IBNU FADLAN

IBNU FADLAN

Ahmad ibn Fadlan ibn al-Abbas ibn Rasid ibn Hammad atau lebih dikenal dengan Ibnu Fadlan adalah seorang penjelajah Arab di abad ke-10. Ibnu Fadlan lahir pada tahun 877 M. Beliau dikenal karena kisah perjalanannya sebagai anggota kedutaan Khalifah Abbasiyah Baghdad kepada Raja Volga Bulgars. Kisah perjalanan Ibnu Fadlan sangat terkenal karena memberikan informasi yang rinci mengenai Viking Volga, termasuk kesaksiannya akan pemakaman kapal atau ship burial.

Ibnu Fadlan dikirim dari Baghdad pada tahun 921 M sebagai sekretaris duta besar Khalifah Abbasiyah al-Muqtadir kepada Iltäbär (raja vasal di bawah bangsa Khazars) dari Volga Bulgaria, Almış. Pada tanggal 21 Juni 921 M (11 Safar 309 H), sebuah partai diplomatik yang dipimpin oleh Susan ar-Rassi, seorang kasim di pengadilan khalifah, meninggalkan Baghdad. Terutama, tujuan misi mereka adalah untuk menjelaskan hukum Islam kepada masyarakat Bulgar yang baru masuk Islam. Mereka tinggal di tepi timur Sungai Volga di sebuah kawasan yang sekarang menjadi Rusia (Mereka ini adalah Volga Bulgars; kelompok lain dari orang-orang Bulgars/Bulgaria yang berpindah ke Barat pada abad ke-6, menyerang negara yang sekarang memakai nama mereka (Bulgaria), dan menjadi orang Kristen.) Selain itu, rombongan kedutaan ini dikirim sebagai tanggapan atas permintaan Raja Volga Bulgars untuk membantu melawan musuhnya, bangsa Khazars. Pada saat itu Ibnu Fadlan menjabat sebagai penasihat agama dan penasihat utama masalah doktrin dan hukum Islam.

Ibnu Fadlan dan partai diplomatik tersebut menggunakan rute kereta kuda yang ada menuju Bukhara (sekarang menjadi bagian Uzbekistan), namun alih-alih mengikuti rute itu sampai ke timur, mereka malah membelok ke arah utara di tempat yang sekarang berada di timur laut Iran. Setelah meninggalkan kota Gurgan dekat Laut Kaspia, mereka melintasi daerah-daerah yang dihuni oleh beragam masyarakat Turki, terutama Khazar Khaganate, Oghuz Turks di pesisir timur Kaspia, Pechenegs di Sungai Ural, dan Bashkir di tempat yang sekarang Rusia tengah, namun bagian terbesar dari kisahnya didedikasikan untuk bangsa Rus, yaitu Varangian (Viking) pada rute perdagangan Volga. Dikatakan bahwa delegasi tersebut melakukan perjalanan sekitar 4000 kilometer (2.500 mil).

Ibnu Fadlan dan rombongan sampai di ibukota Volga Bulgar pada tanggal 12 Mei 922 M (12 Muharram 310 H). Sesampainya di ibukota, Ibnu Fadlan kemudian membacakan sebuah surat dari Khalifah kepada Khan Bulgar, lalu memberinya hadiah. Pada pertemuan tersebut Ibnu Fadlan dikritik oleh para penguasa Bulgar karena tidak membawa serta uang seperti yang dijanjikan Khalifah. Uang tersebut akan digunakan untuk membangun sebuah benteng sebagai pertahanan melawan musuh orang-orang Bulgar.

Perjalanan dan deskripsi berbagai suku yang dijumpai oleh rombongannya jelas digambarkan oleh Ibn Fadlan dalam risalahnya. Risalah ini bukanlah risalah berbahasa Arab pertama di wilayah Volga. Risalah ini menggambarkan topografi wilayah sekitarnya, sampai kira-kira 60 derajat Lintang Utara dan juga merupakan sumber penting antropologi pada berbagai populasi di wilayah ini.

Ibnu Fadlan menggambarkan secara sangat luas populasi yang tinggal di wilayah ini, mengenai perdagangan, tata krama, pakaian, makanan, mata pencaharian, dan juga kebiasaan mereka, seperti membiarkan seorang pria sakit sendirian di tenda dengan roti dan air saja, tidak diurus, hanya menunggu mati atau sembuh. Ibnu Fadlan juga menggambarkan praktek keagamaan dan lainnya, seperti pembakaran seorang tuan yang mati di atas kapal bersama budak perempuannya. Salah satu hal yang mengejutkan Ibnu Fadlan, adalah waktu malam yang sangat singkat di daerah itu. Ketika sedang menunggu seruan untuk sholat larut malam,  beliau sedang berbicara dengan penjahit dari Baghdad selama setengah jam, pada saat itu Ibnu Fadlan mendengar seruan untuk sholat dan keluar untuk mengetahui apakah hari sudah pagi. Ketika malam, beliau mendapati bahwa malam hari sangat terang sehingga apabila ada yang melempar anak panah langsung bisa dilihat.

Ibnu Fadlan meninggal pada tahun 960 M. Kisah perjalanannya telah dibuat film dengan judul The 13th Warrior dan diperankan oleh Antonio Banderas.

Page of the manuscript of Ibn Fadhlan’s travel account.

Front covers of four recent Arabic publications of Ibn Fadhlan’s narration of his journey to Russia.

