ETIKA MANUSIA TERHADAP ALAM

ETIKA MANUSIA TERHADAP ALAM

Meski Islam menyediakan banyak metode yang memungkinkan manusia untuk memandang alam dari perspektif ekologis dan berasaskan etika, banyak kaum muslim yang malah masih buta mengenai hal ini. Tidak banyak yang tahu bahwa jumlah ayat Alquran yang membahas tentang alam dan fenomenanya jauh lebih banyak daripada ayat-ayat yang membahas perintah Allah dan hubungan antara manusia dan Tuhannya. Dari sekitar 6.000 ayat yang ada dalam Alquran, sebanyak 750 ayat atau sekitar seperdelapannya, memotivasi kaum muslim untuk memahami alam, mempelajari hubungan antara organisme hidup dan ekosistemnya, memanfaatkan dan melestarikan alam dengan sebaik-baiknya, serta memelihara keseimbangan alam.

Sumber daya alam: tanah, air, udara, mineral, hutan, dan semisalnya tersedia untuk kesejahteraan manusia. Memang, tetapi pemanfaatannya juga tidak boleh terlepas dari usaha untuk tetap menjaga keseimbangan ekologi dan mewariskannya kepada generasi mendatang. Jika tidak, keberlanjutan upaya menyejahterakan manusia tentu tidak dapat terlaksana. Bila kita sebagai manusia masih awam tentang tugas untuk memelihara bumi, maka disadari atau tidak, kita telah menyempitkan ajaran-ajaran Alquran.

Pendekatan Islam terhadap lingkungan bersifat holistik. Semua makhluk saling berhubungan satu sama lain. Apa yang menimpa satu hal pasti akan berimbas pada keseluruhan sistem. Dengan bekal kemampuan berpikir, manusia ditunjuk  Allah menjadi khalifah di bumi. Karena alam diciptakan atas asas keseimbangan maka tanggung jawab manusia adalah menjamin kelangsungan keseimbangan itu. Penunjukan manusia sebagai pemelihara tidak berarti menjadikan manusia lebih superior daripada makhluk lain. Karena bagaimanapun juga, manusia bukanlah pemilik alam. Kepemilikan sesungguhnya ada di tangan Tuhan. Jadi, menjadi pemelihara yang arif merupakan investasi terbaik manusia dalam rangka pertanggungjawaban moral kepada semua ciptaan Tuhan.

Tugas manusia untuk memelihara alam tidak dapat dipisahkan dari upaya mengharmonisasikan kehidupan manusia dan alam, dan bukannya menjadikan manusia sebagai penakluk alam. Karenanya, salah satu metode untuk mengetahui dasar-dasar ajaran Islam adalah dengan menghormati alam dan berusaha memahami fenomena-fenomena yang terjadi di dalamnya. Dengan begitu, manusia akan memperoleh tanda-tanda kekuasaan Tuhan dalam keseluruhan fenomena itu.

Banyak ayat Alquran yang berbicara mengenai siklus hidrologi dan peranan air dalam menopang kehidupan di bumi. Alquran menempatkan air jauh di atas fenomena alam lainnya. Air, demikian juga, adalah penopang keberlangsungan keanekaragaman hayati di bumi, keanekaragaman yang menjadi prinsip pokok ekologi yang memungkinkan bumi untuk ditinggali. Tanpa keanekaragaman hayati tumbuhan, hewan, dan mikroorganisme yang hidup saling berbagi dengan manusia, kehidupan seperti kita kenal saat ini tidak mungkin ada. Semua makhluk hidup mempunyai hak untuk hidup dan berkembang di atas bumi. Bukan hanya karena mereka berguna bagi manusia, tapi juga karena kehadirannya akan menyeimbangkan harmoni dan proporsi ciptaan Tuhan. Hal ini diekspresikan Allah dalam ayat berikut:

وَالْأَرْضَ مَدَدْنَاهَا وَأَلْقَيْنَا فِيهَا رَوَاسِيَ وَأَنبَتْنَا فِيهَا مِن كُلِّ شَيْءٍ مَّوْزُونٍ۝ وَجَعَلْنَا لَكُمْ فِيهَا مَعَايِشَ وَمَن لَّسْتُمْ لَهُ بِرَازِقِينَ۝

