KELEDAI

KELEDAI

Serial Quran dan Sains

Keledai (himar) disebutkan dalam Alquran sebanyak lima kali, umumnya digunakan sebagai metafora. Allah berfirman,

أَوْ كَالَّذِي مَرَّ عَلَىٰ قَرْيَةٍ وَهِيَ خَاوِيَةٌ عَلَىٰ عُرُوشِهَا قَالَ أَنَّىٰ يُحْيِي هَٰذِهِ اللَّهُ بَعْدَ مَوْتِهَا ۖ فَأَمَاتَهُ اللَّهُ مِائَةَ عَامٍ ثُمَّ بَعَثَهُ ۖ قَالَ كَمْ لَبِثْتَ ۖ قَالَ لَبِثْتُ يَوْمًا أَوْ بَعْضَ يَوْمٍ ۖ قَالَ بَل لَّبِثْتَ مِائَةَ عَامٍ فَانظُرْ إِلَىٰ طَعَامِكَ وَشَرَابِكَ لَمْ يَتَسَنَّهْ ۖ وَانظُرْ إِلَىٰ حِمَارِكَ وَلِنَجْعَلَكَ آيَةً لِّلنَّاسِ ۖ وَانظُرْ إِلَى الْعِظَامِ كَيْفَ نُنشِزُهَا ثُمَّ نَكْسُوهَا لَحْمًا ۚ فَلَمَّا تَبَيَّنَ لَهُ قَالَ أَعْلَمُ أَنَّ اللَّهَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ۝

Atau seperti orang yang melewati suatu negeri yang (bangunan-bangunannya) telah roboh hingga menutupi (reruntuhan) atap-atapnya, dia berkata, “Bagaimana Allah menghidupkan kembali (negeri) ini setelah hancur?” Lalu Allah mematikannya (orang itu) selama seratus tahun, kemudian membangkitkannya (menghidupkannya) kembali. Dan (Allah) bertanya, “Berapa lama engkau tinggal (di sini)?” Dia (orang itu) menjawab, “Aku tinggal (di sini) sehari atau setengah hari.” Allah berfirman, “Tidak! Engkau telah tinggal seratus tahun. Lihatlah makanan dan minumanmu yang belum berubah, tetapi lihatlah keledaimu (yang telah menjadi tulang belulang). Dan agar Kami jadikan engkau tanda kekuasaan Kami bagi manusia. Lihatlah tulang belulang (keledai itu), bagaimana Kami menyusunnya kembali, kemudian Kami membalutnya dengan daging.” Maka ketika telah nyata baginya, dia pun berkata, “Saya mengetahui bahwa Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.” (Alquran, Surah al-Baqarah/2:259)

Terdapat beberapa pesan moral dalam ayat di atas, yaitu: (1) Bahwa waktu bukanlah suatu halangan bagi Allah; (2) Bahwa waktu dalam perspektif Allah dapat berakibat berbeda pada benda yang berbeda; (3) Kunci kehidupan dan kematian ada di tangan Allah; dan (4) Bahwa manusia bukanlah siapa-siapa di hadapan kekuasaan Allah. Karena itu sudah seharusnya mereka beriman kepada Allah.

Ini dicontohkan kepada mereka yang menyatakan telah beriman kepada Kitab Allah (dalam hal ini Taurat) namun enggan melaksanakan apa yang ada di dalamnya. Keburukan akan menimpa mereka yang meninggalkan ayat-ayat Allah, dan mereka tidak akan diberi petunjuk sedikit pun.

Umumnya yang terbersit di pikiran manusia ketika mendengar kata “keledai” adalah gambaran hewan yang dungu, bebal, kurang sopan, dan tidak berperasaan. Kesan inilah pula yang Allah sampaikan dalam Surah al-Jumu’ah/62: 5. Dalam ayat ini Allah menyamakan orang-orang Yahudi yang enggan mengamalkan ajaran Taurat dengan keledai yang tidak tahu pentingnya buku-buku yang sedang dipikulnya. Alangkah dungunya manusia yang hanya memiliki kecerdasan setingkat dengan keledai.

