JENDELA ANGKASA PLANET BUMI

JENDELA ANGKASA PLANET BUMI

Bumi merupakan planet yang memiliki pelindung yang disebut atmosfer. Unsur ini terdiri dari beberapa lapisan yang berurutan sesuai dengan ke tinggian masing-masing. Lapisan lapisan udara tersebut melindungi bumi dari berbagai ancaman yang datang dari ruang angkasa, misalnya saja meteor yang sering berjatuhan. Benda-benda angkasa yang mengarah ke bumi lebih dulu dihambat oleh atmosfer yang membuat sebagian besarnya hancur sebelum mencapai permukaan bumi.

Namun demikian, atmosfer tidak selalu menghambat apa saja yang datang dari ruang angkasa. Ada sebagian objek yang memang dibiarkan masuk ke bumi, seperti cahaya matahari. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa atmosfer merupakan jendela angkasa planet bumi yang menjadi ruang untuk masuknya sesuatu ke bumi. Memang, atmosfer memiliki dua fungsi, yaitu sebagai pelindung bumi sekaligus sebagai jendela angkasa planet ini. Allah menyebutkan fenomena ini dalam firman-Nya,

وَجَعَلْنَا السَّمَاءَ سَقْفًا مَّحْفُوظًا ۖ وَهُمْ عَنْ آيَاتِهَا مُعْرِضُونَ۝

Dan Kami menjadikan langit sebagai atap yang terpelihara, namun mereka tetap berpaling dari tanda-tanda (kebesaran Allah) itu (matahari, bulan, angin, awan, dan lain-lain). (Alquran, Surah al-Anbiyā‘/21: 32)

 

Frasa saqfan mafūẓā terdiri dari dua kata, yaitu saqfan dan maḥfūẓā. Kata yang pertama berarti “atap” atau “bagian” yang menutupi sebuah bangunan, sedangkan kata yang kedua merupakan bentuk ism maf’ūl dari kata kerja afia-yafau yang berarti “menjaga”. Dengan demikian, maḥfūẓā‎ berarti “terjaga” atau “yang dijaga”. Selanjutnya, gabungan kedua kata tersebut, saqfan maḥfūẓā‎, dapat diartikan menjadi “atap yang dijaga” atau “atap yang terjaga”.

Pada ayat tersebut, langit disebut sebagai atap yang terjaga untuk menaungi bumi. Maksudnya, langit mempunyai fungsi sebagai pelindung bumi dari segala sesuatu yang mengancam keberadaannya. Bagian langit yang berfungsi sebagai pelindung bumi adalah atmosfer. Dengan beberapa lapisan yang terdapat padanya, bagian ini menjadi suatu pertahanan yang kuat dari benda-benda langit yang mengancam bumi. Namun, selain sebagai pelindung, lapisan ini juga berfungsi sebagai jendela angkasa planet ini. Sebagai jendela angkasa, atmosfer merupakan jalan masuk bagi sesuatu yang berasal dari ruang angkasa ke bumi yang masuk melalui atmosfer di antaranya adalah cahaya matahari, cahaya bulan, cahaya bintang, dan benda-benda lainnya.

Dalam ayat ini, yang dimaksud dengan as-samā (Iangit) adalah ruang angkasa dan benda-benda di dalamnya. Ungkapan “Iangit sebagai atap yang terpelihara” dapat pula dipahami bahwa benda-benda angkasa itu diatur dan dijaga agar selalu bergerak dalam orbitnya dalam kurun waktu tertentu. Gerakannya yang teratur mengakibatkan masing-masing terhindar dari tabrakan dengan lainnya sehingga tidak jatuh berguguran. Sebagaimana diketahui, benda-benda langit seperti planet, bintang, atau galaksi masing-masing memiliki gaya gravitasi. Dengan gaya ini tiap-tiap benda langit tetap beredar pada orbitnya masing-masing, terjaga di posisinya.

Frasa “Iangit sebagai atap yang terpelihara” dapat juga diartikan sebagai atmosfer yang fungsinya sebagai atap yang menjaga bumi. Fungsi demikian terutama ditujukan untuk melindungi bumi dari benda-benda yang meluncur ‎ ke planet ini dan dari radiasi yang masuk. Atmosfer juga terjaga pada posisinya karena adanya gravitasi bumi yang menahan udara tetap melingkupi bumi. Adanya medan magnet bumi juga melindungi atmosfer tidak mengalami pengikisan akibat efek angin matahari. Dengan adanya pelindung atmosfer yang terjaga, manusia di permukaan bumi juga terjaga keberlangsungannya. Fungsi atmosfer untuk menghambat jatuhnya batuan antariksa menjadikannya atap yang menjaga bumi. Sebelum benda yang meluncur itu menabrak bumi, ia akan dihancurkan oleh atmosfer sehingga hanya bagian-bagian kecil saja yang berhasil lolos dari atmosfer dan kemudian jatuh ke permukaan bumi. Atmosfer juga menyaring radiasi radiasi berbahaya dari matahari, misalnya saja sinar ultraviolet yang bisa menimbulkan kanker kulit.

