KEMUNCULAN PERTANIAN

KEMUNCULAN PERTANIAN

Kapan dan mengapa pertanian muncul sebagai pola hidup; mengapa pertanian berpengaruh terhadap perkembangan peradaban; apa keuntungan yang manusia dapat saat mereka memutuskan untuk hidup menetap; masalah apa yang dihadapi masyarakat saat menyesuaikan diri dengan kehidupan menetap; semua ini perlu diketahui untuk mengapresiasi perubahan dari pola hidup nomaden menjadi pola hidup menetap.

Pola hidup bertani alias bercocok tanam adalah kehidupan yang menetap di satu tempat dalam waktu yang lama, kalaupun tidak seumur hidup. Pola hidup demikian ini terbilang barang baru bagi manusia saat itu. Dapat dibayangkan betapa sulitnya mereka untuk kali yang pertama memilih pola hidup demikian. Hidup menetap di satu lokasi secara permanen berarti bersiap untuk melakukan eksploitasi di satu bidang lahan tertentu secara intensif, daripada melakukan eksploitasi suatu luasan lahan tertentu secara ekstensif, sebagaimana dilakukan oleh para pemburu-pengumpul, dan dalam jangka waktu yang panjang. Untuk mengetahui seberapa radikal perubahan pola hidup ini kita perlu mempertimbangkan untung rugi yang mungkin timbul dari hidup menetap di lahan yang sempit, dan efek macam apa yang ditimbulkannya terhadap lingkungan.

Lokasi pertama di mana manusia mempraktikkan pola hidup bertani adalah kawasan Timur Tengah (lembah Nil di Mesir), Asia Barat (kawasan pegunungan Zagros, Iran), Anatolia (Turki), dan lembah sungai Yordan. Pada masa itu, sekitar 10.000—12.000 tahun lalu, perilaku bercocok tanam diduga merupakan upaya manusia untuk menyesuaikan diri dengan perubahan iklim yang dipicu hilangnya lapisan-lapisan es pada glacier di Eropa.

Pola hidup bertani juga terjadi di bagian dunia Iain pada masa yang hampir bersamaan. Di kawasan-kawasan yang terpisah-pisah itu muncul temuan-temuan serupa yang menimbulkan adaptasi kebudayaan yang sama. Kawasan-kawasan ini adalah daratan China, Asia Selatan, Asia Tenggara, kawasan subsahara Afrika, Amerika Utara, dan Amerika Selatan. Penemuan budaya bertani di wilayah-wilayah ini masih menimbulkan perdebatan hingga sekarang mengenai ada-tidaknya keterkaitan antara satu dengan lainnya, demikian pula mengenai penyebab timbulnya. Para ahli masih belum satu kata apakah budaya ini timbul sebagai imbas dari perubahan iklim atau akibat bertambahnya jumlah penduduk secara masif.

Akan tetapi, yang jelas, sejak masa itu pertanian mulai menyebar ke seluruh penjuru bumi. Kalaupun ada perbedaan dalam perkembangannya maka perbedaan itu hanya pada level jenis tanaman dan binatang yang dipelihara, baik yang diperoleh secara lokal maupun yang didatangkan dari tempat lain. Pertukaran jenis dan teknologi yang muncul akibat aktivitas pertanian terus berlangsung di antara bangsabangsa. Perlahan cara hidup bermukim menjadi budaya yang dianut manusia di seluruh dunia.

Ilustrasi mengenai lokasi pertanian pertama di berbagai tempat dapat ditemukan dalam uraian berikut. Sisa-sisa kristal pada kulit semangka memberi informasi tentang pertanian yang pertama kali dilakukan di Benua Amerika. Penemuan sebelumnya menunjukkan bahwa domestikasi tumbuhan dilakukan di dataran tinggi Meksiko dan Amerika Utara sekitar 10.000 tahun lalu. Namun, dengan temuan di atas, tampaknya rekor pertanian pertama di Benua Amerika harus pindah ke dataran rendah Ekuador. Bukti-bukti menunjukkan bahwa pertanian di sana sudah dimulai 2.000 tahun lalu. Dengan menggunakan bukti tidak langsung para peneliti dapat mengidentifikasi tanaman yang ditanam di sana, yaitu sebangsa mentimun dan labu (Cucurbitaceae). Tumbuhan yang kaya minyak dan protein ini tampaknya merupakan jenis favorit dan ditanam di banyak tempat saat pertanian dikenal orang.

Temuan kereta beroda dua yang ditengarai berasal dari masa Perunggu di Turkmenistan, Asia Tengah, mengindikasikan bahwa petani pada 5.000-6.000 tahun lalu menggunakannya untuk keperluan pertanian. Kereta ini tampaknya tidak ditarik kuda, melainkan sapi atau unta.

