HAKIKAT WAKTU

Serial Quran dan Sains

Demi masa, sungguh manusia berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta saling menasihati untuk kebenaran dan saling menasihati untuk kesabaran. (Alquran, Surah al-‘Aṣr/103: 1-3)

Alquran mengingatkan akan kerugian kehidupan manusia di alam fana dalam perspektif waktu, kecuali bagi yang mengisi atau menjalani kehidupan dengan beriman dan beramal saleh, saling nasihat-menasihati dalam kebaikan. Dalam dunia akademis, waktu dikenal sebagai besaran fisika seperti halnya suhu yang dirasakan sebagai panas atau dingin. Bisa juga seperti massa yang dirasakan berat atau ringan, atau seperti ukuran ruang, panjang, atau volume yang dengannya kita paham ukuran besar atau kecil. Waktu tak bisa dilihat, didengar, dan dirasakan, tetapi waktu senantiasa menyertai kehidupan. Tidak seperti besaran fisika lainnya, waktu terus berubah dan tidak bisa dihambat.

Manusia tidak bisa mengendalikan waktu, tetapi semestinya kita bisa memanfaatkannya. Kalau kita tidak bisa memanfaatkannya, waktu lepas begitu saja dan kita akan menjadi manusia yang merugi. Detak jarum jam bergerak berpindah rutin meniti putaran demi putaran. Kalender yang tergantung di dinding kita lewati lembar demi lembar hingga mencapai pergantian tahun. Tanda titian waktu kehidupan mengingatkan manusia tentang adanya batas waktu kehidupan. Kematian jarum jam tak menghentikan atau menghapus keberadaan waktu. Kematian manusia juga tak menghentikan keberadaan dimensi waktu. Kematian bintang di alam semesta sekali pun juga tidak menghapuskan waktu.

Keberadaan waktu tetap menjadi misteri bagi manusia, tidak terlihat oleh indra manusia. Manusia merasakan adanya waktu, melewati sebuah proses ada kemarin, hari ini, dan hari esok. Fenomena yang dibangkitkan sistem bumi, bulan, dan matahari merupakan sebuah jam alam semesta yang tak pernah berhenti, berlangsung berjuta dan bermiliar tahun memberi inspirasi tentang lama titian waktu yang dijalani koloni kehidupan manusia. Beragam cara makhluk cerdas manusia membuat sistem titian, di antaranya titian ruang dan waktu berdasar peredaran bulan mengelilingi bumi, rotasi bumi, atau bumi mengelilingi matahari.

Pergantian tahun direspons masyarakat dunia dengan berbagai cara: mengintrospeksi diri, berpesta pora, kontemplasi, membakar kembang api sepanjang malam, dan sejenak melupakan kesibukan dunia. Dalam pandangan Islam, pergantian waktu merupakan introspeksi atas kehidupan manusia.Tolok ukurnya adalah peningkatan ketakwaan manusia, bersyukur, berdoa, dan berharap kepada Allah untuk selamat dan berbahagia di dunia dan di akhirat.

Pemahaman tentang adanya waktu membuat tantangan bagi makhluk cerdas, rasa penasaran untuk spasial waktu ingin memisahkan dua kejadian dengan selang waktu yang amat singkat, setahun, sebulan, sehari, sedetik, seperseribu detik, sepersatu juta detik, dan seterusnya. Abad informasi terus memerlukan resolusi dua peristiwa dalam skala lebih kecil  lagi hingga nano detik dan seterusnya. Manusia akhirnya juga tidak menemukan peristiwa yang terbungkus oleh resolusi waktu yang tak terpisahkan oleh indra manusia. Begitu pula dengan masa depan yang amat jauh dengan titian waktu yang fana, tak tergambarkan dan tak terbayangkan, serta tak ada pengetahuan manusia yang meyakinkan tentang masa depan yang jauh.

Alquran mengingatkan, demi waktu sesungguhnya manusia dalam keadaan merugi, kecuali orang beriman dan beramal saleh. Iman dan amal saleh merupakan satu paket. Waktu-waktu salat ditentukan dengan acuan posisi matahari yang bisa mengubah suasana di biosfer planet bumi, malam yang kelam dingin menjadi siang yang panas dan menyilaukan.

