FENOMENA KEMUSYRIKAN DALAM PERTANIAN

FENOMENA KEMUSYRIKAN DALAM PERTANIAN

Islam adalah agama tauhid yang mengajak manusia untuk beribadah hanya kepada Allah, dan menjauhkan diri mereka dari kemusyrikan. Salah satu bentuk syirik adalah memalingkan hak rubūbiyah kepada selain Allah, misalnya hak menciptakan, hak mengatur alam, dan hak memberi rezeki. Syirik adalah dosa terbesar dan tidak terampuni, seperti Allah nyatakan dalam firman-Nya,

إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَن يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَٰلِكَ لِمَن يَشَاءُ ۚ وَمَن يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدِ افْتَرَىٰ إِثْمًا عَظِيمًا۝

Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni (dosa) karena mempersekutukan-Nya (syirik), dan Dia mengampuni apa (dosa) yang selain (syirik) itu bagi siapa yang Dia kehendaki. Barangsiapa mempersekutukan Allah, maka sungguh, dia telah berbuat dosa yang besar. (Alquran, Surah an-Nisā’/4: 48)

Hal seperti ini, disadari atau tidak, banyak terjadi pada masyarakat petani di berbagai daerah di Indonesia. Itu tampak misalnya dalam penentuan hari baik untuk menanam atau panen. Mereka lupa bagaimana Islam menyatakan bahwa semua hari adalah sama baiknya; tidak ada distingsi hari baik dan hari sial. Hari tidak bisa mendatangkan mudarat maupun manfaat karena yang berkuasa untuk yang demikian ini hanyalah Allah.

فَإِذَا جَاءَتْهُمُ الْحَسَنَةُ قَالُوا لَنَا هَٰذِهِ ۖ وَإِن تُصِبْهُمْ سَيِّئَةٌ يَطَّيَّرُوا بِمُوسَىٰ وَمَن مَّعَهُ ۗ أَلَا إِنَّمَا طَائِرُهُمْ عِندَ اللَّهِ وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَهُمْ لَا يَعْلَمُونَ۝

Kemudian apabila kebaikan (kemakmuran) datang kepada mereka, mereka berkata, “Ini adalah karena (usaha) kami.” Dan jika mereka ditimpa kesusahan, mereka lemparkan sebab kesialan itu kepada Musa dan pengikutnya. Ketahuilah, sesungguhnya nasib mereka di tangan Allah, namun kebanyakan mereka tidak mengetahui. (Alquran, Surah al-A‘rāf/7: 131)

Meramalkan atau menentukan sesuatu yang menjadi wewenang Allah adalah perbuatan jahiliyah. Dengan kata lain, perbuatan itu menunjukkan masih adanya Sisa kepercayaan animisme dan dinamisme dalam diri sebagian dari masyarakat petani kita. Allah telah mengecam dan memurkai orang-orang yang seperti ini. Begitupun Rasulullah telah melarang taayyur dan mengategorikannya sebagai kemusyrikan, seperti dapat kita temukan dalam sabdanya,

Taṭayyur adalah syirik; taṭayyur adalah syirik (tiga kali). Dan tiada seorang pun dari kita kecuali (pernah melakukan satu bentuk darinya), hanya saja Allah menghilangkan itu dengan tawakal kepada-Nya. (Riwayat Aḥmad, Abū Dāwūd, dan ibnu Mājah dari ‘Abdullāh bin Mas‘ūd)

iyārah atau taṭayyur adalah menganggap sial apa yang dilihat, didengar, atau diketahui. Misalnya, seseorang merasa akan tertimpa sial karena melihat atau mendengar kicau burung tertentu. Begitupun percaya pada kesialan apabila memulai menanam pada hari atau bulan tertentu. Rasulullah bersabda,

