ISLAM DAN SAINS MASA DEPAN

ISLAM DAN SAINS MASA DEPAN

Di sebuah hotel kota Paris, sebanyak 12 akademisi Muslim bertemu dan membahas topik-topik seputar hubungan antara sains dan Islam. Beberapa di antaranya berasal dari Prancis dan beberapa lainnya jauh-jauh datang dari Kanada dan Uni Emirat Arab. Enam di antara mereka adalah fisikawan yang umumnya ahli di bidang astrofisika, satu orang metematikawan, satu orang sosiolog, dua orang filsuf, dan dua orang lagi pakar tasawuf. Kehadiran para fisikawan tersebut tidaklah mengherankan, seperti yang dikatakan Robert Griffiths, “Ketika kita memerlukan seorang ateis dalam sebuah debat, saya akan mendatangi jurusan Filsafat, dan dalam hal ini jurusan Fisika tidak banyak berguna”. Apalagi, isu-isu sains-agama (di Barat) seringkali didominasi oleh topik-topik fisika dan kosmologi.

Para intelektual Muslim tersebut telah saling mengenal satu sama lain sewaktu membahas isu-isu yang mengemuka dari praktik akademik sains dan filsafat. Mereka melihat fenomena semakin banyaknya intelektual Barat yang menggeluti persoalan-persoalan (dasar) epistemologi dan metafisika terkait dengan sains dan isu-isu kontemporer, yang secara tidak langsung mendorong umat Muslim untuk memikirkan topik-topik semisal evolusi, rancangan, tindakan Tuhan di dunia, watak Realitas, dan  lain sebagainya. Dari sinilah, para pemikir tersebut memutuskan untuk memilih masing-masing satu topik khusus untuk diteliti. Di tengah proses penelitian, mereka kerap berinteraksi melalui surat elektronik (bertukar bahan, pertanyaan, dan gagasan) dan bertemu setiap sembilan bulan sekali atau lebih untuk memberikan presentasi semi-formal di hadapan kelompok, menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan, dan menerima masukan untuk penelitian lanjutan. Beberapa topik yang diteliti para ilmuwan tersebut antara lain: prinsip tauhid dalam Islam dan fisika modern (GUT, TOE); Mekanika Kuantum (MK) Islam dan watak Realitas; Islam, rancangan, dan prinsip antropik; Islam dan batas pengetahuan (Godel), dan seterusnya. Proyek ini telah memberi dampak positif yang demikian besar, yakni satu jilid ringkasan wacana akademik, berbagai liputan media (wawancara dan talk show), serangkaian artikel di koran dan majalah, dan beberapa forum publik berisi presentasi dan tanya jawab yang bermanfaat bagi khayalak umum.

Hal menarik dari proyek yang dimaksudkan untuk kepentingan Dunia Muslim dengan cara mengembangkan sebuah kelompok yang terdiri dari pakar Islam-sains modern tersebut adalah karena ia dikelola dan ditampung oleh sebuah institusi di Paris dengan pendanaan dari sebuah yayasan Amerika. Saya rasa, proyek ini adalah jalan penting bagi masa depan Islam dan sains, terutama karena persentuhannya dengan Barat dan upayanya menemukan metodologi yang kukuh dan jauh berbeda dari apa yang berkembang selama ini dalam wacana keislaman tentang sains modern.

Perlunya perubahan dalam wacana keislaman tentang -dan pergulatan dengan- sains modern mungkin akan cenderung diremehkan oleh sebagian orang. Salah satu persoalan yang perlu dibahas secara terbuka oleh akademisi Muslim adalah i’jaz. Persoalan besar lainnya adalah fondasi metafisika atau “bungkus” sains modern, yaitu materialisme atau naturalisme, baik dari sisi metodologis maupun ideologis. Pada dekade 1980-an, umat Muslim pernah mencoba merumuskan sikap (atau tepatnya sikap-sikap) Islam terkait persoalan ini. Akan tetapi, beberapa pengusung utamanya, semisal Nasr dan Al-Fārūqī, tampaknya menemui jalan buntu, sementara pengusung lain, Sardar, terlihat kehabisan energi dan malah tenggelam dalam perkembangan sains itu sendiri. Kini tibalah waktunya untuk menyoal kembali persoalan ini dalam kerangka akademik. Terakhir, ada beberapa topik penting yang bisa dibilang hampir tak tersentuh oleh para pemikir Muslim, padahal topik-topik tersebut perlu sekali dibahas agar generasi muda Muslim tidak kehilangan arah dan kebingungan, seperti topik mengenai mukjizat, tindakan Ilahi, sifat dasar waktu, Realitas penciptaan, dan seterusnya.

Dalam tulisan yang pendek ini, saya ingin menilik semua topik tersebut dan mengundang para pemikir lain (termasuk mungkin saya sendiri) untuk menyelidikinya secara tuntas di kemudian hari. Saya juga ingin mengangkat isu-isu lain yang lebih berhubungan dengan pendidikan dan kemasyarakatan, sebab saya pikir isu-isu tersebut begitu penting bagi wacana Islam-sains di masa depan.

Leave a Reply

Close Menu