ISU-ISU FILOSOFIS PRINSIP ANTROPIK

ISU-ISU FILOSOFIS PRINSIP ANTROPIK

Seperti yang telah saya jelaskan secara singkat sebelumnya, prinsip antropik dipahami dan ditafsirkan dari berbagai aspek, mulai dari ‘tautologi’ hingga ‘prinsip keagamaan yang tersembunyi’. Perdebatan-perdebatan terus menghangat seputar wacana apakah prinsip ini benar-benar memiliki nilai ilmiah ataukah hanya sekadar pandangan metafisis, filosofis, atau bahkan teologis yang menarik. Dalam bagian terdahulu, saya juga telah menampilkan sedikitnya dua contoh bagaimana prinsip antropik lemah berhasil mendorong para ilmuwan untuk mengemukakan prediksi-prediksi khusus yang tepat (tingkat energi di inti atom karbon dan oksigen) ataupun sekadar memaparkan penjelasan-penjelasan sederhana (usia dan ukuran alam semesta). Meski demikian, sebagian besar pemikir rupanya lebih suka menyajikan prinsip antropik sebagai sebuah prinsip metafisika yang bisa memandu pemikiran dan penelitian ilmiah ke berbagai arah/ bentuk tanpa dilakukan falsifikasi terhadapnya. Dalam tulisannya, Freeman Dyson menyinggung sisi ‘mencerahkan’ dari prinsip antropik dan bahkan menganjurkan agar prinsip ini serta argumen dari rancangan bisa “diterima dalam bentuk metasains.”

Terlepas apa pun statusnya, apa sebenarnya yang dikemukakan prinsip antropik kepada kita? Apakah manusia -entah bagaimana caranya- akan kembali menjadi pusat alam semesta? Apakah kehidupan merupakan unsur mendasar alam semesta, ataukah analisis kita dalam hal ini yang justru bias? Benarkah prinsip antropik mengarah kepada seorang Perancang ataukah kepada prinsip yang lebih tinggi tentang keberadaan (eksistensi), sesuatu yang masih harus kita ungkap dan pahami dan merupakan penjelasan yang lebih umum dan menyeluruh tentang mengapa segala sesuatu tampak seperti adanya saat ini?

Copernicus tetap menghantui kita di mana-mana hingga saat ini. Bagaimana tidak, semakin kita mempelajari alam semesta, semakin kita tahu betapa tak terbayang besarnya alam semesta dibandingkan kita. Namun, banyak ilmuwan mengatakan bahwa ukuran manusia tidak hanya berada di posisi tengah-tengah (‘pusat’) antara skala terbesar dan skala terkecil, tetapi juga menempati posisi yang ‘istimewa’ karena membuka jalan untuk mengeksplorasi dan mengungkap segala sesuatu, baik yang besar maupun yang kecil. Dalam hal ini, ukuran manusia ternyata juga begitu penting dalam segala penemuan dan capaian kita dalam hal teknologi. Misalnya saja, tanpa teleskop, mikroskop, dan akselerator -yang mustahil bisa diciptakan semut- kita tidak akan pernah bisa mengungkap banyak hal di alam semesta dan kosmos. Karenanya, Michael Denton mengemukakan ringkasan berikut, “Manusia, yang didefinisikan oleh Aristoteles dalam baris pertama Metaphysics-nya sebagai makhluk yang ‘berhasrat terhadap pemahaman’, hanya akan bisa mencapai pemahaman terhadap dunia -yang Aristoteles anggap sebagai takdir manusia- dengan ukuran tubuh kira-kira sebesar tubuh manusia modern.” Sejumlah ilmuwan lain mendukung penuh prinsip kosmologi- yang sebenarnya hanya merupakan versi umum dari prinsip Copernicus -bahwa titik apa pun di kosmos, termasuk posisi kita sendiri, sama pentingnya dengan posisi titik mana pun. Para ilmuwan kemudian mengubah asumsi fisikal ini (uniformitas/keseragaman dan homogenitas) menjadi sebuah prinsip filosofis dengan sebutan ‘prinsip mediokritas’ atau ‘prinsip indiferens’ (principle of indifference).

Jadi, apa saja yang bisa disimpulkan dari penalaan halus? lmplikasi terpenting -dan juga paling kontroversial- dari gagasan penalaan halus adalah dugaan adanya sebuah/seorang Perancang alam semesta. lsu ini jelas sekali tidak ilmiah karena mengalihkan penjelasan yang semula natural kepada supernatural. lnilah sebagian alasan mengapa banyak ilmuwan menolak keras gagasan ini. (Banyak juga yang menolaknya karena melihatnya lebih bernada teologis, sekalipun banyak juga yang bersikeras bahwa Perancang tidak serta merta berarti Tuhan Personal.) Namun, Davies tetap menegaskan bahwa “gagasan tersebut tetap merupakan sebuah penjelasan yang rasional”. Sementara itu, Gonzales dan Richards bersikeras bahwa rancangan, sebagaimana dugaan orang-orang, “tertempel dan tersandikan di dalam hukum-hukum dan kondisi-kondisi awalnya sendiri”. Davies kemudian menambahkan, “Rancangan cerdas dalam hukum-hukum tidaklah berseberangan dengan sains”. Menurutnya, rancangan cerdas tersebut tak ubahnya Tuhan karena Dia “bertanggung jawab terhadap alam semesta dan juga dianggap menopang keberadaannya setiap waktu meskipun la tidak menyibukkan diri dengan kendali operasional alam semesta sehari-harinya. Ini mirip dengan apa yang diyakini banyak teolog cendekiawan, yang kemudian memunculkan sikap yang sama dari segelintir ilmuwan”. Davies juga mengutip Andrei Linde dan Heinz Pagels (para ilmuwan ateis, harus saya tegaskan) yang menganggap bahwa peradaban super atau pikiran illahi (demiurge) mungkin telah melahirkan sebuah alam semesta ‘penopang kehidupan’ untuk mengirim pesan bagi para calon penghuninya.

