ILMU PENGETAHUAN DAN IMAN:  DARI PEPERANGAN MENUJU KESESUAIAN

ILMU PENGETAHUAN DAN IMAN: DARI PEPERANGAN MENUJU KESESUAIAN

Wacana: Ted Peters

Jika memang ada peprangan antara iman dan ilmu pengetahuan, tampaknya sekarang ilmu pengetahuan sedang menikmati kemenangan. Bersama dengan sekutunya, yaitu teknologi, laksana Charlemagne atau Timu Lenk, ilmu pengetahuan terus-menerus menaklukan ruang lingkup kehidupan manusia dan meperluas hegemoninya dalam rangka menciptakan sebuah kemaharajaan kultural yang mendunia. Tidak satu pun manusia atau tradisi religius yang tidak terpengaruh.

Seperti seorang tentara yang penuh rasa percaya diri, ilmu pengetahuan beranggapan bahwa tiada sesuatu apa pun yang suci. Tidak ada tradisi suci, jalan hidup, afeksi religius nan lembut, dogma yang ditaati dengan setia, kekhidmatan kepada yang sublim, dan sikap moral yang luhur, yang terhindar dari serangan bukti-bukti empiris dan penalarannya yang dingin dan penuh kalkulasi. Ilmu pengetahuan tidak mengenal kata ampun. Sembari terus bergerak maju, ia meninggalkan puing-puing agama keyakinan yang patah, dan pandangan dunia yang hancur lebur.

Kita yang berada dalam benteng keimanan religius, ketika melihat ilmu pengetahuan merangsek maju di cakrawala, cenderung untuk membuat barisan pertahanan dan membentengi diri terhadap serangan ini. Keimanan cemas akan terulangnya Tragedi Kuda Troya: jika kita mengizinkan otoritas ilmu pengetahuan memasuki benteng keyakinan kita, kita mengambil resiko membiarkan musuh memasuki pertahanan kita dan akan mengalahkan kita dari dalam.

Akan tetapi, di tengah pertempuran ini, saya ajak kita semua berhenti sejenak untuk merenungkan pertanyan ini: apakah ilmu pengetahuan memang musuh kita? Apakah memang benar bahwa perperangan merupakan penggambaran yang paling tepat untuk menjelaskan interaksi antara iman dan ilmu pengetahuan, baik itu iman Kristen maupun iman Islam? Adakah sifat-sifat yang sama-sama dimiliki iman maupun ilmu penegtahuan, yang mengajukan kemungkinan adanya hubungan persahabatan, koeksitensi damai, bahkan kerja sama di antara keduanya? Kalaupun ilmu penegtahuan sebagian masih dianggap musuh, apakah ada cara-cara tertentu agar ia menjadi teman kita?

PERDAMAIAN MELALUI KEBENARAN

Menurut saya upaya pencarian kebenaran secara jalur mungkin merupakan kunci menuju perdamaian, pintu menuju kerja sama. Baik teologi Kristen maupun pemikiran Islam berupaya menghoramti kebenaran, khususnya kebenaran ultimat. Memang benar bahwa sejarah agama kita masing-masing dipenuhi dengan dogma dan perpecahan, hieraki dan penguasa zalim, perang zalib dan invasi yang agresif, perselisihan dan perperangan. Akan tetapi, dibalik semua itu, kita semua memiliki rasa hormat yang sangat tinggi kepada-Nya dan kesyukuran mendalam atas keindahan seluruh pencipta-Nya.

Ciptaan Tuhan inilah yang ditelaah oleh ilmu pengetahuan, diamati menggunakan mikrosop dan telskop, dibedah dan diptong-potong dianalisi dan kemudian terori untuk menjelaskannya. Ciptaan ini dalam ilmu pengetahuan disebut sebagai “alam”, yang oleh kitab kejadian dinyatakan “amat baik”. Alam semesta yang kita pahami sebagai sebuah ciptaan ini diwujudkan oleh Tuhan karena kasih-Nya dan demi suatu tujuan, yaitu tujuan yang ditetapkan ilahi. Orang-orang Kristen akan menambahkan bahwa karena Tuhan begitu mencintai alam semesta ini, Tuhan berinkarnasi dalam diri Yesus Kristus dan benar-benar mengalami kehidupan fisik yang fana dan berada disisi kita dalam hubunngan pencipta-pencipta. (Yoh 3: 16).

Berikut ini adalah makna penting pemahaman akan dunia alam sebagai ciptaan Tuhan: semakin berkembangnya pengetahuan kita tentang dunia alam melaui penelitian ilmiah, berpotensi meningkatkan penghargaan kita akan karya kreatif Tuhan. Atau lebih tegasnya lagi setiap kebenaran yang kita pelajari dari dunia alam jika memang suatu kebenaran dan bukan sesuatu yang salah tidak boleh menjadi ancaman terhadap pengetahuan tentang Tuhan atau rasa syukur kita kepada Tuhan. Bahkan, pengetahuan ini bisa meningkatkan penghargaan kita kepada Tuhan. Ilmu pengetahuan dan teologi dalam kondisinya yang terbaik terus berupaya mencari kebenaran dan hanya merasa tenang jika merasa yakin bahwa ia bersandar pada kebenaran.

KESESUAIAN HIPOTESIS

Pemikiran tersebut mendorong saya untuk mengusulkan sebuah metode untuk memahami interaksi antara ilmu pengetahuan dan iman yang berbeda dari model perperangan. Saya sebut alternatif yang saya usulkan sebagai kesesuaian hipotetis. Jika ada Tuhan dan satu ciptaan, yang dipelajari para ahli ilmu alam adalah alam semesta yang sama dengan Tuhan ciptakan. Maka, dalam jangka panjang, kita harapkan pengetahuan yang kita peroleh dari penelitian empiris dan pengetahuan yang kita peroleh dari pewahyuan khusus akan berkesesuaian satu sama lain.

