KARYAWISATA MENAMBAH PARTISIPASI BELAJAR

KARYAWISATA MENAMBAH PARTISIPASI BELAJAR

Penggunaan pusat pembelajaran informal, museum, pusat sains interaktif, pusat alam, dan pusat penelitian lapangan telah meningkat pesat jumlahnya dalam beberapa tahun terakhir (misalnya, Falk dan Dierking 2000). Sementara popularitas pusat pembelajaran informal berkembang, penggunaan mereka untuk karyawisata oleh guru sains juga telah berkembang (Gilbert dan Priest 1997). National Research Council mengakui bahwa “kelas adalah lingkungan yang terbatas. Program sains sekolah harus keluar dari dinding-dinding sekolah menuju sumber masyarakat” (1996, 45). National Science Education Standards mencatat bahwa pusat pembelajaran informal “bisa berkontribusi besar bagi pemahaman tentang sains dan mendorong siswa untuk memajukan minat mereka di luar sekolah” (National Research Council 1996, 45). Namun, terlepas dari meningkatnya penggunaan pusat pembelajaran informal sebagai penopang untuk pendidikan sains formal dan kesempatan untuk mempromosikan pembelajaran sains (Griffin dan Symington 1997), pusat pembelajaran informal memiliki riwayat kemandirian dan otonomi (Bybee 2001) dari sistem pendidikan formal. Biasanya, karyawisata berwujud kunjungan satu hari ke lokasi yang jauh dari ruang kelas dengan hanya sedikit hubungan antara pembelajaran kelas dan topik yang dipelajari di pusat pembelajaran informal. Potensi pembelajaran melalui kemitraan tersebut belum lagi dimaksimalkan.

Melalui tulisan ini saya akan menjelaskan bagaimana sebuah kemitraan antara guru pusat pembelajaran informal dan guru kelas menyediakan kesempatan untuk memaksimalkan pembelajaran sains siswa selama satuan pelajaran tentang ekosistem. Saya menjelaskan kemitraan antara Gina, guru sains kelas empat-enam, dan saya, direktur Outdoor Classroom, sebuah pusat alam. Melalui kolaborasi Gina-saya, para siswa mampu terlibat dalam pembelajaran sains dunia-nyata melalui karyawisata yang mendukung proses pembelajaran di kelas Gina.

 

MEMBENTUK KEMITRAAN

Gina mengajar sains di sebuah sekolah independen kecil. Selama Mei 2004, ia merencanakan sebuah unit sains tentang ekosistem dan ingin agar siswa mengikuti karyawisata sebagai bagian dari satuan pelajaran. Ketika ia menelepon untuk memesan karyawisata untuk siswa sains kelas-limanya, ia meminta agar karyawisata itu menjadi pengantar satuan pelajarannya. Untuk benar-benar menjadikan ini pengalaman pengajaran yang berarti bagi Gina dan murid-muridnya, saya bertemu dengan Gina dan dua guru sains dari Outdoor Classroom untuk mendesain dengan cara terbaik karyawisata tersebut dengan berpatokan kepada tujuan pembelajaran Gina bagi para muridnya. Gina memiliki tujuan pembelajaran yang istimewa untuk karyawisata ini. Dia mengatakan bagaimana ia ingin agar siswanya belajar bahwa semua organisme di dalam sebuah ekosistem saling bergantung. Gina juga ingin siswanya mengenali bahwa kita harus merawat ekosistem kita. Melalui sesi perencanaan kami, kami membahas tujuan Gina untuk perjalanan, pengetahuan siswa tentang ekosistem, dan kesempatan untuk belajar di Outdoor Classroom. Kami juga mendiskusikan perbedaan antara struktur pembelajaran tradisional di kelasnya dan lingkungan luar kelas Outdoor Classroom. Dengan menggariskan tujuan tersurat Gina dan kesempatan belajar Outdoor Classroom, kami merumuskan rencana untuk hari itu yang mencakup siswa membuat prediksi tentang tumbuhan dan hewan apa yang hidup di dalam ekosistern tertentu dan kemudian mengambil peran ilmuwan nyata dengan mencari bukti dari prediksi mereka yang mengarah pada pemahaman yang lebih besar tentang kesalingtergantungan spesies di dalam ekosistem. Pertemuan awal itu berperan untuk menyelaraskan semua pemangku kepentingan instruksional terkait tujuan hari itu. Selain itu, sebagai hasil dan perencanaan kami, Gina tahu bagaimana cara mempersiapkan siswanya di kelas sains untuk menghadapi karyawisata.

