saja menyatakan ketiganya setara dengan penjelasan-kausal efisien pada kimia dan fisika. Para kritikus akan menyatakan bahwa keberhasilan sains modern didasarkan atas keteguhannya untuk menjelaskan berbagai peristiwa dalam kerangka sederetan sejarah kausal (efisien) di dalam dunia alam yang bisa dilacak dan disusun ulang.

Tantangan yang dihadapi para filosof dan teolog adalah menyusun sebuah teori baru penyebaban. Di atas, saya telah menyatakan bahwa sumber dari teori baru ini terdapat dalam konsep-konsep yang sudah dipakai para ilmuwan di berbagai bidang: teori entangglement (keterikatan) dalam mekanika kuantum, sebab mental dalam psikologi, teori informasi dan episgenesis dalam biologi, dan struktur kemunculan yang terus-menerus hadir saat menaiki anak tangga kompleksitas di dalam dunia alam.

Hubungan-hubungan kausal yang mengarah ke atas pada hierarki kemunculan tidaklah kontroversial, karena hubungan-hubungan itu bergantung pada peyebaban efisien. Slogan dari sebagian besar sains modern bisa dinyatakan sebagai “ penjelasan (yang bearti ontologi) berkurang ke arah bawah; sebab bertambah ke arah atas”. Model standar dalam penjelasan ilmiah adalah memberikan penjelasan tentang perilaku kompleks, atau perilaku objek yang kompleks, sehubungan dengan gaya-gaya fundamental yang bekerja pada bagian –bagian penyusunya. Dalam model standar, fakta bahwa sel bisa terus-menerus melakukan pembelaan, merupakan hal yang terasa misterius. Ini membuat kaum vitalis berbifir bahwa dibutuhkan suatu “prinsip kehidupan” yang lebih tinggi dan misterius untuk bisa menjelaskan tindakan-tindakan ini. Akan tetapi, jika kita sudah memahami biokimia dari pembelaan sel, efek katalitik pada enzim, serta arsitektur genetik dasar dan cara berfungsinya sel, maka tidak ada lagi gaya yang bersifat misterius. Kumpulan dari berbagai macam gaya dan partikel fisik ini dikombinasikan dengan efek sifat-sifat kimiawi dan hukum-hukum dasar fisika menjelaskan seluruh kisah kausal ini. Dengan hadirnya penjelasan bergaya bottom-up ini, sudah tidak diperlukan lagi penjelasan kausal lainnya. Atau demikianlah tampaknya.

Akan tetapi, kemunculan (emergence) menunjukkan bahwa penyebaban yang bergerak ke atas tidak menjelaskan seluruh kisah. Keadaan dari keseluruhan yaitu keseluruhan sistem fisik tempat berinteraksinya partikel-partikel, keseluruhan sel, keseluruhan organisme, keseluruhan ekosistem, kesatuan psikofisik yang membentuk manusia memengaruhi perilaku partikel-partikel dan interaksi kausal yang berlangsung di antara mereka (meskipun setelah mendapatkan pengaruh, interaksi-interaksi ini memang akan bergerak ke atas). Sekarang, para teoretisi berpendapat bahwa dalam kasus ini, tidak terlibat satu pun gaya kausal yang aktual. Arthur Peacocke condong ke pendapat ini saat ia berbicara tentang “kendala keseluruhan-bagian” (wholepart constraint) alih-alih penyebaban ke bawah. Demikian juga, beberapa cabang teori kompelsitas tertentu, termasuk teoretisi kompleksitas seperti John Holland yang menggunakan kata “kemunculan”, juga hanya mengizinkan adanya penyebaban yang bergerak ke atas, meskipun mereka mengakui bahwa muncul sesuatu yang baru dan tak bisa diramalkan (paling tidak dalam pengertian level-rendah). Sebaliknya, saya telah mengemukakan pendapat bahwa gejala ini memungkinkan dan bahkan mungkin memerlukan adanya pengaruh kausal yang mengganda ke bawah. Bagaimana cara memahami hal ini?

Setelah meninjau bahwa alam fisik kuantum kausalitas efisien Newtonian telah ditigngalkan, saya berpindah ke wilayah yang mungkin paling menyakinkan, yaitu hubungan antara keadaan mental dan keadaan fisik. Supaya sikap ini tidak terlihat kontrovensial, di sini saya tidak mengemukakan maujud yang disebut jiwa atau pikiran, melainkan eksistensi suatu predikat mental tertentu. Kaum fisikalis yang menolak adanya kemunculan, akan memahami nya sebagai keadaan mental dari sebuah objek fisik, dalam hal ini adalah otak. Akan tetapi, saya menduga bahwa kekuatan dari pengalaman kita tentang penyebaban mental kemampuan gagasan dan pikiran kita untuk menggerakkan tubuh kita seperti ketika kita berbicara, berjalan, atau mengangkat lengan begitu besar sehingga pengakuan adanya penyebaban mental yang riil harus diterima sebagai sikap dasar. Maka, dalam hal ini, beban jatuh ke pundak orang-orang yang menolak adanya efektivitas kausal dari gagasan dan kehendak.

