KEBERADAAN NABI DAN RASUL

KEBERADAAN NABI DAN RASUL

Serial Quran dan Sains

Keraguan Akan Keberadaan Nabi Dan Rasul

Nabi diyakini ada oleh kalangan yang meyakininya. Keyakinan tersebut salah satunya bersumber dari kitab suci Alquran, firman Allah yang disampaikan berangsur-angsur kepada Rasulullah Muhammad sebagai nabi terakhir. Alquran juga menyebut nama-nama nabi sebelum Nabi Muhammad. Berikut ini beberapa ayat yang menyatakan hal-hal tersebut.

إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا عَلَيْكَ الْقُرْآنَ تَنزِيلًا۝

Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Alquran kepadamu (Muhammad) secara berangsur-angsur. (Alquran, Surah al-Insān/76: 23)

مَّا كَانَ مُحَمَّدٌ أَبَا أَحَدٍ مِّن رِّجَالِكُمْ وَلَٰكِن رَّسُولَ اللَّهِ وَخَاتَمَ النَّبِيِّينَ ۗ وَكَانَ اللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمًا۝

Muhammad itu bukanlah bapak dari seseorang di antara kamu, tetapi dia adalah utusan Allah dan penutup para nabi. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. (Alquran, Surah al-Azāb/33: 40)

وَمَا مُحَمَّدٌ إِلَّا رَسُولٌ قَدْ خَلَتْ مِن قَبْلِهِ الرُّسُلُ ۚ۝

Dan Muhammad hanyalah seorang Rasul, sebelumnya telah berlalu beberapa rasul. (Alquran, Surah Āli ‘Imrān/3: 144)

ثُمَّ أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ أَنِ اتَّبِعْ مِلَّةَ إِبْرَاهِيمَ حَنِيفًا ۖ وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِينَ۝

Kemudian Kami wahyukan kepadamu (Muhammad), “Ikutilah agama Ibrahim yang lurus dan dia dia bukanlah termasuk orang musyrik” (Alquran, Surah an-Nal/16: 123)

وَتِلْكَ حُجَّتُنَا آتَيْنَاهَا إِبْرَاهِيمَ عَلَىٰ قَوْمِهِ ۚ نَرْفَعُ دَرَجَاتٍ مَّن نَّشَاءُ ۗ إِنَّ رَبَّكَ حَكِيمٌ عَلِيمٌ۝ وَوَهَبْنَا لَهُ إِسْحَاقَ وَيَعْقُوبَ ۚ كُلًّا هَدَيْنَا ۚ وَنُوحًا هَدَيْنَا مِن قَبْلُ ۖ وَمِن ذُرِّيَّتِهِ دَاوُودَ وَسُلَيْمَانَ وَأَيُّوبَ وَيُوسُفَ وَمُوسَىٰ وَهَارُونَ ۚ وَكَذَٰلِكَ نَجْزِي الْمُحْسِنِينَ۝ وَزَكَرِيَّا وَيَحْيَىٰ وَعِيسَىٰ وَإِلْيَاسَ ۖ كُلٌّ مِّنَ الصَّالِحِينَ۝ وَإِسْمَاعِيلَ وَالْيَسَعَ وَيُونُسَ وَلُوطًا ۚ وَكُلًّا فَضَّلْنَا عَلَى الْعَالَمِينَ۝ وَمِنْ آبَائِهِمْ وَذُرِّيَّاتِهِمْ وَإِخْوَانِهِمْ ۖ وَاجْتَبَيْنَاهُمْ وَهَدَيْنَاهُمْ إِلَىٰ صِرَاطٍ مُّسْتَقِيمٍ۝ ذَٰلِكَ هُدَى اللَّهِ يَهْدِي بِهِ مَن يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ ۚ وَلَوْ أَشْرَكُوا لَحَبِطَ عَنْهُم مَّا كَانُوا يَعْمَلُونَ۝ أُولَٰئِكَ الَّذِينَ آتَيْنَاهُمُ الْكِتَابَ وَالْحُكْمَ وَالنُّبُوَّةَ ۚ فَإِن يَكْفُرْ بِهَا هَٰؤُلَاءِ فَقَدْ وَكَّلْنَا بِهَا قَوْمًا لَّيْسُوا بِهَا بِكَافِرِينَ۝ أُولَٰئِكَ الَّذِينَ هَدَى اللَّهُ ۖ فَبِهُدَاهُمُ اقْتَدِهْ ۗ قُل لَّا أَسْأَلُكُمْ عَلَيْهِ أَجْرًا ۖ إِنْ هُوَ إِلَّا ذِكْرَىٰ لِلْعَالَمِينَ۝