Barang siapa yang hajatnya dikendalikan oleh taṭayyur maka ia benar-benar telah berbuat sirik. Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, lalu apa yang dapat menghapus hal itu?” beliau menjawab, “Hendaknya orang itu berkata, ‘Ya Allah, tidak ada kebaikan kecuali kebaikan-Mu, tidak ada kesialan kecuali kesialan dari-Mu, dan tidak ada tuhan selain Engkau. (Riwayat Aḥmad dari ‘Abdullāh bin ‘Amr)

 

Semua hal baik ada di tangan-Nya, dan hanya Dia-lah yang mendatangkan kebaikan kepada hamba-Nya dengan kehendak dan kemauan-Nya. Allah pula yang menolak bahaya dengan takdir, kelembutan, dan kebaikan-Nya. Tidak ada kebaikan kecuali dari Allah, dan Dia pula yang menolak keburukan dari hamba-Nya. Manusia seharusnya mengerti bahwa keburukan yang menimpanya adalah akibat dosanya sendiri. Allah berfirman,

مَّا أَصَابَكَ مِنْ حَسَنَةٍ فَمِنَ اللَّهِ ۖ وَمَا أَصَابَكَ مِن سَيِّئَةٍ فَمِن نَّفْسِكَ ۚ وَأَرْسَلْنَاكَ لِلنَّاسِ رَسُولًا ۚ وَكَفَىٰ بِاللَّهِ شَهِيدًا۝

Kebajikan apa pun yang kamu peroleh, adalah dari sisi Allah, dan keburukan apa pun yang menimpamu, itu dari (kesalahan) dirimu sendiri. Kami mengutusmu (Muḥammad) menjadi Rasul kepada (seluruh) manusia. Dan cukuplah Allah yang menjadi saksi. (Alquran, Surah anNisā’/4: 79)

 

Hal lain yang juga sering dilakukan orang, baik dalam aktivitas pertanian maupun aktivitas yang lainnya, adalah meminta bantuan pawang hujan untuk mendatangkan atau menolak hujan. Dilihat dari perspektif hak, sesungguhnya yang berhak menurunkan hujan hanyalah Allah, bukannya pawang hujan. Begitupun yang mengatur waktu turun dan kadarnya adalah Allah. Hal yang demikian ini telah disampaikan Allah melalui firman-Nya,

إِنَّ اللَّهَ عِندَهُ عِلْمُ السَّاعَةِ وَيُنَزِّلُ الْغَيْثَ وَيَعْلَمُ مَا فِي الْأَرْحَامِ ۖ وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ مَّاذَا تَكْسِبُ غَدًا ۖ وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ بِأَيِّ أَرْضٍ تَمُوتُ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ۝

Sesungguhnya hanya di sisi Allah ilmu tentang hari Kiamat; dan Dia yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada dalam rahim. Dan tidak ada seorang pun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan dikerjakannya besok. Dan tidak ada seorang pun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Maha Mengenal. (Alquran, Surah Luqmān/31: 34)

وَهُوَ الَّذِي أَنزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَخْرَجْنَا بِهِ نَبَاتَ كُلِّ شَيْءٍ فَأَخْرَجْنَا مِنْهُ خَضِرًا نُّخْرِجُ مِنْهُ حَبًّا مُّتَرَاكِبًا وَمِنَ النَّخْلِ مِن طَلْعِهَا قِنْوَانٌ دَانِيَةٌ وَجَنَّاتٍ مِّنْ أَعْنَابٍ وَالزَّيْتُونَ وَالرُّمَّانَ مُشْتَبِهًا وَغَيْرَ مُتَشَابِهٍ ۗ انظُرُوا إِلَىٰ ثَمَرِهِ إِذَا أَثْمَرَ وَيَنْعِهِ ۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكُمْ لَآيَاتٍ لِّقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ۝

