HIKMAH KISAH NABI DAN RASUL

HIKMAH KISAH NABI DAN RASUL

Serial Quran dan Sains

Kisah atau cerita merupakan bagian sangat penting dalam kehidupan manusia. Barangkali dapat dikatakan bahwa tidak ada suatu masyarakat pun yang tidak memiliki tradisi cerita atau berkisah, baik tentang fakta maupun fiksi. Dalam masyarakat kita, orang tua mempunyai kebiasaan bercerita kepada anak-anaknya sejak usia kanak-kanak. Anak-anak sangat menyukai cerita sehingga setiap kali ada kesempatan bersama orang tuanya, misalnya menjelang tidur, mereka merengek kepada orang tua mereka untuk diceritai sesuatu. Tidak jarang orang tua anak-anak itu tertidur, sementara mereka masih menunggu kelanjutan dari cerita itu. Begitupun sebaliknya, anak-anak tertidur lebih dahulu sebelum orang tua selesai bercerita. Karena cerita merupakan kesukaan maka dalam cerita itu disisipkan nilai-nilai Iuhur, seperti cinta sesama manusia, cinta kebenaran, pergumulan antara yang hak dan yang batil yang kemudian selalu diakhiri kemenangan pihak yang hak, dan seterusnya. Karena itu, tidaklah mengherankan jika Alquran sebagai kitab kebenaran sejati dalam menyampaikan pesan-pesannya dibarengi dengan berkisah.

Apa yang dapat kita tangkap dari kisah-kisah dalam Alquran adalah bahwa kisah-kisah itu bukan sekadar cerita dan pengetahuan yang enak didengar, melainkan lebih dari itu, agar manusia dapat mengambil pelajaran darinya. Sebagian kisah merupakan sejarah yang telah dibuktikan melalui bukti-bukti empiris, peninggalan benda-benda masa lalu, dan sebagian Iain masih tetap merupakan cerita karena belum ditemukan bukti empirisnya. Kewajiban umat masa sekarang untuk selalu berusaha menemukan bukti-bukti empiris sehingga kisah-kisah itu menjadi sejarah. Karena itu, baik yang sudah menjadi sejarah maupun yang masih berupa cerita, kisah-kisah dalam Alquran itu tetap penting dalam maknanya.

Memang, Alquran bukan kitab sejarah. Kisah-kisah dalam Alquran tidak dikemukakan secara kronologis. Sepenggal kisah dikemukakan dalam suatu surah dan penggalan Iainnya ada pada surah yang Iain. Kadang-kadang terasa kisah-kisah itu dikemukakan berulang-ulang dalam berbagai surah. Kisah dalam Alquran juga tidak merujuk pada suatu tempat tertentu maupun kurun atau tanggal tertentu.

Yang pasti, kisah-kisah dalam Alquran mempunyai pesan tertentu. Pesan utama dari kisah para rasul, sebagaimana telah diuraikan dalam buku ini, mempunyai misi yang sama, yakni melakukan perubahan melalui pelurusan keyakinan. Rasul-rasul diutus kepada kaum tertentu ketika kaum itu tersesat keyakinannya atau mengalami kerusakan sosial karena kesesatan imannya. Misi para rasul itu sama, yaitu mengajak kaumnya untuk menyembah, mengabdi, dan beribadah hanya kepada Tuhan yang satu, Tuhan yang niscaya benar ketuhanannya, yaitu Allah, dan meninggalkan penyembahan terhadap selain Allah.  Perlunya rasul diutus karena dalam kenyataan memang banyak terjadi penyimpangan, bukan saja dalam keyakinan ketuhanan, melainkan juga dalam bidang kemasyarakatan dan kebudayaan.