Frontispiece of the German translation of Ibn Fadhlan’s book. Edited by Ahmed Zeki Validi Togan

Front cover of Ibn Fadlan’s Journey To Russia: A Tenth Century Traveler From Baghdad to the Volga River, edited by Richard N. Frye

Remembering ‪‎Omar Sharif (On the Left) as he appeared in the 1999 film “The 13th Warrior” which tells the story of 10th-century Arab traveller Ahmed‪ Ibn Fadlan, played by ‪‎Antonio Banderas (On the Right)

Pada umur delapan tahun, Ibn Arabi meninggalkan kota kelahirannya dan berangkat ke Lisbon, untuk menerima pendidikan agama Islam pertamanya, yaitu membaca al-Qur’an dan mempelajari hukum-hukum Islam dari Syekh Abu Bakar bin Khalaf, kemudian ia pindah ke Sevila yang saat itu merupakan pusat sufi Spanyol dan menetap di sana selama tiga puluh tahun untuk mempelajari hukum, hadits, teologi Islam, serta banyak belajar dari ulama-ulama dalam mempelajari tasawuf. Beliau mempelajari tasawuf dari sejumlah sufi terkenal seperti Abu Madyan al-Gauts at-Talimsari, dan kemudian melakukan perjalanan ke berbagai negeri seperti Yaman, Syiria, Irak, Mesir, dan akhirnya pada tahun 620 H (1225 M) menetap di Hijaz hingga akhir hayatnya.

Ajaran sentral Ibn Arabi adalah tentang wihdatul wujud (kesatuan wujud). Meskipun demikian, istilah wihdatul wujud yang dipakai untuk menyebut ajaran sentralnya itu tidaklah berasal darinya, tetapi berasal dari Ibnu Taimiyah, tokoh yang paling keras mengecam dan mengkritik ajaran sentralnya tersebut, atau setidak-tidaknya tokoh itulah yang berjasa dalam mempopulerkan ke tengah masyarakat Islam, meskipun tujuannya negatif.

Menurut faham ini bahwa setiap sesuatu yang ada memiliki dua aspek, yaitu aspek luar dan aspek dalam. Aspek luar disebut makhluk (al-khalq) dan aspek dalam disebut Tuhan (al-Haqq). Menurut faham ini aspek yang sebenarnya ada hanyalah aspek dalam (Tuhan) sedangkan aspek luar hanyalah  bayangan dari aspek dalam tersebut. Menurut Ibn Arabi, wujud semua yang ada ini hanya satu dan wujud makhluk pada hakikatnya wujud khaliq pula. Tidak ada perbedaan di antara keduanya (khaliq dan makhluq) dari segi hakikat. Adapun kalau ada yang mengira bahwa antara wujud khaliq dan makhluq ada perbedaan, hal itu dilihat dari sudut pandang pancaindra lahir dan akal yang terbatas kemampuannya dalam menangkap hakikat yang ada pada dzat-Nya dari kesatuan dzatiyah yang segala sesuatu berhimpun padanya.

Satu-satunya wujud adalah wujud Tuhan, tidak ada wujud selain wujud-Nya. Ini berarti apa pun selain Tuhan baik berupa alam maupun apa saja yang ada di alam tidak memiliki wujud. Kesimpulannya kata wujud tidak diberikan kepada selain Tuhan. Akan tetapi kenyataannya Ibn Arabi juga menggunakan kata wujud untuk menyebut sesuatu selain Tuhan. Namun ia mengatakan bahwa wujud itu hanya kepunyaan Tuhan sedang wujud yang ada pada alam hakikatnya adalah wujud Tuhan yang dipinjamkan kepadanya. Untuk memperjelas uraiannya Ibnu Arabi memberikan contoh berupa cahaya. Cahaya hanya milik matahari, tetapi cahaya itu dipinjamkan kepada para penghuni bumi. Ibn Arabi mengemukakan teori tajalli yang berarti menampakkan diri. Tajalli artinya Allah menampakkan diri atau membuka diri, jadi diumpamakan Allah bercermin sehingga terciptalah bayangan Tuhan dengan sendirinya. Dengan teori ini, makhluk adalah bayang-bayang atau pencerminan Tuhan di mana Tuhan dapat melihat dirinya sendiri tanpa kehilangan sesuatupun. Artinya tetap dalam kemutlakannya.

Pengaruh Ibnu Arabi dalam bidang tasawuf, khususnya tasawuf filosofis, sangat luar biasa. Gagasan Ibnu Arabi menyebar luas dan memiliki pengikut yang tidak sedikit jumlahnya. Di Indonesia, paham wihdat al-wujud Ibnu arabi berpengaruh besar. Terbukti dengan banyak ulama Indonesia yang memakai prinsip wihdat al-wujud, di antaranya: Hamzah Fansuri, Syamsudin as-Sumatrani dan Abdus Samad al-Palimbani.

Ibn Arabi menghasilkan banyak karya, kurang lebih sekitar 300 buku. Di antara buku-buku itu, yang paling dikenal adalah Fushush al-Hikam, Futuhat al-Makkiyyah dan juga Tarjuman al-Asywaq Futuhat, sebuah karya besar yang menyingkap ilmu gaibul gaib uluhiyat & rububiyyat yang sangat dalam sesuai dengan keterbukaan sang syech dari Yang Haq berhubungan dengan permohonan sang syech ketika di Makkah

Tinggalkan Balasan

Close Menu