EVOLUSI MANUSIA

EVOLUSI MANUSIA

Evolusi manusia, atau juga dikenal sebagai anthropogenesis, adalah suatu bidang ilmu yang mempelajari evolusi manusia yang terpisah dari makhluk yang mirip manusia (hominids), kera (ape— tidak berekor; bedakan dengan monkey— monyet yang berekor), dan mamalia lainnya. Dalam melakukan pendalaman tentang evolusi manusia, banyak bidang keilmuan yang dipakai secara bersamaan, antara lain fisiologi-antropologi, primatologi, arkeologi, linguistik, dan genetika.

Kata “manusia” (human) di sini menunjuk pada marga Homo, meskipun pada hakikatnya makhluk yang mirip manusia (hominids) juga termasuk di dalamnya. Kelompok Homo terpisah dari hominid lain (Astralopithecus) pada sekitar 2,3 sampai 2,4 juta tahun lalu di Afrika. Para peneliti memperkirakan bahwa Homo terpisah dari kelompok kera (simpanse) sekitar 5-7 juta tahun lalu. Beberapa jenis dari marga Homo hidup dan punah di masa lalu, di antaranya Homo Erectus yang hidup di Asia dan Homo Neanderthalensis yang hidup di daratan Eropa. Homo Sapiens kuno berevolusi antara 400.000 dan 250.000 tahun lalu.

Dua teori mengenai asal mula Homo Sapiens selalu menjadi objek perdebatan para peneliti. Kebanyakan peneliti menganut teori Out of Africa atau African Origin Hypothesis, yaitu bahwa Homo Sapiens berkembang di Afrika dan kemudian bermigrasi ke Asia dan Eropa pada 50.000— 100.000 tahun lalu. Kelompok ini kemudian menggantikan populasi Homo Erectus yang hidup di Asia dan Homo Neanderthalensis di Eropa. Sedangkan teori kedua, Multiregional Hypothesis, mempercayai bahwa Homo Sapiens berevolusi terpisah secara geografis. Dalam prosesnya, mereka berinteraksi dan kawin silang dengan jenis Homo Iainnya. Utamanya, kawin silang ini dirangsang oleh terjadinya migrasi Homo Erectus yang keluar dari Afrika pada 2,5 juta tahun lalu.

 

Sejarah Lahirnya Teori Evolusi

Teori evolusi mulai banyak dibicarakan seiring terbitnya buku The Origin of Species karya Charles Darwin. Pemikiran serupa konsep ini sebenarnya sudah muncul pada masa kejayaan filosofi Yunani dan di masa-masa Victoria di Inggris.

Pada masa keemasan Yunani, konsep evolusi tidak diungkapkan dalam bentuk konkret, namun disampaikan dalam serangkaian ungkapan-ungkapan filosofis. Beberapa filosof Yunani mengemukakan berbagai konsep tentang cikal bakal makhluk hidup, baik yang berasal dari air maupun dari udara. Namun, umumnya mereka setuju bahwa kehidupan berasal dari sesuatu yang satu. Aristoteles (389—322 SM: murid Plato dan guru Alexander Agung dari Macedonia) mengusulkan adanya satu bentuk transisi antara benda mati dan makhluk hidup. Filosofi utamanya adalah bahwa semua benda berusaha bergerak menuju kesempurnaan atau kesucian, dan dalam prosesnya berevolusi melalu banyak bentuk.

Pada Abad Pertengahan, semua teori di atas tidak lagi menarik perhatian masyarakat. Hal ini disebabkan karena pengaruh adanya teori penciptaan yang didasarkan pada teologi Kristen, Creationism. Teori ini percaya bahwa penciptaan tidak berubah-ubah dan sudah seperti yang tampak dan ada saat ini. Sudah jelas bahwa pandangan ini bertentangan dengan teori evolusi Darwin.

Pemikiran pada Abad Pertengahan ini diwarnai pula oleh paham spontaneous generation, bahwa semua kehidupan dapat hadir dari benda mati. Mereka percaya bahwa larva berasal dari daging busuk, katak berasal dari lendir, dan seterusnya. Pemikiran macam ini menghalangi manusia untuk berpikir tentang hal-hal baru dalam ilmu pengetahuan dan berspekulasi tentang evolusi.

Filosof Jerman, Emmanuel Kant (1724-1804), berpegang pada basis bahwa ada kesamaan antara organisme, mengembangkan konsep yang mendekati konsep modern tentang evolusi. la berspekulasi bahwa semua makhluk hidup bersumber dari satu nenek moyang.

Seorang ahli yang dijuluki bapak taksonomi modern—suatu ilmu tentang penamaan dan klasifikasi binatang, tumbuhan, dan jasad renik—CaroIus Linnaeus, atau biasa disebut Carl Linne (1707-1802), memiliki pemikiran berbeda. Pada mulanya, ia percaya bahwa jenis sudah demikian adanya sejak semula. Akan tetapi, setelah mengetahui adanya percobaan hibridisasi—kawin silang—pada tanaman yang menurutnya dapat saja menghasilkan jenis baru, kepercayaan pertamanya mulai goyah. Namun keraguan ini kemudian ditepis oleh pemikiran keagamaannya. la adalah pemeluk Kristen yang taat. la, sesuai kepercayaannya, percaya bahwa variasi jenis tersebut sebetulnya bermula dari Taman Eden di surga. la percaya bahwa jenis baru hasil perkawinan silang merupakan rencana Tuhan. la tidak percaya bahwa evolusi adalah sesuatu yang berjalan bebas dan terjadi secara kebetulan tanpa ada yang mengatur dan mengarahkan. la percaya bahwa semuanya diatur oleh Yang Suci. Buku bertitel Systema Naturae, sebuah karya klasik yang merupakan hasil kerjanya dalam klasifikasi tumbuhan dan binatang yang sangat menyederhanakan hubungan antar organisme hidup sangat membantu dalam mendalami evolusi.

