EVOLUSI TEISTIK

EVOLUSI TEISTIK

Staune jelas-jelas khawatir dengan implikasi filosofis dan keagamaan yang muncul dari paradigma sains yang baru itu. Dalam beberapa halaman, ia juga menggarisbawahi penerimaan Gereja Katolik atas evolusi dan semua teorinya. Namun, anehnya, ia mengabaikan apa yang dinamakan pandangan evolusi teistik yang akhir-akhir ini dibahas oleh banyak (setidak-tidaknya di kawasan Anglo-Saxon) saintis, filsuf, dan teolog (Robert Russel, Holmes Rolston, John Polkinghorne, John E Haught, Keith Ward, dan seterusnya). Saya akan mengulas secara singkat topik ini.

Menarik untuk disimak bahwa akademisi pertama yang diajari Darwin mengenai keseluruhan teori barunya itu dengan segera menerima teori tersebut dengan terlebih dahulu memasukkan penafsiran teistik ke dalamnya. Bahkan, pada tahun 1857 Darwin mengirimkan sebuah draft Origins-nya kepada Asa Gray, seorang profesor ahli botani tersohor, di Harvard yang saat itu sudah dikenal sebagai seorang ahli botani tersohor. Sebagai seorang Kristiani yang teguh dan seorang Presbyterian taat, Gray melihat dalam teori Darwin sebuah deskripsi indah tentang penciptaan Tuhan terhadap makhluk di dunia. Ia dan Darwin akhirnya saling bertukar surat yang menarik dan penuh makna. Dari surat-surat itu kita bisa mengintip perkembangan keyakinan Darwin. Gray juga menjadi pembela setia terhadap teori baru itu dan menerbitkan esai-esainya dalam sebuah buku berjudul Darwiniana.

Belakangan ini, evolusi teistik kembali dilirik, khususnya ketika perdebatan seputar ID tampaknya menghadapkan para pendukung evolusi dengan para pendukung teisme. Beberapa teolog dan pemikir mutakhir berusaha menegaskan bahwa pilihan yang tersedia tidak hanya terbatas pada pihak evolusi dan ID. Nyatanya, sebuah penafsiran lain yang berterima pada hakikatnya sudah ada sejak hari 1, seperti yang kita lihat pada diri Asa Gray.

Pertama, perlu ditekankan bahwa para pegiat evolusi teistik menerima dan mendukung sepenuhnya prinsip-prinsip evolusi, termasuk peran-penting ‘kebetulan’ (by chance). Keith Ward, teolog terkemuka di Oxford, misalnya, dengan penuh keyakinan mengatakan bahwa evolusi “kini terbukti menjadi ciri utama alam semesta yang kita ketahui”. Sementara itu, John Haught, seorang teolog Katolik Amerika kenamaan menambahkan: “Teologi pasca-Darwin juga memandang bahwa Rancangan ilahi memengaruhi dunia dengan cara yang penuh persuasi, bukan paksaan.”

Pendukung evolusi teistik termasyhur saat ini adalah Robert J. Russel, seorang fisikawan yang selama dua dekade terakhir berada di garda terdepan dalam pengembangan wacana Sains-Agama sebagai sebuah bidang akademik, terutama dengan mengepalai Center for Theology and the Natural Sciences di Berkeley, California. Pandangan-pandangan Russel dilukiskan sebagai ”versi baru pemikiran Asa Gray”, karena gagasannya bahwa evolusi diarahkan oleh Tuhan dengan memanfaatkan ketidakpastian (bagi kita) di level kuantum. Ketidakpastian ini kemudian melahirkan munculnya keacakan pada mutasi dan proses alih-rupa yang mendorong ke arah evolusi. Dengan cara inilah Tuhan menaikkan evolusi kehidupan ke tingkat bentukbentuk yang lebih tinggi.

Holmes Rolston III adalah pemikir tersohor mutakhir lain yang menganut evolusi teistik tetapi dari perspektif ilmiah yang lain. Sebagai seorang filsuf, ia masyhur karena sumbangsihnya dalam bidang etika lingkungan dan dialog antara sains dan agama. Mengenai evolusi, Rolston mempertanyakan peran sentral seleksi alam sebagai agen utama evolusi. Sebaliknya, ia mengusung gagasan pengaturan diri (self-organization) (yang dikemukakan oleh Kaufrnaan dan Ho), yang menurutnya berada di balik gerak naik yang pasti.

