EVOLUSI MANUSIA

EVOLUSI MANUSIA

Dalam Origins-nya Darwin, hampir tidak ada satu kalimat pun yang menyinggung kesesuaian teorinya dengan evolusi manusia. Ia enggan menjadikan manusia sebagai pusat teorinya yang kontroversial itu, sebab itulah ia hanya fokus pada binatang. Meski demikian, ia berjanji akan menyibak tabir asal-muasal manusia dengan teori tersebut. Kontan saja, berbagai pertanyaan khalayak bermunculan dan segera dijawab tuntas oleh Darwin dalam karyanya, The Descent of Man pada 1871. Dalam posisi yang demikian, ia tidak memiliki bukti fosil apa pun untuk menyokong pandangannya tentang evolusi manusia.

Manusia selalu memeroleh tempat istimewa; bukan saja karena kita adalah satu-satunya spesies yang sadar dan cerdas, melainkan juga karena-tidak seperti spesies lain-hanya ada satu ragam spesies manusia saja di dunia ini. Coba saja perhatikan contoh dua manusia yang sangat berbeda dari penjuru dunia yang berbeda, semisal suku Pygmies di Afrika dan Eskimo di Greenland. Anda pasti akan menjumpai DNA keduanya sangat terkait satu sama lain: rasio perbedaan DNA keduanya hanyalah 15 persen lebih besar dari rasio perbedaan antara dua orang dari kampung yang sama. Sebagaimana ditegaskan Francisco Ayala, perbedaan yang demikian adalah satu-satunya bukti yang menunjukkan nenek moyang kita yang sama, barulah kemudian sekelompok anak cucunya bermigrasi dan berangsung-angsur tinggal bersesak-sesak di bumi.

Meski demikian, telah sejak lama manusia disamakan dengan orang utan dan jenis kera lainnya. Misalnya saja, istilah “orang utan” berasal dari kata Melayu orang, yang berarti ‘manusia’, dan utan yang berarti ‘hutan’. Selain itu, para ahli genetika modern juga berhasil membuktikan bahwa rasio perbedaan antara DNA kita dan DNA simpanse sekitar 1 persen saja. Rasio perbedaan DNA tersebut sedikit lebih besar antara manusia dan gorila, dan semakin jauh berbeda antara manusia dan orang utan, babun, dan spesies-spesies yang berfamili lain. Ayala menyimpulkan situasi ini dengan sangat apik: “Dalam beberapa aspek biologis, kita sangat serupa dengan kera, tetapi dalam beberapa aspek biologis yang lain, kita sangatlah berbeda, dan perbedaan inilah yang memberi landasan kuat bagi pandangan keagamaan bahwa manusia adalah makhluk Tuhan yang istimewa.”

Kemiripan/perbedaan DNA antara manusia dan kera membantu para ahli genetika menentukan kapan kiranya terjadi pemisahan antara garis silsilah manusia dan kera di masa lalu. Dengan mengetahui tingkat terjadinya sejumlah mutasi penting, kita bisa menghitung berapa lama mutasi tersebut bisa mengantarkan kepada perbedaan tertentu antara dua anak spesies. Sebuah studi terbaru mengungkap bahwa perbedaan ini terjadi antara 5,4 juta tahun dan 6,3 juta tahun.

Fosil manusia tertua yang ditemukan berusia sekitar awal 1830-an, termasuk manusia Neanderthal yang tersohor (1856). Penelitian ini terus berlanjut hingga dekade-dekade berikutnya. Dari situ, kita mengenal Teilhard sebagai peserta utama dalam program penelitian tersebut dan sebagian temuannya berupa rangka-rangka berusia ratusan tahun. Kendala yang menjadi penghalang selama jutaan tahun secara menakjubkan berhasil diatasi sciring dengan ditemukannya potongan kecil tengkorak di Afrika Selatan yang usianya antara 2 juta tahun dan 3 juta tahun. Sedikitnya, dua dekade berlalu sebelum Australopithecus mulai ditemukan-meskipun sejumlah kecil saintis, bila ada, menganggap Australopithecus sebagai manusia (seutuhnya).

