FINE TUNING DAN PRINSIP ANTROPIK

FINE TUNING DAN PRINSIP ANTROPIK

Perlu dibedakan antara penalaan halus yang menjadi pokok bahasan -sesuatu yang disepakati oleh semua ilmuwan sebagai argumen tak terbantahkan- dengan prinsip antropik yang versinya berbeda-beda dan merupakan suatu prinsip metafisika filosofis dengan/tanpa nuansa teologis. Selain itu, dalam banyak kasus, dua jenis argumen ini juga perlu dibedakan dengan Argumen Rancangan, dan tentu saja dengan teori (atau tepatnya, hipotesis) Rancangan Cerdas.

Carter pada awalnya menghadirkan dua versi prinsip antropik. Prinsip antropik lemah secara sederhana menyiratkan bahwa semua parameter di alam raya ini telah disesuaikan untuk kehadiran manusia. Prinsip ini barangkali tampak sebagai sebuah tautologi meskipun sebenarnya ia adalah prinsip ilmiah yang sangat berguna. Prinsip tersebut mampu menjungkirbalikkan teori-teori keliru yang tidak berpihak kepada aspek-aspek alam semesta yang ramah terhadap kehidupan. Sementara itu, prinsip antropik kuat lebih kontroversial lagi karena ia mensyaratkan ketersusunan alam semesta secara antropik. Sejak gagasan Carter tersebut mengemuka, beberapa versi prinsip antropik lain ikut muncul ke permukaan. Saya juga telah mengulas berbagai kesimpulan metafisik yang bisa ditarik dari pertimbanganpertimbangan semacam itu.

Ketika mengulas perspektif Islam yang berkaitan dengan penalaan halus dan prinsip antropik, awalnya saya membidik respons para pemikir Muslim yang tergolong lambat dalam mengikuti perkembangan penting ini. Saya juga telah menjelaskan bahwa respons lambat tersebut terjadi karena beberapa alasan: (1) prinsip antropik kemungkinan hanya dilihat sebagai variasi sederhana dari skema Rancangan yang didukung penuh dalam tradisi Islam; (2) beberapa mazhab filsafat Islam kontemporer tidak tertarik melihat perkembangan teologi alam (natural theology) berbasiskan sains, betapapun ia berkembang pesat; dan (3) kebanyakan Muslim, termasuk sebagian besar kalangan elite, menolak mentah-mentah berbagai prinsip, termasuk prinsip antropik, yang masih erat kaitannya dengan evolusi alam semesta, baik jasmaniah, kimiawi, maupun biologis.

Namun, semakin populer dan meluasnya minat terhadap topik ini di Barat pada akhirnya juga memaksa sejumlah pemikir Muslim untuk ikut bergelut dengan topik tersebut. Sayangnya, dialog yang terjadi berbentuk korespondensi satu-satu (one-to one corespondence), yakni antara konsep-konsep modern (seperti prinsip antropik) dan istilah-istilah khusus Alquran seperti taskhir. Saya sungguh kaget karena tidak menemukan satu pun rujukan pada wacana penalaan halus alam semesta (yang sebenarnya lebih penting) dalam literatur Islam.

Saya juga telah berupaya menunjukkan bahwa setidak-tidaknya dalam pembacaan atas beberapa ayat Alquran, kita bisa menemukan berbagai keselarasan antara gagasan penalaan halus kosmos dan konsep-konsep seperti taqdir (ketentuan-sesuai ukuran), misalnya dalam ayat: Dia telah menciptakan segala sesuatu, dan Dia menetapkan ukuran-ukuran (setiap sesuatu tersebut) dengan serapi-rapinya (Alquran, Surah AI-Furqan/25:2), dan keadilan (keseimbangan), dalam ayat: Dan Allah telah meninggikan langit dan meletakkan neraca (keadilan) (Alquran, Surah Ar-Rahman/55:7).

Mengenai konsep taskhir, saya lebih suka menyebut gagasan Islam tradisional tersebut sebagai “prinsip ultra-antropik”. AIasannya, konsep ini memosisikan manusia tepat di pusat pandangan hidupnya: manusia bukan hanya tujuan dari keseluruhan penciptaan, melainkan segala sesuatu memang telah diciptakan dan dibuat ‘tunduk’ (musakhkhar) kepadanya!

Aspek ultra-antropik dari pandangan Islam tradisional ini penting untuk didiskusikan. Dalam tinjauannya terhadap sikap Ibn Rusyd terkait dengan argumen teleologis, Taneli Kukkonen mengatakan bahwa argumen ‘inayat dalam Al-Kasyf-nya Ibn Rusyd “sangat disayangkan terkesan begitu antroposentis”. Menurut Kukkonen, jika semua karya Ibn Rusyd diulas, khususnya komentar-komentarnya mengenai Aristoteles, akan terlihat bahwa argumen ini hanya tampak dalam sebagian kecil saja, sementara bagian terbanyaknya terdiri dari argumen-argumen demonstratif, yakni bukti-bukti filosofis dari hasil deduksi logis. Lebih lanjut, Kukkonen mengingatkan gaya Ibn Rusyd yang seringkali menekankan posisi inferior manusia di hadapan kosmos dan bahwa yang superior tidak bisa maujud ‘dalam niat pertama’ (meminjarn istilah Ibn Rusyd) hanya demi yang inferior. Namun, Ibn Rusyd bersikukuh bahwa kemampuan seseorang dalam menemukan kausa final (final causes) di langit yang berguna di bumi menunjukkan beroperasinya sebuah kecerdasan tinggi.

Ibn Rusyd mengkritik antroposentrisme Islam tradisional melalui pernyataannya bahwa tidak semua hal di alam semesta diciptakan untuk kebaikan manusia. Jelas, ada banyak hewan yang tidak berguna bagi manusia, baik secara langsung maupun tidak. Inilah alasan utama mengapa Barrow dan Tipler menyebut Ibn Rusyd sebagai representasi utama dari sikap non-antropik. Kukkonen juga menjelaskan bahwa Ibn Rusyd membahas makhluk-makhluk demi memenuhi prinsip “kemaslahatan besar yang ternodai oleh keburukan kecil”, tetapi pada akhirnya memberi kebaikan bagi umat manusia: “Kemaslahatan manusia terjadi sebagai akibat dari kebaikan utama dalam raneangan universal.”

Dewasa ini, umat Muslim boleh saja bersikeras bahwa manusia diciptakan untuk beribadah kepada Tuhan, dan alam semesta hadir untuk memudahkan ibadah tersebut (baik secara fisik, emosi, dan batin) dengan cara melakukan perenungan atas alam semesta dan barangkali mengenal Tuhan melalui alam tersebut. Kemudian, umat Muslim barangkali membaca perkembangan gagasan ihwal penalaan halus dan prinsip antropik sehingga terdorong untuk memandang keduanya sebagai penegasan bahwa kita manusia “jelas terbukti” adalah pusat alam semesta, dan barangkali alam semesta sebenarnya diciptakan untuk kita. Namun, harus tetap diingat bahwa tujuan penciptaan adalah alasan ilahi yang akan selalu berada di luar jangkauan pemahaman manusia.

 

Leave a Reply

Close Menu