IBN SĪNĀ ‎, IBN RUSYD, DAN PARA FILSUF (FALĀSIFAH)‎

IBN SĪNĀ ‎, IBN RUSYD, DAN PARA FILSUF (FALĀSIFAH)‎

Banyak pemikir Muslim, utamanya para filsuf, menganggap diri mereka bebas membaca Alquran tanpa melibatkan apriori kosmologis atau konsepsi religius yang telah mapan. Biasanya, mereka sangat bergantung pada ide-ide dari tradisi kuno lain, khususnya filsafat Yunani. Berikut ini akan saya tinjau secara singkat pandangan-pandangan kosmologis inti para falāsifah tersebut.

AI-Kindī (800-73) sangat berpegang teguh pada doktrin penciptaan ex nihilo meskipun sebagian besar filsuf Muslim belakangan menolak konsep tersebut. Yang dilakukan AI-Kindī ketika itu sebenarnya adalah menggunakan ‘bukti-bukti’ kosmologis lama untuk menunjukkan keberadaan Tuhan yang dimulai dengan argumen Prime Mover (Penggerak Utama), sehingga dalam pandangannya, harus ada sebuah penggerak yang tidak bergerak, tidak berubah, tidak dapat dihancurkan, dan sempurna. Hal ini mendorongnya kepada sebuah kesimpulan bahwa kekuasaan dan hak prerogatif Tuhanlah yang membangun alam semesta dari ketiadaan.

Namun, AI-Farābī (870-950) tetap setia pada Aristoteles: Dia tidak percaya bahwa Tuhan “tiba-tiba” saja memutuskan untuk menciptakan dunia, sebab hal itu akan melibatkan Tuhan yang kekal dan statis dalam arus perubahan -sesuatu yang tidak pantas bagi-Nya. AI-Farābī juga sangat terpengaruh oleh para pemikir Yunani dan mengadopsi ‘rantai wujud’ (chain of being) ala Yunani, yang menempatkan Yang Satu dalam sepuluh emanasi atau “kecerdasan” bertingkat yang masing-masing di antaranya memunculkan satu di antara lingkaran-lingkaran Ptolomeus: langit-Iangit luar, lingkaran bintang-bintang, bola-bola Saturnus, Jupiter, Mars, Matahari, Venus, Merkurius, dan Bulan.

Sementara itu, Ibn Sīnā (Avicenna, 981-1037) dianggap sebagai salah satu pemikir Muslim terbesar dan paling beradab. Semasa mudanya, ia menguasai semua ilmu yang berkembang pada masanya -dari ilmu kedokteran hingga astronomi dan filsafat. Ia juga giat mengkaji karya-karya kuno, mulai dari metafisika Aristoteles hingga menamatkan karya-karya Al-Farābī yang ia coba selaraskan lebih menyeluruh dengan Islam. Penerimaan totalnya terhadap Wahyu sebagai pengetahuan level tertinggi -yang bertentangan dengan pemujaan para filsuf terhadap akal-membuatnya sedikit demi sedikit cenderung kepada tasawuf tanpa mengabaikan akal intelektual. Ia juga berusaha memunculkan bukti-bukti rasional mengenai keberadaan Tuhan yang merupakan bukti lain ihwal kuatnya pengaruh pemikiran Aristoteles terhadapnya.

Ibn Sīnā ‎ membagi proses penciptaan menjadi dua operasi yang bersesuaian: kesadaran diri dan penemuan diri akan Ilahi. Lebih lanjut, ia merumuskan perbedaan empat jenis penciptaan berikut ini:

  • Ihdāts: Penciptaan makhluk-makhluk alam, baik yang sementara atau yang kekal
  • Ibda’: Penciptaan -tanpa perantara- makhluk-makhluk yang kekal dan tidak punah (decay)
  • Khalq: Penciptaan melalui agen-agen
  • Takwīn (penyusunan): Penciptaan melalui agen-agen duniawi yang punah dan sementara.

Selain itu, ia juga memetakan makhluk-makhluk ke dalam empat kategori berikut:

  • Malaikat, yaitu makhluk yang digerakkan Allah dan diciptakan untuk menggerakkan makhluk-makhluk lain.
  • Jiwa-jiwa kosmik yang bertindak sebagai perantara dalam aksi-aksi perubahan.
  • Benda-benda langit
  • Benda-benda bumi

Konsep Ibn Sīnā ‎ tentang kosmos mirip dengan konsep Yunani, kecuali dalam pandangannya tentang sembilan lingkaran, bukan delapan seperti yang biasa dikenal (satu untuk bumi dan tujuh lain untuk planet-planet). Pandangan ini berasal dari skemanya yang menunjukkan dibutuhkannya satu tambahan lingkaran untuk memisahkan wilayah Ilahiah dari ruang fisik kosmos; lingkaran kesembilan tersebut dianggap benar-benar kosong. Lebih lanjut, Ibn Sīnā ‎ membayangkan bahwa setiap lingkaran pastilah dikendalikan oleh sebuah kekuatan akal yang memerintahkan jiwa-jiwa, akal-akal, dan malaikan-malaikat untuk tunduk di bawah komando kekuatan akal yang utama. Bagi Ibn Sīnā‎, penggabungan total antara dunia fisik dan dunia metafisik tidak hanya masuk akal, tetapi juga menyeluruh.

Selanjutnya, meskipun sangat terpengaruh oleh Aristoteles, Ibn Rusyd tetap setia pada spirit -bukan secara tekstual- ajaran Islami/Qurani. Ia menganut doktrin keabadian kosmos, tetapi menegaskan bahwa alam semesta sedang dan terus berada dalam perubahan atau evolusi konstan selama Tuhan masih meneruskan proses penciptaan-Nya. Dalam pandangannya, Sang Pencipta adalah Yang Terdahulu/Zat yang Abadi; Tuhan mengajarkan perubahan kepada makhluk-makhluk-Nya melalui berbagai media yang berbeda (akal, malaikat, dan jiwa), sebagaimana yang dikembangkan oleh Ibn Sīnā ‎ dan Ikhwān As-Syafā. Namun, Ibn Rusyd menolak doktrin emanasi dengan konsekuensi-konsekuensinya, termasuk teori penciptaan top-down yang digagas Ibn Sīnā ‎ meskipun konsep itu sendiri akan kembali kepada pandangan Plato. Di sisi lain, ia begitu menganut teori Aristoteles tentang sebab final (final causes) yang menyatakan bahwa alasan di balik setiap fenomena/peristiwa pasti ditemukan dalam tujuan akhir yang ingin dicapai setiap makhluk; ini menyiratkan sebuah evolusi ke atas dibandingkan proses topdown di alam semesta.

Ibn Rusyd memperkenalkan sebuah tilikan baru yang menarik terhadap konsep lama mengenai kesatuan kosmos. Ia mengembangkannya dari sudut pandang perubahan (atau ketiadaan) dan menyimpulkan bahwa karena isi dan bentuk tidak dapat dipisahkan dan keduanya kekal, maka kosmos pastilah statis meskipun ia terus berkembang. (Di kemudian hari, para kosmolog modern akan mempertimbangkan teori tunak (steady state) alam semesta ini dengan berbagai cirinya, seperti yang pernah dikemukakan Hoyle dan tokoh-tokoh lain pada pertengahan abad kedua puluh.

Share on facebook
Share on google
Share on whatsapp
Share on twitter
Share on linkedin

Leave a Reply

Close Menu