KEDUDUKAN KOMIK DALAM PENDIDIKAN SAINS

KEDUDUKAN KOMIK DALAM PENDIDIKAN SAINS

Shannon Casey

 

MENGAPA KOMIK UNTUK PENDIDIKAN SAINS?

Bukalah lembar-Iembar berkala ilmiah apapun, dan apa yang Anda dapati? Entah Anda telah memilih majalah berita ilmiah populer Discover atau jurnal profesional esoterik seperti Microbiological Reviews, Anda akan melihat bahwa sebagian besar artikelnya berisi grafik, bagan, diagram dan ilustrasi. Para ilmuwan mengandalkan gambar (grafik) untuk menguatkan, mengkomunikasikan, dan menata ide-ide mereka yang sangat kompleks. Melalui kelaziman grafik, ilmuwan mengkomunikasikan apa yang mereka anggap sebagai data yang paling penting untuk mendukung ide mereka. Dan begitu juga halnya para kartunis. Anda mungkin akan terkejut menyadari bahwa komik dan sains memiliki banyak kesamaan kualitas pokok yang menjadikan komik sebagai alat yang efektif, jika mungkin, untuk mengajar dan belajar sains.

Di balik setiap penemuan ilmiah terdapat kisah dramatis upaya dan gairah manusia yang tersudut menghadapi alam yang tanpa pandang bulu. Sementara pekerjaan meja sehari-hari yang dilakukan oleh kader ilmuwan laboratorium mungkin tampak tidak begitu glamor, sains mengandung semua unsur kisah yang bagus, atau apa yang disebut oleh Joseph Campbell sebagai “kisah kepahlawanan” Pada dasarnya, protagonis bertolak untuk mencapai tujuan, kemudian tertumbuk banyak masalah dan harus berjuang menempuh kondisi buruk hingga pada akhirnya mencapai tujuan mereka. Begitu juga di dalam sains, di mana drama penemuan terbabar bagi mereka yang berada di laboratorium atau di medan -jauh dari pandangan mata publik -sampai obat ditemukan atau misteri eksistensial terpecahkan.

Di dalam komik fiksi ilmiah, pentas laboratorium terlihat dari bentrokan tengah malam yang menarik antara ilmuwan kesepian-sebagai-superhero dan musuh bebuyutannya yang jahat. Bayangkan Peter Parker lawan Green Goblin atau superman lawan Lex Luthor. Dapatkah Anda ingat elemen apa yang membuat Superman tak berdaya? Atau bagaimana Wonder Woman bepergian ke penjuru dunia? Kemungkinan Anda bisa, karena komik mudah diingat. Manusia mengidentifikasi diri dengan tokoh buku komik. Kita terjebak dalam Cerita ikonik mereka, dan mitos-mitos ini menjadi bagian dari budaya bersama kita. Jika elemen tersebut berfungsi menjadikan fiksi ilmiah berkesan, mengapa Kita tidak menggunakannya juga untuk melayani nonfiksi ilmiah?

Memang diakui, komik fiksi ilmiah lebih glamor dan dramatis dibandingkan sains kehidupan-nyata. Tetapi format komik yang memukau bisa mengilhami siswa muda untuk menjadi ilmuwan, atau setidaknya bersemangat mengkomunikasikan sains secara tekstual dan visual. Banyak orang dewasa “pelaku” sains yang mencintai komik fiksi ilmiah fantastis semasa remajanya. Remaja adalah masa perkembangan identitas dan meningkatnya kesadaran tentang dunia pada umumnya. Sementara remaja menempa diri mereka dan bergulat dengan kenyataan hidup, mereka sering mencari model peran yang kuat dan juga alternatif untuk orang tua atau guru mereka. Mirip dengan remaja, komik adalah tentang awal kejadian dan transformasi: dari manusia menjadi Superman, dari Bruce Banner orang biasa tanpa daya menjadi Hulk yang kuat. Dengan mempersonalisasikan dan memanusiakan sains melalui narasi dan biografi, siswa bisa mengidentifikasi dirinya dengan protagonis dan merasa terilhami oleh kandungan isinya untuk menjadi ilmuwan.