Istilah “sesuai” mendorong kita untuk mencari wilayah-wilayah korespondensi, koneksi, atau kompatibiltas antara ciptaan Tuhan menurut para teolog dan pernyataan para ilmuwan tentang alam, kesesuaian ini tampil dalam dua bentuk, yaitu bentuk lemah dan bentuk kuat. “Kesesuaian” bentuk kuat menuntut adanya kesepakatan penuh atau keselarasan menyeluruh antara pengetahuan ilmiah dan pewahyuan khusus. Menurut saya, dalam hal ini kita tidak bisa menuntut banyak dari dialog antardisiplin sekarng ini. Secara realistis, “kesesuaian” dalam pengertiannya yang lebih lunak atau lemah sudah cukup demi sebuah diskusi yang membuahkan hasil. Dalam pengertian kedua ini, kesesuaian berfungsi sebagai sebuah hipotetis awal untuk mengarahkan perhatian kita dalam rangka mencari kemungkinan koneksi, hubungan tumpang-tindih (overlap), dan dukungan satu sama lain. Kesesuaian hipotetis bukanlah sesuatu yang sudah kita miliki; sebaliknya, itu adalah sebuah agenda yang perlu kita upayakan sehingga suasana perperangan bisa kita hindari.

Pada bagian-bagian berikut, akan saya tinjau terlebih dahulu sejumlah model agar kita mendapatkan pemahaman mengenai hubungan antara ilmu pengetahuan dan teologi. Saya akan bagi model-model ini menjadi dua kategori, yaitu model perang dan model non perang. Dalam kategori kedua, akan saya usulkan kepada para pemikir untuk mepertimbangkan secara lebih serius untuk mengunakan pendekatan kesesuaian hipotetis. Pendekatan ini juga memiliki keuntungan sampingan tambahan. Jika setiap tradisi agama, baik itu Islam mapun Kristen, bisa mengambil keuntungan dari upaya memupuk hubungan yang lebih sehat dengan ilmu-ilmu alam, kedua tradisi ini bisa pula berpeluang menjalin hubungan yang lebih sehat satu sama lain. Prinsip kesesuaian hipotetis ini juga bisa bermanfaat bagi dialog Islam-Kristen.

Sementara itu, marilah kita sejenak tinjau 9 cara menghubungkan ilmu pengetahuan dengan perenungan teologis. Yang termasuk dalam 5 model-perang adalah saintisme, imperialisme ilmiah, otoritarianisme gerejawi, kreasionisme, dan argumen rancangan yang cerdas (intelligent design). Yang termasuk di dalam 4 model non perang adalah teori dua-bahasa, kesesuaian hipotetis, kebertumpangtindihan etis dan spritualitas New Age. Sebagian besar, tetapi tidak semua, contoh saya ambilkan dari pola-pola yang sudah ada pada teologi Kristen dan spritualitas Barat. Saya tawarkan daftar ini hanya sebagai saran, dengan kesadaran bahwa model-model tambahan bisa juga diambil dari Dunia Islam.

MODEL PERANG

Selama perperangan antara ilmu pengetahuan dan agama masih bekobar, dalam kubu ilmu pengetahuan bisa kita lihat ada dua jenis bala tentara. Kesamaan dari dua bala tentara ini adalah mereka semua mengibarkan panji-panji reduksionisme dan materialisme, yang berarti bahwa semua yang kita ketahui tentang kenyataan bisa direduksi ke bahan-bahan dasar materill dan bahwa ilmu pengetahuan adalah satu-satunya penjaga gerbang menuju pengetahuan ini. Para kritkus menunjukkan bahwa terjadi ekspansi pengetahuan ilmiah menjadi sebuah filsafat materialistis, sebuah pandangan dunia yang telah melangkah melampaui apa-apa yang bisa dijustifikasikan oleh pengetahuan mengenai dunia fisik.

SAINTISME

Kubu pertama adalah saintisme. Tujuan agresif dari saintisme kadang-kadang disebut sebagai “naturalisme”, “materialisme ilmiah”, “humanisme sekuler”, atau bahkan “ateisme” adalah mengobarkan perperangan melawan agama, dengan menyatakan kemenangan mutlaknya terhadap kekuatan takhayul, dogma, dan ilmu pengetahuan semu, seperti “isme-isme” lainnya, saintisme adalah sebuah ideologi. Ideologi ini dibangun berdasar sebuah asumsi bahwa ilmu bisa memberikan pengetahuan mengenai segala sesuatu yang ingin kita ketahui. Hanya ada satu realitas, yaitu yang alami, dan ilmu pengetahuan semu belaka yaitu kesan palsu mengenai khyalan yang tidak pernah ada. Maka, “saintisme adalah sebuah agama sekuler, dalam pengertian bahwa ia menimbulkan komitmen untuk setia (sejenis iman) pada suatu metode, suatu wacana pengetahuan, dan suatu harapan untuk mendapatkan masa depan yang lebih baik”.

IMPERIALISME ILMIAH

Barisan kedua dalam bala tentara yang sedang bergerak maju ini adalah imperialisme ilmiah. Tujuan militer dari imperialisme ilmiah sedikit berbeda dengan saintisme. Alih-alih menyingkirkan musuh religiusnya, imperialisme ilmiah berupaya untuk menaklukan wilayah yang secara formal dikuasi teologi dan mengklaimnya sebagai wilayah kekuasaanya. Barisan ini berasumsi bahwa ilmu pengetahuan lebih mampu memberikan penjelasan tentang agama dari pada agama sendiri. Pada umunya, teologi adalah agama yang sedang dalam modus refleksi diri dan teologi menjelaskan landasan-landasan teologi. Dalam kasus imperialisme ilmiah, ilmu pengetahuan mengambil alih peranan teologi.

Satu contoh yang baik adalah para sosiobiolog, karena mereka beranggapan bahwa mereka bisa mereduksikan klaim transenden tentang intuisi religius ke proses-proses materill yang bekerja dalam evolusi manusi. E. O. Wilson menulis “iman yang buta, betapapun diungkapkan dengan sepenuh hati, tidak akan mencukupi. Tanpa kenal lelah, ilmu pengetahuan akan menguji setiap asumsi mengenai kondisi manusi. Pada saatnya nanti, ia akan mengunkap landasan semua sentimen moral dan religius. Saya yakin bahwa hasil akhir dari persaingan dua pandangan dunia ini adalah sekularisasi sejarah manusia dan agama itu sendiri”.