Perumpamaan orang-orang yang diberi tugas membawa Taurat, kemudian mereka tidak membawanya (tidak mengamalkannya) adalah seperti keledai yang membawa kitab-kitab yang tebal. Sangat buruk perumpamaan kaum yang mendustakan ayat-ayat Allah. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim. (al-Jumu’ah/62: 5)

Ayat lain yang juga menyebut keledai adalah firman Allah,

وَالْخَيْلَ وَالْبِغَالَ وَالْحَمِيرَ لِتَرْكَبُوهَا وَزِينَةً ۚ وَيَخْلُقُ مَا لَا تَعْلَمُونَ۝

Dan (Dia telah menciptakan) kuda, bagal, dan keledai, untuk kamu tunggangi dan (menjadi) perhiasan. Allah menciptakan apa yang tidak kamu ketahui. (Alquran, Surah an-Naḥl‎/16: 8)

وَاقْصِدْ فِي مَشْيِكَ وَاغْضُضْ مِن صَوْتِكَ ۚ إِنَّ أَنكَرَ الْأَصْوَاتِ لَصَوْتُ الْحَمِيرِ۝

Dan sederhanakanlah dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai.” (Alquran, Surah Luqmān/31: 19)

كَأَنَّهُمْ حُمُرٌ مُّسْتَنفِرَةٌ۝

Seakan-akan mereka keledai liar yang lari terkejut. (Alquran, Surah al-Muddaṡṡir/74: 50) 

Selain dalam Alquran, keledai juga disebut dalam beberapa hadis, di antaranya:

Suatu ketika ia (Ibnu ‎‘Abbās) datang menunggang keledai. Pada saat yang sama, Rasulullah yang sedang berada di Mina ketika menunaikan Haji Wada’ sedang menunaikan salat bersama para sahabat. Keledai itu berjalan di depan sebagian salat lalu Ibnu ‎‘Abbās turun dan ikut berbaris mengikuti salat bersama jamaah yang lain. (Riwayat al-Bukhāri dan Muslim dari Ibnu ‎‘Abbās)

Suatu ketika Rasulullah menunggang keledai dengan pelana yang ditutupi sutra dari Fadak, dan memboncengkan Usamah di belakangnya. (Riwayat al-Bukhāri dan Muslim dari Usamah bin Zaid)

Pada saat Perang Khaibar, Rasulullah melarang kami mengkonsumsi daging keledai piaraan, dan memperbolehkan mengkonsumsi daging kuda. (Riwayat al-Bukhāri dan Muslim dari Jābir bin ‎‘Abdullāh)

Keledai juga disebut dalam hadis-hadis lainnya, seperti hadis yang berisi anjuran mengendarai keledai (Riwayat at-Turmużi), kisah keledai yang hilang dan menyebabkan satu kelompok kaum Ansar dapat masuk ke benteng untuk membunuh Abū Rāfi‘ (Riwayat al-Bukhāri); seseorang yang mendapat julukan keledai dan selalu dihukum oleh Nabi (Riwayat al-Bukhāri); Rasulullah salat sunah di atas keledai (Riwayat al-Bukhāri dan Malik); persepsi yang salah bahwa berlalunya keledai, anjing, dan wanita di depan jamaah yang menunaikan salat akan membatalkan salat mereka (Riwayat al-Bukhāri); perbandingan ukuran keledai dengan buraq (Riwayat al-Bukhāri); perbandingan bagian yang tidak berbulu dan yang berbulu dari kaki depan keledai sebagai gambaran perbandingan antara muslim dan non-muslim (Riwayat al-Bukhāri); dan pembolehan memberi nama kepada binatang seperti keledai (Riwayat al-Bukhāri).

Perikehidupan Keledai

Keledai (Equus africanus asinus) adalah salah satu jenis dalam kelompok kuda (Equidae) yang telah dipelihara manusia sejak lama. Nenek moyang keledai adalah keledai liar (Equus africanus) yang hidup di beberapa bagian Afrika.

Equus africanus

Jenis-jenis yang ada dalam kelompok suku Equidae dapat kawin silang, di mana anakan hasil kawin silang itu hampir selalu dalam keadaan mandul. Kendati mandul, keledai, seperti halnya bagal, terkenal dengan kekuatan dan kemampuannya yang tinggi.

