INFORMASI BENDA-BENDA LANGIT

INFORMASI BENDA-BENDA LANGIT

Salah satu unsur penting dari fenomena alam yang berasal dari benda langit adalah cahaya. Sumber cahaya di alam semesta ini, sebagaimana diketahui secara umum, adalah matahari dan bintang-bintang lainnya. Bintang-bintang inilah yang memancarkan cahaya ke jagat raya. Pancaran cahaya ini tidak saja membuat alam semesta terang-benderang, tetapi juga panasnya telah menyebabkan dinamika di planet planet sekitarnya, termasuk di bumi. Namun demikian, sesungguhnya sumber cahaya itu adalah Allah.

Dalam Alquran kata nūr seringkali disebutkan, namun sebagian besar menunjuk pada makna cahaya Ilahi yang menerangi hati manusia, sehingga ia terhindar dari kesesatan. Inilah yang dimaksud dengan cahaya dalam berbagai ayat-Nya. Namun demikian, karena kajian yang sedang kita lakukan lebih difokuskan pada pembahasan yang terkait benda benda langit maka makna seperti yang diungkapkan itu tidak dibahas secara mendalam. Kajian lebih diarahkan kepada ayat-ayat yang mencakup makna nūr dalam arti denotatif, yang dapat diindera. Di antara ayat yang akan kita bahas adalah firman Allah,

اللَّهُ نُورُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۚ مَثَلُ نُورِهِ كَمِشْكَاةٍ فِيهَا مِصْبَاحٌ ۖ الْمِصْبَاحُ فِي زُجَاجَةٍ ۖ الزُّجَاجَةُ كَأَنَّهَا كَوْكَبٌ دُرِّيٌّ يُوقَدُ مِن شَجَرَةٍ مُّبَارَكَةٍ زَيْتُونَةٍ لَّا شَرْقِيَّةٍ وَلَا غَرْبِيَّةٍ يَكَادُ زَيْتُهَا يُضِيءُ وَلَوْ لَمْ تَمْسَسْهُ نَارٌ ۚ نُّورٌ عَلَىٰ نُورٍ ۗ يَهْدِي اللَّهُ لِنُورِهِ مَن يَشَاءُ ۚ وَيَضْرِبُ اللَّهُ الْأَمْثَالَ لِلنَّاسِ ۗ وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ۝

Allah (pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi. Perumpamaan cahaya-Nya, seperti sebuah lubang yang tidak tembus, yang didalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam tabung kaca (dan) tabung kaca itu bagaikan bintang yang berkilauan, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang diberkahi, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di timur dan tidak pula di barat, yang minyaknya (saja) hampir hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis), Allah memberi petunjuk kepada cahaya-Nya bagi orang yang Dia kehendaki, dan Allah membuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. (Alquran, Surah an-Nūr/24: 35)

 

Ada dua kata kunci pada ayat tersebut, yaitu nūr dan samāwāt. Yang pertama artinya “cahaya”, sedangkan yang kedua berarti “beberapa langit”. Dengan demikian, nūrussamāwāt dapat diartikan sebagai “cahaya langit”, atau “cahaya yang memancar di langit”. nūr adalah cahaya yang memancar dan dapat membantu mata untuk melihat suatu objek. Inilah makna hakiki dari kata tersebut. Namun demikian, kata ini sering pula dipergunakan untuk menyebut sesuatu secara kiasan (majazi), misalnya dalam kalimat fulan adalah cahaya di kampungnya. Ungkapan ini menunjukkan bahwa Fulan merupakan orang yang banyak berjasa bagi masyarakat di kampungnya karena kegiatan yang dilakukannya banyak membantu mereka dalam berbagai ranah. Alquran menggunakan kata nūr untuk dua hal, yaitu cahaya duniawi dan cahaya ukhrawi. Yang bersifat duniawi terbagi lagi menjadi dua, yaitu cahaya Ilahi yang dapat dirasakan oleh hati, seperti yang disebut dalam Surah al-Mā’idah/5: 15, “Sesungguhnya telah datang kepadamu cahaya dari Allah, dan kitab yang menerangkan”. Pada ayat ini, Allah menjelaskan bahwa Alquran merupakan cahaya yang menerangi kehidupan manusia. Karena itu, siapa saja yang mau menjadikannya sebagai pedoman hidup niscaya ia tidak akan tersesat karena jalannya selalu diterangi oleh cahaya Alquran. Yang kedua adalah cahaya yang bersifat issi (material) atau yang dapat diindera oleh mata, seperti cahaya bulan, matahari, bintang, dan lainnya. Di antara ayat yang menerangkan hal ini adalah Surah al-Furqān/25: 61. Dalam ayat ini Allah menginformasikan bahwa Dia menciptakan matahari dan bulan bercahaya, walaupun cahaya bulan tidak terpancar dari dirinya sendiri, melainkan hanya pantulan dari cahaya matahari.

Sementara itu, cahaya ukhrawi adalah cahaya yang tampak di akhirat nanti. Termasuk dalam kelompok ini adalah cahaya yang memancar dari kaum mukmin di akhirat. Dalam Surah al-Ḥadīd/57: 12 Allah menggambarkan bahwa dari diri orang-orang yang beriman itu memancar cahaya yang menerangi arah depan dan samping kanan mereka.