Jika saintisme bersifat ateistik, maka imperialisme ilmiah mungkin megakui adanya sesuatu yang bersifat ilahiah. Yang menjadi permasalahan adalah klaim imperialisme ilmiah bahwa pengetahuan tentang ilahi datang dari penelitian ilmiah, alih-alih dari perwahyuan religius. Fisikawan Paul Davies merupakan pelopor pandangan ini: “sebenarnya, ilmu pengetahuan telah berkembang sedemikian rupa sehingga hal-hal yang dulunya merupakan pertanyaan-pertanyaan religius bisa dibahas secara serius…. (oleh) ilmu fisika yang baru……………………….” Yang Devies lakukan adalah menunjukkan bagaimana bidang fisika telah mentransendensikan dirinya dan membukakan bagi kita jalan ke arah realitaas ilahi. Dia menulis “saya menjadi anggota kelompok ilmuwan yang tidak mnganut satu agama konvensional tertentu. Walaupun demikian, kami menolak pandangan bahwa alam semesta ini adalah peristiwa kebetulan yang tidak bertujuan….. Menurut saya, pasti ada penjelasan yang lebih mendalam. Kalau ada yang ingin memanggil tingkatan yang lebih mendalam itu sebagai ‘Tuhan’, itu hanyalah masalah selera dan definisi.

OTORITARIANISME GEREJAWI

Masih dalam model perang, untuk meninjau bala tentara jenis ketiga, kita beralih pada pihak yang berseberangan dengan kedua  barisan yang telah kita bahas. Saat orang-orang katholik Roma memasuki kancah perperangan ini, senjata utama mereka adalah otoritarianisme Gerejawi, ini adalah sebuah taktik pembelaan diri abad ke-19, dan bukan merupakan karakteristik zaman kita. Saat itu, Vatikan memandang ilmu pengetahuan dan saintisme sebagai sebuah ancaman. Dengan mengganut metode dua-langkah untuk menuju kebenaran, yaitu nalar alamiah dikuti dengan pewahyuan ilahi, dogma teologis dianugrahi otoritas atas ilmu pengetahuan, dengan alasan bahwa dogma teologis didasarkan pada pewahyuan yang datang dari Tuhan. Pada 1864, Paus Pius lX mengumumkan The Syllabus of Errors. Pada butir ke-57, dinyatakan bahwa merupakan sebuah kesalahan jika orang berfikir bahwa ilmu pengetahuan dan filsafat bisa bebas dari otoritas gerejawi. Satu abad kemudian, Konsili kedua Vatikan menghapuskan sikap ini dengan menyatakan bahwa ilmu pengetahuan alam bebas dari otoritas gerejawi dan menyebut ilmu ini sebagai disiplin dan bersifat “ontonom” (Gaudium et Spes: 59). Paus Yohanes Paulus ll, yang sangat serius berniat memupuk dialog antara teologi dan ilmu pengetahuan alam, melakukan negosiasi bagi pulihnya perdamaian antara iman dan nalar.

KREASIONISME ILMIAH DAN RANCANGAN CERDAS

Dalam lingkungan Prostestan Evangelis dan fundamentalis di Amerika, berlangsung sebuah peperangan. Apakah berupa peperangan antara ilmu pengetahuan dan iman? Bukan, meskipun tampaknya seperti itu. Ada dua bala tentara religius yang sedang bergerak maju: argumentasi kreasionisme ilmiah dan rancangan cerdas. Argumentasi pertama lebih banyak dikenal daripada yang kedua. Keduanya menyerang teori evolusi Darwin, tetapi senjata yang mereka pakai untuk melakukan serangan adalah senjata ilmiah bukan senjata religius.

Kadang-kadang disebut sebagai “sains-penciptaan” (creation science), kreasionisme bukanlah versi prostestan dari otoritarianisme gereja, meskipun sering disalahartikan demikian. Bisa dipastikan bahwa nenek moyang dari kreasionisme ilmiah masa kini adalah kaum fundamentalis era 1920-an. Akan tetapi, terdapat perbedaan yang cukup jelas antara otoritarianisme fundamentalis dan sains penciptaan kontemporer. Para ilmuwan creation masa kini bersedia memperdebatkan pandangan mereka dalam wilayah ilmu pengetahuan, bukan dalam wilayah yang menjadi otoritas biblikal. Mereka beranggapan bahwa kebenaran biblikal dan kebenaran ilmiah berada dalam wilayah yang sama. Bilamana terjadi pertentangan antara sebuah pernyataan ilmiah dan sebuah pernyataan religius, kita bisa melihatnya sebagai pertentangan dua teori ilmiah. Akan tetapi, menurut para penganut kreasionisme, ini tidak berlaku dalam kasus ini. Mereka berpendapat bahwa kitab kejadian itu sendiri adalah sebuah teori yang menunjukan kepada kita bagaimana dunia ini diciptakan secara fisik: Tuhan menetapkan jenis-jenis (spesies) organisme pada saat penciptaan. Semua spesies ini tidak mengalami evolusi. Para ilmuwan penganut pandangan ini berpendapat bahwa fakta-fakta geologis dan biologis membuktikan kebenaran biblikal.

Oleh karena komitmen teologis mereka, para penganut kreasionis ilmiah biasanya menyakini: (1) diciptakannya dunia dari ketiadaan; (2) mutasi dan seleksi alam tidak mencukupi untuk menjelaskan proses evolusi; (3) stabilnya spesies yang sudah ada dan kemustahilan sebuah spesies berevolusi menjadi spesies lain; (4) nenek moyang kera tidak sama dengan nenek moyang manusia; (5) peristiwa bencana alam dapat menjelaskan formasi geologis tertentu, misalnya banjir besar untuk menjelaskan mengapa fosil-fosil binatang laut ditemukan di gunung-gunung; dan (6) bumi kita terbentuk baru sekitar enam sampai sepuluh ribu tahun yang lalu (paling tidak, para kreasionis menyakini bumi masih berusia muda).

Satu kekuatan baru yang terlibat di dalam perperangan ini adalah rancangan cerdas (intelligent design), yang untuk selanjutnya kita sebut RC. Di antara kedua kubu yang sudah bertempur, kreasionisme ilmiah di kanan dan evolusionisme neo Darwinlah di kiri, rancangan cerdas memasuki kancah perperangan dari tengah. Di sini, penting untuk menghindari kesalahan yang berulang-ulang dilakukan media dan organisasi-organisasi ilmiah yang mengatakan RC hanyalah varian lain dari kreasionisme, karena sebenarnya tidak demikian hal nya. Aliran kreasionis menolak evolusi makro mereka menolak adanya perkembangan evolisoner dari satu spesies menjadi spesies lainnya. Aliran ini menerima evolusi mikro mereka menerima adanya jenis mutasi dan seleksi alam yang bisa kita saksikan dalam eksperimen menganakan lalat buah di laboratorium. Komitmen teologi kaum kreasionis adalah: Tuhan menciptakan setiap spesies sebagai indenpenden terhadap sesamanya pada saat penciptaan. Sebaliknya komitmen teologis dari mazhab RC adalah bahwa perkembangan evolusi itu dirancang oleh satu perancang yang transender. Penciptaan seperti ini memungkinkan adanya evolusi makro, meskipun tidak secara niscaya membutuhkannya.