Pendidik berusaha keras untuk menyajikan sains dengan cara yang mengasyikkan dan menantang siswa tanpa kehilangan mereka. Sains kaya dengan informasi dan sulit untuk dikuasai, sehingga kurikulum dan teks bisa tampak mustahil untuk dipahami dan mandek. Guru yang kreatif berusaha memperbaiki kurikulum mereka dengan beragam sumber alternatif seperti artikel jurnal mutakhir, bagian sains dari koran atau buku sains populer. Komik berpangkal sains adalah pilihan bagus lainnya untuk konten alternatif karena di dalam komik, kosa kata baru bisa diperkenalkan dalam konteks yang disusun dengan baik, dan dengan ilustrasi penguat. Komik bisa secara serempak menghidangkan beraneka macam perspektif, pendapat dan ide yang berseberangan dan memancing pemrosesan dan penyelidikan kritis terhadap sudut pandang yang berlainan ini juga, seperti halnya sains kehidupan-nyata, kisah-kisah di dalam komik senantiasa berkembang. Setiap rangkaian dalam seri komik diakhiri dengan ketegangan dramatis: apakah si tokoh akan menang? Apakah percobaannya akan berhasil? Melekati sains dengan drama bisa membuat siswa tetap terpukau.

 

APA ITU KOMIK?

Sederhananya, komik adalah sebuah kisah yang disampaikan melalui urutan kerangka berilustrasi. Sebagian komik tergolong pendek dan terbatas hanya pada beberapa halaman atau bahkan hanya beberapa bingkai. Namun, novel grafis merupakan koleksi bab atau serial terbitan terdahulu yang lebih panjang dan terikat. Dalam pengkisahan, kombinasi kata-kata dan grafis mengemas sodoran kognitif dan emotif yang secara mencolok lebih kuat dibandingkan teks belaka. Sekalipun usang kedengarannya, satu gambar benar-benar bernilai seribu kata! Tapi tolong jangan membayangkan membaca komik sebagai sebuah kegiatan gampangan. Komik menggunakan gaya tulisan mereka sendiri dan memerlukan keahlian esoterik, seperti halnya matematika dan sains. Setiap bingkai berilustrasi dirancang untuk mendatangkan pemahaman pembaca, namun banyak cerita berlangsung di antara bingkai dan rangkaian. Pernbaca harus menggunakan imajinasinya sendiri untuk menghubungkan apa yang terjadi di dalam maupun di antara bingkai agar diperoleh sebuah kesatuan utuh di dalam mata pikirannya. Untuk tujuan ini, pembaca menjadi “sekutu diam” dalam membangun cerita. Partisipasi seperti itu adalah agensi -kekuatan aktif, niscaya, dan kuat di dalam kognisi. Tata keahlian khusus yang diperlukan untuk membaca komik ini harus dipelajari melalui pemaparan dan digunakan dalam persinggungannya dengan teks untuk membangun narasi. Pembaca harus tahu bahwa pandangan matanya mungkin berkelana ke segala arah di halaman buku, bergantung kepada bagaimana tata letak halaman dibentuk untuk mendukung alur cerita. Untuk pengajaran sains, kemampuan untuk menampilkan peralihan ini bisa menjadi sangat penting untuk kognisi. Bayangkan bila kita harus menjelaskan gerak atau percepatan Brownian dengan teks dan persamaan semata versus menunjukkannya melalui serangkaian bingkai berilustrasi. Komik juga menggunakan petunjuk kronologis yang canggih, yang berarti mereka bisa secara efektif menyajikan fenomena dalam dua, tiga dan empat dimensi. Caba lakukan itu hanya dengan teks belaka!

Komik juga menggunakan isyarat emosional. Ekspresi wajah yang menunjukkan kekagetan, kebahagiaan atau penderitaan melibatkan pembaca secara seketika (bayangkan alis yang terangkat untuk menunjukkan kekagetan). Contoh klasik lain dari konvensi komik adalah “gelembung pikiran” cara paling langsung untuk membiarkan pembaca memasuki dialog batin karakter dan hal yang rumit untuk disampaikan melalui teks standar. Maksud saya, adakah cara lain yang lebih menarik? Pernah melihat ilmuwan tengah menggaruk-garuk dagunya dan merenungkan beragam hipotesis yang bertentangan di dalam pikirannya atau membaca laporan statistika lab?