Selanjutnya, saya beralih ke masalah evolusi. Sekilas, ini tampak seperti sebuah sikap mengelakkan diri: banyak yang mengklaim bahwa evolusi Darwinian tidak mungkin berjalan beriringan dengan teisme dan bahwa kemahakuasaan atau tindakan llahi di dunia tidak cocok dengan evolusi. Apa yang bisa kita lakukan saat kita berhadapan dengan masalah yang tidak bisa dipecahkan baih dari bawah saja (yaitu melalui ilmu genetika dan biokimia) maupun dari atas saja (yaitu dengan menolak ilmu biologi dan menyuguhkan jawaban teologis)? Demi memecahkan permasalahan ini, sebagian orang berusaha untuk mengombinasikan beberapa disiplin yang berbeda bukan diangap identik (karena anggapan ini salah) maupun inkompatibel (anggapan ini tidak disarankan), melainkan berupa sebuah hubungan dialektis. Secara khusus, saya menduga kontradiksi ini bisa diatasi bila apa yang dituntut evolusi dan apa yang dibutuhkan teologi ternyata saling bertentangan, melainkan saling melengkapi. Namun, yang terjadi adalah: evolusi menolak adanya tujuan-dari-dalam maupun pengaruh kausal dari luar, sedangkan teisme hanya mensyaratkan bahwa hasil-hasil proses evolusi mestilah mencerminkan kehendak llahi untuk menciptakan makhluk rasional yang bermoral dan dapat memiliki hubungan kesadaran dengan llahi. Tujuan llahi ini mungkin berasal dari kehendak Tuhan untuk mengawali sebuah proses dan sejak awal sudah diletahui-Nya bahwa tanpa bantuan lebih lanjut dai-Nya, secara niscaya proses ini akan menghasilkan makhluk berkesadaran meskipun sekarang, berdasarkan pengetahuan kita tentang fisika kuantum dan perubahan genetik, predeterminisme semacam itu menjadi tampak tidak mungkin. Meskipun demikian, dalam kasus evolusi, terbukti bahwa ada kemungkinan menemukan sebuah analogi penyebaban-ke-bawah yang kita alami saat berkehendak-secara-sadar. Biologi informasi menyediakan bagi kita cara untuk memahami penyampaian informasi kepada lingkungan, dan informasi semcam itu bisa memandu perkembangan bentuk-bentuk kehidupan dalam bentuk proto-tujuan (ingat slogan kant, “kebertujuan tanpa tujuan”). Berdasarkan analogi ini, Tuhan mungkin memandu proses kemunculan dengan memperkenalkan informasi baru (kasualitas formasl) dan dengan memunculkan suatu ideal atau gagasan yang bisa memengaruhi perkembangan, tanpa mengubah mekanisme yang mekanis dari evolusi atau menambahkan energi dari luar (kausalitas final).

Tentu saja di sini saya harus menyampaikan beberapa peringatan dan batasan. Dalam kerangka kemunculan-terpandu (guided emergence), tidak terdapat sejenis kontrol atas proses evolusi yang secara tradisional dikemukakan oleh kaum teis. Bahkan, dalam pandangan ini, penjelasan tentang gejala-gejala biologi diberikan dalam kerangka biologi evolusioner, dan tanggapan ini tidak kemudian membentangkan jalan pintas antara kesimpulan dengan batasan dari disiplin ini. Pandua melalui kemungkinan dan informasi bukanlah sebentuk penyebaban efisien: panduan ini sangat mirip dengan sifat persuasif dari “sebab formal” yang terkait dengan filsafat Aritoteles. Namun, ini sudah cukup untuk memberikan sejenis struktur yang secara tradisional disarankan oleh doktrin kilahian. Jelas bahwa pengertian “kebertujuan” yang saya pakai memiliki status kuasi-“seolah-olah”: dunia biologi berkembang seoalah-olah di pandu oleh tangan llahi. Ini lah kebertujuan tanpa tujuan sebagaimana disebutkan atas. Walaupun begitu, pandangan semacam itu perlu membuktikan bahwa ilmu biologi tidak bisa menyingkirkan berbagai bentuk persuasi llahi, dan saya yakin pandangan ini cukup berhasil melakukannya.