Di sisi lain medan peperangan ini, kita temui para pembela teori evolusi neo-Darwinian. Para pendukung teori Darwinian ini menyakini adanya evolusi makro dan mikro. Lebih jauh, mereka berpendapat bahwa proses panjang perubahan dan perkembangan spesies semata-mata ditimbulkan oleh peristiwa yang bersifat acak dan kebetulan. Tidak ada tujuan ataupun intervensi supranatural yang merekayasa berlangsungnya proses evolusi ini. Aliran Darwinian ini menolak adanya sejenis telo, arah, atau kemajuan. Seleksi alam dan semua konsekuensinya sudah memberikan penjelasan yang lengkap dan menyeluruh tentang gerak langkah evolusi.

Diantara aliran kreasionis dan evolusionis, masuklah kekuatan RC. Tokoh-tokoh kuncinya adalah ahli biologi Michael Behe, ahli hukum Philip Johson, filosof Alvin Plantinga, dan ahli matematika Wiliam Dembski. Sembari mengakui adanya evolusi makro dan mikro, RC menambahkan konsep rancangan cerdas ke dalam evolusi. Di sini, kata kunci yang pertama adalah “kompleksitas yang tidak bisa direduksi”, yang berarti bahwa bentuk-bentuk kehidupan yang muncul tidak bisa direduksikan ke dalam peristiwa-peristiwa alami yang bersifat acak. Semua ini pastilah terancang. Jika dirancang, pasti ada perancangnya. Kata kunci yang kedua adalah “informasi”. Informasi adalah sebuah realitas ketiga di samping materi dan energi; dan informasi di alam semesta hanya bisa datang dari pikiran, suatu pikiran ilahi. Penjelasan materialistik terhadap evolusi dianggap tidak mencukupi.

Baik kelompok kreasionis maupun RC melihat diri mereka sebagai para petarung dalam peperangan untuk memenangi psyche kultural modern. Ini bukan sebuah wacana “menara gading” atau diskusi laboratorium tentang hal-hal mendetail dalam teori evolusi. Ini adalah sebuah pertarungan untuk menetukan apakah nilai-nilai sosial dan pemahaman manusia akan diri mereka sendiri akan diturunkan menjadi tingkat hewani semata, yang hanya mengenal prinsip survival of the fittest; kemampuan bertahan hidup hanya bergantung pada upaya mengalahkan, menghancurkan, dan melahap. Dalam pertarungan ini, yang dipertaruhkan lebih dari sekedar sebuah diskusi teoritis dalam dialog  antara iman dan agama. Di sini tidak ad dialog yang hanya ada hanyalah perperangan.

MODEL NON-PERANG: TEORI DUA BAHASA UNTUK MEREDAKAN KETEGANGAN

Saat kita beralih dari model-perang ke model-nonperang, upaya pertama yang kita temukan dari empat upaya untuk mewujudkan perdamaian sains-agama adalah sebentuk peredaan ketegangan: teori dua-bahasa. Teori ini adalah sebentuk gencatan senjata karena ia mengakui wilayah kedaulatan dari ilmu pengetahuan dan teologi, dan juga karena diusulkan oleh orang-orang yang sangat terhormat dalam kedua wilayah tersebut. Albert Eistein yang dikenang karena upayanya, “ilmu pengetahuan tanpa agama akan lumpuh dan agama tanpa ilmu pengetahuan akan menjadi buta” membedakan bahasa fakta dengan bahasa nilai. Dia pernah mengatakan di Princeton bahwa, “imu hanya memberikan kepastian mengenai apa yang ada, bukan mengenai apa yang seharusnya. Di sisi lain, agama hanya berurusan dengan penilaian terhadap tindakan dan pikiran manusia. ” Perhatikan pemakaian kata “hanya” di sini. Setiap bahasa terbatas hanya pada wilayahnya sendiri.

Belum lama ini, National Academy of Sciences Amerika Serikat mengeluarkan sebuah pernyataan resmi; “agama dan ilmu pengetahuan merupakan dua ranah pemikiran manusia yang terpisah dan ekslusif satu sama lain. Upaya mempresentasikan keduanya dalam konteks yang sama akan berujung pada penyalah pahaman teori ilmiah dan keyakinan religius”. Perhatikan penekanan: “terpisah dan ekslusif satu sama lain”.

Saat naskah ini sedang ditulis, presiden Amerika Association for the Advencemet of Science, yaitu antropolog Stephan Jay Gould, mendukung pandangan dua-bahasa ini. Saat menaggapi pernyataan Paus Yohanes ll tentang evolusi, Gould berpendapat bahwa ilmu pengetahuan dan agama tidak perlu berada dalam posisi bertentangan, karena yang diajarkan keduanya menduduki wilayah yang berbeda. Magisteria (otoritas penegtahuan) mereka “tidak saling bertumpang tindih”.

Ucapan-ucapan para ilmuwan ini diulangi oleh para teolog. Sudah sejak lama teolog neo-ortodoks Langdon Gilkey berpegang pada pendekatan dua-bahasa ini. Dia mengatakan bahwa ilmu pengetahuan hanya membahas pengetahuan objektif atau umum mengenai asal-usul yang tidak terlalu jauh, sedangkan agama dan artikulasi teologinsnya membahas pengetahuan eksitensial atau personal mengenai asal-usul yang bersifat ultimat. Ilmu pengetahuan bertanya “bagaimana”, sedangkan agama bertanya “mengapa”. Tentu saja, yang diinginkan Gilkey adalah orang mampu menjadi penduduk dua wilayah, artinya mampu merangkul iman kristen dan metode ilmiah tanpa mengalami konflik. Berbicara dalam dua bahasa berarti harus memiliki dua bahasa (bilingual), dan para intelektual yang memiliki dua bahasa bisa bekerja dalam dua wilayah ini dengan damai.