Surah an-Nūr/24: 35 menerangkan bahwa Allah adalah pemberi cahaya kepada langit, bumi, dan semua yang ada di antara keduanya. Dengan cahaya itu segala sesuatu berjalan dan beraktivitas dengan baik, tertib, dan teratur. Tidak ada di antaranya yang tersesat atau menyimpang karena mendapat penerangan secara nyata. Keadaan ini ibarat seseorang yang berjalan di tengah malam yang gelap gulita sambil memegang sebuah lampu yang menyala, sehingga keadaan di sekelilingnya menjadi terang. Dengan kondisi demikian ia bisa melihat apa saja di sekelilingnya dengan jelas sehingga terhindar dari lubang yang mungkin menyebabkannya terperosok. Perjalanannya menjadi aman dan hatinya merasa tenang. Sebaliknya, orang yang berjalan di tengah kegelapan tanpa penerangan sama sekali akan diliputi rasa was-was karena ia tidak dapat melihat apa yang di sekelilingnya. Dalam kondisi yang demikian, kemungkinan ia terperosok ke dalam lubang atau tersesat menjadi sangat besar. Pada ayat tersebut, Allah menjelaskan bahwa Dia adalah cahaya langit dan bumi. Para mufasir berbeda pendapat mengenai maksud ungkapan ini. Sebagian mengatakan Allah adalah pemberi cahaya di langit dan di bumi. Yang lainnya mengemukakan bahwa Dia adalah pemberi petunjuk kepada semua makhluk di langit dan bumi. Ada pula yang berpendapat bahwa Allah adalah pengatur langit, bumi, dan semua isinya. Beragam pendapat tersebut bermuara pada satu hal, yaitu bahwa Allah merupakan satu satunya yang mempunyai dampak bagi kebaikan langit dan bumi, baik yang ditunjukkan dengan pemberian cahaya pada keduanya, pengatur keduanya, pemberi petunjuk kepada semua makhluk yang ada di antara keduanya, atau yang lainnya.

Gambaran tersebut menunjukkan betapa besar manfaat cahaya bagi kehidupan, terlebih lagi bila cahaya itu datang dari Allah Yang Mahabaik. Cahaya-Nya hanya akan memberi kebaikan dan manfaat bagi orang yang mau menggunakannya. Selain menerangi secara lahiriah, cahaya Allah juga akan menerangi aspek batin manusia. Pada unsur inilah arti penting dari cahaya Ilahi yang terus dipancarkan kepada umat manusia.

Allah mengumpamakan cahaya-Nya dengan cahaya sebuah lampu yang diletakkan pada suatu tempat yang memang sengaja dibuat untuk keperluan ini. Tempat tersebut disebut misykāt, suatu cekungan di dinding dengan lubang menghadap ruangan. Karena bagian kanan dan kirinya tertutup maka cahaya yang dipancarkan lampu akan terpusat ke depan saja. Posisi ini akan menjadikan cahayanya lebih terang karena hanya terfokus ke satu arah. Kondisi seperti ini berbeda dari lampu yang diletakkan di tengah ruangan; terbukanya lokasi menyebabkan cahaya menyebar ke segala arah. Akibatnya, pancaran cahaya lampu tidak terpusat ke satu arah, membuatnya tidak seterang pancaran lampu yang diletakkan di dalam misykāt.

Selanjutnya, cahaya lampu itu sendiri terpancar dengan lebih terang karena sumbu lampunya terletak pada kaca yang bersih, jernih, dan terbuat dari kristal yang bening. Minyaknya berasal dari biji zaitun yang tumbuh di bukit yang selalu mendapat cahaya matahari. Minyak ini demikian baik mutunya sehingga akan bercahaya walau belum dinyalakan. Demikianlah perumpamaan yang diberikan Allah untuk memberikan informasi bagaimana terangnya cahaya atau cahaya petunjuk yang berasal dari-Nya. Dengan perumpamaan ini, Allah menyatakan bahwa siapa saja yang mau menyerap petunjuk-Nya dan menggunakannya, pasti ia tidak akan tersesat dalam kehidupannya. Yang demikian itu karena ia selalu disinari oleh petunjuk lIahi sehingga tidak pernah berada dalam kegelapan.

Sehubungan dengan hal ini, Ibnu ‘Abbās mengatakan sebagai berikut, “lnilah contoh dari nūr lIahi dan petunjuk-Nya yang berada dalam hati orang yang beriman. Jika minyak lampu dapat bercahaya sendiri sebelum disentuh api, dan bertambah cemerlang cahayanya bila sudah disentuh api, maka seperti itu pula keadaan hati orang mukmin. la selalu mendapat petunjuk dalam segala perbuatannya sehingga tidak akan tersesat dengan berbuat maksiat. Bila ia diberi ilmu maka akan bertambah keyakinannya dan bertambah pula cahaya dalam hatinya. Demikianlah, Allah memberikan perumpamaan kepada manusia yang mendapat nūr lIahi. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui akan segala sesuatu.”

Dengan uraian tersebut diketahui bahwa cahaya Ilahi, yang berupa petunjuk, akan dianugerahkan kepada siapa saja yang menghendakinya. Mereka yang mendapat petunjuk tersebut akan selalu berada dalam kebaikan, bukan kesesatan. Mereka yang mendapat petunjuk berada dalam bimbingan Allah yang akan selalu menunjukinya ke jalan yang benar dan mengeluarkannya dari kesesatan. Sebaliknya, orang yang tidak mau mengikuti petunjuk-Nya akan selalu berada dalam kesesatan. Mereka akan terkucilkan dari kebaikan karena keengganannya mengikuti cahaya petunjuk Ilahi.

Sehubungan dengan cahaya yang dapat diindera, Alquran menegaskan bahwa yang menciptakan gelap dan terang itu tidak lain adalah Allah semata. Tidak ada satu makhluk pun yang sanggup mewujudkan keduanya. Informasi demikian dapat kita temukan dalam firman Allah dalam Surah al-An‘ām/6: 1,

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَجَعَلَ الظُّلُمَاتِ وَالنُّورَ ۖ ثُمَّ الَّذِينَ كَفَرُوا بِرَبِّهِمْ يَعْدِلُونَ۝

Segala puji bagi Allah yang telah menciptakan langit dan bumi, dan menjadikan gelap dan terang, namun demikian orang-orang kafir masih mempersekutukan Tuhan mereka dengan sesuatu. (Alquran, Surah al-An‘ām/6: 1)

 

Ayat ini diawali dengan pujian untuk Allah. Bentuk seperti ini merupakan pengajaran bagi manusia yang mestinya selalu memuji hanya kepada-Nya, dan bukan kepada yang lain. Selanjutnya, ayat ini juga memberi informasi bahwa Allah adalah yang menciptakan langit dan bumi, dan Dialah pula yang menjadikan gelap dan terang.