Dan itulah keterangan Kami yang Kami berikan kepada Ibrahim untuk menghadapi kaumnya. Kami tinggikan derajat siapa yang Kami kehendaki. Sesungguhnya Tuhanmu Mahabijaksana, Maha Mengetahui. Dan Kami telah menganugerahkan Ishak dan Yakub kepadanya. Kepada masing-masing telah Kami beri petunjuk dan sebelum itu Kami telah memberi petunjuk kepada Nuh, dan kepada sebagian dari keturunannya (Ibrahim) yaitu Dawud, Sulaiman, Ayyub, Yusuf, Musa, dan Harun. Dan demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Dan Zakaria, Yahya, Isa, dan Ilyas. Semuanya termasuk orang-orang yang shalih, dan Ismail, Ilyasa‘, Yunus, dan Lut. Masing-masing Kami lebihkan (derajatnya) di atas umat lain (pada masanya), (dan Kami lebihkan pula derajat) sebagian dari nenek moyang mereka, keturunan mereka dan saudara-saudara mereka. Kami telah memilih mereka (menjadi nabi dan rasul) dan mereka Kami beri petunjuk ke jalan yang lurus. Itulah petunjuk Allah, dengan itu Dia memberi petunjuk kepada siapa saja di antara hamba-hamba-Nya yang Dia kehendaki. Sekiranya mereka mempersekutukan Allah, pasti lenyaplah amalan yang telah mereka kerjakan.(Alquran, Surah al-An‘ām/6: 83-90)

 

Jika umat Islam percaya kepada keberadaan nabi yang salah satunya ditopang oleh bukti berupa ayat-ayat Alquran maka apakah ada bukti selain itu? Jika nabi adalah seorang manusia di muka bumi maka bukti fisik keberadaannya sudah pasti ada. Bukti-bukti fisik atau peninggalan Nabi Muhammad sampai dengan Nabi Ibrahim cukup banyak diperoleh. Peninggalan nabi Ibrahim salahsatunya adalah Kakbah di Mekah. Dengan demikian, keberadaan Nabi telah trbukti benar, tetapi tidak disampaikan bahwa masih cukup banyak bukti yang belum berhasil dikumpulkan terkait keberadaan Nabi Muhammad sampai dengan Nabi Ibrahim. Hanya saja, jika dibandingkan maka bukti terkait Nabi Muhammad sampai dengan Nabi Ibrahim masih lebih banyak daripada bukti yang berasal dari nabi-nabi sebelum Ibrahim, atau biasa disebut periode pra-lbrahim. Umumnya masyarakat disuguhi informasi terkait mitos dan hal-hal yang sulit diyakini nalar manusia saat menjelaskan periode pra-lbrahim ini. ltulah yang oleh sebagian kalangan dijadikan sebagai alasan untuk tidak mempercayai keberadaan nabi-nabi pra-lbrahim di dunia. Mereka itulah orang-orang yang telah Kami berikan kitab, hikmah dan kenabian. Jika orang-orang (Quraisy) itu mengingkarinya, maka Kami akan menyerahkannya kepada kaum yang tidak mengingkarinya. Mereka itulah (para nabi) yang telah diberi petunjuk oleh Allah, maka ikutilah petunjuk mereka. Katakanlah (Muhammad), “Aku tidak meminta imbalan kepadamu dalam menyampaikan (Al-Qur’an).” Al-Qur’an itu tidak lain hanyalah peringatan untuk (segala umat) seluruh alam.

