KEKELIRUAN DALAM “METODE ASTRONOMI QURANI DALAM MENENTUKAN LAJU C”
Truck light trails in tunnel. Art image . Long exposure photo taken in a tunnel; Shutterstock ID 108007436; PO: The Huffington Post; Job: The Huffington Post; Client: The Huffington Post; Other: The Huffington Post

KEKELIRUAN DALAM “METODE ASTRONOMI QURANI DALAM MENENTUKAN LAJU C”

Tulisan ini berawal dari ayat Alquran, yang berbunyi: Dia mengatur urusan dari langit ke bumi, kemudian (urusan) itu naik kepada-Nya dalam satu hari yang kadarnya adalah seribu tahun menurut perhitunganmu (Alquran, Surah As-Sajdah/32: 5); saya telah mencatat adanya bias yang melekat dalam terjemahan tersebut.

Dari ayat ini pula, penulisnya kemudian menarik beberapa kesimpulan berikut:

  1. Ia mengatakan, “Ungkapan Alquran menurut perhitunganmu memberi kepastian pada kita bahwa tahun yang dimaksud adalah tahun qamariah“. Akan tetapi, perlu dicatat bahwa karena maksudnya adalah ‘perhitungan manusia’, maka ia seharusnya mengacu pada bulan-bulan (fase bulan) sinodik, 594 bukan bulan-bulan (orbit bulan) sideris yang mustahil bisa disimpulkan dari ‘perhitungan.’
  2. Ia menulis: “Masalah ini melintas dalam satu hari yang jarak terjauhnya dalam ruang setara dengan jarak terjauh lintasan bulan selama seribu tahun qamariah (yaitu 12.000 bulan sideris)” Pernyataan ini mengandung satu lompatan konseptual yang sangat jauh, karena ayat itu berbicara mengenai periode waktu, bukan jarak.
  3. Ia lalu merumuskan persamaan sebagai berikut: Jarak lintas urusan kosmis semesta dalam ruang hampa dalam satu bulan sideris = lamanya 12.000 putaran bulan di sekitar bumi.

Ct = 12,000 L,

di mana C adalah kecepatan urusan kosmis; t adalah jeda waktu satu hari sideris bumi yang ditetapkan sebagai satu putaran bumi mengelilingi sumbunya (berhubungan dengan bintang-bintang), yaitu 23 jam, 56 menit, 4,0905 detik = 86.164,0906 detik; L adalah jarak kelembaman yang ditempuh bulan ketika ikut berputar mengelilingi bumi selama satu bulan sideris, sehingga L adalah lama neto orbit bulan akibat gerak geosentrisnya sendiri, tanpa gangguan gerak spiralnya yang diakibatkan oleh putaran bumi mengelilingi matahari, yang berarti L adalah lamanya orbit bulan tanpa efek medan gravitasi surya pada nilai terukur.

Perhatikan bagaimana ia menggunakan istilah ilmiah ‘yang mengagumkan’ tersebut ketika mengartikan L, sehingga ia bisa dengan mudah menjelaskan L sebagai ‘keliling orbit bulan  terhadap bumi yang dianggap diam

  1. Kemudian L dihitung sebagai L = 2 π R, dengan R sebagai rata-rata jarak bulan-bumi, dan V = L/T adalah rata-rata laju edar bulan, T sebagai periode edar (sideris) bulan.
  2. Maka dimasukkanlah sudut α, sehingga persamaan V = L/T tadi menjadi L=V cosα T, dengan α diperkenalkan sebagai ‘sudut tempuh sistem bumi-bulan mengelilingi matahari selama satu bulan sideris.’ Penulisnya membenarkan perhitungan ini dengan alasan berikut: “Karena kehadiran matahari mengubah bagian-bagian geometris ruang dan waktu, kita harus menyaring efek gravitasinya terhadap sistem bumi-bulan menurut kondisi validitas dari dalil kedua relativitas khusus. Artinya, kita hanya boleh melihat gerak geosentris itu tanpa gerak heliosentris sistem bumi-bulan itu. Untuk itu, diperkenalkanlah unsur kelembaman Vo=V cosα. yang mewakili kelembaman edar neto ketika menghitung lama neto L orbit bulan yang mengandaikan suatu bumi yang tak bergerak”. Dari sisi fisika atau geometri, perhitungan ini sama sekali tidak masuk akal.
  3. Akhirnya, dengan menggabungkan kedua persamaan itu

Ct = 12,000 L dan

L = V cosα T

penulisnya sampai pada nilai C: 299.792,5 km/detik, yang dengan bangga ia samakan dengan nilai standar 299.792,46 km/detik.

Dr. Mansour Hassab Elnaby

Leave a Reply

Close Menu