Manfaat pedagogis lainnya dari komik adalah bahwa cerita bergambar memberitahu dengan bahasa yang lebih sedikit, menghadirkan kemungkinan untuk menjadikan muatan ilmiah lebih mudah diakses oleh lebih banyak orang misalnya para siswa bahasa Inggris dan siswa penyandang cacat. Siswa yang menyukai komik bisa memiliki kebiasaan baru berupa memungut sebuah buku untuk mereka tekuni -dan akhirnya mempelajari sains dalam prosesnya!

 

APA JENIS KOMIK BERPANGKAL-SAINS YANG DITULIS SAAT INI?

Komik biasanya dan kebanyakannya membahas tentang fiksi ilmiah, tetapi ada sejumlah komik berpangkal-sains dan kelompok karya semacam itu sedang berkembang. Tiga penulis paling terkenal saat ini yang menciptakan komik ilmiah adalah Jim Ottaviani, Jay Hosier dan Larry Gonick. Novel grafis oktaviani Two Fisted Science (2001), Dignifying Science: Stories about Women Scientist (2003), dan Fallout (2001), adalah biografi ilmuwan penting dan penemuan mereka, di mana peristiwa pokok dan sebagian besar dialognya didasarkan atas bukti yang tersedia. Di dalam “Dignifying Science” seorang ilustrator perempuan lainnya menggambar biografi masing-masing ilmuwan perempuan sejak dari Hedy Lamarr (tahukah Anda?) sampai ke Barbara McClintock, yang menekankan bahwa perempuan dan laki-Iaki memberikan sumbangan penting dalam menulis dan menggambar komik di samping untuk dalam sains. Dr Jay Hosier, seorang ahli biologi Ph.D. dan pengajar di Juniata College, adalah penyusun Clan Apis (Hosier 2000), yang menceritakan kisah kehidupan Nyuki, lebah madu, dari perspektif si lebah. Hosier juga menulis seri Sandwalk Adventure (Hosier 2003), di mana Darwin menjelaskan evolusi kepada seekor kutu yang tinggal di alisnya. Untuk sebagian, novel grafis yang berdasarkan-fakta dan akurat secara teoritis ini merupakan reaksi terhadap beberapa komik pendidikan di luar sana yang terang-terangan bukan sains, lantaran pembahasan mereka adalah tentang kreasionisme. Hosier memiliki website kaya tempat ia menguraikan sains yang terkait dengan setiap cerita di dalam Clan Apis. Baru-baru ini, Ottaviani bekerja sama dengan Hosier dan seniman lain dalam menciptakan Suspended in Language, sebuah medley bergaya komik yang menceritakan kehidupan dan penemuan Niels Bohr. Karya Larry Gonick tidak begitu naratif dan lebih cenderung terdorong-konten. Ia menggunakan konvensi grafis untuk mengilustrasikan berbagai konsep ilmiah dan menyandingkannya dengan persamaannya yang tepat. Karyanya A Cartoon History of the Universe adalah karya klasik yang diawali dengan Big Bang (Ledakan Dahysat) dan berlanjut dengan penceritaan segenap kisah evolusi. Gonick yang produktif dalam kerjasamanya dengan pihak lain telah menciptakan lebih dari lima belas novel grafis “Cartoon History” untuk menjelaskan berbagai konsep seperti seks, kimia, fisika, dan komputer.

 

