IPTEK PERTANIAN

IPTEK PERTANIAN

Bersamaan dengan perubahan dari pola hidup nomad (pemburu-pengumpul‎) menjadi pola bermukim (bertani), peralatan yang digunakan manusia pun mengalami pergeseran; tidak lagi harus praktis, kecil, dan ringan. Artinya, manusia memiliki kebebasan lebih untuk menciptakan alat-alat yang diperlukannya. Kebebasan ini kemudian memungkinkan timbulnya spesialisasi atau keahlian khusus yang dimiliki dan dikuasai oleh individu atau kelompok masyarakat tertentu. Manusia mulai menginvestasikan dirinya secara besar-besaran dan permanen, misalnya sebagai ahli dalam membuat bahan pakaian, peralatan rumah tangga alat pertanian, bir, dan seterusnya.

Keahlian dalam memproduksi barang dan bahan serta kepemilikannya pada akhirnya memperkenalkan istilah kekayaan (property) dalam hidup manusia.

Seiring perubahan menuju pola hidup menetap terbukalah peluang untuk menciptakan inovasi teknologi dalam bidang pertanian dan bidang-bidang Iain. Munculnya inovasi ini memerlukan terjadinya perubahan pendekatan budaya yang baru dan berbeda dengan pola hidup sebelumnya di masa lalu.

Dugaan bahwa secara dramatis inovasi teknologi baru muncul segera setelah pola bercocok tanam diadopsi manusia, terpaksa harus ditinggalkan jauh-jauh. Dari banyak penelitian ditemukan bahwa pada masa-masa awal bercocok tanam, semua teknik dan peralatan yang digunakan sama dengan apa yang mereka gunakan saat masih menjalani pola hidup pemburu-pengumpul‎. Mereka masih menggunakan kapak batu dan alat penggali dari kayu untuk mengolah tanah dan memanen hasil. Cara primitif untuk menggiling tepung, yakni menggunakan dua batu datar yang diputar satu di atas lainnya, masih terus digunakan hingga ribuan tahun kemudian. Alat penggiling tepung yang demikian ini telah digunakan masyarakat pemburu-pengumpul‎ yang mengumpulkan gandum liar saat itu. Tampaknya pergeseran kultur atau budaya justru lebih diperlukan pada permulaan perubahan pola hidup ini, sedangkan inovasi teknologi muncul setelah budaya menjadi mapan. Akhirnya pada titik tertentu budaya dan teknologi dapat bergerak bersama-sama.

Bagi para petani ketersediaan Iahan dan benih menjadi kunci terjadinya kegiatan. Secara sederhana Iahan dipersiapkan menggunakan tugal, kapak batu, dan peralatan sederhana lainnya. Invensi bajak yang ditarik sapi dilakukan di Mesopotamia pada sekitar 6.000 tahun lalu. Invensi ini sangat mengagumkan karena inilah cara yang efektif untuk mengurangi jumlah tenaga kerja. Pada masa ini manusia telah mencapai level baru revolusi dalam menggunakan energi lain (dalam hal ini binatang) untuk menggantikan tenaga manusia.

Pada masa permulaan peradaban, hasil pertanian utama yang berupa biji-biji sereal (gandum, jelai, dll.) sangat berharga. Hal ini tampak dari gambar peninggalan masyarakat Mesir Kuno. Secara alamiah budaya terkait dengan hasil utama pertanian pada suatu masyarakat. Mereka akan mendewakan makanan utama (misalnya, masyarakat Maya memiliki Dewa Jagung sebagai dewa utama mereka) atau menjadikannya simbol kekuatan dalam hidup mereka.

Masyarakat modern sangat sulit meletakkan makanan pokok pada tingkat tertinggi dan menjadikannya sebagai sesuatu yang paling berharga dalam hidup. Hal ini karena masyarakat modern telah dipisahkan dan dijauhkan dari material (makanan pokok) yang menjadi dasar budayanya oleh pola hidup kompleks yang harus mereka jalani saat ini. Memang, masyarakat dapat diarahkan melakukan hal itu, namun hal itu butuh usaha yang tidak mudah. Berbeda dengan masyarakat masa lalu, masyarakat miskin, atau mereka yang tinggal di tempat-tempat yang sulit, di mana sumber daya yang diperlukan untuk hidup serta batas antara hidup dan mati sangat tipis. Sangat mudah bagi mereka untuk memahami mengapa padi atau sumber daya Iain harus dihargai.

