JENIS KELAMIN

JENIS KELAMIN

Serial Quran dan Sains

Penentuan Jenis Kelamin

Manusia dilahirkan sebagai laki-Iaki atau perempuan, tetapi ada juga yang alat kelaminnya tidak jelas laki-Iaki atau perempuan. Ciri seks dapat dibagi dalam ciri seks primer yang ditentukan oleh alat kelamin dan ciri seks sekunder seperti bentuk tubuh, rambut, kumis, dan suara yang ditentukan oleh hormon seks.

Penentuan jenis kelamin pada hewan menyusui (mamalia), beberapa jenis serangga (seperti lalat buah) dan beberapa jenis tanaman (seperti tanaman Gingko) ditentukan oleh keberadaan kromosom X dan kromosom Y. Pada manusia jenis kelamin perempuan ditentukan oleh berpasangannya dua kromosom X (XX) dan pada laki-Iaki oleh berpasangannya satu kromosom X dan satu kromosom Y (XY). Pada manusia perkembangan menjadi laki-laki ditentukan oleh gen SRY yang terletak di kromosom Y. Dengan demikian pada manusia, jenis kelamin anak ditentukan oleh keberadaan kromosom Y yang ada dalam sperma, jadi seks anak ditentukan oleh bapaknya. Kalau telur dibuahi oleh sperma yang mengandung kromosom X, maka akan dihasilkan anak perempuan. Sebaliknya jika telur dibuahi oleh sperma yang mengandung kromosom Y akan dilahirkan anak laki-laki.

Pada burung, penentuan jenis kelamin dilakukan oleh kromosom W dan kromosom Z, sehingga akan terbentuk betina jika kromosom seksnya WZ dan jantan jika kromosom seksnya WW.

Ada pula makhluk yang jenis kelaminnya ditentukan oleh lingkungan telur berkembang. Sebagai contoh adalah cacing laut Bonellia Viridis. Perbedaan bentuk antara cacing betina dan jantan besar sekali. Cacing betina berukuran 15 cm sedang yang jantan hanya 2 mm. Telur cacing ini akan berkembang menjadi cacing betina jika telurnya jatuh di dasar laut dan akan berkembang menjadi jantan jika telurnya jatuh ke atas tubuh cacing betina. Ternyata hal tersebut ditentukan oleh kadar karbondioksida (zat asam-arang, CO2) tempat telur cacing itu berkembang. Jika kadar CO2 tempat telur itu berkembang tinggi, telur akan berkembang menjadi jantan, sedangkan jika kadar CO2 rendah maka akan berkembang menjadi betina. Di dasar laut kadar CO2 lebih rendah 2 ketimbang di sekitar tubuh cacing.  Perbedaan kadar CO2 itu cukup untuk menentukan perkembangan seks cacing itu apakah akan menjadi jantan atau betina.

Kromosom manusia berjumlah 46, terdiri atas 22 pasang otosom dan 2 kromosom seks. Pada perempuan kromosom seksnya adalah XX dan pada laki-laki XV.

 

Kromosom Pria dan Kromosom Wanita
  1. Parthenogenesis

Parthenogenesis merupakan peristiwa kelahiran tanpa pembuahan sel telur oleh sperma. Pada hewan peristiwa ini sudah dapat dibuktikan, pada manusia hingga kini belum ada bukti ilmiah tentang telah terjadinya suatu peristiwa parthenogenesis. Dalam Alquran dan Injil dimuat peristiwa kelahiran Nabi Isa oleh ibunya, Maryam, tanpa pernah disentuh oleh seorang laki-Iaki. Mengingat bahwa untuk mendapatkan anak laki-Iaki diperlukan kromosom Y dan seorang perempuan tidak mempunyai kromosom Y, maka dari sudut pandang saintifik, peristiwa parthenogenesis pada manusia yang melahirkan anak lelaki tidak mungkin.