Penciptaan gelap dan terang yang dimaksud dalam ayat ini adalah penciptaan berbagai kegelapan dan cahaya terang yang dapat diindera oleh penglihatan. Bila ditelaah lebih jauh, diketahui bahwa gelap dan terangnya alam disebabkan oleh cahaya matahari dan bintang-bintang. Pada hakikatnya, sebagaimana diketahui, matahari dan bintang-bintang merupakan bola api yang sangat besar dan memancarkan cahaya yang sangat terang ke segala penjuru alam. Dengan cahaya ini makhluk-makhluk hidup dapat melihat sekelilingnya dengan jelas. Sebaliknya, bila suatu kawasan membelakangi matahari maka kegelapan akan melingkupinya. Dalam kondisi ini yang ada hanya kegelapan. Tidak ada yang dapat dilihat dengan mata karena tidak adanya cahaya yang menerangi kawasan tersebut.

Dengan cahaya inilah manusia dapat melihat sekelilingnya. Dengan terangnya Iingkungan di sekelilingnya ia dapat berjalan dengan nyaman tanpa khawatir tersesat atau terperosok. Sehubungan dengan hal ini Allah berfirman,

أَوَمَن كَانَ مَيْتًا فَأَحْيَيْنَاهُ وَجَعَلْنَا لَهُ نُورًا يَمْشِي بِهِ فِي النَّاسِ كَمَن مَّثَلُهُ فِي الظُّلُمَاتِ لَيْسَ بِخَارِجٍ مِّنْهَا ۚ كَذَٰلِكَ زُيِّنَ لِلْكَافِرِينَ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ۝

Dan apakah orang yang sudah mati lalu Kami hidupkan dan Kami beri dia cahaya yang membuatnya dapat berjalan di tengah-tengah orang banyak, sama dengan orang yang berada dalam kegelapan, sehingga dia tidak dapat keluar dari sana? Demikianlah dijadikan terasa indah bagi orang-orang kafir terhadap apa yang mereka kerjakan. (Alquran Surah al-An‘ām/6: 122)

 

Demikianlah gambaran cahaya yang disebutkan dalam Alquran. Semua itu merupakan informasi tentang hal yang memberi manfaat bagi semua makhluk di alam raya ini. Dengan memahami dan menelaah ayat-ayat tadi, niscaya pengetahuan yang diserap dari pemahaman itu akan mendorong munculnya keyakinan atas kebesaran dan keagungan Allah yang telah menciptakan semua itu bagi kebaikan dan kesejahteraan makhluk-Nya.

Demikianlah keterangan Alquran tentang benda-benda langit yang menjadi “kurir” informasi, baik yang berkaitan dengan keberadaan dan kekuasaan Allah maupun yang berkaitan dengan makhluk lain di alam raya ini. Bila ditelaah dengan saksama maka akan diyakini bahwa semua itu diciptakan Allah dengan tujuan tertentu, bukan merupakan sesuatu yang sia-sia. Memang, bila ayat-ayat Alquran yang berkaitan dengan alam raya diteliti dengan sepenuhnya maka akan ditemukan bahwa informasi yang diberikannya sarat dengan makna dan sejalan dengan temuan ilmu pengetahuan modern.

Dalam kehidupan sehari-hari manusia perlu berkomunikasi dengan sesama manusia atau dengan makhluk lain. Komunikasi yang dilakukan manusia dengan objek lain hanya mungkin terjadi bila ada hubungan atau keterkaitan antara keduanya. Dari titik seperti ini akan muncul pengenalan antara manusia dengan objek yang menjadi tujuan komunikasi. Di antara objek yang menjadi tujuan komunikasi manusia adalah benda-benda langit. Tentu, komunikasi semacam ini seringkali hanya berjalan satu arah, berawal dari keinginan manusia untuk mengenal lebih dekat benda-benda langit.

Komunikasi dengan benda-benda langit dimungkinkan bila ada cahaya yang menjadi sarananya. Itu karena cahaya merupakan sesuatu yang dapat menjadikan benda-benda itu tampak dan dapat dilihat. Sehubungan dengan masalah ini Allah berfirman,

وَسَخَّرَ لَكُمُ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ وَالشَّمْسَ وَالْقَمَرَ ۖ وَالنُّجُومُ مُسَخَّرَاتٌ بِأَمْرِهِ ۗ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَاتٍ لِّقَوْمٍ يَعْقِلُونَ۝

Dia menundukkan malam dan siang, matahari dan bulan untukmu, dan bintang-bintang dikendalikan dengan perintah-Nya. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang mengerti. (Alquran, Surah an-Naḥl/16: 12)

 

Sakhkhara adalah kata kerja dalam bentuk lampau (past) yang artinya “menundukkan” atau “mengendalikan”. Ini menginformasikan bahwa malam dan siang di bumi; matahari, bulan, dan bintang-bintang merupakan makhluk yang dikendalikan oleh Allah. Pergantian malam dan siang merupakan suatu fenomena yang dapat disaksikan sehari-hari.

Keduanya selalu datang dan pergi sesuai waktu yang telah ditetapkan. Keteraturan yang demikian merupakan bentuk pengendalian Allah terhadap keduanya. Demikian pula halnya dengan matahari dan bulan; keduanya merupakan benda-benda langit yang sangat dekat hubungannya dengan manusia. Matahari dengan cahayanya yang kuat menerangi alam sekitarnya, yakni ruang dalam sistem tata surya. Perputaran bumi pada porosnya merupakan hukum alam lain yang ditetapkan Tuhan. Dengan gerak ini terjadilah malam dan siang. Sedangkan bulan, selain menyinarkan cahaya matahari yang dipantulkannya dan dapat menerangi bumi di kala malam, ternyata memiliki gaya tarik yang dapat membuat air laut pasang dan surut. Demikian pula bintang bintang nun di angkasa. Benda-benda itu tidak saja menjadi hiasan langit pada malam hari, tetapi juga dapat menjadi penunjuk arah bagi para musafir. Inilah yang dimaksud dengan ungkapan sakhkhara yang merupakan salah satu perbuatan Allah untuk kepentingan manusia.