 

 

BELAJAR DI LUAR KELAS

Ketika Gina dan siswa tiba di Outdoor Classroom, saya memperkenalkan mereka kepada ekosistem melalui latihan prediksi bagi siswa untuk menentukan apa tanaman dan hewan yang mungkin hidup di dalam ekosistem tertentu. Secara berkelompok siswa diberi sebuah amplop berisi dua puluh kartu tentang tanaman dan hewan dan sebuah poster ekosistem. Poster ini terbagi ke dalam empat bagian yang menampilkan empat ekosistem, padang rumput, kolam, sungai dan hutan. Siswa harus memutuskan di dalam ekosistem mana setiap tanaman atau hewan akan ditemukan. Meskipun latihan itu pada awalnya tampak mudah untuk siswa sains kelas-lima, siswa langsung mengenali bahwa latihan tersebut menimbulkan lebih banyak pertanyaan ketimbang jawaban. Dalam kutipan berikut ini Jordon, Kerry, dan Austin kesulitan untuk menempatkan kartu-kartu mereka, yang berisi nama-nama tanaman dan hewan, di poster ekosistem.

 

Pembicara              Perbincangan

Jordon                     lni gambar semacam rumput yang aneh.

Kerry                        Rumput ada di padang rumput.

Jordon                     Rumput juga bisa ada di hutan.

Austin                       Di mana kita harus meletakkannya?

Kerry                         Aku tidak tahu.

Austin                      Guru, guru, aku tidak tahu di mana harus menempatkan kartu rumput?

 

Kesalingtergantungan antarspesies merupakan konsep yang sangat sulit untuk dipahami siswa. Bagaimanapun juga, latihan singkat ini memfokuskan siswa pada eksplorasi selanjutnya. Sebelum kami memulai eksplorasi, saya meminta siswa untuk memberikan pendapat tentang latihan.

Sam menyampaikan rasa frustrasinya: “Kami mendapati bahwa tumbuhan dan hewan bisa terdapat di lebih dari satu tempat. Sebagian hewan mungkin tidur di satu tempat dan melakukan perjalanan ke tempat lain untuk mencari makanan. Bagaimana kita mengetahui di mana tempat hidupnya sesuatu?”

“Mari kita lihat cara kita bisa mengetahuinya, ” jawab saya.

 

MENGEKSPLORASI KOLAM

Di kolam, para siswa menjadi ilmuwan, mencari bukti untuk menguatkan atau membantah prediksi mereka. Saya memberikan kepada siswa wadah, stoples serangga, jaring, tabung uji, dan kaca pembesar sebagai sarana mengeksplorasi kolam. Siswa diminta untuk mengamati, menggambar, dan mengidentifikasi semua tanda-tanda kehidupan. Saya menerangkan kepada siswa bahwa seluruh temuan mereka akan digunakan untuk dua kegiatan berikutnya, menyusun jaring-jaring makanan dan menentukan kesehatan sumber air. Kebaruan lingkungan kolam bisa dengan mudah mengalihkan perhatian siswa yang terbiasa belajar di dalam batas-batas ruang kelas. Namun, melalui sesi perencanaan, Gina dan saya telah mendiskusikan tujuan kami satu sama lain terkait partisipasi dan pembelajaran siswa. Kami juga telah membahas perbedaan antara lingkungan kelas dan lingkungan kolam. Oleh karena itu, selama karyawisata, peran kami sebagai guru sudah ditentukan. Bersama-sama, kami mampu bekerja sama dengan sejumlah kelompok kecil siswa untuk membuat mereka terfokus pada kegiatan belajar dan tujuan karyawisata.