Selain itu, fosil-fosil ‘hominid’ bernama Lucy juga ditemukan pada November 1974 di daerah Afar, Etopia. Sekitar 40 persen rangkanya bisa disusun kembali dan diperkirakan berusia sekitar 3,2 juta tahun. Temuan ini sangat penting karena hingga beberapa tahun terakhir, saat temuan-temuan serupa semakin banyak mengemuka, rangka ini tetap bertahan sebagai fosil hominid tertua yang pernah ditemukan.

Seberapa ‘manusiakah’ Lucy? Atau lebih tepatnya, seberapa dekatkah spesies Lucy dengan manusia? Inilah pertanyaan besarnya. Kapan spesies manusia pertama kali muncul? Pertanyaan ini juga sulit dijawab secara sederhana. Singkatnya, Lucy memiliki perpaduan ciri khas antara manusia dan simpanse. Tingginya hanya 1,10 m dan beratnya 29 kg; bentuk otaknya kecil (sekitar 1/3 otak manusia sekarang) dan lengannya panjang; semua ciri ini mengkaitkannya dengan simpanse. Dengan cara jalan yang tegak, ia dan anggota serumpunnya bisa memanjat dan bergelayutan di pepohonan dengan bertumpu pada kedua lengan yang panjang dan pundaknya yang lebar. Lucy tergolong ke dalam spesies Australopithecus Afarensis. Dalam pandangan beberapa ahli paleontologi, Australopithecines termasuk pra-manusia, atau bentuk peralihan antara kera dan manusia.

Pada 2006, sisa-sisa fosil anak kecil ditemukan di daerah Dikika, Etopia. Fosil tersebut sebenarnya ditemukan pada 2000, tetapi baru lima tahun kemudian tulang-tulangnya berhasil dibersihkan dengan hati-hati dari lumpur yang mengeras. Usia rangka yang hampir utuh ini adalah sekitar 3,3 juta tahun, sementara usianya sewaktu meninggal (kemungkinan besar karena banjir) diperkirakan sekitar tiga tahun (berdasarkan analisis terhadap rahangnya melalui pemindaian CT). Secara metaforis, ia dijuluki ‘bayi Lucy’. “Menurut pandangan saya, Afarensis adalah spesies peralihan yang sangat bagus. Ia adalah perpaduan ciri-ciri yang mirip kera dan mirip manusia”, ujar Dr. Zeresenay Alemseged, ketua tim penelitian, pada BBC News. Selama beberapa tahun terakhir, telah ditemukan lusinan rangka semacam itu (biasanya tidak utuh), termasuk Australopithecus Garhi berusia 2,5 juta tahun yang dianggap sebagai penghubung antara Lucy dan manusia modern. Yang lebih penting, tim peneliti juga berhasil menemukan bukti bahwa Garhi bisa membuat perkakas. Temuan ini menjadi awal penting bagi pemisahan manusia dari nenek moyang-bersama mereka. Pada suatu ketika antara 2,5 juta tahun dan 1,5 juta tahun silam, Homo Habilis (‘manusia terampil’) muncul ke permukaan (secara berangsur-angsur); bentuk giginya lebih kecil dan otaknya lebih besar (sekitar 2/3 ukuran sekarang). Dari namanya saja, pembaca bisa menerka bahwa ia merupakan peralihan dari Australopithecus ke Homo. Dalam hal ini, pertanyaan pentingnya tentu saja adalah sejauh mana spesies ini benar-benar bersifat manusia dan apakah perubahan itu terjadi secara berangsur-angsur (menurut teori evolusi standar) ataukah terjadi dalam satu lompatan (seperti tesis-tesis baru yang kontroversial sebagaimana yang dikemukakan Anne Dambricourt Malasse).

Homo Habilis menjelma menjadi Homo Erectus, kemudian Homo Sapiens yang secara harfiah berarti ‘manusia bijak’, sekitar 200.000 tahun silam. Bahkan, dengan kemampuan membuat dan menggunakan perkakas, Habilis mampu menciptakan senjata khusus berburu yang bisa mengumpulkan banyak sekali daging. Makanan kaya protein memperkaya otaknya sehingga ia bisa berkembang lebih cepat dan memiliki kecakapan yang lebih tinggi (otak modern kita menyerap sekitar 1/5 kalori yang kita telan). Perubahan lingkungan kemudian memaksa beberapa kelompok untuk berimigrasi, baik demi mencari tempat yang kaya makanan ataupun membuntuti binatang-binatang saat mereka mencari makanan atau berburu langsung (seperti juga harimau bertaring yang selalu meninggalkan tumpukan makanan yang tidak bisa ia potong dan makan).