Ayat tersebut menjelaskan bahwa Allah adalah Zat yang mengatur malam dan siang, mengendalikan matahari, bulan, dan bintang-bintang untuk keperluan manusia. Secara bergantian Allah menjadikan alam ini dalam keadaan gelap, yang dinamakan malam, dan dalam keadaan terang benderang, yang dinamakan siang. Malam adalah waktu untuk beristirahat agar pikiran manusia menjadi tenang karena terlepas dari persoalan yang membebaninya sepanjang siang, sedangkan siang merupakan waktu untuk bekerja dan berkegiatan mencari rezeki guna memenuhi hajat hidup. Keduanya datang dan pergi silih berganti. Seandainya saja Allah tidak menjadikan bumi berputar pada porosnya yang menyebabkan terjadinya malam dan siang, niscaya separuh kawasannya akan selalu terkena cahaya matahari dan dalam kondisi terang. Karena cahaya matahari bersifat panas maka lama kelamaan daerah yang disinarinya secara terus menerus akan mengering, dan suatu saat akan terbakar. Sebaliknya, kawasan yang membelakangi matahari akan terus berada dalam kondisi gelap. Daerah tersebut juga akan menjadi dingin yang akan membuat segala sesuatu di sana membeku. Dalam dua kondisi ini tidak akan ada makhluk yang sanggup bertahan hidup. Alangkah besar kasih sayang Allah kepada makhluk-Nya sehingga menjadikan bumi terus berputar yang mengakibatkan terjadinya malam dan siang.  Dengan keduanya manusia dapat beraktivitas dan beristirahat. Itu semua pada hakikatnya merupakan sebagian dari tanda-tanda kekuasaan Allah. Informasi demikian dapat pula kita dapati dalam firman-firman Allah,

وَمِنْ آيَاتِهِ مَنَامُكُم بِاللَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَابْتِغَاؤُكُم مِّن فَضْلِهِ ۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَاتٍ لِّقَوْمٍ يَسْمَعُونَ۝

Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah tidurmu pada waktu malam dan siang hari dan usahamu mencari sebagian dari karuniaNya. Sungguh, pada yang demikian itu benar benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang mendengarkan. (Alquran, Surah ar-Rūm/30: 23)

 

وَهُوَ الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ اللَّيْلَ لِبَاسًا وَالنَّوْمَ سُبَاتًا وَجَعَلَ النَّهَارَ نُشُورًا۝

Dan Dialah yang menjadikan malam untukmu (sebagai) pakaian, dan tidur untuk istirahat, dan Dia menjadikan siang untuk bangkit berusaha. (Alquran, Surah al-Furqān/25: 47)

 

وَجَعَلْنَا نَوْمَكُمْ سُبَاتًا۝ وَجَعَلْنَا اللَّيْلَ لِبَاسًا۝ وَجَعَلْنَا النَّهَارَ مَعَاشًا۝

Dan Kami menjadikan tidurmu untuk istirahat, dan Kami menjadikan malam sebagai pakaian dan Kami menjadikan siang untuk mencari penghidupan. (an-Nabā‘/78: 9-11)

 

Matahari merupakan bintang terdekat dari bumi, yang memancarkan cahaya yang kuat. Pancaran ini menyebabkan ruang tata surya di sekitarnya menjadi terang benderang, termasuk bumi. Adanya cahaya menyebabkan benda-benda dapat dilihat dengan jelas. Selain sebagai pemicu munculnya siang dan malam, cahaya matahari juga merupakan sumber energi yang diperlukan makhluk di bumi. Begitulah manfaat matahari yang merupakan benda langit yang memancarkan cahaya yang dapat dijadikan sebagai sarana komunikasi manusia dengan benda-benda langit.

Alquran menekankan bahwa semua objek ini diciptakan oleh Allah dengan maksud dan tujuan tertentu. Pernahkah kita membayangkan jika dunia ini gelap tanpa seberkas cahaya pun? Apa yang dapat kita lakukan di dalam kegelapan? Pada keadaan demikian, mata manusia seakan buta sehingga sulit atau bahkan mustahil melihat, suatu kondisi yang menghalangi manusia beraktivitas. Tanpa hadirnya cahaya, kita tidak akan pernah tahu apa yang ada atau terjadi di sekeliling kita, karena indera penglihatan kita tidak akan berfungsi sama sekali.

Kita bisa merasakan betapa nikmatnya tatkala matahari pagi muncul di ufuk timur dengan semburat cahayanya yang indah, membuat pandangan mata yang tadinya sempit menjadi luas. Ketika kegelapan beranjak pudar maka benda di sekeliling kita mulai tampak dan lama-kelamaan makin jelas terlihat. Itulah salah satu fenomena eksistensi cahaya yang selalu kita saksikan ketika malam berganti siang. Begitu pula sebaliknya ketika siang berganti malam; benda yang semula jelas terlihat lama kelamaan makin samar hingga tidak tampak sama sekali seiring makin berkurangnya cahaya yang ada.

Subhanallah, dari pergantian malam dan siang yang tampak sederhana saja, kita bisa mendapat informasi yang begitu banyak, sedikitnya kita dapat merasakan nikmat melihat dan nikmat dapat menyaksikan keindahan alam ciptaan-Nya. Semua (informasi) itu Allah karuniakan kepada manusia yang berakal, untuk dipikiran, dipahami, diambil manfaatnya,dan kemudian disyukuri.