Teori dua bahasa modern mengenai hubugan antara ilmu penegtahuan dan teologi tidak boleh dikacaukan dengan prinsip “dua kitab” pramoden. Pada abad pertengahan, pewahyuan Tuhan bisa dibaca dari dua buah kitab, kitab alam dan kitab suci. Baik ilmu pegetahuan maupun teologi bisa membicarakan hal-hal yang ilahi. Baik pewahyuan alamiah maupun pewahyuan khusus membawa kita ke dua arah yang berbeda: menuju Tuhan atau menuju dunia.

Teori dua bahasa memunculkan satu masalah. Teori ini menghasilkan perdamaian melalui pepisahan, dengan membentuk sebuah daerah demiliterisasi yang tidak mengizinkan adanya komunikasi. jika pada suatu ketika seorang ilmuwan ingin berbicara tentang  hal-hal yang bersifat ilmiah atau seorang teolog ingin berbicara tentang dunia  nyata yang diciptakan Tuhan, kedua orang ini akan berbicara dengan mengabaikan satu sama lain. Ini karena mereka mengangap bahwa mereka tidak akan bisa mencapai pemahaman bersama. Mengapa harus dimulai dengan anggapan semacam itu? Metode kesuaian hipotetis memiliki asumsi yang sepenuhnya bertolak belakang, yaitu bahwa sebernarnya hanya ada satu realitis dan cepat atau lambat, para ilmuwan dan teolog pasti akan menemukan wilayah-wilayah pemahaman bersama.

KESESUAIAN HIPOTESIS

Seperti yang sebutkan diatas, kesesuaian hipotetis adalah istilah yang saya berikan untuk upaya negosiasi yang membawa teori dua-bahasa melampaui situasi gencatan senjata menuju kerja sama yang lebih utuh. Istilah “kesesuaian’ (consonance) yang berasal dari karya Eman McMullin, menunjukkan bahwa kita sedang mencari wilayah-wilayah tempat berlangsungnya korespondensi antara hal-hal tentang dunia alam yang bisa dibicarakan secara ilmiah dan pada hal-hal yang menurut para teolog adalah ciptaan Tuhan.  “Kesesuaian” dalam pengertiannya yang ketat berarti kesepakatan (accord) atau keselarasan (harmoni). kesepakatan atau keselarasan mungkin adalah harta yang ingin kita dapat, tetapi sayangnya kita belum menemukannya. Kita sedang berada dalam tahap kesesuaian dalam pengertian yang longgar yaitu dengan mengidentifikasikan bidang-bidang tempat munculnya pertanyaan bersama. Kemajuan dalam fisika, khususnya ternodinamika dan teori kuantum dalam hubungannya dengan kosmologi Dentuman besar, dengan cara tersendiri mebangkitakn pertanyaan mengenai realitis transenden. Seperti yang telah diperlihatkan Paul Davies , pertanyaan tentang Tuhan bisa diajukan secara jujur dari penalaran ilmiah. Sekarang para teolog dan ilmuwan bisa berbagi bidang kajian yang sama, dan gagasan tentang kesesuaian hipotetis mendorong kerja sama lebih lanjut.

Teolog Mark William Worthing menantang kita untuk bertangung jawab secara teologis dengan meninjau hal-hal yang dikatakan ilmu pengetahuan tentang dunia: dunia yang kita yakini ciptakan dan diberkahi keselamatan oleh Tuhan, “Teologi….bertangung jawab untuk menunjukkan seberapa jauh, dan dengan cara apa

Iman kristen sesuai dengan ksomologi yang bisa jadi merupakan uraian yang akurat tentang alam semesta. ”Teolog dari Princeton, Wentzel Van Huyssteen, mengatakannya dengan cara lain: “sebagai orang-orang Kristen, kita harus memikirakan dengan serius teori-teori fisika dan kosmologi: bukan untuk memanfaatkan atau mengubahnya, melainkan untuk mendapatkan berbagai penafsiran yang memberikan gambaran tentang berbagai bentuk kesesuaian yang bisa melengkapi sudut pandang Kristen. ”

Kesesuaian hipotetis mengajak para teolog untuk melihat dogma yang mereka anut secara tidak dogmatis. Alih-alih berangkat dari posisi kebenaran yang tidak bisa digangu gugat, istilah “hipotetis” mengajak para teolog untuk meneliti lebih jauh pernyataan-pernyataan mereka sendiri, sehingga pemikiran mereka bisa ditetapkan sebagai benar atau salah. Sikap terbuka untuk mau mempelajari hal baru, baik pada pihak teolog maupun pihak ilmuwan, sangat penting bagi gagasan kesesuaian hipotetis agar kita bisa terus bergerak maju.

Menurut saya, paling tidak dalam waktu tidak terlalu lama lagi, model kesesuaian hipotetis akan mengahasilkan dialog antara ilmu pengetahuan alam dan teologi kristen. Para ilmuwan sudah menyadari keterbatasan metode-metode reduksionistik dan mulai meninjau pertanyaan-pernyataan yang lebih mendalam mengenai  hakikat alam dan makna dari semua hal yang dianggap nyata. Para teolog mendapat kepercayaan untuk secara bertangung jawab membicarakan dunia alam yang kita klaim sebagai sebuah karya dari Sang Pencipta; dan ilmu alam telah menunjukkan kemampuanya untuk meningkatkan pengetahuan kita tentangb dunia yang mengagumkan ini. Jika Tuhan adalah sang pencipta, sangat pantas jika kita berharap bahwa pemahaman kita tentang Tuhan akan meningkat sejalan dengan bertambahnya ilmu penegtahuan kita tentang ciptaan-Nya. Demikian pula sebaliknya: jika dunia ini adalah ciptaan, kita semestinya menyadari bahwa dunia ini tidak akan dapat sepenuhnya dipahami tanpa rujukan kepada penciptanya.