Keledai pertama kali didomestikasi manusia pada sekitar 3.000 tahun SM, kira-kira hampir bersamaan dengan domestikasi kuda. Sampai saat ini keledai masih menjadi salah satu hewan yang punya posisi penting dalam kehidupan manusia. Di Pulau Hydra di Laut Mediterania, keledai bahkan menjadi satu-satunya alat transportasi akibat larangan pengoperasian mobil di pulau ini. Berbeda nasib dari keledai yang telah didomestikasi, keledai liar berada dalam status konservasi dan perlu dilindungi. Populasinya terus menurun di alam liar. Beberapa anak jenis dari keledai liar Afrika ini, misalnya yang hidup di kawasan Ethiopia dan Somalia, Equus africanus somaliensis, juga mengalami nasib yang sama. Kondisinya sangat memprihatinkan dan diduga hanya tersisa beberapa ratus ekor. Konflik yang terjadi di kawasan ini dituding menjadi salah satu penyebabnya. Konflik berbuntut meningkatnya jumlah senjata yang ada di tangan masyarakat. Akibatnya sudah dapat ditebak; perburuan meningkat pesat, di mana keledai liar adalah salah satu sasarannya. Konflik berkepanjangan ini semakin menambah beban hidup yang harus dipikul oleh keledai liar, di samping beban-beban hidup yang mereka tanggung sebelumnya. Mereka mesti mengalami penyempitan ruang hidup karena peralihan peruntukan lahan atau membesarnya lahan usaha untuk peternakan.

Keledai liar lainnya adalah keledai liar Asia (Equus africanus asinus), yang hidup di Asia Tengah, Mongolia, dan India. Keledai liar hidup menyendiri, tidak seperti kuda liar yang hidup berkelompok. Keledai liar mampu beradaptasi dengan baik terhadap lingkungan pinggiran gurun. Karena hidup menyendiri maka keledai dibekali suara yang sangat nyaring agar dapat berhubungan satu sama lain. Suara yang dikeluarkannya dapat terdengar sampai radius tiga kilometer.

Keledai memiliki daun telinga yang lebih besar daripada kuda, mungkin agar hewan ini dapat menangkap suara dengan lebih baik. Yang jelas, sebagaimana telinga gajah, telinga keledai juga berguna untuk mendinginkan darah yang mengalir di tubuhnya.

Keledai yang telah didomestikasi memiliki tinggi badan berkisar antara 0,9-1,6 m. Keledai dengan perawakan besar dan tinggi ditemui di bagian selatan Spanyol (ras Andalucian-Cordobesan). Umur keledai dapat mencapai 30-50 tahun. Nenek moyang keledai peliharaan yang ada saat ini adalah hasil domestikasi dari keledai Nubia dan Somalia. Upaya domestikasi ini, seperti telah dijelaskan sebelumnya, mulai dilakukan pada 4.000 tahun SM.

Daya tahan dan kekuatannya menjadikan keledai sebagai pembawa beban yang tangguh. Mereka mampu membawa barang seberat 20% hingga 30% dari berat badannya. Keledai juga dapat digunakan untuk kepentingan pertanian, seperti menarik bajak, atau menghasilkan air susu. Pada sekitar 1.800 SM, keledai telah sampai di Timur Tengah sehingga kota dagang Damaskus sempat dijuluki “Kota Keledai”. Suriah dikenal menghasilkan tiga macam keledai, salah satunya disebut “keledai tunggang” yang nyaman dikendarai para wanita.

Bangsa Yunani mengasosiasikan keledai dengan Dewa Anggur (Dionysius), sedangkan bangsa Romawi menggunakan keledai sebagai hewan persembahan. Keledai mulai muncul di benua Amerika pada 1495 saat Christopher Columbus membawa empat ekor keledai liar jantan dan dua kuda betina dalam pelayarannya menemukan benua tersebut. Ketika menjadi presiden pertama Amerika, George Washington mendatangkan keledai dari Spanyol dan Perancis dalam jumlah besar. Keledai banyak digunakan sebagai pembawa beban saat terjadinya “demam emas” di California, AS, pada pertengahan abad XIX. Ketika usaha-usaha penggalian emas mulai surut keledai-keledai kemudian dilepaskan dan menjadi liar kembali di kawasan Gurun California sampai saat ini.

