HUBUNGAN HEWAN DAN MANUSIA

HUBUNGAN HEWAN DAN MANUSIA

Serial Quran dan Sains

Hubungan antara manusia dan hewan telah berjalan sangat lama. Demikian erat hubungan itu hingga terjadi pemujaan terhadap hewan dalam ritual keagamaan. Hal ini terjadi terutama pada masyarakat pramodern.

Pemujaan terhadap hewan oleh masyarakat maupun kepercayaan tertentu dimulai oleh beberapa kemungkinan. Penulis kuno, Diodorus, menjelaskan bahwa pemujaan terhadap hewan dimulai dari mitos dimana saat itu dewa-dewa sedang terancam oleh para raksasa. Untuk melindungi dirinya, para dewa lalu menyamar menjadi hewan. Masyarakat, secara alami, kemudian memuja hewan jelmaan para dewa itu. Pemujaan terus berlanjut meski para dewa sudah tidak lagi menyembunyikan diri dalam rupa hewan. Teori yang lebih modern mengatakan bahwa pemujaan hewan dimulai dari keingintahuan masyarakat secara alami terhadap perikehidupan hewan tertentu. Pengamatan yang mendalam dan intens menimbulkan kekaguman tersendiri terhadap hewan tertentu; kekaguman yang berlanjut pada pemujaan. Ada pendapat lain yang menyatakan bahwa pemujaan bermula dari pemilihan nama keluarga. Pengambilan nama keluarga dari hewan tertentu berubah menjadi kekaguman terhadap hewan tersebut, dan dari situlah muncul pemujaan.

Pemujaan dan penempatan hewan menjadi hewan suci kemudian berkait dengan hukum mengenai makanan. Umumnya hewan yang dianggap suci tersebut dilarang untuk diburu dan dimakan, atau sebaliknya, hewan tersebut dianggap tidak bersih dan karenanya harus dijauhi.

Dalam agama Mesir Kuno dikenal pemadanan dewa terhadap hewan, dimana hewan menjadi suci karena dipadankan dengan dewa tertentu. Kucing, misalnya, dikaitkan dengan Dewa Bastet, belibis dan kera babon dikaitkan dengan Dewa Thoth, buaya dengan Dewa Sebek dan Ra, ikan dengan Dewa Set, musang dan burung dengan Dewa Horus, anjing dan ajak dengan Dewa Anubis, ular dan belut dengan Dewa Atum, kumbang dengan Dewa Khepera, sapi jantan dengan Dewa Apis, dan selanjutnya.

Kepercayaan bahwa hewan merupakan bentuk kelahiran kembali di dunia bagi mereka yang sudah mati mulai ditolak oleh agama-agama Ibrahim. Tersebarnya agama Kristen dan kemudian Islam secara perlahan menghilangkan kepercayaan dan ritual penyembahan dan pemujaan terhadap objek inderawi, di antaranya hewan.

Beberapa jenis hewan yang diburu dapat sekaligus dianggap suci. Kesuciannya diberikan kepada individu tertentu, atau setiap kali hewan tersebut dibunuh maka akan diberikan persembahan untuk arwahnya. Beberapa jenis di antaranya adalah:

  • Beruang; pemujaan terhadap beruang banyak dilakukan pada masa lalu, misalnya oleh masyarakat di kawasan Skandinavia dan Asia Timur. Temuan arkeologi menunjukkan bahwa beruang juga sudah dipuja manusia Neanderthal pada masa pertengahan Masa Paleolithik. Masyarakat Ainu, penghuni asli kepulauan Jepang, menamai beruang dengan “kamui” yang berarti dewa.
  • Ikan Paus; di perairan Jepang ikan paus telah diburu manusia sejak lama. Di beberapa tempat ada kuburan yang didedikasikan kepada ikan paus yang telah ditangkap dan dikonsumsi di masa lalu. Ikan paus juga sangat dihormati oleh masyarakat asli Alaska.
  • Sapi dan kerbau diagungkan dan disucikan dalam beberapa kepercayaan dan agama, seperti Hindu, Zoroaster, Yunani Kuno, dan Mesir Kuno.
  • Domba dan kambing; domba dipuja oleh masyarakat Mesir Kuno. Dewa Amun, sebagai penguasa Thebes, Mesir, digambarkan berkepala domba. Dewa Yunani, Silenus, digambarkan sebagai satyr, manusia setengah Hal yang hampir sama juga diberlakukan untuk kambing. Pada umumnya kambing diasosiasikan dengan kemampuan seks laki-Iaki dan ilmu sihir hitam. Kepercayaan ini berkembang di kawasan Asia Tengah sejak Masa Neolithik atau Masa Perunggu.
  • Anjing; pemujaan terhadap anjing dilakukan kaum Hindu di Nepal dan beberapa bagian India. Mereka percaya bahwa anjing adalah pesuruh Dewa Yama, dewa kematian.
  • Kuda; masyarakat Indo-Eropa dan Turki masa lalu memuja kuda. Penganut Hindu dan Buddha di beberapa bagian India, dan beberapa bagian masyarakat di Balkan, juga diketahui memuja kuda.
  • Gajah; penganut Buddha dan Hindu di berbagai daerah Asia memposisikan gajah cukup tinggi. Masyarakat Thailand, misalnya, percaya bahwa gajah putih memiliki nyawa orang yang telah meninggal, yang kemungkinan adalah Buddha sendiri. Pengaruh gajah putih sangat dirasakan di Kamboja, negara-negara Indo-China, dan Ethiopia. Penelitian juga mensinyalir bahwa masyarakat Sumatra dan Kalimantan bagian utara di masa lalu juga memuja gajah.

 

Hewan liar lainnya, seperti kelinci, serigala, kucing, kera, burung gagak, rajawali, ular, dan ikan, banyak dipuja di kalangan masyarakat di seluruh pelosok bumi. Semuanya mempunyai “tugas” tertentu. Burung, misalnya, bertugas membawa berita dan menjadi perantara antara alam dunia dan alam lain. Burung dari kelompok merpati dianggap sebagai dukun pada kisah Nabi Nuh. Peran dukun juga dilakukan oleh penyu atau labi-Iabi di China. Hewan adalah elemen penting dalam praktik perdukunan. Peran utamanya adalah sebagai perantara antara alam gaib dan alam nyata.

Pada agama modern, peran hewan masih cukup penting, terutama dalam agama Buddha, Jain, dan Hindu. Sementara itu, pada agama-agama monoteisme, seperti Yahudi, Kristen dan Islam, hewan banyak digunakan sebagai permisalan.

Dalam ajaran Islam hewan banyak digunakan sebagai ilustrasi dalam mukjizat-mukjizat pada banyak kisah dalam Alquran. Beberapa di antaranya adalah:

  • Burung gagak yang dikirimkan kepada putra Nabi Adam untuk mengajarinya cara menguburkan mayat saudaranya. Burung yang dibunuh dan ditempatkan bagian-bagian tubuhnya oleh Ibrahim di beberapa puncak gunung, menjadi contoh kekuasaan Allah untuk menghidupkan makhluk yang sudah mati.
  • Burung gagak milik Bani Israil yang diperintahkan Nabi Musa untuk mengungkap identitas pembunuh misterius.
  • Serigala atau anjing hutan yang dituduh sebagai pembunuh Nabi Yūsuf.
  • Burung bulbul atau hupu yang memberitahu Sulaiman tentang Ratu Sheba (Saba’).
  • Rayap yang memakan tongkat Sulaiman dan mengungkap kenyataan bahwa Sulaiman telah wafat.
  • Keledai milik Uzair yang dimatikan Allah selama 100 tahun dan dihidupkan kembali.
  • Ikan besar yang menelan Nabi Yunus dan mengeluarkannya kembali karena dia adalah salah seorang penyembah Allah.
  • Anjing yang tidur bersama Ashabul-Kahfi selama tiga ratus sembilan
  • Semut yang memperingatkan teman-temannya akan kedatangan Nabi Sulaiman dan pasukannya.
  • Gajah pasukan Abrahah yang gagal saat diperintahkan untuk menghancurkan Kabah.
  • Perbandingan antara jaring laba-laba dan rumah manusia-dan masih banyak lagi.