Yang paling tampak dari pergantian siang menjadi malam atau sebaliknya adalah fenomena cahaya. Sesungguhnya apakah cahaya itu? Cahaya bukanlah sesuatu yang asing bagi manusia. Dalam kehidupan sehari hari cahaya ada di sekitar kita sebagai penerang. Dalam perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, para ilmuwan mulai berinisiatif memanfaatkan cahaya sebagai media transmisi data, suatu hal yang tidak pernah terbayang di benak masyarakat awam pada umumnya. Dalam Surah an-Nūr/24: 35 Allah berfirman,

اللَّهُ نُورُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۚ مَثَلُ نُورِهِ كَمِشْكَاةٍ فِيهَا مِصْبَاحٌ ۖ الْمِصْبَاحُ فِي زُجَاجَةٍ ۖ الزُّجَاجَةُ كَأَنَّهَا كَوْكَبٌ دُرِّيٌّ يُوقَدُ مِن شَجَرَةٍ مُّبَارَكَةٍ زَيْتُونَةٍ لَّا شَرْقِيَّةٍ وَلَا غَرْبِيَّةٍ يَكَادُ زَيْتُهَا يُضِيءُ وَلَوْ لَمْ تَمْسَسْهُ نَارٌ ۚ نُّورٌ عَلَىٰ نُورٍ ۗ يَهْدِي اللَّهُ لِنُورِهِ مَن يَشَاءُ ۚ وَيَضْرِبُ اللَّهُ الْأَمْثَالَ لِلنَّاسِ ۗ وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ۝

Allah (pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi. Perumpamaan cahaya-Nya, seperti sebuah lubang yang tidak tembus, yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam tabung kaca (dan) tabung kaca itu bagaikan bintang yang berkilauan, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang diberkahi, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di timur dan tidak pula di barat, yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya (berlapis-Iapis), Allah memberi petunjuk kepada cahaya-Nya bagi orang yang Dia kehendaki, dan Allah membuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. (Alquran, Surah an-Nūr/24:35)

 

Ayat ini mendorong beberapa ilmuwan untuk meneliti berbagai aspek fisik cahaya. Pada akhirnya mereka dapat merumuskan di antaranya aspek optik, spektrum, refleksi, dan refraksi cahaya rumusan-rumusan yang menjadi landasan bagi para ilmuwan berikutnya untuk melakukan pengembangan lebih lanjut. Pada pertengahan abad X, seorang ilmuwan muslim bernama Abū ‘Ali al-Ḥasan bin al-Haiṡam (Alhazen, hal. 965-sekitar 1040), yang dikenal di Barat sebagai Alhazen, mengembangkan sebuah teori yang menjelaskan tentang indera penglihatan, menggunakan geometri dan anatomi. Teori itu mengatakan bahwa mata dapat melihat benda-benda di sekeliling karena adanya cahaya yang dipancarkan atau dipantulkan oleh benda-benda yang bersangkutan, masuk ke dalam mata.

Alhazen pun ketika itu menganggap bahwa cahaya adalah kumpulan partikel kecil bergerak pada kecepatan tertentu. Dia mengembangkan pula teori Ptolemy tentang refraksi cahaya. Teori proses melihat yang dikemukakan Alhazen ini tidak dikenal di Eropa sampai akhir abad XVI. Setelah itu teori ini akhirnya dapat diterima oleh banyak orang sampai sekarang.

Dengan berjalannya waktu usaha para ilmuwan dunia secara estafet telah mendatangkan hasil. Sedikit demi sedikit rahasia cahaya mulai menemukan titik terang. Setelah Alhazen, Sir Isaac Newton (1642-1727), seorang ilmuwan berkebangsaan Inggris yang terkenal dengan Teori Emisi atau Teori Partikel, mengemukan pendapatnya bahwa dari sumber cahaya dipancarkan partikel-partikel yang sangat kecil dan ringan ke segala arah dengan kecepatan yang sangat tinggi. Berdasarkan temuannya  Newton mengatakan juga bahwa cahaya dapat merambat lurus tanpa terpengaruh gaya gravitasi bumi. Hukum pemantulan Snellius berlaku untuk cahaya. Cahaya akan mengalami pembiasan, yang pada awalnya Newton beranggapan bahwa kecepatan cahaya dalam air lebih besar daripada kecepatan cahaya dalam udara, sampai akhirnya seorang fisikawan Perancis, Jean Focault (1819-1868), menyimpulkan sebaliknya.

Kemudian dengan teori gelombangnya, Christian Huygens (1629-1695), seorang ilmuwan berkebangsaan Belanda, mengemukakan bahwa cahaya pada dasarnya sama dengan bunyi, dan berupa gelombang. Menurut teori ini perbedaan cahaya dan bunyi hanya terletak pada panjang gelombang dan frekuensinya. Dalam teori Huygens ini peristiwa pemantulan, pembiasan, interferensi, maupun difraksi cahaya dapat dijelaskan secara tepat. Meski begitu, teori Huygens masih kurang bisa memberi penjelasan yang gamblang mengenai sifat cahaya yang merambat lurus.

Pada perkembangan selanjutnya diketahui bahwa meski cahaya dan suara sama-sama bersifat gelombang, tetapi keduanya memiliki perbedaan. Percobaan James Clerk Maxwell (1831-1879), seorang ilmuwan berkebangsaan Inggris (Skotlandia), dengan teori elektromagnetiknya menyatakan bahwa cepat rambat gelombang elektromagnetik sama dengan cepat rambat cahaya, yaitu 300.000 km/detik. Pada tahun 1887 dua ilmuwan Amerika, Albert Michelson dan James Morley, membuat mesin untuk menguji teori James Clerk Maxwell ini. Setelah melakukan pengujian keduanya meyimpulkan bahwa kecepatan gelomang cahaya adalah tetap.

