KEMELEKAN ILMIAH

KEMELEKAN ILMIAH

Serial Pembelajaran Sains: WoIff-Michael Roth

Konsep kemelekan ilmiah (scientific literacy) memegang peranan utama dalam upaya pembaruan pendidikan sains. Umumnya, para pendidik setuju bahwa kemelekan ilmiah harus menjadi hasil utama pendidikan di sekolah. Namun, dengan sejarahnya yang hampir mencapai limapuluh tahun, istilah kemelekan ilmiah belum memperoleh definisi yang pasti atau sudah disepakati. Paul de Hart Hurd, salah seorang bapak pendiri disiplin ilmu pendidikan sains, menetapkan bahwa interpretasi yang valid terhadap kemelekan ilmiah harus konsisten dengan gambaran sains yang berlaku umum dan perubahan-perubahan revolusioner yang sedang berlangsung di masyarakat kita (Hurd, 1998). Bagi banyak pendidik sains, hal ini berarti adjektiva scientific-ilmiah merujuk kepada sains yang dikerjakan para ilmuwan. Sebenarnya tidak harus selalu demikian. Ada sejumlah pendidik yang mengusulkan agar sains sekolah (school science) dapat berorientasi sendiri kepada sains yang digunakan dan dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari di komunitas yang kita tinggali. Hal itu masuk akal bila kita ingat bahwa dalam sejarahnya, bentuk-bentuk aktivitas elite dan lanjutan-sains atau sains profesional selalu dimulai dari padanannya dalam kehidupan sehati-hari.

ORALITY, UTERACY, SAINS

Oxford English Dictionary menjelaskan nomina literacy (‘kemelekan’) dan adjektiva literate (‘melek’) dalam hubungannya dengan mengerti kata tertulis dan kepustakaan; kemengertian tersebut diasosiasikan dengan keterdidikan (being educated), keterpelajaran (being instructed), atau berpendidikan tinggi {being learned). Literacy adalah lawan dari orality, penggunaan bahasa lisan saja, misalnya, dalam hal kebudayaan-kebudayaan pratulisan. Dalam kehidupan sehari-hari kini banyak orang terbiasa berbicara alih-alih membaca dan menulis, tetapi fakta bahwa orang terbiasa membaca dan menulis memengaruhi cara mereka dalam berpikir dan bekerja. Selain itu, walaupun di masyarakat Barat ada orang-orang yang buta aksara-disebut illiterate (‘tidak terpelajar’), mereka menunjukkan diri yang lebih literate (‘terpelajar’) daripada kebudayaan lisan dalam memikirkan dan menangani urusan sehari-hari. Literacy berbeda dengan orality karena literacy memungkinkan suatu kebudayaan mereproduksi diri dengan menggunakan buku dan media lain, sedangkan orality harus mengandalkan penerusan pengetahuan, nilai-nilai, dan kepercayaan-kepercayaan secara tatap muka. Selain itu, literacy memungkinkan berkembangnya bentuk-bentuk pemahaman yang baru dan lebih kuat, termasuk sains, matematika, dan teknologi. Benda dan alat yang ada di sekitar kita dalam kehidupan sehari-hari, termasuk alat-alat dapur, komputer, permainan elektronik, dan mobil, merupakan wujud bentuk-bentuk pemahaman tersebut. Artinya, hidup orang yang berpartisipasi dalam masyarakat literate dan menjadi anggota masyarakat literate pada dasarnya dipengaruhi oleh sains dan teknologi. Namun, untuk berpartisipasi seperti itu tidak harus mengetahui konsep dan teori sains atau teknologi. Kita bisa mengemudikan mobil dan menggunakan alat-alat dapur tanpa harus paham teknik mesin atau ilmu komputer, ranah pengetahuan dan kepakaran yang turut berperanan dalam produksi mobil modern; dan kita perlu tahu sedikit tentang elektromagnetisme, yang pengetahuan tentangnya terwujud dalam bentuk radio atau alat-alat dapur. Secara ilmiah dan teknologis kita sudah literate ‘melek’ sampai pada taraf mampu menggunakan dan belajar menggunakan artefak-artefak yang menjadi wujud pengetahuan kebudayaan kita di bidang sains dan teknologi.

