KATAK

KATAK

Serial Quran dan Sains

Katak disebut sebagai salah satu dari rangkaian mukjizat yang Allah berikan kepada Nabi Musa. Allah berfirman,

          فَأَرْسَلْنَا عَلَيْهِمُ الطُّوفَانَ وَالْجَرَادَ وَالْقُمَّلَ وَالضَّفَادِعَ وَالدَّمَ آيَاتٍ مُّفَصَّلَاتٍ فَاسْتَكْبَرُوا وَكَانُوا قَوْمًا مُّجْرِمِينَ۝

Maka Kami kirimkan kepada mereka topan, belalang, kutu, katak dan darah (air minum berubah menjadi darah) sebagai bukti-bukti yang jelas, tetapi mereka tetap menyombongkan diri dan mereka adalah kaum yang berdosa (Alquran, Surah al-A‘rāf/ 7: 133)

Ayat ini menyebut lima dari sembilan mukjizat Nabi Musa, yang dinyatakan dalam Surah al-lsrā’/17: 101 berikut.

وَلَقَدْ آتَيْنَا مُوسَىٰ تِسْعَ آيَاتٍ بَيِّنَاتٍ ۖ فَاسْأَلْ بَنِي إِسْرَائِيلَ إِذْ جَاءَهُمْ فَقَالَ لَهُ فِرْعَوْنُ إِنِّي لَأَظُنُّكَ يَا مُوسَىٰ مَسْحُورًا۝

Dan sungguh, Kami telah memberikan kepada Musa sembilan mukjizat yang nyata maka tanyakanlah kepada Bani Israil, ketika Musa datang kepada mereka lalu Fir‘aun berkata kepadanya, “Wahai Musa! Sesungguhnya aku benar-benar menduga engkau terkena sihir.” (Alquran, Surah al-lsrā’/17: 101)

Empat mukjizat sisanya adalah tongkat yang berubah menjadi ular (al-A‘rāf/7: 107), telapak tangan yang bercahaya (al-A‘rāf/7: 108), tahun-tahun kekeringan, dan kekurangan pangan akibat gagal panen (al-A‘rāf/7: 130 ).

Allah mendatangkan katak dalam jumlah yang luar biasa besar kepada penduduk Mesir. Semua lahan terbuka mendadak dipenuhi katak. Katak juga berserakan di rumah-rumah; meloncat kesana kemari dan mengotori makanan yang ada di atas meja. Hal ini membuat masyarakat Mesir sangat tertekan. Mereka mendatangi Musa dan berjanji akan melepaskan Bani Israil dari kungkungan mereka. Musa menyanggupi permintaan mereka; berdoa kepada Allah, dan Dia pun mengangkat bencana itu dari tanah Mesir. Akan tetapi, alih-alih membebaskan Bani Israil, penguasa Mesir malah mengingkari janjinya. Akibatnya Allah pun mendatangkan mukjizat berikutnya yang menguatkan kebenaran Musa. Tiba-tiba saja air sungai Nil berubah menjadi darah.

Pengiriman gerombolan katak kepada masyarakat Mesir adalah bentuk siksa Allah kepada mereka yang mendurhakai Allah dan melampaui batas. Sebelumnya Allah telah menurunkan topan dan air bah yang menghanyutkan apa saja yang dilaluinya, serta angin ribut disertai kilat, guntur, api, dan hujan yang merusak segalanya. Allah juga menurunkan belalang yang merusak tumbuhan dan menghancurkan persediaan makanan mereka, serta kutu yang menggangu dan menjadi penyakit bagi manusia. Allah juga mengubah air minum menjadi darah. Itulah bukti-bukti yang nyata dan rinci atas kekuasaan Allah dan kebenaran Nabi Musa. Sayangnya, masyarakat Mesir tetap saja mengingkari tanda-tanda kekuasaan Allah itu.

