HATI DAN KALBU

HATI DAN KALBU

Jantung adalah salah satu organ internal yang terletak di bagian dada sebelah kiri dan berukuran sebesar kepalan tangan. Jantung terbagi dalam dua bilik: kanan dan kiri. Setiap bilik terbagi lagi menjadi dua ruang: ruang atas (atrium) dan ruang bawah (ventrikel). Ruang-ruang itu berdenyut sebanyak 70 kali per menit untuk menjamin kelancaran aliran darah ke seluruh tubuh. Apabila dijumlah maka jantung berdenyut sebanyak lebih dari 30 juta kali dalam setahun. Perjalanan darah, apabila diukur dan dimulai dari paru-paru dan jantung, akan mengalir melalui urat darah di seluruh tubuh sepanjang 96.000 km. Jarak sejauh ini ditempuh hanya dalam 23 detik setiap putarannya. Dari uraian ini, tampak nyata betapa besar peranan jantung dalam kehidupan manusia.

Dalam bahasa Arab, kata qalb biasa dipakai untuk menunjukkan arti jantung. Kata ini juga tidak jarang dipakai untuk menunjukkan arti lain, seperti perasaan atau kalbu. Kalbu, sebagaimana jantung, perannya dalam kehidupan manusia sangat sentral. Rasulullah setelah menerangkan panjang lebar tentang kebaikan dan keburukan, mengatakan bahwa kalbu adalah pusat rasa atau kepekaan. Beliau bersabda:

 

Ingatlah, sesungguhnya dalam diri manusia ada segumpal darah yang apabila ia baik maka baiklah seluruh jasad, dan apabila ia rusak maka rusaklah seluruh jasad. Ketahuliah, itu adalah kalbu. (Hadis Riwayat al-Bukhāri dan Muslim dari an-Numān bin Basyīr)

 

Kata jantung atau kalbu sering pula disandingkan dengan hati. Hati dalam hal ini tidaklah berarti organ internal manusia yang biasa disebut liver, tetapi lebih menunjuk pada organ jantung atau kalbu. Dua kata ini sering pula disatukan menjadi jantung hati. Ada beberapa ayat yang berkaitan dengan hati dan kepekaan, di antaranya:

 

إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَذِكْرَىٰ لِمَن كَانَ لَهُ قَلْبٌ أَوْ أَلْقَى السَّمْعَ وَهُوَ شَهِيدٌ۝

Sungguh, pada yang demikian itu pasti terdapat peringatan bagi orang-orang yang mempunyai hati atau yang menggunakan pendengarannya, sedang dia menyaksikannya. (Alquran, Surah Qāf/50: 37)

 

وَجَعَلْنَا عَلَىٰ قُلُوبِهِمْ أَكِنَّةً أَن يَفْقَهُوهُ وَفِي آذَانِهِمْ وَقْرًا ۚ وَإِذَا ذَكَرْتَ رَبَّكَ فِي الْقُرْآنِ وَحْدَهُ وَلَّوْا عَلَىٰ أَدْبَارِهِمْ نُفُورًا۝

Dan Kami jadikan hati mereka tertutup dan telinga mereka tersumbat, agar mereka tidak dapat memahaminya. Dan apabila engkau menyebut Tuhanmu saja dalam Alquran, mereka berpaling ke belakang melarikan diri (karena benci). (Alquran, Surah al-lsrā‘/17: 46)

 

Dalam bahasa Alquran, hati yang tertutup akan membuat pemiliknya tidak dapat menerima dan mengikuti kebenaran. Hati, ketika itu, memiliki kecenderungan untuk mengikuti hawa nafsu. Penutupan hati yang dilakukan Allah adalah sebagai dampak dari upaya mereka sendiri. Mereka enggan menggunakan pendengaran, penglihatan, dan hatinya, hingga pada akhirnya hati mereka berkarat dan tertutup.

Secara tradisional, banyak yang menganggap bahwa komunikasi antara kepala (otak, akal) dan jantung (hati, perasaan) berlangsung satu arah, yaitu bahwa hati bereaksi atas perintah otak. Barulah akhir-akhir ini terungkap bahwa komunikasi antara hati dan otak berlangsung sangat dinamis, terus-menerus, dua arah, dan saling mempengaruhi.

Penelitian mengungkap bahwa hati melakukan komunikasi ke otak melalui empat jalan, yaitu (1) transmisi melalui syaraf; (2) secara biokimia melalui hormon dan transmiter syaraf; (3) secara biofisik melalui gelombang tekanan; (4) secara energi melalui interaksi gelombang elektromagnetik. Keempat bentuk komunikasi ini mengakibatkan terjadinya aktivitas di otak. Penelitian mengungkapkan bahwa pesan yang disampaikan hati kepada otak akan mempengaruhi perilaku.

