ESAI DEMO: MENGGUNAKAN TRIK LAMA UNTUK MENGAJAR DENGAN CARA BARU

ESAI DEMO: MENGGUNAKAN TRIK LAMA UNTUK MENGAJAR DENGAN CARA BARU

Demonstrasi sains biasa terdapat di kebanyakan “kantong trik” guru sains SMA. Guru sering menggunakan demonstrasi sains untuk menginspirasi rasa penasaran dengan pengenalan dramatis menuju sebuah topik, untuk menyajikan sesuatu yang tidak lazim untuk mengangkat kesadaran akan kesalahpahaman yang umum dianut, atau hanya sekadar untuk memperlihatkan sebuah konsep melalui contoh fisik. Terlepas dari berbagai kegunaannya di dalam kurikulum, demonstrasi tetap tinggal di dalam ranah “pengajaran” dan jarang digunakan dalam menilai pemahaman siswa. Guru mengkomunikasikan apa yang penting tentang pokok bahasan kepada siswa mereka melalui penilaian (Farenga, Joyce dan Ness 2002). Bukan hanya pemilihan bahan konten oleh guru melainkan juga bagaimana mereka melakukan penilaian yang menyampaikan pesan tentang apa yang relevan di dalam sains bagi siswa (Shepard 2000). Melalui penyertaan demonstrasi ke dalam praktek penilaian, kelas saya dan saya mampu melangkah keluar dan peran guru-murid tradisional dan mengintegrasikan praktek ilmiah, bukan hanya konten, ke dalam penilaian kami.

KEKURANGAN (DAN KADANG KEGAGALAN) ADALAH INDUK DARI PENEMUAN

Sebagaimana banyak penemuan ilmiah yang paling berpengaruh, banyak inovasi pengajaran sains saya yang paling efektif diperoleh tanpa disengaja, atau merupakan upaya untuk bangkit setelah anjloknya kinerja siswa di dalam ujian. Ini juga berlaku pada penyusunan esai demonstrasi sains. Setelah buruknya hasil tes pencapaian pilihan-ganda tentang hukum gas, saya memberikan kepada siswa saya ujian perbaikan. Karena saya sangat terusik oleh kesenjangan antara pencapaian siswa pada tes prestasi ini dan pengetahuan dan pemahaman yang mereka perlihatkan selama interaksi kelas, saya memutusun, kan untuk mencoba sesuatu yang belum pernah saya lakukan sebelumnya. alih-alih memberikan ujian konvensional seperti biasanya, saya melakukan dua demonstrasi dan meminta siswa untuk menulis esai semi terstruktur tantangnya. Dua demonstrasi yang digunakan adalah demo pemenyokan kaleng (di mana kaleng soda berisi uap panas dibalikkan di dalam wadah berisi air es) dan demonstrasi di mana telur rebus-keras akan tersedot ke dalam botol Satu tema yang tetap ada di sepanjang kelas saya adalah kebutuhan untuk memahami kimia pada tiga tingkat: makroskopik, molekular, dan simbolik (Gabel 1999). Sejalan dengan ide ini, esai demo disusun sedemikian rupa sehingga di paragraf pertama, siswa diharuskan untuk menjelaskan apa yang mereka amati terjadi di tingkat makroskopik dalam demo pertama. Pada paragraf kedua mereka, siswa diminta menjelaskan fenomena yang mereka amati dengan menjelaskan apa yang terjadi ditingkat molekuler pada demo pertama. Mereka mengulangi pola ini di paragraf ketiga dan keempat untuk demo kedua. Pada paragraf kelima, mereka diminta untuk membandingkan kedua demonstrasi.

