KEHIDUPAN SETELAH KEMATIAN

Serial Quran dan Sains

Kebangkitan manusia dari kuburnya dan hidup kembali seperti semula dalam kondisi yang berbeda sama sekali dari sebelumnya merupakan sesuatu yang fenomenal. Betapa tidak, manusia yang terdiri dari daging dan tulang belulang setelah kematiannya pasti akan hancur lebur karena proses alamiah di dalam tanah atau air atau udara, kecuali jika dijadikan mumi dengan membubuhkan ramuan-ramuan tertentu sehingga jasad akan menjadi awet, sebagaimana yang dilakukan orang Mesir Kuno terhadap raja-raja mereka.

Lantas, apakah mungkin jasad yang sudah hancur lebur bisa kembali lagi seperti sedia kala? Secara akal, sulit untuk bisa diterima dan ini tidak bisa diujicobakan dalam laboratorium kimia mana pun. Jikalau ada teknologi yang mampu, sudah pasti banyak ilmuwan yang ingin membangkitkan kembali orang-orang yang mereka kagumi pada masa lalu. Nyatanya, sampai detik ini tidak ada satu bangsa pun yang mampu melakukannya. Mengapa? Kehidupan seseorang sangat tergantung pada keberadaan roh ciptaan Allah. Roh merupakan misteri, hanya Allah yang mengetahuinya. Tidak ada satu bangsa pun yang mampu mengetahui hakikat roh ini. Roh masuk dalam “urusan” Allah, bukan urusan manusia. Manusia hanya mengurus badan yang telah dimasuki roh.

Kebangkitan manusia tidak bisa dipecahkan oleh filsafat, tetapi bisa dijawab oleh agama. Seperti keberadaan alam kubur dan malaikat, kebangkitan merupakan hal gaib yang harus diimani. Mendustakannya adalah sebuah pengingkaran dan kesesatan. Allah berfirman,

وَقَالَ الَّذِينَ كَفَرُوا هَلْ نَدُلُّكُمْ عَلَىٰ رَجُلٍ يُنَبِّئُكُمْ إِذَا مُزِّقْتُمْ كُلَّ مُمَزَّقٍ إِنَّكُمْ لَفِي خَلْقٍ جَدِيدٍ۝ أَفْتَرَىٰ عَلَى اللَّهِ كَذِبًا أَم بِهِ جِنَّةٌ ۗ بَلِ الَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ بِالْآخِرَةِ فِي الْعَذَابِ وَالضَّلَالِ الْبَعِيدِ۝

Dan orang-orang kafir berkata (kepada teman-temannya), “Maukah kami tunjukkan kepadamu seorang laki-Iaki yang memberitakan kepadamu bahwa apabila badanmu telah hancur sehancur-hancurnya, kamu pasti (akan dibangkitkan kembali) dalam ciptaan yang baru. Apakah dia mengada-adakan kebohongan terhadap Allah atau sakit gila?” (Tidak), tetapi orang-orang yang tidak beriman kepada akhirat itu berada dalam siksaan dan kesesatan yang jauh (Alquran, Surah Saba/34: 7-8)

وَقَالُوا أَإِذَا ضَلَلْنَا فِي الْأَرْضِ أَإِنَّا لَفِي خَلْقٍ جَدِيدٍ ۚ بَلْ هُم بِلِقَاءِ رَبِّهِمْ كَافِرُونَ۝

Dan mereka berkata, “Apakah bila kami telah lenyap (hancur) dalam tanah, kami akan berada dalam ciptaan yang baru? Bahkan mereka mengingkari pertemuan dengan Tuhannya (Alquran, Surah As-Sajdah/32: 10).