Selama ini diperkirakan bahwa medan elektromagnetik hati adalah medan terkuat yang dimiliki manusia. Medan ini tidak hanya mempengaruhi setiap sel yang ada dalam tubuhnya, tetapi juga mencakup ke segala penjuru ruang di sekitarnya. Kuat dugaan, medan elektromagnetik adalah pembawa informasi yang sangat penting. Bahkan, terbukti bahwa medan elektromagnetik seseorang dapat mempengaruhi kinerja otak orang lain.

Ilmu pengetahuan telah membuktikan bahwa hati berdampak pada kemampuan berpikir otak, juga memberikan pemikiran dan perasaan kepada otak yang pada gilirannya akan mengatur perilaku seseorang. Ketika Allah mengecap orang kafir yang berhati keras sebagai orang yang “berpenyakit hati” dan “tidak memiliki pengertian”, Dia juga berbicara tentang kemampuan hati secara fisik untuk mengerti dan menerima. Selanjutnya, Alah juga menginformasikan lebih jauh tentang kemampuan hati untuk menyimpan memori dan rahasia.

 

ثُمَّ أَنزَلَ عَلَيْكُم مِّن بَعْدِ الْغَمِّ أَمَنَةً نُّعَاسًا يَغْشَىٰ طَائِفَةً مِّنكُمْ ۖ وَطَائِفَةٌ قَدْ أَهَمَّتْهُمْ أَنفُسُهُمْ يَظُنُّونَ بِاللَّهِ غَيْرَ الْحَقِّ ظَنَّ الْجَاهِلِيَّةِ ۖ يَقُولُونَ هَل لَّنَا مِنَ الْأَمْرِ مِن شَيْءٍ ۗ قُلْ إِنَّ الْأَمْرَ كُلَّهُ لِلَّهِ ۗ يُخْفُونَ فِي أَنفُسِهِم مَّا لَا يُبْدُونَ لَكَ ۖ يَقُولُونَ لَوْ كَانَ لَنَا مِنَ الْأَمْرِ شَيْءٌ مَّا قُتِلْنَا هَاهُنَا ۗ قُل لَّوْ كُنتُمْ فِي بُيُوتِكُمْ لَبَرَزَ الَّذِينَ كُتِبَ عَلَيْهِمُ الْقَتْلُ إِلَىٰ مَضَاجِعِهِمْ ۖ وَلِيَبْتَلِيَ اللَّهُ مَا فِي صُدُورِكُمْ وَلِيُمَحِّصَ مَا فِي قُلُوبِكُمْ ۗ وَاللَّهُ عَلِيمٌ بِذَاتِ الصُّدُورِ۝

Kemudian setelah kamu ditimpa kesedihan, Dia menurunkan rasa aman kepadamu (berupa) kantuk yang meliputi segolongan dari kamu, sedangkan segolongan lagi telah dicemaskan oleh diri mereka sendiri; mereka menyangka yang tidak benar terhadap Allah seperti sangkaan jahiliah. Mereka berkata, “Adakah sesuatu yang dapat kita perbuat dalam urusan in?” Katakanlah (Muḥammad ), “Sesungguhnya segala urusan itu di tangan Allah.” Mereka menyembunyikan dalam hatinya apa yang tidak mereka terangkan kepadamu. Mereka berkata, “Sekiranya ada sesuatu yang dapat kita perbuat dalam urusan ini, niscaya kita tidak akan dibunuh (dikalahkan) di sini.” Katakanlah (Muḥammad ), “Meskipun kamu ada di rumahmu, niscaya orang-orang yang telah ditetapkan akan mati terbunuh itu keluar (juga) ke tempat mereka terbunuh.” Allah (berbuat demikian) untuk menguji apa yang ada dalam dadamu dan untuk membersihkan apa yang ada dalam hatimu. Dan Allah Maha Mengetahui isi hati. (Alquran, Surah Āli ‘Imrān/3: 154)

 

أَفَلَا يَعْلَمُ إِذَا بُعْثِرَ مَا فِي الْقُبُورِ۝  وَحُصِّلَ مَا فِي الصُّدُورِ۝  إِنَّ رَبَّهُم بِهِمْ يَوْمَئِذٍ لَّخَبِيرٌ۝

Maka tidakkah dia mengetahui apabila apa yang di dalam kubur dikeluarkan, dan apa yang tersimpan di dalam dada dilahirkan? Sungguh, Tuhan mereka pada hari itu Maha teliti terhadap keadaan mereka. (Alquran, Surah al-Ādiyāt/100: 9-11)

 