Seorang ahli dari Inggris bernama Erasmus Darwin (1731-1802), kakek Charles Darwin, juga sudah mulai berpikir tentang evolusi. Tanpa menyentuh pembahasan seleksi alam, ia percaya bahwa semua kehidupan di dunia berasal dari satu nenek moyang, meski ia tidak dapat memberikan penjelasan mengenai bagaimana mekanisme kerjanya. la membahas bahwa munculnya jenis baru diakibatkan oleh adanya kompetisi dan seleksi seksual. la juga percaya bahwa digunakan atau tidaknya suatu organ tubuh dapat berujung pada perkembangan atau hilangnya organ itu. Kedua hal tersebut terjadi karena adanya keinginan dari makhluk untuk bergeser menuju titik kesempurnaan. Konsep demikian ini diberi nama Teleological, yang selanjutnya didalami oleh Lamarck.

Teori evolusi yang dikemukakan oleh Jean-Baptiste Lamarck (1744-1829) mendukung pendapat Erasmus Darwin mengenai hilang atau sempurnanya organ berdasarkan frekuensi penggunaannya. Lebih lanjut, Lamarck percaya bahwa setiap individu memiliki keinginan  untuk beradaptasi. Hasil dari pengalaman ini kemudian diwariskan kepada keturunannya. Misalnya, seseorang yang karena proses adaptasinya menyebabkannya mempunyai otot yang besar akan mewariskan otot serupa kepada keturunannya. Pendapat ini membuatnya dianggap sebagai pencetus teori evolusi, suatu anggapan yang saat ini terbukti salah. Pendapat Lamarck yang masih dinilai relevan hingga kini adalah teorinya tentang kontinuitas perubahan suatu jenis dari waktu ke waktu.

Thomas Malthus (1766-1834) yang meneliti perkembangan populasi menjadi inspirasi terakhir yang menyebabkan Charles Darwin menerbitkan bukunya yang fenomenal itu. Malthus mengemukakan teori bahwa suatu populasi akan menghasilkan anakan yang jauh lebih banyak daripada mereka yang dapat mencapai tingkat dewasa. la mempraktikkannya pada populasi manusia dan percaya bahwa kemiskinan, kelaparan, dan penyakit adalah hal alamiah yang muncul saat terjadi ledakan populasi. Akan tetapi, Malthus percaya bahwa hal yang demikian ini merupakan rencana Tuhan dan bukan karena kekuatan atau proses yang terjadi begitu saja.

Charles Darwin (1809-1882) dan Alfred Russel Wallace (1832-1913), secara terpisah mengembangkan pemikiran tentang mekanisme terjadinya seleksi alam, setelah mereka membaca buku Thomas Malthus berjudul Essay on the Principle of Population (1789). Darwin mulanya adalah seorang calon dokter yang beralih profesi menjadi juru tulis. la mendaftar sebagai seorang naturalis dalam ekspedisi ilmiah selama lima tahun di atas kapal HMS Beagle. Pengamatan dan koleksi yang dilakukannya selama mengikuti ekspedisi ini menjadi basis utama teorinya tentang seleksi alam. Bukunya, The Origin of Species, terbit pada 1859, dua puluh tahun setelah berakhirnya pelayaran Beagle. Saat itu, Darwin percaya bahwa seleksi alam merupakan mekanisme terjadinya evolusi, suatu konsekuensi dari bacaannya terhadap buku Malthus. Wallace sampai pada konsep mengenai mekanisme alam juga setelah membaca buku yang sama. Beberapa buku mengenai evolusi yang diterbitkannya adalah The Malay Archipelago (1869) yang ia dedikasikan untuk Charles Darwin yang sangat dikaguminya, serta Contribution to the Theory of Natural Selection (1871) yang berisi penjelasannya tentang versi seleksi alam.

Di samping tokoh-tokoh di atas, beberapa tokoh berikut ini juga memegang peranan penting dalam mengembangkan penelitian tentang evolusi manusia.

  • Georges Cuvier (1769-1832), seorang peneliti yang mulanya menentang teori evolusi. Namun dalam observasinya, ia menemukan dan membuktikan terjadinya kepunahan jenis, suatu subjek yang sedang diperdebatkan kala itu. Temuan ini menjadi dasar bagi analisis selanjutnya yang mengubah arah pemikirannya tentang evolusi.
  • George Mendel (1822-1884), seorang pendeta Austria yang terkenal berkat hukum keturunan yang dikenal dengan Hukum Mendel, dengan membuat percobaan memakai media kacang polong. Percobaan yang dilakukannya luput dari perhatian Darwin maupun peneliti lainnya saat itu. Temuannya baru muncul setelah beberapa peneliti lain sampai pada kesimpulan yang sama. Meski ia bukan penggiat teori evolusi, mekanisme yang diajukan Mendel akhirnya dijadikan basis analisis modern tentang evolusi manusia.
  • Thomas Huxley (1825-1895), dikenal sebagai “Darwin’s Bulldog” karena kegigihannya membela teori Darwin. la bahkan berani berdebat secara terbuka dengan Uskup Samuel Wilberforce, salah satu pembesar Gereja Anglikan di Inggris saat itu.

 

Pada masa yang lebih modern, beberapa peneliti yang dikenal menggeluti teori evolusi antara lain: August Weisman (18341914) yang menggeluti upaya penyatuan pendapat kelompok genetik dan kelompok seleksi alam, Thomas Hunt Morgan (18661945) yang merupakan salah satu penemu yang memulai genetika modern, Theodosius Dobzhansky (w. 1975) yang bekerjasama dengan Morgan dalam menganalisis Hukum Mendel lebih lanjut; Ernst Walter Mayr (1904-2005), ahli dinamika populasi dan terjadinya jenis baru yang menekankan evolusi dari sudut pendekatan taksonomi; George Simpson (1902-1984), satu-satunya ahli paleontologi yang berpartisipasi dalam ilmu evolusi masa sintesis modern; Ronald Fisher (1890-1962) yang menulis salah satu dasar biologi evolusi, The Genetical Theory of Natural Selection; Richard Goldschmidt (1878-1958) yang memperkenalkan mutasi besar-besaran sebagai penyebab jenis baru—suatu teori yang sampai saat ini masih ditolak masyarakat; William Donald Hamilton (1936-2000) yang mengembangkan seleksi alam berdasarkan pendekatan genetika; John Maynard Smith (1920-2004) yang memakai pendekatan perilaku hewan dalam menjelaskan evolusi; Edward Osborne Wilson (l. 1929), pencetus sosiobiologi modern dan psikologi evolusi; dan Robert Trivers (l. 1943), penemu beberapa teori tentang evolusi invertebrata.