Itu sebabnya peristiwa kelahiran Isa tanpa ayah masih menjadi misteri bagi ilmu pengetahuan, dan dalam ajaran agama dikenal sebagai mukjizat, sesuatu kejadian di luar nalar manusia. Dalam Surah Āli ‘Imrān/3: 47 telah dijelaskan,

قَالَتْ رَبِّ أَنَّىٰ يَكُونُ لِي وَلَدٌ وَلَمْ يَمْسَسْنِي بَشَرٌ ۖ قَالَ كَذَٰلِكِ اللَّهُ يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ ۚ إِذَا قَضَىٰ أَمْرًا فَإِنَّمَا يَقُولُ لَهُ كُن فَيَكُونُ

Dia (Maryam) berkata, “Ya Tuhanku, bagaimana mungkin aku akan mempunyai anak, padahal tidak ada seorang laki-laki pun yang menyentuhku?” Dia (Allah) berfirman, “Demikianlah Allah menciptakan apa yang Dia kehendaki. Apabila Dia hendak menetapkan sesuatu, Dia hanya berkata kepadanya, “Jadilah!” Maka jadilah sesuatu itu (Alquran, Surah Āli ‘Imrān/3: 47)

 

Pada ayat lain, Surah Maryam/19: 20-22, juga dijelaskan sebagai berikut.

قَالَتْ أَنَّىٰ يَكُونُ لِي غُلَامٌ وَلَمْ يَمْسَسْنِي بَشَرٌ وَلَمْ أَكُ بَغِيًّا۝ قَالَ كَذَٰلِكِ قَالَ رَبُّكِ هُوَ عَلَيَّ هَيِّنٌ ۖ وَلِنَجْعَلَهُ آيَةً لِّلنَّاسِ وَرَحْمَةً مِّنَّا ۚ وَكَانَ أَمْرًا مَّقْضِيًّا۝

Dia (Maryam) berkata, “Bagaimana mungkin aku mempunyai anak laki-laki, padahal tidak pernah ada orang (laki-laki) yang menyentuhku dan aku bukan seorang pezina!” Dia (Jibril) berkata, “Demikianlah.” Tuhanmu berfirman, “Hal itu mudah bagi-Ku, dan agar Kami menjadikannya suatu tanda (kebesaran Allah) bagi manusia dan sebagai rahmat dari Kami. Dan hal itu adalah suatu urusan yang (sudah) diputuskan.” Maka dia (Maryam) mengandung, lalu dia mengasingkan diri dengan kandungannya itu ke tempat yang jauh. (Alquran, Surah Maryam/19: 20-22)

 

Berpasang-Pasangan

Salah satu tanda kemahakuasaan Allah adalah penciptaan makhluk biologis   sebaliknya. Jika ketentuan digunakan, maka seorang penderita sindroma insensitivitas terhadap androgen akan dikelompokkan sebagai perempuan, walaupun seks genetiknya XY.

Mungkin timbul pertanyaan, mengapa Alquran hanya mengintroduksi dua jenis kelamin sementara ada yang khunṡā? Jawaban atas pertanyaan ini patut kita cermati antara lain tulisan Musa‘id bin Sulaiman aṭ-Ṭayyār dalam Mafhum at-Tafsīr ketika menafsirkan ayat-ayat yang mengintroduksi jenis kelamin hanya ada dua (Iaki-Iaki dan perempuan), bahwa ayat Alquran sama sekali tidak menafikan keberadaan khunṡā, hanya tidak disebutkan secara eksplisit semata-mata karena dalam realitas memang sangat jarang terjadi. Di samping itu, perkembangan selanjutnya anak-anak yang terlahir dengan kelamin ganda pada akhirnya akan berafiIiasi ke salah satu dari dua jenis kelamin, laki-laki atau perempuan, sehingga dengan demikian hal-hal yang berkaitan dengan persoalan- persoalan fikih bisa teratasi.

Pada tanaman keadaannya berbeda. Pada tanaman angiosperma alat reproduksi pada tanaman adalah bunga. Bunga pada tanaman ada yang mengandung baik alat reproduksi jantan (androecium) dan alat reproduksi betina (gynoecium). Bunga yang mengandung androecium dan gynoecium disebut hermafrodit, seperti bunga ros dan bunga lily. Ada pula bunga tanaman yang mengandung hanya alat reproduksi jantan atau hanya alat reproduksi betina. Tanaman demikian disebut diclinous.

Ada pula tanaman yang hanya mempunyai bunga jantan atau bunga betina yang dapat berada pada satu tumbuhan atau pada tumbuhan yang berbeda. Jika bunga jantan dan betina berada pada tumbuhan yang berbeda. Tanaman seperti itu disebut dioecious Pada jenis tanaman ini ada tumbuhan yang jantan (hanya mempunyai bunga jantan) dan tumbuhan yang betina  (hanya mempunyai bunga betina. Contoh tanaman seperti itu adalah kurma.

