EVOLUSI KESADARAN INSANI MANUSIA

EVOLUSI KESADARAN INSANI MANUSIA

Dalam mengurai perkembangan peradaban manusia, yang juga dapat dikaitkan dengan perkembangan organnya, para ahli menghadapi problem yang lebih mudah ketimbang ketika mereka melakukan analisis atas proses penciptaan manusia. Para arkeolog dan antropolog menemukan bahwa peradaban manusia terjadi melalui jalur yang terbagi dengan jelas. Pada Zaman Batu (Stone Age), manusia pertama kali melangkah masuk ke ranah budaya dan kemasyarakatan. Sejak itu, manusia melakukan evolusi dalam mempertahankan hidup sebagai ‘binatang yang lemah’. Karena tidak memiliki kekuatan, tidak pula cakar dan taring seperti binatang yang lain, manusia menggunakan batu sebagai alat mempertahankan diri dan keperluan lainnya. Kemudian datang Zaman Perunggu (Bronze Age), ketika manusia mulai menggunakan metal sebagai bahan baku peralatan yang diperlukannya. Zaman ini diikuti oleh Zaman Besi (Iron Age). Situs-situs purbakala yang ditemukan menunjukkan bahwa perubahan zaman yang terjadi pada kehidupan manusia diikuti pula oleh perubahan budaya yang menyertainya.

Tahapan peradaban di atas tidak lepas dari kemampuan manusia dalam menggunakan otaknya untuk berpikir. Tentang tahap-tahap perkembangan manusia, Alquran menjelaskan:

 مَّا لَكُمْ لَا تَرْجُونَ لِلَّهِ وَقَارًا۝ وَقَدْ خَلَقَكُمْ أَطْوَارًا۝ أَلَمْ تَرَوْا كَيْفَ خَلَقَ اللَّهُ سَبْعَ سَمَاوَاتٍ طِبَاقًا۝ وَجَعَلَ الْقَمَرَ فِيهِنَّ نُورًا وَجَعَلَ الشَّمْسَ سِرَاجًا۝ وَاللَّهُ أَنبَتَكُم مِّنَ الْأَرْضِ نَبَاتًا۝ ثُمَّ يُعِيدُكُمْ فِيهَا وَيُخْرِجُكُمْ إِخْرَاجًا۝ وَاللَّهُ جَعَلَ لَكُمُ الْأَرْضَ بِسَاطًا۝ لِّتَسْلُكُوا مِنْهَا سُبُلًا فِجَاجًا۝

Mengapa kamu tidak takut akan kebesaran Allah? Dan sungguh, Dia telah menciptakan kamu dalam beberapa tingkatan (kejadian). Tidakkah kamu memperhatikan bagai-mana Allah telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis? Dan di sana Dia menciptakan bulan yang bercahaya dan menjadikan matahari sebagai pelita (yang cemerlang)? Dan Allah menumbuhkan kamu dari tanah, tumbuh (berangsur-angsur), kemudian Dia akan mengembalikan kamu ke dalamnya (tanah) dan mengeluarkan kamu (pada hari Kiamat) dengan pasti. Dan Allah menjadikan bumi untukmu sebagai hamparan, agar kamu dapat pergi kian kemari di jalan-jalan yang luas. (Alquran, Surah Nūḥ/71: 13-20)

 

Ayat ini secara umum ditujukan kepada manusia yang masih meragukan bahwa penciptaan tidak dilakukan berdasarkan perencanaan yang baik dan bijak. Ayat tersebut juga banyak dipakai sebagai dasar dalam menjelaskan tahapan-tahapan stadium embrio. Tuhan tidak membuat model dari tanah liat dan meniupkan roh ke dalamnya untuk menjadi manusia pertama di muka bumi. Akan tetapi, manusia sampai pada tahap sekarang ini setelah melalui proses beberapa masa perubahan.

Tetapi, dalam soal penciptaan manusia, ada ayat Iain yang justru sedikit membingungkan. Dalam ayat tersebut dijelaskan bahwa manusia diciptakan dari kondisi ketiadaan (creatio ex nihilo): sebuah keterangan yang tampaknya bertolak belakang dengan penjelasan sebelumnya.