Jika pada masa para nabi terdahulu objek penyembahan yang salah selalu dikaitkan dengan berhala, berupa arca dan sejenisnya, maka pada masa sekarang berhala-berhala itu wujudnya bermacam-macam. Ada yang berupa kekayaan, uang, jabatan, kekuasaan, perempuan, kemewahan, dan seterusnya. Berhala-berhala dalam wujud demikian justru sulit untuk  dideteksi karena tidak tampak sebagai materi yang dapat dilihat sebagai berhala. Maka banyak dijumpai orang yang mengabdi pada kekuasaan, kekayaan, dan kemewahan, sehingga terjadilah apa yang di zaman sekarang disebut korupsi, kolusi, dan nepotisme. Ini tidak saja terjadi pada kalangan nonmuslim, bahkan di kalangan muslim pun terdapat banyak sekali orang yang menghamba bukan kepada Allah, tetapi kepada berhala harta, berhala kekuasaan, dan seterusnya. Karena itu, tidak mengherankan jika keberadaan dan kedudukan umat Islam sekarang tidak seperti yang dijanjikan Allah.

Manusia diciptakan oleh Allah sebagai khalifah-Nya di bumi. Ini berarti setiap manusia memikul beban kewajiban dan tanggung jawab memeIihara dan mengembangkan bumi dalam hubungannya dengan aspek fisik maupun spiritual. Untuk memikul tanggung jawab sebagai khalifah ini, sudah semestinya manusia membekali diri dengan takwa, adil, amanah, ihsan, dan seterusnya. Kisah-kisah dalam Alquran memberi teladan kepada manusia zaman sekarang untuk mengikuti jejak para nabi yang saleh dan amanah, bertakwa, adil, ihsan, dan melakukan perubahan tanpa kenal lelah.

Menurut Dr. Abdul Karim Zaidan (2010: vii), kisah dalam Alquran adalah kisah yang terbaik. Allah berfirman dalam Surah Yūsuf/12: 3,

نَحْنُ نَقُصُّ عَلَيْكَ أَحْسَنَ الْقَصَصِ بِمَا أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ هَٰذَا الْقُرْآنَ وَإِن كُنتَ مِن قَبْلِهِ لَمِنَ الْغَافِلِينَ۝

Kami menceritakan kepadamu (Muhammad) kisah yang paling baik dengan mewahyukan Alquran ini kepadamu, dan sesungguhnya engkau sebelum itu termasuk orang yang tidak mengetahui. (Alquran, Surah Yūsuf/12: 3)

Benar bila dikatakan beberapa kisah dalam Alquran diulang-ulang. Namun dalam setiap pengulangannya terdapat faedah yang tidak terdapat pada penyebutan yang lain. Yang jelas, tidak ada kontradiksi dalam kisah-kisah itu antara satu dengan Iainnya. Pendek kata, dalam kisah-kisah yang diungkap dalam Alquran, terdapat pelajaran bagi orang-orang yang berakal. Hanya orang yang tidak berakal yang tidak dapat menangkap pelajaran darinya. Allah berfirman,

لَقَدْ كَانَ فِي قَصَصِهِمْ عِبْرَةٌ لِّأُولِي الْأَلْبَابِ ۗ مَا كَانَ حَدِيثًا يُفْتَرَىٰ وَلَٰكِن تَصْدِيقَ الَّذِي بَيْنَ يَدَيْهِ وَتَفْصِيلَ كُلِّ شَيْءٍ وَهُدًى وَرَحْمَةً لِّقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ ۝

Sungguh, pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang yang mempunyai akal. (Alquran) itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya, menjelaskan segala sesuatu, dan (sebagai) petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman. (Alquran, Surah Yūsuf/12: 111)

Semoga dengan menuturkan kembali kisah-kisah Alquran dalam buku ini, kita semua tidak saja memperoleh pengetahuan, tetapi juga dapat mengambil pelajaran darinya, supaya kita termasuk golongan orang yang berakal. Wallāhu alam biawāb.

 

Dikutip dari Tafsir al-‘Ilmi

Leave a Reply

Close Menu