Bunga Kurma

Operasi Ganti Kelamin (Transgender)

Tak dapat diingkari bahwa jenis kelamin yang umum di sekeliling kita memang cuma laki-Iaki dan perempuan. Melalui teknik operasi kedokteran ada laki-laki yang beralih menjadi perempuan, dan sebaliknya, perempuan menjadi laki-Iaki. Peralihan itu dilatari oleh bermacam-macam alasan, misalnya karena orientasi seksual yang berbeda, anggapan hidup nyaman dengan jenis kelamin yang berbeda dengannya, kebiasaan berhubungan kelamin dengan sejenis, dan sebagainya. Bahkan, ada yang melakukannya semata-mata karena ia ingin melakukannya, bukan  karena ada suatu sebab yang dapat diterima akal sehat pada manusia normal.

Orang yang menganggap dirinya berjenis kelamin berbeda dengan saat ia dilahirkan dan/atau melakukan tindakan peralihan jenis kelamin dalam istilah kedokteran disebut dengan transsexual, atau belakangan dikenalkan pula istilah transgender dengan makna sama, yang lalu diindonesiakan menjadi transeksual dan transgender. Transeksual atau transgender pada awalnya adalah istilah yang digunakan untuk mendeskripsikan orang yang melakukan, merasa, berpikir atau terIihat berbeda dari jenis kelamin yang ditetapkan saat mereka lahir. Kondisi pada tiap-tiap individu berbeda, dari mulai hanya dipendam di dalam perasaan, atraktif, sampai tindakan operasi ganti kelamin (operasi transeksual, operasi transgender). Kecanggihan teknologi kedokteran dan tindakan medis telah mampu ‘menyulap’ alat kelamin sesuai dengan pesanan (yang dikehendaki). Operasi macam ini telah menjadi hal biasa dalam dunia kedokteran, mengubah laki-Iaki menjadi perempuan, dan perempuan  menjadi laki-Iaki dengan ciri-ciri fisik yang nyata sebagaimana dikenal dalam kehidupan sehari-hari. Teknik operasi plastik, penggunaan silikon, kultur jaringan, transplantasi organ, telah menyempurnakan pekerjaan seorang dokter bedah.

Laporan The National Center for Transgender Equality di Washington DC memperkirakan jumlah orang yang melakukan operasi ganti kelamin (transgender) berkisar antara 0,025% hingga 1% dari jumlah total penduduk. Memang hanya sedikit sekali jumlah statistik mengenai jenis operasi ini terutama karena banyak dari mereka merahasiakannya. Operasi pria menjadi perempuan atau ‘male-to-female’ (MTF) ternyata lebih sering dibandingkan perempuan ke pria atau ‘female-to-male’ (FTM), mungkin karena lebih sulit. Sebagian besar pasien berbangga dengan hasil operasi mereka yang memberi status baru, meskipun banyak juga yang merahasiakannya lalu mencari tempat tinggal baru yang sebelumnya mereka tidak dikenal. Yang jelas mereka lebih nyaman dengan status barunya, kecuali kendala-kendala kecil, seperti masih adanya bulu-bulu yang muncul di tempat tertentu yang tak mereka kehendaki.

Indikasi operasi ganti kelamin dari segi ilmu kedokteran:

  1. Setiap anak dengan genotip XX yang dibesarkan sebagai perempuan dengan harapan di kemudian hari dapat hamil. Klitoris yang besar diperkecil.
  2. Setiap anak dengan genotip XY yang dibesarkan sebagai laki-laki, jika mempunyai penis yang bisa dipakai untuk melakukan hubungan suami istri. Jika penisnya terlalu kecil, maka dilakukan operasi dengan membuang testis serta membuat liang vagina dan diberikan hormon estrogen waktu pubertas.
  3. Seorang anak dengan genotip XX/XY atau hermafrodit tulen yang dibesarkan sesuai dengan keadaan alat kelamin luarnya. Operasi yang dilakukan untuk membuat alat kelamin baru lebih sesuai dengan sex anak itu dibesarkan (sex of growing). Identitas gender harus ditentukan sebelum usia 2 tahun. Setelah usia itu, status kelaminnya jangan diubah kembali kecuali atas permintaannya, tentu dengan konsekuensi-konsekuensi.