Sisi Iain dari kehidupan bermukim adalah kemampuan manusia saat itu untuk menciptakan dan menggunakan alat-alat yang tergolong berat dan mudah pecah, namun sangat berguna. Di antaranya guci atau belanga yang berbahan dasar tanah liat. Masyarakat pemburu-pengumpul sudah pasti tidak akan dapat menggunakan bahan ini karena mereka harus membawanya, yang itu berat dan mudah pecah, kesana-kemari dalam pengembaraannya. Sebaliknya, masyarakat petani yang hidup menetap memerlukan alat-alat itu untuk berbagai keperluannya. Sisa-sisa gerabah dari masa lalu ditemukan di berbagai belahan dunia. Budaya gerabah tampaknya segera dimulai begitu mereka mulai hidup bermukim. Teknologi yang dikuasai manusia saat itu diperkirakan memungkinkan mereka untuk memproduksi suatu barang secara masal.

Muncul dugaan kalau penciptaan roda lebih terkait dengan proses pembuatan gerabah ketimbang dengan pembuatan kendaraan. Seperti diketahui, para pembuat gerabah selalu menggunakan roda berputar untuk membuat guci, gelas, piring, dan perkakas Iainnya. Mereka menemukan bahwa bila tanah lempung dipanaskan dalam waktu lama maka ia akan mengeras dan dapat digunakan untuk berbagai keperluan. Penemuan ini terjadi di Mesopotamia pada masa budaya Ubaid, masa-masa awal penemuan budaya pembuatan gerabah.

Secara berantai penemuan satu teknologi mendorong penemuan teknologi berikutnya. Teknologi pembuatan gerabah, misalnya, mendorong penemuan teknologi pembuatan pemanas atau oven untuk membakar bahan tanah liat. Dengan sedikit modifikasi oven ini kemudian berubah menjadi tanur untuk mencairkan biji besi. Demikianlah kerja teknologi; yang satu terkait dengan yang Iain. Penemuan teknik untuk memproses serat dari tumbuhan dan binatang menjadi bahan baju sangat menentukan timbulnya revolusi perkembangan kualitas kehidupan manusia. Kemampuan merajut sudah dikuasai manusia sebelum masa pertanian. Masyarakat pemburu-pengumpul telah mempunyai kemampuan untuk merajut keranjang dan tikar. Pola hidup menetap tampaknya memberi mereka cukup waktu untuk makin mengembangkan kemampuan menenun, dan akhirnya terciptalah mesin tenun untuk membuat kain.

Seiring perjalanan waktu kehidupan bermukim melahirkan banyak keahlian dan bentuk pengetahuan yang spesifik. Kemampuan-kemampuan spesifik ini terus muncul tanpa akhir. Kenyataannya, hal demikian ini masih terjadi hingga saat ini. Mula-mula, keahlian khusus yang ada adalah kemampuan membuat bir, menenun, mewarnai bahan baju, tukang kayu, membuat gerabah, tukang batu, tukang besi, dan seterusnya. Tatanan peradaban kemudian memerlukan keahlian Iain, misalnya dalam bidang perdagangan, militer, dan seni. Pendeta dan dukun mungkin sudah dikenal pada permulaan masa pemburu-pengumpul. Hanya saja, mulai dikenalnya tulisan kala itu memicu timbulnya keahlian baru yang terkait dengan pekerjaan tadi, misalnya manajer kuil, birokrat, praktisi pengobatan, dan guru.

Saat spesialisasi dalam teknologi terus berkembang, pengetahuan masyarakat mulai mengerucut kepada kapasitas atau keahlian yang dimiliki seseorang. Pengetahuan tentang bentuk-bentuk inovasi baru tidak lagi dapat dibagikan kepada masyarakat umum. Pengetahuan ini akan menjadi milik kelompok tertentu dalam bentuk paten. Sistem kebersamaan yang dimiliki kelompok masyarakat pemburu-pengumpul‎ akan sulit diterapkan dalam masyarakat yang menganut paham macam ini.

Akan tetapi, mengacu pada peninggalan-peninggalan yang ditemukan pada gambar-gambar di makam-makam Mesir Kuno dan kuil-kuil di India, tampak bahwa teknologi yang digunakan saat ini masih mengacu pada teknologi masa lalu. Dengan demikian, dunia masa lalu sebetulnya belum sepenuhnya usai. Dunia itu masih ditemukan di tengah-tengah masa kini. Hal ini mengingatkan manusia modern bahwa masalah yang dihadapi para petani pada awal-awal masa pertanian-ketergantungan terhadap iklim, penurunan mutu lingkungan, over populasi, kerentanan tanaman terhadap penyakit epidemik, dan gangguan keamanan bagi manusia—belum sepenuhnya dapat diselesaikan.

Manusia dari waktu ke waktu sepertinya telah berhasil mengatasi masalah-masalah tersebut. Akan tetapi, masalah-masalah itu punya cara tersendiri untuk muncul kembali.

Dikutip dari Tafsir ‘Ilmi

Leave a Reply

Close Menu