Penemuan gelombang elektromagnetik ini telah membawa perubahan yang sangat besar dalam pengetahuan manusia. Sekalipun belum diketahui ketika itu medium perantaranya, namun gelombang ini telah mampu dimanfaatkan secara luas dalam berbagai bidang kehidupan manusia. Gelombang cahaya diyakini sebagai gelombang elektromagnetik, yaitu kombinasi medan listrik dan medan magnet yang berosilasi dan merambat lewat ruang dan membawa energi dari satu tempat ke tempat yang lain. Maxwell juga berkesimpulan bahwa cahaya merupakan salah satu bentuk radiasi elektromagnetik. Pendapat Maxwell ini kemudian didukung seorang ilmuwan berkebangsaan Jerman, Heinrich Rudolph Hertz (1857-1894) yang membuktikan bahwa gelombang elektromagnetik merupakan gelombang tranversal, sesuai dengan kenyataan bahwa cahaya dapat menunjukkan gejala polarisasi.

Kemudian, percobaan seorang ilmuwan berkebangsaan Belanda, Peter Zeeman (1852-1943), menunjukkan bahwa medan magnet yang sangat kuat dapat berpengaruh terhadap berkas cahaya. Percobaan berikutnya dilakukan oleh Stark (1874-1957), seorang ilmuwan berkebangsaan Jerman. Dari percobaannya, ia menyimpulkan bahwa medan Iistrik yang sangat kuat juga dapat mempengaruhi berkas cahaya.

Teori kuantum pertama kali dicetuskan pada tahun 1900 oleh seorang ilmuwan dari Jerman, Max Karl Ernst Ludwig Planck (1858-1947). Planck mengamati sifat-sifat radiasi benda-benda hitam hingga ia pada tahun 1901 sampai pada hipotesis bahwa energi cahaya terkumpul dalam paket-paket energi yang disebut kuanta atau foton. Akan tetapi, dalam teori ini, paket-paket energi atau partikel penyusun cahaya yang dimaksud berbeda dari partikel yang dikemukakan oleh Newton. Foton pada teori Planck tidak bermassa, sedangkan partikel pada teori Newton bermassa. Meski demikian, hipotesis Planck ternyata mendapat dukungan dari Albert Einstein pada tahun 1905 yang berhasil menerangkan gejala fotolistrik.

Fotolistrik adalah peristiwa terlepasnya elektron dari suatu logam yang dicahayai dengan panjang gelombang tertentu. Akibatnya, percobaan Einstein justru bertentangan dengan pernyataan Huygens dengan teori gelombangnya. Pada efek fotolistrik, besarnya kecepatan elektron yang terlepas dari logam ternyata tidak bergantung pada besarnya intensitas cahaya yang digunakan untuk menyinari logam tersebut. Sedangkan menurut teori gelombang seharusnya energi kinetik elektron bergantung pada intensitas cahaya. Kemudian dari seluruh teori cahaya yang muncul dapat disimpulkan bahwa cahaya mempunyai sifat dual (dualisme cahaya), yaitu cahaya dapat bersifat sebagai gelombang untuk menjelaskan peristiwa interferensi dan difraksi, tetapi di lain pihak cahaya dapat berupa materi tak bermassa yang berisikan paket-paket energi yang disebut kuanta atau foton sehingga dapat menjelaskan peristiwa efek fotolistrik.

Cahaya merupakan gelombang elektromagnetik. Gelombang elektromagnetik sendiri terklasifikasi dalam spektrum yang tersusun menurut panjang gelombangnya. Makin pendek panjang gelombang (λ), makin tinggi ekuensinya (f) dan makin besar pula daya tembusnya. Urutan spektrum gelombang elektromagnetik secara umum adalah sebagai berikut.

 

  1. Sinar gamma (γ);
  2. Sinar X (Rontgen);
  3. Sinar ultra ungu atau ultraviolet (UV);
  4. Cahaya tampak: Ungu, Biru,Hijau, Kuning, Jingga, Merah;
  5. Sinar inframerah;
  6. Gelombang mikro (microwave);
  7. Gelombang TV/UHF;
  8. Gelombang Radio.

 

Di antara gelombang-gelombang yang terdapat pada spektrum tersebut, yang dapat dilihat oleh mata hanyalah gelombang cahaya yang mempunyai panjang gelombang antara 7800 Å (merah)-3990 Å (ungu). Gelombang yang mempunyai daya tembus yang sangat besar adalah sinar X dan sinar γ.

Radiasi elektromagnetik mempunyai karakteristik penting, yakni panjang gelombang dan frekuensi (jumlah osilasi per detik). Sifat gelombang telah banyak dipahamiorang. Panjang gelombang berbanding terbalik dengan frekuensi dan energi, artinya semakin pendek panjang gelombang semakin tinggi frekuensi dan semakin besar energi yang dipunyainya. Dalam kehidupan sehari-hari kita mengenal sinar X berpanjang-gelombang (λ) pendek,berenergi besar, sehingga dapat digunakan sebagai foto rontgen. Sinar X dapat menembus kulit dan daging, tetapi tidak tulang, sehingga dapat “membaca” tulang patah. Microwave (gelombang mikro) adalah radiasi berpanjang-gelombang (λ) panjang, dapat digunakan sebagai pemanas makanan yang mengandung unsur air karena memberikan getaran pada molekul air yang memanaskan makanan tersebut. Baik sinar X maupun microwave tidak terlihat oleh mata kita. Mata kita hanya dapat melihat cahaya tampak yang terurai sebagai warna di alam.

Sinar gamma, sinarX, ultraviolet,dan inframerah tidak dapat ditangkap oleh mata kita, demikian pula gelombang radio dan gelombang mikro. Meski demikian, dua gelombang yang disebut terakhir ini bermanfaat untuk komunikasi dalam radio, TV,dan telepon. Dapat pula dipahami bahwa hakikatnya perbedaan diantara cahaya tampak, gelombang mikro, dan gelombang radio adalah frekuensi atau panjang gelombang.