Selama Perang Dunia I, keledai banyak digunakan sebagai pembawa beban, tunggangan, dan penarik meriam. Dalam Perang Afghanistan, pernah ditemukan pada tahun 2006 seekor keledai yang akan digunakan sebagai pengangkut bom yang rencananya akan diledakan di tengah kerumunan masyarakat sipil.

Saat ini diperkirakan ada sekitar 44 juta keledai hidup di dunia. Jumlah terbanyak terdapat di Cina (11 juta ekor), disusul kemudian di Pakistan, Ethiopia, dan Meksiko. Penggunaaanya masih sama dengan apa yang dilakukan manusia 6.000 tahun yang lalu. Peran utamanya adalah untuk transportasi, baik untuk ditunggangi, sebagai pembawa beban, atau menarik kereta. Keledai juga digunakan untuk menarik bajak, memutar alat penggiling biji-bijian, atau menarik pengerek air dari sumur. Keledai tidak terlalu banyak dimanfaatkan susu atau dagingnya.

Keledai banyak disebut dalam kaitannya dengan agama dan mitos. Dalam mitologi Yunani ada satu kisah di mana Raja Midas berselisih dengan Dewa Apollo ketika keduanya menjadi juri dalam suatu kontes musik. Apollo kemudian mengganti telinga Midas dengan telinga keledai sebagai hukuman. Dalam tradisi Yahudi dan Kristen, Yesus digambarkan hampir selalu mengendarai keledai. Keledai dianggap sebagai suatu kemewahan dalam kitab-kitab Yahudi. Saat itu, rakyat jelata hanya mampu berjalan kaki. Keadaan mulai berbalik ketika para bangsawan beralih menunggangi kuda. Ketika itu keledai dianggap mewakili kesederhanaan atau melambangkan cara hidup yang lebih baik daripada mengejar kemewahan.

Keledai memang tidak seanggun kuda. Kuda yang gagah digunakan oleh banyak orang besar, sebut saja Alexander Agung, Jenghis Khan, Napoleon, George Washington, bahkan Diponegoro. Sebaliknya, pengendara keledai hampir selalu identik dengan cap sebagai orang kecil, rakyat jelata, bahkan orang yang dungu yang agak terganggu mentalnya, seperti dalam kisah Don Kisot yang sedang mengendarai hewan yang dungu.

Kendati demikian, pada kenyataannya ada pula manusia dengan kedudukan jauh lebih agung daripada mereka yang disebut di atas yang selalu digambarkan mengendarai keledai dalam peristiwa-peristiwa kemanusiaan penting. Banyak peristiwa besar di mana keledai menjadi salah satu tokohnya. Isa Almasih masuk dan “menaklukan” Jerusalem, memporak-porandakan pasar yang berdiri di atas Kuil Sulaiman dan menghabiskan dirinya sebagai raja-nabi orang Yahudi. Nabi Muḥammad dalam Perang Hunain, ketika pasukan Islam terjebak dalam kepungan pasukan panah musuh, beliau justru maju sambil mengendarai keledai seraya berkata lantang, “Akulah Muḥammad, utusan Allah, putra Abdullah bin Abdul Mutallib!” Hal itu membuat musuh terkejut. Mereka tidak pernah melihat manusia seberani Muḥammad, menentang hujan panah sendirian dengan keledainya. Di pihak pasukan Islam, melihat pimpinannya maju sendirian, mereka dengan malu dan menyesal bergegas maju mengikuti beliau menyerbu musuh. Itulah awal dari kemenangan pasukan Islam. Jauh sebelum kedua nabi ini, Raja Daud dan Sulaiman juga tercatat mengendarai keledai dalam peperangan. Dengan demikian, wajarlah jika manusia lebih menghormati kepada keledai, layaknya mereka menaruh respek yang besar kepada para nabi yang telah mengendarainya dalam menegakkan kalimat Allah.

 

Dikutip dari Tafsir ‘Ilmi

Leave a Reply

Close Menu