Mengidentifikasi spesies di dalam ekosistem adalah langkah pertama untuk menemukan tumbuhan dan hewan apa yang hidup di dalam ekosistem kolam. Betapapun, tujuan Gina adalah agar siswa melihat kesalingtergantungan didalam sebuah ekosistem. Dari situ, interaksinya dengan para murid mendukung tujuan itu. Dalam kutipan berikut, Gina menggunakan temuan Sam dan Ramon untuk membantu mereka bukan hanya mengidentifikasi seekor kepik air di dalam sampel air melainkan juga mengidentifikasi ganggang yang membantu menopang kehidupan kepik air.

Ketika siswa melanjutkan eksplorasi ekosistem kolam, mereka memperhatikan bahwa kehidupan di kolam bukan hanya terbatas pada air. Mereka menemukan jejak rusa, bekas berang-berang, kura-kura, katak, burung hitam bersayap-merah, capung, dan dua ular air. Siswa juga mengamati ada berbagai jenis tumbuhan yang tumbuh di tepian air. Ketika Gina melihat seekor elang kalkun terbang di sekitar kolam, Gina dan saya pun bisa memperkenalkan peran hewan pengurai di dalam ekosistem.

 

MEMBUAT HUBUNGAN

Setelah eksplorasi, siswa bekerja dalam kelompok untuk mengembangkan jaring-jaring makanan berdasarkan temuan mereka. Sembari siswa membicarakan pembuatan jaring-jaring makanan, mereka mendiskusikan tidak hanya tumbuhan dan hewan apa yang hidup di dalam ekosistem kolam melainkan juga bagaimana setiap anggota ekosistem terhubung. Berdasarkan temuan mereka, para siswa mengidentifikasi produsen, konsumen dan pengurai di dalam ekosistem. Selain itu, melalui pengembangan jejaring makanan, siswa melihat hubungan makan di antara organisme. Mereka mendapati bahwa jejaring makanan bisa menjadi amat kompleks ketika banyak spesies berbagi wilayah yang sama.

Seperti yang disimpulkan oIeh Sam, tidak hanya hewan dan tumbuhan yang hidup di kolam membutuhkan air, kami juga menemukan bukti adanya rusa yang melakukan perjalanan ke kolam untuk minum.

Pada akhir penyusunan jejaring makanan, Gina dan saya bertanya kepada siswa apakah mereka yakin bahwa kolam tersebut sehat dan bebas dari segala pencemaran? Kirsten menanggapi bahwa dalam anggapannya kolam itu sehat tetapi tidak yakin bagaimana cara untuk mendukung keyakinannya itu. Saya pun memperkenalkan konsep bioindikator. Siswa belajar bahwa para peneliti mutu air sering mengambil contoh populasi makroinvertebrata untuk memantau mutu air dari sebuah sumber air. Melalui permainan, siswa mempelajari stres lingkungan manakah yang mempengaruhi berbagai populasi makroinvertebrata. Siswa kemudian membandingkan temuan mereka dari eksplorasi kolam dengan apa yang baru saja mereka pelajari melalui permainan. Siswa menyimpulkan, berdasarkan temuan mereka, bahwa air kolam itu memang sehat. Salah satu siswa berkomentar bahwa sangat bagus bahwa air itu sehat karena sangat banyak tumbuhan dan hewan di dalam atau di dekat ekosistem kolam yang bergantung kepada air di kolam untuk bertahan hidup.