 

 

Pembuktian Keberadaan Nabi dan Rasul Secara Ilmiah

Nabi dan rasul periode pra-lbrahim sesungguhnya sedikit demi sedikit dapat diketahui melalui bantuan ilmu pengetahuan. Salah satu ilmu yang dapat digunakan untuk membuktikan apakah nabi pernah ada di dunia adalah arkeologi. llmu arkeologi lahir di Eropa pada sekitar abad ke-18 masehi. llmu ini berawal dari ketertarikan sekelompok orang terhadap benda-benda masa lalu. Mereka kemudian berusaha mengumpulkan dan memamerkannya kepada kolega mereka. Pada perkembangan berikutnya, mulai muncul ketertarikan lebih mendalam untuk meneliti benda-benda tersebut sehingga akhirnya menjadi sebuah disiplin ilmu tersendiri yang disebut arkeologi. Untuk menjadikannya sebagai sebuah disiplin ilmu, para arkeolog kemudian merumuskan objek kajian, tujuan dan manfaat, serta metode ilmu tersebut.

Objek kajian arkeologi adalah peninggalan masa lalu yang dapat dipilah menjadi beberapa istilah. Mundardjito (1983) menggunakan istilah artefak (artifact), fitur (feature), ekofak (ecofact), situs (site). Belakangan, Mundardjito juga menyebut istilah kawasan (region). Artefak adalah benda buatan manusia atau benda alam yang telah dimodifikasi oleh manusia dan sifatnya dapat dipindah-pindahkan. Contoh artefak di antaranya ialah kapak batu, pelana unta, pakaian, dan gerabah. Fitur juga merupakan benda buatan manusia atau benda alam yang telah dimodifikasi oleh manusia, tetapi tidak dapat dipindah-pindahkan tanpa merusak matriks (tanah) tempat kedudukannya. Contoh fitur misalnya pura, benteng, istana, menara masjid, dan gedung pemerintahan. Sementara itu, benda alam yang tidak dimodifikasi secara fisik oleh manusia namun berperan penting dalam merekonstruksi kebudayaan masa lalu atau telah diberi pemaknaan khusus secara budaya oleh manusia disebut ekofak (ecofact), misalnya tulang-belulang yang telah membatu (fosil), gunung tempat bersemayam Sang Hyang, dan hutan yang dikeramatkan. Selanjutnya Iahan atau bentang alam yang mengandung salah satu atau kombinasi dari artefak, fitur, dan ekofak disebut situs. Dua atau lebih situs yang letaknya berdekatan atau berkaitan disebut juga kawasan (Akbar, 2010 b).

Tujuan arkeologi adalah merekonstruksi kebudayaan masyarakat pada masa lalu berdasarkan peninggalan-peninggalannya. Secara khusus, Binford, arkeolog berkebangsaan Amerika, menyatakan bahwa salah satu tujuan arkeologi adalah merekonstruksi sejarah kebudayaan (Binford, 1964). Sejarah kebudayaan merupakan tahapan-tahapan atau fase-fase pencapaian gagasan, tindakan, dan hasil karya manusia dari masa ke masa. Selanjutnya, Spaulding menyatakan terdapat tiga dimensi arkeologi, yakni dimensi bentuk, dimensi ruang, dan dimensi waktu (Spaulding, 1977). Dengan demikian, dalam konteks nabi, nabi dapat dinyatakan merupakan suatu kenyataan atau ada apabila dapat ditempatkan dalam dimensi bentuk, ruang, dan waktu.

Manfaat arkeologi, sebagai ilmu yang digolongkan ke dalam  rumpun ilmu humaniora, tentu saja salah satunya dapat dipandang dari perspektif humaniora. Humaniora itu sendiri berasal dari bahasa Latin  ‘humanus” yang berarti manusiawi, berbudaya, dan halus. Dengan demikian, humaniora berkaitan dengan aspek nilai sebagai homo humanus (manusia berbudaya). Elwood, seperti  dikutip oleh Dardiri, menyatakan  humaniora sebagai seperangkat sikap dan perilaku moral manusia terhadap sesamanya (Dardiri, 1986). Dapat  disimpulkan bahwa manfaat arkeologi dari perspektif humaniora adalah membuat manusia masa kini menjadi  lebih manusiawi setelah mempelajari kebudayaan manusia masa lalu (Akbar, 2011).