Paul DeHart Hurd, Bapak Pendiri Disiplin Ilmu Pendidikan Sains

PENDEKATAN-PENDEKATAN TRADISIONAL TERHADAP KEMELEKAN ILMIAH

Untuk tujuan pelaksanaan studi internasional pendidikan sains yang luas, Organisation for Economic Co-operation and Development mendefinisikan kemelekan ilmiah dalam hubungannya dengan kapasitas manusia untuk menggunakan pengetahuan ilmiah, mengidentifikasi pertanyaan, dan menarik kesimpulan berdasarkan bukti. Dahulu kapasitas-kapasitas itulah yang dianggap mendasari setiap pemahaman dan pengambilan keputusan tentang dunia alam dan perubahan-perubahan yang dilakukan dengan tindakan manusia terhadap dunia alam. Tampaknya definisi serupa itu langsung mengarahkan kita untuk berpikir bahwa sains untuk semua berarti setiap warga harus menjadi ilmuwan kecil atau berpikir seperti seorang ilmuwan kecil. Pemahaman kebanyakan orang tentang sains tidak seperti pemahaman ilmuwan, maka ada ilmuwan yang mengambil pendekatan defisit atau skeptis. Menurut mereka, kemelekan ilmiah adalah mitos (misalnya, Shamos, 1995) dan secara keseluruhan kita terlalu bodoh untuk menjadi melek secara ilmiah (scientifically literate). Untuk mendukung argumen tersebut, peneliti-penliti itu menunjukkan sebuah studi yang memperlihatkan sarjana-sarjana lulusan Harvard tidak tahu bahwa di musim panas letak bumi di belahan utara lebih jauh dari matahari daripada di musim dingin-berkebalikan dengan dugaan orang mengingat hubungan di antara suhu dan jarak dari sebuah sumber panas seperti kompor. Atau mereka menunjuk kepada fakta banyaknya orang yang mengalami kesulitan saat memprogram VCR miliknya sendiri adalah bukti kekurangan pengetahuan ilmiah. Para pengarang Science Matters: Achieving Scientific Literacy (Hazen dan Trefil, 1991), buku yang memiliki distribusi luas, menyenarai lebih dari 150 kata ilmiah dan nama ilmuwan yang harus diketahui semua orang. Ada laman-laman tentang relativitas khusus, persamaan-persamaan Maxwell, partikel gauge, serta hal-hal esoterik dan eksotis lainnya yang saya sendiri baru mengetahuinya di mata kuliah fisika pasca-sarjana tetapi tidak pernah berkesempatan memanfaatkannya dalam kehidupan sehari-hari. Jadi, apa yang perlu kita ketahui atau apa yang harus bisa kita lakukan agar menjadi melek secara iImiah? Atau, sebagai bayangan untuk contoh-contoh di bawah ini, apa yang harus bisa kita lakukan agar masyarakat sebagai suatu keseluruhan menjadi Iebih melek secara ilmiah?

KUPASAN KEMELEKAN ILMIAH BAGI SEMUA

Dengan terbitnya ratusan ribu artikel di jurnaI-jurnal ilmiah setiap tahunnya, bukan hanya tersedia kumpulan pengetahuan ilmiah yang berlimpah, tetapi pengetahuan ilmuwan juga berkembang dengan pesat. Meskipun demikian, pengetahuan yang dimiliki ilmuwan hanyalah sebagian kecil saja dari segenap pengetahuan itu. Bagian kecil manakah dari pengetahuan ilmiah yang sudah ada itu yang harus siswa pelajari? Jelas sekali, tidak ada orang yang sanggup mempelajari semuanya. Jadi, manakah bagian dari sains yang harus kita ajarkan? Mungkin sebagian orang berkata, ada beberapa dasar yang sebaiknya diajarkan, tetapi tidak ada bukti bahwa agar berhasil dalam hidup, bahkan berhasil dalam kebanyakan ilmu pengetahuan, kita perlu tahu tiga hukum gerak Sir Isaac Newton, misalnya, atau hukum kelistrikan Ohm.