Cahaya tampak mempunyai λ antara 400 nm-750 nm (1 nm= sepersejuta milimeter), sedangkan gelombang radio dalam ukuran ratusan meter. Gelombang radio sering digunakan untuk membawa pesan suara yang diubah dengan perangkat tertentu yang disebut pesawat pemancar dan penerima radio. Dari matahari terpancar semua spektrum gelombang elektromengetik, dari sinar gamma dan sinar X, bahaya tampak sampai gelombang radio. Itu semua mendorong kita untuk merenungi bahwa Allah menganugerahi kekayaan radiasi elektromagnetik sebagai sumber informasi. Matahari dan bintang-bintang memancarkan gelombang elektromagnetik sebagai pembawa informasi. Oleh karena itu, Allah menciptakan alat pendengar dan penglihatan untuk menangkap informasi. Allah berfirman,

ثُمَّ سَوَّاهُ وَنَفَخَ فِيهِ مِن رُّوحِهِ ۖ وَجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ وَالْأَفْئِدَةَ ۚ قَلِيلًا مَّا تَشْكُرُونَ۝

Kemudian Dia menyempurnakannya dan meniupkan roh (ciptaan)-Nya ke dalam (tubuh)nya dan Dia menjadikan pendengaran, penglihatan dan hati bagimu, (tetapi) sedikit sekali kamu bersyukur. (Alquran, Surah as-Sajdah/32: 9)

 

قُلْ هُوَ الَّذِي أَنشَأَكُمْ وَجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ وَالْأَفْئِدَةَ ۖ قَلِيلًا مَّا تَشْكُرُونَ۝

Katakanlah,Dialah yang menciptakan kamu dan menjadikan pendengaran, penglihatan dan hati nurani bagi kamu. (Tetapi) sedikit sekali kamu bersyukur”. (Alquraan, Surah al-Mulk/67: 23)

 

Jadi, Allah membekali manusia dengan mata dan telinga untuk menangkap informasi dalam bentuk gelombang elektromagnetik, baik berupa cahaya maupun suara yang dibawa via gelombang radio. Benda benda langit yang memancarkan gelombang elektromagnetik membawa pesan yang sangat banyak tentang kondisi sesungguhnya di galaksi, bintang, planet, dan benda langit lainnya yang sangat jauh itu. Selanjutnya, informasi tersebut diolah oleh hati atau otak untuk mengambil keputusan dan mengambil tindakan.

Dalam kehidupan sehari-hari kita mengenal cahaya sebagai salah satu gelombang elektromagnetik. Akibat adanya cahaya kita dapat melihat aneka warna dan keindahan alam. Pelangi di angkasa bumi membawa pesan bahwa di arah tersebut ada titik titik air bujan yang membiaskan cahaya matahari dari belakang kita. Cahaya merah pada waktu senja yang dikenal sebagai syafaq memberi pelajaran soal peran atmosfer atas dalam penghamburan cahaya matahari yang sudah terbenam.

فَلَا أُقْسِمُ بِالشَّفَقِ۝

Maka Aku bersumpah demi cahaya merah pada waktu senja. (Alquran, Surah al-lnsyiqāq/84: 16)

 

Tidak semua radiasi elektromagnetik dapat kita Iihat. Sinar X, uItraviolet, dan inframerah adalah gelombang elektromagnetik juga, tetapi mata manusia tidak dapat mengenalinya. Mata manusia tidak sensitif, tidak menangkapnya, atau seeara sederhana dikatakan tidak melihat sinar-sinar tersebut. Mungkin binatang seperti anjing, kucing, harimau, dan burung hantu dapat memanfaatkan cahaya inframerah untuk berburu di malam hari. Manusia bisa menggunakan inframerah untuk melihat dalam kegelapan apabila menggunakan teropong khusus, yakni teropong bidik malam, yang biasa digunakan oleh tentara dalam peperangan malam hari. Teropong tersebut dilengkapi dengan sensor elektronik yang dapat menangkap radiasi inframerah, dan karenanya disebut teropong inframerah.

Kini umat manusia hidup pada zaman yang dipenuhi upaya memahami lebih rinci bintang di kubah langit malam. Matahari bukan satu-satunya benda langit yang memancarkan gelombang elektromagnetik. Bintang-bintang juga memancarkan cahaya karena bintang-bintang tersebut juga bersuhu tinggi. Bintang-bintang itu sebenarnya serupa dengan matahari, namun lokasinya sangat jauh. Matahari adalah bintang terdekat dari bumi. Karena letaknya yang sangat jauh dari bumi, bintang-bintang lainnya terlihat kecil, padahal beberapa di antaranya berukuran beberapa ribu kali lebih besar daripada matahari. Karena letaknya yang sangat jauh pula maka pancaran cahaya bintang-bintang lain tidak sekuat pancaran cahaya matahari. Panas bintang-bintang itu juga tak bisa dirasakan seperti panasnya cahaya matahari.

Manusia berinteraksi mengenal bintang-bintang tersebut karena beberapa alasan. Pertama, karena bintang memancarkan cahaya. Kedua, karena angkasa bumi transparan terhadap cahaya tampak bintang. Ketiga, manusia hidup dilengkapi dengan indera penglihatan yang peka terhadap cahaya bintang. Keempat, cahaya sebagai kurir informasi dapat memberitahu manusia tentang keberadaan dunia yang sangat jauh dan tidak mudah dijangkau oleh manusia karena keterbatasannya. Melalui cahaya tersebut manusia mengenal luasnya alam semesta, jarak bintang, temperatur bintang, adanya gugus bintang, beragam galaksi, beragam gugus galaksi, serta objek langit lainnya seperti asteroid, komet, dan planet di alam semesta. Cahaya juga mengenalkan manusia adanya hukum-hukum alam yang dapat dipahami manusia, adanya keteraturan fenomena di alam semesta, adanya fenomena yang sangat dahsyat, serta adanya awal dan akhir alam semesta. Cahaya merupakan media atau peranti bagi manusia untuk mengenal kemahabesaran Allah melalui berbagai ciptaan-Nya.