Arkeolog berangkat dari kajian terhadap peninggalan materi atau kebudayaan materi (material culture) yang sifatnya dapat dilihat dan disentuh atau dapat dibuktikan  oleh panca indera manusia. Namun demikian, arkeologi tidak hanya berusaha mengungkap hal-hal yang bersifat lahiriah semata (tangible), misalnya warna, ukuran, dan bentuk dari peninggalan masa lalu. Lebih jauh, arkeologi berusaha merekonstruksi konteks ketika peninggalan tersebut masih berfungsi di masyarakat masa lalu, misalnya cara buat, fungsi, dan prosesi dari suatu peninggalan. Tentu saja rekonstruksi yang dihasilkan tidak akan sama persis, mengingat umumnya masyarakat pendukung atau pengguna peninggalan tersebut telah tiada. Pada tingkatan ini, arkeolog berusaha menggambarkan kembali kebudayaan yang berupa perilaku atau perbuatan. Lebih dalam lagi, arkeolog berusaha mencari makna berupa nilai atau konsep yang terdapat ‘di balik’ atau ‘di dalam’ peninggalan masa lalu. Pada tingkatan ini arkeolog berusaha merumuskan kebudayaan yang sifatnya berupa ide atau gagasan.

Dalam melakukan penelitian, arkeolog menggunakan metode tertentu yang telah teruji dan dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Metode, menurut Asyari, adalah cara atau sistem mengerjakan sesuatu (1983: 66-67). Suatu metode tidak terlepas dari permulaan atau langkah awal yang dipilih oleh peneliti atau penulis-dapat disebut pula cara pandang peneliti-. Cara pandang ialah pemikiran yang sudah ada di dalam kepala peneliti yang digunakan untuk melihat suatu fenomena di hadapannya, dalam hal ini sejarah nabi. Cara pandang dapat disebut pula sebagai paradigma, world view, ataupun grand theory yang akan sangat menentukan seperti apa penelíti memandang data yang ada di hadapannya (Akbar, 2010 a).

Cara pandang yang digunakan dalam penelitian dan penulisan ini adalah kisah nabi bukan dilihat sebagai suatu ajaran agama, melainkan sebagai data arkeologi yang perlu dikaji dan ditelaah secara ilmiah. Cara pandang ini diambil agar peneliti atau penulís tidak memastikan kebenaran kisah nabi sebelum dilakukan penelitian arkeologi melalui metode yang terdapat pada ilmu tersebut. Metode yang digunakan di dalam ilmu arkeologi antara lain:

 

Studi Literatur, Survei, dan Ekskavasi

Metode penelitian arkeologi secara umum terdiri atas tiga tahap, yaitu pengumpulan data, pengolahan data, dan penafsiran data (Akbar, 2010 a). Pengumpulan data dapat dilakukan dengan teknik studi literatur, survei, dan ekskavasi. Literatur yang dikumpulkan di antaranya ialah buku, laporan, artikel, kitab suci, prasasti, dan lainnya. Pengolahan data dapat dilakukan antara lain dengan mengerjakan analisis khusus dan analisis kontekstual. Analisis khusus menitikberatkan pada aspek-aspek, atribut-atribut atau ciri-ciri yang melekat pada peninggalan itu sendiri. Analisis khusus dapat dilakukan secara lahiriah (non destructive analysis) dengan bersandarkan pada pengamatan mata peneliti. Analisis khusus dapat pula dilakukan di laboratorium dengan menggunakan alat-alat bantu di laboratorium seperti mikroskop. Analisis khusus di laboratorium terkadang bersifat merusak (destructive analysis) karena harus memisahkan sebagian kecil dari peninggalan untuk dapat mengetahui, misalnya, komposisi mineral ataupun umur dari peninggalan tersebut. Penafsiran data dapat dilakukan dengan menggunakan teori atau konsep tertentu, baik untuk melengkapi maupun membandingkan. Selain itu dapat pula dilakukan analogi, misalnya analogi historis, eksperimen, dan etnografi. Analogi historis misalnya dilakukan dengan membandingkan antara kitab suci yang satu dengan kitab suci yang lainnya.