 

Dari segi medis, operasi ganti kelamin bukan lagi masalah karena kecanggihan teknologi kedokteran memudahkan tindakan itu. Nah, sekarang bagaimana tinjauan agama?

Para ulama pada umumnya mengharamkan tindakan operasi ganti kelamin karena hal itu dianggap telah mengubah ciptaan Allah subḥānahu wa ta‘ālā. Bukan sekadar mengubah bagian-bagian tubuh untuk tujuan penyempurnaan (kamāliyāt atau taḥsīiniyyāt), tetapi mengubah total jenis kelamin yang implikasinya dalam agama sangat luas. Perubahan total ciptaan Allah seperti ini dianggap sebagai bagian dari keinginan setan, sebagaimana dipahami dari ayat berikut.

وَلَأُضِلَّنَّهُمْ وَلَأُمَنِّيَنَّهُمْ وَلَآمُرَنَّهُمْ فَلَيُبَتِّكُنَّ آذَانَ الْأَنْعَامِ وَلَآمُرَنَّهُمْ فَلَيُغَيِّرُنَّ خَلْقَ اللَّهِ ۚ وَمَن يَتَّخِذِ الشَّيْطَانَ وَلِيًّا مِّن دُونِ اللَّهِ فَقَدْ خَسِرَ خُسْرَانًا مُّبِينًا۝

Dan pasti kusesatkan mereka dan akan kubangkitkan angan-angan kosong pada mereka dan akan kusuruh mereka memotong telinga-telinga binatang ternak, (lalu mereka benar-benar memotongnya), dan akan aku suruh mereka mengubah ciptaan Allah, (lalu mereka benar-benar mengubahnya).” Barangsiapa menjadikan setan sebagai pelindung selain Allah, maka sungguh, dia menderita kerugian yang nyata (Alquran, Surah an-Nisā’/4: 119)

 

Fokus dari ayat ini yang terkait erat dengan operasi ganti kelamin adalah ungkapan “falayugayyirunna khalqallāh“. Pemaknaan terhadap ungkapan ini di dalam kitab-kitab tafsir memang beragam. Pada umumnya, memaknainya dengan mengubah agama Allah, misalnya menghalalkan yang haram dan mengharamkan yang halal. Masih sulit ditemukan dalam kitab-kitab tafsir adanya pemaknaan yang menjurus pada ganti kelamin sebagai bentuk mengubah ciptaan Allah. Hal ini boleh jadi karena operasi ganti kelamin baru dikenal luas pada beberapa dekade terakhir ini. Adapun praktik yang telah dikenal oleh masyarakat dan dianggap telah mengubah ciptaan Allah adalah mengebiri binatang atau budak sehingga tak mampu lagi melaksanakan fungsi-fungsi biologisnya secara baik sebagai jantan atau pria. Al-Khatib dalam tafsirnya, Auḍaḥhut-Tafāsīr, telah mencontohkan perilaku penggantian ciptaan Allah yang dimaksud oleh ungkapan dalam ayat itu antara lain mengebiri budak pria dan hewan jantan.

Implikasi terbesar dari operasi ganti kelamin ini adalah yang berkaitan dengan masalah keagamaan. Apakah setelah operasi status baru itu dapat dihukumkan status jenis kelamin baru pula? Karena, di dalam hukum Islam ada perbedaan-perbedaan antara laki-Iaki dan perempuan menyangkut misalnya kelompok saf di dalam salat, hak waris, hak menjadi imam dan khatib, hubungan seksual (digolongkan homo-seksual ataukah heteroseksual), ketika wafat imam salat jenazah berdiri lurus dengan kepala ataukah perut (sampai pada kata ganti dalam doa, ‘hu’ ataukah ‘hā), dan berbagai implikasi lain yang sangat rumit dan memerlukan perdebatan panjang dari segi fikih. Belum lagi persoalan dimasa depan ketika ilmu kedokteran telah mampu membuat laki-Iaki yang berganti kelamin menjadi perempuan dapat hamil dan melahirkan anak sebagaimana terus diupayakan oleh para insan kedokteran saat ini. Sampai dengan saat ini, yang telah dicapai adalah membuatkan alat kelamin baru sebagai ganti yang lama dengan fungsi yang sama sehingga hubungan suami istri telah dapat dilakukan sebagaimana layaknya manusia normal.