Dan Dialah yang menurunkan air dari langit, lalu Kami tumbuhkan dengan air itu segala macam tumbuh-tumbuhan, maka Kami keluarkan dari tumbuh-tumbuhan itu tanaman yang menghijau, Kami keluarkan dari tanaman yang menghijau itu butir yang banyak; dan dari mayang kurma, mengurai tangkai-tangkai yang menjulai, dan kebun-kebun anggur, dan (Kami keluarkan pula) zaitun dan delima yang serupa dan yang tidak serupa. Perhatikanlah buahnya pada waktu berbuah, dan menjadi masak. Sungguh, pada yang demikian itu ada tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang beriman. (Alquran, Surah al-An‘ām/6: 99)

 

Selain dua hal di atas, kebiasaan lain yang sering dilakukan para petani adalah menaruh sesaji dan sedekah bumi. Hal ini mereka lakukan agar para “penunggu” atau “penguasa” tempat itu tidak mengganggu para petani dan tanamannya sehingga panennya akan melimpah. Allah menyindir perilaku yang demikian ini dalam firman-Nya,

وَأَنَّهُ كَانَ رِجَالٌ مِّنَ الْإِنسِ يَعُوذُونَ بِرِجَالٍ مِّنَ الْجِنِّ فَزَادُوهُمْ رَهَقًا۝

Dan sesungguhnya ada beberapa orang laki-laki dari kalangan manusia yang meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki dari jin, tetapi mereka (jin) menjadikan mereka (manusia) bertambah sesat. (Alquran, Surah al-Jinn/72: 6)

 

Sesaji yang diberikan biasanya berupa buah-buahan atau hasil pertanian. Apabila sesaji itu berupa daging maka sudah pasti perbuatan ini termasuk dosa besar karena menyembelih hewan demi hal-hal yang itu menyalahi aturan Allah adalah terlarang. Terkait hal ini ‘Ali bin Abī Ṭālib berkata,

 

Rasulullah tidak pernah mewartakan kepadaku sebuah rahasia pun yang beliau sembunyikan dari orang lain. Hanya saja aku mendengar beliau bersabda, “Allah melaknat orang yang menyembelih binatang bukan karena Allah; Allah melaknat orang yang melindungi pembuat hal-hal yang baru (bid’ah); Allah melaknat orang yang melaknat kedua orang tuanya; dan Allah melaknat orang yang merubah batas tanah.” (Riwayat Muslim dari Ali bin Abī Ṭālib)

 

Hal serupa juga disebutkan Allah dalam firman-Nya,

إِنَّمَا حَرَّمَ عَلَيْكُمُ الْمَيْتَةَ وَالدَّمَ وَلَحْمَ الْخِنزِيرِ وَمَا أُهِلَّ بِهِ لِغَيْرِ اللَّهِ ۖ فَمَنِ اضْطُرَّ غَيْرَ بَاغٍ وَلَا عَادٍ فَلَا إِثْمَ عَلَيْهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَّحِيمٌ۝

Sesungguhnya Dia hanya mengharamkan atasmu bangkai, darah, daging babi, dan (daging) hewan yang disembelih dengan (menyebut nama) selain Allah. Tetapi barangsiapa terpaksa (memakannya), bukan karena menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, maka tidak ada dosa baginya. Sungguh, Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang. (Alquran, Surah al-Baqarah/2: 173)

 

Selain sesajian, banyak petani yang memakai berbagai benda, seperti keris, jimat, batu besar, pohon, dan sejenisnya sebagai perantara untuk aktivitas pertaniannya. Seharusnya mereka tahu bahwa hanya Allah yang dapat memberi manfaat dan mencegah bahaya. Bahkan batu yang dihormati umat Islam, Hajar Aswad, tidak memiliki tuah apa pun, sebagaimana dikatakan oleh ‘Umar bin Khaṭṭāb, “Aku tahu engkau hanyalah sebongkah batu; tidak bisa menimpakan mudarat dan memberi manfaat. Andai saja aku tidak melihat Rasulullah menciummu maka aku pun tidak akan menciummu.”

