JALAL AL-DIN MUHAMMAD IBN AS’AD AL-DAWANI

JALAL AL-DIN MUHAMMAD IBN AS’AD AL-DAWANI

Jalal al-Din Muhammad ibn As’ad al-Dawani (atau Dawwani) lahir di desa Davan, dekat Kazarun, Iran selatan pada tahun 830 H (1426 M). Al-Dawani awalnya belajar bersama ayahnya, yang dulunya merupakan murid dari Sayyid Al-Sharif Al-Jurani (wafat 816 H/1413 M) kemudian melanjutkan dan menyelesaikan pendidikannya di bidang filsafat, teologi dan hukum di Shiraz.

Sama seperti ilmuwan agama terkemuka lainnya pada jamannya, Al-Dawani pun langsung terjebak ke dalam dunia politik Iran pada paruh kedua abad ke-9 H (abad ke-15 M). Beliau dipekerjakan di kantor keagamaan dan membuat banyak karya yang didedikasikan untuk Aq Qoyunlu serta pemimpin dan pangeran Timurid lainnya. Al-Dawani juga meraih ketenaran sebagai guru di Begum madrasa (Dar al-Aytam) di Shiraz. Pertanyaan tentang kepatuhan pada agamanya, apakah Sunni atau Syiah selalu menjadi bahan perdebatan dan banyak cerita fantastis mengenai hal ini, tapi mungkin hanya sedikit bermakna mengingat situasi di Iran saat itu, ditandai oleh Sunni dengan warna Syiah yang kuat. Beliau menulis karya teologis ini dari kedua persuasi.

 

Al-Dawani pertama-tama menarik perhatian kaum terpelajar Barat melalui terjemahan bahasa Inggris dari karya berbahasa Persianya di tahun 1839, Akhlaq Jalali (Jalalean Ethics), atau dalam bahasa aslinya berjudul Lawami ‘al-ishraq fi Makarim al-Akhlaq (Lustre of Illumination on the Noble Virtues atau Keharuman pada Kebajikan Mulia). Teks Al-Dawani menandai tahap ketiga dalam pengembangan tulisan etis yang dimulai oleh Ibn Miskawah dengan karyanya Tahdhib al-akhlaq (Budidaya Moral) dan selanjutnya oleh Nasir al-Din al-Tusi dengan karyanya Akhlaq-e Nasiri (Etika Nasirean), di mana karya Al-Dawani dicontoh dengan seksama. Al-Dawani mempertahankan pembagian teks Al-Tusi ke dalam tiga bagian – etika, ekonomi dan politik – dan membagi karyanya dengan cara yang sama, walaupun secara signifikan mengabaikan bagian teoritis Al-Tusi.

 

Lawami ‘al-ishraq (Lustres of Illumination), dapat mengindikasikan ishraqi (iluminasi) penulis dan kekhawatiran mistisnya. Isi politik dari karya tersebut sangat menarik bagi sejarawan, baik mengenai deskripsi penguasa ideal dan judul yang digunakan untuk dedikasinya. Aq Qoyunlu Uzun Hasan, yang menyingkap pengaruh ishraqi yang mungkin dan tampaknya meniru klaim keroyalan dari Isma’il, raja Safawi pertama di Iran. Akhlaq Jalali disebutkan sebagai karya yang kurang memuaskan daripada karya Al-Tusi, yang lebih lemah dalam argumen dan dibebani dengan bahan anekdot karena mengikuti selera sastra pada saat itu. Terlepas dari Akhlaq-e Jalali, tercatat lebih dari tujuh puluh lima karya Al-Dawani, meliputi bidang filsafat, mistisisme, teologi dan tafsiran.

Al-Dawani meninggal pada tahun 908 H/1502 M sekitar setahun sebelum penangkapan Safaz di Shiraz, dan dimakamkan di kota asalnya, Davan, dekat Kazarun.

Leave a Reply

Close Menu