TITIK TEMU ETIS

Ketujuh model di atas meletakkan ilmu pengetahuan dan teologi dalam hubungan-langsung (direct relationship) atau pertentangan-langsung (direct opposition). Selain model-model itu, paling tidak terdapat pula dua jalan yang secara tidak langsung menghubungkan mereka. Yang pertama adalah titik temu etis yaitu bahwa para teolog memerlukan para ilmuwan agar mereka memiliki kredibilitas dalam membahas permasalahan-permasalahan yang ditimbulkan oleh masyarakat indutri dan teknologi, berkenaan dengan kelangsungan hidup manusia. Selain itu yang lebih mendesak lagi para teolog perlu bersuara tentang permasalahan etis yang timbul dari krisis lingkungan dan kebutuhan untuk merancang masa depan jangka-panjang planet kita. Tantangan ekologis muncul dari krisis ledakan penduduk: proses produksi pertanian dan industri yang menghabiskan sumber daya alam yang tidak bisa diperbarui sekaligus menyebabkan pencemaran udara, tanah, dan air: semakin melebarnya kesenjangan antara orang kaya dan orang miskin di seluruh dunia; dan hilangnya rasa tangung jawab terhadap kesejahteraan generasi mendatang. Teknologi modern banyak bertangung jawab atas terjadinya krisis ekologi ini dan para teolog bersama dengan kaum moralis sekuler berjuang keras untuk meraih kendali etis atas kekuatan-kekuatan teknologi dan ekonomi, yang jika dibiarkan akan membawa kita kehancuran.

Bila dipastikan bahwa kita dapat menerima kesesuaian hipotetis sekaligus titik temu etis. Pada akar-akarnya, krisis ekologis menimbulkan masalah spritual, terutama berupa jerit pilu peradaban dunia yang membutuhkan sebuah visi etis. Sebuah visi etis tentang sebuah masyarakat yang adil dan berkelanjutan, yang hidup selaras dengan lingkungannya dan berdamai dengan dirinya sendiri sangat penting dalam upaya merancang masa depan dan memberi motivasi kepada manusia di seluruh dunia untuk melakukan tindakan yang bermanfaat. Pemikiran ekologis adalah pemikiran tentang masa depan. Logika nya mengikuti bentuk seperti ini: pemahaman-keputusan-pengendalian. Dengan memisahkan diri dari model ilmiah, secara implisit kita mengendalikan bahwa demi memecahkan krisis ekologi, kita perlu memahami kekuatan-kekuatan penghancur. Selanjutnya, kita perlu membuat keputusan dan mengambil tindakan yang memungkinkan kita mengendalikan masa depan kita dan membentuk sebuah ekonomi yang selaras dengan ekologi bumi kita.

SPIRITUALITAS NEW AGE

Agama Islam dan Kristen masing-masing telah berupaya untuk menciptakan iklim kerja sama di antara ilmu pengetahuan dan teologi. Akan tetapi, di dalam dunia yang kita diami ini, terdapat banyak tradisi lain dan semua tradisi ini sedang mengalami perubahan yang sangat cepat. Banyak konsep dan praktik spritual yang telah terlepas dari tradisi-tradisi yang melahirkan mereka. Sekarang, mereka berjalan sendiri di dalam dunia pluralisme berteknologi tinggi.

Disinilah kita jumpai spiritualitas New Age. Spiritualitas ini tidak tunduk pada suatu tradisi, kelompok etnis, dan negara tertentu. Seperti ilmu pengetahuan, aliran ini tidak tunduk pada ontodoksi teologis apa pun. Mereka tidak memiliki kelompok pendeta ataupun gereja. Meskipun demikian, New Age merupakan sebuah kekuatan religius yang cukup besar. Ide utama pemikiran New Age adalah holisme, yaitu upaya untuk mengatasi dualisme modern seperti pemisahan antara ilmu pengetahuan dan ruh, gagasan dan perasaan, laki-laki dan perempuan, kaya dan miskin, kemanusiaan dan alam. Ada tiga kelompok gagasan utama yang menjadi senjata aliran New Age: (1) penemuan di dalam fisika abad ke-20, khususnya teori kuantum; (2) pengakuan terhadap peranan penting imajinasi dalam pengetahuan manusia; dan (3) diakuinya tuntunan etis untuk menyelamatkan planet kita dari kehancuran ekologis.

Dalam kelompok fisikawan New Age, kita temui Fritjof Capra dan David Bohm yang mengabungkan mistisme Hindu dengan teori fisika. Sebagai contoh, David Bohm berpendapat bahwa tatanan segala sesuatu yang explicate (tersurat) yang kita anggap sebagai dunia alam dan yang kita pelajari di laboratorium, bukanlah realitas yang mendasar; di bawah dan baliknya terdapat sebuah tatanan implicate (tersirat), ranah keutuhan yang tidak tebagi-bagi. Seperti sebuah hologram, keutuhan tampil sepenuhnya pada bagian-bagian explicate. Menurut Bohm, pada dasarnya realitas adalah “keutuhan yang tak terbagi-bagi, dalam gerakan mengalir’.  Saat kita memusatkan perhatian pada pemahaman objektif atau perasaan subjektif, untuk sementara kita melupakan kesatuan yang mengikat bagian-bagian itu. Spritualitas New Age berupaya untuk memupuk kesadaran akan kesatuan yang mendasar dan terus-menerus berubah ini.

Pada sebuah artikel ilmu pengetahuan dan agama yang baru-baru ini di muat dalam Christian Century, kita bisa melihat penerapan holisme dan juga panteisme. Barbara Brown Taylor mnulis. “saat saya mengalami sebuah mimpi kuantum, pemandangan yang saya lihat lebih banyak berupa jaringan keterhubugan dari sebuah jaringan yang tak terbatas, terbentang seluas ruang angkasa laksana jala bersinar….Tuhan adalah jaringan….saya ingin menyatakan bahwa Tuhan adalah kebersatuan energi, kecerdasan, keindahan, dan hasrat yang membuat segala sesuatu bergerak”.

Di sini terjadilah pembentukan narasi. Beberapa teoretikus New age memasukan teori evolusi ke fisika dan khususnya ke kosmologi Dentuman Besar, dan kemudian mereka menciptakan sebuah kisah agung sebuah mitos tentang sejarah dan masa depan alam semesta yang didalamnya kita. Berdasarkan mitos agung ini, etika New Age berupaya menawarkan sebuah visi tentang masa depan yang akan memandu dan memotivasi tindakan yang diperlukan untuk memecahkan masalah-masalah ekologi. Dalam hal ini, ilmu pengetahuan tidak hanya memberikan landasan bagi titik temu etis, tetapi juga bagi pewahyuan religius yang mendasar, brian Swimme dan Thomas Berry mengungkapkan sebagai berikut:

Kesadaran baru kita akan alam semesta itu sendiri adalah sejenis yang alaman pewahyuan itu. Sekarang, kita sedang bergerak mengatasi ungkapan religius mana pun yang selama ini dikenal manusia, menuju sebuah zaman metareligius, yang tampaknya menjadi sebuah konteks baru yang komprehensif bagi semua agamaa….. Dunia alam itu sendiri meruapakan realitas yang utama, pendidik yang utama, pengatur yang utama, kehadiran kudus yang utama, nilai moral yang utama.