Sebagian besar tanaman pertanian pada saat ini untuk pertama kali didomestikasi oleh penduduk asli Benua Amerika. Hingga saat Christopher Columbus menginjakkan kaki di sana pada 1492, orang di luar benua ini belum pernah merasakan alpukat, beberapa macam kacang-kacangan, cokelat, singkong, cabai, jagung, pepaya, kacang tanah, merica, nanas, kentang, labu, biji bunga matahari, ubi jalar, tomat, ataupun vanili. Mereka pun belum memakai baju yang ditenun dari kapas. Menurut perkiraan, penduduk asli Amerika telah mengenalkan 300 jenis tanaman baru kepada dunia di luar Amerika.

Kendatipun, pada fase-fase awal pola hidup menetap, manusia kala itu tidak lepas dari berbagai kendala, misalnya:

  • Ketergantungan terhadap sedikit jenis tanaman. Pertanian menyebabkan manusia tergantung pada beberapa jenis tanaman saja, yakni tanaman pangan utama. Hal ini sangat berbeda dengan cara pendekatan pada masyarakat pemburu-pengumpul yang da pat mengandalkan banyak jenis tanaman yang tersedia di hutan dan padang rumput.
  • Rentan terhadap perubahan cuaca. Kegiatan pertanian menjadi semacam perjudian karena dengan bercocok tanam petani berani “bertaruh” dengan cuaca yang bisa saja mendukung atau malah menghambat tumbuh kembang tanamannya. Cuaca berubah-ubah dari waktu ke waktu, dan curah hujan cenderung variatif dan sulit diramalkan. Masyarakat pemburu-pengumpul mengumpulkan makanan dari ratusan jenis tumbuhan sekaligus, sebagian di antaranya tumbuh dengan optimal pada cuaca basah, yang lain tumbuh optimal pada kondisi kering, yang Iainnya lagi tahan terhadap suhu dingin, dan seterusnya. Dengan demikian, masyarakat ini tidak akan kekurangan makanan dalam kondisi cuaca yang bagaimana pun. Kebalikannya, dengan bertani masyarakat mempertaruhkan hidup komunitasnya dengan harapan kondisi cuaca saat itu cocok dan mendukung tumbuhnya satu jenis komoditas yang diandalkan menjadi makanan pokoknya. Dengan demikian, masyarakat pertanian jauh lebih rentan mengalami kekurangan makanan pokok daripada masyarakat pemburu-pengumpul‎.
  • Ketergantungan terhadap waktu panen. Untuk bertahan hidup petani harus dapat mengumpulkan pasokan makanan untuk jangka waktu satu tahun dalam satu, dua, atau tiga kali panen. Mereka tidak dapat melakukan itu kapan saja, sepanjang tahun. Dengan demikian, waktu panen menjadi sangat penting; tidak ada potensi sedikit pun untuk menyela waktu panen tersebut. Demikian pula waktu tanam dan pemeliharaan tanaman. Dengan tekanan yang demikian ini para petani menjadi masyarakat yang sangat sadar akan pentingnya waktu. Petani juga dipaksa menyimpan hasil panen dan menghindarkannya dari berbagai gangguan, mulai dari kelembapan, hama, penyakit, hingga pencuri. Mereka juga harus punya metode tertentu untuk membagi jatah makanan agar terjamin ketersediaannya hingga panen berikutnya. Kondisi ini tentu saja membentuk pola hidup yang baru. Bandingkan saja dengan masyarakat pemburu-pengumpul‎ yang sama sekali tidak mengenal keharusan untuk menyimpan makanan untuk keperluan masa depan. Apa yang ada, itulah yang mereka konsumsi. Bila pola hidup macam ini dianut para petani maka dalam jangka waktu yang tidak terlalu lama mereka akan mati kelaparan.
  • Ketergantungan terhadap keberadaan tenaga kerja. Pertanian memerlukan tenaga kerja dalam jumlah banyak pada saat-saat tertentu. Ladang yang menanam biji-bijian (gandum, padi, sereal, dan sejenisnya), memerlukan banyak sekali tenaga kerja pada saat menanam maupun panen. Tenaga kerja pria dan wanita sama-sama diperlukan pada saat-saat itu. Tidaklah heran jika tekanan ini memunculkan suatu pola hidup yang disiplin. Keadaan ini mulai berkembang dari level individu menjadi level komunal, serta berlangsung pada baik bidang pertanian maupun bidang-bidang lainnya.

 

Berbeda dengan pola hidup pemburu-pengumpul, bercocok tanam adalah suatu cara memodifikasi lingkungan untuk mengeksploitasinya dengan lebih efektif. Modifikasi ini tidak hanya dilakukan terhadap lanskap dan bentang alam saja, melainkan juga dilakukan dengan menjinakkan, atau domestikasi dalam bahasa ilmiahnya, terhadap tumbuhan dan binatang tertentu.