 أَوَلَا يَذْكُرُ الْإِنسَانُ أَنَّا خَلَقْنَاهُ مِن قَبْلُ وَلَمْ يَكُ شَيْئًا۝

Dan tidakkah manusia itu memikirkan bahwa sesungguhnya Kami telah menciptakannya dahulu, padahal (sebelumnya) dia belum berwujud sama sekali? (Alquran, Surah Maryam/19: 67)

 

Ayat ini, pada bagian sebelumnya, sudah dipakai dalam menjelaskan penciptaan manusia dari tanah liat. Dalam penjelasan tersebut, ayat ini dikaitkan dengan tiga ayat yang berbicara tentang berbagai bentuk dari tanah liat yang digunakan dalam penciptaan (al-Mu’minūn‎/23: 12, al-Ḥijr‎/15: 26, dan ar-Raḥmān/55: 14). Namun dalam pembahasan kali ini, ayat ini digunakan untuk menjelaskan awal mula cerita evolusi kesadaran insani manusia.

Penjelasannya demikian. Keterangan ayat tersebut hanya terbatas pada tahapan dimana material belum ada. Kursi, misalnya, terbuat dari kayu, dan rantai terbuat dari besi. Material yang menyusun barang-barang tersebut, yakni kayu dan besi, sudah tersedia sebelumnya. Namun, pada masa sebelum itu, tentunya tidak ada apa-apa sama sekali, termasuk material kayu dan besi itu sendiri.

Ayat di atas bisa jadi memberitahukan bahwa sebelum adanya penciptaan, di alam semesta ini tidak terdapat apa-apa. Lalu seiring penciptaan alam semesta, penciptaan-penciptaan Iainnya, termasuk penciptaan manusia, berangsur berjalan.

Surah Nūḥ/71: 13-20 di atas, oleh beberapa penulis, diinterpretasikan sebagai salah satu dalil pentahapan dalam peradaban manusia. Memang, setelah dikaitkan dengan ayat Iainnya, terlihat semacam perkembangan fisik manusia, yang kemudian berkaitan dengan kemajuan peradaban manusia.

Ketika manusia baru diciptakan, sesuai uraian sebelumnya, maka pertanyaan yang timbul kemudian adalah dimana posisi manusia di antara sekian banyak ciptaan Allah. Melalui ayat berikut, Allah memperlihatkan bahwa posisi manusia saat itu sama dengan atau lebih rendah dari binatang.

 هَلْ أَتَىٰ عَلَى الْإِنسَانِ حِينٌ مِّنَ الدَّهْرِ لَمْ يَكُن شَيْئًا مَّذْكُورًا۝

Bukankah pernah datang kepada manusia waktu dari masa, yang ketika itu belum merupakan sesuatu yang dapat disebut? (Alquran, Surah al-lnsān/76: 1)

 

Manusia ketika itu belum sampai pada tingkatan dimana ia sadar akan dirinya. la belum lagi sadar akan waktu dan tidak mempunyai kemampuan untuk mengenali dirinya sendiri. la adalah sebentuk makhluk hidup tanpa kesadaran dan kecerdasan tentang dirinya sendiri atau benda di sekitarnya. Namun demikian, manusia sudah berkembang biak melalui pembuahan sperma dan sel telur layaknya binatang tingkat tinggi.

 هُوَ الَّذِي خَلَقَكُم مِّن نَّفْسٍ وَاحِدَةٍ وَجَعَلَ مِنْهَا زَوْجَهَا لِيَسْكُنَ إِلَيْهَا ۖ فَلَمَّا تَغَشَّاهَا حَمَلَتْ حَمْلًا خَفِيفًا فَمَرَّتْ بِهِ ۖ فَلَمَّا أَثْقَلَت دَّعَوَا اللَّهَ رَبَّهُمَا لَئِنْ آتَيْتَنَا صَالِحًا لَّنَكُونَنَّ مِنَ الشَّاكِرِينَ۝

Dialah yang menciptakan kamu dari jiwa yang satu (Adam) dan daripadanya Dia menciptakan pasangannya, agar dia merasa senang kepadanya. Maka setelah dicampurinya, (istrinya) mengandung kandungan yang ringan, dan teruslah dia merasa ringan (beberapa waktu). Kemudian ketika dia merasa berat, keduanya (suami istri) bermohon kepada Allah, Tuhan mereka (seraya berkata), “Jika Engkau memberi kami anak yang saleh, tentulah kami akan selalu bersyukur.” (Alquran, Surah al-A‘rāf/7: 189)

 يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُم مِّن نَّفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ ۚ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا۝

Wahai manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu (Adam), dan (Allah) menciptakan pasangannya (Hawa) dari (diri)nya; dan dari keduanya Allah memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Bertakwalah kepada Allah yang dengan nama-Nya kamu saling meminta, dan (peliharalah) hubungan kekeluargaan. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasimu. (Alquran, Surah an-Nisā’/4: 1)

 

Pada saatnya, sejalan dengan perkembangan fisik, diduga dengan volume otak yang lebih besar, manusia dikatakan telah dapat menggunakan nalarnya.

 إِنَّا خَلَقْنَا الْإِنسَانَ مِن نُّطْفَةٍ أَمْشَاجٍ نَّبْتَلِيهِ فَجَعَلْنَاهُ سَمِيعًا بَصِيرًا۝

Sungguh, Kami telah menciptakan manusia dari setetes mani yang bercampur yang Kami hendak mengujinya (dengan perintah dan larangan), karena itu Kami jadikan dia mendengar dan melihat. (Alquran, Surah al-lnsān/76: 2)

 

Sejak masa ini, karena peran pentingnya di alam semesta, manusia mulai mempelajari alam. Untuk melaksanakan perannya sebagai khalifah dan dapat mengelola bumi dengan baik, manusia memerlukan penguasaan pengetahuan secara luas.

Ayat di atas mungkin mengacu pada manusia yang ada saat ini, ketika manusia telah sampai pada tahap perkembangan otak yang sempurna. Perkembangan kecerdasan dan kepedulian terhadap lingkungan mulai dipertajam. Dengan kemampuan untuk mendengar dan melihat, seperti binatang lainnya, manusia kemudian mulai melatih kecerdasannya sampai pada tingkat dapat melakukan temuan-temuan yang berguna bagi kehidupannya. Di sini, manusia telah menempatkan dirinya jauh di atas binatang. la menjadi jenis binatang yang dapat bertahan melalui kemampuan berpikir dan berbicara. Wallāhu alam bissawāb.

 

Penciptaan Adam

Setelah menciptakan bumi, langit, dan malaikat, Allah berkehendak untuk menciptakan makhluk lain yang nantinya akan dipercaya menghuni dan memelihara bumi sebagai tempat tinggalnya. Adam adalah makhluk itu, manusia pertama yang diciptakan Allah. Sebelum menciptakan Adam, Allah menceritakan rencana penciptaan ini kepada para malaikat. Rencana itu menimbulkan kekhawatiran dari pihak malaikat bahwa makhluk itu nantinya akan membangkang terhadap ketentuan Allah dan membuat kerusakan

وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَائِكَةِ إِنِّي جَاعِلٌ فِي الْأَرْضِ خَلِيفَةً ۖ قَالُوا أَتَجْعَلُ فِيهَا مَن يُفْسِدُ فِيهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَاءَ وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَ ۖ قَالَ إِنِّي أَعْلَمُ مَا لَا تَعْلَمُونَ۝

Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, “Aku hendak menjadikan khalifah di bumi.” Mereka berkata, “Apakah Engkau hendak menjadikan orang yang merusak dan menumpahkan darah di sana, sedangkan kami bertasbih memuji-Mu dan menyucikan nama-Mu?” Dia berfirman, “Sungguh, Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.” (Alquran, Surah al-Baqarah/2: 30)

 

Pascapenciptaan Adam, Allah hendak menghilangkan pandangan sinis para malaikat terhadap Adam, dan meyakinkan mereka akan kebenaran hikmah-Nya tentang kekhalifahan Adam di bumi. Untuk itu, Allah mengajari Adam nama-nama benda yang ada di alam semesta, benda yang sama yang diperagakan di hadapan para malaikat. Para malaikat tidak sanggup menjawab perintah Allah untuk menyebut nama-nama benda itu. Mereka mengakui ketidaksanggupan itu dengan mengatakan bahwa mereka tidak mengetahui apa pun selain apa yang telah diajarkan oleh-Nya.