 

Reaksi terhadap Teori Darwin

Buku Charles Darwin, The Origin of Species, yang terbit pada 1859, menuai tanggapan beragam dari masyarakat, dari ketidaksetujuan, kutukan, hingga pujian. Thomas Huxley, peneliti yang begitu mendukung Darwin sehingga mendapat julukan “Darwin’s Bulldog,” menulis komentarnya, “How stupid of me not to have thought of that. ”

Banyaknya peneliti yang menolak teori Darwin bisa disebabkan oleh Lamarck yang mengemukakan hal sebaliknya. Meski para peneliti menilai teori ini sebagai pendapat ilmiah, tidak begitu adanya dengan agamawan Kristen. Mereka menganggap pendapat ini berpotensi membahayakan ajaran Kristen tentang penciptaan.

Para pemimpin Kristen, terutama Protestan Fundamentalis Amerika, menyatakan bahwa evolusi hanya terjadi atas rencana Tuhan terhadap kehidupan di bumi. Beberapa buku, di antaranya karya Charles Hodge berjudul What is Darwinism?, menegaskan bahwa organ yang bekerja dengan begitu detail, seperti mata, terlalu hina apabila terbentuk hanya dari proses seleksi alam. Filosof Jerman, Friedrich Nietszche, mempunyai tanggapan yang berbeda soal pendapat Darwin. la bahkan menggunakan teori Darwin dalam menganalisis proses adaptasi dan perkembangan nilai-nilai moral dalam budaya manusia.

Saat Darwin mengemukakan teorinya, temuan pendeta Austria bernama Gregor Mendel tentang genetika belum banyak diketahui orang. Namun pada awal pergantian abad, temuan ini mulai digunakan dalam menjelaskan proses seleksi alam.

 

Sintesis Modern

Pada dekade 1900-an, penemuan Gregor Mendel mulai muncul kembali ke permukaan. Terutama hal ini muncul karena temuan Mendel juga ditemukan secara mandiri oleh banyak peneliti lain.

Banyak peneliti merasa pada saat itu bahwa temuan Mendel tentang peranan gen dalam reproduksi merupakan pukulan mematikan bagi teori Darwin. Lawan kaum Mendelian adalah kelompok Naturalis yang mendukung penuh teori seleksi alam Darwin. Belakangan, kedua temuan ini bukannya saling meniadakan, melainkan saling mendukung.

Apa yang disebut dengan sintesis modern adalah perkawinan dua kelompok ini: Neo-Darwinisme yang mendukung seleksi alam dan menolak peranan gen dalam menentukan karakter keturunan, serta Mendelian yang mendukung peranan gen dalam keturunan. Sintesis modern ini mendasari semua penelitian tentang biologi evolusi yang dilakukan sampai saat ini.

Konklusi utama sintesis modern tentang evolusi adalah bahwa seleksi alam merupakan metode bagi terjadinya evolusi. Dan evolusi dapat dipahami dalam bentuk mutasi dan rekombinasi bagian tertentu dari rantai gen. Penekanan juga diletakkan pada pengertian jenis. Jenis adalah kelompok organisme yang terisolasi dalam reproduksinya dan membagi gene pool yang sama.

 

Social Darwinism

Social Darwinism adalah suatu paham yang sangat terkenal pada akhir era Victoria di Inggris, Eropa, dan Amerika. Paham ini menyatakan bahwa hanya yang kuat dan dapat beradaptasilah yang akan hidup dan sejahtera. Sebaliknya, yang lemah dan tidak dapat beradaptasi dengan baik sudah seharusnya dibiarkan mati. Teori ini terutama dikembangkan oleh Herbert Spencer yang diberi gelar sebagai “Bapak Social Darwinism” yang mengadaptasinya menjadi satu teori dalam ranah sosiologi. Konsep seleksi alam digunakannya dalam melegalisasi pendapatnya bahwa adalah normal, alami, dan wajar jika yang kuat menjadi sejahtera dengan memanfaatkan yang lemah. Spencer dalam membuat teorinya tidak saja meletakkan kondisi sosial manusia sejajar dengan peristiwa seleksi alam, namun juga percaya bahwa hal ini adalah dibenarkan dan dilegalkan secara moral. Banyak penganutnya percaya bahwa adalah salah secara moral bila kita mengulurkan bantuan kepada yang lemah, karena hal ini malah akan melahirkan orang-orang yang secara fundamental adalah lemah.

Paham tersebut banyak diaplikasikan dalam bentuk peraturan dan perundangan yang hanya menguntungkan satu pihak saja. Paham ini diejawantahkan dalam bentuk politik kapitalisme yang menguntungkan pemilik modal belaka. Lebih jauh, paham ini juga digunakan untuk melegalisasi pengebirian atas kelompok tertentu yang dinilai akan memberikan keturunan berwatak inferior. Ini adalah bentuk ekstrem dari penerapan paham Social Darwinism  suatu hal yang nyata-nyata pernah terjadi di Amerika Serikat. Gerakan ini populer pada rentang 1910-1930, dimana 24 negara bagian membuat undang-undang sterilisasi dan imigrasi yang diskriminatif. Dalam bentuk lain, hal yang demikian juga dipraktikkan oleh partai Nazi di Jerman.

Kendatipun, tidak sedikit pemikir yang malah mengombinasikan paham di atas dengan kedermawanan. Andrew Carnagie, jutawan asal Amerika, adalah salah satunya. la mengerti betul tentang paham Social Darwinism dan mempraktikkannya dengan ketat. Namun ia juga menggunakan sebagian besar keuntungan yang diperolehnya untuk hal-hal yang bersifat sosial, seperti membangun banyak perpustakaan, universitas, dan lembaga publik lainnya untuk mencerdaskan masyarakat.