Pertanian, meski tidak secara rinci, juga dibahas di dalam Alquran. Selama ini para ilmuwan dan peneliti bidang pertanian berusaha mengembangkan dan mendalami ilmu agronomi dari segala aspek, dan menemukan banyak inovasi dan teknologi baru yang itu tidak mereka akui dasarnya dari Alquran. Mereka bersikap seolah semua itu adalah murni hasil temuan mereka. Padahal, sebenarnya dasar-dasar ilmu bercocok tanam itu sudah ada dalam Alquran, dan Allah memang menyuruh manusia untuk memperhatikan, mempelajari, dan menelitinya. Ada beberapa ayat yang memiliki kaitan dengan bidang pertanian, dan sekaligus memperingatan manusia untuk tetap taat kepada Allah, karena Dialah yang berkuasa menumbuhkan tanaman.

أَفَرَأَيْتُم مَّا تَحْرُثُونَ۝ أَأَنتُمْ تَزْرَعُونَهُ أَمْ نَحْنُ الزَّارِعُونَ۝ لَوْ نَشَاءُ لَجَعَلْنَاهُ حُطَامًا فَظَلْتُمْ تَفَكَّهُونَ۝ إِنَّا لَمُغْرَمُونَ۝ بَلْ نَحْنُ مَحْرُومُونَ۝

Pernahkah kamu perhatikan benih yang kamu tanam? Kamukah yang menumbuhkannya ataukah Kami yang menumbuhkan? Sekiranya Kami kehendaki, niscaya Kami hancurkan sampai lumat; maka kamu akan heran tercengang, (sambil berkata), “Sungguh, kami benar-benar menderita kerugian, bahkan kami tidak mendapat hasil apa pun.” (Alquran, Surah alWāqiah (56: 63-67)

 

Dengan izin Allah pulalah tanah dapat memberi hasil panen yang berlimpah, dan kesuburan tanah bukanlah faktor yang secara otomatis menentukan hasil panen. Allah berfirman,

وَالْبَلَدُ الطَّيِّبُ يَخْرُجُ نَبَاتُهُ بِإِذْنِ رَبِّهِ ۖ وَالَّذِي خَبُثَ لَا يَخْرُجُ إِلَّا نَكِدًا ۚ كَذَٰلِكَ نُصَرِّفُ الْآيَاتِ لِقَوْمٍ يَشْكُرُونَ۝

Dan tanah yang baik, tanaman-tanamannya tumbuh subur dengan izin Tuhan; dan tanah yang buruk, tanaman-tanamannya yang tumbuh merana. Demikianlah Kami menjelaskan berulangulang tanda-tanda (kebesaran Kami) bagi orang-orang yang bersyukur. (Alquran, Surah al-A‘rāf/7: 58)

 

Begitupun, berbuah atau tidaknya sebuah pohon bergantung pada izin Allah. Dia berfirman,

تُؤْتِي أُكُلَهَا كُلَّ حِينٍ بِإِذْنِ رَبِّهَا ۗ وَيَضْرِبُ اللَّهُ الْأَمْثَالَ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُونَ۝

(Pohon) itu menghasilkan buahnya pada setiap waktu dengan seizin Tuhannya. Dan Allah membuat perumpamaan itu untuk manusia agar mereka selalu ingat. (Alquran, Surah Ibrāhīm/14: 25)

 

Alquran juga menyinggung keanekaragaman jenis ciptaan yang dapat dijadikan makanan, yang itu datang dari Allah.