 وَعَلَّمَ آدَمَ الْأَسْمَاءَ كُلَّهَا ثُمَّ عَرَضَهُمْ عَلَى الْمَلَائِكَةِ فَقَالَ أَنبِئُونِي بِأَسْمَاءِ هَٰؤُلَاءِ إِن كُنتُمْ صَادِقِينَ۝ قَالُوا سُبْحَانَكَ لَا عِلْمَ لَنَا إِلَّا مَا عَلَّمْتَنَا ۖ إِنَّكَ أَنتَ الْعَلِيمُ الْحَكِيمُ۝ قَالَ يَا آدَمُ أَنبِئْهُم بِأَسْمَائِهِمْ ۖ فَلَمَّا أَنبَأَهُم بِأَسْمَائِهِمْ قَالَ أَلَمْ أَقُل لَّكُمْ إِنِّي أَعْلَمُ غَيْبَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَأَعْلَمُ مَا تُبْدُونَ وَمَا كُنتُمْ تَكْتُمُونَ۝

Dan Dia ajarkan kepada Adam nama-nama (benda) semuanya, kemudian Dia perlihatkan kepada para malaikat, seraya berfirman, “Sebutkan kepada-Ku nama semua (benda) ini, jika kamu benar!” Mahasuci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami. Sungguh, Engkaulah Yang Maha Mengetahui, Mahabijaksana.” Dia (Allah) berfirman, “Wahai Adam, beritahukanlah kepada mereka nama-nama itu!” Setelah dia (Adam) menyebutkan nama-namanya, Dia berfirman, “Bukankah telah Aku katakan kepadamu, bahwa Aku mengetahui rahasia langit dan bumi, dan Aku mengetahui apa yang kamu nyatakan dan apa yang kamu sembunyikan?” (Alquran, Surah al-Baqarah/2: 31-33)

 

Nyatanya, manusia yang berasal dari tanah itu memiliki keutamaan melebihi makhluk bumi lainnya. Makhluk itu mampu menyimpan memori yang telah diajarkan oleh Allah. Pertanyaan yang timbul selanjutnya adalah mengapa Adam mampu menyebutkan nama benda-benda itu, sedang malaikat tidak.

Dalam beberapa surah, di antaranya Surah al-Ḥijr‎ di atas, Allah menjelaskan bahwa manusia dibuat dari tanah. Tanah mengandung banyak atom atau unsur metal (logam) maupun metalloid (seperti logam) yang sangat diperlukan sebagai katalis dalam proses reaksi kimia maupun biokimiawi untuk membentuk molekul-molekul organik yang lebih kompleks. Unsur-unsur yang ada dalam tanah antara lain: besi (Fe), tembaga (Cu), kobalt (Co), mangan (Mn), di samping unsur karbon (C), hidrogen (H), nitrogen (N), fosfor (P), dan oksigen (O). Semua unsur metal dan metalloid ini berperan sebagai katalis dalam proses reaksi biokimiawi untuk membentuk molekul yang lebih kompleks, seperti ureum, asam amino, atau bahkan nukleotida. Molekul-molekul ini dikenal sebagai molekul organik, pendukung suatu proses kehidupan. Otak manusia yang merupakan organ vital untuk menerima, menyimpan, dan mengeluarkan kembali informasi, terbuat dari unsur-unsur kimiawi di atas. Semuanya tersusun menjadi makromolekul dan dalam bentuk jaringan otak. Instrumen penyimpan informasi lainnya yang dimiliki manusia adalah senyawa kimia yang dikenal sebagai DNA atau desoxyribonucleic acid. Baik jaringan otak manusia maupun molekul-molekul DNA terdiri atas unsur-unsur utama C, H, O, N, dan P.

Prof. Carl Sagan dari Princeton University, dalam bukunya, The Dragon of Eden, memberikan gambaran bahwa manusia memang lebih unggul dibandingkan makhluk-makhluk lainnya. Salah satu bentuk keunggulannya adalah dalam hal kepemilikan sistem penyimpan informasi atau memori. Sistem penyimpan informasi pada manusia ada dua macam, yaitu: (1) Jaringan otak yang menyimpan informasi apa pun yang terekam olehnya. Otak manusia mempunyai kemampuan untuk menyimpan informasi sebanyak 1013 bits atau 107 Gbits; dan (2) DNA-kromosomal, yaitu molekul DNA yang ada di kromosom, yang menyimpan informasi genetik manusia. Informasi bentuk kedua ini akan diturunkan kepada keturunannya. DNA-kromosomal manusia mampu menyimpan memori sebanyak 2 x 1010 bits atau sekitar 2 x 104 Gbits, atau sebanding dengan buku setebal 2.000.000 halaman, atau sebanding dengan 4.000 jilid buku yang masing-masing setebal 500 halaman. Kedua penyimpan memori canggih ini terbuat dari unsur-unsur yang terkandung dalam tanah. Subḥānallāh.