 

Hermeneutika

Selain metode tersebut di atas, ilmu arkeologi juga dapat menggunakan hermeneutika. Hermeneutika adalah sebuah kata yang secara etimologis berasal dari kata berbahasa Yunani “hermeneuein” yang berarti “menafsirkan”. Dengan demikian, kata benda hermeneia secara harfiah dapat diartikan sebagai “penafsiran” atau “interpretasi”. Hermeneutika diartikan sebagai proses mengubah sesuatu atau situasi ketidaktahuan menjadi kemengertian. Batasan umum ini selalu dianggap benar, baik hermeneutika dalam pandangan klasik maupun dalam pandangan modern (Palmer, 2003).

Menurut Palmer (2003: 38-49), bidang hermeneutika didefinisikan, paling tidak, dalam enam bentuk yang berbeda. Sejak awal kemunculannya hermeneutika menunjuk pada ilmu interpretasi, khususnya prinsip-prinsip eksegesis tekstual, tetapi bidang hemeneutika telah ditafsirkan (secara kronologisnya) sebagai teori eksegesis Bibel, metodologi filologi secara umum, ilmu pemahaman linguistik, fondasi  metodologis geisteswessenshaften, fenomenologi eksistensi dan pemahaman eksistensial, serta sistem interpretasi.

Hermeneutika adalah proses penguraian yang beranjak dari isi dan makna yang tampak ke arah makna yang terpendam dan tersembunyi. Objek interpretasi, yakni teks dalam pengertian yang luas, dapat berupa simbol dalam mimpi atau bahkan mitos-mitos dari simbol dalam masyarakat atau sastra (Palmer, 2003).

Pada dasarnya hermeneutika dan tafsir dalam tradisi Islam mempunyai kesamaan sebagai sebuah upaya untuk menafsirkan teks. Keduanya memandang bahwa ada makna luar yang terlihat dari literal dan gramatikal teks. Namun, di samping itu ada pula makna dalam yang terkandung di balik teks. Keduanya juga mengakui adanya tiga faktor yang senantiasa dipertimbangkan, yaitu dunia teks, dunia pengarang atau penulis, dan dunia pembaca atau penafsir (Akbar, 2005).

Pada dasarnya dari sudut pandang ilmu arkeologi, Alquran dapat dikategorikan sebagai artefak, khususnya artefak bertulis atau terdapat teks pada artefak tersebut. Oleh karena itu, metode hermeneutika dapat diterapkan pada objek arkeologi ini. Hermeneutika yang digunakan untuk sementara dibatasi pada makna luar yang terlihat dari literal dan gramatikal teks. Dengan menggunakan metode hermeneutika, kiranya dapat tersingkap maksud dari Sang Pewahyu Alquran ketika menceritakan nabi-nabi, khususnya periode pra-lbrahim.

 

Sejarah Umat Manusia dan Kebudayaannya

Berdasarkan studi literatur, termasuk literatur yang memuat hasil survei dan ekskavasi yang dilakukan oleh beberapa peneliti, telah mulai tersingkap sejarah kehadiran manusia di bumi. Manusia dapat dikaji berdasarkan tulang-belulang manusia itu sendiri (fosil) dan benda-benda buatan manusia atau peninggalan (kebudayaan), dikombinasikan dengan kajian lingkungan alam saat manusia tersebut hidup di muka bumi. Berdasarkan kajian, terutama terhadap fosil, berikut ini disajikan gambaran umum sejarah kehadiran manusia di bumi. Berdasarkan kajian terhadap kebudayaan disampaikan pula gambaran umum sejarah kebudayaan manusia.

 

Sejarah Kehadiran Manusia di Bumi

Richard Leakey dalam bukunya Asal Usul Manusia (2003) telah membahas mengenai perkembangan kesadaran manusia berdasarkan bukti-bukti berupa fosil-fosil manusia. Keluarga Leakey sangat masyhur dalam penelitian asal-usul manusia. Louis Leakey, Mary Leakey, dan putra mereka, Richard Leakey, telah puluhan tahun meneliti di Afrika Timur.

Menurut bukti-bukti yang telah berhasil dikumpulkan sebagian genetik dan sebagian lagi fosil spesies manusia pertama berkembang sekitar 7.000.000 tahun silam. Ketika Homo erectus muncul sekitar 2.000.000 tahun yang lalu, prasejarah manusia telah berlangsung cukup lama. Belum diketahui secara pasti berapa banyak spesies manusia yang hidup dan mati sebelum muncul Homo erectus paling sedikit ada enam spesies.