Atmosfer yang melindungi bumi menjadikan kondisi planet ini berbeda dari satelitnya, bulan, yang tidak memiliki lapisan pelindung. Permukaan bulan tampak tidak rata dan dipenuhi oleh kawah-kawah yang disebabkan oleh meteorit yang menumbuknya. Berbeda dari bulan, bumi memiliki permukaan yang relatif rata dan dipenuhi oleh pepohonan, hewan, dan makhluk lainnya. Keadaan yang demikian diisyaratkan oleh Allah dalam firman-firman-Nya,

الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ الْأَرْضَ فِرَاشًا وَالسَّمَاءَ بِنَاءً وَأَنزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَخْرَجَ بِهِ مِنَ الثَّمَرَاتِ رِزْقًا لَّكُمْ ۖ فَلَا تَجْعَلُوا لِلَّهِ أَندَادًا وَأَنتُمْ تَعْلَمُونَ۝

(Dialah) yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan Dialah yang menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia hasilkan dengan (hujan) itu buah-buahan sebagai rezeki untukmu. Karena itu janganlah kamu mengadakan tandingan-tandingan bagi Allah, padahal kamu mengetahui.(Alquran, Surah al-Baqarah/2: 22)

 

اللَّهُ الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ الْأَرْضَ قَرَارًا وَالسَّمَاءَ بِنَاءً وَصَوَّرَكُمْ فَأَحْسَنَ صُوَرَكُمْ وَرَزَقَكُم مِّنَ الطَّيِّبَاتِ ۚ ذَٰلِكُمُ اللَّهُ رَبُّكُمْ ۖ فَتَبَارَكَ اللَّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ۝

Allah-Iah yang menjadikan bumi untukmu sebagai tempat menetap dan langit sebagai atap, dan membentukmu lalu memperindah rupamu serta memberimu rezeki dari yang baik-baik. Demikianlah Allah, Tuhanmu, Mahasuci Allah, Tuhan seluruh alam. (Alquran, Surah Gāfīr/40: 64)

 

وَجَعَلْنَا السَّمَاءَ سَقْفًا مَّحْفُوظًا ۖ وَهُمْ عَنْ آيَاتِهَا مُعْرِضُونَ۝

Dan Kami menjadikan langit sebagai atap yang terpelihara, namun mereka tetap berpaling dari tanda-tanda (kebesaran Allah) itu (matahari, bulan,angin, awan, dan lain-lain). (Alquran, Surah al-Anbiyā’/21: 32)

 

Ketiga ayat di atas menunjukkan bahwa langit berfungsi sebagai atap. Apabila kata binā diterjemahkan menjadi “atap” seperti pemahaman kita, maka langit merupakan pelindung bagi bumi layaknya atap rumah melindunginya misalnya dari hujan. IImu pengetahuan menunjukkan bahwa gelombang elektromagnetik yang dipancarkan matahari disaring oleh langit atau atmosfer sehingga radiasi berbahaya tidak merusak bumi. Ada tiga perlindungan penting yang diberikan oleh langit kepada bumi, yakni medan magnet bumi, lapisan udara secara umum, dan lapisan ozon secara khusus.

Inti bumi yang kaya akan besi dengan sifat magnetik yang kuat menyebabkan bumi dilindungi oleh magnetik berupa magnetosfer. Me dan magnetik menyebabkan partikel bermuatan dari matahari tertahan diwilayah yang melingkupi bumi, yang dikenal dengan sebutan Sabuk Van Allen. Sabuk Van Allen di atas ekuator berada pada ketinggian sekitar 6.000-30.000 km  melindungi bumi dari partikel bermuatan yang berasal dari matahari.Pelindung selanjutnya adalah lapisan udara, khususnya di bawah ketinggian 120 km, yang mampu menahan batuan dari antariksa sehingga terbakar habis atau terpecah-belah. Kalaupun ada yang tersisa dan mencapai permukaan bumi, ukurannya sudah sangat berkurang sehingga umumnya menjadi tidak berbahaya lagi. Lapisan ozon yang merupakan bagian dari atmosfer (Iapisan udara) pada ketinggian sekitar 25-50 km bertindak sebagai penyerap sinar ultraviolet yang berbahaya bagikehidupan di permukaan bumi.