DARI MODEL MENUJU BANGUNAN TEOLOGIS

Kesembilan model diatas, baik yang mengobarkan peperangan maupun yang memperjuangkan perdamaian, hanyalah merupakan rancangan formal untuk menghubungkan atau memisahkan ilmu pengetahuan dengan pemikiran religius. Dari berbagai agenda yang  bisa kita ikuti, salah satu yang cukup penting adalah teologi konstruktif. Baik orang-orang Islam maupun orang Kristen memusatkan keimanan kepada Tuhan, keimanan yang berdasarkan perpaduan pewahyuan iilahi dan kesadaran bahwa misteri Tuhan tidak mungkin terselami. Pada tahun-tahun belakangan ini, para teolog Kristen telah mulai mengadopsi agenda penelitian yang didorong oleh kepedulian khas mereka. Banyak pemikir Kristen yang merasa bahwa mereka hanya bisa memenuhi panggilan jiwa sebagai teolog jika mereka mengupayakan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan ilmiah dengan penuh gairah dan kejujuran.

Di sini, saya ingin memberikan ulasan singkat mengenai bidang teologi sistematik Kristen, dengan menunjukkan beberapa titik temu yang muncul seiring dengan perekembangan mutakhir ilmu-ilmu alam. Tampaknya, titik-titik temu ini memberikan jalur-jalur penelitian yang bisa kita ikuti walaupun dalam sebagian besar kasus, upaya ini tidak membawa kita ke tujuan akhir. Sebagian ada yang membawa kita ke jalan buntu dan yang lainnya ke taman-taman yang sarat dengan buah-buah teologis yang baru.

TEOLOGI SISTEMATIS KRISTEN

Teologi sistematis dalam konteks kristen mengacu pada bidang perenungan yang bertugas mengartikulasikan doktri-doktrin keyakinan, khususnya dalam berhadapan dengan kultur kontemporer yang melingkunginya. Teolog ini bersifat sistematis karena dua alasan. Pertama, teologi ini melakukan ulasan sistematis atas keseluruhan komitmen keyakinan yang diajukan Kredo dan para Rasul dan Kredo Nicene. Kedua, teolog ini berupaya mencari koheresi; mencoba mengawinkan keyakinan doktirner dengan nalar filosofis. Menurut Santo Anselmus, teolog adalah “iman yang mencari pengertian”. Sekarang ini, teolog berupaya memahami keyakinan kristen dalam terang pengetahuan ilmiah mengenai dunia alam.

Dengan menggunakan model kesesuaian hipotetis, beberapa teolog Kristen telah siap untuk memulai eksplorasi dan penelitian. Rasa hormat yang memadai akan misteri Tuhan yang menjiwai pewahyuan autentik, kan memandu para teolog yang ingin menemukan cakrawala yang lebih luas dan pandangan yang meningkat sehubungan dengan cara baru yang semakin kompleks dalam memahami hubungan dunia dengan Tuhan Sang Pencipta.

Secara khusus, para teolog akan merumuskan berbagai pertanyaan yang muncul dari penafsiran biblikal dan komitmen doktriner yang sudah berlangsung selama berabd-abad. Dengan mengikuti dua kredo ekumenis, yaitu Kredo para Rasul dan Kredo Nicene, topik-topik atau pusat perhatian yang dipakai para teolog untuk mengarahkan penelaahan semcam itu biasanya muncul pada sederetan bidang sebagai berikut:

  1. Metodologi
  2. Tuhan dan penciptaan
  3. Antropologi
  4. Citra Tuhan (image dei)
  5. Dosa dan kejahatan
  6. Kristologi
  7. Pribadi Kristus: Kristologi
  8. Karya Kristus: Soteriologi
  9. Pneumatologi
  10. Eklesiologi
  11. Eskatologi
  12. Etika

Dalam “metodologi” ini, para teolog Kristen menyertakan pula pertanyaan epistemologis yang terkait dengan pengetahuan Tuhan melalui pewahyuan dan hubungan kita dengan Tuhan memlalui iman. Selama empat dasawarsa terakhir ini, metodologi teologi mendapatkan gairah baru oleh filsafat ilmu. Dalam bidang ini, relativitas pengetahuan ilmiah menjadi sangat populer dan diakui pula bahwa ilmu pun bekerja menggunakan keyakinan. Ilmu pengetahuan menyakini bahwa dunia yang dipelajarinya bersifat rasional: dunia tersebut terorganisasi secara sistematis. Ilmu pengetahuan berkeyakinan pula bahwa pikiran manusia bersifat rsional dan, dengan demikian, bisa memahami dunia disekelilingya. Oleh karena itu, baik ilmu pengetahuan maupun teologi ternyata memiliki struktur yang sama, yaitu keduanya berangkat dari keyakinan, bergerak menuju perenungan atas keyakinan itu, dan akhirnya sampai pada pemahaman yang lebih mendalam.

Hubungan Tuhan dengan ciptaan dinyatakan oleh para teolog Kristen sebagai masalah-masalah “pasal pertama”. Salah satu wilayah diskusi yang paling menarik dalam dua dasawarsa terakhir ini adalah masalah campur tangan illahi di dalam alam. Pertanyaan ini diajukan para teolog saat berdialog dengan para fisikawan mengenai fisika  kuantum, relativitas, chaos, kompleksitas, serta kosmologi Dentuman Besar. Apakah eksistensi dunia alam ini sudah jelas dengan sendirinya, ataukah memerlukan satu rujukan pada suatu asal yang bersifat transenden? Bagaimanakah seharusnya kita memikirkan tindakan ilahi di dalam alam, apakah dalam pengertian intervensionis atau nontervensionis? Jika pada aras kuantum proses-proses fisis berlangsung tidak menetu, haruskah kita berpikir bahwa dalam menjalankan kehendak-Nya, Tuhan bertindak secara nonintervensionis?