Semua spesies manusia sebelum Homo erectus jelas mirip kera dalam banyak hal, meskipun bipedal (berdiri tegak). Otak mereka relatif kecil, muka prognathous (menjorok ke depan), dan bentuk badan pada bagian-bagian tertentu lebih mirip kera ketimbang manusia, seperti dada runjung, leher kecil, dan tak berpinggang. Pada Homo erectus, ukuran otak makin besar, muka lebih rata, dan tubuh lebih atletis. Evolusi Homo erectus menimbulkan banyak ciri fisik yang kita miliki. Prasejarah manusia jelas menempuh belokan besar 2.000.000 tahun yang lalu.

Homo erectus adalah spesies pertama yang menggunakan api. Ia adalah yang pertama menjadikan berburu sebagai bagian penting untuk bertahan hidup, yang pertama bisa berlari seperti manusia modern, yang pertama membuat perkakas dari batu menurut pola-pola yang sudah jelas dalam pikiran, dan yang pertama berkelana ke luar Afrika. Kita tidak tahu pasti apakah Homo erectus mampu berbahasa lisan. Kita juga tidak pernah tahu dan mungkin tak akan pernah tahu, apakah spesies ini mengalami kesadaran diri, kesadaran diri yang mirip dengan yang dipunyai manusia, tetapi menurut Richard Leakey, “Ya”. Tidak usah dikatakan bahwa bahasa dan kesadaran, dua ciri Homo sapiens (manusia modern) yang paling penting, tidak meninggalkan jejak di dalam warisan prasejarah. Menurut Leakey, ada empat tahap kunci yang bisa diidentifikasi secara meyakinkan.

  1. Asal-usul keluarga manusia itu sendiri, sekitar 7.000.000 tahun yang lalu, ketika berkembang suatu spesies mirip kera yang bergerak secara bipedal atau tegak.
  2. Menyebarnya spesies bipedal itu, suatu proses yang disebut oleh para biolog sebagai penyebaran kemampuan menyesuaikan diri (adaptive radiation). Antara 7.000.000 dan 2.000.000 tahun yang lalu banyak spesies kera bipedal Masing-masing beradaptasi terhadap kondisi lingkungan yang sedikit berbeda. Di antara penyebaran spesies manusia itu, ada satu spesies yang antara 3.000.000 dan 2.000.000 tahun yang lalu, berkembang dengan ukuran otak yang benar-benar lebih besar.
  3. Pembesaran otak merupakan ciri tahap ketiga dan menandai muasal genus Homo, cabang pohon silsilah manusia yang tumbuh melalui Homo erectus dan akhirnya ke Homo sapiens.
  4. Muasal manusia modern- evolusi manusia seperti kita yang sepenuhnya dilengkapi dengan bahasa, kesadaran, imajinasi artistik, dan inovasi teknologi yang tidak ditemukan pada spesies Iain di alam.

 

Pada tahun 1924, Raymond Dart menemukan fosil yang diberi nama Taung Child. Nama ini disematkan karena berupa tengkorak anak kecil hasil ekskavasi di bukit kapur di Taung, Afrika Selatan. Bocah ini diperkirakan hidup 2.000.000 tahun yang lalu. Bocah ini punya banyak ciri kera, seperti otak kecil dan rahang menonjol. Namun, terdapat pula ciri-ciri manusia, yaitu rahangnya tidak semenjorok rahang kera, geraham rata, dan taring kecil. Hal yang penting adalah letak lubang tengkorak yang menjadi tempat masuknya tulang belakang (foramen magnum) ternyata berada di tengah. Bentuk seperti itu menunjukkan bahwa anak ini kera bipedal atau berjalan tegak. Belakangan, Bocah Taung dikelompokkan ke dalam nama Australopithecus africanus (Kera selatan dari Afrika).

Pada tahun 1940-an, Dart terus meneliti di Afrika Selatan dan memperoleh fosil-fosil Iainnya. la terkesan karena ternyata pernah ada banyak spesies manusia purba yang hidup di Afrika Selatan antara 3 juta sampai 1 juta tahun yang lalu. Sementara itu, berdasarkan buktibukti berupa tulang-belulang yang telah membatu atau fosil, menurut Leaky, tinggi badan Australopithecus jantan lima kaki (1,5 meter) dan betina empat kaki (1,2 meter).