Reaksi-reaksi negatif yang dialamatkan pada teori Darwin disebabkan salah satunya oleh adanya kerancuan antara teori Darwin tentang seleksi alam sebagai teori ilmiah dan Social Darwinism sebagai teori etika. Nyatanya, kedua teori ini sedikit sekali memiliki persamaan.

 

Sejarah Pengetahuan tentang Evolusi Manusia

Nama marga Homo bagi jenis manusia berasal dari bahasa Latin. Nama ini diberikan oleh Carolus Linnaeus dalam usahanya melakukan klasifikasi terhadap seluruh makhluk hidup yang ada di bumi. Ketika nama ini dipublikasikan, banyak peneliti juga setuju bahwa kera besar merupakan kerabat terdekat manusia berdasarkan kesamaan bentuk tubuh (morfologi) dan organ dalam (anatomi). Kemungkinan adanya hubungan antara manusia dan kera besar ini kemudian menjadi makin terbuka saat Charles Darwin mempublikasikan bukunya, On the Origin of Scpecies, pada 1859, dan aplikasi teorinya serta seleksi seksual pada manusia dalam buku The Decent of Man yang terbit pada 1871. Ide dasarnya adalah bahwa evolusi jenis baru datang dari jenis lain yang ada sebelumnya. Dalam bukunya, Darwin tidak pernah menyebutkan tentang evolusi manusia itu sendiri. la hanya menyatakan dalam bahasa aslinya, “Light will be thrown on the origin of man and his history.”

Teori evolusi Darwin didasarkan pada lima kunci pengamatan dan turunannya, yaitu:

  1. Jenis memiliki kemampuan yang besar untuk menghasilkan keturunan yang lebih banyak daripada kemampuan keturunannya itu sendiri untuk bertahan hidup dan mencapai kedewasaan.
  2. Jumlah individu dalam suatu populasi relatif tetap, dan dengan perjalanan waktu mengalami fluktuasi yang wajar.
  3. Sumber daya makanan terbatas jumlahnya, namun selalu ada dalam jumlah yang sama setiap saat. Dari ketiga pengamatan di atas, dapat dibayangkan bahwa pada suatu lingkungan yang demikian akan terjadi usaha-usaha dari tiap individu anggota komunitas untuk bertahan hidup.
  4. Pada jenis-jenis yang bereproduksi secara seksual, tiap individu umumnya memiliki perbedaan. Karenanya, variasi antarindividu adalah suatu keniscayaan.
  5. Variasi yang muncul pada tingkat individu ini diwariskan kepada keturunannya.

 

Dari kelima hal ini disimpulkan bahwa dalam suatu kehidupan populasi yang seimbang ketika setiap individu anggota populasi tersebut harus bersaing untuk dapat hidup, individu-individu yang memiliki karakter terbaik adalah yang paling mungkin untuk bertahan hidup. Dengan demikian, sifat-sifat unggul tersebut akan diwariskan kepada keturunannya. Inilah yang dinamai seleksi alam (natural selection). Lebih jauh dapat dielaborasi bahwa seleksi alam, apabila terjadi dalam jangka waktu yang cukup lama, akan merubah populasi dan bukan tidak mungkin mengarah pada timbulnya jenis baru. Observasi ini dapat dibuktikan pada pengamatan secara biologis. Bahkan dengan mempelajari fosil, dapat dibuktikan bahwa hasil pengamatan di atas betul terjadi.

Ringkasan teori evolusi Darwin dapat dilihat dalam lima butir berikut:

  • Variasi; bahwa dalam setiap populasi, individu-individu yang ada akan memiliki perbedaan satu sama lain.
  • Kompetisi; bahwa organisme atau individu bersaing dalam memperoleh sumber daya yang terbatas.
  • Keturunan; bahwa setiap individu mempunyai kemampuan untuk memproduksi keturunan lebih banyak daripada yang dapat mencapai kedewasaan
  • Genetika; bahwa organisme atau individu akan mewariskan rangkaian gen pembentuk sifat kepada keturunannya.
  • Seleksi alam; bahwa hanya organisme atau individu unggul—yang memiliki rangkaian gen pembentuk sifat yang membuatnya mampu bertahan hidup— yang akan terus hidup dan melahirkan keturunan.

 

Darwin berkhayal bahwa mungkin saja semua makhluk yang ada saat ini adalah keturunan dari jenis asli yang hidup di masa lalu. Pengetahuan mengenai dan pembuktian-pembuktian melalui analisis DNA membenarkan ide awal ini. Mungkin saja sernua makhluk organik yang pernah dan masih hidup di dunia ini dimulai dari satu bentuk kehidupan sederhana di masa lalu yang berevolusi menjadi sesuatu yang indah dan kompleks di masa kini.

Perdebatan pertama dalam kaitan teori ini terjadi antara dua peneliti: Thomas Huxley dan Richard Owen. Huxley berpendapat  bahwa manusia berasal dari kera besar dengan membandingkan kesamaan dan kelainan antara keduanya. Hal ini dikemukakannya dalam bukunya yang diterbitkan pada 1863, Evidence as to Man’s Place in Nature. Akan tetapi, banyak peneliti yang semula mendukung Darwin malah berbalik mempertanyakan hal ini. Di antaranya adalah Alfred Russel Wallace dan Charles Lyell. Mereka tidak setuju dan mulai mempertanyakan bagaimana kemampuan manusia dalam kapasitas mental dan sensibilitas moral dapat dijelaskan dengan seleksi alarn.

Salah satu kelemahan teori ini adalah tidak adanya bukti konkret berupa fosil yang menggambarkan secara nyata bentuk kedua jenis ini. Baru pada 1925, seorang peneliti bernama Raymond Dart menemukan fosil yang dianggap sebagai bentuk antara yang kemudian dideskripsikan dan diberi nama Australophitecus Africanus. Spesimen pertama yang ditemukan dalam gua adalah fosil seorang anak kecil yang kemudian dikenal sebagai Taung Child. Meski ukuran endokranial—rongga otak—fosil ini tergolong kecil, yakni sekitar 410 sentimeter kubik, namun bentuknya yang membulat lebih mendekati bentuk endokranial manusia modern daripada gorila maupun simpanse. Dari posisi tulang kaki tampak bahwa Taung Child adalah bipedal alias berjalan di atas dua kaki. Dengan penemuan “Anak Taung” ini, Dart percaya bahwa kelompok Australopithecus Africanus merupakan makhluk transisi dari kera menuju manusia.

