ISLAM DAN KOSMOLOGI

ISLAM DAN KOSMOLOGI

Wacana

Bukan tanpa alasan ketika Hawking mengatakan: “Sangat sulit mendiskusikan awal mula alam semesta tanpa mengkaji konsep Tuhan”. Fred Hoyle juga menulis: “Saya selalu heran dengan para ilmuwan yang mengklaim bahwa mereka berpaling dari agama, padahal agama sebenarnya mendominasi pikiran mereka melebihi pikiran para pendeta”. Barangkali, ketika CS Lewis memperingatkan bahwa “seorang pemuda yang ingin tetap ateis tidak bisa terlalu berhati-hati dalam memilih bacaannya”, ia sebenarnya ingin mengatakan bahwa jenis bacaan yang harus dihindari adalah buku-buku sains.

– Kitty Ferguson a��

A�

Kepercayaan kosmologis Islam berakar dari Alquran. Perspektif Alquran tentang penciptaan alam fisik dapat diringkas sebagai berikut: Alam semesta diciptakan Tuhan karena suatu tujuan. Setelah menciptakan alam semesta dan segala isinya, Tuhan tidak membiarkannya begitu saja, tetapi mengatur dan memeliharanya, yang tanpa itu semua, keberlangsungan alam semesta tidak akan terjadi.

– Muzaffar Iqbal a��

A�

A�

Kosmologi dalam Kebudayaan Muslim Dewasa Ini

Ketika mengunjungi Ziaudin Sardar di rumahnya yang terletak di kawasan pedesaan London pada musim semi 2007, salah satu pertanyaan yang saya ajukan adalah: a�?Apa yang dimaksud dengan ‘kosmologi Islami’?” Tanpa berpikir panjang, ia langsung menjawab: “Kosmologi Islami adalah informasi pasti dari sains mengenai alam semesta; informasi inilah yang diperintahkan Tuhan untuk kita cari dan temukan”. Saya tidak perlu menyangkalnya, tetapi karena saya ingin memberinya kesempatan untuk menjelaskan hal tersebut lebih jauh, saya pun menukas: a�?akan tetapi, dalam tulisan-tulisan Anda mengenai sains, Anda sering bersikeras bahwa jika saja sains dibangun bukan di atas landasan Barat dan menghasilkan teori, katakanlah waktu yang siklis, bukan linear, atau logika empat dimensi, bukan biner, gambaran kita tentang alam semesta akan sangat jauh berbeda”. Ia pun akhirnya berkompromi dengan mengatakan: “Landasan apa pun bisa menghasilkan beberapa jenis sains, tetapi hasil yang diperoleh harus sesuai dengan kenyataan yang diamati”. Kami kemudian bersepakat penuh mengenai hal tersebut.

Kosmologi merupakan sebuah cabang sains yang menarik dan barangkali merupakan satu-satunya cabang ilmu yang memungkinkan para pemikirnya bebas mengutarakan pandangan-pandangannya, termasuk membangun prinsip-prinsip religius dan filosofis seperti halnya dalam bidang ilmu fisika dan astronomi. Kebebasan mengutarakan pandangan tersebut mungkin disebabkan oleh fakta bahwa dalam kurun waktu yang lama hingga beberapa dekade lalu, kosmologi hanya memiliki sedikit sekali data yang pasti sehingga ia pun menjadi cabang sains yang paling spekulatif. Kebebasan tersebut juga terjadi karena beberapa kitab suci telah memuat perspektif dan gambaran religius tentang kosmos-penciptaannya, isinya, tujuannya, dan seringkali juga tentang kemusnahannya.