Saya sangat cernas dengan pemberian ujian jenis ini. Saya khawatir bahwa siswa akan merasa enggan untuk menulis esai karena di rata-rata kelas, pada pertanyaan esai ujian tradisional, sekitar sepertiga siswa bahkan tidak berusaha memberikan jawaban walaupun sudah saya janjikan nilai parsial. Namun, berlawanan dengan perkiraan saya, sebagian siswa benar-benar bersemangat untuk menulis esai demonstrasi ini. Seorang siswa berkinerja-rendah yang jarang berpartisipasi di dalam kelas berseru, “Akhirnya!” ketika saya menerangkan pemberian tugas ini. Rupanya siswa ini suka menulis, dan saya tidak pernah tahu atau akan pemah tahu seandainya saya tidak mencoba sesuatu yang berbeda. Setelah menonton demo, para siswa mulai menulis. Saya tercengang, karena kelas saya yang biasanya berisik menjadi hening selagi para siswa berkonsentrasi pada tulisan mereka.

 

WAWASAN TENTANG PROSES DI SAMPING PRODUK

Kontras antara kinerja buruk siswa dalam ujian pilihan-ganda dan pemahaman tentang hukum gas dan teori molekul kinetik yang diperlihatkan dalam esai mereka sangatlah dramatis. Hal itu membuat saya merenungkan tentang bagaimana sulitnya merancang pertanyaan ujian yang benar-benar bisa mengukur pemahaman siswa. Jika siswa silap menafsirkan pertanyaan, mereka bisa memberikan jawaban yang keliru atas pertanyaan padahal memiliki pemahaman yang benar tentang konsepnya. Selain itu, bergantung pada bagaimana pertanyaan disusun, siswa bisa memberikan jawaban yang tepat sambil tetap menyimpan kesalahpahaman yang terbiarkan tidak terdiagnosis oleh pertanyaan ujian. Dalam dunia idaman, guru bisa menilai pemahaman siswa dengan mewawancarai individual siswa, tetapi secara logistik hal mustahil.

Esai demonstrasi adalah pilihan terbaik berikutnya. Esai demo memungkinkan para pengajar untuk mendapatkan wawasan lebih jelas tentang proses berpilar dan model mental siswa. Dalam esai demo, siswa memiliki kesempatan untuk mengembangkan penjelasan mereka sendiri atas fenomena yang mereka saksikan secara langsung;oleh karena itu, hanya ada sedikit ruang bagi ambiguitas atau salah tafsir. Siswa memiliki kesempatan untuk menyampaikan cerita dan menyusun penjelasan dengan kata-kata mereka sendiri.

Beberapa mungkin mempertanyakan apakah tugas menulis deskripsi makroskopik tentang apa yang terjadi di dalam demo mengandung nilai ilmiah ‘atau pendidikan. Jika tujuan besar dari pendidikan sains dipertimbangkan, ada hal-hal yang kita inginkan agar dipahami dan bisa dilakukan oleh siswa sains lebih dari sekadar memahami konsep ilmiah. Tentu saja, setiap ilmuwan akan sepakat bahwa membuat dan mencatat pengamatan adalah penting untuk praktek sains. Karena itu, sangat penting mereka muncul pada penilaian guna menyampaikan signifikansinya bagi siswa.

Selain itu, saya sudah membuktikan bahwa meminta siswa untuk mengawali dengan menerangkan demonstrasi yang baru saja mereka saksikan akan memungkinkan siswa yang kurang percaya diri di bidang sains (atau di bidang penulisan) untuk mulai menulis. Bahkan jika siswa tidak mengetahui secara pasti tentang penjelasan molekuler atas demonstrasi bersangkutan, mereka bisa menulis tentang apa yang mereka lihat terjadi di dalam demo, dan hal ini seringkali cukup untuk membuat mereka menulis. Pada hari esai demo pertama, salah seorang siswa pendidikan khusus di kelas saya duduk bersedekap dikursinya, menolak untuk menulis. Setelah saya menjelaskan kembali tugas tersebut kepada siswa ini, ia berseru, “Oh! dan segera mulai menulis dengan bersemangat. Setelah ia selesai menulis deskripsinya, ia cukup percaya untuk menyampaikan penjelasan. Penjelasannya tentang molekul “yang menyelematkan diri”, menggambarkan uap yang lolos diri dari kaleng (meskipun bercorak antropormorfis), menunjukkan bahwa ia memiliki “model mental” awal yang berguna tentang hubungan antara panas dan energi kinetik.

