ILMU PENGETAHUAN YANG “BERAKAL”

ILMU PENGETAHUAN YANG “BERAKAL”

Rasanya tidak salah kalau kita mengartikan ilmu pengetahuan sebagai segala data dan informasi yang diberikan atau disediakan oleh Allah untuk manusia, baik itu melalui ayat qauliyah maupun kauniyah-Nya. Adalah tugas manusia untuk melakukan pengamatan terhadap semua itu. Berbagai percobaan dan sejenisnya dilakukan untuk mencari ilmu-ilmu yang telah disediakan Allah, namun belum diketahui manusia. Setelah ilmu pengetahuan diperoleh maka manusia mulai mencoba mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari. Aplikasi ini kemudian disebut teknologi.

Ilmu  pengetahuan dan teknologi adalah implementasi dari tugas manusia sebagai khalifah untuk memakmurkan bumi. Karenanya bagi seorang muslim, ilmu pengetahuan dan teknologi adalah sarana untuk mengelola, bukan merusak bumi. Paradigma seorang muslim terhadap ayat-ayat Allah, qauliyah dan kauniyah, adalah mutlak benar dan tidak mungkin bertentangan karena keduanya berasal dari Allah. Faktanya, ilmu pengetahuan yang telah terbukti secara empirik selalu saja selaras dengan Alquran. Namun ilmu pengetahuan yang masih dalam bentuk teori kadang tampak bertentangan dengan apa yang termaktub dalam Alquran. Dalam kondisi ini, para peneliti tidak seharusnya berhenti pada level observasi, melainkan berusaha mencapai level orang yang berakal  ulul-albāb, seperti dijelaskan dalam ayat berikut.

إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَآيَاتٍ لِّأُولِي الْأَلْبَابِ۝ الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَىٰ جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَٰذَا بَاطِلًا سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ۝

Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk atau dalam keadaan berbaring, dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), “Ya Tuhan kamil tidaklah Engkau menciptakan semua ini sia-sia; Mahasuci Engkau, lindungilah kami dari azab neraka. (Alquran, Surah Āli ‘Imrān/3: 190-191)

Akal bukanlah kecerdasan otak. Hewan punya kecerdasan, tapi tidak memiliki akal. Karenanya manusia yang tidak menggunakan akalnya tidak berbeda dari binatang. Terkait hal itu Allah berfirman,

وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيرًا مِّنَ الْجِنِّ وَالْإِنسِ ۖ لَهُمْ قُلُوبٌ لَّا يَفْقَهُونَ بِهَا وَلَهُمْ أَعْيُنٌ لَّا يُبْصِرُونَ بِهَا وَلَهُمْ آذَانٌ لَّا يَسْمَعُونَ بِهَا ۚ أُولَٰئِكَ كَالْأَنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ ۚ أُولَٰئِكَ هُمُ الْغَافِلُونَ۝

Dan sungguh, akan Kami isi neraka Jahanam banyak dari kalangan jin dan manusia. Mereka memiliki hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka memiliki mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengarkan (ayat-ayat Allah). Mereka seperti hewan ternak, bahkan lebih sesat Iagi. Mereka itulah orang-orang yang lengah. (Alquran, Surah al-A‘rāf/7: 179)

Akal adalah kerja kalbu, hati, yang itu berada dalam dada (sebagaimana disebutkan dalam Surah al-Ḥajj/22: 46), yang merupakan kemampuan untuk mengambil pelajaran. Kata ulul-albāb dalam Alquran biasa disebutkan mengiringi pemaparan tentang fenomena-fenomena alam untuk menunjuk kepada mereka yang bisa mengambil pelajaran dari fenomena-fenomena itu. Kata yafqahūn (memahami) dan ya‘qilūn (menggunakan akal) dalam Alquran dinisbatkan kepada kalbu, seperti yang terdapat dalam Surah al-Ḥajj/22: 46 dan al-A‘rāf/7: 179.

Bila berbicara pada tataran ideal maka sesungguhnya setiap muslim harus berpegang teguh pada Alquran dan sunah, dua pedoman yang harus menjadi dasar bagi siapa pun. Berangkat dari pedoman inilah manusia kemudian menekuni spesialisasi sesuai bidangnya masing-masing.

Pesan utama dari kehadiran Alquran dan sunah, yang itu menjadi pondasi utama ajaran Islam, adalah ramatan lil-‘ālamīn, rahmat bagi seluruh alam. Bila seorang ilmuwan berpegang teguh pada dua pedoman ini maka sudah pasti teknologi yang dikembangkannya berguna bagi semesta alam. Betapa tidak, teknologi yang dicapainya itu selalu dibarengi muatan-muatan Rabbani yang menyejahterakan umat manusia, menjunjung tinggi keadilan, dan bersahabat dengan lingkungan. Dengan demikian, antara teknologi dan peradaban dapat mendukung satu dengan lainnya. Perkembangan teknologi mendukung perkembangan peradaban, demikian juga sebaliknya. Wallāhu alam.

Dikutip dari Tafsir ‘Ilmi

Leave a Reply

Close Menu