Bulan juga bercahaya, meski ia bukan sumber cahaya. Dengan mempelajari sifat cahayanya diketahui bahwa cahaya bulan berasal dari sorot cahaya matahari ke bulan yang kemudian sebagiannya dipantulkan oleh permukaan bulan dan sebagian lagi diserap untuk memanaskan batuan di bulan. Alquran membedakan cahaya matahari dan bulan dalam kalimat yang indah: istilah iyā untuk cahaya matahari dan nūr untuk cahaya bulan dalam Surah Yūnus/10: 5, sirāj untuk cahaya matahari dan munīr untuk cahaya bulan dalam Surah al-Furqān/25: 61, sirāj untuk cahaya matahari dan nūr untuk cahaya bulan dalam Surah Nūh/71: 16, dan sirājan wahhājā yang ditafsirkan “matahari  yang menjadi pelita yang sangat terang” dalam Surah an-Nabā’/78: 13.

هُوَ الَّذِي جَعَلَ الشَّمْسَ ضِيَاءً وَالْقَمَرَ نُورًا وَقَدَّرَهُ مَنَازِلَ لِتَعْلَمُوا عَدَدَ السِّنِينَ وَالْحِسَابَ ۚ مَا خَلَقَ اللَّهُ ذَٰلِكَ إِلَّا بِالْحَقِّ ۚ يُفَصِّلُ الْآيَاتِ لِقَوْمٍ يَعْلَمُونَ۝

Dialah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya, dan Dialah yang menetapkan tempat-tempat orbitnya, agar kamu mengetahui bilangan tahun, dan perhitungan (waktu). Allah tidak menciptakan demikian itu melainkan dengan benar. Dia menjelaskan tanda-tanda (kebesaranNya) kepada orang-orang yang mengetahui. (Alquran, Surah Yūnus/10: 5)

 

تَبَارَكَ الَّذِي جَعَلَ فِي السَّمَاءِ بُرُوجًا وَجَعَلَ فِيهَا سِرَاجًا وَقَمَرًا مُّنِيرًا۝

Mahasuci Allah yang menjadikan di langit gugusan bintang-bintang dan Dia juga menjadikan padanya matahari dan bulan yang bersinar (Alquran, Surah al-Furqān/25:61)

 

وَجَعَلَ الْقَمَرَ فِيهِنَّ نُورًا وَجَعَلَ الشَّمْسَ سِرَاجًا۝

Dan di sana Dia menciptakan bulan yang bercahaya dan menjadikan matahari sebagai pelita (yang cemerlang)? (Alquran, Surah Nūḥ/ 71: 16)

 

وَجَعَلْنَا سِرَاجًا وَهَّاجًا۝

Dan Kami menjadikan pelita yang terang benderang (matahari). (Alquran, Surah an-Nabā’/78: 13)

 

Dalam astronomi, matahari adalah sumber cahaya bagi bulan. Artinya, bila matahari padam atau sorot cahayanya ke arah bulan tertutup maka bulan tidak memperoleh cahaya, menjadi gelap dan tak tampak dari bumi. Sebagian cahaya matahari yang cemerlang dan menghangatkan diserap oleh bulan, dan sebagian lagi dipantulkan sampai ke bumi. Cahaya bulan terasa redup dan indah serta tidak panas, cukup terang pada malam terang bulan atau bulan purnama. Ya, hanya dikatakan “cukup terang” karena cahaya bulan purnama hanya sekitar seper sejuta dari intensitas cahaya matahari. Ketika cahaya matahari terhalang oleh bumi, maka bulan tidak mendapat cahaya. Kondisi itulah yang kita kenal sebagai gerhana bulan.

Sumber utama energi pada bintang adalah proses nuklirnya, tetapi tidak semua bintang memilikinya. Bintang yang mati dan kehabisan bahan bakar tidak lagi memancarkan cahaya hasil reaksi nuklir. Bintang yang telah mati seperti bintang netron, bintang katai putih, dan bintang hantu, walaupun menyandang nama “bintang” namun tidak lagi ada proses nuklir di pusatnya. Cahaya yang dipancarkan bintang katai putih dan bintang netron berasal dari sisa panas (sisa reaksi nuklir) yang masih tersimpan dalam material bintang. Bintang hantu bahkan tidak memancarkan cahaya sama sekali.

Keadaan fisika bintang, suhu, dimensi, massa, kerapatan, dan parameter lainnya, dapat ditentukan dari telaah spektroskopi (pengukuran spektrum cahaya), fotometri (pengukuran kuat cahaya), dan astrometri (penentuan ukuran bintang). Dengan menerapkan kaidah dan pengetahuan fisika dapat diperoleh pengetahuan dan pengertian mengenai acuan bahan bintang, cahaya, perkembangan, dan evolusi bintang. Keadaan fisika bintang ternyata sangat berbeda. Ada bintang dingin dengan suhu permukaan berkisar 1.000-2.000 ºC. Bintang yang demikian ini memancarkan lebih banyak cahaya inframerah. Di sisi lain, terdapat bintang panas, berwarna biru keputihan dengan suhu permukaan 100.000 ºC. Besarnya bintang juga berbeda-beda. Ada bintang berukuran kecil, seukuran bumi. Kelompok bintang ini dinamai bintang katai putih,misalnya bintang Sirius dan bintang Canis Major. Sebaliknya, ada juga bintang yang berdiameter 1.000-3.000 kali lebih besar daripada diameter matahari. Bintang-bintang ini diberi nama bintang raksasa atau bintang maharaksasa. Berbeda dengan variabel diameter, variabel massa bintang sangat terbatas. Bintang bermassa terkecil hanya memiliki berat 10% dari massa matahari, dan yang bermassa terbesar memiliki berat 100 kali massa matahari. Hampir 60% dari jumlah bintang yang telah diamati terdiri dari pasangan bintang (dua bintang atau lebih) yang terikat oleh gaya tarik sekutu anggota pasangan itu. Bintang berpasangan ini diberi nama bintang jamak. Bintang jamak yang hanya terdiri dari dua buah bintang dinamai bintang ganda. Anggota bintang ganda bergerak mengitari titik pusat massa sistem bintang ganda tersebut.

Dikutip dari Tafsir ‘Ilmi

Leave a Reply

Close Menu