MENGGUNAKAN KOMIK SEBAGAI METODE PENILAIAN ALTERNATIF

Jika siswa menikmati dan belajar dari wahana komik, mengapa tidak meminta mereka untuk mengkomunikasikan pemahaman mereka dengan memproduksi komik mereka sendiri? Komik terbukti sangat bagus sebagai penilaian alternatif dengan beberapa alasan. Pertama-tama, komik secara kebiasaan, dan senantiasa, menjadi ranah remaja. Siswa lebih cenderung menjadi agen pembelajaran mereka jika merasa menguasai wahananya. Selain itu, siswa dapat menggali kretivitas tanpa batas mereka untuk menghidupkan pembelajaran, yang jauh lebih menarik daripada hanya membuktikan bahwa mereka telah mengingat fakta-fakta dengan memuntahkannya melalui tes tradisional. Kemampuan menulis komiknya sendiri tentang ide ilmiah menuntut siswa untuk memahami secara komperhensif tentang materinya agar bisa menafsirkan dan mensintesiskan pengetahuan, menerapakan apa yang mereka ketahui dengan membangun rangkaian narasi, dan menjelaskan apa yang telah mereka pelajari dengan mengilustrasikan unsur-unsur cerita dan menulis teks. Perjuangan untuk menciptakan komik naratif yang baik menghasilkan sekedar pemahaman, kepemilikan, dan agensi yang jelas-jelas tidak bisa dihasilkan melalui penghafalan buta dan pengulangan. Manfaat lain meminta siswa membuat komik adalah bahwa artefak komik benar-benar memecahkan masalah plagiarisme. Juga karena komik mengakomodasi gambar penjelasan, keingintahuan, grafik, table, dan data historis, siswa bisa mengkomunikasikan banyak sisi pengetahuan ilmiah mereka dan menampilkan kemelekan mereka melalui beragam sarana.

Tentu saja tidak setiap siswa bersemangat dengan gagasan menciptakan komik sendiri; banyak siswa yang merasa tidak yakin terkait kemampuan seni mereka. Cobaah menugaskan proyek untuk kelompok, di mana satu atau dua siswa yang artistic mungkin muncul. Juga, tidak setiap satuan pelajaran dalam setiap disiplin ilmu cocok untuk dinilai melalui komik. Pertimbangkan untuk meminta siswa untuk membuat biografi seorang ilmuwan, membuat drama tentang sebuah masalah yang relevan dengan kehidupan mereka, atau untuk mengajarkan konsep ilmiah kepada siswa yang lebih rendah melalui komik berpangkal sains.

Seperti halnya setiap penilaian yang cermat, komik membutuhkan banyak sekali pemikiran dan mungkin perlu menempuh sejumlah proses untuk menghasilkan artefak akhir yang layak nilai. Guru harus menjelaskan secara rinci kepada siswa apa yang ia harapkan, dan mendampingi fase-fase pengembangan dengan tujuan tersendiri di masing-masing pos pemeriksaan. Siswa bisa menilai rekan-rekan mereka dengan menggunakan rubrik buatan guru atau rubrik yang disusun oleh anggota kelas untuk mereka sendiri. Setiap komik harus mencakup kosakata baru, menampung teori-teori atau sudut pandang yang berlainan, dan yang terpenting, secara jelas, komprehensif dan kreatif menjelaskan pengetahuan ilmiah yang telah mereka pelajari. Siswa sering membut kita terpukau dengan kreativitas mereka ketika diberi setengah kesempatan, di mana guru bisa meminta agar karya mereka dijilid atau dibagikan kepada kelas lebih rendah berikutnya, kepada orang tua, dan segenap warga sekolah.

 

BEBERAPA MASALAH TERKAIT PENGGUNAAN KOMIK DIKELAS SAINS: PERCAKAPAN DENGAN CATHERINE MILNE (NEWYORK UNIVERSITY) DAN BARBARA TOBIN (KONSULTAN LITERATUR ANAK-ANAK)

Shannon Casey memberikan alasan yang kuat untuk menggunakan komik di kelas sains sebagai sarana belajar dan sebagai bentuk penilaian altetnatif. Adakah beberapa persoalan implementasi yang perlu disadari oleh para guru dan orang tua?