 

MEMPERLUAS PEMBEBELAJARAN

Kembali ke dalam kelas, pengalaman karyawisata menyediakan latar belakang bagi Gina untuk berbicara tentang ekosistem yang berbeda-beda dan hal apa yang berefek pada kelangsungan atau kerusakan ekosistem. Siswa kemudian menggunakan informasi yang telah mereka pelajari melalui pengalaman lapangan di Outdoor Classroom untuk mendesain proyek ekosistem mereka sendiri. Untuk proyek mereka, siswa merancang sebuah percobaan untuk menjawab pertanyaan yang telah mereka rumuskan terkait dengan aspek tertentu dari sesuatu yang telah mereka lihat atau dengar selama karyawisata. Siswa mengembangkan berbagai proyek yang berlainan. Proyek ekosistem menunjukkan bagaimana cara siswa mentransfer pengetahuan dan keterampilan yang dipelajari melalui karyawisata menuju eksplorasi ilmiah mereka sendiri. Tristan dan Ramon mempertanyakan pencemar (polutan) yang bisa mempengaruhi kehidupan mikroinvertebrata yang hidup di genangan air. Melalui proyek mereka, mereka menunjukkan bagaimana limpasan, pupuk, sampah dan oli mobil berpengaruh negatif terhadap kehidupan makroinvertebrata yang hidup di sumber air. Kristen mencari tahu kesehatan beragam sumber air di lingkungannya. Ia mengumpulkan sampel dari banyak sumber air di daerahnya dan menguji pencemarnya. Ia mengumpulkan informasi dari bioindikator untuk menyusun bagan hasilnya.

PENGALAMAN KARYAWISATA YANG BERHASIL

Pengalaman karya wisata di pusat pembelajaran informal mengandung potensi untuk mempromosikan pembelajaran sains dengan cara yang tulen. Bagi para siswa Gina, pelajaran tentang ekosistem beralih keluar dari batas-batas lingkungan kelas menuju eksplorasi ilmiah dunia-nyata dari sebuah ekosistem. Ketika siswa pertama kali tiba di Outdoor Classroom, mereka kesulitan menempuh latihan awal untuk mencari tahu di manakah tumbuhan dan hewan bisa hidup. Mereka tidak mengenal kesalingtergantungan tumbuhan dan hewan dan lingkungan yang sehat. Melalui pengalaman sehari, siswa mampu mengidentifikasi beraneka tumbuhan dan hewan di ekosistem kolam, menemukan bukti tentang hewan yang tidak hidup di kolam tetapi bergantung kepada kolam untuk kelangsungan hidup mereka, dan menemukan cara penggunaan bioindikator untuk menentukan kesehatan ekosistem kolam. Pengalaman lapangan memberikan kesempatan bagi siswa Gina untuk menjadi ilmuwan sungguhan, menjelajahi dunia mereka, mencatat data, dan menggunakan data itu untuk menarik kesimpulan. Keterampilan ilmiah yang dipelajari di sepanjang hari itu bisa ditransfer ke pembelajaran mendatang sebagaimana ditunjukkan oleh proyek-proyek yang dipresentasikan di kelas.

Pengalaman ini sangat bermakna bagi para siswa karena Gina dan saya dengan sadar menjadi mitra dalam partisipasi dan pembelajaran sains selama unit ekosistem. Yang paling penting untuk keberhasilan karyawisata ini adalah pemahaman yang terang oleh seluruh pemangku kepentingan pengajaran atas tujuan pembelajaran sains. Melalui pemahaman saya tentang tujuan Gina untuk perjalanan itu, kami mampu merancang pengalaman tersebut, memanfaatkan sumber pusat alam, untuk benar-benar mendukung pengajaran unit sains Gina tentang ekosistem. Gina dan saya sama-sama menyadari bahwa mengajar adalah tugas yang kompleks selama karyawisata sains ketika siswa mengalami fenomena yang baru di sebuah kelas tanpa dinding. Melalui kemitraan kami, kami mampu memfasilitasi tujuan tersebut melalui interaksi kami dengan siswa. Sebagai buahnya, siswa memperoleh pengetahuan ilmiah dan keterampilan tentang ekosistem kolam yang secara langsung ditransfer ke partisipasi dan pembelajaran sains yang akan datang.

-Kimberly Lebak

 

Leave a Reply

Close Menu