Data-data kosmologi meningkat pesat secara eksponensial pada tahun-tahun terakhir ini hingga pada pembahasan (sekadar memberi contoh kecil) mengenai usia alam semesta (sejak penciptaannya) yang meningkat dari perkiraan a�?10 hingga 20 juta tahuna�?, yang kemudian sering disampaikan kepada para mahasiswa satu dekade lalu menjadi 13,7 miliar tahun (A� 0,2 miliar tahun) yang kini diajarkan secara luas berdasarkan hasil penelitian WMAP (Wilkinson Microwave Anisotropy Probe) pada 2003. Namun, tetap saja sebagian besar -jika bukan semua buku kosmologi karya para penulis Arab yang terbit baru-baru ini menganggap kosmologi bukan sebagai cabang astronomi, melainkan, khususnya secara praktik, sebagai sebuah cabang penafsiran Alquran. Berikut ini saya kutipkan beberapa judul yang mengindikasikan hal tersebut:

  • The Qur’an for Astronomy and Earth Explorationfrom Space, S. Waqar Ahmed Husaini, 1999 (edisi ketiga)
  • The Universe and Its Secrets in the Holy Qur’an, Prof. Hamid M. Al-Naimiy, 2000
  • How Creation Was Started, Mua??ammad ibn Ali Al-Mujahid, 2001
  • Astronomical Sciences in the Holy Qur’an, Ibrahim Hilmy Al-Ghury, 2002
  • The Universe, A Traditional and Modern Look, Abdelamir Al-Mumin, 2006
  • The Universe and the Holy Qur’an, Mohammed-Ali Hassan Al-Hilly, 2006
  • The Structure of the Universe and the Destiny of Man: A Critique of the Big Bang Theory; Amazing Facts in the Cosmic and Religious Sciences, Hichem Taleb, 2006.

 

Pendekatan yang sering digunakan oleh para penulis buku-buku tersebut adalah sebagai berikut: Memilih sebuah ayat Alquran yang membahas a�?isi alam semestaa��, seperti a�?Allah-lah yang menciptakan tujuh langit dan tujuh bumi. Perintah Allah berlaku pada keduanya agar kamu mengetahui bahwa Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu, dan sesungguhnya ilmu Allah benar-benar meliputi segala sesuatu (Alquran, Suran aa?�-a?�alA?q/65:12). Setelah itu, mereka biasanya mulai menyampaikan pandangan-pandangannya tentang alam semesta yang sering merupakan perpaduan antara pengetahuan tentang a�?fakta-faktaa�� dari sains modern, pemahaman terhadap ayat Alquran dari perspektif bahasa maupun penafsiran, dan pandangan a�?ideologisa�� mereka sendiri, (misalnya, seorang penulis bisa lebih condong pada teori alam semesta statis dibandingkan ekspansinya).

Saya akan memberi beberapa contoh singkat mengenai kecenderungan kosmologi Qurani, tetapi saya ingin terlebih dahulu menekankan bahwa meskipun pendekatan ini memiliki berbagai kekurangan yang setara dengan pendekatan ia��jaz, keduanya jauh berbeda. Dengan pendekatan ia��jaz, seorang penulis ingin membuktikan adanya konten a�?saintifika�� Alquran yang dianggap mendahului temuan-temuan sains modern. Bahkan, dewasa ini penulis meyakinkan bahwa kita tidak harus selalu memulai dari Alquran, tetapi juga perlu membangun pengetahuan yang utuh tentang alam semesta dari penafsiran beberapa ayat Alquran, baik sedikit ataupun banyak, baik umum ataupun spesifik.

Berikut ini adalah beberapa contoh ayat yag termuat dalam karya-karya terebut di atas:

  • Dengan mencantumkan beberapa ayat Alquran (yakni Alquran, Surah al-Baqarah/2:29; HA�d/11:7; al-Mua�?minA�n/23:17; RA�m/31:10; al-Mulk/67:3; dan lain-lain)

 

Al-Hilly menyusun sebuah skenario penciptaan sebagai berikut: Sebelum Tuhan menciptakan alam semesta, takhta-Nya berada di atas air, yaitu air yang menguap di angkasa, karena ketika itu tak ada langit-langit yang halus. Selanjutnya, ketika Ia menciptakan alam semesta satu demi satu secara bertahap, Ia biarkan takhta-Nya ditopang di atas langit-langit yang halus. Al-Hilly juga mengemukakan bahwa a�?langita�� di sini berarti lapisan-lapisan udara dan bahwa (Tuhan) kemudian a�?menciptakan tujuh lapisan udara dari selapis asapa�?. Al-Hilly tampaknya sama sekali tidak tertarik pada temuan-temuan sains modern, misalnya ketika mengatakan bahwa a�?menciptakan bumi dalam dua haria�? setara dengan dua ribu tahun, sebab satu hari bagi Tuhan setara dengan satu tahun bagi manusia (secara literal bersandar pada Alquran, urah al-a?�ajj/22:47). Akhirnya, sayapun benar-banar berhenti membaca bukunya ketika menemukan pernyataan berikut: a�?penyebab gravitasi adalah panasa�? dan a�?pergerakan partikel-partikel pada inti bumi menyebabkan panas dan gravitasi, yang kemudian menjadikan bumi berotasi pada porosnyaa�?.