Mereka yang dikunci hatinya oleh Allah tidak akan mampu menerima kebenaran Alquran. Hal ini dikarenakan mereka memiliki cara pandang yang berbeda. Penglihatan mata dan persepsi hati seseorang terhadap sesuatu bisa jadi sangat berbeda dengan orang lain. Misalnya, seseorang melihat dengan mata dan hatinya sebuah pemandangan yang indah di pegunungan. Akan tetapi, orang lain mungkin akan melihat sebaliknya. Pendapat dan perilaku psikologis seseorang sangat mempengaruhi penerimaan dan apresiasi tentang sesuatu. Itulah sebabnya Allah berfirman:

 

إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَذِكْرَىٰ لِمَن كَانَ لَهُ قَلْبٌ أَوْ أَلْقَى السَّمْعَ وَهُوَ شَهِيدٌ۝

Sungguh, pada yang demikian itu pasti terdapat peringatan bagi orang-orang yang mempunyai hati atau yang menggunakan pendengarannya, sedang dia menyaksikannya. (Alquran, Surah Qāf/50: 37)

Kata-kata “menggunakan pendengarannya” dalam ayat ini berarti memiliki pendapat yang benar dan terbuka untuk mendengar dan mengerti. Keras hati hanya akan membuat hati cenderung untuk menolak sesuatu daripada menerimanya.

Sangat mencengangkan memang, bagaimana ilmu pengetahuan membuktikan peranan hati dalam proses berpikir; bagaimana hati memiliki kemampuan untuk berpikir dan menyimpan memori dan perasaan; dan bagaimana hati berinteraksi dengan otak sehingga mempengaruhi persepsi dan cara berpikir seseorang, namun nyatanya kesimpulan-kesimpulan ini jauh-jauh hari telah dijelaskan oleh Alquran.

Satu hal yang sangat dianjurkan dan bermanfaat untuk kesehatan adalah memaafkan. Pesan moral ini tampak pada firman Allah:

 

خُذِ الْعَفْوَ وَأْمُرْ بِالْعُرْفِ وَأَعْرِضْ عَنِ الْجَاهِلِينَ۝

Jadilah pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang makruf, serta jangan pedulikan orang-orang yang bodoh. (Alquran, Surah al-A’rāf/7: 199)

Maaf juga dikaitkan dengan kelapangan dalam bentuk fisik, yaitu membantu yang lemah. Surah an-Nūr‎/24: 22 bahkan menyandingkan maaf pada level manusia dengan ampunan pada level Tuhan.

وَلَا يَأْتَلِ أُولُو الْفَضْلِ مِنكُمْ وَالسَّعَةِ أَن يُؤْتُوا أُولِي الْقُرْبَىٰ وَالْمَسَاكِينَ وَالْمُهَاجِرِينَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ ۖ وَلْيَعْفُوا وَلْيَصْفَحُوا ۗ أَلَا تُحِبُّونَ أَن يَغْفِرَ اللَّهُ لَكُمْ ۗ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ۝

Dan janganlah orang-orang yang mempunyai kelebihan dan kelapangan di antara kamu bersumpah bahwa mereka (tidak) akan memberi (bantuan) kepada kerabat(nya), orang-orang miskin dan orang-orang yang berhijrah di jalan Allah, dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak suka bahwa Allah mengampunimu? Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang. (Alquran, Surah an-Nūr/24: 22)

 

Memaafkan juga sangat dianjurkan Tuhan seperti diungkapkan dalam beberapa ayat Iain, di antaranya:

 

وَجَزَاءُ سَيِّئَةٍ سَيِّئَةٌ مِّثْلُهَا ۖ فَمَنْ عَفَا وَأَصْلَحَ فَأَجْرُهُ عَلَى اللَّهِ ۚ إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الظَّالِمِينَ۝

Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang setimpal, tetapi barangsiapa memaafkan dan berbuat baik (kepada orang yang berbuat jahat) maka pahalanya dari Allah. Sungguh, Dia tidak menyukai orang-orang zalim. (Alquran, Surah asy-Syūrā/42: 40)

 