Pada tahun 1960, keluarga Leakey menemukan fosil tengkorak di Olduvai Gorge (Jurang Olduvai), Afrika Timur. Batok kepalanya lebih tipis yang menandakan bahwa  makhluk ini lebih langsing daripada spesies-spesies Australopithecus yang Iain. Gerahamnya lebih kecil dan otaknya 50% lebih besar. Louis Leakey menyimpulkan bahwa meskipun makhluk-makhluk Australopithecus termasuk bagian leluhur manusia, namun temuan fosil ini mewakili leluhur langsung yang kemudian menurunkan manusia modern. Temuan fosil ini diberi nama Homo habilis (yang berarti handy man atau manusia terampil).

Dengan demikian, keluarga Leakey menyimpulkan bahwa terdapat dua tipe dasar manusia purba: tipe pertama berotak kecil dan bergeraham besar (berbagai spesies Australopithecus), dan tipe kedua berotak besar dan bergeraham besar (Homo). Dua tipe ini kera bipedal (berjalan tegak dengan bertumpu pada dua kaki), tetapi jelas ada sesuatu (something) yang telah terjadi dengan evolusi Homo. Pohon silsilah keluarga manusia memiliki dua cabang utama: (1) Spesies-spesies Australopithecus yang semuanya punah 1 juta tahun yang lalu; (2) Homo yang pada akhirnya menurunkan manusia seperti kita (Leakey, 2003).

Para ahli menggunakan nama atau istilah yang berbeda-beda mengenai fosil manusia yang telah ditemukan. Namun demikian, berdasarkan uraian di atas dapatlah kiranya diambil suatu garis besar sebagai berikut.

  1. Australopithecus:sebelum 2.000.000 tahun lalu;
  2. Homo:sekitar 2.000.000 tahun lalu.

Sampai sejauh ini belum ada kesepakatan yang tegas di antara para ahli, baik pendukung teori evolusi maupun penentangnya, mengenai kaitan antara Australopithecus dan Homo. Sampai saat ini masih diperdebatkan apakah Homo merupakan evolusi dari Australopithecus, ataukah Australopithecus dan Homo hidup berdampingan pada masa yang relatif bersamaan, lalu salah satunya musnah. Selanjutnya, terdapat beberapa fosil dalam kategori homo yang telah ditemukan oleh para ahli. Secara garis besar fosil-fosil homo tersebut dapat dibagi menjadi dua kategori besar, yaitu:

  1. Homo erectus: sekitar 2.000.000 tahun lalu
  2. Homo sapiens:sekitar 200.000 tahun lalu

Seperti halnya fosil-fosil yang lebih tua umurnya, fosil-fosil kategori homo yang lebih muda usianya ini masih belum disepakati oleh para ahli mengenai keterkaitannya. Perdebatan masih mencuat mengenai apakah Homo sapiens merupakan kelanjutan dari Homo erectus, ataukah Homo erectus dan Homo sapiens hidup berdampingan lalu salah satunya musnah akibat dari suatu sebab yang belum diketahui pasti.

Berdasarkan bukti fosil manusia terlihat bahwa manusia atau mahluk yang mempunyai ciri-ciri fisik seperti manusia, atau kerap disebut manusia purba, telah hadir di muka bumi setidaknya sejak 3-500.000 tahun lalu. Pada sekitar 2.000.000 tahun lalu, manusia purba yang telah mengalami pembesaran volume otak telah mampu membuat alat batu. Pada tahap ini dapat dikatakan telah terdapat kebudayaan manusia purba. Akan tetapi, ciri-ciri fisik manusia modern atau manusia saat ini baru mulai tampak sekitar 200.000 tahun lalu. Adapun kebudayaan manusia modern mulai semakin jelas terlihat pada sekitar 10.000 tahun lalu. Pada tahap ini dapat dinyatakan bahwa manusia telah memiliki peradaban atau kebudayaan yang telah mencapai taraf maju, indah, dan mencengangkan.