Kalau dianggap sebagai hubungan sejenis, sebagaimana halnya yang terjadi di masa Nabi Lūṭ maka tentu hal tersebut dianggap sebagai perbuatan keji (al-fāḥisyah) seperti ditegaskan ayat berikut.

وَلُوطًا إِذْ قَالَ لِقَوْمِهِ أَتَأْتُونَ الْفَاحِشَةَ مَا سَبَقَكُم بِهَا مِنْ أَحَدٍ مِّنَ الْعَالَمِينَ۝ إِنَّكُمْ لَتَأْتُونَ الرِّجَالَ شَهْوَةً مِّن دُونِ النِّسَاءِ ۚ بَلْ أَنتُمْ قَوْمٌ مُّسْرِفُونَ۝

Dan (Kami juga telah mengutus) Lūṭ, ketika dia berkata kepada kaumnya, “Mengapa kamu melakukan perbuatan keji, yang belum pernah dilakukan oleh seorang pun sebelum kamu (di dunia ini). Sungguh, kamu telah melampiaskan syahwatmu kepada sesama lelaki bukan kepada perempuan. Kamu benar-benar kaum yang melampaui batas” (Alquran, Surah al-A‘rāf/7: 80-81)

 

Persoalan hubungan sejenis, yang dikenal dengan homoseksual dan lesbian, dapat dibaca lebih lanjut dalam bab yang membahasnya secara ‎‎ khusus. Terdapat titik singgung antara homoseks dan lesbi dengan mereka yang telah berganti kelamin. Pada hubungan kelamin homoseksual dan lesbian masing-masing masih tetap pada jenis kelaminnya semula, hanya di antara pasangan itu ada yang berfungsi sebagai suami dan yang lainnya sebagai istri. Sementara pada pasangan yang salah satunya telah dioperasi ganti kelamin maka secara ‎‎ lahiriah (kasat mata) tampak sebagai istri adalah perempuan dan yang jadi suami adalah laki-Iaki. Akan tetapi pada dasarnya mereka berasal dari jenis kelamin yang sama. Hal inilah yang membuat ulama pada umumnya mengharamkannya, karena secara ‎‎ hakikat mereka berhubungan kelamin sesama jenis seperti pernah merajalela di masa Nabi Lūṭ dan masih berkembang hingga saat ini, baik yang terang-terangan karena dilegalisasi oleh negara maupun yang sembunyi-sembunyi. Alquran menentang hal tersebut karena termasuk perbuatan keji yang harus dijauhi.

Ada sebagian kecil ulama kontemporer membolehkan operasi ganti kelamin terhadap mereka yang dipastikan secara medis dan uji psikologis terperangkap dalam jenis kelamin berlawanan secara ekstrem. Akan tetapi, tingkat prevalensi kasus-kasus seperti ini sangat kecil.

 

Reproduksi

Allah telah menciptakan manusia dan makhluk biologis pada umumnya selalu berpasangan, laki-laki dan perempuan, jantan dan betina. Dengan jenis kelamin yang berbeda itu mereka berreproduksi lalu menyebar di muka bumi ini, di darat, di laut/air, dan lainnya beterbangan di angkasa. Pada masing-masing jenis kelamin, terdapat perasaan ketertarikan yang mengarah pada saling membutuhkan untuk bersatu dan bekerja sama melestarikan keberlangsungan hidup spesies umat manusia di dunia. Allah menganugerahi keturunan kepada setiap pasangan yang dikehendaki berupa anak laki-Iaki atau anak perempuan, sebagaimana dipahami dari ayat berikut.

لِّلَّهِ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۚ يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ ۚ يَهَبُ لِمَن يَشَاءُ إِنَاثًا وَيَهَبُ لِمَن يَشَاءُ الذُّكُورَ۝ أَوْ يُزَوِّجُهُمْ ذُكْرَانًا وَإِنَاثًا ۖ وَيَجْعَلُ مَن يَشَاءُ عَقِيمًا ۚ إِنَّهُ عَلِيمٌ قَدِيرٌ۝

Milik Allah-lah kerajaan langit dan bumi. Dia menciptakan apa yang Dia kehendaki, memberikan anak perempuan kepada siapa yang Dia kehendaki dan memberikan anak laki-laki kepada siapa yang Dia kehendaki, atau Dia menganugerahkan jenis laki-laki dan perempuan, dan menjadikan mandul siapa yang Dia kehendaki. Dia Maha Mengetahui, Mahakuasa (Alquran, Surah asy-Syūrā/42: 49-50) .