Persoalan rancangan juga berkaitan dengan konsep tujuan (purpose). Gonzales dan Richards mengatakan bahwa “mengenal rancangan memang sering lebih mudah dibandingkan mengetahui tujuan atau makna. Meski demikian, diketahuinya sebuah tujuan biasanya akan semakin meyakinkan bahwa sesuatu tersebut memang benar-benar telah dirancang”. Lalu, apakah kita benar-benar yakin bahwa alam semesta ini memiliki tujuan? Pertanyaan ini tidak sesederhana yang kita kira. Buktinya, ketika baru-baru ini dua belas ilmuwan/pemikir kenamaan disodorkan pertanyaan serupa, tiga orang menjawab “ya” (David Gelertner, Owen Gingerich, dan John Haught), satu orang menjawab “pasti” (Jane Goodall), satu orang menjawab “tentu saja” (Nancy Murphy), satu orang menjawab “mungkin” (Paul Davies), satu orang menjawab “sangat mungkin” (Bruno Guiderdoni), satu orang menjawab “tidak yakin” (Neil deGrasse Tyson), satu orang menjawab “tidak mungkin” (Lawrence M. Krauss), satu orang menjawab “tidak” (Peter Atkins), dan satu orang menjawab, “AIam harap begitu” (Elie Wiesel).

Marilah kita kembali membahas implikasi-implikasi filosofis dari observasi penalaan halus dan rumusan prinsip antropik. Dalam buku terbarunya, Davies dengan apik meringkas semua kemungkinan kesimpulan yang bisa ditarik dari “Teka-teki Goldilocks” (penalaan halus) . Berikut adalah ringkasan kesimpulan yang saya tulis ulang secara lebih singkat:

  • Alam semesta yang absurd: Pilihan ini mungkin kerap diabaikan, tetapi kalimat pertama Davies berbunyi, “Barangkali inilah pendapat mayoritas para ilmuwan”. Ia menjelaskan pendapat ini sebagai berikut, “Yang terjadi bisa sebaliknya…. Andai alam semesta ini berbeda, kita tidak akan memperdebatkannya di sini.. .. Fakta keberadaan alam semesta, yang tampaknya melewati berbagai kendala/ persyaratan, menunjukkan suatu kebetulan yang luar biasa.”
  • Alam semesta rancangan Tuhan: Inilah pandangan keagamaan (monoteis) yang menyatakan kesesuaian penalaan halus dengan fakta bahwa Tuhan menciptakan alam semesta, dan karenanya memilih parameter-parameternya karena alasan yang baik, barangkali karena posisi manusia sebagai sebuah tujuan.
  • Alam semesta yang unik (atau terjelaskan): Inilah penjelasan yang diharap kemunculannya oleh para fisikawan optimistis setelah pencarian mereka terhadap teori akhir atau teori segala hal yang kemungkinan besar bisa menjelaskan mengapa alam-semesta (atau alam-semesta jamak) menjadi seperti sekarang. Dalam bayangan mereka, semua parameter akan ditentukan oleh beberapa prinsip mendasar. Masalahnya, seperti kata Davies dan lainnya, penjelasan (yang sangat opitmistis) ini pun masih mengharuskan penjelasan lain, utamanya mengapa teori itu yang menjadi teori akhir, bukan teori lain.
  • Alam semesta yang memuat kehidupan: Inilah sebuah prinsip yang secara luas dijadikan asumsi dasar. Menurut prinsip ini, hukum-hukum dan parameter-parameter alam semesta didasarkan pada sesuatu yang mengharuskannya bergabung untuk menopang terjadinya kehidupan.
  • Alam semesta yang bisa menjelaskan dirinya sendiri: Beberapa ‘prinsip penjelasan tertutup’ (close explanatory principles) menganggap alam semesta muncul dengan sendirinya dan bisa menjelaskan dirinya sendiri. Belum jelas bagaimana hal ini bisa dicapai, atau setidak-tidaknya mengapa alam semesta menjadi demikian, sehingga masih membutuhkan penjelasan lanjutan.
  • Alam semesta yang disimulasi (simulated universe): Gagasan ini mirip dengan skenario Matrix yang telah saya jelaskandan saya kritisi-dalam pembahasan mengenai alam semesta jamak.
  • Alam semesta bukanlah apa pun yang disebutkan di atas: Davies dengan bijak mengatakan bahwa sekalipun ada pilihan yang sangat luas di atas, kita tetap saja belum menemukan berbagai gagasan dan alasan utama mengapa alam semesta terbentuk seperti yang ada sekarang ini.

Leave a Reply

Close Menu