Dalam pertanyaan tentang kemelekan ilmiah untuk semua, isu utama yang kedua bersinggungan dengan bentuk sains itu sendiri. Menurut sejarah, kebanyakan laki-laki kulit putihlah yang mengerjakan sains; merekalah yang tidak perIu mencemaskan hal-hal lain dalam hidup, seperti menyiapkan makanan, membesarkan anak, atau membersihkan dan merawat laboratorium tempat mereka bekerja. Mereka memiliki gaya-gaya khusus dalam bekerja dan berpikir, serta melegitimisasikan perbuatan dan pemikiran mereka. Karena pengetahuan tidak pernah ada dengan sendirinya, tetapi timbul dari pengalaman, pengetahuan itu juga terikat dengan nilai-nilai kita. Hasilnya, bentuk-bentuk pengetahuan yang dikembangkan para ilmuwan pun dicirikan oleh cara kerja mereka. Biasanya, mereka memisahkan pengetahuan dari pengalaman sehari-hari. Ilmuwan yang kita kenaI dari sejarah pengembangan bom atom, menggambarkan pengetahuan ilmiah itu bebas nilai (value free), objektif (artinya, tidak berhubungan dengan subjek manusia), sepenuhnya rasional, universal, impersonal, tidak berprasangka, tidak menghakimi, tidak dogmatis, dan seterusnya. Para pengecam mengatakan pendekatan itu khas budaya laki-laki, kulit putih, dan kelas menengah, serta tidak mewakili pengetahuan budaya-budaya lain, termasuk perempuan, bangsa-bangsa pribumi (atau First Nations), Amerika keturunan Afrika, dan masyarakat kelas pekerja (Harding, 1998). Dalam semua budaya tersebut, pengetahuan dirasakan dengan melibatkan hubungan; objek yang diketahui tidak terpisah dari subjek yang mengetahui.

Perbedaan dalam cara mengetahui itu dilukiskan dalam Feeling for the Organism, biografi yang ditulis Evelyn Fox Keller tentang ilmuwan peraih Penghargaan Nobel, Barbara McClintock (Keller, 1983). Perbedaan dalam cara mengetahui sehari-hari dan cara mengetahui ilmiah menyebabkan perempuan, bangsa First Nation, dan masyarakat Amerika keturunan Afrika sering merasakan benturan budaya ketika dihadapkan dengan sains yang bertentangan dengan pengetahuan mereka dan berprestasi baik dalam sains sekolah. Pendidik sains Glen Aikenhead yang memiliki banyak pengaruh dalam memahami perbedaan-perbedaan pada worldview sains dan cara mengetahui lainnya, menyatakan bahwa mayoritas luas siswa cenderung merasa terasing oleh perbedaan-perbedaan di antara pengetahuan yang mereka miliki dan budaya sains itu sendiri. Oleh karena itu, upaya yang mengharuskan semua orang untuk berpikir sebagaimana layaknya ilmuwan merupakan sebentuk kolonialisme modern. Aikenhead menyatakan bahwa pengajaran sains harus dilakukan dengan cara-cara yang mengakui keberadaan bentuk-bentuk cara mengetahui yang lain, contoh, bentuk-bentuk yang menjadi ciri pengalaman-pengalaman perempuan, bangsa First Nations, atau masyarakat Amerika keturunan Afrika. Lalu, bagaimana sebaiknya kita memikirkan, atau lebih tepatnya, memikirkan kembali kemelekan ilmiah?

MEMIKIRKAN KEMBALI KEMELEKAN ILMIAH

Sebagian pendidik sains mengusulkan agar kemelekan ilmiah dipikirkan kembali dalam hubungannya dengan kecakapan-kecakapan pengambilan tindakan (Roth dan Barton, 2004). Meskipun demikian, pengambilan tindakan tidak dapat dipelajari secara abstrak dengan membaca buku atau menghafal fakta-fakta tertentu, membaca tentang sains tidak menjadikan kita lebih melek secara ilmiah, sama halnya dengan menonton tayangan olahraga di televisi tidak lantas menjadikan kita lebih bugar secara fisik. Pengambilan tindakan dipelajari dengan melakukan tindakan. Dengan membaca buku dan menghafal fakta untuk mencapai suatu tujuan yang bermakna, kita mulai menangkap konsep-konsep sains dan mengembangkan kemelekan ilmiah. Selain itu, jelas sekali kita tidak bisa hanya melakukan tindakan begitu saja tetapi kita pun harus bertanggungjawab atas tindakan-tindakan kita. Oleh karena itu, pengambilan tindakan juga mengisyaratkan etika, moral, dan nilai-nilai.