Dari sebuah penelitian disimpulkan bahwa mereka yang sanggup memberikan maaf memiliki kesehatan lahir dan batin yang lebih baik daripada orang-orang yang tidak suka memberi maaf. Bukan saja lebih baik dalam artian emosional, namun juga secara lahiriyah. Mereka yang sebelumnya menderita penyakit turunan depresi, seperti sakit punggung, insomnia, dan nyeri Iambung, merasa lebih baik ketika mereka berusaha memberi maaf kepada orang Iain. Orang yang menahan kemarahan yang berkepanjangan dan tak terselesaikan dalam dirinya sama dengan orang yang membiarkan thermostat menyala dalam tubuhnya. Orang yang tidak membiasakan diri untuk merendahkan level kemarahannya tentu saja tidak akan mengenal apakah itu normal. Kemarahan ini memacu aliran adrenalin terus-menerus hingga fisiknya akan terbiasa dengan kondisi ini. Aliran adrenalin yang seperti ini akan membakar tubuhnya yang berujung pada kesulitan untuk berpikir jernih. Tanpa kemampuan berpikir jernih, seseorang akan cenderung kembali membuat kesalahan baru; kesalahan yang kembali meningkatkan ambang kemarahan dalam dirinya. Kemarahan ini akan semakin memacu produksi adrenalin; demikian seterusnya.

Banyak sekali penelitian yang mengarah pada pernbenaran terhadap temuan ini. Banyak pula artikel yang menjelaskan adanya keterkaitan antara kemarahan dan penyakit-penyakit tertentu, seperti stroke dan semacamnya. Semua itu memperlihatkan bahwa kemarahan adalah kondisi psikis yang membahayakan diri seorang manusia. Sedangkan memaafkan, di pihak Iain, meski diakui sangat sulit dilakukan, tidak bisa dimungkiri berdampak positif. Di samping itu, memaafkan juga menunjukkan ketinggian moral seseorang. Memberi maaf akan menghilangkan hal-hal negatif yang ditimbulkan oleh kemarahan. Satu hal lagi, memaafkan adalah hal yang sangat dicintai Tuhan.

Hati atau kalbu juga memiliki kekuatan yang besar bila digunakan secara maksimal dalam berdoa. Misalnya, manfaat doa dalam menyembuhkan penyakit seseorang bukanlah khayalan. Bila seseorang sedang sakit maka ketika itulah kepasrahan dan ketergantungan dirinya kepada Tuhan akan timbul. la akan merasa sangat dekat dengan Tuhan. Terlebih bila ia merasa bahwa sakit yang dideritanya adalah ujian atau teguran Tuhan. Bila dalam keadaan yang demikian ini ia berdoa meminta kesembuhan maka reaksi lahir dan batinnya akan menyambut positif doa tersebut. Keadaan sebaliknya akan terjadi pada mereka yang tidak percaya pada kekuatan doa. Mereka lebih mengandalkan hal-hal duniawi, seperti teknologi, obat, dan perawatan dokter. Mereka tidak acuh kepada Tuhan yang menciptakan semua yang ada di dunia ini. Obat, ilmu kedokteran, teknologi kedokteran, dan semisalnya adalah ciptaan-Nya. Bila keadaan sudah buntu dan dokter sudah tidak dapat berbuat apa-apa lagi, barulah mereka berpaling kepada Allah. Pola pikir seperti ini telah Allah singgung dalam firman-Nya:

 

وَإِذَا مَسَّ الْإِنسَانَ الضُّرُّ دَعَانَا لِجَنبِهِ أَوْ قَاعِدًا أَوْ قَائِمًا فَلَمَّا كَشَفْنَا عَنْهُ ضُرَّهُ مَرَّ كَأَن لَّمْ يَدْعُنَا إِلَىٰ ضُرٍّ مَّسَّهُ ۚ كَذَٰلِكَ زُيِّنَ لِلْمُسْرِفِينَ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ۝

Dan apabila manusia ditimpa bahaya dia berdoa kepada Kami dalam keadaan berbaring, duduk atau berdiri, tetapi setelah Kami hilangkan bahaya itu darinya, dia kembali (ke jalan yang sesat), seolah-olah dia tidak pernah berdoa kepada Kami untuk (menghilangkan) bahaya yang telah menimpanya. Demikianlah dijadikan terasa indah bagi orang-orang yang melampaui batas apa yang mereka kerjakan. (Alquran, Surah Yūnus/10: 12)

 

Seorang muslim harus selalu berdoa dan bersyukur atas kondisi apa pun yang mereka hadapi, karena sebetulnya Allah begitu dekat dengan manusia.

 

وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ ۚ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ۝

Dan Tuhanmu berfirman, “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku perkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang sombong tidak mau menyembahKu akan masuk neraka Jahanam dalam keadaan hina dina.” (Alquran, Surah Gāfir/40: 60)

 

وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ ۖ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ ۖ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ۝

Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu (Muḥammad ) tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat. Aku Kabulkan permohonan orang yang berdoa apabila dia berdoa kepada-Ku. Hendaklah mereka itu memenuhi (perintah)-Ku dan beriman kepada-Ku, agar mereka memperoleh kebenaran. (Alquran, Surah al-Baqarah/2: 186)

 

Leave a Reply

Close Menu