  • Buku karya Hichem Taleb adalah bukti ketidaklaziman lain dari genre ini. Dijilid hard cover dengan lebih dari 700 halaman dan lusinan gambar serta diagram, buku itu tidak hanya tampak mengesankan, tetapi juga bisa membodohi pembaca mana pun jika tidak ada kata a�?kritika�? (terhadap teori Big Bang) dalam subjudulnya yang memunculkan kegelisahan tersendiri. Ketika seorang pembaca menyimak pendahuluan buku tersebut dan menyadari bahwa sang penulis adalah seorang jurnalis tanpa latar belakang sains sama sekali, si pembaca sudah bisa membayangkan bagaimana isi buku tersebut. berikut ini adalah beberapa contohnya:
  1. Peristiwa Big Bang, yang penulis (dan juga penulis lain mengenai topik ini) temukan dalam Alquran, Surah al-AnbiyA?a��/21: 30 (Tidakkah orang-orang kafir itu mengetahui bahwa langit dan bumi itu dahulu adalah sesuatu yang satu padu kemudian Kami pisahkan keduanya? Dan Kami jadikan segala sesuatu yang hidup dari air. Maka mengapakah mereka tiada juga beriman?) dianggap sebagai penjelasan terpisahnya bumi dari langit-langit, titik tempat hujan (air) dicurahkan, dan tumbuhnya pepohonan di bumi. Skenario tersebut kemudian menjadi luar biasa dahsyat ketika angin kemudian bercampur dengan ‘asap’ alam semesta dan lain-lain.?
  2. Enam ‘hari’ penciptaan, yang oleh semua penafsir Muslim diinterpretasikan dengan ‘zaman’ dihitung dengan berbagai cara untuk menghasilkan angka 6.000, 12.000, 50.000, 155.529 tahun, dan sebagainya.

Penjelasan ‘tujuh langit’ dijabarkan secara spesifik dan detail, dimulai dengan paparan hadis-hadis yang berhubungan dengan ‘perjalanan naik’ Nabi (mi’raj) menuju langit-langit setelah ‘perjalanan malam’nya (isra’) yang begitu terkenal dari Masjid al-Haram (Makkah) ke Masjid al-Aqsa (Yerusalem). Penting dicatat di sini bahwa penulis bersandar pada teks keagamaan (hadis) dan peristiwa mistis/spiritual untuk mengonstruksi gambaran mengenai alam semesta-yang berarti penggabungan aspek fisik dan aspek non-fisik. Karena itulah, para pembaca tidak perlu terkejut ketika di tengah deskripsi ‘ilmiah’nya, penulis menyatakan bahwa Makkah adalah pusat fisik dunia. (Secara pribadi saya pernah mendengar langsung pernyataan beberapa profesor universitas di sebuah konferensi sains bahwa Makkah adalah pusat magnet dunia; ada juga program TV yang mewawancarai seorang peneliti Mesir yang menyatakan hal tersebut di internet).