SAINS YANG MENJADI PERTENTANGAN

Orang harus mampu mengambil tindakan ketika hal itu menyangkut komunitas dan kepentingan-kepentingannya. Dahulu, orang-orang yang memegang kekuasaan sering memanfaatkan ilmuwan untuk melucuti hak-hak sebagian anggota masyarakat atau untuk memaksakan pembangunan yang bertentangan dengan kehendak masyarakat yang mendiami area-area yang hendak dibangun. Mampu bangkit untuk membela dan berjuang demi hak dan kepentingan diri sendiri dalam pertentangan isu-isu yang juga melibatkan sains dan ilmuwan, harus menjadi tujuan utama kemelekan-sains untuk semua. Hal itu tidak berarti bahwa orang-orang yang bangkit berjuang harus benar-benar paham tentang struktur atom; alih-alih para pendukung berargumen pemikiran kembali mengatakan bahwa kemelekan ilmiah merujuk kepada kecakapan untuk terlibat perdebatan dan bila perlu mengikutsertakan para spesialis untuk mendukung kepentingan mereka.

Debat berikut ini dapat dipertimbangkan sebagai contoh diskusi. Debat itu melibatkan seorang insinyur yang dipekerjakan sebuah dewan kota keciI demi mendukung upaya mereka mencegah pembangunan saluran pipa di salah satu bagian kota untuk menyediakan air yang sama dengan yang sudah dimiliki semua orang lainnya. Insinyur tersebut melakukan beberapa tes dan membuat laporan tertulis yang digunakan untuk menyusun argumen yang menentang perluasan pembangunan saluran pipa air. Sebagian laporan itu menyatakan bahwa air sumur milik warga kota sudah aman secara biologis, tetapi memang ada beberapa masalah aestetis (unsur korosifnya terlalu banyak). Penduduk area yang bersangkutan mulai memprotes. Mereka sudah jenuh diharuskan mengganti-ganti pipa air dan peralatannya; setiap musim panas tiba, air minum harus diambil dengan mengemudi tiga mil jauhnya ke SPBU terdekat. Akhirnya, diselenggarakan musyawarah bersama masyarakat umum. Sebagai peserta musyawarah, berbagai ilmuwan dan insinyur menyediakan rangkuman dari laporan masing-masing. Lalu, penduduk kota mengajukan pertanyaan-pertanyaan menyangkut laporan-Iaporan tersebut. Dalam kutipan berikut ini, seorang penduduk lokal (Knott) menginterogasi Logan, kepala ilmuwan Logan Engineering.

 

Knott:       “Menurut Anda, apakah kromium bisa ditangani?”

Logan:      “Ya, saya yakin.”

Knott:       “Berhasilkah?”

Logan:      “Ya, dengan filtrat pertukaran ion, dengan filter. Saya sudah menelepon pabrik beberapa sistem dan mereka menjamin, itu bisa dilakukan. Cukup baguskah menurut Anda?”

Knott:       “Saya juga sudah membaca tentang cara itu di media cetak.”

Logan:      “Oh, kami punya terbitan di sini yang menyebutkan bahwa belum pernah. ada penanganan komersial untuk kromium.”

 

Laporan Logan menyebutkan bahwa untuk melenyapkan kromium di dalam air, penduduk harus membeli filter. Karena tidak terkesan dengan aneka gelar universitas yang konon dimiliki Logan, Knott bangkit memperjuangkan kepentingannya. Dia menyangsikan rekomendasi-rekomendasi sang insinyur. Meskipun Logan mengklaim sudah memperoleh informasi yang menunjukkan bahwa perlakuan air untuk kromium memang ada, Knott menyatakan bahwa informasi yang disediakan di ruang pameran di luar musyawarah menunjukkan bahwa belum ada perlakuan komersial untuk zat kimia tersebut. Seperti halnya Knott, penduduk lain dan warga yang menaruh perhatian mulai menyangsikan sang insinyur. Keragu-raguan itu menunjukkan mungkin ada beberapa kesalahan dalam metode ilmiah yang digunakan Logan. Selain itu, menjadi jelas bahwa penilaian Logan, yang dilakukan ketika air di dalam akuifer berada pada tingkat menengah (midlevel), keliru menggambarkan empat bulan dalam setahun ketika air sumur tidak dapat dikonsumsi.