وَإِذْ قُلْتُمْ يَا مُوسَىٰ لَن نَّصْبِرَ عَلَىٰ طَعَامٍ وَاحِدٍ فَادْعُ لَنَا رَبَّكَ يُخْرِجْ لَنَا مِمَّا تُنبِتُ الْأَرْضُ مِن بَقْلِهَا وَقِثَّائِهَا وَفُومِهَا وَعَدَسِهَا وَبَصَلِهَا ۖ قَالَ أَتَسْتَبْدِلُونَ الَّذِي هُوَ أَدْنَىٰ بِالَّذِي هُوَ خَيْرٌ ۚ اهْبِطُوا مِصْرًا فَإِنَّ لَكُم مَّا سَأَلْتُمْ ۗ وَضُرِبَتْ عَلَيْهِمُ الذِّلَّةُ وَالْمَسْكَنَةُ وَبَاءُوا بِغَضَبٍ مِّنَ اللَّهِ ۗ ذَٰلِكَ بِأَنَّهُمْ كَانُوا يَكْفُرُونَ بِآيَاتِ اللَّهِ وَيَقْتُلُونَ النَّبِيِّينَ بِغَيْرِ الْحَقِّ ۗ ذَٰلِكَ بِمَا عَصَوا وَّكَانُوا يَعْتَدُونَ۝

Dan (ingatlah), ketika kamu berkata, “Wahai Musa! Kami tidak tahan hanya (makan) dengan satu macam makanan saja, maka mohonkanlah kepada Tuhanmu untuk kami, agar Dia memberi kami apa yang ditumbuhkan bumi, seperti: sayur-mayur, mentimun, bawang putih, kacang adas dan bawang merah.” Dia (Musa) menjawab, “Apakah kamu meminta sesuatu yang buruk sebagai ganti dari sesuatu yang baik? Pergilah ke suatu kota, pasti kamu akan memperoleh apa yang kamu minta.” Kemudian mereka ditimpa kenistaan dan kemiskinan, dan mereka (kembali) mendapat kemurkaan dari Allah. Hal itu (terjadi) karena mereka mengingkari ayat-ayat Allah dan membunuh para nabi tanpa hak (alasan yang benar). Yang demikian itu karena mereka durhaka dan melampaui batas. (Alquran, Surah al-Baqarah/2: 61)

رَّبَّنَا إِنِّي أَسْكَنتُ مِن ذُرِّيَّتِي بِوَادٍ غَيْرِ ذِي زَرْعٍ عِندَ بَيْتِكَ الْمُحَرَّمِ رَبَّنَا لِيُقِيمُوا الصَّلَاةَ فَاجْعَلْ أَفْئِدَةً مِّنَ النَّاسِ تَهْوِي إِلَيْهِمْ وَارْزُقْهُم مِّنَ الثَّمَرَاتِ لَعَلَّهُمْ يَشْكُرُونَ۝

Ya Tuhan, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, ya Tuhan (yang demikian itu) agar mereka melaksanakan salat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan berilah mereka rezeki dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur. (Alquran, Surah Ibrāhīm/14: 37)

وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ رَبِّ اجْعَلْ هَٰذَا بَلَدًا آمِنًا وَارْزُقْ أَهْلَهُ مِنَ الثَّمَرَاتِ مَنْ آمَنَ مِنْهُم بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ۖ قَالَ وَمَن كَفَرَ فَأُمَتِّعُهُ قَلِيلًا ثُمَّ أَضْطَرُّهُ إِلَىٰ عَذَابِ النَّارِ ۖ وَبِئْسَ الْمَصِيرُ۝

Dan (ingatlah) ketika Ibrahim berdoa, “Ya Tuhanku, jadikanlah (negeri Mekah) ini negeri yang aman dan berilah rezeki berupa buah-buahan kepada penduduknya, yaitu di antara mereka yang beriman kepada Allah dan hari kemudian,” Dia (Allah) berfirman, “Dan kepada orang yang kafir akan Aku beri kesenangan sementara, kemudian akan Aku paksa dia ke dalam azab neraka dan itulah seburuk-buruk tempat kembali.” (Alquran, Surah al-Baqarah/2: 126)

Dikutip Dari Tafsir ‘Ilmi

Leave a Reply

Close Menu