Klasifikasi manusia dan kerabatnya selalu berubah. Reklasifikasi terjadi dari waktu ke waktu seiring temuan-temuan fosil yang terus bermunculan. Manusia dan kelompok kerabatnya yang dahulu masuk dalam kelompok Hominini kini berubah menjadi kelompok tersendiri, Hominidae.

 

Genus Homo

Sejarah evolusi primata—kera dan monyet—dapat dirunut sampai dengan 65 juta tahun lalu. Kelompok ini merupakan kelompok mamalia tertua. Salah satunya berasal dari marga Plesiadapis yang ditemukan pertama kali di Amerika Utara. Namun marga ini juga ditemukan hidup di Eurasia dan Afrika pada saat bumi berada dalam kondisi kehangatan tropis di masa Paleocene dan Eocene.

Dengan mulainya masa klimat modern yang ditandai dengan terbentuknya benua es di Antartika pada awal masa Oligocene sekitar30 juta tahun lalu, kelompok binatang yang mirip kera, yakni Adapiformes, mulai punah kecuali yang hidup di Afrika dan Asia Utara. Salah satu jenis kera pada masa itu, Notharctus, ditemukan fosilnya di Jerman pada 1980-an. Marga ini diperkirakan hidup 16,5 juta tahun lalu, kurang lebih 1,5 juta tahun lebih tua daripada jenis serupa yang ditemukan di Afrika Timur. Temuan tersebut melemahkan teori bahwa nenek moyang manusia berasal dari Benua Afrika.

Dari penelitian molekular diketahui bahwa bangsa lutung—dari keluarga Hylobatidae— terpisah dari bangsa kera besar pada 18 hingga 12 juta tahun lalu. Sedangkan orangutan—subkeluarga Ponginae—terpisah dari kelompok kera besar pada 12 juta tahun lalu. Nenek moyang lutung belum dapat ditentukan sampai saat ini, namun tidak demikian dengan orangutan. Diperkirakan, kelompok Ramapithecus dari India dan Griphopithecus dari Turki yang hidup sekitar 10 juta tahun lalu adalah nenek moyangnya.

Jenis yang paling berpeluang menjadi nenek moyang bersama bagi gorila, simpanse, dan manusia adalah Nakalipithecus yang ditemukan fosilnya di Kenya, dan Ouranopithecus yang ditemukan di Yunani. Bukti molekular menyatakan bahwa mula-mula gorila dan kemudian simpanse memisahkan diri dari jalur manusia. Pengetahuan mengenai perkembangan nenek moyang gorila dan simpanse sangat sedikit. Tanah di hutan hujan tropis yang memiliki tingkat keasaman tinggi, tempat kedua kelompok ini tinggal, cenderung menghancurkan tulang. Inilah yang mungkin menyebabkan kesulitan tersebut.

Berbeda dengan kedua kelompok di atas, kelompok yang menurunkan manusia modern relatif memiliki lebih banyak bukti untuk ditelusuri. Mereka menyebar dan keluar dari sabuk tropik bersama mamalia-mamalia Iainnya, seperti antelop, hyena, anjing, babi, gajah, dan kuda. Sabuk tropik ini kemudian mulai menyempit pada 8 juta tahun lalu. Fosil kerabat manusia yang paling tua adalah Sahelanthropus Tchadensis yang hidup sekitar 7 juta tahun lalu, Orrorin Tugenensis yang hidup 6 juta tahun lalu, dan secara berurutan disusul oleh:

  • Ardiphitecus (5,5 s.d. 4,4 juta tahun lalu), diwakili oleh dua jenis: Ardiphitecus Kadabba dan Ardiphitecus Ramidus.
  • Australophitecus (4 s.d. 2 juta tahun lalu), diwakili oleh empat jenis: Australophitecus anamensis, Australophitecus Afarensis, Australophitecus Africanus, Australophitecus Bahrelghazali, dan Australophitecus Garhi.
  • Kenyanthropus (3 s.d. 2,7 juta tuhan lalu), diwakili oleh satu jenis, Kenyanthropus Platypus.
  • Paranthropus (3 s.d. 1,2 juta tahun lalu), diwakili tiga jenis: Paranthropus Aethiopicus, Paranthropus Boisei, dan Paranthropus Robustus.
  • Homo (2 juta tahun lalu sampai sekarang), diwakili oleh 13 jenis: Homo Habilis, Homo Rudolfensis, Homo Ergaster, Homo Georgicus, Homo Antecessor, Homo Cepranensis, Homo Erectus, Homo Heidelbergensis, Homo Rhodesiensis, Homo Neanderthalensis, Homo Sapiens Idaltu, Homo Sapiens Purba, dan Homo Floresiensis.

 

Homo Sapiens adalah satu-satunya jenis dari marga Homo yang tidak punah. Banyak jenis Homo Iainnya yang hidup di masa lalu punah dari muka bumi. Mungkin saja salah satu darinya merupakan moyang dari Homo Sapiens. Akan tetapi, tentunya banyak yang Iain yang berperan sebagai sepupu yang tidak dalam jalur yang dekat dengan manusia modern. Sampai saat ini belum ada konsensus di antara para peneliti tentang kelompok mana yang merupakan jenis terpisah dan jenis mana yang merupakan kerabat dekat manusia modern. Penyebabnya banyak, di antaranya disebabkan oleh masih adanya kekurangan bukti fosil yang diperlukan, atau juga karena belum ada kesepahaman mengenai penggunaan karakter untuk mengidentifikasi marga Homo. Variasi-variasi fisik yang terjadi karena pola migrasi dan pola diet harus dimasukkan dalam studi yang lebih rinci.