Catherine : Sementara saya membahas penggunaan komik dengan Anda, Barbara, Anda membuat saya menyadari beberapa masalah yang tidak saya bayangkan ketika memikirkan penggunaan penulisan komik di kelas sains. Saya tertarik pada kemungkinan yang diberikan oleh komik bagi siswa untuk menunjukkan bahwa mereka benar-benar memahami suatu bidang sains. Komik bisa mendorong peserta didik mensintesiskan informasi dari penelitian yang telah mereka kerjakan atas sebuah topik sains dan menciptakannya kembali dalam format komik. lni melibatkan peserta didik dalam keterampilan berpikir yang kompleks manakala mereka menyelipkan fakta-fakta ilmiah ke dalam sebuah cerita yang dramatis. Komik menjadi ujian sejati pengetahuan seorang pembelajar atas bidang sains tertentu.
Barbara : Saya menyukai pendekatan yang telah Anda dan Shannon kembangkan untuk menggunakan komik buatan-siswa guna mendorong keterampilan berpikir tingkatan lebih tinggi, sambil memberikan penilaian alternatif yang secara menyegarkan kreatif. Sampai saat ini, komik hanya dan terutama digunakan di dalam kelas untuk mengembangkan kemampuan membaca, untuk memotivasi pembaca yang enggan dan kadang-kadang untuk mengujinya sebagai bentuk literatur atau seni alternatif. Anda membuka kemungkinan baru untuk memperluas studi komik di seluruh kurikulum hingga ke bidang konten seperti sains dan ilmu sosial, sehingga memudahkan pembelajaran dan penilaian yang lebih terintegrasi. Membuat komik berpangkal-sains yang memenuhi sekaligus kriteria ilmiah dan komik yang sukses adalah tugas fisik, intelektual dan estetika yang sangat padat karya yang akan mendapatkan keuntungan dari pendekatan multidisipliner oleh guru. Selain jelas memenuhi kaidah ilmiah, komik ini juga harus mengasyikkan audiens pembaca yang dituju dengan cara interaktif yang memotivasi yang tidak bisa dilakukan oleh lembaran teks pemaparan.
Catherine : Shannon mengalami tantangan ketika ia membuat komiknya sendiri untuk menjelaskan cara kerja konverter katalistis. la menciptakan alur cerita yang menarik tentang seorang perempuan muda yang membawa mobilnya untuk uji gas buang dan diminta oleh montir untuk memasangi mobilnya dengan konverter katalistis baru. Kendati Shannon memenuhi kriteria ilmiah yang baik, dan komiknya secara umum tergolong sangat menarik, ada beberapa blok besar teks padat di tengah, di mana si montir menjelaskan seluk-beluk katalisis. lni meredupkan antusiasme awal Anda terhadap komik Shannon karena hal itu menghambat proses membaca Anda. Jelas ada godaan bagi penulis komik pemula untuk menganggap bahwa semua informasi adalah penting, tetapi seorang pembaca hanya bisa memahami jumlah tententu pada suatu ketika.
Barbara : Ya, penjelasan ilmiah rumit Shannon yang disajikan dalam teks statis, tanpa ada tindakan dan dengan sedikit dukungan grafts, membuat saya ingin melewati bagian tersebut. Tindakan narasinya benar-benar melambat, dan kita mulai kehilangan kekuatan media ini untuk menyajikan konten sains dengan cara yang jelas dan segar. Jika siswa diminta untuk membuat komik mereka sendiri untuk dinilai, penting sekali mereka mengerti cara kerja format unik ini. Guru seni bahasa bisa membantu siswa mempelajari ketentuan narasi komik, dan guru seni kaidah desain. Menganalisis beberapa komik yang direkomendasikan oleh Shannon di atas akan menuntun siswa untuk menentukan ciri buku komik yang sukses dan apa perbedaan komik dari cara-cara penyajian informasi yang lebih tradisional.

Tantangan bagi siswa adalah mengembangkan tokoh menarik untuk menggerakkan cerita mereka, menciptakan masalah yang membangun ketegangan, dan mempertahankan momentum dengan tidak menjejalkan terlalu banyak informasi ke dalam satu panel. Shannon perlu memelihara interaksi hidup di antara dua karaktemya, dan terus berpegang kepada pakemnya yang bagus tentang ketentuan komik, seperti gambar ikonik dan gelembung pikiran. Sebagai contoh, penggunaan font besar yang menyerupai awan untuk kata kabut asap (smog), dengan garis-garis bergelombang yang membayang, membawakan kedalaman emosional bagi penjelasan penutur. Kartunis menciptakan sinergi teks-ilustrasi, di mana kata-kata menjadi gambar, dan gambar menjadi kata-kata.

