KĀFŪR

KĀFŪR

Kata kāfūr disebutkan satu kali dalam Alquran, pada firman-Nya,

إِنَّ الْأَبْرَارَ يَشْرَبُونَ مِن كَأْسٍ كَانَ مِزَاجُهَا كَافُورًا۝

Sungguh, orang-orang yang berbuat kebajikan akan minum dari gelas (berisi minuman) yang campurannya adalah air kafur. (Alquran, Surah al-lnsān/76: 5)

 

Ayat ini menyebutkan bahwa kafur adalah nama sebuah mata air di surga yang airnya berwarna putih, berbau wangi, dan memiliki rasa yang enak. Dari sinilah kemudian sebagian ulama percaya bahwa benda ini berasal dari dunia lain. Tetapi tidak sedikit pula pengamat dan ulama yang mengatakan bahwa kafur adalah nama produk   yang dihasilkan oleh sejenis pohon. Uraian berikut menunjukkan bahwa kata kafur menunjuk pada dua produk yang berbeda. Yang pertama adalah sebagai campuran untuk makanan dan minuman, sedangkan yang kedua lebih berperan sebagai bahan obat luar yang mengandung racun.

 

Kafur sebagai campuran makanan

Dalam   Alquran disebutkan bahwa penduduk surga kelak akan meminum anggur yang dicampur kafur tanpa menimbulkan efek negatif apa pun. Beberapa ulama berpendapat bahwa kata kafur di sini sebetulnya adalah copher yang berarti henna. Henna dikenal di beberapa bagian Asia, khususnya India, sebagai bahan untuk membuat lukisan di tangan. Tumbuhan penghasil henna masuk dalam suku Lythraceae, dengan nama latin Lawsonia inermis. Tidak jelas apakah kata kafur dalam Alquran mengadopsi nama tumbuhan ini, karena tidak ada pustaka yang menjelaskan bahwa bagian dari tanaman ini dapat dimakan, selain kelaziman pemakaiannya sebagai bahan tato penghias tangan dan pewarna rambut.

Di beberapa tempat, kata yang diusulkan untuk menerjemahkan kata kafur ke dalam Bahasa Inggris adalah camphor. Dari penelusuran pustaka ditemukan bahwa bahan yang berupa getah alami ini dituai dari pohon Cinnamomum camphora. Kafur pertama kali dikenalkan kepada dunia oleh para pedagang Arab yang mengimpornya dari pelabuhan Barus, Sumatera Utara. Bentuk getahnya yang mirip kapur dan berwarna putih, serta daerah asalnya yang bernama Barus, membuat masyarakat Melayu menamainya “Kapur Barus.” Kata camphor sendiri diperoleh dari kata berbahasa Perancis, camphre, yang berasal dari bahasa latin, camfora. Kata ini diperkirakan merupakan adopsi dari kata berbahasa Arab, kāfūr , atau dari Bahasa Sansekerta, karpoor.

Di Eropa Abad Pertengahan, camphor digunakan sebagai campuran untuk makanan ringan yang memiliki rasa manis. Camphor juga digunakan sebagai campuran semacam es krim pada Dinasti Tang (618-907 M) di China. Di dalam buku resep masakan berbahasa Arab yang diterbitkan di Andalusia pada abad 10 (Kitāb aṭ-Ṭabkh, karya Ibnu Sayyār al-Warrāq) dan buku resep Iain yang tidak berjudul pada abad 13, ditemukan banyak resep makanan yang menggunakan camphor. Hal yang sama muncul juga dalam buku resep makanan ringan dan kue yang diterbitkan di akhir abad 15 berjudul Ni’mat-nama. Penggunaan camphor sebagai campuran makanan kemudian meluas ke negara-negara muslim di Iuar Jazirah Arab.

Saat ini camphor banyak digunakan dalam masakan India,  dan dijual dengan bebas dengan label “Edible Camphor”, untuk membedakannya dari camphor yang digunakan untuk upacara keagamaan. Camphor yang disebut terakhir ini juga dikenal luas oleh masyarakat Indonesia dengan sebutan kamper. Hanya saja kamper ini tidak dapat dan bahkan sangat berbahaya bila dikonsumsi. Hanya camphor dengan label “Edible Camphor” saja yang dapat digunakan untuk memasak.

 

Kafur untuk keperluan Iain

Dalam hadis dinyatakan bahwa Nabi Muḥammad‎ menganjurkan umat Islam untuk menyertakan kafur dalam proses mengafani jenazah. Kafur di Sini dipahami sebagai zat yang sama atau mendekati apa yang saat ini dikenal sebagai camphor padat atau kamper oleh masyarakat Indonesia, yang itu tidak dapat dimakan. Pada masa itu camphor yang hanya tumbuh di Kalimantan dan Sumatera ini berharga sangat mahal di Arab, bahkan menyamai harga emas.

Kamper sudah dikenal oleh masyarakat Arab pra-lslam. Kemudian, pada abad 9, seorang ahli kimia Arab, al-Kindi—dikenal dengan sebutan Alkindus di Eropa— menuliskan resep pembuatan camphor dalam bukunya Kitāb Kīmiyyā’ al-‘Iṭr, buku tentang kimia minyak wangi. Baru pada abad 19 camphor padat yang dikenal saat ini mulai dirintis pembuatannya. Pada 1903, seorang peneliti bernama Gustaf Komppa mempublikasikan sintesis total dari asam camphoric. Produksi camphor padat alias kamper pertama kali dilakukan di Tainionkoski, Finlandia, pada 1907.

Bahan camphor banyak digunakan sebagai plasticizer dalam proses pembuatan nitrocellulose (semacam plastik), juga sebagai bahan pengusir moth (hama kupu-kupu pengisap cairan tumbuhan pertanian), cairan antimikroba, dan sebagai bahan tambahan pembuatan petasan. Bahan camphor padat juga berfungsi melindungi alat pertukangan, yang terbuat dari besi, dari karat. Itulah mengapa camphor padat biasa dimasukkan ke dalam peti perkakas pertukangan. Lebih dari itu, camphor juga lazim digunakan untuk mengusir serangga perusak sehingga sering diletakkan dalam lemari koleksi di museum ataupun lemari buku.

Camphor juga digunakan sebagai bahan campuran obat-obatan. Bahan ini dapat diserap oleh kulit dan memberi efek dingin seperti mentol, dan berperan pula sebagai anestetik dan antimikrobial. Obat gosok penghangat tubuh bagi penderita flu atau batuk-pilek, di samping berbahan mentol, juga menggunakan campuran camphor. Masyarakat di beberapa tempat percaya bahwa camphor dapat membantu mengusir ular dan reptil karena menghasilkan bau yang tajam. Kadangkala camphor digunakan sebagai repellent yang diusapkan ke kulit untuk menghindari serangga dan nyamuk. Dalam jumlah banyak, camphor juga dapat menjadi racun. Terlalu banyak menghisap uap camphor mengakibatkan kebingungan, alergi, hingga aktivitas otot-otot syaraf yang berlebihan. Dalam kasus yang ekstrem, camphor dapat menyebabkan keracunan hati. Kasus demikian ini cukup banyak ditemukan di Amerika Serikat.

Dikutip dari Tafsir ‘Ilmi

Leave a Reply

Close Menu