 

Hewan selain diposisikan sebagai permisalan dan mukjizat, dalam banyak ayatnya Alquran juga menjelaskan proses dan perikehidupannya.

Hubungan manusia dan hewan dimulai dengan peringatan. Sebagai khalifah, manusia oleh Alquran dalam banyak ayatnya, demikian pula hadis Nabi, diperingatkan agar memperlakukan hewan dengan baik. Allah menyatakan bahwa hewan adalah makhluk Allah seperti halnya manusia. Bahkan, Allah meminta manusia untuk belajar dari perikehidupan hewan; belajar mengenai pola organisasi yang mengatur kehidupan hewan, cara mereka berkomunikasi, sistem yang menyebabkan hewan dapat menghasilkan air susu, dan seterusnya. Begitu sadar bahwa hewan adalah juga makhluk Allah, maka manusia sudah sewajarnya harus berbagi sumber daya dengan hewan.

Alquran menjadikan hewan sebagai “guru” bagi manusia. Alquran pun mengingatkan manusia bahwa hewan juga memiliki nurani, dan karenanya harus diperlakukan dengan baik.

Manusia dengan kemampuannya dapat menghindarkan hewan dari  penderitaannya, dalam memenuhi kebutuhan manusia, atau paling tidak mengurangi penderitaan itu. Begitupun dalam hal penggunaan hewan sebagai objek percobaan. Memang, tidak ada petunjuk rinci mengenai subjek ini, akan tetapi banyak ayat Alquran dan hadis yang setidaknya memberikan acuan dan rambu-rambu secara global.

Tidak seperti penggunaan hewan sebagai objek percobaan, pemanfaatan daging dan bagian tubuh hewan lainnya oleh manusia diatur dengan rinci dalam Alquran maupun hadis. Semua hal yang berkaitan dengannya, misalnya perlakuan dalam pemeliharaan hewan, perlakuan dalam pengangkutan, hingga cara memotong hewan ternak dengan rinci dicatat di dua sumber utama syariat Islam tersebut. Tidak lupa, keduanya juga mengatur tentang perlakuan terhadap hewan dalam kancah olah raga, seperti mengadu hewan dengan hewan, atau mengadu hewan dengan manusia (rodeo, matador, dan sejenisnya). Meski aturan itu tidak mendetail, akan tetapi ia sudah cukup memberikan aturan global dalam mengatur penggunaan binatang sebagai objek percobaan dan penelitian.

Buku ini menguraikan sedikit dari khazanah ilmu pengetahuan tentang hewan. Banyak bagian dari kajian ini yang masih perlu diperluas dan dipertajam. Penulis memandang bahwa apa yang disajikan dalam buku ini barulah sekelumit dari ilmu pengetahuan tentang hewan yang bisa disarikan dari ayat-ayat Alquran mengenai tema tersebut.

Karena Alquran adalah sumber ilmu yang berada pada tataran filosofis, bukan pada tingkatan teori ilmu pengetahuan, maka Alquran bukanlah sumber langsung teori ilmiah. Kitab ini tidak pernah berbicara secara cukup terperinci, atau bahkan sangat teknis, mengenai fenomena alam. Ayat-ayat di dalamnya hanya memberikan motivasi kepada kita untuk mengamati dan memahami alam.

Pada akhirnya kami ingin menggarisbawahi bahwa tulisan tidak berangkat dari upaya untuk sekadar mencocok-cocokkan ayat-ayat Alquran dengan ilmu pengetahuan.· Namun, apabila ternyata buku ini terkesan sebaliknya maka hal itu tidak lain akibat ketidakmampuan penulis untuk menjelaskan dan menafsirkan ayat-ayat Alquran dengan benar.

Dikutip dari Tafsir al-‘Ilmi

Leave a Reply

Close Menu