Catherine : Saya teringat karya Jay Hosier The Sandwalk Adventures, di mana ia memperkenalkan kita kepada kutu rambut, Mara dan Willy. Hosier menggunakan interaksi antara Mara dan Charles Darwin untuk menyajikan teori evolusi kepada pembaca. Mara, Willy, dan Darwin adalah karakter utama yang menggerakkan cerita. Ada, banyak sains di dalam cerita, tapi perkembangan karakter penting karena itu menuntun kita untuk memperhatikan apa yang dipikirkan dan dikatakan oleh karakter utama. Jadi pesan sains muncul dari interaksi di antara karakter yang kita perhatikan, kendati itu adalah kutu rambut!
Barbara : Untuk membantu hal ini terjadi, kita harus mendorong peserta didik untuk merencanakan atau merancang jalan cerita komik mereka, dimulai dengan karakter dan latar, kemudian mengembangkan interaksi dan poin alur utama, yang akan mengarah ke dialog spesifik yang akan menggerakkan cerita mereka dari awal melalui pertengahan dan sampai ke penutup yang sukses.

Siswa tidak boleh melupakan sifat unik dari format komik dengan membiarkan beban penjelasan ilmiah ditempatkan pada penyampaian tekstual. Kita harus mengingatkan mereka bahwa sebagian besar cerita bisa dibawakan melalui gambar, dan sekalipun begitu kita tidak harus menjadi seniman besar untuk menunjukkan benda dan konsep penting. Seperti dikatakan oleh Scott McCloud ketika mendiskusikan abstraksi ikonik di dalam komik, :elemen-elemen sederhana bisa berpadu dengan cara yang kompleks, seperti halnya atom menjadi molekul dan molekul menjadi kehidupan” (McCloud 1993: 45). Seperti atom, katanya, kekuatan besar bisa dikemas dalam beberapa baris sederhana, dan dilepas oleh pikiran pembaca; gaya sederhana tidak selalu berarti cerita sederhana.

Catherine : Saran Anda juga mengingatkan saya pada masalah lain yang sering dirasa sulit oleh peserta didik terkait sains. Sains dialami melalui penggunaan indera. Namun penjelasannya sering memerlukan penggunaan model dan teori yang tidak bisa diamati secara langsung. Misalnya, Anda bisa mengalami reaksi kimia secara langsung seperti pemutihan gigi menggunakan sesuatu seperti Crest White Strip. Yang perlu Anda lakukan hanyalah melihat di cermin. Namun, menjelaskan bagaimana White Strip menyebabkan reaksi kimia itu memerlukan penggunaan atom dan molekul, yang bukan merupakan pengalaman inderawi. Beberapa strategi yang Anda kemukakan menyediakan sarana untuk menyajikan penjelasan tanpa menghambat narasi.
Barbara : Mungkin penggunaan fiksi fantasi; sebagai lawan dari fiksi realistis, lebih cocok untuk menjelaskan fenomena yang lebih abstrak. Joanna Cole dan Bruce Degen menggunakan perpaduan genre hibrida untuk membantu anak-anak kecil memahami konsep-konsep sains yang tidak begitu kasat mata di dalam seri mereka Magic School Bus (misalnya, The Magic School Bus Inside a Hurricane 1995). Meski format kartun hanyalah salah satu bagian dari pendekatan multi-perspektif nonlinier mereka untuk menceritakan kisah sains, calon penulis komik bisa memperoleh manfaat dari memeriksa cara para pengarang ini memecah konten sains menjadi sejumlah bagian yang bisa dipahami menggunakan balon bicara, label, bagan dinding dan “faktoida”yang tercantum pada halaman notebook simulasi siswa. Siswa yang tumbuh dalam era digital ini sudah terbiasa mengolah teks dalam format mirip-hiperteks ini, di mana mereka mengendalikan aliran dan arah pembacaan. Saya optimistis bahwa mengingat paparan dan peluang dalam ruang kelas sains seperti yang sudah kita bahas di sini, siswa bukan hanya akan merasa lebih bersemangat untuk belajar sains dan mendapatkan pemahaman yang lebih dalam, tetapi beberapa siswa mungkin akan terilhami untuk membangun minat yang langgeng, atau bahkan karir, dalam memberikan kontribusi karya-tangan komik mereka sendiri bagi bidang komik berpangkal-sains yang kecil tapi tengah tumbuh. Jay Hosier, entomolog-kartunis yang sangat berbakat, adalah model peran yang Iuar biasa!

 

 

Tinggalkan Balasan

Close Menu