 

Sejarah Kebudayaan Manusia

Gordon Childe adalah arkeolog legendaris yang ahli dalam kajian neolitik dan zaman perunggu di Eropa dan Timur Dekat. Menurut Childe, manusia dapat dikatakan paling terlambat hadir di muka bumi berdasarkan bukti-bukti geologi. Tidak ada fosil yang dapat disebut manusia yang lebih tua daripada masa pleistosen. Pada masa pleistosen akhir, kerangka manusia yang dapat disebut Homo sapiens mulai ditemukan pada lapisan-lapisan tanah, mungkin sekitar 25.000 tahun yang lalu. Jenis manusia ini secara fisik tidak berbeda jauh dengan manusia zaman sekarang, tetapi kebudayaannya masih pada tahap permulaan.

Arkeolog telah membagi kebudayaan masa lalu ke dałam: Zaman Batu (Tua dan Baru), Zaman Perunggu, dan Zaman Besi berdasarkan kebudayaan materi yang umumnya digunakan. Pada Zaman Batu Tua (Paleolithic) manusia hidup dengan cara berburu, menangkap ikan, dan mengumpulkan buah-buahan dan akar tanaman liar, serta kerang. Jumlah masyarakatnya sangat kecil dan terkait pula dengan jumlah makanan yang berhasil dikumpulkan. Pada zaman ini manusia telah mampu membuat alat batu dan mengenal api.

Pada Zaman Batu Baru (Neolithic) manusia telah mampu mengontrol perolehan makanannya dengan bercocok tanam dan beternak hewan. Jumlah masyarakat meningkat tajam. Hal ini juga dibuktikan dengan penggalian pada situs pemakaman karena persediaan makanan juga meningkat. Manusia bertanam jagung, gandum, padi, dan kentang. Pada zaman ini dibuat alat batu yang diasah (polished stode azde), misalnya beliung persegi. Masa Neolithic ini ia sebut juga sebagai Revolusi Neolitik. Oleh sebagian ahli, istilah ini dikembangkan menjadi Revolusi Pertanian.

Pada Zaman Perunggu biasanya terkait dengan spesialisasi dalam bidang industri dan perdagangan yang terorganisir. Transportasi juga berkembang, misalnya untuk mengangkut bahan baku sampai ke łokasi pengguna produk. Pada zaman ini, di Timur Dekat berkembang kota-kota yang hidup dengan mengembangkan industri turunan dan perdagangan dengan pihak luar. Kota-kota ini dihuni oleh tukang-tukang atau pengrajin-pengrajin, pedagang, pekerja transportasi, pegawai, prajurit, dan pemuka religi. Kota-kota ini didukung oleh surplus makanan dari para petani, peternak, dan pemburu. Kota-kota tersebut lebih besar dan lebih banyak penduduknya dibandingkan kampung-kampung neolitik.

Pada Zaman Besi, perunggu terlebih lagi batu, mulai ditinggalkan. Perunggu merupakan material yang mahal karena terdiri atas campuran tembaga dan timah. Kedua bahan baku tersebut langka jumlahnya dibandingkan bijih besi. Pada Zaman Besi, pembuatan alat-alat logam meningkat sehingga produksi di berbagai bidang kehidupan juga meningkat. Gordon Childe menyebut tahapan ini sebagai Revolusi Perkotaan.

Bermula dan berakhirnya setiap zaman kebudayaan tersebut berbeda antara satu tempat dengan tempat Iainnya. Zaman Batu Baru (Neolitik) di Mesir dan Mesopotamia terjadi pada sekitar 7.000 tahun yang lalu atau 5.000 SM. Zaman Perunggu di Mesir dan Mesopotamia terjadi pada sekitar 1.500 SM. Sementara itu, Zaman Batu Baru di Inggris dan Jerman dimulai sekitar 2.500 SM. Dengan kata lain, pada saat Inggris memasuki Zaman Batu Baru, Mesir dan Mesopotamia telah memasuki Zaman Perunggu sekitar 1.000 tahun lamanya.

 

Dikutip dari Tafsir ‘Ilmi

This Post Has One Comment

  1. Terimakasih.. infonya sangat bermanfaat

Leave a Reply

Close Menu