Waktu matahari di dekat meridian pengamat (memasuki waktu Zuhur) ketika condong di arah barat dengan ukuran bayang-bayang sebuah tongkat istiwa sama dengan panjang tongkat ditambah dengan panjang bayang bayang pada waktu Zuhur (memasuki waktu Ashar), sesaat (2 menit) setelah terbenam matahari (memasuki waktu Magrib). Ketika matahari mencapai jarak zenit 108 derajat (memasuki waktu Isya’), kulminasi bawah dan kemudian memasuki 1/3 malam (waktu salat Tahajud) dan kemudian memasuki waktu Subuh, waktu terbit matahari dan kemudian memasuki waktu Ḍuḥā. Dalam Alquran terdapat banyak ayat yang berbicara tentang waktu, di antaranya adalah dalam Surah Āli ‘Imrān/3: 17, 41, 113, dan 134; an-Nisā’/4: 103; dan al-A‘rāf/7: 98.

لَيْسُوا سَوَاءً ۗ مِّنْ أَهْلِ الْكِتَابِ أُمَّةٌ قَائِمَةٌ يَتْلُونَ آيَاتِ اللَّهِ آنَاءَ اللَّيْلِ وَهُمْ يَسْجُدُونَ۝

Dia (Zakaria) berkata, “Ya Tuhanku, berilah aku suatu tanda.” Allah berfirman, “Tanda bagimu, adalah bahwa engkau tidak berbicara dengan manusia selama tiga hari, kecuali dengan isyarat. Dan sebutlah (nama) Tuhanmu banyak-banyak. Mereka itu tidak (seluruhnya) sama. Di antara Ahli Kitab ada golongan yang jujur, mereka membaca ayat-ayat Allah pada malam hari dan mereka (juga) bersujud (salat). (Alquran, Surah Āli ‘Imrān/3: 113)

Manusia diingatkan dengan adanya batas waktu. Waktu yang relatif bagi peristiwa dan makhluk di dunia fana juga menjadi pembatas proses dan kehidupan dalam dunia fana seperti yang diungkapkan dalam Surah al-Aḥqāf/46: 3.

مَا خَلَقْنَا السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا إِلَّا بِالْحَقِّ وَأَجَلٍ مُّسَمًّى ۚ وَالَّذِينَ كَفَرُوا عَمَّا أُنذِرُوا مُعْرِضُونَ۝

Kami tidak menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya melainkan dengan (tujuan) yang benar dan dalam waktu yang ditentukan. Namun orang-orang yang kafir, berpaling dari peringatan yang diberikan kepada mereka. (Alquran, Surah al-Al-Aḥqāf/46: 3)

Berbagai fenomena diamati dalam kehidupan di alam fana merupakan detak-detak takdir Allah dalam ruang dan waktu di lingkungan sekitar kehidupan kita atau di alam semesta yang luas dan megah. Allah menjelaskan dalam beberapa firman-Nya berikut.

اللَّهُ الَّذِي رَفَعَ السَّمَاوَاتِ بِغَيْرِ عَمَدٍ تَرَوْنَهَا ۖ ثُمَّ اسْتَوَىٰ عَلَى الْعَرْشِ ۖ وَسَخَّرَ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ ۖ كُلٌّ يَجْرِي لِأَجَلٍ مُّسَمًّى ۚ يُدَبِّرُ الْأَمْرَ يُفَصِّلُ الْآيَاتِ لَعَلَّكُم بِلِقَاءِ رَبِّكُمْ تُوقِنُونَ۝

Allah yang meninggikan langit tanpa tiang (sebagaimana) yang kamu Iihat, kemudian Dia bersemayam di atas ‘Arsy. Dia menundukkan matahari dan bulan, masing-masing beredar menurut waktu yang telah ditentukan. Dia mengatur urusan (makhluk-Nya) dan menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya), agar kamu yakin akan pertemuan dengan Tuhanmu. (Alquran, Surah ar-Ra‘d/13: 2)

أَلَمْ تَرَ أَنَّ اللَّهَ يُولِجُ اللَّيْلَ فِي النَّهَارِ وَيُولِجُ النَّهَارَ فِي اللَّيْلِ وَسَخَّرَ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ كُلٌّ يَجْرِي إِلَىٰ أَجَلٍ مُّسَمًّى وَأَنَّ اللَّهَ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ۝

Tidakkah engkau memperhatikan bahwa Allah memasukkan malam ke dalam siang dan memasukkan siang ke dalam malam dan Dia menundukkan matahari dan bulan, masing-masing beredar sampai kepada waktu yang ditentukan. Sungguh, AllahMaha teliti apa yang kamu kerjakan. (Alquran, Surah Luqmān/31: 29)