Tumbuhan yang ditemukan di padang rumput sangatlah kompleks. Apabila padang rumput ini diubah menjadi ladang maka secara definitif tanaman di ladang ini termasuk dalam monokultur. Perubahan peruntukan lahan ini menimbulkan beberapa dampak, negatif maupun positif. Dampak positif yang manusia inginkan adalah bahwa dari luasan itu mereka akan memperoleh biji gandum dalam jumlah banyak, misalnya. Akan tetapi, dengan menanam satu jenis tanaman saja, dampak negatif yang segera terasa adalah bahwa nutrisi di dalam tanah akan terkuras tanpa mendapat treatment apa-apa. Ketidaksesuaian lainnya adalah munculnya binatang penggangu (belalang, tikus, dan sebagainya), penyakit (jamur, virus, dan semisalnya), dan hama (serangga) tanaman. Hal ini makin parah ketika manusia menanam lebih banyak jenis tumbuhan. Betapa tidak, makin banyak jenis tanaman pertanian yang ditanam maka makin banyak pula jenis dan jumlah penggangu, hama, maupun penyakit yang menyerang tanaman, meski efek ini terjadi tidak secara langsung. Pola timbal balik yang demikian ini terus berlangsung, apa pun pola hidup yang manusia pilih.

Dengan pola hidup bermukim, adalah masuk akal bila manusia merasakan perlunya tempat tinggal permanen. Membuat rumah permanen dari bahan yang didapat dari sekitarnya memungkinkan manusia untuk mulai melakukan investasi jangka panjang, suatu hal yang tidak mungkin dilakukan dengan tetap mempertahankan pola hidup sebelumnya yang nomad.

Situs yang disinyalir sebagai permukiman pertama ditemukan sesuai dengan harapan manusia di kawasan Catal Huyuk, Turki. Permukiman kuno yang ada di Pegunungan Zagros saat ini masih memperlihatkan bentuknya yang orisinal. Bentuk, arsitektur, dan bahan baku rumah yang ada masih sama dengan kondisinya 7.000 tahun lalu, sebagaimana ditemukan di desa Abyaneh yang terletak di Pegunungan Zagros, Iran. Daerah ini diusulkan Pemerintah Iran untuk ditunjuk menjadi Warisan Dunia (World Heritage).

Kehidupan berdesak-desakan secara permanen (pada masyarakat pemburu-pengumpul atau pastoral, kehidupan semacam ini hanya bersifat sementara), pada saatnya akan menimbulkan masalah, mulai dari hal-hal yang bersifat sosial, dari kebersihan sampai pada hal yang berkaitan dengan kesehatan. Mulailah mereka “mengatur diri” dengan menciptakan peraturan-peraturan agar kehidupan bermasyarakat dapat berjalan baik.

Dalam perkembangan suatu budaya ketika spesialisasi, kebutuhan akan rasa aman, dan tekanan populasi penduduk dengan sumber daya yang terbatas, masyarakatnya akan membentuk suatu organisasi yang menangani semua hal itu. Dari situ terbentuklah organisasi dan hierarki atau tingkatan sosial. Perbedaan budaya dan kondisi tentunya akan menghasilkan bentuk yang berbeda pula. Akan tetapi, satu hal yang pasti terjadi adalah terbentuknya hierarki sosial. Di Mesopotamia saat itu, hierarki tertinggi ditempati oleh pendeta kepala yang mampu baca-tulis. Di bawahnya terdapat strata-strata yang bahu-membahu memerintah negara kota (polis) yang ada saat itu. Pasca-terbentuknya beberapa negara kota mereka cenderung bergabung dan mengangkat raja. Demikianlah seterusnya.

Dengan demikian, kata “pertanian” tidak melulu berarti cara untuk dapat memproduksi makanan dalam jumlah banyak, tapi ia juga mencakup semua hal yang berkaitan dengan perubahan budaya dan adaptasi dari masyarakat manusia. Keperluan dan akibat dari pelaksanaan bercocok tanam sebagai cara untuk bertahan hidup ternyata menciptakan pola hidup yang baru di masyarakat, dengan harapan dan juga masalah baru bagi kemanusiaan. Cikal bakal pola hidup masyarakat modern saat ini mulai disemaikan di desa pertanian di suatu tempat pada 10.000 tahun lalu, termasuk di dalamnya halhal yang terkait dengan pemikiran mengenai ekonomi dan kekayaan, serta kemungkinan-kemungkinan dalam mengembangkan teknologi dan ilmu pengetahuan.

Dikutip dari Tafsir ‘Ilmi

 

Leave a Reply

Close Menu