Berikut ini adalah beberapa keterangan singkat mengenai jenis-jenis Homo:

  • Homo Habilis (2,4 s.d. 1,4 juta tahun lalu)

Ini adalah jenis Homo tertua yang ditemukan. Jenis ini diperkirakan hidup di Afrika Timur dan Selatan pada masa Pliocene dan permulaan Pleistocene pada 2,5 s.d. 2 juta tahun lalu, saat terjadi percabangan dari jenis-jenis Australopithecus. Homo Habilis memiliki rongga otak yang lebih besar daripada Australopithecus: sudah menggunakan alat yang dibuat dari batu dan mungkin juga dari tulang. Fosilnya ditemukan oleh Thomas Leakey dan ia namai Handyman, orang yang menggunakan alat. Nama ini dikaitkan dengan kemampuannya membuat alat dari batu. Dari fosil ini, diperkirakan mereka memiliki tinggi 1 s.d. 1,5 meter, berat 33-55 kg, dan volume otak sebesar 660 sentimeter kubik.

Bebepa peneliti ingin memindahkan jenis ini dari marga Homo menjadi Australopithecus. Alasannya, temuan tulang-tulang kaki menunjukkan bahwa jenis ini lebih ahli memanjat ketimbang berjalan di atas dua kaki.

 

  • Homo Rudolfensis (1,9 s.d. 1,6 juta tahun lalu)

Eksistensi jenis ini didasarkan hanya pada satu fosil kepala yang ditemukan di Kenya. Banyak peneliti menduga bahwa fosil ini hanyalah salah satu dari Homo Habilis, namun belum dapat dikonfirmasi kebenarannya hingga saat ini.

 

  • Homo Georgicus (1,9 s.d. 1,6 juta tahun lalu)

Ditemukan di Georgia. Kemungkinan, ini adalah jenis antara Homo Habilis dan Homo Erectus, atau sebagai anak jenis dari Homo Erectus. Dari fosil yang ditemukan, Homo Georgicus diduga memilki volume otak hingga 600 sentimeter kubik.

 

  • Homo Erectus (1,8 juta s.d. 70.000 tahun lalu)

Fosil pertama Homo Erectus ditemukan oleh seorang dokter berkebangsaan Belanda, Eugene Dubois, pada 1891 di pulau Jawa, Indonesia. Mula-mula fosil ini dinamainya Pithecanthropus Erectus, didasarkan pada bentuk morfologi yang menyerupai bentuk antara dari kera dan manusia modern.

Temuan fosil-fosil Homo Erectus yang diduga hidup antara 1,8 s.d. 1,25 juta tahun lalu seringkali diduga adalah jenis yang berbeda, yang kemudian diberi nama Homo Ergaster. Muncul juga dugaan bahwa jenis ini merupakan anak jenis dari Homo erectus, dan diberi nama Homo Erictus Ergaster. Namun dari analisis selanjutnya diketahui bahwa semua spesimen itu masih tergolong Homo Erectus.

 

  • Homo Ergaster

Dari fosil yang dinamai Homo Ergaster dari Afrika Timur, diperoleh data ukuran tinggi 1,9 meter dan volume otak sebesar 700-850 sentimeter kubik. Sedangkan dari seri fosil yang diberi nama Homo Erectus, diperoleh data tinggi sekitar 1,8 meter, berat badan sekitar 60 kg, dan volume otak antara 850 (untuk fosil yang ditemukan pada permulaan kehidupan mereka) sampai 1.100 (untuk fosil yang ditemukan pada akhir masa hidup mereka) sentimeter kubik.

Dari dugaan waktu punahnya kelompok ini, sekitar 70.000 tahun lalu, diperkirakan kepunahan mereka diakibatkan oleh letusan Toba. Tetapi, tampaknya anak jenis Homo Erectus Soloensis dan Homo Florensis selamat Homo Ergaster dari imbas bencana katastropi Toba ini.

Nama Homo Erectus diperoleh saat para peneliti menemukan fosil terduga Homo Habilis yang diperkirakan berevolusi dan memiliki otak yang lebih besar serta sudah menggunakan alat dari batu yang cukup maju. Hal ini ditemukan pada beberapa kelompok populasi terduga Homo Habilis yang hidup pada 1,5 s.d. 1 juta tahun lalu di kawasan Afrika, Asia, dan Eropa. Namun karena adanya perbedaan yang mencolok, para antropologis setuju untuk mengklasifikannya ke dalam jenis yang berbeda, yaitu Homo Erectus. Jenis ini merupakan jenis Homo pertama yang berjalan tegak di atas dua kaki. Hal ini dimungkinkan dengan berkembangnya tempurung lutut dan foranum magnum (lubang dimana tulang belakang masuk ke tulang kepala). Mereka juga diduga sudah menggunakan api untuk memasak daging hasil buruannya.

Fosil Homo Erectus yang banyak dikenal dunia adalah Peking Man. Fosil serupa ditemukan juga di Asia (baca: Indonesia), Afrika, dan Eropa. Banyak paleoantropolog, akibat adanya sedikit perbedaan pada bagian tulang kepala dan susunan gigi fosil jenis ini, menamai fosil-fosil Homo Erectus yang ditemukan di luar Asia dengan Homo Ergaster, sedangkan yang ditemukan di Asia tetap mereka namai Homo Erectus.

 

  • Homo Capranensis (1,2 juta s.d. 500.000 tahun lalu) dan Homo Antecessor (000 tahun lalu)

Kedua nama ini diusulkan untuk dijadikan jenis baru. Keduanya memiliki ciri-ciri pertengahan antara Homo Erectus dan Homo Heidelbergensis.

Homo Capranensis didasarkan pada fosil tulang tempurung kepala yang di temukan di Italia. Data fosil memperlihatkan bahwa volume otaknya mencapai 1.000 sentimeter kubik.

Homo Antecessor didasarkan pada fosil yang di temukan di Spanyol dan Inggris. Fosil yang ditemukan memberikan data tinggi 1,75 meter, berat 90 kg, dan volume otak sebesar 1.000 sentimeter kubik.