Perikehidupan Katak

Alquran selalu menyebut katak dalam kata aḍ-ḍafādi‘ (al-A‘rāf/7: 133), bentuk plural (jamak) dari aḍ-ḍifda‘. Kata ini diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris menjadi “frog“. Kelompok ini dibedakan dari kodok atau bangkong yang biasa disebut “toad“. Dua istilah ini kadang dipertukarkan penggunaannya, padahal keduanya memiliki perbedaan mendasar. Katak bertubuh pendek, gempal atau kurus, dengan punggung agak bungkuk dan kaki belakang panjang, sedangkan kodok lebih gempal penampilannya, dengan kaki belakang yang relatif lebih pendek. Anatomi kodok yang demikian ini merupakan bentuk adaptasinya terhadap Iingkungan hidupnya, yakni daratan. Perbedaan berikutnya adalah bentuk kulit. Katak pada umumnya berkulit halus dan lembap. Sebaliknya, kodok atau bangkong berkulit kasar berbintil-bintil kecil sampai berbingkul-bingkul besar, dan kerap kali kering.

Triadobatraehus massinoti

Berdasarkan fosil yang ditemukan, katak diduga mulai dikenali dari fosil Triadobatraehus massinoti yang hidup 250 juta tahun lalu, dari masa Triasie, dari Madagaskar. Tengkorak kepalanya mirip dengan katak modern, namun bagian tubuh lainnya berbeda. Pada masa Jurassic (188-213 juta tahun lalu) ditemukan fosil Vieraella herbsti yang mirip dengan katak modern saat ini. Dari rangkaian fosil yang berhasil digali dipastikan bahwa hidup katak modern dimulai pada 125 juta tahun yang lalu. Fosil ditemukan di semua benua, kecuali Antartika. Meski demikian, dari sudut biogeografi, katak diperkirakan saat itu hidup di Antartika karena benua ini ketika itu jauh lebih hangat daripada saat ini.

Kodok dan katak mengawali hidupnya sebagai telur yang diletakkan induknya di air, di sarang busa, di sela-sela lumut yang tumbuh di pohon hutan, atau di tempat-tempat basah lainnya. Beberapa jenis katak hutan menitipkan telurnya di punggung katak atau kodok jantan yang akan selalu menjaga dan membawanya hingga menetas, bahkan hingga menjadi kodok kecil. Telur-telur kodok dan katak menetas menjadi berudu atau kecebong, yang bertubuh mirip ikan, bernafas dengan insang dan selama beberapa lama hidup di air. Perlahan-Iahan akan tumbuh kaki belakang, yang kemudian diikuti dengan tumbuhnya kaki depan, menghilangnya ekor, dan bergantinya insang menjadi paru-paru. Pembuahan pada kodok dilakukan di luar tubuh. Kodok jantan akan melekat di punggung betinanya dan memeluk erat ketiak si betina dari belakang. Sambil berenang di air, kaki belakang kodok jantan akan memijat perut kodok betina dan merangsang pengeluaran telur. Pada saat yang bersamaan kodok jantan melepaskan  spermanya ke air sehingga bisa membuahi telur-telur yang dikeluarkan si betina.

Kodok dan katak hidup menyebar luas, terutama di daerah tropis yang berhawa panas. Makin dingin suatu daerah, seperti puncak gunung atau di daerah bermusim empat (temperate), makin sedikit jenis kodok yang ditemukan. Ini disebabkan salah satunya oleh karakter kodok dan katak yang berdarah dingin. Sebagai hewan berdarah dingin mereka membutuhkan panas dari lingkungannya untuk mempertahankan hidupnya dan menjaga metabolisme tubuhnya.

Hewan ini dapat ditemui hidup mulai dari hutan rimba, padang pasir, tepi-tepi sungai dan rawa, perkebunan dan sawah, hingga permukiman manusia. Kodok memangsa berbagai jenis serangga yang ditemuinya.Sebaliknya, kodok dimangsa oleh makhluk lain: ular, kadal, burung (seperti bangau dan elang), garangan, linsang, bahkan manusia.

