IKHWĀN AS-SAFĀ

IKHWĀN AS-SAFĀ

Ikhwān As-Safā (secara harfiah berarti Persaudaraan Mumi) adalah sebuah komunitas esoteris yang muncul di Basyrah (Irak) pada abad ke-10 dan secara luas dianggap sebagai cabang dari mazhab Ismailiah. Para anggotanya mengabdikan diri untuk mempelajari sains, terutama yang berhubungan dengan topik seputar alam, kosmik, dan aksi politik. Rasāil (surat-surat atau risalah-risalah) kelompok ini menjadi sebuah ensiklopedi filsafat dan sains pada masanya, sedangkan popularitas yang mereka miliki membuat pemikiran kelompok ini menyebar jauh. Kelompok Ikhwān ini merepresentasikan sebuah aliran pemikiran yang kompleks dan sering digolongkan sebagai kaum rasionalis, kaum peripatetik, dan kadang juga sebagai kaum “pra-Sufi.”

Dalam kosmologinya, kelompok ini lebih memilih doktrin emanasi Platonis dibandingkan doktrin penciptaan ex nihilo dalam Alquran. Kaum Ikhwān percaya pada konsepsi organik tentang kosmos, yang didasarkan pada perspektif Sufi, yang menganggap seluruh eksistensi merupakan kesatuan tunggal. Di samping itu, kelompok ini juga menganut sistem numerologi alam semesta-mulai dari angka 1 yang dianggap mewakili ‘eksistensi’ (wujud) hingga angka 0 yang mewakili tak terhingga atau esensi Ilahi. Selain itu, kelompok ini juga menyusun sebuah skema formal yang menggambarkan kosmos dari 1 sampai 9, sementara angka 10 melambangkan kosmos yang kembali kepada esensi, yakni angka 0.

Skema tersebut dapat diringkas sebagai berikut:

  1. Sang Pencipta (Wujud), yaitu zat yang satu, sederhana, abadi, dan konstan
  2. Akal/kecerdasan, yang terdiri dari dua jenis: kecerdasan yang sudah ada sebelumnya dan kecerdasan yang diperoleh/ diupayakan.
  3. Ruh yang terdiri dari tiga jenis: nabati, hewan, dan akal.
  4. Materi yang terdiri dari empat jenis: buatan, fisik, kosmik, dan primordial.
  5. Alam semesta yang dibagi menjadi lima kategori: empat unsur alam (tanah, air, udara, dan api) dan satu unsur langit (eter).
  6. Tubuh atau objek yang memiliki kemungkinan enam arah: atas, bawah, depan, belakang, kanan, dan kiri.
  7. Tujuh lingkaran, yang terdiri dari tujuh planet.
  8. Delapan elemen: empat elemen yang dikaitkan dengan empat karakteristik fisik (panas, dingin, lembab, dan kering).
  9. Tubuh duniawi/jasmani: mineral, nabati dan hewani yang masing-masing memiliki tiga jenis.

Perhatikan bahwa setiap tingkatan dalam skema kosmik ini berisi sejumlah elemen yang skalanya sama dengan tempatnya, yang semakin menegaskan pentingnya numorologi dalam kosmologi kelompok Ikhwān.

Secara paralel, anggota kelompok ini menggambarkan proses penciptaan sebagai berikut:

  • Penciptaan Akal, karena Akal bersifat sederhana dan sempuma serta harus memainkan peran sebagai ‘hijab’ antara esensi ilahi dan dunia yang diciptakan;
  • Penciptaan Ruh Kosmik, yakni agen kosmik yang menciptakan makhluk-makhluk di alam semesta dengan kehendak Allah;
  • Penciptaan materi primordial, yang darinya semua ciptaan akan dibentuk.

Kelompok Ikhwān bersikeras bahwa seluruh proses penciptaan ini berlangsung dalam waktu seketika meskipun proses tersebut terbagi ke dalam langkah-langkah berurutan di atas. Apalagi, proses penciptaan demikian merupakan sebuah proses ’emanasi’ Ilahi. Kelompok ini juga menolak sifat keabadikan kosmos karena mereka memercayai gagasan Augustinian bahwa waktu dan ruang diciptakan bersamaan dengan penciptaan alam dan materi.

Ikhwan As-Safa atau Persaudaraan Kemurnian adalah sebuah organisasi rahasia yang aneh dan misterius yang terdiri dari para filsuf Arab Muslim, yang berpusat di BasraIrak. Pada saat itu Basra merupakan ibukota Kekhalifahan Abassiyah di sekitar abad ke-10 Masehi. 

Ajaran dan filosofinya dijelaskan secara terperinci dalam Rasa’il Ikhwan al-Safa’ atau Ensiklopedia Ikhwan As-Shafa, sebuah ikhtisar dari 52 surat, yang dikemudian hari memengaruhi ensiklopedia-ensiklopedia lain. Banyak cendekiawan Barat dan Islam yang berusaha menyelidiki identitas dari para anggota persaudaraan ini dan kapan mereka aktif, namun belum ada sumber yang berhasil.

 

Ungkapan Arab Ikhwān aṣ-Ṣafā’ (singkatan dari banyak kemungkinan transkripsi, Ikhwān aṣ-Ṣafā’ wa Khullān al-Wafā wa Ahl al-Ḥamd wa abnā’ al-Majd berarti Persaudaraan Kesucian, Kawan Setia, Orang Yang Layak Dipuji dan anak-anak kemuliaan) dapat diterjemahkan sebagai “persaudaraan kemurnian” atau “persaudaraan ketulusan”. Berbagai ilmuwan seperti Ian Netton lebih memilih “kemurnian” karena kecenderungan kuat kelompok terhadap kemurnian dan keselamatan.

 

 

Sebuah usulan yang dibuat oleh Ignác Goldziher , dan kemudian ditulis oleh Philip Khuri Hitti dalam bukunya History of the Arabs, adalah bahwa nama tersebut diambil dari sebuah cerita di Kalilah wa Dimnah , di mana sekelompok hewan, dengan bertindak sebagai teman setia (ikhwan al-safa), lepas dari jerat si pemburu. Ceritanya adalah burung merpati Barbary dan teman-temannya yang terjerat dalam jaring pemburu yang mencari burung. Bersama-sama, mereka melepaskan diri mereka dan jaring pemburu kepada tikus di dekatnya yang murah hati untuk menggigiti supaya burung-burung bisa bebas dari jaring; Terkesan dengan perbuatan baik tikus tersebut, seekor burung gagak menjadi teman tikus tersebut. Kemudian seekor kura-kura dan kijang juga bergabung dengan kumpulan hewan-hewan itu. Setelah beberapa waktu, kijang itu terjebak oleh jaring lain; Dengan bantuan hewan yang lain dan tikus yang baik, kijang itu segera dibebaskan, namun kura-kura gagal untuk kabur dengan cukup cepat dan dia ditangkap oleh pemburu. Akhirnya, kijang menolong kura-kura dengan menjadi umpan dan mengganggu pemburu sementara tikus dan yang lainnya membebaskan kura-kura tersebut. Setelah ini, hewan-hewan itu dikenal sebagai “Ikhwan al-Safa”.

Share on facebook
Share on google
Share on whatsapp
Share on twitter
Share on linkedin

Leave a Reply

Close Menu