أَيَعِدُكُمْ أَنَّكُمْ إِذَا مِتُّمْ وَكُنتُمْ تُرَابًا وَعِظَامًا أَنَّكُم مُّخْرَجُونَ۝ هَيْهَاتَ هَيْهَاتَ لِمَا تُوعَدُونَ۝ إِنْ هِيَ إِلَّا حَيَاتُنَا الدُّنْيَا نَمُوتُ وَنَحْيَا وَمَا نَحْنُ بِمَبْعُوثِينَ۝

Adakah dia menjanjikan kepada kamu, bahwa apabila kamu telah mati dan menjadi tanah dan tulang belulang, sesungguhnya kamu akan dikeluarkan (dari kuburmu)? Jauh! Jauh sekali (dari kebenaran) apa yang diancamkan kepada kamu, (kehidupan itu) tidak lain hanyalah kehidupan kita di dunia ini, (di sanalah) kita mati dan hidup) dan tidak akan dibangkitkan (Iagi). (Alquran, Surah al-Muminūn/23: 35-37)

 

Termasuk pendustaan dan pengingkaran adalah keyakinan bahwa kekuatan yang menjadikan manusia hidup dan mati tidak lain adalah pergantian masa (addahr), bukan lainnya. Mereka yang berpendapat demikian dinamakan kaum ad-Dahriyyun. Allah berfirman,

وَقَالُوا مَا هِيَ إِلَّا حَيَاتُنَا الدُّنْيَا نَمُوتُ وَنَحْيَا وَمَا يُهْلِكُنَا إِلَّا الدَّهْرُ ۚ وَمَا لَهُم بِذَٰلِكَ مِنْ عِلْمٍ ۖ إِنْ هُمْ إِلَّا يَظُنُّونَ۝

Dan mereka berkata, “kehidupan ini tidak lain hanyalah kehidupan di dunia saja, kita mati dan kita hidup dan tidak ada yang membinasakan kita selain masa”. Tetapi mereka tidak mempunyai ilmu tentang itu, mereka hanyalah menduga-duga saja. (Alquran, Surah alJāiyah/45: 24)

 

Dialektika kebangkitan manusia dari alam kubur sejatinya sudah ada sejak sebelum Islam. Ini terindikasi dari penjelasan ayat Alquran tentang beberapa hal berikut. Pertama, kisah seorang nabi ketika melewati negeri yang telah porak poranda. Diriwayatkan namanya ‘Uzair atau Hizqial, atau seorang dari Bani Isra’il, atau mungkin lainnya. Alquran tidak begitu mementingkan untuk menyebut nama, karena yang terpenting adalah pelajaran yang dipetik dari kisahnya. Begitu juga dengan nama negeri yang telah porak poranda. Sebagian riwayat menyebutnya Baitul Maqdis yang telah dihancurkan oleh Nebukadnezar (Bukhtunashshar al-Babili).

Dikisahkan, ketika melewati negeri yang porak-poranda itu, nabi itu bertanya, “Bagaimana Allah bisa membangkitkan kembali penduduk negeri yang telah mati ini?” Allah pun mematikan dia bersama keledainya. Selang seratus tahun kemudian, Allah membangkitkan dia bersama keladainya. Maka menjadi jelaslah persoalan (kebangkitan) baginya hingga dia memercayainya, sebab Allah Mahakuasa atas segala sesuatu. Allah berfirman,

أَوْ كَالَّذِي مَرَّ عَلَىٰ قَرْيَةٍ وَهِيَ خَاوِيَةٌ عَلَىٰ عُرُوشِهَا قَالَ أَنَّىٰ يُحْيِي هَٰذِهِ اللَّهُ بَعْدَ مَوْتِهَا ۖ فَأَمَاتَهُ اللَّهُ مِائَةَ عَامٍ ثُمَّ بَعَثَهُ ۖ قَالَ كَمْ لَبِثْتَ ۖ قَالَ لَبِثْتُ يَوْمًا أَوْ بَعْضَ يَوْمٍ ۖ قَالَ بَل لَّبِثْتَ مِائَةَ عَامٍ فَانظُرْ إِلَىٰ طَعَامِكَ وَشَرَابِكَ لَمْ يَتَسَنَّهْ ۖ وَانظُرْ إِلَىٰ حِمَارِكَ وَلِنَجْعَلَكَ آيَةً لِّلنَّاسِ ۖ وَانظُرْ إِلَى الْعِظَامِ كَيْفَ نُنشِزُهَا ثُمَّ نَكْسُوهَا لَحْمًا ۚ فَلَمَّا تَبَيَّنَ لَهُ قَالَ أَعْلَمُ أَنَّ اللَّهَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ۝