Kodok membela diri dengan melompat jauh dan mengeluarkan lendir dan racun dari kelenjar di kulitnya. Beberapa jenis kodok menghasilkan semacam lendir pekat yang lengket, membuat mulut pemangsanya melekat erat dan susah dibuka. Beberapa jenis kodok Bufo menghasilkan racun yang memiliki unsur psychoactive. Jenis Bufo alvarius memiliki racun yang mengandung dua macam racun, yaitu 5-MeO-DMT dan bufotenin, ketika jenis lain hanya memiliki bufotenin. Racun ini mengakibatkan halusinasi, dan sudah dikenal dan digunakan dalam beberapa upacara keagamaan penduduk asli Indian Amerika di masa Precolumbian.

Bufo alvarius

Semua kelompok kodok mempunyai kelenjar racun (parotoid gland) yang terletak di belakang mata, di bagian atas kepala. Beberapa jenis katak, terutama katak pohon, dikenal sangat beracun. Efek racunnya bervariasi, dari sekedar menimbulkan rasa gatal hingga halusinasi, keracunan syaraf, convulsants, sampai vasoconstrictors.

Jenis-jenis katak beracun yang hidup di hutan hujan Amerika Tengah dan Amerika Selatan sangat terkenal akan keindahan dan perpaduan warna kulitnya yang mencolok. Kelompok ini dikenal sebagai poison dart frogs atau poison arrow frogs. Istilah ini mungkin berasal dari kebiasaan penduduk asli Indian yang mengoleskan racun dari kulit katak ini ke mata panah untuk berburu. Berbeda dari kelompok katak pada umumnya, jenis-jenis dari suku Dendrobatidae ini aktif pada siang hari. Jenis yang dimiliki oleh suku ini cukup banyak, sekitar 175-an jenis. Ukuran tubuhnya amat kecil, hanya berkisar antara 1,5 cm sampai 6 cm, dengan berat sekitar 2 gram saja. Warna yang cemerlang memberi  peringatan kepada pemangsa. Warna ini mengindikasikan tingkat kandungan racun dan alkaloid pada kulit tersebut.

Kebanyakan jenis poison dart frogs adalah orang tua yang baik. Ada jenis-jenis yang membawa berudu yang baru menetas di lendir yang ada pada punggungnya, dan membawanya ke puncak pohon. Di sana mereka menempatkan berudu pada genangan air yang tertampung pada tanaman epifit. Masing-masing berudu akan menempati genangan air tersendiri karena sifat kanibalnya.

Katak banyak muncul dalam cerita rakyat, dongeng, dan budaya populer. Gambaran yang biasa diberikan terhadap katak atau kodok adalah buruk rupa, canggung, namun memiliki talenta tersembunyi. Pada masa Peru Kuno, masyarakat Moche mendewakan binatang, dan mencantumkan katak dalam ukiran-ukiran mereka.

Dalam Alquran, katak dikaitkan dengan siksa yang Allah turunkan kepada kaum Fir‘aun sebagai bukti nyata dan rinci atas kekuasaan Allah dan kebenaran Musa, tetapi mereka tetap saja menyombongkan diri. Meski konteksnya demikian, namun itu tidak berarti katak selalu menjadi musibah bagi manusia. Katak dan kodok mempunyai tempat tersendiri dalam hati manusia.Perikehidupannya banyak memberi contoh untuk dimanfaatkan bagi kesejahteraan hidup manusia. Allah berfirman,

أَلَمْ تَرَوْا أَنَّ اللَّهَ سَخَّرَ لَكُم مَّا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ وَأَسْبَغَ عَلَيْكُمْ نِعَمَهُ ظَاهِرَةً وَبَاطِنَةً ۗ وَمِنَ النَّاسِ مَن يُجَادِلُ فِي اللَّهِ بِغَيْرِ عِلْمٍ وَلَا هُدًى وَلَا كِتَابٍ مُّنِيرٍ۝

Tidakkah kamu memperhatikan bahwa Allah telah menundukkan apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi untuk (kepentingan)mu dan menyempurnakan nikmat-Nya untukmu lahir dan batin. Tetapi di antara manusia ada yang membantah tentang (keesaan) Allah tanpa ilmu atau petunjuk dan tanpa Kitab yang memberi penerangan. (Alquran, Surah Luqmān/31: 20)

 

Dikutip dari Tafsir ‘Ilmi

Leave a Reply

Close Menu