Ayat-ayat yang isinya senada dengan dua ayat di atas dapat dilihat dalam Surah Fāṭir/35: 13, az-Zumar/39: 5, Fuṣṣilat/41: 12, dan al-Aḥqāf/46: 3· Proses-proses yang terjadi di alam itu ada yang berjalan sangat singkat dan ada yang sangat panjang hingga beratus atau bermiliar tahun. Peristiwa meteor, hanya sekitar 1 detik, peristiwa rotasi bumi sekitar 23 jam 56 menit, perubahan fase bulan ke fase yang sama berikutnya 29,53059 hari, revolusi bumi mengelilingi matahari 365,2422 hari (1 tahun tropis), periode komet Halley sekitar 76 tahun, presesi sumbu rotasi Bumi sekitar 25.800 tahun, perjalanan matahari beserta planetnya mengelilingi pusat galaksi sekitar 200 juta tahun dan sebagainya. Proses kehidupan sebuah bintang seperti matahari memerlukan waktu bermiliar tahun, begitu pula proses awal hingga akhir alam semesta bisa jauh lebih panjang dari berbagai peristiwa yang dapat kita saksikan dari planet bumi ini. Tugas manusia mencari besaran kuantitatif tentang rentang waktu proses-proses yang berlangsung di alam semesta. Dalam Alquran, Allah menjelaskan hal demikian pada Surah al-Aḥqāf/46: 3, al-An‘ām/6: 67, dan al-A‘rāf/7: 34.

لِّكُلِّ نَبَإٍ مُّسْتَقَرٌّ ۚ وَسَوْفَ تَعْلَمُونَ۝

Setiap berita (yang dibawa oleh rasul) ada (waktu) terjadinya dan kelak kamu akan mengetahui. (Alquran, Surah al-An‘ām/6: 67)

وَلِكُلِّ أُمَّةٍ أَجَلٌ ۖ فَإِذَا جَاءَ أَجَلُهُمْ لَا يَسْتَأْخِرُونَ سَاعَةً ۖ وَلَا يَسْتَقْدِمُونَ۝

Dan setiap umat mempunyai ajal (batas waktu). Apabila ajalnya tiba, mereka tidak dapat meminta penundaan atau percepatan sesaat pun. (Alquran, Surah al-A‘rāf/7: 34)

Makna yang terkandung di dalam Surah al-Aḥqāf/46: 3, al-An‘ām/6: 67, dan al-A‘rāf/7: 34 di atas adalah bahwa proses-proses dalam alam semesta berlangsung dalam selang waktu tertentu, ada yang sangat singkat seperti dalam dunia atom, waktu transisi tingkat energi sebuah elektron dalam orbitnya mengelilingi proton mencapai sepersatu miliar detik (sepuluh pangkat minus 9), dan ada yang berlangsung bermiliar tahun, seperti proses dari sejak kemunculan hingga kehancuran atau kematian sebuah bintang.

Dalam ayat yang lain, Allah juga membicarakan tentang waktu yang diperlukan dalam proses pembentukan dan perkembangan bayi dalam rahim ibunya selama kurang lebih 9 bulan 10 hari. Allah berfirman,

أَلَمْ نَخْلُقكُّم مِّن مَّاءٍ مَّهِينٍ۝ فَجَعَلْنَاهُ فِي قَرَارٍ مَّكِينٍ۝ إِلَىٰ قَدَرٍ مَّعْلُومٍ۝

Bukankah Kami menciptakan kamu dari air yang hina (mani)?Kemudian Kami letakkan ia dalam tempat yang kokoh (rahim),sampai waktu yang ditentukan. (Alquran, Surah al-Mursalāt/77: 20-22)

Selain itu, dalam pemeliharaan tanaman, petani juga memerlukan waktu untuk memanen sayur, buah-buahan, padi, gandum, kurma, hasil-hasil hutan, dan sebagainya. Usaha atau rekayasa berusaha mengoptimalkan dengan mencari bibit unggul, memperbaiki kondisi pemeliharaan dan pemupukan, tetapi tidak bisa mereduksi besar-besaran dan mempersingkat proses-proses yang diperlukan. Para peternak juga memerlukan waktu untuk membesarkan ikan, udang, sapi, kambing, maupun unta. Manusia tidak bisa mereduksi besar-besaran proses-proses yang harus dijalani untuk membesarkan ternak, mencari bibit unggul, memperbaiki pakan, dan pemeliharaan yang ideal. Dengan pemahaman proses-proses tersebut, manusia bisa membuat rencana dan program kerja dalam menjalani kehidupan ini untuk memenuhi kebutuhan lahir dan batin. Manusia berusaha keras untuk menjawab tantangan tantangan di planet bumi termasuk tantangan dalam pengadaan pangan dan energi serta menjaga kualitas lingkungan hidup di masa yang akan datang.