Musyawarah itu juga menghasilkan banyak pengetahuan dan pengalaman yang telah mereka kumpulkan selama tinggal di area yang bersangkutan, yang bagi beberapa orang berarti tiga puluh tahun lamanya. Ada penduduk yang telah menyewa konsultan sendiri sehingga mereka sudah lama memiliki data ilmiah. Penduduk juga sudah tahu tentang korosi yang telah mematikan banyak tanaman serta merusak pipa dan peralatannya. Artinya, kendati kebanyakan tidak pernah belajar sains, penduduk turut berpengaruh dalam mewujudkan kemelekan ilmiah melalui forum publik musyawarah tersebut.

Lalu, bagaimana kita dapat membantu anak-anak muda menjadi melek secara ilmiah dalam arti mampu mewujudkan kemelekan ilmiah di komunitas mereka?

KEMELEKAN ILMIAH DI BERBAGAI LOKASI DI DALAM KOMUNITAS

Bila diamati apa saja yang dilakukan orang pada sebuah komunitas, ternyata mereka terlibat banyak aktivitas di lokasi yang berbeda-beda. Ada aktivitas-aktivitas yang melibatkan ilmuwan, insinyur, dan teknisi yang terlatih secara ilmiah. Aktivitas lainnya tidak melibatkan mereka, tetapi masih melibatkan pengetahuan ilmiah. Sains ternyata menjadi salah satu benang penghubung dalam kehidupan sosial. Bila diamati secara holistis pada komunitas apa pun, dengan berfokus kepada kelompok dan orang per orang yang berbeda-beda, umumnya kita menemukan individu dan kelompok terlibat produksi pengetahuan dan melakukan perubahan terhadap lingkungannya. Perubahan-perubahan itu sering mengikuti debat panas tentang kemungkinan dampak ekologis, ekonomi, politik, dan sosial. Sumbangan yang diberikan manusia, bentuk pengetahuan yang disumbangkan, juga berbeda-beda penduduk kota pada contoh di atas menggunakan pengetahuan dan pengalaman yang mereka kembangkan selama tigapuluh tahun sebagai salah satu sumberdaya dalam upaya mereka untuk secara berulang-ulang meluaskan saluran pipa air ke area mereka. Namun, pada komunitas itu juga, ada banyak cara lain yang melibatkan individu dan kelompok; dan mereka berhasil, walaupun tidak ada yang pernah menguji apakah mereka benar-benar paham struktur dan komposisi inti atom, atau menguji fakta lain yang telah dikumpulkan dan dicatat para ilmuwan dalam artikel dan buku.

Dalam satu kesempatan, sebuah kelompok environmentalis menyebutkan minat penduduk untuk ikut mengelola daerah aliran sungai (watershed) dan sungainya. Salah satu aspek utama dalam memperbarui daerah aliran sungai ialah membuat sungainya cocok sebagai habitat ikan trout seperti dahulu ketika orang kulit putih tiba di area tersebut. Habitat yang sesuai untuk trout memiliki semua ciri khas aliran air yang sehat-saluran-saluran air yang berkelok-kelok, kaya sisa kayu dan tanaman serta batu besar-besar, dinaungi vegetasi, suhu yang sejuk, serta kadar oksigen yang tinggi. Memulihkan sungai agar mampu menghasilkan trout juga merupakan salah satu langkah untuk memulihkan banyak aspek lainnya ke kondisi yang semestinya jika aliran air sungai sehat. Kaum Environmentalis, yang beberapa di antaranya pernah menjalani pelatihan ilmiah atau teknologi, dan para pengelola aliran sungai mengajak berbagai pakar yang membantu dalam proyek tersebut berjalan-jalan bersama melintasi sungai dan memberi nasihat tentang kelanjutan proyek restorasi tersebut. Berbagai kelompok lain juga ikut serta dalam perbaikan sungai dan memberikan sumbangannya, misalnya, mahasiswa-mahasiswi universitas yang mengukur aliran sungai dan menilai habitat di dalam dan di sekitar sungai sebagai bagian dari tugas musim panas. Tugas itu juga mengikutsertakan seorang mahasiswi yang menggunakan sistem informasi geografis sebagai bagian dari proyek gelar masternya dalam ilmu dunia alam untuk membuat banyak peta daerah aliran sungai dan menyumbangkan pengetahuan yang dihasilkannya bagi komunitas. Selama berinteraksi dengan banyak orang lain tersebut, semua pihak turut memberikan sumbangan bagi terwujudnya kemelekan ilmiah di komunitas, terlepas dari apakah mereka pernah belajar sains selepas kelas dua SMU atau tidak.