Dan Kami telah menghamparkan bumi dan Kami pancangkan padanya gunung-gunung serta Kami tumbuhkan di sana segala sesuatu menurut ukuran. Dan Kami telah menjadikan padanya sumber-sumber kehidupan untuk keperluanmu, dan (Kami ciptakan pula) makhluk-makhluk yang bukan kamu pemberi rezekinya. (Alquran, Surah al-Ḥijr/15: 19-20)

Ayat ini menjelaskan betapa keseimbangan alam—dalam ayat ini diungkapkan memakai kata “ukuran”— akan menjamin kelangsungan hidup bagi manusia dan makhluk Iain. Yang perlu ditekankan kemudian adalah bahwa kehidupan makhluk Iainnya sama sekali tidak bergantung pada manusia, tapi kepada Tuhan yang telah menciptakannya. Manusia hanyalah salah satu makhluk yang hidup berdampingan dengan makhluk Iain. Jadi, justru manusialah yang sangat bergantung pada kehidupan, energi, dan proses dalam jaringan sistem yang luas dan rumit. Dalam ayat berikut, tampak bagaimana Tuhan mengecilkan manusia dibandingkan dengan alam semesta.

لَخَلْقُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ أَكْبَرُ مِنْ خَلْقِ النَّاسِ وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ۝

Sungguh, penciptaan langit dan bumi itu lebih besar daripada penciptaan manusia, akan tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui. (Alquran, Surah Gāfir/40: 57)

Ayat ini mengingatkan manusia untuk tidak besar kepala dan pongah. Alquran jelas-jelas menyindir sifat antroposentris yang muncul di benak kebanyakan manusia. Lenyapnya banyak sumber daya alam saat ini tidak bisa dipungkiri merupakan akibat dari pergeseran peran manusia dari yang seharusnya sebagai pengasuh menjadi pemangsa, dari pemelihara menjadi perusak.

Air sebagai salah satu agen pemelihara harmoni alam selalu diletakkan sebagai subjek utama dalam mendiskusikan banyak hal, misalnya tentang kesuburan tanah, perbedaan komposisi antara air tawar dan air  laut, tentang aliran air sungai dan kehadiran mata air, serta tentang kehidupan dalam air. Ekosistem hutan tropis basah di Indonesia sebenarnya dapat menjaga keseimbangan alamnya baik sebagai pengatur tata air pada musim hujan dan kemarau, maupun pencipta kondisi lokal dalam mencegah kebakaran. Bila penebangan hutan, yang legal maupun yang ilegal, jauh melebihi pertumbuhan hutan itu sendiri, maka akan terjadi ketidakseimbangan dalam ekosistem itu dan Iainnya.

Pada musim hujan, terjadilah banjir karena berkurangnya daya resap lahan sebagai akibat perubahan tata guna lahan di kawasan hulu sungai. Akibatnya, air hujan lebih banyak mengalir di permukaan. Aliran air permukaan yang ada dalam jumlah besar ini akan masuk ke sungai dalam waktu singkat dan mengakibatkan banjir. Kejadian sebaliknya akan terjadi pada musim kemarau. Persediaan air tanah di sekitar hutan sangat minim, juga akibat berubahnya tata guna lahan hutan. Air hujan yang turun pada musim hujan dibuang sebagian besarnya melalui aliran air permukaan. Sangat sedikit yang terserap oleh tanah. Ini semua tentu tidak akan terjadi bila masih ada hutan dengan kelebatan pepohonan yang cukup. Sistem perakaran dan humus di lantai hutan memungkinkan tanah untuk menyimpan air dalam jumlah banyak dan mengeluarkannya secara perlahan melalui mata air. Dengan matinya mata air maka kontribusi air tanah ke aliran sungai hampir tidak ada. Akibatnya, air sungai menyurut atau bahkan mengering sama sekali.

