EVOLUSI: SEBUAH FAKTA ALAM

EVOLUSI: SEBUAH FAKTA ALAM

Proses evolusi sebagai sebuah fakta alam yang tak terbantahkan adalah gagasan utama dan pertama yang harus kembali dibahas dan ditekankan di sini. Saya sengaja tidak memasukkan bukti dari sebaran geografis, ragam spesies (speciation), dan bukti-bukti lainnya. Fakta-fakta evolusi tidak bisa diabaikan atau ditolak atas dasar apa pun. Hal yang sama berlaku juga bagi bidang khusus evolusi manusia dan biologi secara umum. Kita tidak bisa mengatakan bahwa Islam (atau agama mana pun) tidak bertentangan dengan sains, sementara di saat yang sama kita menolak keseluruhan bangunan ilmu alam dan mengabaikannya karena mengganggapnya sebagai “cerita bohong.”

Gagasan penting kedua yang telah saya coba uraikan adalah teori evolusi yang memiliki banyak sekali versi, seperti halnya teori-teori sains yang lain. Versi yang akhirnya akan berterima tentu saja adalah versi yang paling didukung oleh data (observasi). Sejauh ini, evolusi Darwinian, yang intinya berpijak pada mutasi acak dan seleksi alam (ditambah efek-efek lain, seperti seleksi seksual dan perubahan genetika), tetap bertahan sebagai teori dominan di kalangan ahli biologi. Saya juga menyinggung semakin banyaknya karya di sana sini yang memperlihatkan perlunya sebuah teori evolusi yang lebih baru, yaitu teori yang memasukkan unsur-unsur semisal pengaturan diri (self-organization), beberapa Neo-Lamarckisme, dan pengecilan peran seleksi alam ke dalam teori standarnya.

Seperti halnya dalam semua bidang sains, diperlukan juga pemahaman yang benar mengenai landasan metafisika teori, sehingga tidak terjadi kekaburan antara aspek-aspek ilmiah (metodologi, hasil, dan seterusnya) dan penafsiran-penafsirannya. Itulah alasan mengapa saya mengkhususkan satu bagian penuh untuk membahas Evolusi Teistik yang menerima semua aspek ilmiah teori evolusi tetapi sekaligus mengusulkan suatu penafsiran non-materialis terhadapnya. Jelasnya, evolusi tidak serta-merta mengisyaratkan ateisme atau bahkan materialisme.

Bagian kedua dari tulisan ini secara khusus membahas sikap Islam terkait dengan evolusi. Saya juga meninjau beberapa pandangan sejumlah pemikir, mulai dari Abad Pertengahan hingga dewasa ini. Selain itu, saya juga berupaya menegaskan bahwa sikap Dunia Muslim masa-masa awal terhadap teori Darwin jauh lebih bersahabat dan akomodatif -setidak-tidaknya dalam konsepsi evolusi teistik. Sikap anti-evolusi baru muncul dan mendominasi pada paro kedua abad ke-20 bersamaan dengan tumbuh kembangnya fundamentalisme. Dewasa ini, jarang sekali terdengar suara-suara cerdas pro-evolusi (bahkan dalam versi teistiknya sekalipun). Kelompok anti-evolusi semakin bertambah seiring dengan menyebarnya pemahaman keliru tentang teori evolusi, reaksi-reaksi otomatis yang menentang evolusi manusia (yang berisi klaim bahwa manusia memiliki tempat istimewa di kosmos), dan argumen-argumen yang menentang sudut pandang materialistis para pengikut Darwin. Kreasionisme telah tumbuh dan menyebar di Dunia Muslim, baik dalam bentuk yang dipopularkan dan disebarluaskan oleh Harūn Yaḥyā maupun dalam sajian-sajian semi-intelektual para filsuf parennial atau pegiat i’jāz. Sebenarnya, banyak sekali argumen dan metode yang diadopsi oleh para kreasionis Muslim yang berasal dari para kreasionis Amerika. Kita hanya bisa berharap bahwa kekalahan kreasionis Amerika di pengadilan dan media juga akan terjadi di Dunia Muslim (sekalipun hingga detik ini belum ada tanda-tanda kemunduran atau perlambatannya).

Tugas para saintis dan pemikir Muslim terkemuka adalah maju ke depan, di satu sisi untuk melawan gerakan yang-seperti paparan saya-tidak menggunakan metodologi dan argumen yang serius, dan di sisi lain, untuk memperlihatkan adanya versi evolusi yang berterima secara teologis, yaitu teori yang bisa diadopsi dan dikembangkan lebih lanjut di atas fondasi tradisi Islam yang kaya. Sebagaimana ungkapan Mehdi Golshani, “Keyakinan terhadap kelahiran spesies melalui mekanisme evolusi tidaklah meniadakan penciptaan Ilahi.”

Terakhir, evolusi sangatlah penting dalam perdebatan seputar sains-agama/Islam karena hanya dengan cara itulah kita bisa melihat perbedaan nyata antara mereka yang hanya mengedepankan pembacaan simplistis dan harfiah terhadap kitab suci (dalam segala lingkup kehidupan dan pemikiran) dengan mereka yang menerima penggunaan hermeneutika dan prinsip pembacaan yang beragam dan berlapis terhadap Teks.

Leave a Reply

Close Menu