Semua aktivitas tersebut merupakan kanteks ideal tempat siswa-siswa sekolah dapat berpartisipasi dan mengambil tindakan. Ungkapan kemelekan ilmiah dalam lingkungan-lingkungan tersebut pasti berbeda-beda, sebab lain perbedaan hubungan sosial dan kondisi bahan pasti lain pula pengaruhnya terhadap tindakan. Selain itu, perbedaan hubungan sosial dan kondisi bahan juga akan menghidupkan kecenderungan yang berbeda-beda pula pada diri peserta, termasuk siswa, yang sekali lagi menuju kebentuk pengetahuan berbeda-beda yang dibawa ke dalam situasi saat itu. Contoh, siswa-siswa dari sebuah SMP lakal turut menghasilkan pengetahuan yang dapat dimanfaatkan oleh kelompok environmentalis dan komunitasnya sebagai satu keseluruhan. Dengan bantuan dalam berbagai cara dari guru, orang tua, sesepuh, ilmuwan, Environmentalis, dan lain-lain, sebagian siswa mengukur hubungan di antara jumlah organisme dan kecepatan arus air. Empat siswi membuat dokumentasi tentang polusi di sepanjang luasan sungai di tempat yang berbeda-beda dengan menggunakan foto dan amatan yang direkam dalam pita kaset. Seorang siswa menyenarai ilmuwan-ilmuwan dalam studinya tentang hitungan bakteri koliform di lokasi yang berbeda-beda sehingga mampu menarik hubungan di antara hitungan bakteri yang tinggi dengan peternakan khusus ayam dan sapi. Karena siswa-siswi tersebut merancang penelitian berdasarkan pengetahuan dan minat mereka sendiri, partisipasi siswa yang seringkali membenci sains — murid putri dan penduduk pribumi dalam topik sains tersebut — menjadi sangat meningkat.

Banyak keputusan dibutuhkan dalam penilaian habitat. Siswa-siswi belajar mengambil keputusan dengan bekerja sama dengan orang lain dan menggunakan alat-alat standar. Mereka menggunakan aneka formulir sebagai alat yang memungkinkan mereka memasukkan perkiraan untuk dimensi berbeda-beda yang menentukan suatu penilaian. Alat-alat dan formulir-formulir tersebut menentukan batasan dan mengatur aktivitas siswa sedemikian rupa sehingga mereka diarahkan ke sains alih-alih disiplin ilmu lain. Demikian pula, tugas menilai kualitas air bisa mustahil dilakukan andai tidak ada bermacam-macam alat yang dapat digunakan untuk aktivitas itu. Bermacam-macam instrumen ilmiah digunakan oleh siswa. Contoh, kualitas air di setiap luasan air ditentukan dari suhu pengujian, oksigen terlarut, turbiditas, dan pH. Mereka memasukkan hasil pengukuran alat ke formulir penilaian kualitas air. Formulir itu berisi gabungan hasil pengukuran alat dan hasil perhitungan. Hasilnya dibandingkan dengan hasil perhitungan yang sudah tetap dengan konversi kualitas.

Setiap tahun kelompok environmentalis menyelenggarakan acara kunjungan sekolah tempat dihasilkannya pengetahuan dan perubahan-perubahan aliran air dilaporkan. Para pengelola aliran air, mahasiswa universitas dan siswa SMP, serta banyak lainnya memberikan sumbangan untuk pameran-pameran dalam acara-acara yang selalu menarik banyak pengunjung. Para pengunjung meliputi orang muda dan orang dewasa, yang saling berinteraksi dengan aneka peserta pameran. Contoh, terlihat siswa-siswa SMP mengajari anak-anak yang lebih kecil cara memeriksa kesehatan sungai dengan mengambil sediaan mikroorganisme yang hidup di berbagai tempat. Mereka juga terlibat perbincangan bersama orang dewasa tentang cara mengidentifikasi organisme-organisme tersebut atau bagaimana menggunakan mikroskop untuk melihat organisme dengan jelas. Di tempat lain dua orang siswa menjelaskan alasan kemungkinan terdapat perbedaan konsentrasi mikroorganisme di lokasi berbeda sepanjang sungai dan kesimpulan yang dapat diambil dari perbedaan konsentrasi tersebut. Di lokasi lain pameran itu, seorang siswa SMP menjelaskan kepada seseorang yang lebih tua darinya, warga yang peduli terhadap lingkungan dan seorang pegiat, cara mengoperasikan kolorimeter, alat pengukur turbiditas air. Sebuah gulungan kertas grafik yang sudah dibuka dipasang di sekitar dinding mangan, memperlihatkan ketinggian permukaan air sungai dalam satu tahun; seorang teknisi air yang bekerja pada sebuah pertanian yang terletak di bantaran sungai menjelaskan arti tampilan grafik tersebut yang berbeda-beda. Di tempat lain di ruangan tersebut, ada model tiga dimensi daerah aliran sungai yang dibuat kelompok environmentalis untuk tujuan kependidikan.