Kedua musibah ini, banjir saat musim hujan dan kekeringan saat musim kemarau, mengindikasikan bahwa sungai sedang dalam keadaan tidak sehat. Kerugian materi dan nonmateri yang ditimbulkan keduanya tidak bisa dibilang kecil. Musibah-musibah ini patut kita renungi bersama agar kita kembali mengelola alam dan ekosistemnya dengan seimbang dan proporsional.

Atas asas proporsional inilah Tuhan menciptakan semua makhluk di alam ini, baik dari sudut kuantitatif maupun kualitatif. Manusia sebagai khalifah di muka bumi memikul amanah untuk merawat alam tempat mereka tinggal. Sebagai salah satu komponen dalam ekosistem, manusia harus mampu mengelola ekosistem itu secara seimbang. Dengan melestarikannya, manusia akan memperoleh manfaat dari ekosistem itu secara kontinyu.

Sebagai ungkapan rasa syukur kepada Sang Khaliq, manusia harus mengelola ekosistem dengan seimbang. Sesuai janjiNya, Tuhan pasti akan menambah nikmat kepada mereka yang bersyukur. Sebaliknya, bagi mereka yang ingkar dan menyianyiakan amanat itu, Tuhan menyediakan azab dan bencana yang siap menimpa kapan saja.

Dari uraian di atas, tampak bahwa salah satu prinsip ajaran Islam adalah penempatan manusia sebagai wakil Allah di bumi, sebagai penjaga bumi. Dalam melakukan penciptaan, termasuk penciptaan manusia, Tuhan mempunyai maksud untuk menguji ciptaan-Nya itu.

تَبَارَكَ الَّذِي بِيَدِهِ الْمُلْكُ وَهُوَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ۝ الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا ۚ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْغَفُورُ۝

Mahasuci Allah yang menguasai (segala) kerajaan, dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu. Yang menciptakan mati dan hidup, untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Mahaperkasa, Maha Pengampun. (Alquran, Surah al-Mulk/67: 1-2)

كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ ۗ وَنَبْلُوكُم بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً ۖ وَإِلَيْنَا تُرْجَعُونَ۝

Setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan. Dan kamu akan dikembalikan hanya kepada Kami. (Alquran, Surah al-Anbiyā’/21: 35)

Kronologis tugas dan kewajiban di atas jelas memperlihatkan apa yang seharusnya dilakukan oleh manusia selama hidup di dunia. Sebagai khalifah Allah, manusia memikul tugas dan tanggung jawab yang sangat luas, meliputi tugas dan kewajiban kepada diri sendiri, kepada sesama muslim, kepada manusia secara keseluruhan, kepada Allah, juga kepada planet yang mereka huni di antaranya dengan menjaga keanekaragaman sumber daya alamnya.

Salah satu tugas utama manusia sebagai khalifah adalah berusaha sekuat tenaga untuk menjaga keseimbangan alam dengan perantaraan akal yang Allah berikan kepada mereka. Pantaslah tanggung jawab ini dibebankan kepada manusia, karena Tuhan menciptakan manusia dan membekalinya dengan kemampuan untuk menggunakan akal dan kebebasan memilih. Dengan kata lain, manusia dapat berbuat adil atau sebaliknya. Hal inilah yang membedakan manusia dari makhluk lainnya.

وَالسَّمَاءَ رَفَعَهَا وَوَضَعَ الْمِيزَانَ۝ أَلَّا تَطْغَوْا فِي الْمِيزَانِ۝ وَأَقِيمُوا الْوَزْنَ بِالْقِسْطِ وَلَا تُخْسِرُوا الْمِيزَانَ۝

Dan langit telah ditinggikan-Nya dan Dia ciptakan keseimbangan, agar kamu jangan merusak keseimbangan itu, dan tegakkanlah keseimbangan itu dengan adil dan janganlah kamu mengurangi keseimbangan itu. (Alquran, Surah ar-Raḥmān/55: 7-9)

Sebagai wakil Tuhan, peran manusia adalah sebagai penjaga. Manusia diharapkan menjadi penjaga yang baik bagi bumi agar keanekaragaman dalam semua tingkat kehidupan, dalam sumber dayanya, juga dalam keindahannya tetap lestari. Itulah salah satu bukti dari manifestasi manusia atas keinginan Allah. Dengan mengapresiasi sumber daya alam, manusia akan dapat menemukan dan mengerti pesan dari sang Pencipta. Yang paling penting, manusia menjadi tahu mengapa mereka tercipta di alam semesta ini.

إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَأَخْبَتُوا إِلَىٰ رَبِّهِمْ أُولَٰئِكَ أَصْحَابُ الْجَنَّةِ ۖ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ۝ مَثَلُ الْفَرِيقَيْنِ كَالْأَعْمَىٰ وَالْأَصَمِّ وَالْبَصِيرِ وَالسَّمِيعِ ۚ هَلْ يَسْتَوِيَانِ مَثَلًا ۚ أَفَلَا تَذَكَّرُونَ۝

Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan dan merendahkan diri kepada Tuhan, mereka itu penghuni surga, mereka kekal di dalamnya. Perumpamaan kedua golongan (orang kafir dan mukmin), seperti orang buta dan tuli dengan orang yang dapat melihat dan dapat mendengar. Samakah kedua golongan itu? Maka tidakkah kamu mengambil pelajaran? (Alquran, Surah Hūd/11: 23-24)

Karena posisi manusia sebagai wakil Tuhan, maka bumi dan segala isinya adalah pemberian Tuhan untuk manusia. Tentu dengan catatan, seperti uraian di atas, manusia harus menjaganya dalam harmoni, keseimbangan, dan menggunakannya dengan cara yang bijak. Dengan demikian, pada dasarnya tidak ada pernbenaran bagi manusia dalam menggunakan sumber daya alam secara eksploitatif, karena cara yang demikian ini bertentangan dengan tugas manusia sebagai khalifah yang diberi amanah untuk menjaga kelestarian bumi.

وَلَا تَقْتُلُوا النَّفْسَ الَّتِي حَرَّمَ اللَّهُ إِلَّا بِالْحَقِّ ۗ وَمَن قُتِلَ مَظْلُومًا فَقَدْ جَعَلْنَا لِوَلِيِّهِ سُلْطَانًا فَلَا يُسْرِف فِّي الْقَتْلِ ۖ إِنَّهُ كَانَ مَنصُورًا۝

Dan janganlah kamu membunuh orang yang diharamkan Allah (membunuhnya), kecuali dengan suatu (alasan) yang benar. Dan barang siapa dibunuh secara zalim, maka sungguh, Kami telah memberi kekuasaan kepada walinya, tetapi janganlah walinya itu melampaui batas dalam pembunuhan. Sesungguhnya dia adalah orang yang mendapat pertolongan. (Alquran, Surah al-lsrā’/17: 33)

Walaupun secara eksplisit ayat ini melarang manusia untuk membunuh sesamanya, namun bukan tidak mungkin larangan itu berlaku umum, dalam artian bahwa manusia juga dilarang membunuh makhluk lain tanpa alasan yang dibenarkan. Dengan demikian, manusia harus memperlakukan semua makhluk yang ada di bumi dengan perlakuan yang proporsional.

Menghormati ciptaan Tuhan bisa dilakukan dengan menahan diri dari keserakahan, keinginan untuk bermewah-mewah, dan hal-hal yang tidak diperlukan. Sikap ini akan mendorong manusia untuk hidup sederhana dalam koridor tuntunan Islam.

وَلَا تَمْشِ فِي الْأَرْضِ مَرَحًا ۖ إِنَّكَ لَن تَخْرِقَ الْأَرْضَ وَلَن تَبْلُغَ الْجِبَالَ طُولًا۝

Dan janganlah engkau berjalan di bumi ini dengan sombong, karena sesungguhnya engkau tidak akan dapat menembus bumi dan tidak akan mampu menjulang setinggi gunung. (Alquran, Surah al-lsrā’/17: 37)

Kesombongan akan sangat berpengaruh terhadap perilaku manusia dalam menggunakan sumber daya yang ada, dan berujung pada hilangnya harmoni di alam semesta.

Dikutip dari: Tafsir Ilmi

Leave a Reply

Close Menu