  • Dalam buku The Universe: A Traditional and Modern Look, A. Abdelamir Al-Mumin juga mengawali argumennya dengan ayat Alquran (yakni Alquran, Surah as-Sajdah/32: 5, al-AnbiyA?a��/21: 30, dan Fua??a??ilA?t/41: 11) kemudian mengutip sumber-sumber saintifik (terutama buku populer karya Stephen Hawking, A Brief History of Time) untuk mendeskripsikan kelahiran alam semesta yang menurutnya sesuai dengan ayat yang ia kutip. Meskipun tidak ada pernyataan-pernyataan mencengangkan seperti dalam buku-buku yang disebut sebelumnya, siapa pun bisa dengan mudah mengetahui betapa terbatasnya pengetahuan penulis tentang kosmologi modern, baik dalam penggunaan diksi ‘telur kosmis’ (yang ia maksud ‘atom primordial’) maupun dari sumber-sumber yang ia kutip. Al-Mumin, seperti banyak penulis Muslim lain, melakukan kesalahan karena memahami data kosmologis mutakhir (mengenai keberadaan dark matter atau materi gelap) sebagai indikasi alam semesta tertutup (closed universe).

Dengan memerhatikan beberapa contoh di atas saja, seorang pembaca yang cerdas barangkali akan mudah menyimpulkan bahwa buku-buku tersebut tidak ditulis oleh seorang akademisi atau ilmuwan, sehingga tidak mengejutkan jika pengetahuan dan metodologi ilmiah mutakhir sangat jarang digunakan di dalamnya. Begitulah adanya; dengan paparan contoh-contoh di atas, saya sebenarnya hanya ingin menyampaikan gagasan terkait dengan jenis ‘literatur sains’ yang diterbitkan di dunia Arab/Muslim baru-baru ini. Buku-buku yang saya sebutkan di atas memang diterbitkan beberapa tahun lalu, tetapi saya tidak akan membuat diskusi yang bias dengan hanya menyebutkan yang buruk-buruk saja.

Menurut saya, harus ada yang mau berdiskusi dengan para ilmuwan mengenai siapakah yang diharapkan dapat menyampaikan informasi akurat dengan menggunakan metodologi yang tepat. Untuk itulah, saya akan merujuk beberapa paragraf dalam salah satu buku yang disebutkan di atas karya Hamid M. AI-Naimiy, seorang peraih gelar PhD dalam bidang astronomi dari University of Manchester (UK) dan kini menjabat dekan pada perguruan tinggi seni dan sains di University of Sharjah (UAE) setelah menjadi ketua Institute of Astronomy and Space Sciences at AI al-Bayt University (Yordania) dan direktur pada Center for Astronomy and Space Science Research di Irak.

Dalam bukunya The Universe and its Secrets in the Holy Qur’an (diterbitkan pada 2000), Profesor AI-Naimiy mencoba sewaspada mungkin untuk tidak melontarkan pernyataan yang salah secara saintifik, tetapi tetap berpegang pada pandangan-pandangan religius ortodoks (misalnya, bumi diciptakan pertama kali, seperti tampak dalam pernyataan harfiah Alquran). Sayangnya, upaya-upaya AI-Naimiy untuk menyepadankan dua pandangan tersebut melenceng jauh dari harapannya. Berikut ini adalah beberapa contoh ringkas dari hasil karyanya:

  • Dengan merujuk pada ayat Alquran, a�?Sesungguhnya, ketika Dia menghendaki sesuatu, Ia hanya perlu berkata: a�?Jadilaha�� maka terjadilah sesuatu itu (Alquran, Surah YA? SA�n/36: 82), AI-Naimiy menulis: Jelas sekali bahwa konsep sesuatu dalam ayat di atas melampaui segala hal yang tampak secara kasat mata. Sementara itu, konsep jadilah mencakup photon, boson, gluon, graviton, dan U yang belum diketahui secara umum (dalam hal kondisi) maupun secara khusus (dalam hal pilihan-pilihan terbuka). Karena itulah, U adalah sesuatu yang belum dapat diungkapkan oleh sains, seperti mengenai energi (bentuk dan satuan) atau gerakan dan kecepatan, meski ruang-waktu secara inheren termasuk sesuatu yang diketahui dan sesuatu yang ada.
  • Mengenai Alquran, surah an-Naml/27: 40 (kisah Nabi Sulaiman dan singgasana Ratu BiIqis), AI-Naimy menyatakan: a�?Demikianlah kisah penemuan transportasi terhebat dengan kecepatan tertinggi hingga tidak bisa dijangkau dengan penghitungan makro-psikokinesis atau kecepatan yang biasa disebut parapsikologi, baik dalam dunia modern maupun di sepanjang sejarah manusia. Kecepatan di sini diukur berdasarkan massa singgasana sang ratu dalam perhitungan hukum Einstein.a�?
  • Dengan merujuk Alquran, Surah al-AnbiyA?a��/21: 104 (terlipatnya langit-langit pada akhir zaman), ia menulis: Dari sudut pandang filosofis murni, fakta ini memang benar adanya dan telah memenuhi hukum ketiga yang dikenal sebagai “hukum pengecualian tengah” (Law of Excluded Middle) karena tidak ada bagian langit yang dapat melebihinya dalam hal tingkatan ataupun kualitas. Tidak ada juga yang mampu menjadikannya berlipat. Terlipatnya langit merupakan fakta yang berdiri sendiri dan ditetapkan sebagai teks yang telah ditetapkan oleh Tuhan, yaitu dengan huruf N (kami) dalam kata Natwia�� (Kami menggulung).
  • AI-Naimiy juga menulis dua pernyataan yang bernuansa matematika berikut ini: a�?Alam raya aS� Mahaperkasa (Kehendak Ilahiah)