Bentuk-bentuk partisipasi tersebut menyebabkan percakapan tentang ekologi daerah aliransungai dan Sungai Hagan meluas menjangkau pihak-pihak lain sehingga meluaskan pula kemelekan ilmiah kepada pihak-pihak lain di dalam komunitas. Barangkali yang terpenting ialah siswa-siswi SMP tersebut ikut memberikan sumbangan bagi sains dan kemelekan ilmiah di komunitasnya. Tidak cuma menghafal potongan-potongan informasi, hukum gerak Newton, atau proses biologi meiosis dan mitosis, siswa-siswa tersebut benar-benar memberikan sumbangan dengan mengubah komunitas mereka. Melalui peranan mereka dalam percakapan yang sedang berlangsung tentang kesehatan ekologis sungai dan daerah alirannya, siswa-siswa tersebut menjalankan peran mereka dalam memelihara dan mengembangkan kemelekan ilmiah di komunitas mereka. Dilihat dari cara pandang tersebut, kemelekan ilmiah adalah sesuatu yang ada di tingkat komunitas. Memberikan sumbangan dalam bentuk apa pun guna mempertahankan kemelekan ilmiah itulah yang benar-benar penting. Hal apa saja yang harus diketahui individu agar percakapan dapat terus berlangsung masih belum jelas untuk saat itu, tetapi sudah jelas bahwa agar percakapan bisa terus dipertahankan, kita harus mampu berpartisipasi di dalamnya. Melalui partisipasilah kita dapat mempertahankan percakapan sehingga berujung kepada kemelekan ilmiah untuk semua. Bentuk kemelekan ilmiah seperti itulah yang sangat berguna bagi masyarakat sehingga berguna pula bagi masing-masing individu. Akhimya, dalam hal lingkungan, kemelekan ilmiah seperti itu sangat berguna bagi umat manusia sebagai satu keseluruhan.

KEMELEKAN ILMIAH SEBAGAI PRAKTIK KOLEKTIF

Dahulu pendidik dan pengambil kebijakan kependidikan memikirkan kemelekan ilmiah dalam hubungannya dengan fakta-fakta dan segala hal yang bisa dimasukkan ke kepala. Pendidik berupaya menjejalkan hal-hal itu sebanyak-banyaknya ke dalam benak siswa, yang kemudian bisa dipamerkan dalam ujian. Namun, siswa tidak pernah atau jarang sekali harus tahu hal-hal tersebut dalam kehidupan di luar sekolah dan usai jam sekolah. Contoh kemelekan ilmiah dan kepakaran ilmiah di komunitas di atas memberikan gambaran berbeda. Kemelekan ilmiah merujuk kepada kemampuan untuk secara cakap dan beragam berpartisipasi di dalam percakapan ketika sains menjadi wilayah yang dipertentangkan, ketika penduduk menentang politikus-politikus komunitas dalam hal saluran pipa air, sekaligus menjadi sumberdaya ketika para pengelola sungai meminta nasihat biolog dan teknisi air tentang tindakan yang harus dilakukan agar sungai mereka kembali seperti semula, yaitu mampu menjadi habitat ikan trout. Kendati beberapa pengelola tidak pernah mendapat pelatihan ilmiah dan kebanyakan sudah lupa dengan sains yang mereka pelajari dahulu di sekolah, semua orang berpartisipasi di dalam percakapan-percakapan menyangkut peningkatan mutu aliran air sungai. Partisipasi orang-orang itu dalam percakapan tentang lingkungan ibarat peranan serat-serat dari bahan dan warna berbeda-beda dalam menyusun selembar benang. Serat-serat dan benang itu saling menentukan: keberadaan benang itu sendiri tergantung pada adanya serat-serat, tetapi nilai sumbangan tiap-tiap serat menjadikan keseluruhannya tergantung pada benang itu. Begitu berada di dalam komunitas, sains berubah sifat karena harus menyesuaikan dalam upaya-upayanya merangkul warga dan diterima oleh warga. Kemelekan ilmiah yang sepenuhnya demokratis, yaitu benar-benar menjadi sains untuk semua, tidak boleh mempertahankan sifat esoterisnya, sama halnya dengan upaya lain yang ditempuh manusia bila ingin membuka diri, yaitu mengubah sifatnya seperti halnya orang-orang lain juga mengubah sifatnya sendiri dalam proses praktik.