Inilah jawaban mengapa Adam mampu menangkap dan mengerti semua nama benda yang diajarkan Allah, serta mampu menerangkannya kembali dengan benar. Hal ini dikarenakan Adam dilengkapi dengan instrumen penyimpan dan pengekspresi kembali memori, yaitu jaringan otak dan DNA yang terdiri dari unsur-unsur tanah itu, dan tidak demikian halnya dengan malaikat. Iblis menyombongkan diri, mungkin karena kebodohannya dalam memahami ciptaan Allah dengan melecehkan unsur tanah. Pada akhirnya, kekaguman para malaikat tersebut memunculkan pujian dan tasbih mereka kepada Allah.

Dari penjelasan ayat-ayat di atas, tampak bahwa rencana Allah mulanya mendapat tanggapan dan reaksi dari para malaikat. Meski begitu, tanggapan dan reaksi itu tidak dapat dikategorikan sebagai protes. Penafsiran atas reaksi malaikat ini sebagai protes terhadap penciptaan Adam adalah keliru, karena yang demikian itu dapat menimbulkan pengertian bahwa malaikat tidak setuju dengan kehendak Allah. Pengertian yang seperti ini bertentangan dengan firman Allah bahwa malaikat adalah hamba Allah yang paling patuh, tidak pernah durhaka, dan selalu melaksanakan perintah-Nya.

 يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَّا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ۝

Wahai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu: penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, dan keras, yang tidak durhaka kepada Allah terhadap apa yang Dia perintahkan kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan. (Alquran, Surah at-Tahrīm/66: 6)

 

Sekiranya para malaikat memprotes penciptaan Adam, sudah tentu mereka tidak akan sujud saat diperintahkan untuk itu, sebagaimana termaktub dalam ayat di bawah ini.

 وَإِذْ قُلْنَا لِلْمَلَائِكَةِ اسْجُدُوا لِآدَمَ فَسَجَدُوا إِلَّا إِبْلِيسَ أَبَىٰ وَاسْتَكْبَرَ وَكَانَ مِنَ الْكَافِرِينَ۝

Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat, “Sujudlah kamu kepada Adam!” Maka mereka pun sujud kecuali Iblis. la menolak dan menyombongkan diri, dan ia termasuk golongan yang kafir. (Alquran, Surah al-Baqarah/2: 34)

 

Sujud para malaikat kepada Adam atas perintah Allah menandakan bahwa mereka setuju dengan penciptaan Adam. Dengan demikian, kata “tanggapan” sangat tepat digunakan dalam hal ini karena tanggapan tidak selalu berarti ketidaksetujuan.

Pada awalnya, Adam ditempatkan di surga. Di sana juga akhirnya beliau ditemani oleh seorang wanita bernama Hawa, yang menurut penafsiran bercorak Isrā’iliyyāt (cerita-cerita dari Yahudi dan Nasrani) atas ayat berikut ini, diciptakan dari diri Adam.

 يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُم مِّن نَّفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ ۚ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا۝

Wahai manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu (Adam), dan (Allah) menciptakan pasangannya (Hawa) dari (diri)nya; dan dari keduanya Allah memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Bertakwalah kepada Allah yang dengan nama-Nya kamu saling meminta, dan (peliharalah) hubungan kekeluargaan. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasimu. (Alquran, Surah an-Nisā’/4: 1)

 

Saat sedang menikmati keindahan dan berbagai jamuan surgawi, datanglah iblis menggoda mereka. Godaan Iblis ketika itu, jelas-jelas menggunakan pendekatan logika ilmiah. Kata iblis, larangan Allah kepada Adam untuk mendekati pohon itu, sesuatu yang sudah dipesankan benar-benar oleh Allah kepada mereka sebelumnya, karena pohon itu adalah pohon kekekalan. Dengan demikian, Iblis mengesankan seolah Allah tidak menghendaki Adam dan Hawa hidup kekal di surga. Yang demikian itu sesuai dengan narasi dalam ayat berikut:

 فَوَسْوَسَ لَهُمَا الشَّيْطَانُ لِيُبْدِيَ لَهُمَا مَا وُورِيَ عَنْهُمَا مِن سَوْآتِهِمَا وَقَالَ مَا نَهَاكُمَا رَبُّكُمَا عَنْ هَٰذِهِ الشَّجَرَةِ إِلَّا أَن تَكُونَا مَلَكَيْنِ أَوْ تَكُونَا مِنَ الْخَالِدِينَ۝

Kemudian setan membisikkan pikiran jahat kepada mereka agar menampakkan aurat mereka (yang selama ini) tertutup. Dan (setan) berkata, “Tuhanmu hanya melarang kamu berdua mendekati pohon ini, agar kamu berdua tidak menjadi malaikat atau tidak menjadi orang yang kekal (dalam surga). “ (Alquran, Surah al-A‘rāf/7: 20)

 

Untuk menguatkan logika itu, iblis membumbui tipuannya dengan sumpah dan mendudukkan diri sebagai penasehat.

 وَقَاسَمَهُمَا إِنِّي لَكُمَا لَمِنَ النَّاصِحِينَ۝

Dan dia (setan) bersumpah kepada keduanya, “Sesungguhnya aku ini benar-benar termasuk para penasihatmu.” (Alquran, Surah al-A‘rāf/7: 21)

 

Pengaruh susunan kata yang demikian ini sangat mempengaruhi Adam dan Hawa hingga akhirnya mereka terlena dan memakan buah terlarang itu.

 وَلَقَدْ عَهِدْنَا إِلَىٰ آدَمَ مِن قَبْلُ فَنَسِيَ وَلَمْ نَجِدْ لَهُ عَزْمًا۝

Dan sungguh telah Kami pesankan kepada Adam dahulu, tetapi dia lupa, dan Kami tidak dapati kemauan yang kuat padanya. (Alquran, Surah Tāhā/20: 115)

 

Peristiwa inilah yang melatarbelakangi pengusiran Adam dan Hawa ke dunia. Tetapi, diduga, kalaupun mereka tidak terbujuk iblis, dengan satu atau lain cara, mereka akan tetap turun ke bumi. Kejadian ini mengandung hikmah, yakni pengembalian manusia kepada tujuan utama penciptaannya: menjadi khalifah. Bila Adam tetap di dalam surga maka firman Allah kepada para malaikat tentang penciptaan manusia sebagai khalifah di bumi menjadi tak akan ada artinya. Namun, kata “diusir” dalam kacamata manusia mempunyai kesan seolah Tuhan telah melakukan kesalahan dalam memilih rasul-Nya, sehingga Dia mengusirnya. Banyak juga yang menyalahkan Adam karena keterusirannya dari surga adalah penyebab mengapa umat manusia tidak dapat merasakan kenikmatan surgawi saat ini. Namun, skenario yang disebut terakhir ini sebaiknya tidak dibahas karena untuk mengetahui apa yang ada di balik skenario itu tidak mungkin dapat dianalisis dengan nalar manusia.

Kisah penciptaan dan turunnya Nabi Adam ke bumi dinyatakan dalam serangkaian ayat di atas. Apabila semua ayat tersebut dirangkai secara utuh maka penilaian yang salah tentang Nabi Adam akan hilang.

Memang, ada begitu banyak versi tentang penciptaan Nabi Adam. Namun, kebanyakan riwayatnya sulit diterima akal dan sukar dikonfirmasi kebenarannya dari perspektif ilmu pengetahuan. Misalnya, kisah tentang penolakan bumi saat beberapa malaikat diutus untuk mengambil tanah dan proses pencampurannya, atau tentang lokasi tanah tertentu untuk membuat bagian organ tertentu dari Adam, dan masih banyak lagi. Diperlukan kehati-hatian ekstra untuk memilih artikel semacam ini yang banyak bertebaran di internet. Kendatipun, dalam Alquran benar ada ayat-ayat yang memberikan indikasi bahan tanah macam apa yang digunakan dalam penciptaan Adam.