Begitu pula dengan kesadaran tentang adanya “waktu”, manusia berkesempatan untuk memahami konsekuensi proses-proses yang sedang berlangsung di alam semesta yang sangat megah, besar, dan dahsyat ini sehingga dapat menerawang peristiwa-peristiwa yang jauh di masa silam, sekarang, dan yang akan berlangsung bermiliar tahun ke depan. Hasil penerawangan belum tentu benar, tetapi terbuka kesempatan bagi pikiran manusia untuk berikhtiar dengan pemahaman proses-proses dan ayat-ayat kauniyah yang ada sekarang.

Manusia mengenal benda langit seperti nebula, bintang, planet, dan galaksi, tetapi hanya sedikit proses-proses di alam semesta yang dipahami manusia. Untaian proses di alam semesta, seperti pembentukan gugus bintang, galaksi, proses kelahiran dan kematian bintang hingga proses pembentukan planet beserta kehidupannya yang memerlukan waktu bermiliar tahun, jauh lebih panjang dari usia kehidupan manusia, sebenarnya cukup untuk mengetuk keimanan manusia. Semua ciptaan Allah itu tergambar dengan megah dan tidak sedikit pun dicampuri oleh manusia sebagai makhluk-Nya.

Manusia tidak berkuasa dan tidak dapat menghentikan, mempercepat, atau memperlambat proses-proses yang sedang berlangsung di alam semesta. Proses-proses itu menggambarkan sifat-sifat Allah yang Mahabesar, Maha Pengasih, Maha Penyayang, Mahaagung, Mahakaya, Mahacendekia, Mahakuasa, Maha Pemelihara, dan Maha Perencana. Alam semesta dan kehidupan di planet bumi merupakan sebuah kesatuan dunia fana ciptaan-Nya, kumpulan bertriliun proses yang berlangsung pada benda benda mati dan makhluk hidup. Dalam proses kelahiran atau peleburan materi ada yang berlangsung dengan energi rendah maupun energi yang sangat besar yang tak tergambarkan oleh manusia. Peristiwa kiamat yang amat dahsyat yang akan dialami alam semesta dan isinya merupakan batas waktu pagelaran alam semesta. Ini digambarkan dalam Alquran.

وَهُوَ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ بِالْحَقِّ ۖ وَيَوْمَ يَقُولُ كُن فَيَكُونُ ۚ قَوْلُهُ الْحَقُّ ۚ وَلَهُ الْمُلْكُ يَوْمَ يُنفَخُ فِي الصُّورِ ۚ عَالِمُ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ ۚ وَهُوَ الْحَكِيمُ الْخَبِيرُ۝

Dialah yang menciptakan langit dan bumi dengan hak (benar). Ketika Dia berkata, “Jadilah!” Maka jadilah sesuatu itu. Firman-Nya adalah benar, dan milik-Nyalah segala kekuasaan pada waktu sangkakala ditiup. Dia mengetahui yang gaib dan yang nyata. Dialah Yang Mahabijaksana, Mahateliti. (Alquran, Surah al-An‘ām/6: 73)

Masalah-masalah pokok dalam menafsirkan “waktu” dalam Alquran adalah menjawab pertanyaan apakah pemahaman manusia tentang waktu yang dipergunakan sehari-hari sama seperti yang dimaksud dalam Alquran ataukah ada penafsiran lain? Mencari makna atas nama-nama waktu dan peristiwa dalam Alquran merupakan sesuatu yang menarik dalam perspektif sains dan spiritualitas. Dalam Alquran, Allah menyebutkan banyak nama waktu di dalam sejumlah ayat-Nya, ada yang bersifat umum dan ada yang bersifat khusus. Beberapa contohnya adalah,

فَأَزَلَّهُمَا الشَّيْطَانُ عَنْهَا فَأَخْرَجَهُمَا مِمَّا كَانَا فِيهِ ۖ وَقُلْنَا اهْبِطُوا بَعْضُكُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ ۖ وَلَكُمْ فِي الْأَرْضِ مُسْتَقَرٌّ وَمَتَاعٌ إِلَىٰ حِينٍ۝