Masih dalam “pasal pertama” , masalah yang terkait dengan astropologi juga menarik benyak perhatian. Dalam ilmu pengetahuan, pembahasan di sekitar prinsip Antropik telah membangkitkan masalah yang menjadi perhatian para teolog: apakah sejarah alam semesta memang dirancang untuk menyediakan tempat bagi kehidupan manusia? Masalah tentang tujuan alam semesta sangatlah menonjol dalam dialog dengan biologi evolusioner: berdasarkan seleksi alam yang tampaknya tak bertujuan, apakah kita punya dasar untuk memostulatkan adanya rancangan llahi pada evolusi manusia? Dengan mengaitkan kemajuan kreatif dalam evolusi dengan kreativitas manusia, apakah kita bisa menerapkan imago dei (citra llhai) sedemikian hingga kita bisa mendifinisikan umat manusia sebagai “ciptaan yang ikut menciptakan”?

Masalah utama dalam antropologi adalah pertanyaan-pertanyaan yang muncul dari determinisme biologis. Dalam neurosains, biolog dari otak tampak semakin menentang pemahaman tradisional tentang diri dan ruh. Ada dua bentuk deteminisme yang menganjurkan tantangan; determinisme boneka (pippet determinism) yang berpandangan bahwa DNA mengatur gerak seluruh organisme manusia sebagaimana dalang mengerakkan boneka tali, dan determinime promethean  yang menghimbau kita agar meminta para ahli biologi molekuler mengubah DNA manusia sedemikian rupa sehingga seluruh umat manusia bisa dikendalikan masa depan evolusi mereka. Determinisme yang terakhir ini, prometheanisme, membangkitkan seruan kultural “janganlah engkau berlagak menjadi Tuhan!” Tantangan dari determinisme biologis memaksa para teolog para teolog untuk memikirkan ulang konsep-konsep mereka tentang dosa dan kebebasan.

Kristologi termasuk dalam pasal kedua. Istilah “kristologi” bisa merujuk ke dua hal. Pertama, sebagai sebuah istilah yang merangkum segalanya, kristologi terkait dengan segala sesuatu yang dibahas seorang teolog Kristen tentang Yesus Kristus. Kedua, lebih spesifik lagi, kristologi terkait dengan pribadi Kristus yaitu bahwa sifat-sifat llahi dan manusiawi tergabung dalam satu pribadi. Istilah yang berdekatan dengannya, yaitu “soteriologi” , terkait dengan karya kristus demi keselamatan manusia. Sampai sekarang, dalam dialog ilmu pengetahuan agama, isu ini tidak terlalu banyak dibahas. Beberapa ilmuwan telah mencoba melibatkan sosiobiologi dengan teori seleksi alam tentang “gen yang egois” (selfish gene), dan mempertanyakan apakah Yesus, yang memberikan penekanan pada kasih yang tidak egois (agape), sesuai dengan altruisme kepada sesama. Apakah Yesus menandakan kemajuan evolusi?

Melalui pneumatologi, kita bergerak ke teologi pasal ketiga, yaitu Roh Kudus. Tampak bahwa sampai sekarang, dari ilmu pengetahuan tidak terlalu banyak yang relevan dengan hal ini. Beberapa teolog mengajukan pengertian bahwa karya Roh Tuhan di dunia bisa dibandingkan dengan suatu medan gaya. Nonlokalitas dan aksi dari suatu jarak dalam teori medan kuantum menarik perhatian para teolog. Apakah kita perlu memikirkan Roh kudus sebagai sebuah medan gaya, bahkan secara harfiah sebagai sebuah medan gaya yang aktif dalam hubungan-hubungan kasual yang alami?

Eklesiologi dan eskatologi juga menjadi bagian pasal ketiga ini, dan eklesiologi hampir sama sekali diabaikan oleh para teolog yang berminat pada ilmu pengetahuan. Hanya baru-baru ini mereka tertarik pada eklesiologi, disebabkan dua alasan. Pertama, par ahli kosmologi memprediksikan masa depan alam semesta yang tidak bersesuaian dengan simbol-simbol penciptaan baru menurut ajaran Kristen. Dengan mempertimbangkan hukum entropi dan prediksi akan terjadinya heat death kosmik sekitar 65 miliar tahun yang akan datang, para ilmuwan berpandangan bahwa alam semesta kita memiliki masa depan yang terbatas dan berakhir dengan kehancuran. Bukankah ini tidak sesuai dengan jani-janji Kristen tentang penebusan, transformasi, dan pembaruan?  Kedua, perdebatan tentang penjelasan ilmiah atas makna kebangkitan dari kematian. Bisakah kita membayangkan secara konseptual, seperti apakah kehidupan terbatas yang tidak mengalami kematian?

KESIMPULAN

Ada dua dorongan yang memandu teologi Kristen, dorongan-dorongan yang mungkin juga dirasakan para pemikir Islam. Yang pertama adalah dorongan yang bersifat inheren dalam iman untuk mendapatkan pemahaman lebih mendalam. Pastilah bahwa iman didasarkan atas pewahyuan; tetapi, dengan menghargai misteri yang melingkupi Tuhan pencipta kita, iman berupaya keras untuk mendapatkan pemahaman lebih lanjut mengenai hubungan yang rumit antara pencipta dan ciptaan-Nya. Dalam dunia modern, secara dramatis ilmu pengetahuan telah menunjukkan kemampuannya untuk melakukan penelitian yang progresif, yang menghasilkan kegairahan baru yang luar biasa akan pengetahuan baru. Penghargaan yang tinggi terhadap keajaiban alam yang dimungkinkan oleh ilmu pengetahuan itu sendiri merupakan sebuah peristiwa Roh Tuhan di dalam jiwa manusia.

Dorongan kedau adalah dorongan untuk menuju kebenaran. Tuhan adalah realitas ultimat. Kebenaran tentang apa pun pada akhirnya juga benar dalam kaitannya dengan Tuhan. Iman kita tidak bisa membangkitkan keyakinan apabila kita tidak meyakini kebenarannya. Karena adanya komitmen teologis yang biarpun sangat vital tetapi implisit terhadap kebenaran ini, bagi pemikiran teologis, penelititan ilmiah memiliki daya tarik bawaan. Dalam bentuk terbaiknya pula, teologi seharusnya menemukan rekan dalam laboratoriumnya.

Walaupun tampaknya ada perperangan di beberapa medang pertemuan, sebuah iman yang berupaya mendapatkan pemahaman seharusnya juga mencari perdamaian antara ilmu dan teknologi. Lebih daripad sekedar perjuangan ntuk mendapatkan dominasi intelektual, upaya pencarian kebenaran mendorong kita memasang mata kita untuk mencari merpati perdamaian di cakrawala.

Tinggalkan Balasan

Close Menu