Sifat fisis atmosfer berfungsi menyaring sebagian gelombang elektromagnetik dan meneruskan lainnya. Sinar gamma dan sinar X dari matahari dan bintang-bintang tidak mungkin menembus sampai permukaan bumi karena diserap oleh atmosfer. Sinar ultraviolet yang berbahaya bagi makhluk hidup sebagian diserap oleh lapisan ozon. Sebagian lainnya diteruskan ke bumi karena dalam porsi tertentu sinar ini bermanfaat bagi manusia, misalnya memperkuat tulang, dan bagi makhluk hidup lainnya karena membantu menyediakan makanan melalui proses fotosintesis pada tumbuhan. Cahaya tampak seluruhnya menembus permukaan bumi sehingga memperindah dunia ini. Cahaya gelombang pendek sebagian dihamburkan atmosfer, menampilkan langit biru. Cahaya hijau dipantulkan oleh dedaunan. Cahaya lainnya dipantulkan oleh beragam bunga sehingga tampak indah, beraneka warna. Sinar inframerah yang bersifat panas sebagian diteruskan dan sebagian lagi diserap oleh atmosfer yang menjaga kehangatan bumi setelah matahari terbenam. Gelombang radio dari antariksa sebagian diteruskan dan sebagian lagi diserap oleh atmosfer.

Dengan jendela atmosfer yang meloloskan cahaya, tampak sebagian sinar inframerah, dan sebagian gelombang radio, para astronom bisa “membaca” dan “mendengar” kisah planet, bintang, dan galaksi yang sangat jauh di alam semesta. Ya, gelombang elektromagnetik adalah bahasa universal yang bisa kita gunakan untuk membaca dan mendengar cerita dari jagat raya. Fisika dan matematika menjadi penerjemah cerita semesta itu menjadi bahasa yang kita fahami. Planet dengan cahaya yang dipancarkan dapat bercerita tentang jaraknya, gerakannya, dan kondisi fisiknya. Bintang-bintang juga bercerita tentang jaraknya, ukurannya, suhunya, komposisinya, dan parameter fisisnya. Demikian juga galaksi-galaksi bercerita tentang kecepatannya menjauh yang mengindikasikan alam semesta berkembang. Begitupun, masih sangat banyak lagi cerita semesta yang belum bisa kita pahami karena adanya jendela atmosfer yang meneruskan sebagian gelombang elektromagnetik dan menahan sebagian lainnya, yang umumnya berbahaya bagi kehidupan makhluk hidup.

Adanya jendela atmosfer memungkinkan astronom merancang perangkat penangkap informasi dari semesta. Perangkat itu menangkap sinyal-sinyal gelombang elektromagnetik dari planet, bintang, dan galaksi yang sangat jauh. Sinyal cahaya tampak merupakan sinyal pertama yang diterima manusia dan dimaknai tafsir fisisnya.

Dengan menggunakan teleskop optik, seperti yang ada di Observatorium Bosscha Lembang, cahaya tampak dikumpulkan dan kemudian direkam dengan perangkat fotografi atau kamera elektronik. Sebagian jendela atmosfer pada panjang gelombang inframerah juga dimanfaatkan untuk menangkapnya dengan teleskop besar yang dipasang di bukit-bukit tinggi, seperti puncak Mauna Kea, Hawaii. Jendela lainnya pada panjang gelombang radio dimanfaatkan untuk menangkap sinyal-sinyal radio dari objek-objek semesta dengan menggunakan teleskop radio. Namun, para astronom tidak menyerah dengan keterbatasan jendela atmosfer. Kendala atmosfer diatasi dengan mengirimkan wahana pengamatan yang ditempatkan di atmosfer atas atau di antariksa. Dengan teleskop yang ditempatkan di pesawat terbang, hambatan awan dan uap air yang menghambat sinyal-sinyal cahaya tampak dan inframerah dapat diatasi. Demikian juga, dengan menempatkan teleskop antariksa, hambatan serapan atmosfer dapat diatasi sehingga hampir semua rentang panjang gelombang dapat diamati dengan beragam jenis teleskop antariksa.

Dikutip dari Tafsir ‘Ilmi

Leave a Reply

Close Menu