[simbol aS� A�menunjukkan himpunan bagian/subset]

R [radius] alam raya aS� R Mahaperkasa.”

Berdasarkan metodologi yang digunakan Al-Naimiy, ada dua hal penting dalam pendekatannya yang harus digarisbawahi:

(1) Ia mengawali konstruksi kosmologinya dengan mengutip ayat Alquran dan seringkali merujuk kepada penafsiran-penafsiran klasik sebelum mengungkapkan pandangan-pandangan pribadinya;

(2) ia mengikuti teori Ia��jaz, bahkan seringkali melampauinya dalam mengklaim dan mengutip ‘mukjizat numerik’ Qurani yang beberapa di antaranya ia anggap sebagai hasil temuannya yang orisinal. Dalam menjelaskan epistemologinya, Al-Naimiy menjelaskan bahwa “upaya mencapai kebenaran melalui rasio tidaklah selalu berhasil. Sebaliknya, indikasi-indikasi dari teks Alquran adalah petunjuk terbaik untuk melakukan penelitian dan menarik kesimpulan bahkan dalam bidang sains fisika sekalipun, karena itulah segala puji hanya bagi Tuhan” (penekanan dari saya). Karena menggunakan prinsip Ia��jaz, ia pun mengklaim bahwa ayat a�?Kamu sekali-kali tidak melihat sesuatu yang tidak seimbang pada ciptaan Tuhan Yang Maha Pemurah. Maka lihatlah berulang-ulang, adakah kamu lihat sesuatu yang tidak seimbang?a�? (Alquran, Surah al-Mulk/67: 3) sebagai referensi langsung dari Prinsip Kosmologi (bahwa alam raya bersifat homogen dan isotropis).

Sekilas, saya juga bisa menyebutkan beberapa kecenderungan Al-Naimiy terhadap Ia��jaz numerik (yang ia tampilkan dalam beberapa halaman bukunya) berikut ini: (a) Ia menemukan keajaiban dalam kesetaraan antara dua rasio: “tahun matahari menurut bulan sinodis dan bulan sideris” terhadap “perbedaan antara bulan sinodis dan bulan sideris”; (b) Ia menemukan suatu hal yang luar biasa karena kecepatan cahaya (300.000 km/s), kecepatan matahari sebagai pusat galaksi (300 km/s), dan kecepatan bumi mengelilingi matahari (30 km/s), semuanya merupakan kelipatan dari angka 3 (dan puluhan). Namun, semua ini dapat dengan mudah dimentahkan karena sudah umum diketahui bahwa kecepatan matahari di galaksi adalah sekitar 220 km/s. Yang paling penting, kita tentu akan terheran-heran apa istimewanya jika semua angka tersebut dapat dibagi dengan angka 3? Al-Naimiy menganggap ini merupakan sebuah hubungan yang penting karena kata Allah juga terdiri dari tiga huruf yang berbeda (A, L, H)! Selain itu, penulis tersebut juga menentukan numerik jumlah angka dalam berbagai kata atau ungkapan tertentu dalam Alquran berdasarkan nilai-nilai yang oleh orang kuno dihubungkan dengan bobot numerik masing-masing huruf (A = 1, B = 2, J = 3, D = 4, H = 5 dll) dan menganggap hal demikian merupakan keajaiban. Misalnya saja, kullu syai’ (segala sesuatu) memiliki nilai 360 yang sesuai dengan besaran derajat lingkaran utuh, sehingga ini berarti bahwa Alquran merujuk pada sifat Tuhan yang ‘meliputi’ (muhA�t) segala sesuatu, layaknya sebuah lingkaran.