 

PENILAIAN: BUKAN AKHIR MELAINKAN AWAL YANG BARU

Membaca esai demo para siswa saya membuat saya menyesal karena ini adalah akhir dari unit tentang hukum gas. Tanggapan mereka terhadap tugas memungkinkan saya untuk pada akhimya melihat bagaimana mereka mengkonseptualisasikan perilaku gas, apa yang mereka pahami, dan kekeliruan apa yang mereka miliki. Untunglah, pada hari ketika esai demo pertama ini dilaksanakan, saya dikunjungi seorang peninjau di kelas saya. Ia menyarankan agar ini jangan sampai menjadi titik akhir, melainkan sebuah titik tolak baru. Ia mengusulkan bahwa ketimbang langsung berpindah ke topik lain, saya sebaiknya memanfaatkan penilaian ini untuk mendorong pembelajaran lebih lanjut dengan meminta siswa dari berbagai kelas lain untuk saling mengulas esai dan menciptakan rancangan akhir dengan mengikutkan komentar dari rekan mereka.

Keesokan harinya, saya membuat salinan dari semua esai murid saya, menghilangkan nama mereka demi kerahasiaan. Esai-esai dari satu kelas didistribusikan di kelas lain, dan sebaliknya. Sebelum esai didistribusikan, kami membahas bersama seisi kelas tentang apa yang semestinya termuat didalam sebuah esai yang baik dan secara kolektif menyusun sebuah rubrik untuk menilai setiap paragraf esai. ‘Siswa membaca karya rekan-rekan mereka, menilai esai mereka dengan menggunakan rubrik. Siswa mengambil tanggung jawab dalam menilai dan mengkritisi masing-masing esai siswa lain dengan sangat serius.

Pada hari ketiga, siswa menulis draft akhir esai demo mereka. Proses ini memungkinkan siswa untuk merenungkan-diri, dan memungkinkan saya untuk mengidentifikasi dan mengatasi kesalahpahaman yang dianut oleh sebagian siswa. Seandainya kami tidak menempuh proses revisi, saya hanya akan bisa melihat kesalahpahaman mereka tanpa ada kesempatan bagi para siswa untuk merenungkan dan memperbaiki keyakinan keliru mereka tentang mengapa kaleng bisa penyok dan mengapa telur tersedot ke dalam botol. Proses menulis, mengulas, dan merevisi mentransfonnasikan penilaian dari alat yang menghakimi dan memproduksi-rangking menjadi alat pembelajaran bagi siswa dan bagi saya.

VARIASI UNTUK SEBUAH TEMA

Salah satu keindahan esai demo adalah kegunaannya yang banyak. Saya telah menceritakan di atas tentang pertama kalinya saya terjumpa dengan ide penggunaan esai demo; namun ada banyak situasi lain di mana saya memanfaatkan esai demo, dan setiap waktu adalah berbeda sehingga saya tidak ingin orang beranggapan bahwa saya sedang mengusulkan deskripsi pengalaman saya sebagai rumusan penggunaan esai demo. Dari situ, saya mendaftar sebagian dari banyak kemungkinan variasi:

  • Esai demo bisa digunakan pada demonstrasi sains apapun.
  • Struktur esai bisa dimodifikasi untuk memenuhi tujuan pembelajaran kelas.
  • Praktek ilmiah lainnya seperti membuat prediksi sebelum demo, melontarkan pertanyaan baru yang diangkat dari demo awal, atau mengusulkan tambahan percobaan yang bisa digunakan untuk menentukan jawaban atas pertanyaan baru bisa dimasukkan.
  • Kegiatan lanjutan juga bisa dimodifikasi sesuai dengan tujuan dan batasan waktu yang dihadapi oleh kelas.
  • Kegiatan lanjutan lainnya bisa mencakup presentasi siswa, atau meminta siswa melakukan demonstrasi dan menjelaskan sains kepada kelas lain.

-Tracey Otieno-

Leave a Reply

Close Menu