Ada lagi versi lain tentang penciptaan Adam. Konon, Adam bukanlah manusia pertama di bumi. Versi ini muncul dari penafsiran terhadap ayat yang menyamakan penciptaan Adam dengan Isa. Dengan demikian, seperti halnya Isa, Adam juga lahir dari rahim seorang wanita yang tidak dibuahi laki-laki mana pun. Dalam Alquran disebutkan:

 إِنَّ مَثَلَ عِيسَىٰ عِندَ اللَّهِ كَمَثَلِ آدَمَ ۖ خَلَقَهُ مِن تُرَابٍ ثُمَّ قَالَ لَهُ كُن فَيَكُونُ۝

Sesungguhnya perumpamaan (penciptaan) Isa bagi Allah, seperti (penciptaan) Adam. Dia menciptakannya dari tanah, kemudian Dia berkata kepadanya, “Jadilah!” Maka jadilah sesuatu itu. (Alquran, Surah Āli ‘Imrān/3: 59)

 

Akan tetapi, di dalam Alquran juga disebutkan bahwa Adam adalah manusia pertama. Lalu, siapa yang mengandung Adam? Bila kita mencermati ulang dialog antara Allah dan malaikat prapenciptaan Adam (al-Baqarah/2: 30), mungkin saja malaikat menduga bahwa makhluk yang akan diciptakan Allah itu adalah salah satu makhluk yang sudah ada di bumi sebelumnya, makhluk yang oleh malaikat dianggap tidak layak menjadi khalifah. Boleh jadi, makhluk yang dimaksud malaikat ada hubungannya dengan penciptaan Adam. Makhluk yang sudah memiliki sebagian sifat manusia itu, dalam perkiraan malaikat, akan Allah jadikan sebagai model dalam memproses penciptaan Adam. Dalam rahim makhluk tersebut proses penciptaan Adam terjadi. Mungkin proses mutasi genetika terjadi terhadap janin Adam sehingga ia memiliki sifat dan kecerdasan yang jauh lebih sempurna dari induknya. Dan di dalam rahim itulah Allah meniupkan ruh-Nya.

Selain itu, ada versi lain lagi yang memperkirakan bahwa Adam tidak lahir sendirian, melainkan bersama kembarannya, Hawa. Versi ini berangkat dari penafsiran terhadap penggalan beberapa kalimat pertama dalam Surah al-A‘rāf‎/7: 189, dengan menghilangkan interpretasi “jiwa yang satu” sebagai Adam.

 هُوَ الَّذِي خَلَقَكُم مِّن نَّفْسٍ وَاحِدَةٍ وَجَعَلَ مِنْهَا زَوْجَهَا لِيَسْكُنَ إِلَيْهَا ۖ فَلَمَّا تَغَشَّاهَا حَمَلَتْ حَمْلًا خَفِيفًا فَمَرَّتْ بِهِ ۖ فَلَمَّا أَثْقَلَت دَّعَوَا اللَّهَ رَبَّهُمَا لَئِنْ آتَيْتَنَا صَالِحًا لَّنَكُونَنَّ مِنَ الشَّاكِرِينَ۝

Dia-lah yang menciptakan kamu dari jiwa yang satu (Adam) dan daripadanya Dia menciptakan pasangannya, agar dia merasa senang kepadanya. (Alquran, Surah al-A‘rāf/7: 189)

 

Dari perspektif ilmu pengetahuan, ada beberapa bidang ilmu yang dapat digunakan untuk membantu mengungkap rahasia Tuhan. Dengan studi fosil atau penelusuran memakai material genetika, misalnya, sedikit celah dapat dibuka. Penelitian atas DNA dari 100.000 sampel yang dipilih secara acak menunjukkan pengerucutan kepada satu orang -sebagian mengatakan laki-laki, yang lainnya mengatakan perempuan- yang hidup sekitar 350.000 tahun lalu.

Seperti pertanyaan-pertanyaan sebelumnya, ukuran fisik Adam juga masih menjadi tanda tanya besar. Satu versi menyatakan, Adam mempunyai tinggi badan berkisar 60 cubits (3,6 meter), berusia sampai dengan 1.000 tahun, dan memiliki kulit serupa dengan warna kuku manusia modern.

Tinggalkan Balasan

Close Menu