HUNAYN IBN ISHAQ           

HUNAYN IBN ISHAQ           

Abu Zayd Ḥunayn ibn Isḥaq al-Ibadi dalam bahasa latin dikenal sebagai Johannitius (809-879 M). Hunayn ibn Ishaq terkenal akan pengaruhnya dalam mewarnai kejayaan pendidikan pada masa kepemimpinan Al-Ma’mun sebagai seorang  sarjana, dokter, dan ilmuwan, yang dikenal untuk karyanya dalam menerjemahkan dan medis karya ilmiah di Yunani ke dalam bahasa Arab dan Syria. Johanes bin Masweh adalah guru Hunayn ibn Ishaq, beliau ini mengagumi muridnya hingga akhirnya tercipta sebuah buku berjudul “An Nadir At Tayyibah”.

Reputasi ilmiah Hunayn ibn Ishaq  menyebar di dalam dan luar kota Baghdad sehingga sampai ke telinga Khalifah Al Ma’mun melalui dokter pribadinya Gibrail yang selalu memuji kepintaran dan kemampuan ilmiah Hunain di dalam majelis ilmu sang khalifah. Kemudian Al Ma’un mendirikan Baitul Hikmah di Baghdad dan memutuskan untuk menerjemahkan buku-buku warisan Yunani ke dalam bahasa Arab. Para penerjemah terkenal pun dipanggil untuk menerjemahkan buku-buku tersebut, termasuk Hunayn ibn Ishaq. Selain menerjemahkan, Hunayn ibn Ishaq mendapatkan tugas menjadi pengawas urusan penerjemahan dan untuk memperbaiki apa yang diterjemahkan oleh para penerjemah lain. Buku-buku yang diterjemahkan antara lain buku Al ‘Asyara Maqalat Fil ‘Uyun (mengenai sepululuh makalah tentang mata) buku ini merupakan revolusi ilmiah tentang sejarah kedokteran mata kala itu, selain itu buku  Al Masa’il Fit Tib (mengenai persoalan-persoalan seputar ilmu kedokteran).

Berkembangnya penerjemahan pada masa ini membuat ilmu pengetahuan semakin maju sehingga mampu melahirkan tokoh-tokoh ilmu pengetahuan dan para ulama, sepertiImamAhmad bin Hanbal, Jabir bin Hayyan, Musa al-KhawarizmiAl-KindiHunain bin Ishaq sampai akhirnya ketika al-Farabi wafat pada 340 H, Beliau mendapat julukan al-Mu’ulum Tsani (guru kedua setelah Aristoteles).

Leave a Reply

Close Menu