Terakhir, sekitar 50.000-100.000 tahun silam, terjadilah apa yang oleh para antropolog dicirikan sebagai ‘lompatan jauh ke depan’: Kebudayaan manusia muncul dalam bentuk-bentuk pemakaman, pembuatan pakaian, dan lukisan di dinding-dinding gua. Bentuk kebudayaan ini mencerminkan suatu perubahan yang mendasar, yakni berkembangnya pemikiran simbolis, tak terkecuali gagasan keagamaan. Tradisi agama besar di dunia menyebut manusia ini sebagai Adam.

Perseteruan antara saintis dan pemikir berpusat di sekitar tahapan evolusi yang menandai kapan spesies-spesies tersebut bisa dikatakan sebagai ‘manusia’: homo habilis (sekitar 2 juta tahun silam), homo sapiens (200.000 tahun silam), ataukah manusia modern yang berbudaya (50.000-100.000 tahun silam).

Pada 2 Oktober 2009, rangka fosil paling menakjubkan, yakni sosok hominid yang berusia 4,4 juta tahun, Ardipithecus Ramidus, dipamerkan ke seluruh dunia melalui sebuah jurnal bergengsi, Science. Temuan ini sungguh luar biasa karena berhasil mendapatkan 110 potongan rangka (sekitar 45 persen) sehingga para peneliti bisa menyusun ulang berbagai ciri dan sifat khasnya. Fosil tersebut memang bukanlah fosil hominid tertua yang penah ditemukan karena sebelumnya sudah ditemukan dua rangka yang berusia 6 juta dan 6-7 juta tahun, tetapi dari perpaduan keduanya, hanya menyisakan satu potong tengkorak dan tulang kaki yang belum ditemukan. Ardi, begitu hominid baru itu dijuluki, pernah hidup di Etiopia yang saat itu berupa lahan hutan. Selain itu, seperti sudah diduga, ukuran otaknya kecil (300 hingga 350 cm3, mirip dengan simpanse betina), tingginya 120 cm dan bobotnya sekitar 50 kg. Penemuan ini menggegerkan dan memunculkan banyak kontroversi.

Satu hal yang paling mengejutkan adalah bentuk Ardi yang tampak sangat berbeda dari simpanse meskipun ukuran lengannya panjang hingga menyentuh lututnya saat berdiri. Cara jalannya tegak, bisa memanjat dengan mudah, dan lebih sering menghabiskan waktu di pepohonan. Dari bentuk giginya, sepertinya ia memiliki gaya hidup yang berbeda dari simpanse. Kesimpulannya, ia cukup mirip kera, tetapi menyimpang dari gagasan terdahulu tentang evolusi manusia yang berasal dari simpanse dan primata lainnya. Kini, sepertinya simpanselah yang berevolusi dari Ardi, nenek moyang kita.

Saya kaget sewaktu menyaksikan tayangan TV AI-Jazeera, stasiun berita Arab, yang dalam running text di bagian bawah layar: “Para ilmuwan menolak teori evolusi Darwin berdasarkan temuan mutakhir”. Lebih parah lagi, laman AI-Jazeera juga menampilkan sebuah tajuk “Penemuan fosil Ardi memukul teori Darwin” dan ada kalimat sebagai berikut:

Para saintis Amerika menemukan bukti baru yang menjungkirbalikkan teori evolusi Darwin. Manusia tidak berevolusi dari nenek moyang yang menyerupai simpanse, sehingga gugurlah asumsi lama bahwa manusia berevolusi dari kera. Dr. Zaghloul An-Najjar berujar bahwa orang Sarat akhirnya mulai menemukan kembali akal sehat mereka setelah lama bergelut dengan persoalan asal-usul manusia dari sudut pandang materialisme dan pengingkaran agama. Dalam sebuah percakapan telepon dengan AI-Jazeera, ia mengatakan bahwa temuan penting ini memberi pukulan telak pada teori Darwin. la juga menambahkan bahwa rumor mengenai 4,4 juta tahun terbukti hanyalah bualan, sebab ia menganggap usia manusia di muka bumi tidak lebih dari sekitar 400,000 tahun.

Leave a Reply

Close Menu