Karena dalam tulisan ini kita fokus membahas kosmologi, contoh paling mencolok yang harus saya munculkan dari buku Al-Naimiy adalah pandangannya terhadap struktur alam semesta: tujuh tingkatan langit, tujuh bumi, dan takhta Allah. Ia memulai uraiannya dengan mengutip beberapa hadis yang sedikit banyak menyatakan bahwa jarak antara bumi dan (lapisan) langit setara dengan 500 tahun perjalanan manusia. Meskipun ia mengetahui bahwa para sarjana Muslim klasik menyatakan ada beberapa hadis ini yang sifatnya ‘lemah’ (dhaif), ia tetap menghitung jarak antara berbagai lapisan langit dan lapisan bumi. Ia memperkirakan bahwa jarak antara bumi dan langit yang terendah (yang sama dengan jarak antara dua langit yang bersebelahan) adalah 58,4 miliar kilometer (perhatikan bahwa jumlah ini amatlah kecil dibandingkan dengan jarak dari bumi ke bintang terdekat, sehingga jumlah ini bisa dengan mudah diabaikan ketika dibandingkan dengan ukuran galaksi dan alam semesta secara umum). Al-Naimiy lalu menyadari bahwa ia belum memperhitungkan ‘ketebalan’ masing-masing langit, sehingga ia menentukan perkiraannya sendiri tentang jarak dari bumi ke takhta Allah yang berada tepat di atas langit ke tujuh, yakni 7,665 x 1012 km! Namun, karena mengetahui bahwa pernah ada beberapa pengamatan terdahulu terhadap galaksi terjauh yang menghasilkan jarak 1023 km.

Menurut AI-Naimiy, alam semesta seolah-olah agak datar, karena dimensi vertikal (ke takhta Ilahi) miliaran kali lebih pendek dibandingkan dimensi horizontal (ke arah galaksi-galaksi). Karena itulah, ia pun memaksakan nilai pengamatan 1023 km sebagai ukuran alam semesta (dengan ini, ia sebenarnya tengah mengabaikan hadis yang ia gunakan di awal tulisannya).

Terdapat sebuah pertanyaan terakhir: Apakah tujuh lapis langit (atau setidak-tidaknya enam lapis yang ‘eksternal’) berada di dalam atau di luar alam semesta? Jawaban atas pertanyaan tersebut bisa saja dua-duanya, dan manusia tidak memiliki pengetahuan yang pasti untuk memutuskan persoalan tersebut.

Hampir mirip dengan Al-Naimiy, An-Najjar juga mengutip dua ayat tentang tujuh lapis langit dan membuat kesimpulan sederhana: a�?Dua ayat tersebut dengan jelas menunjukkan bahwa ketujuh lapisan langit ditempatkan secara konsentrik di sekeliling sebuah pusata�? -yang ia maksud pusat adalah bumi. Sebenarnya, apa yang dilakukan An-Najjar ini adalah menggabungkan pernyataannya tersebut dengan penafsiran pribadinya terhadap sebuah ayat tentang ‘tujuh bumi’ (Alquran, Surat aa?�-a?�alA?q/65: 12) untuk merumuskan gambar bumi (grafis dan tekstual) dengan tujuh lapis yang dikelilingi tujuh ‘tempurung’ langit. Argumentasi semacam ini sebenarnya melemparkan kita kembali pada kosmologi Aristoteles-Ptolomeus, kecuali dalam hal empat elemen Aristoteles (api, air, bumi, udara-Ed.) yang digantikan dengan tujuh lapisan bumi. Betapa jauh kita terlempar kembali ke masa lalu!

Leave a Reply

Close Menu