 

Paneteisme: Potongan yang Hilang

Akan tetapi, di sini masih ada satu potongan yang hilang. Teori kasualitas yang diuraikan diatas menimbulkan sesuatu yang muncul (emergent) dan bergerak ke atas. Teori ini mengakui adanya berbagai jenis pengaruh kausal pada berbagai tingkat tatanan yang ada di dunia alam (natural word). Oleh karena itu, teori itu sendiri tidak memperlihatkan apakah seluruh proses itu dikendalikan “dari atas” atau apakah mencerminkan suatu hukum pengaturan-diri yang imanen dalam tatanan alam sendiri. Sebuah teori kausalitas yang menerapkan ide kemunculan tidaklah bisa membuktikan eksistensi Tuhan.

Akan tetapi, memang teologi (atau metafisika) tidak pernah membahas tentang bukti itu sendiri. Bidang-bidang ini bertujuan untuk menunjukkan koherensi konseptual yang bercakupan luas yang terdapat di antara berbagai wilayah ilmu pengetahuan alam dan pengalaman manusia. Paling tidak, ada satu teologi yang terintergrasi secara alamiah dengan sains dan teori kausalitas yang sudah kita tinjau. Teologi ini adalah teologi panenteisme. Penenteisme adalah teori tentang hubungan Tuhan dengan dunia atau tindakan llahi. Teori ini menyatakan bahwa dunia ada di dalam Tuhan, sambil tetap berpegang bahwa tuhan melampaui dunia.

Penenteisme memberikan interpretasi alami atas setiap tingkat kausalitas yang telah tinjau atas. Prinsip pemandunya adalah bahwa setiap tingkat dalam dunia alam (natural word) mengungkapkan Sang Asal dengan cara yang sesuai dengan sifat dan kemampuannya. Dunia fisik menampilkan konstansi dan keteraturan dari sifat llahi. Penjagaan Tuhan memelihara alam semesta terungkap dalam bentuk dunia fisik yang mengikuti hukum tertentu. Jika kita umpamakan alam semesta sebagai tubuh Tuhan, maka kita bisa melihat keadaan taat-hukum ini sebagai satu bentuk tindakan llahi yang otonom, yang dari satu sisi bisa dilihat seperti fungsi-fungsi otomatis atau otonom yang berlangsung dalam tubuh manusia. (tentu saja, dalam kasus ini, kita harus membayangkan bahwa Tuhan memiliki kesadaran penuh akan masing-masing fungsi yang taat asas ini.) dunia psikologi mengungkapkan sipat mirip-pribadi dari Roh llahi, jga rasionalitas, kehendak, dan kebertujuan-Nya. Tuhan menyerukan ajakan, panggilan, atau panduan kepada setiap makhluk yang berkesadaran, memengaruhi kesadarannya dan (bergantung pada tanggapan ciptaan ini) boleh jadi mengubah peristiwa di masa depan. Masih melanjutkan metafora ini, kita bisa melihat tindakan llahi yang disebut terakhir itu sebagai jenis tindakan llahi yang terfokus (focal). Kemudian, ranah biologis ranah makhluk hidup yang dalam perilakunya tidak mengungkap dengan jelas nurani berkesadaran (conscious conscience) mewakili suatu tahap-antara. Secara empiris, maksimal yang bisa kita katakan adalah bahwa perilaku terpandu-tujuan dari bentuk-bentuk kehidupan mencerminkan suatu proto-kebertujuan, awal dari tindakan sadar yang terpandu-tujuan, yang merupakan ciri-ciri pelaku berkesadaran.

 

Agenda untuk Masa Depan

Sudah disebutkan bahwa sekarang kita tidak memiliki apa yang dimiliki para filosof kristen dan Islam Abad pertengahan: teori-penyatu (unitary theory) tentang penyebaban. Teori semacam ini harus cukup komprehensif sehingga setaraf dengan kemampuan penjelasan kausal ilmiah dan mampu mengintegrasikannya bersama dengan penyebaban mental dan penyebaban llahi menjadi sebuah kajian kausal tentang dunia. Di atas saya telah memberikan garis besar tentang teori semacam ini.

Seperti yang telah ditunjukkan diatas, dan sebagaimana telah disadari Aristoteles dan para filosof Islam Abad pertengahan, pada akhirnya suatu teori penyebaban yang memadai akan terintegrasi dengan sebuah ontologi. Doktrin tentang “sebab efisien saja” merupakan sebuah ungkapan yang wajar dari ontologi fisikalis mekanika Newtonian. Menurut ontologi ini, segala yang ada hanyalah benda dan gaya di dalam ruang dna waktu yang mutlak. Pandangan ini dominan sejak pembentukan fondasi fisika modern di masa Galileo dan Newton sampai munculnya interpretasi Conpenhagen tentang mekanika kuantum pada 1920-an. Demikian juga, teori empat-sebab menurut Aristoteles diintegrasikan sepenuhnya menjadi sebuah metafisika yang melihat segala sesuatu bukan hanya sebagai titik-titik massa melainkan sebagai aktualitas-aktualitas yang muncul dari pertarungan berbagai kemungkinan yang ada sebelumnya demi mencapai telos (tujuan) alami mereka.