Proses reproduksi pada manusia terjadi di saat sperma yang keluarnya dipancarkan membuahi ovum (sel telur) perempuan. Hal yang sangat menakjubkan adalah ketika berjuta- juta sperma yang berebut atau berlomba membuahi ovum, tetapi hanya satu yang akan berhasil masuk. Sifat sperma yang keluar memancar dimaksudkan agar dengan itu dapat lebih cepat mencapai rahim tempat ovum berada dan siap untuk dibuahi.

أَلَمْ يَكُ نُطْفَةً مِّن مَّنِيٍّ يُمْنَىٰ۝ ثُمَّ كَانَ عَلَقَةً فَخَلَقَ فَسَوَّىٰ۝ فَجَعَلَ مِنْهُ الزَّوْجَيْنِ الذَّكَرَ وَالْأُنثَىٰ۝

Bukankah dia mulanya hanya setetes mani yang ditumpahkan (ke dalam rahim), kemudian (mani itu) menjadi sesuatu yang melekat, lalu Allah menciptakannya dan menyempurnakannya, lalu Dia menjadikan darinya sepasang laki-laki dan perempuan (Alquran, Surah al-Qiyāmah/75: 37-39)

Dalam surah yang lain dijelaskan pula dengan gamblang bahwa laki-laki dan perempuan menjadi medium dalam perkembangan dan penyebaran mereka di bumi sebagaimana dipahami dari Surah an-Nisā’‎/4: 1.

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُم مِّن نَّفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ ۚ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا۝

Wahai manusia! Bertakwalah kepada Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu, dan (Allah) menciptakan pasangannya dari (diri)nya, dan dari keduanya Allah memperkembangbiakkan laki-Iaki dan perempuan yang banyak. Bertakwalah kepada Allah yang dengan nama-Nya kamu saling meminta, dan (peliharalah) hubungan kekeluargaan. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasimu (Alquran, Surah an-Nisā’/4: 1)

 

Kesehatan Reproduksi

Senada dengan definisi WHO tentang kesehatan, yaitu sehat jasmani, rohani, dan sosial, bukan hanya keadaan tidak sakit, maka WHO mendefinisikan kesehatan reproduksi kemampuan untuk menjalankan kehidupan seksual yang aman dan memuaskan serta kemampuan untuk memperoleh keturunan dalam jumlah yang diinginkan dan pada waktu yang ditentukan. Kesehatan reproduksi merupakan salah satu sasaran dari Millennium Development Goals (MDG). Keberhasilan tujuan ini diindikasikan melalui frekuensi penggunaan alat kontrasepsi, jumlah ibu muda yang melahirkan, cakupan pelayanan selama kehamilan, dan pelayanan kontrasepsi yang tersedia.

Kesehatan reproduksi sangat penting karena dari situ bermula konsepsi awal pertemuan sel telur dengan sperma yang kelak berproses menjadi janin dan selanjutnya menjadi manusia utuh. Apabila di bagian itu terdapat benih penyakit maka besar kemungkinan akan menularkan pula penyakit kepada janin. Kesetiaan hanya berhubungan dengan suami istri yang sah memberi proteksi terhadap kemungkinan penyakit-penyakit yang dapat mencemari organ reproduksi. Bahkan selaput dara (hymen) diciptakan Allah pada alat kelamin perempuan sebagai palang pintu larangan berhubungan selain dengan suami yang sah secara syariat. Hal itu antara lain sebagai antisipasi agar organ reproduksi tetap dalam keadaan bersih lahir batin dari berbagai unsur yang dapat menjadi penyebab malapetaka kehidupan. Alquran dengan tegas melarang organ reproduksi dikotori oleh perbuatan-perbuatan yang tak direstui oleh syariat meskipun dorongan terhadap perilaku itu sangat besar. Perhatikan Surah al-lsrā’/17: 32 berikut ini.

وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنَا ۖ إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلًا

Dan janganlah kamu mendekati zina. (Zina) itu sungguh suatu perbuatan keji dan suatu jalan yang buruk (Alquran, Surah al-lsrā’/17: 32)                                                                                                

Dikutip dari Tafsir al-‘Ilmi

Leave a Reply

Close Menu