Seperti halnya upaya kaum teolog (Kristen) yang bergelut dengan persoalan evolusi untuk menyelaraskannya dengan pandangan hidup dan dogmanya, merekajuga berupaya menjelajahi makna dan alasan di balik adanya keacakan mencolok (obvious randomhess, meminjam istilah Haught) sebagai faktor utama dalam proses evolusi. John Haught menolak gagasan yang menganggap keacakan semata-mata sebagai cermin ketidaktahuan manusia terhadap tindakan ilahi di dunia. Ia justru menekankan agar faktor keserbamungkinan (contingency) “harus diterima sebagai fakta alam” karena faktor ini tidak cuma selaras dengan, tetapi juga mencerminkan, cinta ilahi: “Cinta tak berbatas -jika kita merenungkannya dalam-dalam- akan mewujudkan diri dalam penciptaan alam semesta yang sepenuhnya lepas dari segala bentuk determinisme kaku (baik alamiah maupun ilahiah) yang hanya akan menghalangi kebebasan, kemandirian, dan keselarasannya sendiri”.Lebih lanjut, ia menganggap bahwa pandangan ini memberi kemungkinan jawaban bagi persoalan kejahatan: “Bisa jadi, keseluruhan evolusi, termasuk segala penderitaan dan keserbamungkinan yang membuatnya terkesan absurd, sangatlah selaras dengan gagasan Rancangan yang berada di balik pertumbuhan dan perkembangan alam semesta”.

John Polkinghorne pernah menyajikan pandangan teistik tentang evolusi yang mirip dengan pandangan Haught. Dalam sebuah artikel yang judulnya sangat pas sekali, “The Inbuilt Potentiality of Creation”, ia menulis bahwa Tuhan telah menghadirkan ciptaan yang memiliki kemampuan ‘swacipta’ (make self). Bahkan ia juga mengutip ungkapan ‘berani’ Arthur Peacocke, “seorang pengembang cerdas tanpa tandingan”. Seperti halnya Haught, Polkinghorne melihat keacakan sebagai “ungkapan kasih sayang Tuhan yang berupa hadiah kebebasan”, dan menemukan adanya penjelasan tentang kejahatan Cia mencontohkan mutasi yang berubah menjadi sel kanker) sebagai “harga yang harus dibayar oleh evolusi yang serba kompleks”. Terakhir, Polkinghorne mengulas pertanyaan penting seputar tindakan ilahi; ia bersikukuh bahwa tindakan Tuhan tidak bisa dilepaskan dari tindakan manusia: “Siapa pun tidak bisa mengatakan ‘alam berbuat begini, manusia berbuat begitu, dan Tuhan berbuat selebihnya.”‘

Pemikir penting terakhir yang harus saya sebut dalam kaitannya dengan evolusi teistik adalah Keith Ward, seorang teolog Oxford, yang juga menganggap persoalan keacakan di alam semesta sebagai hal penting. Ia juga meyakini perlunya faktor peluang (chance) bagi adanya kebebasan: “Peluang, kemungkinan, atau ketakpastian -yaitu tiadanya sebab-akibat merupakan prasyarat penting, sekalipun bukan satu-satunya, bagi munculnya pilihan bebas dan bertanggung jawab pada diri para makhluk yang lahir dari proses evolusi”. Selain itu, ia bersikukuh bahwa secara individual, peristiwa-peristiwa bisa jadi bersifat acak, tetapi prosesnya haruslah “baik secara moral”. Dalam memberikan argumen tandingan terhadap kelompok ateis yang menganggap proses evolusi terlalu acak dan tak memiliki arah/ rencana penciptaan, Ward mengemukakan bahwa mutasi dipilih oleh lingkungan, yang dengan sendirinya diarahkan oleh hukum fisika hasil rancangan Tuhan, sehingga bisa dikatakan bahwa semua proses tersebut telah diarahkan oleh Tuhan.

Saya akan menutup bagian ini dengan mengutip Ward: alasan utama mengapa kita harus percaya pada evolusi teistik adalah karena evolusi ini menawarkan paradigma teistik terhadap temuan sains modern, sebagaimana yang ia lakukan secara serius pada kesaksian tradisi keagamaan dan filsafat kuno dunia.”

Leave a Reply

Close Menu