IBN AL-MUQAFFA

IBN AL-MUQAFFA

Rozbih Pur-I Dadoe atau lebih dikenal dengan Ibn Al-Muqaffa adalah seorang penerjemah, penulis dan pemikir yang menulis dengan bahasa Arab. Beliau berasal dari Persia. Penerjemahannya mengakibatkan dua hal penting yaitu berpindahnya bangsa Arab ke kehidupan modern serta keterlibatan orang bukan Arab dalam penulisan sastra Arab.

Ibn Al-Muqaffa adalah seorang penduduk Bashra dan berasal dari kota Goor (atau Gur, Firuzabad, Fars) di provinsi Fars, Iran. Beliau lahir dari keluarga tokoh-tokoh lokal. Ayahnya adalah seorang pejabat negara yang bertanggung jawab atas pajak di bawah Bani Umayyah, dan namun dituduh dan dihukum karena penggelapan sebagian uang yang dipercayakan kepadanya. Beliau dihukum hingga tangannya hancur (Muqaffa atau tangan keriput). Ibn Al-Muqaffa bertugas di pos sektarian di bawah gubernur Umayyah Shapur dan Kirman. Tidak seperti rekan-rekannya yang lain, Ibn Al-Muqaffa lolos dari penganiayaan Abbasiyah setelah penggulingan dinasti Umayyah. Beliau kemudian kembali ke Bashra dan bertugas sebagai sekretaris di bawah Isa bin Ali dan Sulaiman bin Ali, paman Khalifah Abbasiyah Al-Mansur.

Terjemahan Ibn Al-Muqaffa pada buku Kalīla wa Dimna (Kalīla dan Dimna) dari Persia Tengah dianggap sebagai karya prosa sastra Arab pertama. Ibn Al-Muqaffa ‘adalah pelopor dalam pengenalan narasi prosa sastra ke literatur Arab. Beliau membuka jalan bagi inovator berikutnya seperti al-Hamadani dan al-Saraqusti, yang membawa fiksi sastra ke literatur Arab dengan menyesuaikan mode penulisan narasi lisan yang diterima secara tradisional ke dalam prosa sastra. Ibn Al-Muqaffa selain seorang sarjana ulama Persia Tengah, juga seorang penulis dongeng-dongeng tentang hewan yang penuh dengan pesan moral.

Kalila dan Dimna adalah dua ekor anak serigala yang menjadi tokoh utama dalam cerita pertama. Mereka pintar dan bijaksana. Kalila dan Dimna adalah terjemahan dari bahasa Sansekerta, Karataka dan Damanaka. Karya asli dari hikayat ini terdiri atas lima cerita yaitu “Hikayat Singa dan Lembu”, “Hikayat Burung Teukur”, “Hikayat Burung Hantu dan Burung Gagak”, “Hikayat Kera dan Buaya”, dan “Hikayat Seorang Alim dan Istrinya”. Kelima hikayat ini ditulis oleh seorang brahmana bernama Baidaba. Kemudian atas perintah Raja Khusraw Anusyirwan (531-579M) dari Dinasti Sasanid. Barzawaih, sastrawan Persia nonmuslim yang menerjemahkannya ke dalam bahasa Persia dengan menambahkan beberapa judul cerita. Tiga di antaranya dikutip dari Kitab Mahabharata, selebihnya adalah karyanya sendiri, antara lain berjudul “Pendahuluan”, “Tabib Barzawaih”, “Seorang Alim dan Tamunya”, “Sebuah Kaca dan Seorang Brahmana”, “Seorang Pelancong dan Tukang Emas”, serta “Anak Seorang Raja dan Kawan-kawannya”. Karya Barzawaih diterjemahkan oleh Ibn Al-Muqaffa ke dalam bahasa Arab dengan menambahkan lagi Sembilan judul tulisannya sendiri.

Karya Ibn Al-Muqaffa berpengaruh besar dalam sejarah perkembangan kesusastraan Islam, baik dalam bahasa Arab, Persia, Turki maupun Urdu. Sejak saat itu gaya penulisan prosa yang menggunakan dialog dan kehidupan binatang sebagai latar belakangnya tumbuh dan berkembang membawa pesan yang bertujuan memperbaiki perilaku manusia dengan nilai-nilai keislaman.

Pada suatu saat saudaranya Abdallah Ibn Ali meminta Ibn Al-Muqaffa untuk menulis sepucuk surat kepada Khalifah agar tidak membalas dendam pada pamannya dan memaafkannya. Namun Khalifah Abbasiyah Al-Mansur merasa tersinggung dengan bahasa surat  yang ditulis Ibn Al-Muqaffa dan ingin menyingkirkannya. Kemudian Ibn Al-Muqaffa dieksekusi sekitar 756 atau 759 M oleh gubernur Bashra

Leave a Reply

Close Menu