 

  • Homo Heidelbergensis (000 s.d. 300.000 tahun lalu)

Jenis ini diusulkan hanya menjadi anak jenis dari Homo Sapiens: diusulkan untuk dinamai Homo Sapiens Heidelbergensis atau Homo Sapiens Paleohungaricus. Data fosil memperlihatkan ukuran tinggi sekitar 1,8 meter, berat 60 kg, dan volume otak sebesar 1.100-1.400 sentimeter kubik.

 

  • Homo Rhodesiensis (300.000-125.000 tahun lalu)

Banyak peneliti menyatakan bahwa manusia Rhodesia ini sebenarnya masuk dalam jenis Homo Heidelbergensis. Namun, ada pula yang mengusulkan masuknya makhluk ini ke dalam anak jenis dari Homo Sapiens, dengan nama Homo Sapiens Rhodesiensis atau Homo Sapiens purba. Data fosil memperlihatkan volume otak sekitar 1.300 sentimeter kubik.

 

  • Manusia Gawis (000 – 250.000 tahun lalu)

Temuan fosil tempurung kepala di kawasan Gawis, Ethiopia pada Februari 2006, mengesankannya sebagai jenis antara dari Homo Erectus dan Homo Sapiens. Namun, nasib Manusia Gawis ini belum diputuskan oleh para ahli sampai saat ini.

 

  • Homo Neanderthalensis (000/250.000 s.d. 30.000 tahun lalu)

Ada yang mengusulkan jenis ini hanya sebagai anak jenis Homo Sapiens dan diberi nama Homo Sapiens Neanderthalensis. Sampai saat ini, perdebatan mengenai hal ini belum sepenuhnya selesai. Penelitian mitokhondria DNA yang dilakukan barubaru ini menunjukkan bahwa kedua jenis: Homo Sapiens dan Homo Neanderthalensis merupakan jenis terpisah, meski diduga memiliki moyang yang sama pada 650.000 tahun lalu. Tidak ada kontribusi mitokhondria DNA Manusia Neanderthal dalam DNA manusia modern saat ini. Kuat dugaan, ketatnya persaingan yang datang dari Homo Sapiens menjadi salah satu sebab punahnya Homo Neanderthalensis.

Data fosil memperlihatkan tinggi badan sekitar 1,6 meter, berat antara 55-70 kg, dan volume otak antara 1.200-1.900 sentimeter kubik.

 

  • Homo Sapiens (000 tahun lalu s.d. sekarang)

Kata sapiens berasal dari bahasa latin yang berarti cerdas atau bijak. Pada masa itu terjadi kecenderungan adanya pembesaran rongga kepala dan perkembangan teknologi peralatan dari batu. Masa ini merupakan masa transisi dari Homo Erectus ke Homo Sapiens. Pada masa itu terjadi pula migrasi Homo Erectus keluar dari Afrika. Di Afrika sendiri, diduga terjadi spesiasi—proses terjadinya jenis baru—Homo Sapiens dari Homo Erectus.

Hasil penelitian mutakhir menyatakan bahwa manusia memiliki komposisi genetika yang homogen. Artinya, DNA dari individu manusia memiliki kemiripan tinggi dengan manusia lain. Hal ini menunjukkan kebaharuan evolusi yang mungkin terjadi sebagai akibat terjadinya Katastropi Toba. Beberapa karakter genetika memang terjadi secara regional setelah terjadinya migrasi ke berbagai lingkungan baru. Hal ini muncul sebagai perbedaan karakter luar seperti warna kulit atau bentuk hidung; atau perbedaan karakter internal, seperti kemampuan bernafas lebih efisien bagi populasi yang hidup di dataran tinggi.

Homo Sapiens Sapiens memiliki kisaran tinggi badan 1,4-1,9 meter, dengan berat badan 50-100 kg, dan volume otak 1.000-1.850 sentimeter kubik.

Homo Sapiens Idaltu: berasal dari Ethiopia; kemungkinan adalah anak jenis Homo Sapiens yang punah. Mereka hidup sekitar 160.000 tahun lalu. Makhluk ini merupakan makhluk tertua pertama yang memiliki bentuk tubuh mirip manusia modern. Dari fosil, diperoleh data volume otak sebesar 1.450 sentimeter kubik.

 

 

  • Homo Floresiensis (100.000 s.d. 12.000 tahun lalu)

Kelompok ini biasa dijuluki ‘hobit’ karena ukuran tubuhnya yang mini. Fosil -diyakini berjenis kelamin wanita- yang ditemukan di Flores pada 2003 dan diperkirakan berusia sekitar 30 tahun memiliki tinggi badan 1 meter, berat 25 kg, dan volume otak tidak lebih dari 380 sentimeter kubik. Ukuran ini termasuk kecil untuk ukuran simpanse, dan hanya sepertiga dari volume otak Homo Sapiens yang mencapai 1.400 sentimeter kubik.

 

 

Penggunaan Alat pada Marga Homo

Menggunakan peralatan tertentu dalam kehidupan sehari-hari menjadi pertanda bahwa sebuah populasi dianggap sudah memiliki kecerdasan. Secara teori, kemampuan membuat dan menggunakan alat merupakan aspek penting dalam evolusi manusia, misalnya dengan semakin besarnya volume otak manusia. Pembesaran volume otak sejalan dengan besarnya kualitas dan kuantitas energi yang dikonsumsinya. Sebagai perbandingan, otak manusia modern mengkonsumsi energi berupa makanan sebesar 400 kilokalori per hari, sekitar seperlima bagian dari energi keseluruhan yang diperlukan oleh tubuh. Perkembangan peralatan memungkinkan manusia saat itu untuk berburu dan memperoleh daging yang kaya energi, atau memulai pertanian dan menanam tanaman yang lebih kaya energi. Dengan demikian, penciptaan peralatan pada saat itu turut memberikan tekanan pada evolusi sehingga manusia modern memiliki kemampuan seperti saat ini.

Kapan tepatnya kelompok-kelompok yang mirip manusia modern mulai menggunakan alat memang sangat sulit dipastikan, sebab makin primitif peralatan, seperti batu berujung tajam, makin sulit pula proses pembuatannya. Keadaan ini membuat para peneliti ragu, apakah alat itu dibuat atau tersedia di alam dengan sendirinya. Misalnya, ada peneliti yang menyatakan bahwa kelompok Australophitecus yang hidup sekitar 4 juta tahun lalu telah menggunakan alat berupa tulang binatang: pernyataan yang sangat diragukan kebenarannya.