Lalu setan memperdayakan keduanya dari surga sehingga keduanya dikeluarkan dari (segala kenikmatan) ketika keduanya di sana (surga). Dan Kami berfirman, “Turunlah kamu! Sebagian kamu menjadi musuh bagi yang lain. Dan bagi kamu ada tempat tinggal dan kesenangan di bumi sampai waktu yang ditentukan.” (Alquran, Surah al-Baqarah/2: 36)

Surah al-Baqarah ayat 36 di atas menunjukkan waktu dalam konteks kekuasaan Allah, pembatasan “waktu” dari sebuah peristiwa di planet bumi maupun di alam semesta tidak dapat dicampuri manusia. Ada siklus peristiwa-peristiwa yang mudah dipahami manusia, tetapi ada pula fenomena yang siklusnya tak bisa diketahui dengan pasti, karena terlalu panjang atau terlalu singkat.

وَإِنَّكُمْ لَتَمُرُّونَ عَلَيْهِم مُّصْبِحِينَ۝ وَبِاللَّيْلِ ۗ أَفَلَا تَعْقِلُونَ۝

Dan sesungguhnya kamu (penduduk Mekah) benar benar akan melalui (bekas-bekas) mereka pada waktu pagi dan pada waktu malam. Maka mengapa kamu tidak mengerti? (Alquran, Surah aṣ-Ṣāffāt/37: 137-138)

Surah aṣ-Ṣāffāt/37: 137-138 menunjukkan waktu dalam konteks fenomena “pagi” yang dipahami manusia sebagai gubahan keadaan pada waktu matahari terbit hingga tengah siang. Sedangkan di waktu malam dipahami fenomena matahari berada di bawah ufuk maupun kulminasi bawah matahari.

وَالضُّحَىٰ ۝ وَاللَّيْلِ إِذَا سَجَىٰ۝

Demi waktu Ḍuḥā (ketika matahari naik sepenggalah). Dan demi malam apabila telah sunyi (Alquran, Surah aḍ-Ḍuḥā/93: 1-2)

Surah aḍ-Ḍuḥā/93: 1-2 menunjukkan waktu dalam konteks fenomena pagi yang dipahami sebagai keadaan pada waktu matahari telah terbit dan menuju tengah hari. Sedangkan waktu malam dipahami sebagai fenomena Iingkungan yang sunyi ketika matahari berada di bawah ufuk.

Bagi yang berdiam di ekuator dan sekitarnya, fenomena perubahan suasana dari terbit hingga terbenam matahari merupakan fenomena sehari-hari yang mudah dikenali. Namun demikian, bagi yang berdiam di kawasan kutub akan menghadapi suasana ekstrem yang lain. Matahari bisa terus-menerus di atas horizon dan juga sebaliknya di mana kondisi matahari tidak pernah terbit terus-menerus selama beberapa hari. Dalam setahun mereka menikmati kondisi tersebut dalam beberapa hari lebih sedikit bila dibandingkan dengan kawasan dekat ekuator.

Dalam bahasa Indonesia istilah waktu diantaranya kemarin, besok, lusa, tahun depan, nanti, dan sebagainya. Alquran menyebutkan lebih banyak nama waktu. Beberapa di antaranya: sā‘ah atau saat/waktu (al-An‘ām/6: 31, at-Taubah/9: 117), ḥīn (al-Baqarah/2: 36), ajalin musammā (al-Baqarah/2: 282), ummatim-ma‘dūdah (Hūd/11: 8), ajal (al-Qaṣaṣ/28: 29), al-waqtil-malūm (al-Ḥijr/15: 38) mau‘id (al-Kahf/18: 58), dan qadarim-malūm (al-Mursalāt/77: 22) yang semuanya bermakna “waktu yang ditentukan”, serta ajalin qarīb (lbrāhīm/14: 39) atau waktu yang sedikit atau sebentar.

