HADIS-HADIS YANG MELARANG PERTANIAN

HADIS-HADIS YANG MELARANG PERTANIAN

Di sela-sela sekian banyak hadis yang menganjurkan umat Islam untuk bercocok tanam, terselip beberapa hadis yang secara tekstual seolah-olah menganjurkan sebaliknya. Iman aI-Bukhāri dalam kitab aḥīh-nya bahkan menulis satu bab khusus berjudul “Bab mengenai peringatan atas akibat-akibat menyibukkan diri dengan alat pertanian dan melampaui apa yang diperintahkan kepadanya.” Di dalamnya beliau menulis hadis berikut.

Dari Abū Umāmah al-Bāhili, bahwa tatkala ia melihat sungkal bajak dan beberapa alat pertanian, ia berkata, “Aku mendengar Rasulullah bersabda, ‘Tidaklah alat ini masuk ke rumah suatu kaum melainkan Allah menimpakan kehinaan kepada mereka.”’ (Riwayat al-Bukhāri)

Hadis-hadis berikut juga kurang lebih mengandung pesan yang sama.

Tidak satu pun penghuni rumah yang pergi pada pagi hari dengan sepasang lembu (untuk membajak), kecuali akan ditimpa kehinaan. (Riwayat aṭṬabrāni dalam al-Mu‘jam al-Kabīr dari Abū Umāmah al-Bāhili)

Janganlah kalian membuat pekarangan (dan terlalu menyibukkan diri untuk mengurusnya) karena itu membuat kalian cinta kepada dunia. (Riwayat at-Tirmiżi dari Abdullāh bin Mas‘ūd)

Rasulullah melarang kami untuk berlaku berlebihan dalam urusan keluarga dan harta. (Riwayat Aḥmad dari Abdullāh bin Mas‘ūd)

Hadis-hadis ini terang saja menggelitik para ulama untuk menafsirkannya agar tidak bertentangan dengan hadis-hadis lain yang mengajurkan umat Islam untuk bercocok tanam. Sebagian mereka sampai pada kesimpulan bahwa larangan bercocok tanam berlaku jika itu bercampur dengan perbuatan yang dianggap hina, yaitu membayar pajak bumi kepada negara. Alasannya, menurut mereka, karena antara bercocok tanam dan pajak bumi tidak saling berhubungan. Ulama lainnya mengaitkan larangan bercocok tanam dengan potensi terbengkalainya urusan ibadah seseorang, termasuk di dalamnya jihad, akibat terlalu sibuk dengan pekerjaannya itu. Pendapat ini tampaknya lebih rasional, lebih-lebih pada saat itu Rasulullah membutuhkan banyak tenaga untuk berjihad dalam rangka menegakkan agama Allah. Tampaknya pendapat inilah yang diamini oleh al-Bukhāri, sampai-sampai beliau memberi judul sebuah bab dalam aḥīh-nya seperti itu. Pendapat yang disebut terakhir ini juga sejalan dengan hadis berikut.

Apabila kalian (umat Islam) telah berjual beli dengan sistem ‘īnah (satu jenis jual beli yang termasuk riba), telah memegang ekor-ekor sapi (suka beternak), telah lebih senang bertani, dan telah meninggalkan jihad, maka Allah akan menimpakan kehinaan kepada kalian. Kehinaan itu tidak akan Allah cabut sampai kalian mau kembali kepada agama kalian. (Riwayat Abū Dāwūd dari lbnu Umar)

Hadis ini sejatinya tidak melarang aktivitas pertanian, melainkan melarang umat Islam terlalu sibuk mengurus pertanian hingga melalaikan perintah Allah. Apabila ini yang terjadi maka Allah pasti akan menimpakan kehinaan kepada mereka. Dengan demikian, yang dilarang bukanlah aktivitas pertanian itu melainkan menyibukkan diri di dalamnya dengan melalaikan hak Allah.

Dikutip Dari Tafsir ‘Ilmi

 

Leave a Reply

Close Menu