Ontologi yang diajukan tulisan ini adalah sebuah ontologi kemunculan, yang pada kesempatan lain saya sebut sebagai monisme emergentis. Dalam pandangan ini, hanya ada satu dunia alam (sehingga dualisme adalah sesuatu yang salah). Akan tetapi, ketika “benda” ini bertambah terorganisasi dengan cara yang semakin rumit, muncullah sifat-sifat baru. Meskipun manifestasi sifat-sifat ini bergantung pada sifat-sifat partikel yang membentuknya, dan akhirnya juga pada hukum-hukum fisika, perilaku mereka tidak bisa direduksikan ke hal-hal dengan level yang lebih rendah. Oleh karena itu, dunia alam membuktikan munculnya sifat-sifat yang benar-benar baru. Pada setiap tingkat kemunculan, struktur-struktur baru tampak dan gaya-gaya kausal baru pun bekerja. Dalam rangka mengahadapi pertanyaan-pertanyaan fisika yang mendasar, kita bisa memperluas struktur kemunculan ke arah bahwa dan kita bisa memperluasnya ke arah atas untuk mendapatkan pemahaman lebih baik tentang sifat-sifat kesadaran dan, akhirnya, sifat-sifat spritual. Oleh karena itu, saya berpendapat bahwa tingkat-tingkat kausal yang muncul (emergent causal) mencerminkan struktur hierarki dunia alam dan bisa membantu dalam menjelaskan sifat tindakan llahi (meskipun tidak identik dengannya). Perbedaan antara penyebaban natural dan supranatural yang masih tersisa menjadi tanggung jawab para pemikir Islam dan kristen pada zaman sains ini. Meskipun demikian, bila kita memiliki teori kausalitas yang memadai, beban ini masih bisa ditanggung.

Ini benar-benar merupakan sebuah ontologi corak baru. Kita bisa saja meninggalkan bahwa ada intervensi llahi ke dunia fisik secara ajaib, tetapi kita lihat dunia ini “tetap memesona” sebagai tempat tuhan berkarya. Keindahan planet kita dan kekayaan bentuk-bentuk kehidupan di permukaannya bukanlah merupakan ekspresi kemahakuasaan yang dijalankan Tuhan dari jauh; semua keindahan ini terus-menerus mengungkapkan kehadiran llahi. Dengan demikian, kita bisa kembali memandang struktur (dan isi!) kesadaran pada individu serta pertumbuhan dan perkembangan budaya, sebagai tanda-tanda adanya penduan dan kreativitas llahi. Sebagai contoh, kita bisa memandang sarana-sarana kultural yang dipakai para individu yang membuka diri terhadap persuasi llahi, demi memengaruhi individu-individu lainnya. Sebuah gagasan genius (relativitas khusus Eistein, filsafat ktiris Kant, perlawanan nirkekerasan oleh Gandhi) atau sebuah karya seni (musik klasik, puisi Sufi) yang mungkin merupakan hasil dari sebuah pengaruh kausal llahi bisa menjalar seperti kobaran api melalui sejumlah besar pikiran atau pengalaman manusia secara umum. Pikiran-pikiran individual terintegrasi menjadi kelompok-kelompok pikiran; tindakan-tindakan individual memengaruhi tindakan-tindakan lainnya.

Tentu saja kita tidak bisa menunjukkan bahwa satu gagasan tertentu datang dari Tuhan atau bahwa kelompok-kelompok religius tertentu atau kebudayaan manusia secara umum sedang bergerak maju menuju keselarasan yang lebih besar dengan kehendak llahi. Abad-abad yang menampikan gambaran kemunduran yang terlalu menyakitkan sehingga optimisme bahwa kehidupan manusia akan menjadi semakin baik menjadi tidak meyakinkan lagi. Walaupun begitu, sifat kesadaran manusia yang “terbuka ke atas” terilhami dengan keintiman akan keabadian menawarkan sebuah model yang sangat meyakinkan tentang integrasi pikiran dan roh. Seperti halnya struktur  neuropsikologis primata tingkat tinggi “ terbuka ke atas” terhadap kemunculan dan daya kausal dari mental, maka dunia mental, maka dunia mental atau kultural pun terbuka ke atas terhadap pengaruh Roh pencipta.

Leave a Reply

Close Menu