Hampir semua jenis hewan menggunakan peralatan tertentu dalam kesehariannya. Namun, hanya jenis manusia yang dalam perjalan hidupnya sampai saat ini menciptakan dan menggunakan alat yang sangat beragam dan kompleks. Alat tertua yang dapat diciri adalah batu Oldowan dari Ethiopia. Alat ini sudah digunakan jenis manusia sekitar 2,5 juta tahun lalu, suatu masa sebelum marga Homo mulai ada. Oldowan ini mungkin sekali dibuat oleh jenis-jenis yang kemudian menurunkan Homo. Kelompok Paranthropus yang hidup lebih awal dari Homo, ditunjuk sebagai kandidat pembuat Oldowan. Perdebatan tentang hal ini terus berlangsung, walaupun seorang peneliti bernama Randall Susman pada 1994 mencoba memberikan sedikit penyelesaian.

Dalam penjelasannya, Randall Susman memakai anatomi otot-otot yang menggerakkan ibu jari sebagai pembuktian. Dinyatakannya, jempol Paranthropus dan Homo digerakkan oleh tiga otot. Hal ini, ditambah dengan beberapa spesifikasi anatomi tangan, menjadikan kedua marga tersebut sebagai makhluk yang mampu membuat dan memegang dengan baik alat yang dibuatnya. Anatomi tangan simpanse sangat berbeda sehingga kemampuan membuat dan menggunakan alat tidak ada pada mereka. Susman akhirnya menyimpulkan bahwa anatomi modern dari jempol manusia adalah jawaban evolusi atas keperluan terhadap kemampuan untuk membuat dan menggunakan peralatan.

Hingga sekitar 50.000 tahun lalu, penggunaan batu sebagai alat tidak bergerak signifikan. Setiap tingkat perkembangan, dari Homo Habilis, Homo Ergaster, hingga Homo Neanderthalensis, berjalan amat pelan. Kuat dugaan, jenis-jenis Homo ini menganut paham konservatif. Namun keadaan sudah mulai lebih melaju pada masa-masa setelah angka 50.000 tahun lalu.

Pada masa itu, manusia mulai memiliki rasa budaya, seperti menguburkan anggota kelompok yang mati, membuat pakaian dari bulu binatang, menciptakan metode berburu yang maju—seperti menggunakan lubang jebakan atau menggiring bintang buruan agar jatuh di tebing terjal—dan melukis dinding gua. Peralatan yang dibuat juga semakin canggih, seperti alat pancing ikan, kancing baju, dan jarum jahit dari tulang. Pada masa Homo Neanderthalensis, variasi teknologi yang dikembangkan relatif sangat terbatas.

Pada dasarnya, perilaku manusia modern dapat digolongkan ke dalam empat aspek: berpikir abstrak (konsep yang bebas dari contoh-contoh spesifik), perencanaan (mengambil langkah-langkah dalam mencapai tujuan), inovasi (menemukan pemecahan masalah), dan perilaku simbolik (semacam imaginasi dan ritual). Para antropolog memberikan beberapa contoh untuk hal itu, di antaranya alat-alat khusus, penggunaan perhiasan batu permata dan imajinasi (seperti gambar di dinding gua), pengaturan hidup dalam gua, ritual (penguburan dengan menyertakan barangbarang yang akan digunakan di alam arwah), teknik khusus dalam berburu, eksplorasi ke kawasan yang kurang baik, juga jaringan tukar menukar barang (barter). Namun, apakah kemajuan modern ini bersifat revolusioner—semacam peristiwa Big Bang pada kejadian alam—ataukah lebih merupakan evolusi yang bertahap, masih menjadi objek perdebatan.

 

Model Evolusi Manusia

Pada saat ini, semua manusia tidak lagi terbagi dalam pembatasan jenis, melainkan telah menjadi populasi yang satu dari Homo Sapiens Sapiens. Namun, bila hipotesis Out of Africa dijadikan acuan maka jenis ini bukanlah jenis pertama dari marga Homo. Jenis pertama adalah Homo Habilis yang hidup paling tidak 2 juta tahun lalu. Mereka hidup terpencar di Afrika untuk waktu yang relatif sebentar. Berikutnya datang Homo Erectus yang berevolusi lebih dari 1,8 juta tahun lalu. Pada sekitar 1,5 juta tahun lalu, kelompok ini mulai menyebar keluar dari Afrika. Yang demikian ini didasar-kan pada perkiraan bahwa jenis manusia modern berevolusi di Afrika, lalu menyebar keluar menggantikan kelompok Homo jenis lain yang sudah lama eksis di Asia atau Eropa.

Pendapat ini berlainan dengan teori yang memakai hipotesis Evolusi Multiregional. Pendapat ini percaya bahwa evolusi manusia modern terjadi karena adanya percampuran di dalam populasi-populasi yang ada. Walaupun bukti-bukti yang diperoleh melalui studi DNA memperlihatkan bahwa model Out of Africa lebih masuk akal, namun penelitian melalui metode archaic admixture mendukung pendapat kedua.

Dua model ini sama-sama diakomodasi oleh para peneliti. Belum ada keputusan konkret mana dari keduanya yang lebih logis untuk menjelaskan evolusi manusia modern. Pada saatnya nanti, bisa jadi penelitian evolusi genetika manusia dapat dipakai untuk memecahkan hal ini. Dengan penelitian yang demikian maka dapat dijelaskan bagaimana genom manusia berbeda satu sama lain, unsur evolusi apa yang menyebabkannya, dan bagaimana eksesnya pada saat ini. Perbedaan genom ini akan memiliki implikasi dan aplikasi dalam bidang antropologi, kesehatan, dan forensik. Data genetika semacam ini dapat menjadi bahan yang sangat penting dalam membuka tabir evolusi manusia.

 

Dikutip dari Tafsir ‘Ilmi

 

Leave a Reply

Close Menu