MENJADI MELEK SECARA ILMIAH DAN BERPRESTASI BAlK DALAM UJIAN

Mungkin ada pembaca yang bertanya kepada diri sendiri, “Masa, ikut serta dalam urusan komunitas bisa mernpersiapkan saya (atau anak saya, atau siswa saya) untuk menghadapi ujian yang menentukan masa depan saya (atau anak saya, atau siswa saya)? Apakah tidak seharusnya kita menyiapkan diri langsung untuk ujian itu saja?” Sudah bertahun-tahun saya mengajarkan sains dengan cara membolehkan siswa memilih topik dan sarana aktivitas berdasarkan minat mereka, tetapi dalam prosesnya saya juga membantu dan mengarahkan mereka. Saya tahu banyak hal yang berhasil dipelajari siswa-siswa saya dalam pelajaran fisika dan biologi. Sebagai guru, saya menyediakan kotak perkakas dan sumberdaya dokumen (seperti buku sains dan pedoman lapangan), yang pada dasarnya mengatur aktivitas siswa setelah mereka mulai memahaminya sebagai sumberdaya. Siswa akan cenderung kepada hal-hal ilmiah karena mereka menggunakan alat-alat, instrumen, dan sumberdaya cetak yang tersedia dan berpikir dalam hubungannya dengan semua sumberdaya itu. Sebagai guru dan orang tua, mendidik siswa agar mampu menghadapi kehidupan selalu menjadi prioritas utama saya. Mungkin prioritas itu tidak konsisten dengan muatan ujian dan proses ujian, tetapi saya menemukan banyak siswa mulai mengetahui tidak hanya hal-hal yang ditetapkan lebih dahulu oleh kurikulum, tetapi juga muatan subjek dari tingkat lanjut yang lebih sulit. Artinya, belajar bersama-sama orang lain untuk mencapai tujuan-tujuan khusus, seperti memberikan sumbangan bagi pengetahuan kolektif sebuah komunitas, tidak hanya menyenangkan tetapi juga amat sangat efisien.

Sepanjang perjalanan karier saya, saya tergerak membolehkan siswa belajar sebagaimana yang saya lakukan dalam pelajaran mengenai lingkungan. Cara saya mengajar selalu seperti itu, berusaha menarik minat siswa untuk lebih banyak mencari tahu dan dari perspektif berbeda. Meskipun demikian, saya pun menyadari, konsep-konsep yang dipelajari siswa akan lain. Oleh karena itu, untuk menyiapkan siswa-siswa saya menghadapi segala jenis ujian, saya adakan les dalam jumlah yang cukup untuk menyiapkan mereka menghadapi ujian. Sebagai orang tua, saya melakukan kegiatan bersama anak-anak saya di komunitas dan aktivitas lain yang berhubungan dengan sains yang benar-benar bermakna serta melibatkan mereka dan membantu mereka belajar untuk ujian-ujian formal. Saya juga mencari tahu kalau-kalau saya bisa terlibat membantu guru-guru sains sebagaimana yang telah dilakukan orang tua siswa-siswa tersebut dalam topik pelajaran lingkungan. Sebagai kepala jurusan sains, saya mendorong guru-guru lain agar mengajar dengan ikut terlibat aktivitas yang berguna dan bermakna sebagai salah satu cara untuk memperkenalkan guru-guru sains itu, mereka ikut mengajar bersama saya dan saya pun ikut mengajar bersama mereka. Sebagai kepala jurusan atau pengelola, saya akan terus mendorong para guru agar mengajar seperti itu dan menyisihkan waktu yang dibutuhkan khusus untuk belajar untuk ujian dan memperoleh keterampilan-keterampilan yang dibutuhkan untuk mengerjakan ujian.

Leave a Reply

Close Menu