Atau seperti orang yang melewati suatu negeri yang (bangunan-bangunannya) telah roboh hingga menutupi (reruntuhan) atap-atapnya. Dia berkata, Bagaimana Allah menghidupkan kembali (negeri) ini setelah hancur? Lalu Allah mematikannya (orang itu) selama seratus tahun, kemudian membangkitkannya (menghidupkannya) kembali. Dan (Allah) bertanya, ”Berapa lama engkau tinggal (di sini)?” Dia (orang itu) menjawab, Aku tinggal (di sini) sehari atau setengah hari. Allah berfirman,Tidak! Engkau telah tinggal seratus tahun. Lihatlah makanan dan minumanmu yang belum berubah, tetapi Iihatlah keledaimu (yang telah menjadi tulang belulang). Dan agar Kami jadikan engkau tanda kekuasaan Kami bagi manusia. Lihatlah tulang belulang (keledai itu), bagaimana Kami menyusunnya kembali, kemudian Kami membalutnya dengan daging.” Maka ketika telah nyata baginya, dia pun berkata, “Saya mengetahui bahwa Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.” (Alquran, Surah AI-Baqarah/2: 259)

 

Kedua, pertanyaan Nabi Ibrahim tentang cara Allah membangkitkan orang yang telah wafat. Meski yakin akan adanya Hari Kebangkitan, Nabi Ibrahim tetap ingin mengetahui secara lebih detail proses kebangkitan agar hatinya lebih tenteram. Allah berfirman,

وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ رَبِّ أَرِنِي كَيْفَ تُحْيِي الْمَوْتَىٰ ۖ قَالَ أَوَلَمْ تُؤْمِن ۖ قَالَ بَلَىٰ وَلَٰكِن لِّيَطْمَئِنَّ قَلْبِي ۖ قَالَ فَخُذْ أَرْبَعَةً مِّنَ الطَّيْرِ فَصُرْهُنَّ إِلَيْكَ ثُمَّ اجْعَلْ عَلَىٰ كُلِّ جَبَلٍ مِّنْهُنَّ جُزْءًا ثُمَّ ادْعُهُنَّ يَأْتِينَكَ سَعْيًا ۚ وَاعْلَمْ أَنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ۝

 Dan (ingatlah) ketika Ibrahim berkata, “Ya Tuhanku, perlihatkanlah kepadaku bagaimana Engkau menghidupkan orang mati.” Allah berfirman, Belum percayakah engkau?” Dia (Ibrahim) menjawab, Aku percaya, tetapi agar hatiku tenang (mantap).” Dia (Allah) berfirman, “Kalau begitu ambillah empat ekor burung, lalu cincanglah olehmu kemudian letakkan di atas masing-masing bukit satu bagian, kemudian panggillah mereka, niscaya mereka datang kepadamu dengan segera.” Ketahuilah bahwa Allah Mahaperkasa, Mahabijaksana. (AIquran, Surah al-Baqarah/2: 260)

 

 Dua kisah tersebut menggambarkan betapa persoalan kebangkitan manusia di Hari Akhir masih memunculkan pertanyaan, meski bagi seorang nabi sekali pun. Tentu bukan karena mereka tidak percaya, melainkan karena keingintahuan mereka mengenai detail prosesnya. Kedua nabi tersebut sudah percaya dalam tataran ilmul yaqin, tapi belum pada tataran ainul yaqin. Hal ini bisa dianalogikan dengan keyakinan akan eksistensi Kakbah. Semua umat Islam pasti meyakini eksistensinya, meski belum tentu mereka pernah melihatnya. Keyakinan akan eksistensi Kakbah tentu akan bertambah kadarnya bila dibarengi dengan melihat wujud aslinya dengan mata kepala sendiri. Begitupun dengan ‘Uzair dan Ibrahim, keduanya bertanya untuk meneguhkan iman mereka dan meminjam alasan Ibrahim untuk menenangkan hatinya.

Jika kedua nabi saja masih penasaran maka wajarlah jika persoalan kebangkitan banyak dipertanyakan oleh kaum Quraisy. Untuk itu, Alquran menjelaskan bahwa keberadaannya merupakan keniscayaan. Menjelaskan tentang ini, Alquran mengemukakan dua hal: pertama, melalui analogi berpikir yang sehat, dan kedua, melalui analogi fenomena yang ada di alam semesta.

 

Dikutip dari Tafsir al-‘Ilmi

Leave a Reply

Close Menu