Selain itu ada istilah-istilah al-Iail dan idbār atau malam (Āli ‘Imrān/3: 190 dan aṭ-Ṭūr/52: 49), an-nahār atau siang hari (Āli ‘Imrān/3: 190), Ii dulūqisy-syams atau tergelincir matahari (al-Isrā’/17: 78), gasaqil-Iail atau gelap malam (al-Isrā’/17: 78), aḍ-Ḍuḥā atau sepenggalan naik (aḍ-Ḍuḥā/93: 1), ibkār, gadāh, bukrah,dan isyrāq atau pagi (Āli ‘Imrān/3: 41, al-An‘ām/6: 52, Maryam/19:11, dan Ṣād/38:18), al-‘asyiyi dan al-āṣāl atau petang (Āli ‘Imrān/3:41, al-A‘rāf/7: 205), arafayin-nahār atau tepi siang (Hūd/11: 114), zulafam-minal-lail atau bagian awal malam (Hūd/11: 114), mubiḥīn tubiḥūn, ub atau subuh (aṣ-Ṣāffāt/37:137, ar-Rūm/30: 17, at-Takwīr/81: 18), tuhirūn atau zuhur (ar-Rūm/30: 18), fajr, an-nujūm, saar atau menjelang pagi (al-Baqarah/2: 187, aṭ-Ṭūr/52: 49, dan al-Qamar/54: 34), al-‘ar atau sore (al-‘Aṣr/103: 1), ām, as-sinin, dan sanah atau tahun (at-Taubah/ 9: 126, Yunūs/10: 5, al-Ḥajj/22: 47), syahr atau bulan (al-Baqarah/2: 185), yaum atau hari (di antara dalam Surah as-Sajdah/32: 5).

Beberapa ungkapan isyarat waktu dalam Alquran mempunyai pengertian satuan atau unit yang kecil sehingga terkesan tak bisa diukur, seperti sā‘ah (sekejap atau sesaat). Ada waktu yang diungkapkan dengan unit yang lebih besar yaum (hari), syahr (bulan), atau sanah (tahun). Ada isyarat waktu yang diungkapkan dengan ungkapan fenomena alam asyiyi, āṣāl atau petang/sore, fajar, malam, pagi, yang lebih khusus lagi menjelang pagi, zulafam-minal-Iail atau bagian awal malam. Isyarat waktu dalam Alquran dapat dikelompokkan sebagai berikut.

Pertama, waktu di dalam pengertian tanpa batasan yakni seperti sā‘ah atau saat/waktu (al-An‘ām/6: 31, at-Taubah/9: 117).

Kedua, waktu dengan pengertian di dalam bilangan jumlah tertentu/siklus semacam ām, as-sinin, dan sanah atau tahun (at-Taubah/9:126, Yunūs/10: 5, al-Ḥajj/22: 47), syahr atau bulan (al-Baqarah/2: 185), dan yaum atau hari (as-Sajdah/32: 5). Di dalam hal ini, Alquran tidak menyebutkan adanya waktu yang disebutkan dengan minggu/pekan.

Ketiga, waktu yang merupakan bagian dari fenomena malam atau siang hari, seperti disebutkan dengan istilah-istilah ibkār, gadāh, bukrah,dan isyrāq atau pagi (Āli ‘Imrān/3: 41, al-An‘ām/6: 52, Maryam/19: 11 dan Ṣād/38: 18), asyiyi, dan āṣāl atau petang (Āli ‘Imrān/3: 41, al-A‘rāf/7: 205), dan al-‘ar atau sore (al-‘Aṣr/103: 1).

Keempat, waktu yang merupakan bagian dari sebutan-sebutan yang menunjukkan lebih kecil  dari penggalan waktu yang masuk ke dalam kategori ketiga, misalnya yaitu arafayin-nahār atau tepi siang (Hūd/11: 114), zulafam-minal-Iail atau bagian awal malam, Ii dulūqisy-syams atau tergelincir matahari (al-Isrā’/17: 78), gasaqil-Iail atau gelap malam (al-Isrā’/17: 78), serta fajr, an-nujūm, dan saar atau menjelang pagi (al-Baqarah/2: 187, aṭ-Ṭūr/52: 49, dan al-Qamar/54: 34).

Kelima, bagian-bagian waktu yang dikaitkan dengan nama salat, semacam aḍ-Ḍuḥā atau sepenggalan naik (aḍ-Ḍuḥā/93: 1), al-‘ar atau sore (al-‘Aṣr/103: 1) dan ub atau subuh/pagi (at-Takwīr/81: 18).

Keenam, waktu relatif, di antaranya dalam Surah al-Ḥajj/22:47 dan Fāṭir/35: 5 mengungkapkan “seribu tahun di bumi” sebanding dengan “sehari di sisi Allah”.

 

Dikutip dari Tafsir al-‘Ilmi

Leave a Reply

Close Menu